From The Darkest Side

zelochest

Genre : Romance? Mystery

Rate : T-M

Disclaimer : Thanks for Santhy Agatha Author-nim. Saya IZIN nge-remake-nya dengan cast ter-high-sextention-ever (untuk saya). Remember fanfiction hanyalah sebuah karya penuh perjuangan fikiran dan fisik, sedangkan untuk idenya milik Santhy Agatha Author-nim. Sayangnya pemainnya bukanlah milik saya seutuhnya.

Warning : Alternate Universe | KookV | Dominant!Jungkook x Submissive!Taehyung | GENDERSWITCH | MATURE CONTENT! | REMAKE

.

Jeon Jungkook ;

Kami ini dua yang menjadi yang terdiri dari tak tega membiarkanmu mencintaiku, karena dengan begitu, kau harus bisa mencintai sisi jahatku. Dan sisi jahatku ini, sangat sulit untuk dicintai-

"Bukankah cinta juga sama? Aku selalu berpikir bahwa cinta hanyalah bentuk puitis dari obsesi dan keinginan untuk memiliki satu sama lain."

-Jeon-

.

Chapter 2

.

Meskipun sudah berjanji pada Jungkook untuk menahan diri, dia tetap saja mendatangi Taehyung di kamarnya. Jungkook bisa marah, nanti. Tapi dia tidak peduli. Bagaimana mungkin dia tahan berdiam diri begitu saja saat gadis yang sudah ditunggu-tunggunya sekian lama sekarang ada di rumah yang sama dengannya?

Dia berdiri di sudut ranjang, mengamati Taehyung yang tertidur pulas seperti bayi. Sejenak kemarahan menyelimuti hatinya. Sampai kapan dia hanya bisa melihat Taehyung di saat gadis itu sedang tertidur?

Jungkook harus cepat. Mereka sudah sepakat tentang Taehyung, padahal jarang sekali mereka berdua sepakat. Dia dan Jungkook bertolak belakang dalam segala hal. Jungkook cenderung baik hati dan menggunakan cara-cara pintar untuk meraih tujuannya, sedangkan dia selalu menggunakan cara-cara licik. Licik, bukan pintar - untuk mendapatkan apapun yang dia inginkan. Dan seperti yang Jungkook katakan tadi, dia sangat kejam.

Tapi Taehyung adalah gadis yang sudah menyentuh perasaannya.

Mungkin gadis itu sudah melupakannya, bahkan mungkin gadis itu tidak menyadarinya, tapi kejadian dua belas tahun lalu itu tidak akan pernah dilupakannya, pertemuan pertamanya dengan Taehyung sekaligus hari di mana dia memutuskan akan memiliki Taehyung. Jungkook harus memaklumi ketidaksabarannya, dia sudah menunggu selama dua belas tahun.

Menunggu dan menunggu sampai Taehyung siap menjadi miliknya. Dan sekarang gadis itu ada di depan matanya.

Dia mendekat, tangannya menyentuh pipi Taehyung lembut. Taehyung bergeming, masih pulas, tidak menyadari ada sosok yang mengamatinya lekat di tepi ranjangnya.

"Kau milikku Taehyung, jangan lupakan itu."

.

*zelochest*

.

Taehyung bermimpi. Dia ada di sebuah taman hiburan yang sangat ramai. Penuh dengan pedagang dan para orangtua yang menggandeng anak-anak mereka. Suara musik dari berbagai stan permainan dan suara-suara manusia terdengar bercampur menjadi satu, riuh rendah di telinganya.

" Taehyung, jangan kesitu," suara neneknya terdengar memperingatkan.

Taehyung mengernyit. Neneknya masih hidup? Dia menolehkan kepalanya dan mendapati neneknya berdiri di belakangnya, neneknya benar-benar masih hidup. Hidup dan tampak lebih muda. Dengan bingung Taehyung mengamati sekeliling, dan menyadari kalau bukan dia yang dipanggil neneknya, di sana berdiri seorang anak, mungkin delapan tahun, kurus dan agak canggung, itu adalah dirinya yang masih berumur delapan tahun!

