"KAU BERTEMU DENGAN POUF?!"
Teriakan Leorio menjadi sambutan pertama yang sudah diperkirakan oleh Kurapika saat gadis itu sudah selesai menceritakan peristiwa yang dialaminya pada saat malam Tahun Baru Imlek. Diiringi oleh ekspresi tidak suka yang dikeluarkan oleh Killua serta ekspresi khawatir dari Gon.
"Tidak usah teriak-teriak, ossan. Kurapika masih bisa mendengarmu dengan baik." Killua mengeluh sembari menutup sebelah telinganya, karena dari posisi duduk Leorio berada di sebelah lelaki berambut silver tersebut. Sedangkan Kurapika dan Gon duduk di seberang mereka, dan diantara mereka terdapat meja yang menampung makan siang mereka.
Saat ini mereka berempat sedang menikmati jam makan siang mereka di salah satu kafetaria yang terletak di kampus. Beruntungnya bagi Killua dan Gon, mereka tidak memiliki kuliah lagi karena kelas mereka untuk hari itu hanya memakan waktu tiga jam di pagi hari. Sedangkan Kurapika tidak memiliki kuliah pada hari itu.
Malangnya, Leorio masih memiliki kuliah pada sore harinya. Mungkin dia berteriak sembari melepaskan stressnya karena hanya dia yang mendapatkan kelas pada sore hari. Entahlah, siapa yang tahu kecuali Leorio sendiri.
"INI LEORIO-SAMA UNTUKMU, BOCAH!" Bukannya melemah, teriakan Leorio malah semakin menjadi-jadi.
"Mungkin kau harus memohon untuk itu, ossan!"
"Ma, maa. Kalian jangan bertengkar." Gon berkata sambil ber-sweatdropped ria. "Yang penting Kurapika sudah berhasil menjauhkan Pouf, kan?" Lelaki yang memiliki rambut hitam melawan gravitasi itu mencoba menenangkan kekesalan Leorio dan Killua setelah mereka mendengar nama mantan kekasih Kurapika yang malah memunculkan dirinya pada saat mereka tidak menemani perempuan tersebut dalam makan malamnya. Mereka bertiga mengetahui bagaimana sikap dan kemampuan yang bisa dikeluarkan oleh Pouf pada saat lelaki itu bertemu dengan orang yang ia tidak suka.
"Lalu bagaimana dengan Pairo? Bukannya Pouf seharusnya tahu kalau sepupumu ada disana?" Kali ini Killua yang membuka suaranya. "Mengapa ia malah pergi cepat sekali dari sana? 4 bulan bersama denganmu seharusnya sudah membuatnya mengetahui mengenai tradisi keluargamu pada malam Tahun Baru Imlek." Killua akhirnya mengeluarkan pertanyaan yang mengganggunya sejak tadi. Bagaimana mungkin Pouf akan melewatkan kesempatan untuk bertemu Pairo dan mempermalukan sepupunya di hadapan public?
Kurapika sudah menduga pertanyaan ini akan diajukan oleh lelaki berambut silver tersebut, karenanya gadis itu sedikit melewati bagian pertemuan dengan lelaki berambut hitam yang baru saja ia kenal dalam semalam. Sayangnya, Killua cukup teliti untuk menangkap keganjilan tersebut.
"Well", gadis itu berkata dan bingung bagaimana menjelaskan peristiwa itu. "Aku.. semacam kabur dari tempat aku duduk dan bertemu seseorang."
Ketiga temannya yang sedang menikmati makanan mereka langsung menghentikan gerakan mereka, dan menatap Kurapika tajam.
"Jelaskan."
Inilah mengapa gadis pirang itu tidak mau menceritakan secara mendetail. Ketiga temannya—garis miring—sahabatnya bisa menjadi preman kalau ada orang lain, terutama laki-laki, yang mencoba mendekati dirinya. Mereka bertingkah seperti ini setelah hubungannya dengan Pouf berakhir.
'Aku yang menjalin hubungan dengan lelaki, namun malah mereka bertiga yang bersikap layaknya mereka yang menjadi korban.'
Gadis itu tidak memiliki pikiran yang jelek mengenai perbuatan mereka, jujur ia malah senang. Ini berarti sahabat-sahabatnya masih mempedulikan dirinya. Namun berbeda ketika Gon, Killua, Leorio—terutama Leorio, sudah menekan tombol mereka sehingga menjadi orang yang benar-benar berbeda. Hanya memikirkannya saja sudah membuat kepala Kurapika pening dan membuatnya menghela napasnya dengan keras.
