Disclaimer : 久保 帯人

"夏"

Chapter 2


15 tahun kemudian...

Gerbong shinkansen yang dinaiki Ichigo penuh penumpang. Tak ada satu suara pun yang terdengar kecuali suara besi yang saling bergesek di bawah shinkansen. Mata coklat musim gugurnya mengedarkan pandangan ke seluruh sudut gerbong. Setidaknya ada tiga puluh penumpang lebih yang sibuk dengan kegiatan merka masing-masing dan tak lupa di telinga mereka bertengger sepasang earphone. Ichigo mengernyitkan dahi saat melihat beberapa penumpang yang dia yakini hanya pura-pura tidur dan berusaha sekuat tenaga untuk terlihat tidur. Ia sendiri heran mengapa mereka harus melakukan itu, mungkin ini salah satu dedikasi yang orang-orang tunjukkan untuk menjaga keheningan di dalam gerbong.

Selama pindah ke Tokyo, ini pertama kalinya bagi Ichigo pergi naik shinkansen. Mengingat sejak sekolah dia memilih untuk jalan kaki. Baru tiga bulan yang lalu, ia menghentikan aktifitas itu, karena tou-sannya memberikan sebuah mobil jeep atas keberhasilannya menjadi pimpinan divisi tiga di kepolisian Jepang yang berpusat di Tokyo. Ichigo sendiri bingung kenapa hari ini ia ingin sekali merasakan naik kereta express kebanggaan masyarakat Jepang.

Di ujung gerbong, mata coklat musim gugur itu menemukan sesosok wanita memakai jaket coklat dengan syal putih melilit lehernya. Ia tidak dapat melihat wajah wanita itu karena wanita itu sedang berdiri membelakangi Ichigo dan mengadahkan wajahnya ke atas tanpa mempedulikan sekitarnya.

Kerutan di dahi Ichigo bertambah, bulan Agustus merupakan bulan terpanas di Jepang. Seingat Ichigo sewaktu ia tak sengaja melihat iklan di TV, model pakaian wanita yang lagi tren di musim panas ini adalah rok resmi A-line berwarna peach dan kemeja sutra lembut lengan panjang dengan motif floral kecil warna-warni. Rambut wanita itu berwarna hitam, tak seperti perempuan muda Jepang lainnya yang suka mengikuti model dengan mengecat pirang rambut mereka. 'Orang aneh' pikirnya.

Mungkin karena penasaran, tanpa sadar Ichigo melangkah kecil mendekati wanita itu. Namun tiba-tiba tubuhnya berguncang ke depan menandakan shinkanshen yang di naikinya sudah tiba di Shinjuku Eki. Ichigo menghela nafas dan secepat mungkin keluar dari gerbong.

Sementara itu wanita yang dianggap Ichigo 'orang aneh' segera tersadar dari lamunannya. Mata violet miliknya melihat jam tangan yang dipakainya. Raut wajahnya mendadak pucat. Ia segera keluar gerbong dan berlari menuju South Exit Gate.

xxx

Ichigo melirik jam tangan miliknya, masih terlalu awal untuk sampai di kantor pusat kepolisian. Ia memutuskan untuk berjalan kaki melewati jarak sejauh lima blok dari stasiun ke kantor pusat. Dengan begitu, Ichigo masih mempunyai waktu untuk menghadirkan bayangan Rukia di pelupuk mata. Bayangan wajah yang membuatnya harus menelan dan mengakui kenyataan pahit akibat takdir yang dialaminya lima belas tahun yang lalu.

Tak pernah terlintas di pikiran Ichigo untuk bercita-cita menjadi seorang polisi seperti tou-sannya. Namun setelah kejadian kebakaran lima belas tahun yang lalu membuatnya berubah pikiran. Mungkin dengan begini ia akan lebih mudah untuk menemukan Rukia yang sampai sekarang ia yakini bahwa gadis itu masih hidup dan entah berada dimana.

Ichigo berjalan memasuki gedung putih berasitektur modern yang merupakan kantor pusat kepolisian Jepang. Terlihat suasana kantor yang ramai dan sibuk seperti biasanya.