"Jangan bermain terlalu jauh Taehyung, nenek tidak mau kamu tersesat, di sini sangat ramai,"sang nenek menggandeng tangan Taehyung kecil, lalu membawanya ke sebuah kursi kosong yang terletak di pinggir taman. "Duduk di sini dulu, nenek akan membelikanmu es krim," kata sang nenek sambil menunjuk stan es krim dengan antrian pembeli yang panjang, yang terletak kurang dari seratus meter dari tempat mereka, "Jangan kemana-mana dan jangan berbicara dengan orang asing, kalau ada apa-apa teriak saja, nenek pasti akan mendengarnya."

Taehyung kecil mengangguk tapi matanya memandang sekeliling dengan penuh semangat.

Taehyung tetap mengamati dari kejauhan, kenangan ini masih terpatri samar-samar di benaknya, kenangan saat pertama kali dia di ajak ke taman hiburan. Tiba-tiba Taehyung kecil melangkah turun dari kursi, dan mulai berjalan menjauh.

Taehyung langsung panik.

Hey... Kembalilah, kau bisa tersesat !

Dengan gugup Taehyung menoleh ke arah sang nenek yang sedang antri di stan es krim, dia ingin berteriak tapi entah kenapa suaranya tidak keluar, setelah beberapa kali usaha yang sia-sia, akhirnya Taehyung memutuskan untuk mengikuti Taehyung kecil.

Taehyung kecil terus berjalan sambil mengamati sekelilingnya dengan penuh rasa tertarik, tidak menyadari bahwa dia makin tersesat menembus keramaian. Dengan susah payah Taehyung berusaha mengikuti sampai kemudian mereka berdua sampai di pinggiran taman, berlokasi di bagian belakang stan yang sepi.

Taehyung pucat pasi ketika sadar, pemandangan yang ada di depan mereka sungguh mengejutkan, di sana ada sosok lelaki tinggi dengan pakaian rapi, sedikit acak-acakan karena baru saja berkelahi, rambutnya yang sedikit lebih panjang daripada seharusnya menutupi sisi wajahnya, lelaki itu berdarah di bahunya, darahnya merembes menembus kemeja putihnya. Tangan lelaki itu memegang pisau yang penuh darah... Dan di depannya, di depannya tergeletak sosok lelaki lain besar dan berpakaian kusam, dengan perut terluka parah oleh tusukan pisau, sosok itu tidak bergerak.

Mati.

Lelaki tampan itu menoleh dan melihat Taehyung kecil sedang terpaku menatapnya. Seperti neneknya tadi, lelaki itu sepertinya juga tidak menyadari kehadiran Taehyung, dan entah bagaimana Taehyung seolah-olah terpaku , hanya bisa melihat, tidak bisa berbuat apa-apa.

"Well, halo nak," sapa lelaki itu sambil tersenyum mempesona, "Apakah kau tersesat?" tanpa peduli lelaki itu melipat pisau penuh darah di tangannya dan memasukkannya ke saku.

Taehyung kecil mengerutkan keningnya, "Aku bersama nenek tadi... Apakah kau membunuhnya?" tanyanya dengan suara kekanak-kanakan.

Lelaki itu melirik mayat di kakinya, lalu mengangkat bahunya tak peduli.

"Dia pantas mati, dia tadi berusaha merampokku dengan pisau, jadi aku membunuhnya dengan pisaunya sendiri, manusia seperti itu tidak pantas hidup."

Taehyung kecil menatap lelaki itu tanpa takut.

"Kau tidak lapor polisi?" tanyanya polos.

Lelaki itu langsung tertawa.

"Polisi? Apa yang bisa dilaku kan polisi di sini? Aku sudah cukup beruntung tidak ada yang melihat kejadian ini, sampai kau datang,"ekspresinya berubah kejam. Lalu lelaki itu mendekati Taehyung kecil.

Lari! Ayo lari!

Taehyung berusaha berteriak, memperingatkan Taehyung kecil, tetapi suaranya tidak bisa keluar, kakinya seolah-olah terpaku.

