Karena cinta tidak mengenal batas

.

.

INTRIGUE

©FlowHana93

I just own the plot of story

Cast:

Jung Jaehyun x Jung Taeyong (Lee Taeyong), etc

Rated: M

WARNING: BoyxBoy, INCEST, mature contents/NC, typo(s), DLDR!

.

.

*30 menit yang lalu*

Pemuda itu membaca pesan di ponselnya, pesan dari sang kakak yang memberi taunya bahwa ia sedang berbelanja. Oleh karena itu begitu bel pulang sekolah berbunyi, Jaehyun langsung bergegas menuju tempat parkir, mengendarai mobilnya menuju super market biasa yang sering dikunjungi Taeyong. Niatnya dia ingin memberikan kejutan untuk sang kakak yaitu dengan menjemputnya tiba-tiba.

Berniat untuk mengejutkan, yang ada malah dia yang dikejutkan. Dahinya merengut dalam, begitu melihat keberadaan sang kakak di cafe seberang supermarket, tanganya mengepal kuat begitu menyadari kakaknya tidak sendirian, remasan tanganya bertambah begitu sosok yang tengah bersama kakaknya itu merupakan salah satu temanya. Teman yang kini sudah merangkap sebagai musuhnya.

Begitu memasuki cafe tersebut, pemandangan di depanya makin menyulut emosinya, api cemburunya kian berkobar begitu melihat temanya tengah membersihkan noda di bibir kakaknya. Dengan langkah tegasnya, Jaehyun mengampiri keduanya, mencengkeram pergelangan tangan Johnny dan menghempaskanya keras.

"Jaehyun-ah?!" itu suara sang kakak yang kini tengah menatapnya dengan bola mata yang membulat sempurna.

"Mulai detik ini, kita tidak saling mengenal." Ujar Jaehyun dingin kepada Johnny yang kini tengah memandang Jaehyun tak kalah dinginya. Sang adik langsung meraih pergelangan Taeyong cepat, tangan yang satunya ia gunakan untuk membawa kantung belanjaan yang ia yakini milik sang kakak, sedangkan tanganya yang ia gunakan untuk mencengkeram pergelangan tangan Taeyong langsung menariknya pergi.

Hening. Taeyong berani bersumpah jika ini merupakan waktu paling menyiksa yang pernah dia lewati sepanjang hidupnya. Dimana setelah memasuki mobil, Jaehyun diam, keduanya hanya diam tanpa ada yang berani membuka suara. Atau lebih tepatnya Taeyong yang tidak berani dan Jaehyun yang enggan. Hanya lima belas menit sampai mobil itu memasuki gerbang rumah mereka namun Taeyong merasa waktunya berjalan begitu lama.

Keduanya masih saling berjauhan, masih saling berdiam diri hingga lewat waktu makan malam. Jaehyun yang sudah tidak tahan lagi akhirnya bangkit dari kursinya menyisakan sepiring makanan yang masih tersisa setengahnya. "Begitu selesai, temui aku di kamar." Ujar pemuda itu singkat yang langsung melengos pergi memasuki kamarnya.

Hati Taeyong berdenyut nyeri, ia tidak suka diabaikan apalagi jika ini dilakukan oleh adiknya. Taeyong lebih memilih Jaehyun yang memakinya, Jaehyun yang mengomel di depanya lalu mendekapnya di akhir. Taeyong merindukan Jaehyun yang hangat.

Tok tok tok

Suara ketukan pintu itu mengusik Jaehyun, tanpa perlu bertanya siapa pun Jaehyun sudah tau pelakunya. "Masuklah hyung."

Pintu itu terbuka, menampilkan Taeyong yang melangkah masuk dengan hati-hati, kakaknya itu masih berdiri di ambang pintu dengan kepala yang masih tertunduk takut. Jaehyun melangkah mendekat, berdiri berhadapan dengan sang kakak, Taeyong tercekat begitu menyadari tangan Jaehyun bergerak ke belakang tubuhnya. Bibir yang mulai terangkat menarik senyuman itu harus dipaksa turun kembali begitu dirasa Jaehyun bukan bermaksud memeluknya, suara pintu yang dikunci sebagai sesuatu yang di dengar Taeyong setelahnya.

Hatinya berdesir, begitu Jaehyun menggenggam tanganya dan menuntunya untuk duduk di tepian ranjang. Taeyong sudah berharap bahwa sang adik akan menyusulnya untuk bersanding namun nihil, Jaehyun lebih memilih untuk berdiri menyandarkan tubuhnya pada tembok di depan Taeyong dengan tangan yang ia silangkan di dada.

"Kau tau hyung aku paling tidak suka dibohongi." Jaehyun mulai membuka percakapan, suaranya begitu dalam sarat akan emosi yang siap meledak kapan saja.

"Dan kau juga telah melanggar janjimu sendiri." Lanjutnya dengan menatap Taeyong tajam, yang di tatap begitu hanya bisa menduduk. Membuat Jaehyun semakin jengah, membuatnya kelepasan dengan berteriak dan berucap begitu kasar di depan Taeyong.