"Dan kau jangan menghela napas kepadaku dengan keras, nona muda." Leorio mulai bertingkah seperti ibunya saja.
"Ya, Bu. Maaf."
"Hey!"
"Jadi bagaimana ceritanya, hm?" Killua melerai mereka dengan cara kembali menanyakan pertanyaannya tadi.
"Bagaimana ya? Toh itu kejadian (belum) lama, dan akhirnya seperti yang bisa kalian lihat. Aku baik-baik saja."Kurapika berusaha mengelak bercerita.
"Ayolah Kurapika, pretty please with cherry on top." Gon memohon dengan wajahnya yang polos, dan bagaimana mungkin Kurapika bisa menolak?
"Baiklah. Tapi berjanjilah kalian tidak boleh tertawa sesudahnya." Ketiga lelaki yang berada semeja dengannya mengangguk antusias.
Lalu gadis berambut pirang itu memulai ceritanya dari bagaimana ia bangun akibat panggilan dari telefon genggamnya dari Leorio. Ceritanya diiringi oleh pertanyaan-pertanyaan dan imbuhan (lebih terdengar menjadi wejangan apabila itu yang berasal dari Leorio), namun keseluruhan suasana di meja mereka cenderung tenang sampai akhir cerita Kurapika berakhir.
"Jadi, jadi. Ini adalah pertanyaan yang paling penting." Killua berdeham, guna menarik perhatian teman-temannya, sebelum melanjutkan. "Apa dia tampan?" Seketika wajahnya yang serius tadi berubah menjadi wajah nakalnya yang terlihat seperti kucing.
"Hmph, mana mungkin ada wajah yang mampu menyaingi ketampanan dari Leorio-sama ini." Leorio berkata dengan percaya dirinya sambil tersenyum dan mengembangkan mengempiskan hidungnya.
Perkataan tersebut membuat Gon tertawa dengan renyahnya, Kurapika mendengus geli sambil menahan tawanya, dan Killua yang terlihat memberengut karena tidak setuju dengan perkataan Leorio.
"Haaah? Aku penasaran bagaimana kau bisa masuk ke sini lewat pintu ossan, kalau ternyata kepalamu sebesar ini."
"ULANGI SEKALI LAGI KATA-KATAMU BOCAH!" Leorio sudah terlihat ingin menghajar Killua kalau saja jawaban dari Kurapika tidak mengejutkannya.
"Sejujurnya aku juga tidak ingat bagaimana rupanya." Jawab gadis itu sambil termenung dan menghabiskan sisa minumannya. "Tapi kalau kalian bertanya sedang apa dia sewaktu aku datang ke mejanya tentu aku ingat! Ia sedang membaca buku karangan Tchenidze yang berjudul.." perkataan Kurapika selanjutnya hanya terdengar samar-samar dipendengaran, karena tidak ada satu dari mereka bertiga yang benar-benar mendengar karena tidak ada yang memiliki hobi yang sama dengan gadis tersebut.
Mereka hanya memiliki satu pemikiran yang muncul, namun anehnya sangat identik di kepala masing-masing. Kurapika ternyata seorang kutubuku. Sangat, sangat, sangat kutubuku.
Setelah Kurapika menyelesaikan perkataannya, teman lelakinya saling bertukar pandang satu sama lain dan sontak terdengar tawa yang berasal dari ketiga temannya.
"Kalian sudah berjanji bukan, tidak akan tertawa." Kali ini giliran Kurapika yang memberengut.
"Itu benar," Leorio masih bisa menjawab disela-sela tawanya. "Tapi itu'kan setelah kau selesai bercerita mengenai kejadian makan malam tersebut. Bukan cerita yang ini." Lanjutnya sambil tertawa makin kencang.
"Kurapika ternyata kutu buku sekali!" Gon membuat pernyataan yang jelas membuat sang empunya memerah.
"Benar sekali. Orang macam apa yang tidak ingat bagaimana wajah dari lelaki yang menolongnya tetapi malah ingat halaman yang sedang dibaca." Killua menimpali.
"Maa, itulah Kurapika." Leorio mengakhiri.
"Mohon diingat kalau orang yang kalian bicarakan itu masih duduk di sini." Kurapika mengingatkan mereka, yang diabaikan oleh mereka bertiga karena mereka justru sibuk membicarakan betapa 'nerd'nya dirinya.
Gadis pirang itu berdeham kecil, saat sahabat-sahabatnya sudah berhenti menertawakan dirinya. "Sudah selesai?"