Lelaki itu lalu berjongkok di depan Taehyung kecil. "Aku minta maaf kau berada di tempat yang salah nak, tapi sepertinya aku harus menyingkirkanmu juga."

Taehyung kecil sama sekali tidak memperhatikan ucapan laki-laki itu, tatapannya terarah pada darah di bahunya. "Kau terluka," gumam Taehyung kecil.

"Apa?" lelaki itu mengerutkan keningnya, lalu melirik ke bahunya yang penuh darah, "Oh... Ini hanya luka kecil, akan kututup dengan jaket," sambungnya sambil melirik jaket cokelatnya yang tergeletak di tanah.

Tanpa di duga Taehyung kecil mengeluarkan plester luka yang selalu dibawa-bawanya dari saku nya.

"Bisa diobati dengan ini? Nenek selalu menutup lukaku yang berdarah dengan ini."

Lelaki itu tertegun, lalu tertawa terbahak-bahak.

"Tentu saja bisa, terima kasih," sambil masih tersenyum dia mengambil handyplast itu dari tangan Taehyung dan memasukkannya ke saku , "Siapa namamu nak?"

" Taehyung, Kim Taehyung." jawab Taehyung polos.

Dengan pelan lelaki itu berdiri, mengambil jaketnya dari tanah dan memakainya, lalu mengulurkan tangannya kepada Taehyung kecil.

" Taehyung...dan kau bilang sedang bersama nenekmu tadi? Sungguh suatu kebetulan karena aku kemari untuk melihatmu," lelaki itu mengamati Taehyung dengan teliti, tampak puas dengan apa yang ditemukannya,

"...hmm...sepertinya kau tersesat, ayo, aku akan mengantarkanmu ke bagian informasi supaya nenekmu bisa menemukanmu."

Taehyung menarik napas lega karena lelaki itu sepertinya sudah mengurungkan niatnya untuk menyingkirkan Taehyung kecil seperti yang dikatakannya tadi.

Tangan Taehyung kecil menerima uluran lelaki itu, dan mereka bergandengan menuju ke area yang lebih ramai. Buru-buru Taehyung mengikuti mereka berdua. Mereka sampai ke bagian informasi dan lelaki itu menyerahkan Taehyung kecil ke petugas yang berjaga di sana, sebelum pergi dia berjongkok lagi di depan Taehyung kecil.

"Kau tidak akan mengatakan apapun yang kau lihat tadi kepada orang lain kan?" tanyanya sambil tersenyum.

Taehyung kecil menganggukkan kepalanya.

Lelaki itu memajukan kelingkingnya. "Janji?"

Taehyung kecil tersenyum, senyum polos anak-anak dan menautkan kelingkingnya di jari lelaki itu. "Janji."

Dengan senyumnya yang sedikit berbahaya, lelaki itu berdiri dan melambaikan tangan.

"Kalau begitu selamat tinggal Taehyung. Tapi aku janji kita akan bertemu lagi, dan saat kita bertemu, kau akan menjadi milikku, jangan lupakan itu," gumamnya sambil melangkah menjauh.

Tiba-tiba lelaki itu berhenti dan memutar tubuhnya, berhadapan langsung dengan Taehyung.

Taehyung langsung pucat pasi, lelaki tampan itu menatap langsung ke arahnya! Apakah dia menyadari kehadirannya ?

Tatapan mata Taehyung menelusuri lelaki itu. Kali ini wajah lelaki itu benar-benar jelas. Dan sebuah kesadaran menyentaknya, rambut cokelat dengan sulur keemasan itu... Mata cokelat itu... Semuanya tampak lebih muda, tetapi Taehyung mengenalinya.

"Jungkook...?" gumamnya ragu.

Lelaki itu tersenyum, senyum puas yang sedikit keji, senyum yang tidak mungkin ditampilkan Jungkook yang begitu dingin.

"Bukan sayang, panggil aku Jeon."

.

*zelochest*

.