"Jadi ini yang kau lakukan di belakangku? BERMAIN DENGAN TEMAN ADIKMU SENDIRI! KAU MENJIJIKAN HYUNG!"

Air matanya mulai menggenang, sesuatu seperti meramas hati Taeyong begitu kuat. Sakit, ini begitu sakit apa sebegitu menjijikanya dia di mata Jaehyun.

"Kita tidak sengaja bertemu dan meminum kopi bersama." Ujar Taeyong lirih, masih mencoba menahan tangis yang sebentar lagi pecah. Ingin rasanya Taeyong berteriak, membalas tuduhan Jaehyun yang sama sekali tidak ada benarnya, ya dia ingin tapi selamanya dia tidak akan bisa untuk memaki sang adik. Taeyong tidak mampu.

"DAN KAU MENYANGGUPINYA, MEMBIARKAN DIA MELAKUKAN APAPUN SESUKA HATINYA! BUKANKAH SUDAH KUPERINGATKAN UNTUK MENJAUHINYA JALANG!"

DEG!

Jalang

Jalang?

Jalang?

Apa Jaehyun baru saja menyebutnya jalang? Taeyong menjerit dalam hati. Air mata sudah tidak sanggup ia bendung lagi, bulir-bulir itu mulai membasahi wajah Taeyong dengan cepat, tanganya menutup mulutnya sendiri guna menahan isakan yang mulai terdengar keras.

Sedikit, Jaehyun mulai dapat mengatur emosinya barang sedikit. Amarahnya kian mereda begitu melihat Taeyong yang mulai menangis di depanya. Oh jangan lagi. Jaehyun tidak akan pernah bisa mengabaikan Taeyong yang menangis, langkahnya mendekat, memangkas jarak diantara keduanya lewat sebuah dekapan erat oleh yang lebih muda.

Tanganya menekan bagian belakang kepala Taeyong, membenamkan wajah Taeyong pada dadanya yang bidang. Tangan yang satu lagi Jaehyun gunakan untuk mengusap surai milik sang kakak terlampau lembut. "Oh jangan menangis, maafkan aku yang sudah terlalu keras kepadamu hyung."

Lirih, nyaris berbisik namun masih dapat ditangkap oleh pendengaran Taeyong. Yang lebih tua menggeleng, "Ti-tidak Jaehyun-ah, maafkan hyung yang mengecewakanmu. Hyung tak bermaksud untu berbuat seperti itu, tadi hyung sudah akan menolaknya tapi kau telah lebih dulu datang untuk menepisnya."

Mendengar penjelasan Taeyong barusan Jaehyun mencelos, sedikit menyesal karena tidak mendengarkanya terlebih dahulu. "Aku hanya tidak suka jika hyung dekat dengan orang lain selain aku. Apa lagi jika orang itu adalah Johnny."

"Iya maafkan hyung, Jaehyun-ah."

Mereka berdua masih berpelukan, menyingkirkan ketegangan yang sempat menyelimuti keduanya. Jaehyun menyandarkan kepalanya pada bahu Taeyong, matanya terpejam menikmati elusan Taeyong pada kepalanya, menikmati aroma manis Taeyong yang menusuk hidungnya. Tubuh itu ringkih tapi terasa begitu hangat, tubuh itu memang kecil tapi terasa begitu pas dalam pelukan Jaehyun. Semuanya telah terlihat begitu lengkap, hanya kurang satu hal yang terus menghantui pikiran Jaehyun akhir-akhir ini. Pengakuan.

Jaehyun menegakan tubuhnya, tanpa melepas tanganya yang melingkar indah di pinggang ramping Taeyong ia menatap kakaknya dalam.

"Aku mencintaimu, hyung."

Taeyong tersenyum, sebuah kata yang memang terlampau sering diucapkan oleh sang adik. "Hyung juga mencintaimu." Jawabnya cepat namun dihadiahi gelengan lemah oleh Jaehyun.

"Bukan hyung , bukan mencintai yang seperti itu. Aku mencintaimu sebagai Jung Jaehyun yang mencintai Jung Taeyong. Bukan sebagai adik yang mencintai kakaknya."

Taeyong terpaku. Tak pernah menduga jika sang adik memilik perasaan seperti itu kepadanya. Sebagian hatinya menjerit jika ini salah, ini tidak benar dan Taeyong harus mengakhirinya. Namun sebagian yang lain memilih untuk diam, merenungkan segala kenangan yag sudah mereka ciptakan.

"Sejak kapan?"

"Entahlah, mungkin sejak pertama kali aku bisa memanggilmu dengan sebutan 'hyung'?"

Mata itu terpejam, tangan itu meremas kaus depan Jaehyun erat, dan tubuhnya diam di tempat, tak bergerak barang sedikitpun padahal otaknya sudah berkali memerintahkan untuk bergerak pergi. Sarafnya seakan mati dan tidak berfungsi lagi, seiring dengan Jaehyun yang mempertemukan bibir keduanya, terus mengecup sebelum berubah lebih intens menjadi lumatan.