Gon, Killua dan Leorio meringis kecil kemudian menepuk pelan dada mereka akibat tertawa terlalu lama, Leorio bahkan harus terbatuk-batuk dulu, sambil mengangguk pelan.
"Bagus", perempuan berambut pirang tersebut mengakhiri peristiwa yang dialaminya pada malam Tahun Baru Imlek.
"Buat apa aku mengingat wajahnya, toh aku tidak bakal bertemu lagi dengannya." Intonasi suaranya mengakatakan final, dan ia tidak akan melanjutkannya lagi mengenai kejadian tersebut.
Fake Dating!AU, Kuroxfem!Kura, dldr, typo, oocness, dan sejumlah keabsurdan lainnya.
.
HxH still belongs to Togashi-sensei. I always wait for your next update, sensei! and i own nothing in this story
.
on commitment chap 2
.
.
enjoy tho
Kurapika menggeram dalam perjalanan pulang ke apartemennya.
Gadis itu masih membayangkan perkataan dosen pembimbingnya, Morel-sensei mengenai tugas akhirnya. Dan udara dingin dari bulan Januari yang masih tetap menempel sepanjang jalan pulang ke apartemen tidak membantunya sama sekali dalam mencerna kata-kata dosennya.
Memang benar kalau dia masih berusia 23 tahun, namun bukan berarti dia tidak serius dalam mengambil gelar magister-nya. Mungkin benar kalau dia adalah anggota yang termuda dalam satu angkatannya, namun bukan berarti usahanya dalam kelulusan kurang dari teman-temannya yang lain.
Dan sekarang ia lelah mengomel, mengutuk dan berkata kasar di dalam pikirannya, perutnya malah keroncongan minta diisi. Perutnya malah meminta untuk diisi dengan makanan yang manis-manis, dan bingung jenis kue apa yang diinginkannya. Karenanya, Kurapika memutuskan untuk memutar ke arah market street demi mencari toko kue yang buka sepanjang perjalanan pulang, bukan langsung menuju ke terminal bus seperti biasanya.
'Di tengah cuaca yang masih labil begini apa ada toko kue yang buka ya?' Batinnya sambil terus berjalan disepanjang market street.
Kebanyakan retail dan toko yang berada di market street tidak buka, karena ramalan cuaca tadi pagi mengatakan kalau salju masih akan turun hari ini, dan angin musim dingin sudah mulai berhembus pelan. Demi menghindari dingin yang sudah masuk ke bajunya, ia berjalan cepat dan menyembunyikan tangannya yang tidak memakai sarungtangan ke dalam saku mantelnya.
Meski begitu hawa dingin masih bisa masuk menembus badannya, sekalipun Kurapika sudah memakai syal dan sweater dengan turtleneck. Sambil terus berjalan dan sesekali menoleh ke samping kanan dan kirinya, berharap kalau-kalau ada toko yang buka.
Sampai atensinya mendapati ada toko kue yang buka, yang berada di salah satu distrik mewah di kota YorkShin. Sepertinya gadis itu berjalan cukup jauh sampai ia baru menyadarinya. Di sebelah toko kue tersebut berjejer toko-toko baju bermerek yang menampilkan beberapa jenis baju yang baru keluar di musim dingin.
Kurapika mengerutkan dahinya, saat atensinya menangkap beberapa baju saat ia sedang berjalan. Baju-baju itu memang memiliki warna yang cerah dan potongan yang bagus, namun apa mungkin pemakainya tidak akan kedinginan memakainya. Maksudnya lihat saja dia. Kurapika sudah memakai sweater, syal, sepatu boots dan mantel yang semuanya berwarna hitam, namun ia tetap merasa kedinginan. Hal ini semata-mata hanya karena ia lupa membawa sarung tangan, serta topinya.
Mungkin terdengar aneh kalau ada orang yang memakai setelan baju seperti salju akan turun, maksudnya di bulan Februari apa bukannya salju sudah tidak akan turun lagi? Namun disinilah dia, dengan salju yang sudah mulai turun, dan masih bingung dalam memutuskan untuk masuk atau tidak.
Bagaimana tidak. Toko kue yang buka ternyata adalah toko kue untuk pernikahan.
Sepertinya salah satu dewa sudah mendengar permintaannya. Namun jangan lupakan kalau dewa juga menyukai lelucon. Kurapika mendengus sambil mencemooh mendengar jawaban itu muncul dikepalanya.