Taehyung tersentak dan membuka matanya. Keringat dingin mengalir di dahinya, dan dia mengedarkan pandangan ke sekeliling. Sejenak kehilangan orientasi karena dia tidak mengenali kamar ini. Tapi lalu dia sadar, ini di kamar tamu rumah Jungkook, calon ayah tirinya. Dengan gugup Taehyung mengusap keringat di dahinya, mimpi itu... Mimpi itu terasa begitu nyata sekaligus aneh, tapi Taehyung tidak tahu apakah itu kenangan masa kecilnya atau cuma mimpi...

Taehyung duduk di tepi ranjang lalu menuang air ke gelas dari teko yang terletak di meja samping ranjang. Setelah meminum seteguk air dia memejamkan mata. Perasaannya tidak enak. Seperti ada yang terus menerus mengawasinya di kegelapan, menunggu sesuatu terjadi. Tetapi sesuatu apa?

Dengan putus asa Taehyung mengeryit, mengingat mimpi anehnya tadi.

Benar-benar mimpi yang aneh...

Setelah mengedarkan pandangan ke sekeliling dan yakin bahwa dia sendirian di kamar ini, Taehyung membaringkan tubuhnya dan mencoba memejamkan matanya.

Itu pasti cuma mimpi aneh karena dia tidak terbiasa tidur di kamar yang bukan kamarnya sendiri. Itu cuma mimpi.

Tapi kata-kata itu tetap terngiang-ngiang di benaknya.

"Kau milikku Taehyung, jangan lupakan itu..."

.

*zelochest*

.

Taehyung terbangun di dini hari yang temaram, masih fajar dan sinar matahari sudah mulai menembus jendela-jendela yang ditutup oleh gorden putih yang indah.

Hey... Kamar ini indah sekali...

Taehyung baru menyadarinya sekarang, kemarin ia terlalu lelah sehingga tidak sempat melihat ke sekeliling.

Kamar ini bernuansa putih gading, semua ornamen dari karpet bulu yang tebal, gorden dan tempat tidur semuanya bernuansa putih. Bahkan dinding-dinding dan kusen jendela serta atapnya semuanya berwarna putih.

Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk.

"Masuk," tanya Taehyung sambil mengernyitkan kening, siapa gerangan yang mengetuk pintu sepagi ini?

Ternyata yang masuk adalah seorang pelayan, masih muda seumurnya dan kelihatan agak gugup.

"Nona Taehyung, aku eh diperintahkan untuk melayani anda,"

Taehyung mengernyit? Melayaninya? Seumur-umur dia tidak pernah dilayani oleh siapapun, apalagi oleh pelayan. Konsep ini terasa sangat baru baginya.

"Tidak usah... Aku bisa semuanya sendiri," Taehyung mengedarkan pandangannya ke sekeliling, mencari-cari tasnya. Untung saja dia membawa pakaian ganti, Baekhyun sudah mengingatkannya akan kemungkinan mereka menginap di akhir pekan ini.

Tapi di mana tasnya itu ?

Pelayan wanita itu seolah-olah tidak peduli dengan perkataan Taehyung, dia melangkah menuju lemari pakaian indah yang juga berwarna putih.

"Aku akan menyiapkan perlengkapan mandi nona, dan ini... Semua pakaian nona sudah disiapkan disini," dia lalu membuka lemari itu.

Taehyung ternganga.

Didalam lemari itu terdapat banyak gaun dan pakaian, mungkin puluhan dan semuanya digantung dengan rapi dibalik plastik pembungkus yang masih baru. Tidak mungkin kan pakaian itu untuknya? Pelayan itu pasti salah.

"Ti...tidak mungkin pakaian-pakaian ini untukku. Kamu pasti salah..." Taehyung berusaha mengatasi rasa gugupnya, "Mungkin...mungkin ini untuk ibuku?"

Dengan tegas pelayan itu menggeleng. "Aku mendapat instruksi langsung oleh kepala pelayan. Mari, aku akan menyiapkan air dan peralatan mandi Anda."