Kini tanganya sudah mengalung indah pada leher sang adik, membiarakan ciuman itu terus berlanjut lebih dalam. Taeyong membuka mulutnya, membiarkan akses lebih kepada Jaehyun untuk menjelajah gua hangatnya. Lidahnya saling bergelut, saliva keduanya saling bercampur dan merembes keluar lewat celah sudut bibir keduanya.

Jaehyun mengakhirinya, begitu diarasa Taeyong mulai membutuhkan pasokan oksigen untuk paru-parunya. Tangan itu menyentuh sebelah pipi Taeyong, mengusapnya perlahan sampai dimana ibu jarinya membelai bibir bawah Taeyong mesra.

"Malam ini jadilah milikku, hyung."

Lagi-lagi bagian dari diri Taeyong menjerit, ini salah, tapi hasrat itu sudah mengambil alih semuanya. Rasa yang dahulu samar kini telah tercetak semakin jelas, Taeyong bisa merasakanya, degup jantung yang semakin menggila dan kebutuhanya akan Jaehyun yang semakin melampaui batas.

Menyatukan kening keduanya, Taeyong berujar, "Aku milikmu malam ini, besok, dan seterusnya Jaehyun-ah. Bukankah kau sudah tau jika sedari dulu hyung memang milikmu, hm?"

Yang lebih muda tersenyum, kembali menyatukan bibirnya dengan bibir plum milik sang kakak. Membaringkan tubuh keduanya di atas kasur besar miliknya. Jari-jarinya mulai bekerja dengan melepaskan satu persatu kancing kemeja Taeyong, secara bergantian menanggalkan kemeja Taeyong yang langsung disusul dengan kaosnya yang teronggok tak beradaya di lantai kamar yang dingin.

Kecupanya mulai turun ke bawah, menimbulkan lenguhan tertahan dari Taeyong saat dirasa Jaehyun mulai bermain-main dengan nipplenya. Dengan nakal Jaehyun memilin dan sesekali mencubit gemas nipple milik sang kakak.

"Shhhhhh aaahhhh Jaee—ahhh." Taeyong mendesah keras begitu Jaehyun mulai melahap salah satu nipplenya, mengisapnya rakus seperti bayi yang sedang menyusu pada ibunya. Ciuman itu terus turun, sampai di atas pusar milik Taeyong sang adik mengecupnya lembut sebelum menjilatnya dengan gerakan melingkar. Membuat sang kakak mendongakan kepalanya dan meremas sprei di bawahnya kuat.

Secara perlahan jemari itu mulai menurunkan zipper celana Taeyong, melepaskanya dan hanya menyisahkan celana dalam Taeyong yang kini terlihat mengembang karena sesuatu dibaliknya yang mulai menegang.

Jaehyun menyeringai, mengusap paha dalam Taeyong dan mengecup gundukan yang masih dibalut kain itu dengan gerakan paling sensual.

"Ahh—Engghh—" Taeyong menggapit kepala Jaehyun dengan kedua pahanya. Dirinya sudah tidak kuat lagi menahan rasa yang bergejolak dalam tubuhnya.

Jaehyun menghentikan segala kegiatanya dan mulai melepas satu-satunya kain yang masih tersisa pada tubuh milik Taeyong. Dipandangnya tubuh sang kakak dari atas sampai ke bawah, menikmati segala pahatan sempurna yang Tuhan ciptakan untuk sang kakak. "Hyung, kau indah."

Dan Taeyong tersipu malu, tanganya mencoba menutupi kenjantananya yang terekspos bebas namun gerakanya langsung saja ditahan oleh sang adik. "Biarkan saja jangan ditutuppi, aku berkata jujur tadi, kau benar-benar mengagumkan." Lagi-lagi Jaehyun kembali bersuara. Kini giliran dia yang mulai melepas lapisan celanya, membebaskan kejantanya yang notabene lebih besar dari milik Taeyong, membuat sang kakak meneguk ludahnya sulit karena terpukau.

Yang lebih muda terkekeh, tanganya mengelus lembut pipi sang kakak "Jangan dilihhat seperti itu, kau tenang saja hyung, dia hanya akan menjadi milikmu." Goda Jaehyun diselingi dengan tiupan pelan pada telinga Taeyong.

Jaehyun memulai dengan menciumi jari jemari kaki Taeyong. mengirim impuls menggetarkan pada sang pemilik tubuh, terus naik hingga lidahnya mulai bermain-main di paha Taeyong. menjilat, mengecup lalu menjilatnya lagi. Detik berikutnya Taeyong hanya dapat mendesah keras saat mulut Jaehyun mengulum habis kejantanan miliknya.

"Aaakkkhhhh... Jae—ouuhhh..."

"Enngghhh...sshhhh...aahhh..fuck jae ngghh."

Tiba-tiba Jaehyun menghentiikan aktivitasnya begitu mendengar kakaknya yang mengumpat di sela-sela desahanya. Taeyong yang menyadarinya langsung meminta maaf namun Jaehyun malah mengecup bibirnya lama. "Tidak apa-apa, aku lebih senang hyung melepaskanya, pokoknya jangan ditahan, arra?"