Di sini gadis itu memikirkan beberapa solusi. Dia bisa mengabaikan keinginannya untuk makan kue yang manis. Tapi, resikonya adalah suasana hatinya akan memburuk selama seminggu ke depan. Suasana hari yang jelek lebih banya mengakibatkan dampak yang negatif dibanding yang positif, terutama pada kerajinan dalam mengerjakan tugas kuliah, maupun tugas diluar kuliah. Tapi di sisi lain, ia bisa masuk dan bisa menikmati kue-kue yang terlihat sangat menggoda meski hanya terlihat dari etalase.
Kemudian ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Sudah berapa lama ia makan kue, terlebih lagi yang gratis? Sepertinya pikirannya sedang terguncang sampai-sampai bisa berfikir untuk makan gratis.
Oke, pikirannya sudah bulat dalam memutuskan untuk masuk dan mencoba beberapa kue. Namun, Kurapika tidak bisa masuk sendirian. Ia membutuhkan lelaki yang bisa menemaninya masuk ke dalam, karena ini adalah toko kue untuk pernikahan, otomatis calon suaminya harus ikut.
Kurapika mengerang dalam hatinya memikirkan ide mengenai pernikahan.
Mungkin ia bisa menelfon Gon, atau Killua, atau bahkan Leorio untuk datang dan menemaninya ke sini. Lalu Kurapika mengangkat tangan kirinya, dan menatap ke arah jam hitam yang melingkar di sana. Waktu sudah menunjukkan jam makan siang. Mereka bertiga pasti sedang menunggu untuk kelas mereka selanjutnya. Rencana memanggil mereka batal.
Oke. Rencana dadakan, gadis itu bisa memikirkan mengenai rencana dadakan. Mungkin ia bisa menemukan lelaki asing yang bisa di ajak menemaninya. Tapi bagaimana mengajak lelaki asing, kalau tidak ada satupun orang lewat, terlebih hanya dirinya sendiri yang sedang tidak waras karena sedang berdiam diri depan toko kue di bawah turunnya salju, di saat orang lain memilih untuk berdiam diri dalam ruangan yang hangat sambil duduk di bawah kotatsu?
Aah, memikirkan tentang kotatsu hangatnya yang sedang menanti di dalam apartemennya sudah membuatnya goyah untuk langsung pulang saja.
Saat Kurapika sudah memutuskan untuk balik badan, dan langsung pulang, atensi kembali menangkap sesosok laki-laki asing yang sedang berjalan ke arahnya, dan sedang sibuk berbicara dengan seseorang melalui telfonnya. Lelaki itu sangat terlihat persiapannya dalam menembus salju yang turunnya semakin banyak, karena sudah membuka dan sekarang sedang membawa payung berwarna hitam yang terlihat senada dengan pakaian yang dipakainya yang juga didominasi oleh warna hitam.
Pemikirannya sudah tergoyah lagi, karena perutnya yang tadi sudah tidak lapar kembali mengeluarkan suara pelan lagi karena ide untuk makan kue memiliki peluang yang besar. Di sini ia sudah memantapkan pemikirannya. Ia akan menghampiri lelaki asing itu dan memintanya untuk menemaninya mencoba kue-kue di dalam.
Di saat Kurapika sudah berjalan ke arah lelaki asing tersebut, tak disangka ternyata lelaki itu tidak seasing yang ia kira. Meski kini tidak ada perban yang mengelilingi keningnya dan menunjukkan tanda salib yang berada di keningnya kepada dunia, namun gadis itu masih mengenal wajah yang tetap datar meski kali ini Kurapika bisa mendeteksi keseriusan yang sedang menguar dari gesture tubuhnya. Dan jangan lupakan anting globular yang masih tetap menggantung di keduatelinganya.
"Chrollo-san!"
Gadis berambut pirang tersebut memanggil namanya sembari berlari-lari kecil ke arah Chrollo yang sudah mengakhiri percakapannya dengan orang yang berada di sambungannya. Saat mendengar namanya dipanggil, lelaki tersebut menoleh ke sumber suara dan menemukan gadis yang baru saja dikenalnya beberapa saat tersebut.
"Aah, Kurapika. Selamat siang." Jawabnya dengan sopan, sembari membagi payungnya agar kepala Kurapika tidak lagi terkena salju yang jatuh.
"Selamat siang juga untukmu, Chrollo-san." Balas gadis itu cepat sambil ber-ojigi. "Senang bisa bertemu denganmu lagi."
"Ah, hal yang sama juga saat melihatmu, Kurapika. Kau terlihat.." perkataan Chrollo sempat terhenti karena baru menyadari adanya tumpukan salju di atas rambut pirangnya, dan secara refleks membersihkannya. "..baik."