Taehyung sebenarnya ingin membantah. Tidak mungkin kan Jungkook menyiapkan pakaian baru sebegitu banyak untuknya? Dia kan hanya akan tinggal disini selama akhir pekan, apakah Jungkook tetap berpendapat Taehyung akan tinggal bersama mereka setelah pernikahannya dengan Baekhyun? Tapi, meskipun Jungkook berpendapat begitu, lelaki itu kan tetap saja tidak perlu menyiapkan baju sebanyak itu?

Pelayan itu pasti salah, Taehyung memutuskan. Semua baju itu pasti untuk Baekhyun. Taehyung mengernyit ketika membayangkan kemarahan Baekhyun atas kesalahan ini. Ibunya itu sangat posesif. Egois dan posesif, dan Baekhyun pasti tidak akan suka kalau Taehyung memakai salah satu baju yang disiapkan untuknya.

"Aku ... Aku ingin memakai bajuku sendiri, kau tahu tidak dimana tas pakaianku yang berwarna cokelat? Sepertinya kemarin aku meletakkannya di atas meja."

Pelayan itu menggeleng. "Tidak ada tas disini," jawabnya datar lalu meninggalkan Taehyung untuk masuk ke kamar mandi dan menyiapkan air mandi untuknya.

Taehyung termangu, matanya masih mencari-cari dan dia masih belum putus asa mencari sampai pelayan itu muncul lagi dari kamar mandi.

"Mari, airnya sudah siap, aku akan merapikan tempat tidur dan menyiapkan pakaian nona."

Mau tak mau, meski dengan dahi berkerut Taehyung melangkah masuk ke kamar mandi. Dia tidak terbiasa dilayani, dan tidak suka di layani.

Seperti jaman feodal saja, gerutunya dalam hati.

Tapi apapun keberatan yang ada di dalam hatinya itu langsung hilang melihat keindahan kamar mandi di depannya.

Kamar mandi itu dipenuhi kaca, di dinding dan di atap, dengan bingkai-bingkai putih di sekelilingnya, kaca itu beruap karena air panas dari bath-tub yang penuh busa dan menguarkan aroma wangi campuran mawar dengan susu.

Tiba-tiba saja mandi terasa sangat menggoda bagi Taehyung. Pelan-pelan dia mencelupkan tangannya ke air hangat dalam bath tub itu, hangatnya pas, pelayan tadi benar-benar mempersiapkannya dengan baik.

Taehyung lalu berendam dan memejamkan matanya. Rasanya nikmat sekali, seperti otot-ototnya yang kaku dilemaskan pelan-pelan.

Rasanya sangat nyaman hingga Taehyung hampir tertidur. Perasaannya damai hingga makin lama Taehyung makin tenggelam dalam alam mimpi.

"Jangan tertidur disini, dari yang kudengar, banyak orang mati tenggelam karena tertidur di bath-tub."

Suara itu begitu mengejutkan Taehyung dari tidur-tidur ayamnya, dia terlonjak kaget dan begitu menyadari siapa yang berdiri sambil bersandar santai di kusen pintu penghubung kamar mandi wajahnya langsung merah padam.

Secepat kilat Taehyung menenggelamkan tubuhnya sampai ke leher, menyembunyikannya di balik busa.

Jungkook, yang bersandar di pintu tampak tidak terpengaruh dengan rasa malu Taehyung, lelaki itu malah menyeringai dalam senyuman sedikit mengejek.

.

*zelochest*

.

"Aku bertanya-tanya kenapa kau tidak segera keluar dan sarapan, pelayan itu bilang kau sedang mandi dan dia tidak berani mengganggumu."

Rona merah di wajah Taehyung mulai menyebar ke seluruh tubuhnya, dia malu sekali! Tapi kenapa lelaki ini seolah-olah tidak peduli? Tidak sopan bukan masuk ke kamar mandi di mana ada perempuan sedang mandi? Tapi sepertinya Jungkook tidak peduli dengan etika ataupun kesopanan, mata tajam Jungkook menelusuri wajah dan leher Taehyung yang merona, ada api memancar di sana, dan ekpresinya berubah, sedikit liar tapi menakutkan.