"Ohayou taichou," sapa senyum lebar saat Ichigo masuk ke ruangan divisi tiga.

"Renji, tumben kau sudah datang pagi-pagi begini?" tanya Ichigo heran. Tidak biasanya fuku-taichounya itu datang lebih pagi dari Ichigo.

Renji mengangguk. Wajahnya mulai terlihat serius. "Ada kasus pembunuhan pemilik department store Takashimaya."

Mata musim gugur Ichigo membulat sempurna."Kenapa kau tidak segera memberitahuku?"

"Berita itu baru dilaporkan sejam yang lalu. Sepertinya saksi mata baru menemukan mayat tadi pagi di ruangan kerja direktur utama."

Ichigo segera mengambil berkas-berkas laporan dan berbagai macam foto dari TKP dari tangan Renji. Ia meneliti setiap foto yang ada. Kebanyakan dari foto itu adalah foto mayat. "Bagaimana menurutmu? Kau pasti sudah lihat foto ini lebih dulu daripada aku," tanya Ichigo.

Renji mengangguk. "Sepertinya pembunuhan itu sudah direncanakan matang-matang. Bagaimana pun juga Takashimaya adalah department store paling terkenal dan paling mahal di Jepang. Suasana daerah di kawasan itu selalu ramai apalagi letaknya dekat dengan stasiun Shinjuku yang tak pernah sepi. Sulit sekali bisa membunuh orang di tempat yang dikelilingi banyak orang seperti itu. Bagaimana menurut taichou?"

"Aku pikir pelakunya pasti Hanabi," kata Ichigo yakin.

"Kenapa taichou bisa berpikiran seperti itu? Apa gara-gara Hanabi adalah buronan yang saat ini sedang di cari polisi jadi taichou langsung menuduhnya membunuh pemilik department? Lagipula tidak ada bukti," tanya Renji meminta kepastian.

"Kau lihat lagi foto ini," Ichigo menunjukkan foto yang memperlihatkan seorang wanita berusia sekitar empat puluh tujuh tahun pemilik department store Takashiyama dalam keadaan berbaring. "Lihat di bagian leher agak sedikit ke belakang, ada tanda kembang api kecil. Tanda ini selalu ditinggalkan Hanabi saat dia berhasil membunuh sang korban. Memang tidak terlalu jelas karena tertutup rambut mayat yang panjang. Coba nanti kau lihat di bagian otopsi," jelas Ichigo. Renji mengambil kembali foto itu dari tangan Ichigo dan memeriksanya lebih teliti.

Ichigo berjalan ke arah mejanya dan membuka satu kancing kemejanya sekaligus membuat dasinya lebih longgar. Dibukanya laci bagian bawah meja kerjanya. Disana terdapat sebuah kerang bewarna putih dengan warna ungu di beberapa bagian. Ichigo mengambil kerang itu dan tersenyum miris. Dia masih ingat dengan jelas, Rukia memberikan kerang itu saat mereka bermain bersama di pantai Karakura lima belas tahun yang lalu. Ichigo masih menyimpan benda itu sampai sekarang karena hanya itulah benda yang masih mengingatkan dirinya tentang Rukia.

"Menurut taichou, kenapa Hanabi mela..." kata-kata Renji terputus saat melihat Ichigo. Renji tahu apa yang Ichigo alami karena sebulan yang lalu Renji tidak sengaja bertanya kepada Ichigo kenapa dia menyimpan sebuah kerang di lacinya.

Flashback

Renji melirik jam di tangan kirinya. Sudah waktu jam makan siang. Dilihatnya Ichigo sedang duduk bersandar di kursinya dan memegang sebuah kerang. Alis Renji berkerut. Ia selalu bertanya-tanya kenapa taichounya itu tidak pernah keluar untuk makan siang. Mungkin karena pekerjaan sebagai kapten yang terlalu banyak. Itulah alasan yang selalu Renji pikirkan. Lalu kerang itu? Ia sendiri masih penasaran.

Dengan ragu-ragu Renji bertanya. "Anou, taichou boleh aku bertanya sesuatu?"