Gadis itu hanya tersenyum lebar hingga memperlihatkan deretan giginya yang rapi sebagai jawaban, dan terlihat tidak terganggu karena pemikirannya sedang berputar dalam mengajukan pertanyaan kepada lawan bicaranya.
Dan ia memutuskan untuk bertanya.
"Chrollo-san," panggilnya dengan suara rendah. "Suka makanan yang manis?"
"Selamat datang di Carlo's Bakery."
Sapaan dari salah satu pegawai yang sedang berjaga serta suara denting bel yang digantung di atas pintu menjadi hal pertama yang didengar oleh Chrollo saat dirinya dan gadis di depannya memasuki toko kue setelah dirinya mendengar alasan yang dikeluarkan oleh Kurapika untuk menemaninya masuk ke dalam.
Meski kegiatannya sering terjun ke lapangan dalam urusan property, namun ini adalah pertama kalinya Chrollo masuk ke dalam toko kue. Dan toko kue pernikahan untuk pengalaman pertamanya.
Sekarang dirinya yang sedang kebingungan ditambah rasa pusing akibat topic yang diangkat sewaktu rapat tadi sedang membentuk di kepalanya, tetapi ia tidak boleh memperlihatkannya sedikitpun. Sebagaimana guru tatakrama yang mengajarkannya untuk menjadi seorang gentlemen, lelaki berambut hitam tersebut lalu membantu Kurapika dalam melepaskan mantel hitamnya sebelum melepaskan mantelnya sendiri.
Kurapika yang menyadari gesture dari Chrollo sempat tersentak (terlihat dari kedua bahunya yang mendadak tegang) akibat tidak pernah mendapatkan perlakuan tesebut, langsung lega saat melihat lelaki di belakangnya yang melakukan gesture tersebut, mengucapkan ucapan terimakasih lalu langsung menyanggul rendah rambut pirangnya yang memang panjang.
Carlo's Bakery adalah toko kue yang terkenal (Chrollo bisa mengetahuinya karena teman-temannya sering membawakan kue dari sini meski hanya samar-samar di dalam ingatannya) dengan bagian etalase yang luas karena bisa menaruh beberapa jenis kue dengan hiasan yang berbeda di atasnya. Dan di atas etalase tersebut terlihat besi-besi yang sudah dibentuk hingga menyerupai sangkar burung dengan kue dengan jenis berbeda di dalamnya.
Selain itu terdapat sofa untuk menunggu, yang berbentuk dinamis ditengah-tengah ruangan sehingga tidak menyulitkan para pelanggan yang akan mencoba beberapa kue dari buffet-buffet yang berada di sekeliling ruangan. Dengan jendela yang luas serta lampu-lampu yang menyorot ke bagian kue-kue yang dipajang, menjadikan interior di dalam toko ini menjadi sangat cerah apabila di luar tidak sedang turun salju.
Apabila rasa yang dirasakan olehnya enak, mungkin Chrollo akan merekomendasikan toko ini kepada temannya yang akan menikah.
Setelah selesai mengamati interiornya, Chrollo mengikuti Kurapika yang sudah terlebih dahulu berjalan menuju meja resepsionis untuk bertanya-tanya seputar kue-kue apa saja yang disajikan di sini. Pegawai yang sedang bertugas menjaga dibalik meja resepsionis menyapa dengan ramah sanbil berdiri sebelum akhirnya kembali duduk dan bertanya, "Sudah memiliki janji untuk hari ini?"
Kurapika hanya menyengir malu menjawabnya sembari menaruh rambutnya yang tidak tersanggul karena terlalu pendek ke belakang telinganya. "Belum, ini salah saya karena saya baru tahu kalau ada waktu luang pada hari ini. Bisa bukan mencoba di sini tanpa membuat janji terlebih dahulu?"
'Self-less, dan pembohong yang tidak terlalu menyakinkan.' Batin Chrollo saat mengamati sifat gadis yang berada di sampingnya.
"Dan saya tidak tahu kapan lagi mendapatkan waktu luang kalau tidak hari ini." Rayu Kurapika. Namun setelahnya gadis itu terlihat kesusahan dalam mengeluarkan kata-kata selanjutnya. "Dan.. tunangan saya akan super-sibuk karena ini sudah mendekati musim semi."
'Serta persuasif, yang namun sepertinya berdekatan dengan sifatnya yang pemaksa. Dan sedikit penggugup.'
