Chapter II
Disclaimer : I don't own anything, but this fiction is mine.
Setiap pulang sekolah, pasti seluruh siswa melepas lelah setelah seharian belajar dengan membawa buku-buku yang berat, melegakan diri sebelum melakukan hal-hal lainnya, tetapi Nanami berbeda, ia harus mengikuti pelajaran tambahan dengan Jess yang dikenal tegas dan galak. Setiap pulang sekolah, Nanami berapi-api untuk mengikuti kelas tambahan karena adanya taruhan yang di sepakati oleh mereka berdua.
"Ini salah! Perbaiki lagi!" Bentak Jess kepada Nanami. Nanami mulai kesal dan membentak kembali Jess
"Kamu membodohiku ya?! Mentang-mentang aku tidak pandai matematika, aku sudah mengikuti cara yang kau berikan!" Nanami tetap ngotot sambil menunjuk buku tempat ia mengerjakan soal itu.
"Bodoh! Minus(-) di kali minus(-) itu hasilnya plus(+)! Kenapa kau malah menulis sama dengan(=)!" Jess kembali memukul Nanami dengan harisennya.
"Hentikan memukulku dengan benda itu!" Nanami memegang kepalanya yang di pukul Jess tadi
"Aku memukul kepalamu itu supaya otakmu bekerja, mungkin ada sesuatu yang rusak disana." Jess memegang harisennya agar Nanami tidak merusaknya.
"Semakin kau pukul kepalaku, semakin rusak pula otakku." Balas Nanami sambil berusaha merebut harisen Jess.
"Sudah tak usah banyak bicara! Aku beri kau 20 soal lagi!" Jess kembali menulis soal di papan, tak memperdulikan Nanami yang mengeluh.
Ketika Jess menulis kembali di papan, Nanami pun bertanya lagi.
"Sensei, kau masih ingat janjimu kepadaku kan?"
"Tentu saja aku ingat, pastikan saja kamu yang menang, aku bakal menepati janji kok."
Nanami terdiam, kalau Jess sudah berkata seperti itu ia pasti akan menepati janjinya, Jess memang di percaya kalau soal janji, pelajaran tambahan ini saja Jess selalu menepati janjinya untuk selalu mendatangi ruang kelas Nanami untuk pelajaran tambahan.
"Kenapa kamu ingin tahu selera wanita kesukaanku seperti apa?" sekarang malah Jess yang bertanya balik ke Nanami. Nanami terdiam dan kebingungan kenapa dia ingin tahu soal hal tersebut, sebenarnya Nanami sendiri tidak tahu kenapa, ia hanya terdorong oleh keinginan yang ada di dalam dirinya.
"Sepertinya itu hal pribadimu ya? Ya sudah tidak perlu di jawab kok." Ucap Jess sambil tetap menulis, tanpa melihat Nanamipun Jess bisa tahu kalau Nanami sendiri tidak tahu alasannya. Nanami menghela nafas lega.
15 menit kemudian, soalpun sudah selesai di tulis. Nanami mulai mengerjakannya dengan serius. Sekitar 1 setengah jam yang di perlukan Nanami untuk mengerjakan soal itu. Jess memeriksa hasil pekerjaan Nanami, dari 20 soal, Nanami bisa menjawab 10 soal.
"Lumayan, ada kemajuan." Jess mengangguk-angguk ketika melihat hasil pekerjaan Nanami. Jess melirik Nanami, Nanami sedang tersenyum bahagia karena apa yang dia kerjakan itu mengalami kemajuan. Jess melihat senyum Nanami itu hanya terdiam, Jess bengong melihat senyum Nanami yang cukup manis itu. Menyadari kalau Jess sedang bengong, Nanami berusaha menyadarkan Jess.
"Sensei? Hallo?" Nanami menggoyang-goyangkan badan Jess, tetapi Jess tetap bengong. Pada akhirnya, Nanami mengambil harisen milik Jess dan memukulnya.
"Hei! Apa yang kau lakukan?! Kurang ajar sekali kau terhadap gurumu!" Jess akhirnya tersadar. Nanami agak kesal, sudah di sadarin malah bentak-bentak.
"Sensei bengong terus, aku sampai lelah menyadarkanmu. Begitu di pukul baru sadar. Hehe, bagaimana rasanya di pukul pakai harisen sendiri?" Nanami terkekeh sedikit, Jess merasa agak malu karena kesalahannya sendiri.
"Ehm, iya itu sakit. Dan ngomong-ngomong kau sudah mengalami kemajuan ya." Jess berusaha mengembalikan wibawanya, ia tidak ingin kalau orang lain melihat sikapnya yg seperti itu.
"Kalau begitu aku sudah mengerti dong?" Tanya Nanami dengan nada kegirangan.
"Eh, tapi belum juga sih. Kau bisa di anggap mengerti kalau jawabannya betul semua." Jess melihat Nanami sambil mengetuk-ngetuk jarinya di meja.
"Eeehhh... itu tidak adil, mana mungkin aku menjawab semua dengan benar, aku ini manusia bukan komputer." Nanami cemberut karena ucapan Jess itu. Jess tersenyum kecil melihat raut wajah Nanami yg seperti itu.
"Ya, tapi suatu saat jawabannya akan benar semua kok, kau dapat mengalami kemajuan yang cepat, pasti bisa." Walau Jess tersenyum melihat Nanami yang cemberut, ia tetap tidak akan membiarkan wajah Nanami seperti itu terus.