"Euummhh arra."

Setelahnya tak ada yang bisa Taeyong lakukan selain mendesah dan mendasah di bawah kungkungan tubuh sang adik yang dengan kurang ajarnya terus menghisap, mengulum bahkan sesekali menggigit miliknya. Tanganya di udara, mencoba menggapai surai sang adik dan meremasnya kuat.

Jaehyun yang merasa sang kakak sudah semakin siap, memasukan jari tengahnya kedalam hole milik Taeyong, mencari-cari sweet spot milik kakaknya. Yang lebih muda menambahkan jari telunjuknya, mebuat yang lebih tua melengking, tubuhnya membusur menjauhi kasur karena serangan hebat pada bagian selatan tubunya.

"Ohhh jaee jeballll...aakkhhh"

Jaehyun tersenyum puas begituu mendapati jarinya menemukan titik Taeyong berada, dengan cepat dia menambahkan lagi jari manisnya, mempersiapkan hole sempit milik Taeyong untuk dimasuki kenjantanya yang besar.

"Di sana..ahh..oh fuck.."

Taeyong mendesah keras dan Jaehyun hanya bisa memandangnya penuh minat, hanya dengan jari dan mulutnya yang bermain saja Taeyong sudah mendesah sehebat ini bagaimana dengan kejantananya nanti? Oh shit, Jaehyun tidak sanggup menahanya lagi.

"Kk-kenapa berhenti?" tanya Taeyong karena rasanya begitu menyiksa, ketika dirinya hampir sampai namun Jaehyun tiba-tiba menghentikanya—lagi.

"Sabarlah hyung." Ujarnya sembari mengarahkan kejantananya pada lubang milik Taeyong, "Sudah siap?" dan Taeyong mengangguk cepat, terlampau antusias dengan kelanjutanya. Begitu mendapat persetujuan dari sang kakak, Jaehyun langsung memasukan kejantanan miliknya ke dalam hole sempit milik Taeyong.

Baru masuk sepertiganya namun Taeyong sudah mengerutkan dahinya, menahan perih yang mulai terasa pada tubuhnya. "Apakah sakit hyung? Jika iya biar kuhentikan saja." Taeyong menggeleng, tanganya mengusap wajah Jaehyun frustasi "Anni, jangan berhenti Jaehyun-ah."

"Jika sakit kau boleh mencakar punggungku, apa saja lakukan semaumu."

Maka dengan sekali hentakan, kejantanan Jaehyun kini telah sepenuhnya berada dalam hole milik Taeyong. Di saat yang sama pula, perih menjalar dari punggungnya dan dia langsung meraup biibir Taeyong rakus guna menenangkan sang kakak agar terbiasa dengan miliknya.

"Kau sudah bisa bergerak." Lirih Taeyong di sela-sela ciumanya. Jaehyun menurut, merasakan bagaimana hole milik sang kakak menjepitnya kuat, meremas dan memanjakan miliknya.

"ahh.. hyung..shit kau begitu..ugghh..sem-ah pit—mmm." Desis Jaehyun.

"Ahhh..ohhh..mmmhh...jae..sshh-hyun ngghh-akh!" Taeyong menjerit begitu sang adik menyentuh sweet spotnya. Suara becek akibat benturan dari kedua alat vital tersebut sebagai pengiring kegiatan panas kedua kakak beradik malam itu. Bagaimana gesekan antara kenjantanan Jaehyun dan hole milik Taeyong terasa begitu memabukan untuk keduanya. Tak ingin lepas, meminta lebih, lebih, dan lebih. Semakin dalam, dalam, dan dalam lagi.

Katakan Jaehyun gila yang dapat merasakan begitu intensnya hole milik sang kakak menjepit, memijat kejantanan miliknya. Katakan Taeyong tidak waras yang membayangkan bagaimana urat-urat kejantanan sang adik yang menggesek holenya kasar. Ini pertama kali untuk mereka, tapi rasanya sudah berkali-kali melakukanya. Keduanya terlihat mahir melakukanya.

"aahhh..hhnnn."

Keduanya semakin liar, suara desahan saling berbalas-balasan, mengirim sejuta sensasi menggetarkan pada keduanya. Jaehyun bergerak semakin liar, tempo yang tadinya lambat kini telah bertambah dua kali lebih cepat. Pemuda itu akan segera klimaks dan Taeyong yang kelelahan pun sebentara lagi akan menemukan titik pelepasanya.

" .. kau begitu sempit..emmhhh.. i'm close.."

Jaehyun mendesah begitu dirasa hole milik sang kakak mejepitnya begitu kuat. Dan pada detik berikutnya Taeyong mengeluarkan cairanya, berserakan ke sprei dan perut keduanya. Disusul dengan Jaehyun yang langsung mendorong pinggulnya dalam membuat sang kakak terhentak dan mengeluarkan cairan miliknya di dalam hole hangat Taeyong.