Pegawai yang sedang mencari-cari sesuatu di dalam tablet yang dipegangnya, berhenti sebelum menjawab, "Normalnya kami akan menyarankan untuk membuat janji terlebih dahulu agar lebih mengenal dengan chef yang memasak kue pesanan kalian." Belum selesai sang pegawai berbicara, Kurapika sudah menyelanya dengan tidak sabar. "Ah, tapi kami masih perlu menanyakan ini ke Ibu kami dulu. Jadi ini masih dalam tahap mencoba-coba kue yang ada."
Chrollo yang melihat ekspresi tidak suka yang samar dari wajah sang pegawai karena disela, menggunakan kejadian ini untuk menjadi sebuah kesempatan yang orang-orang tidak akan duga keluar dari mulutnya. Menggoda sang gadis dengan menggunakan petname.
"Peaches, jangan terlalu memaksa kepada wanita malang tersebut. Sedikit lagi kau paksa mungkin ia akan semakin stress dalam menghadapi pekerjaannya," kata Chrollo sambil tersenyum tipis serta menggenggam tangan Kurapika yang berada di atas meja resepsionis.
Hal yang terduga terjadi, karena lawan bicaranya terlihat tidak percaya hingga menganga keheranan antara dirinya yang bisa berlaku lembut seperti itu atau menggunakan petname kepadanya.
"Pumpkin, aku pikir kita sudah berjanji untuk tidak menggunakan petname di public," Kurapika berkata, namun terdengar di telinga Chrollo sebagai sebuah ancaman, karena ditambah dengan tangannya yang diremas keras.
"Bukannya aku menambahkan kalau aku akan menggunakannya apabila kau mengancam orang seperti itu, My Little Bambi?"
"Aku tidak mengancam orang, Cupcakes, aku berbicara dengan pegawai di sini."
"Tetapi sepertinya tanganku berkata lain, Darling O'Mine."
Kurapika berpura-pura terkejut ketika Chrollo mengangkat tangannya yang terlihat sedang digenggam olehnya. "Aku berfikir kau sudah tahu konsekuensinya kalau kau menaruh tanganmu di saat perasaanku sedang jelek."
"Jadi kau mengakui kalau kau sedang mengancam orang, dan sekarang kau mengancam tunanganmu sendiri. Tega sekali kau, Angel Face."
"Berhenti menjadi dramatis, McDreamy. Itu sangat tidak sesuai denganmu."
"Dan disini aku menyakinkan diriku kalau kau sangat menyukai sifatku yang ini."
Saat mendengar jawaban Chrollo, Kurapika terlihat sudah tidak lagi dalam tekanan, dan gadis itu sudah mengeluarkan tawa kecilnya. "Kau percaya diri sekali, Chrollo-san. Sifatmu yang seperti itu mungkin akan menjadi kematian bagiku."
Lelaki yang menjadi lawan bicaranya hanya tersenyum tipis mendengar tawa kecil yang dikeluarkan oleh sang gadis dan merasa lega. "Aku harap kau sudah tidak terburu-buru lagi dalam segala hal apapun, Kurapika."
"Baik, maafkan aku Chrollo-san." Kurapika berkata sembari ber-ojigi kepada Chrollo dan kembali ke arah pegawai yang berdiri mematung melihat interaksi mereka. "Dan saya juga berhutang permintaan maaf ke Anda karena sudah bersikap tidak sabar. Bisa kita lanjutkan dari mana kita tinggal?"
Hal yang selanjutnya terjadi adalah mereka di bawa menuju buffet-buffet yang berjejer tadi, dimana Kurapika langsung menjelajah ke sekeliling ruangan dan Chrollo yang menemaninya hanya mencari apakah disini juga menyediakan pudding caramel, dan ternyata mereka menyediakan.
Dan ia segera duduk di sofa yang berdekatan dengan buffet dimana pudding tadi, dan memperhatikan ekspresi serta gerak-gerik Kurapika yang terlihat sangat senang karena sudah memakan kue-kue manis seperti anak kecil yang diberi permen, dan di bagian ini Chrollo tidak bisa tidak setuju.
'Selayaknya anak kecil aku harus menjaga agar dia tidak terlalu banyak memakan gula.'
Setelah selesai berkeliling sambil bercakap-cakap dengan para pattisiere yang membuat, Kurapika kemudian duduk di sebelah Chrollo sambil membawa piring yang berisi potongan kue dengan warna, rasa, serta hiasan yang berbeda.