Ichigo mengangguk dan meletakkan kerang itu kembali ke tempatnya. Di laci bagian bawah. "Kau mau tanya apa Renji?"

"Kenapa taichou menyimpan kerang itu? Sebagai jimat?" tanya Renji penasaran.

Ichigo tertawa getir. "Mungkin iya. Ini jimat keberuntunganku. Karena Rukia yang memberikan ini padaku."

"Rukia?"

"Teman masa kecilku. Dari dulu sampai sekarang aku selalu menganggapnya sebagai bagian terpenting dari hidupku."

Renji tersenyum lebar. Ia tak menyangka taichounya yang terkenal cuek dan dingin kepada semua gadis ternyata bisa berubah seperti ini. "Aku jadi ingin tahu seperti apa orang yang bernama Rukia itu. Sekarang dia ada dimana taichou?" tanya Renji begitu antusias

Ichigo berbalik menghadap jendela di belakang meja kerjanya dan memandang langit biru kota Tokyo. "Entahlah. Aku sendiri tidak tahu dia dimana. Dulu kami berpisah saat rumah Rukia kebakaran. Mungkin ini terdengar aneh, tapi aku punya keyakinan kuat kalau Rukia masih hidup."

Renji tahu pasti Ichigo sengaja membelakanginya. Entah kenapa dia bisa mengira seperti itu. Mungkin agar orang lain tak tahu dibalik tatapan matanya yang selalu bisa membuat semua orang beku terdapat sorot mata kesedihan yang terpancar dari mata musim gugur itu. "Maaf...aku tidak bermaksud..."

"Tidak apa-apa," Ichigo memotong kata-kata Renji. "Aku percaya padamu," Ichigo berbalik dan tersenyum.

Hanya beberapa kata itu saja sanggup membuat Renji sangat bersyukur bisa menjadi fuku-taichou divisi tiga.

End of flashback

"Renji!" panggil Ichigo.

Renji segera tersadar dari lamunannya. "Eh...iya taichou. Tadi aku mau bertanya menurut taichou apa motif Hanabi melakukan pembunuhan ini?"

Ichigo membuka beberapa laporan di dalam map. Berusaha meneliti dan mencari tahu. "Entahlah. Aku merasa aneh dengan cara pemikiran orang itu."

Renji menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Menunjukkan bahwa dirinya bingung dengan penjelasan Ichigo.

Ichigo menghela nafas. "Berdasarkan data yang kepolisian dapat, aku mengambil beberapa kesimpulan. Pertama, Hanabi selalu melakukan pembunuhan di setiap musim panas. Sedangkan di musim lain tidak. Kedua, orang-orang yang diincar pun selalu orang-orang yang terkenal di masyarakat. Ketiga, dia selalu memberikan tanda berupa kembang api kecil pada tubuh mayat. Kenapa dia sengaja melakukan itu? Bukankah itu mempermudah kepolisian dengan memberitahu bahwa yang melakukan perbuatan itu adalah Hanabi."

Renji mengangguk dan menambahkan. "Lagipula sampai sekarang kepolisian belum tahu apakah Hanabi itu seorang laki-laki atau perempuan."

xxx

Rukia berjalan keluar dari stasiun dan secepat mungkin menuju West Shinjuku. Menghindari beberapa kemungkinan fatal yang pasti akan didapatkannya bila ia tidak mengikuti kecepatan berjalan orang-orang di sekitarnya.

Kemungkinan pertama, ia akan terlambat menjenguk ojii-sannya. Karena ia hanya dapat menjenguk ojii-san sekali dalam sehari dalam waktu sepuluh menit. Bila ia tak datang tepat waktu, Rukia yakin pasti ia tak akan diperbolehkan masuk dan harus menunggu esok hari untuk bertemu dengan beliau. Kemungkinan kedua, bila ia tak berjalan secepat yang ia bisa, Rukia bisa terseruduk orang dari belakang dan segera terlempar dari trotoar. Rukia tahu Tokyo berbeda dengan Karakura. Tidak ada orang yang ingin berjalan santai di kota ini. Yang past tidak di Shinjuku, salah satu distrik di Tokyo yang merupakan distrik tersibuk di Jepang.