"Haahh...hahhh...hahhh hyung/Jaehyun-ah" panggil keduanya bersamaan. Baik Jaehyun maupun Taeyong terkulai lemas, masih berusaha mengatur nafasnya yang tidak karuan. Sang adik membaringkan tubuhnya di samping Taeyong, menjadikan lengan kananya sebagai bantal tidur untuk sang kakak.

"Jaehyun-ah hyung lelah." Keluh Taeyong manja sembari memeluk perut Jaehyun dan mendongakan wajahnya menatap Jaehyun sayu. Mendengar itu Jaehyun langsung membawa Taeyong ke dalam pelukanya, mendekapnya hangat dan menarik selimut guna menutupi tubuh polos mereka berdua.

"Mmmm tidurlah hyung." Ujar Jaehyun sembari mengecup dahi Taeyong sayang.

Taeyong tersenyum, semakin menyamankan dirinya dalam lingkaran tangan Jaehyun, menyerukkan wajahnya semakin dalam ke dalam dada sang adik. "Saranghae Jaehyun-ah." bibir plum itu mengecup bibir sang adik cepat, lalu dengan segera menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah pada dada bidang sang adik.

Jaehyun terkekeh, tanganya mengusap gemas surai lembut milik sang kakak. "Nado saranghae hyung."

Berikutnya, hanya deru nafas teratur yang menandakan keduanya telah sampai pada alam mimpi masing-masing.

.

.

Jung muda terbangun, matanya masih terpejam namun tanganya sudah berkeliaran di atas kasurnya mencari keberadaan sosok lain yang semalam tidur bersamanya. Mulutnya terbuka hampir berteriak memanggil nama sang kakak sebelum sebuah aroma lezat menyapa indra penciumanya. Pemuda itu langsung menegakkan tubuhnya, dengan hanya menggunakan celana tidur panjangnya—oh tunggu, seingatnya saat jatuh tertidur dia tidak mengenakan apapun dan sekarang sebuah celana sudah menggantung indah di pinggangnya bekas kekacauan yang ia buat semalam juga sudah tidak ada, kamarnya kembali bersih. Siapa lagi tersangka utamanya jika bukan keka—upss kakaknya.

Dengan tubuh toplessnya, Jaehyun berjalan menuju dapur, sumber dimana aroma lezat yang terkuar sampai ke kamarnya. Memasuki dapur, ia langsung disuguhi pemanadangan surga. Bagaimana tidak, Taeyong hanya dengan menggunakan kaosnya yang kebesaran terlihat begitu sexy dari belakang. Ujung kaos yang hanya menutupi setengah pahanya alhasil menampakan paha mulus miliknya, juga kerah kaosnya yang kebesaran membuat bajunya merosot ke samping kiri menampilhan leher dan bahu putihnya—jangan lupakan bekas kissmark yang masih terpampang begitu jelas disana. Oh shit, dan Jaehyun tidak yakin apakah di balik kaos kebesaran itu Taeyong menggunakan dalaman atau tidak, jika tidak ouh—Jaehyun kembali menegang.

Satu lagi, apa Jaehyun sudah berbicara mengenai bokong sang kakak yang sedang menari-nari diiringi musik yang menyala di sebelahnya itu? Jaehyun menggeram, apa kakaknya itu sengaja menggodanya pagi-pagi begini. Ia si tidak masalah, tapi Jaehyun khawatir jika nantinya Taeyong akan merengek karena kesulitan berjalan.

Pemuda itu berjalan mendekat, mematikan musiknya lalu memeluk tubuh sang kakak dari belakang. Menciumi pundak Taeyong yang terbuka dengan sensual. Tanganya tak tinggal diam, keduanya langsung menyelusup ke balik kaos yang Taeyong kenakan dan berakhir dengan mengusap perut rata Taeyong seseduktif mungkin.

Taeyong yang awalnya terkejut langsung melenguh begitu Jaehyun kembali menjamah tubuhnya. kepalanya ia torehkan ke samping guna memberikan akses yang lebih untuk Jaehyun mencumbu lehernya.

Cepat-cepat dibaliknya tubuh sang kakak hingga berhadapan denganya, mendorongnya hingga tubuh Taeyong terhimpit antara meja makan dan tubuhnya.

"Akkhhh..mmmm." desahan itu keluar begitu saja dari bibir Taeyong, membuat sang adik menyeringai puas karena berhasil membangkitkan hasrat milik sang kakak kembali.

Tangan Jaehyun kini tengah menggenggam kejantanan milik Taeyong, sesekali mengurutnya sehingga menghasilkan lenguhan tertahan dari yang lebih tua. Yap, seperti apa yang sudah Jaehyun kira, kakaknya itu tidak mengenakan apapun di balik kaos kebesaran miliknya. Sungguh berbahaya bukan?

"Morning sex, mm?" Jaehyun berbisik, dengan sengaja mengulum cuping telinga Taeyong mesra.

"Apapun..ahhhh..hyung sudah tidak tahan lagii..."