Bukan seperti ekspresi yang akan muncul di wajah lelaki sedingin Jungkook, pikir Taehyung tiba-tiba, ini terasa sangat aneh karena ketika menatap mata Jungkook, ada nyala api yang sedikit menaku tkan di dalam mata kecokelatan itu.

"Aku sudah menyelamatkan nyawamu tadi, kalau terlambat kau mungkin sudah mati tenggelam di kamar mandi, tidakkah kau ingin mengucapkan terima kasih?"

Suara itu setengah berbisik, diucapkan dengan nada malas, tapi bulu kuduk Taehyung langsung berdiri.

Dia menatap Jungkook dan menyadari lelaki itu masih berdiri di sana, menunggu "Te...Terima kasih," gumamnya pelan entah kenapa meskipun tidak yakin kenapa harus berterima kasih dia merasa terdorong untuk melakukannya. Lelaki ini begitu mengintimidasi dan sepertinya kalau keinginannya tidak dituruti dia akan melaku kan sesuatu yang tak terduga.

Senyum yang muncul pelan-pelan di bibir lelaki itu malah membuat Taehyung sedikit takut dan gelisah.

Hey... Apakah ini orang yang sama dengan calon ayah tirinya yang berkenalan dengannya kemarin? Kenapa auranya begitu berbeda ?

"Bagus," gumam Jungkook lambat-lambat, lalu melangkah mundur, "Cepat selesaikan mandimu, aku menunggu di ruang makan, oh ya, bajumu sudah kusiapkan di ranjang, kupilihkan sendiri dari lemari."

Jungkook menyiapkan bajunya? Taehyung mengernyit dan bertanya-tanya. Jadi memang pakaian-pakaian itu disiapkan untuknya? Tapi kenapa? Lagipula kenapa Jungkook menyiapkan bajunya?

Dia menoleh untuk bertanya, Tapi sosok Jungkook sudah lenyap.

Dengan gugup Taehyung menyelesaikan mandinya dan melangkah keluar dari kamar mandi. Pelayan wanita itu masih di sana, tapi tampak lebih pucat, "Kau tidak apa-apa?" Taehyung tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.

Pelayan itu mengangguk sedikit gemetar.

"Tuan Jungkook memarahi keteledoran aku karena tidak menengok anda di kamar mandi, Tuan Jungkook sangat menakutkan kalau marah," suara wanita pelayan itu berbisik ketakutan.

Sekali lagi Taehyung mengernyit. Menakutkan kalau marah? Dalam majalah-majalah bisnis dan gosip mengenai Jungkook yang dibacanya karena ingin tahu, calon ayah tirinya itu dikenal sangat pandai mengendalikan emosi, malah ada yang menyebutnya tak punya emosi.

Apakah selama ini Jungkook menyembunyikan sifat aslinya?

"Baju anda sudah disiapkan, nona."

Taehyung menoleh ke ranjang, tempat bajunya di hamparkan dan sekali lagi terperangah.

Indah sekali…

Itulah yang terpikir pertama kali olehnya ketika melihat gaun itu. Gaun itu panjang dibawah lutut, berpotongan sederhana tetapi sangat indah. Warnanya ungu muda, dan bahannya dari sutera yang sangat halus, berdesir setiap kali kain itu digerakkan. Masih termangu, Taehyung membiarkan pelayan itu membantunya mengenakan pakaiannya, lalu membiarkan lagi dirinya dibimbing untuk duduk di depan meja rias.

Seperti sudah biasa melakukannya, pelayan itu langsung menyisir rambut panjang Taehyung yang terurai.

Sementara Taehyung menatap bayangan dirinya di cermin.

Betapa sebuah gaun bisa mengubah penampilan seseorang ! Yang terpantul di sana bukanlah Taehyung yang kuno dan berpenampilan seperti kutu buku. Bayangan yang muncul di cermin di depannya itu adalah bayangan perempuan muda yang cantik, dengan pipi kemerahan dan rambut panjang tergerai sampai bahu,

"Rambut anda indah sekali," gumam pelayan itu sambil terus menyisir.