"Ah, sudah semakin sore. Sebaiknya kamu kembali ke asrama sekarang." Jess mengakhiri pelajaran tambahan tersebut, Nanami meninggalkan kelas dengan bahagia dan senang.
Jess melihat ke arah jendela, ia melihat Nanami yang berjalan menuju asrama dengan riang gembira. Ia cukup heran, awalnya Nanami mengikuti pelajaran tambahan itu dengan raut wajah yang bete dan cemberut, tapi sekarang dia lebih ceria.
"Anak yang aneh, tapi aku merasa senang kalau bersamanya." Gumam Jess sambil tersenyum kecil.
U-U-U-U-U-U
Sudah hampir sebulan berlalu, pelajaran tambahan Nanami akan segera berakhir berarti ia harus berpisah dengan matematika dan Jess di jam usai sekolah. Waktu belajar tambahan Nanami hanya tinggal hari ini dan besok saja.
"Sebulan itu cepat ya. Padahal aku baru kemarin merasa kita ikut pelajaran tambahan ini." Ucap Nanami sambil ia menulis rumus-rumus yang ada di papan.
"Begitulah waktu, kalau kita melaluinya tanpa memperhitungkannya pasti terasa cepat." Balas Jess, raut wajahnya agak sedih karena pelajaran tambahan ini akan segera berakhir.
"Oh iya Nanami, besok aku akan mengadakan test untukmu, sebagai bukti kalau kau memang sudah mengerti semua yang telah aku ajarkan ini."
"Baiklah, kalau ku benar semua aku yang menang kan?" Tanya Nanami
"Iya, usahakan saja kau bisa menjawab semuanya." Jess menyusun buku-buku dan kertas, ia akan menutup pelajaran hari. Nanami meninggalkan kelas, Jess melihatnya sampai Nanami benar-benar hilang dari pandangannya.
Nanami's pov
Aku berjalan keluar dari gedung sekolah menuju asrama putri, aku merasa agak sedih karena waktu ku dengannya akan berakhir, setelah sekian lama ini aku baru menyadarinya, aku juga mengetahui alasan mengapa aku ingin tahu tipe wanita kesukaannya, itu karena aku menyukainya.
"Aku ini memang aneh, aku menyukai orang yang selalu membentakku, memukulku dengan harisennya bahkan sering mengataiku bodoh." Ucapku.
"Tes..." Air mataku jatuh membasahi pipiku, aku merasa sedih jika ingat ucapan dia yang tidak boleh menyukai murid. Apakah itu salah? Apakah itu dilarang? Aku hanya ingin dekat dengannya, aku merasa bahagia walau hanya sebentar.
End pov
Jess's pov
Aku menatap dirinya yang berjalan meninggalkan gedung sekolah dari jendela kelas, dia sudah semakin menjauh dari gedung sekolah, berjalan menuju asrama putri. Besok adalah hari terakhirku berdua saja dengannya di sini, hatiku merasa hampa.
"Aneh, padahal tipe wanita yang kusuka itu tegas,berwibawa,berkharisma dan tenang. Tetapi kenapa aku bisa jatuh hati kepada gadis tomboy yang hyperactive ini?" Aku bingung dan heran atas apa yang terjadi sekarang. Dia bukan tipe wanita kesukaanku dan lagi dia adalah muridku, aku tidak boleh menyukainya, tapi cinta itu malah datang. Seperti yang aku katakan, cinta itu rumit, lebih rumit daripada matematika.
End pov
U-U-U-U-U
Keesokan harinya, usai pulang sekolah Nanami mengikuti test yang di berikan oleh Jess sebagai bukti kalau ia benar-benar mengerti apa yang di ajarkan oleh Jess selama sebulan. 2 jam berlalu, Nanami mengumpulkan lembar jawaban kepada Jess. Begitu ia melihat lembar jawaban Nanami, ia membanting meja.
"Apa maksudmu memberikan lembar jawaban kosong seperti ini?" Jess terkaget-kaget, Nanami hanya tersenyum.
"Aku mengaku kalah taruhan ini Sensei, tambahlah pelajaran tambahanku ini, aku lebih baik ikut pelajaran tambahan daripada mengetahui tipe wanita kesukaanmu." Jelas Nanami dengan senyum.
"Tapi...kenapa?" Jess heran dengan keputusan Nanami itu
"Karena.. A-aku suka Sensei!" Nanami mengucapkan itu dengan jelas, wajahnya benar-benar merah sekarang
"Walau aku tahu kalau Sensei tidak boleh menyukai murid, aku tidak apa-apa. Aku lega kalau kau mau menemaniku belajar lagi. Karena itu... Bimbinglah aku." Nanami menunduk, berusaha menyembunyikan wajahnya kalau ia sedang menangis sekarang.
Tangan besar Jess mengusap kepala Nanami dengan lembut, ia tersenyum ke Nanami.
"Dasar bodoh, aku juga menyukaimu murid bandel." Ucap Jess kepada Nanami. Nanami mengangkat kepalanya dan menatap Jess
"Aku memang tidak boleh menyukai muridku, tetapi aku akan terus membimbingmu sampai kamu dewasa dan lulus. Aku akan menunggumu." Jess menghapus air mata Nanami.
"Mohon bimbingannya Sensei!" Ucap Nanami dengan perasaan gembira.
FIN
Mohon RnR agar cerita lainnya menjadi lebih menarik