Tanpa melepas kaos yang Taeyong gunakan, Jaehyun hanya menyibaknya sebatas perut, mengangkat tubuh sang kakak hingga terduduk di atas meja makan dengan posisi mengangkang, menampilkan hole berwarna pinknya yang telah siap untuk dimasuki. Jaehyun menurunkan celananya, membebaskan sang adik yang memang sudah menegang sedari awal.

Kali ini semuanya berlangsung cepat, hanya butuh waktu lima belas menit dan keduanya klimaks dalam waktu yang bersamaan. Taeyong terengah, kepalanya ia sandarkan pada bahu milik Jaehyun. Sedangkan sang adik membiarkan kakaknya untuk mengatur nafasnya sembari merapikan kembali pakaianya dan pakaian milik Taeyong.

Jaehyun membopong Taeyong di depan, mendudukan dirinya di salah satu kursi dengan Taeyong yang masih berada di pangkuanya. "Sekarang kita sarapan dulu, kau tau bau masakanmu ini sampai tercium di kamarku hyung."

"Benarkah?" Taeyong mengalungkan lenganya pada leher Jaehyun, memandang wajah sang adik dengan tatapan berbinarnya. Oh ini hanya perasaan Jaehyun saja atau Taeyong yang sekarang berubah lebih manja kepadanya.

"Mmm sudah, sekarang sarapan yang banyak, pulihkan tenagamu karena aku akang mengajakmu ke suatu tempat"

Taeyong menggeleng, menampakan wajah imutnya kepada Jaehyun "Aku tidak mau makan jika bukan kau yang menyuapi."

Jaehyun terkekeh, mencubit gemas hidung milik sang kakak. "Ommo, kenapa hyung jadi lebih manja begini hm? Biasanya kan aku yang minta disuapi."

"Ya sudah jika tidak mau, hyung juga tidak mau makan." Taeyong mempoutkan bibirnya kesal, tangan yang tadinya ia kalungkan di leher Jaehyun kini telah menyilang di depan dadanya. Wajahnya ia tolehkan ke samping, kemana saja asal tidak menatap mata sang adik.

Cup.

Yang lebih tua menoleh begitu mendapati sang adik yang telah begitu saja mencuri sebuah ciuman darinya. "Ya!"

"hahahaha wajahmu terlihat lucu jika sedang marah. Baiklah untuk kali ini, aku yang akan menyuapimu, as you wish baby."

Taeyong tersipu, dan Jaehyun tidak sanggup untuk tidak mencium bibir merah itu lagi. Sampai-sampai tanpa sarapanpun dia bisa kenyang hanya dengan mencium bibir Taeyong terus menerus.

Butuh tiga puluh menit untuk mengabiskan makanan yang Taeyong buat, masih dengan posisi yang sama yaitu Taeyong yang duduk mengangkang di pangkuan Jaehyun. "Oh ya tadi kau sempat menyebutkan akan membawaku ke suatu tempat, kemana itu Jaehyun-ah?"

"Rahasia, nanti juga hyung tau sendiri." Jawaban dari Jaehyun membuat Taeyong mencebik sebal. "Tidak perlu marah lagi, lebih baik sekarang kita mandi bersama."

"Tidak mau." Jawab Taeyong singkat.

"Hyung jeballllllll..." Jaehyun memberikan aegyo andalanya yang menimbulkan tawa pelan dari sang kakak.

"Tapi gendong." Ujar Taeyong yang sudah mengalungkan tanganya lagi pada leher Jaehyun, yang lebih muda mendengus dan langsung dibalas delikan tajam oleh Taeyong. "Tidak mau ya sudah." Pemuda itu sudah turun dari pangkuan Jaehyun, hendak berjalan sendiri ke kamarnya namun tiba-tiba tubuhnya terasa melayang. Jaehyun menggendongnya ala bridal style, membuat Taeyong cepat-cepat melingkarkan tanganya pada leher Jaehyun dan terkikik geli karena rencananya berhasil.

"Untukmu baby." Jaehyun berucap diselingi dengan sebauh seringai di wajahnya. Oh ini gawat, kini Taeyong hanya berharap acara mandi bersamanya akan berjalan lancar tanpa ada kegiatan mendadak lain—memasuki dan dimasuki.

.

.

Sebuah mobil berhenti di sebuah area pemakaman, Jaehyun keluar dari arah pintu kemudi dan langsung bergegas membukakan pintu di seberangnya menampilkan sosok sang kakak yang masih menekuk wajahnya kesal.

"Oh ayolah hyung apa kau masih marah? Aku sudah memberitaumu kemana kita akan pergi dan kau masih saja marah padaku?" Jaehyun mengacak rambuntnya frustasi, Taeyong masih belum mau turun dari mobilnya.

"Bagaimana aku tidak kesal jika kau melakukanya lagi, aku kan jadi susah berjalan, sakit tau!"

Taeyong berhak marah bukan? Acara mandi bersama yang Jaehyun canangkan benar-benar tidak berjalan mulus. Salahkan hasrat Jaehyun yang begitu menggila itu, Taeyong sampai lelah menghadapinya.