"Kau harus mencobanya, Chrollo-san. Dibanding pudding-pudding caramel yang kau selalu makan tadi, rasa kue ini jauh lebih enak!" Kurapika berkata sambil menyodorkan piring yang dibawanya ke pangkuan Chrollo.
Lelaki itu merasa tidak ada yang salah dengan mencoba-coba rasa kue yang baru, jadi ia menuntun tangan Kurapika yang masih memegang garpu untuk memotong dan kemudian menyuapkan potongan kue tersebut ke mulutnya, tanpa benar-benar memperhatikan wajah gadis di depannya yang langsung gelagapan.
Perpaduan rasa manis yang lelaki itu sering rasakan, kini bercampur di mulutnya tanpa menimbulkan rasa mual karena rasa manis tersebut sudah dinetralisir dengan rasa yang Chrollo belum bisa sebutkan namanya.
"Kau benar," jawabnya sambil tersenyum ke arah Kurapika. "Ini benar-benar lebih enak dan lebih manis dibanding pudding-pudding yang aku makan tadi."
Gadis yang menjadi lawan bicara senang mendengar jawaban yang keluar dari mulut Chrollo, dan mengangguk-angguk kegirangan.
"Tapi, apa kau tahu apa yang lebih manis?" Lanjutnya tanpa disangka-sangka. Kurapika yang sudah mendengar scenario ini beribu kali dari media sosialnya merasa bahwa kalimat ini berefek lebih dahsyat apabila di dengar secara langsung dan kini membuatnya memerah kembali.
"Apa? Kue yang lain? Yang rasanya caramel juga?" Katanya sambil coba menebak sambil mencoba menenangkan degup jantungnya yang sudah bertalu-talu.
Chrollo menggelengkan kepalanya. "Adikku, Retz."
Chrollo tidak mengerti perempuan.
Satu-satunya perempuan yang bisa ia pahami adalah adik perempuannya, walaupun adiknya sendiri juga sering mengatakan bahwa Chrollo tidak mengerti dirinya sama sekali.
Kasus kali ini adalah perempuan yang baru ia temui, namun ia merasa sudah mengenal secara bertahun-tahun. Kurapika.
Pertama kali mereka bertemu, Chrollo langsung bisa berbicara nyaman mengenai buku-buku yang ia baca yang ternyata juga dibaca oleh gadis itu. Kali kedua, ia bahkan mengangguk setuju saat diminta oleh Kurapika untuk menemaninya ke toko kue, meskipun itu adalah toko kue untuk pernikahan.
Chrollo bahkan sudah mencoba untuk menawarkan untuk mengantarkannya ke café, tetapi juga menyediakan beragam kue, yang biasa datangi, namun ditolak oleh gadis itu dengan alasan bahwa ia ingin makan kue detik itu juga.
Dan sekarang saat ia menjawab bahwa adiknya jauh lebih manis dari kue-kue yang di bawa oleh Kurapika, membuatnya langsung kesal (terlihat dari wajahnya walaupun sudah ditahan sedemikian rupa) dan mengatakan bahwa ia ingin langsung pergi ke toko kue yang biasa lelaki itu dan langsung pergi ke ruangan dimana mereka menyimpan mantel dan keluar.
Chrollo benar-benar tidak mengerti perempuan.
Kurapika (yang sudah kembali bersemangat dan tidak lagi kesal) bersenandung girang setelah menyesap coklat panas dari mugnya. "Terimakasih sudah mengajakku ke sini."
"Sama-sama, Angel Face." Jawab Chrollo yang sedang duduk dihadapan gadis itu sambil sesekali menyesap kopi hitam yang dipesannya. Gadis berambut pirang yang berada di seberangnya terlihat sedang tidak mempermasalahkan petname yang ditujukkan pada dirinya, karena terlalu menikmati suasana yang berada di dalam café yang mereka duduki sekarang.
Setelah Chrollo membayar berbagai kue yang dicoba oleh Kurapika serta pudding yang ia makan di sana, ia langsung menemukan gadis itu sudah menunggunya sambil melipat tangannya, dan sama sekali belum mau menatapnya.
Perjalanan mereka dengan menggunakan mobil Chrollo (sesimpel karena tidak ada kendaraan umum yang lewat dan mereka harus berjalan ke tempat dimana lelaki itu memarkirkan mobilnya) ke café yang sudah lelaki itu ceritakan berakhir dalam keheningan.
Meski Kurapika yang sudah memecahkan keheningan di antara mereka dengan memulai percakapan dan bersikap seolah-olah tidak ada yang terjadi.