Taehyung tergeragap. Menyadari bahwa dari tadi dia melamun sambil menatap bayangannya sendiri.

"Oh iya, aku harus mengikat rambutku," matanya mencari-cari, akhirnya menyadari bahwa ikat rambutnya sama raib nya dengan tas pakaiannya.

"Anda tidak boleh mengikat rambut lagi, begitu perintah Tuan Jungkook kepada aku tadi."

Hah?

Kali ini Taehyung tidak bisa menahan gumaman kagetnya. Tetapi pelayan wanita itu tidak bereaksi apa-apa, setelah selesai membereskan semuanya, dia berpamitan dan melangkah keluar dari kamar.

Meninggalkan Taehyung sendirian di kamar ini.

Sejenak Taehyung termangu, lalu teringat pesan Jungkook tadi. Sarapan. Tadi Jungkook bilang begitu kan? Mungkin Jungkook dan ibunya sudah menunggu di sana.

Dengan bergegas, Taehyung melangkah ke ruang makan.

tbc..

A/N:

Hi- hehe maaf late –very-very- late update

Apa kabar reader?

First aku mau minta maaaaaaaf maaf maaf yaaang sebesar beasarnya atas kelalaian aku ngedit chapter satu kemaren. Banyak banget yang ngeluh kalau ada banyak kata yang hilang dan bingung liatnya. Maaf ;;_;;

Maaf ya hiks aku ngeditnya lupa minum aq*a sih.g

Terus.. nevermind.. sabar, aku kehilangan rasa penyiksaan taehyung/? sabar, terus lagi aku ada ide lagi buat new project, terus lagi mau kolab sama bestie seperjuangan aku si …

Hayo siapa? Kepo ga? Tunggu nanti aja yaa wkwkwkwk

Mau balas review dulu xD

VKookKook : pantengin terus kalo emg penasaran hehe, sad end? tbh aku gasuka sad end :3 | AprilKimVTae : nih update nih, maaf ya lamaa ;-; | babydeer : yes kamu bener ! ini remake shanty agatha ahjumma/? lol. iya aku minta maaaaf banget itu ada kesalahan teknis/? | princess huang, Oh Deer Han : iya maaf ya, yg sekarang sudah saya perbaiki dan berkali kali diedit .. | viertwin : yas dia emang cocok banget jadi pebisnis wkwkwk, iya maaf kemarin kurang serius editnya ;-; | Strawbaekberry : heheheheheheh kamu pinter deh /? | wasastudent :hayo udah tau sosok dikegelapan nya siapa? kkk | hyemi270 : heuheuheu its updated ! dont forget to revieww ~~ . | .9047 : ya mungkin kamu baca yg remake dengan cast sibum pasti '-' ini versi kookvnya | datgurll : hayolo update nih, ayo dibaca XD maaf ya kaya yang saya bilang tadi, editnya.. yah.. hehe :( | Jisaid : amin amin ! YEAY #TEAMTOPJUNGKOOK! LOL | Icha744 : hayo ini juga ff gs pertama aku wkwk, aku gaberani ubah itu artinya aku plagiat, karna aku cuma remake ya characternya aku gs-in '3' iya udah aku perhatiin, maaf ya untuk chapter 1 nya. | Ansleon : lol aku bacanya XD eh nomer kamu ilang ;-; chat aku lagi gih/? tuh sosok dikelepannya, udah tau siapa kan XD | eggtae : SAMAAA AKU JUGA NUNGGUIN. berhubung gaada ya aku memutuskan untk ngeremake sendiri wkwkw xD gimana chapter yang ini ? :3 | michaelchildhood :hayo udah tau kan siapa ? kkk. itu cuma karakter ffnya ya baekhyunnya ga gitu kok :(

aduh capek /?

Jadi..

Gimana ?mau di lanjut ato berenti sampe disini aja? Semua tergantung review dan peminat cerita ini.

Sekian dari aku ! Sampai jumpaa!