"Ah itu mianhae, hehehe. Habisnya kau begitu menggoda hyung, jadi aku kelepasan deh." Elak Jaehyun dengan cengiran di wajahnya. Yang lebih muda mendekat, mengangkat tubuh sang kakak dari mobil dan menurunkanya di sampinya. "Sekarang ayo senyum, mereka pasti sudah menunngu kita."

Jaehyun menautkan jemari tanganya pada milik Taeyong, mereka saling menggenggam, melangkah menuju dua makam yang saling berjejeran.

"Eomma, appa apa kabar kalian di sana? Jaehyunie datang lagi bersama Taeyong-hyung."

Keduanya duduk bersimpuh, memandang lembut sepasang nisan yang berada di depanya. Orang tua mereka memang meninggal lima tahun yang lalu. Ayahnya tewas karena kecelakaan sedangkan dua bulan berselang ibunya yang sakit-sakitanpun menyusul sang ayah. Setelah peristiwa itu keduanya dirawat oleh sang paman, hingga dua tahun yang lalu Jaehyun dan Taeyong memutuskan untuk tinggal sendiri di rumah peninggalan milik orang tua mereka. Namun secara rutin, dua minggu sekali pamanya itu pasti akan datang berkunjung untuk menengok keadaan kedua keponakan kesayanganya.

"Eomma, appa aku datang ke sini untuk meminta restumu." Itu suara Jaehyun, Taeyong menoleh menatap Jaehyun tidak percaya. Apa adiknya itu akan mengungkapkan kebenaranya pada sang eomma dan appa?

"Kalian pasti tau bahwa aku mencintai Taeyongie-hyung kan? Ya aku mencintainya, tapi rasanya lebih dari sebatas hubungan adik dengan kakak." Jaehyun menghembuskan nafas panjang, dan Taeyong masih mendegarkan bersamaan dengan matanya yang mulai berkaca-kaca, merasakan rasa sesak yang tiba-tiba menyelimuti hatinya.

"Jaehyunie tau ini salah, tapi Jaehyunie benar-benar mencintai Taeyong-hyung, eomma. Hanya Taeyong-hyung satu-satunya orang yang aku miliki setelah eomma dan appa pergi. Taeyong-hyung sangat berharga, dan Jaehyunie tidak mau melepaskan sesuatu yang berharga itu untuk orang lain."

Taeyong menangis, apa yang ingin ia ucapkan kepada orang tuanya sudah terwakili semua oleh Jaehyun. Menyandarkan kepalanya pada bahu Jaehyun, Taeyong memeluk lengan Jaehyun penuh kasih seakan ingin menunjukan pada eomma dan appanya memang benar mereka berdua saling mencintai dan tidak ingin dipisahkan.

"Oleh karena itu Jaehyunie datang ke sini, meminta restu kepada eomma dan juga appa. Sungguh kita berdua hanya butuh restu kalian, kami tidak peduli jika dunia menentang hubungan ini asalkan eomma dan appa menyetujuinya, kami baik-baik saja."

Kali ini tidak hanya Taeyong, namun Jaehyun pun sudah menetaskan air matanya walaupun tidak sampai terisak seperti Taeyong. Selalu seperti ini, jika sudah dihadapkan dengan sang eomma dan appanya, baik Jaehyun maupun Taeyong akan berubah menjadi rapuh, akan selalu menangis seperti anak kecil yang meminta mainan kepada orang tuanya. Karena pada kenyataanya mereka memang merindukan orang tuanya.

Angin tiba-tiba berhembus, membelai rambut mereka berdua, menerbangkan dedaunan yang mulai menguning mengingat waktu mulai memasuki musim gugur.

Sepucuk daun maple jatuh menghantam kepala Jaehyun, merosot turun sampai berada di telapak tangan pemuda itu yang membuka. Keduanya tersenyum, baik Jaehyun maupun Taeyong menggenggam daun itu bersama-sama.

"Terima kasih, eomma."

"Terima kasih, appa."

Keduanya saling berpandangan, disaksikan makam kedua orang tuanya, diiringi angin yang menerbangkan daun-daun maple yang saling berguguran, kedua bibir itu kembali menyatu, menyesap rasa manis dari sebuah pengharapan akan akhir bahagia.

.

.

.

.

.

.

END

.

.

.

.

.

.

.

.

Omake

Kedua bocah lelaki itu masih berlarian, menerbangkan pesawat kertas yang sebelumnya mereka buat bersama.

"Hyung kenapa pesawatku tidak mau terbang?"

Bocah yang dipanggil hyung itu menoleh, menatap bocah yang lain dengan tawa geli di wajahnya.

"Benarkah? Coba sini hyung liat."

Yang lebih muda menyerahkan pesawat kertasnya, menatap hyungnya itu dengan tatapan penuh minat saat yang lebih tua mengotak-atik pesawat kertasnya. Terpukau.

"Wah ternyata ada lipatan yang salah pantas tidak mau terbang, sekarang perhatikan hyung ya."