Sedangkan Kurapika yang sudahnya memulai percakapan mereka dengan berterimakasih karena sudah ditemani masuk bersama Chrollo, berfikir untuk langsung pulang apabila tidak ingat dengan perkataan lelaki berambut hitam tersebut sebelum mereka masuk ke dalam toko sebelumnya.
Dan sekarang mereka sedang berada di salah satu café langganan Chrollo, lelaki itu sendiri yang menginfokannya, dan Kurapika bisa mengerti alasannya.
Café ini terletak di tengah-tengah Kota YorkShin dengan segala kepadatan aktivitas serta kendaraan yang berlalu-lalang, namun suara derungan mesin dari kendaraan yang lewat tidak akan terdengar dari dalam, seolah mengisolasi para pengunjung dari hingar-bingar dunia luar. Interiornya menggunakan material dari kayu yang berwarna coklat gelap, dimulai dari dindingnya dan lantai parketnya.
Ditempat yang ia duduki terdapat rak yang berisi buku-buku di belakangnya, dan ia berjanji untuk datang kembali sembari membaca buku-buku yang tersedia disini. Terdengar alunan suara music jazz di seluruh ruangan dan Kurapika tidak bisa menahan dirinya untuk tidak terbuai dalam kenyamanan sofa kulit yang didudukinya.
Tapi ia ingat mengenai hal yang lelaki di hadapannya yang ingin disampaikan. Jadi Kurapika berdeham pelan, sebelum bertanya langsung. "Jadi Chrollo-san, hal penting apa yang ingin disampaikan?"
Chrollo terlihat sedang menyesap kopi hitamnya dan menaruh cangkirnya yang sudah kosong ke atas piring kecil sebelum menjawab, "Sebelum itu aku ingin bertanya kepadamu. Menurutmu, umurku berapa tahun?"
Kurapika terlihat tidak mengerti ke arah mana percakapan ini berujung hanya menjawab sekenanya. "Sekitar.. 27 tahun? Atau 28 tahun?"
"Umurku 31 tahun sebenarnya."
"Benarkah? Kau tidak terlihat setua itu." Kemudian gadis itu melanjutkan. "Apa ini berarti aku harus memanggilmu dengan sebutan.. om?"
Chrollo hanya tertawa kecil mendengarnya, satu hal yang perlu disyukuri adalah mereka sudah biasa saling melempar godaan serta candaan seperti ini tanpa perlu merasa malu. "Kurapika, aku tebak umurmu lebih dari 17 tahun."
"Tentu saja, aku berumur 23 tahun."
"Baguslah kalau kau sudah legal."
"Maksudnya apa, Chrollo-san?" Oke, maksudnya sudah legal ini apa. Masa Chrollo mau menjualnya? Serius? Ditengah ramai orang begini? Pemikiran gadis itu sudah melenceng kemana-mana.
Mendadak ekspresi yang dikeluarkan Chrollo menjadi ekspresi serius dan mau tidak mau Kurapika juga ikut menjadi serius.
Lelaki itu terlihat menghela napas sembari menutup matanya dan setelahnya melanjutkan perkataannya. "Untuk segala hal dimulai dari sini, kau tidak diperbolehkan berbicara mengenai hal ini kepada orang lain. Hal ini akan menjadi rahasia kita berdua, dan kau diperbolehkan untuk menolaknya."
Kurapika semakin bingung dan gugup mendengar perkataan Chrollo yang semakin samar. "Chrollo-san, maksud—"
"Jadilah tunanganku."
TBC
and the bomb has been dropped and it's 2 in the morning dan maaf kalau akhirnya jadi rush. entah kenapa fik ini mengandung leorio yang berteriak 99% disaat dia ada. *shrugs* dan buat yg males login (guest) MAKASIH BANYAK YA UDAH NGEREVIEW, SATU REVIEW DARI KAMU UDAH BUAT SAYA SEMANGAT NGELANJUTINNYA. SEMOGA KAMU DAN KALIAN YG BACA SUKA YA SAMA CHAP YG INI.
untuk geneiryodan mereka bakal nemuin debutnya chap depan atau depannya lagi atau depan depannya lagi /ditendang/
sebagian dari chap ini ada yang belum di proof-read, jadi kalau ada yang typo atau kata-kata yang aneh, bilang ya. biar di edit ulang nanti ehe dan saya akan nambahin (mungkin) supaya deskripsinya lebih asoy /gimana/
makasih udah mau baca. Let me know what you think.
Jaa
[EDIT] on 16/06/2018