Pesawat itu terbang. Ya, cukup lama menggantung di udara yang pada akhirnya jatuh tepat beberapa meter di depanya.

"Nah begitu, apa kau sudah mengerti?" yang lebih tua tersenyum, menggusak pucuk kepala bocah yang lebih muda dan membuat sang empunya mengangguk malu-malu dengan rona merah yang mulai menjalar di kedua pipi chubbynya.

Selalu saja seperti ini, setiap hyungnya memberikan afeksi untuknya, pipinya otomatis memerah, sesuatu seperti meledak di perutnya membuat bibir kecilnya mengulas sebuah senyum malu-malu. Parahnya, jantungnya juga mendadak tidak berfungsi secara normal, detakannya begitu kencang membuat sang pemilik kadang jadi takut sendiri bahwa hal ini merupakan sesuatu yang berbahaya.

"Hyung, bolehkan aku bertanya?"

Yang lebih tua mengangguk, mengangkat dagu yang lebih muda untuk menatap tepat di matanya. "Apa itu?"

"Kenapa di sini dag dig dugnya cepat sekali ya hyung? Apa tidak apa-apa?" tanyanya sembari menepuk-nepuk dadanya sendiri.

"Apa kau sering merasakanya?"

"Anni, hanya setiap bersama hyung." Jawabnya polos, menimbulkan kekehan singkat dari sang kakak yang kini tengah mencubit hidungnya gemas.

"Tidak apa-apa, asalkan itu hanya saat bersama hyung maka tidak apa-apa."

"Benarkah?"

Sang kakak mengangguk, lalu meraih tangan mungil milik sang adik dan menuntunya menuju dadanya sendiri. "Sekarang coba rasakan."

"Cepat."

"Nah hyungpun begitu, setiap kali bersamamu selalu seperti. Jadi kau tidak usah khawatir hum? Kamu tidak sendirian."

Si kecil mengangguk mengerti, namun sesuatu masih saja mengusiknya "Tapi, kenapa? Apa hyung bisa menjelaskanya kepadaku?"

"Tidak sekarang, jika sudah besar nanti pasti kamu akan tau sendiri alasanya."

Di sisi lain terlihat seorang pemuda dengan celemek yang masih menempel di tubuhnya, berdiri di ambang pintu rumah sambil matanya menerawang jauh mencari keberadaan dua orang yang begitu berarti dalam hidupnya. Buah dari perjuangan panjang bersama sang suami. Ya pemuda yang kini telah berstatus sebagai seorang ibu itu tak lain adalah Taeyong.

"Mark! Haechan! Makanan sudah siap!" teriak Taeyong kepada dua orang yang masih belum diketahui dimana keberadaanya itu.

Bibirnya terbuka hendak berteriak memanggil kedua anaknya lagi tapi sebuah teriakan cempreng telah lebih dulu menyahutnya.

"Siap eomma!"

Dan Taeyong hanya tersenyum simpul lalu kembali masuk ke dalam rumahnya. Sedangkan dua bocah tadi yang sekarang telah diketahui bernama Mark dan Haechan segera membereskan mainan mereka.

"Hyung." Panggil Haechan dengan tatapan melasnya dan Mark langsung tau jika adiknya sudah bersikap seperti ini pasti ada sesuatu yang ia inginkan.

"Apa?"

"Gendong." Jawab sang adik sembari menampilkan cengiran bocah miliknya.

Nah benar bukan, adiknya itu menginginkan sesuatu dan Mark tidak punya pilihan lain selain menurutinya. Apapun, ya apapun akan Mark lakukan untuk membuat adiknya tersenyum senang.

Yang lebih tua langsung berjongkok dan memunggungi sang adik. "Naiklah."

Dengan senyum yang masih terpasang di wajahnya, Haechan mengalungkan lenganya pada leher Mark, menyandarkan kepalanya pada bahu kecil milik sang kakak. Begitu dirasa siap, Mark langsung berdiri, kedua tanganya menopang bobot tubuh sang adik yang berada dipunggungnya.

"Aku menyayangimu, hyung." Ucap Haechan yang dibarengi dengan sebuah kecupan singkat di pipi kiri Mark. Sang kakak terkekeh lalu tersenyum sebelum membalas pernyataan sang adik dengan kalimat serupa.

"Hyung lebih menyayangimu."

.

.

Seperti apa kata pepatah, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.

Oh Tuhan, akankah kisah orang tua mereka akan terulang kembali pada keduanya?

.

.

SELESAI

.

.

Ini dia chapter duanya, mianhae kalau lama soalnya beberapa hari kemarin ffn error lagi, jadi Flow updatenya nunggu ffn bener dulu deh XD

Gimana sama chapter ini? maafkan kalau ini tidak memenuhi ekspetasi kalian. Flow tunggu tanggapanya ya, so review please?

Oh ya yang mlibet baca judulnya, ini diusulin sama Hana, katanya si INTRIGUE itu artinya hubungan gelap /hahahaha

.

.

Salam tebar bunga,

Flow /mwah