Rukia bernafas lega saat ia sampai di sebuah rumah yang lebih mirip kantor dengan kaca-kaca besar menutupi sebagian besar dindingnya.

.

.

.

.

"Bila terlambat lima menit lagi, kau tidak akan bisa bertemu dengan kakekmu hari ini. Kau tahu itu Rukia?"

Rukia tersenyum tipis. "Aku mengerti Grimmjow. Terima kasih sudah mengingatkanku."

Grimmjow tersenyum dan mengangguk. Diambilnya kunci yang ada di saku kiri celananya dan ia menyuruh Rukia masuk setelah ia membuka pintu sebuah ruangan tempat Yamamoto berada.

Rukia tersenyum lebar saat melihat keadaan ojii-sannya sedikit lebih baik daripada tahun-tahun sebelumnya. Ternyata rayuan yang dikatakan oleh orang itu lima belas tahun yang lalu itu benar. Awalnya ia pikir orang itu bohong namun ternyata ojii-sannya benar-benar sakit. Menurut cerita yang Rukia dengar, ojii-sannya menghirup gas radioaktif akibat ledakan sebuah pabrik di sebuah pulau kecil yang ada di utara kota Tokyo.

"Ojii-san," panggil Rukia. "Kenapa berdiri di dekat jendela seperti itu? Ojii-san masih belum sembuh. Ayo kembali ke tempat tidur."

Yamamoto tersenyum. "Ojii-san hanya ingin lihat langit biru saja."

Rukia berjalan mendekati kakeknya dan menuntunnya kembali ke tempat tidur. "Rukia, ojii-san ingin kau berhenti melakukan perbuatan jahat suruhan orang itu," kata Yamamoto memulai pembicaraan seriusnya.

Rukia menggeleng. "Ojii-san sudah mengatakan hal itu berulang kali. Tapi keputusanku tetap sama. Aku tidak akan berhenti. Toh, aku hanya menuruti perintah orang itu demi kesehatan ojii-san. Jika tidak, mereka pasti akan berhenti memberikan obat untuk ojii-san."

Yamamoto menggenggam erat tangan Rukia seolah menitipkan sebuah harapan dan permohonan. "Tidak apa-apa ojii-san mati. Ojii-san sudah tua. Jangan korbankan dirimu begitu banyak demi ojii-san."

Sekali lagi Rukia menggeleng. "Ojii-san jangan bicara seperti itu. Ojii-san satu-satunya keluarga yang Rukia miliki saat ini. Dan Rukia akan melakukan apa pun demi kesembuhan ojii-san."

"Kau masih punya orang tua Rukia. Ingat itu. Ojii-san mohon carilah mereka. Karena ojii-san yakin mereka pasti bisa membantumu terlepas dari orang itu."

"Ojii-san aku..."kata-kata Rukia terputus saat ia melihat ada orang yang membuka pintu dan masuk ke dalam.

"Maaf aku mengganggu Rukia. Tapi waktumu sudah habis," Grimmjow mengingatkan.

Rukia mengangguk pelan. "Ojii-san, Rukia pergi dulu. Besok Rukia akan datang lagi," katanya seraya memeluk orang tua renta itu.

"Ingat pesan ojii-san Rukia. Cari orang tuamu," bisik Yamamoto.

.

.

.

.

"Terima kasih sudah menjaga ojii-sanku," kata Rukia pada Grimmjow yang saat ini sedang mengunci kembali pintu ruangan Yamamoto.

Grimmjow menggeleng. "Aku hanya melakukan tugas. Bagaimana? Kakekmu masih menyuruhmu untuk mencari kedua orang tuamu dan berhenti melakukan perbuatan jahat suruhan bos?"

Rukia mengangguk pelan. "Seandainya aku bisa membantumu, pasti aku bantu," ujar Grimmjow lirih.

Rukia tersenyum. Ia bersyukur orang yang disuruh menjaga tempat Yamamoto adalah Grimmjow. Walaupun ia tampak seperti orang jahat dan akan menurut apa yang saja yang diperintahkan tuannya, termasuk bila ia disuruh membunuh orang. Rukia tahu dibalik sifatnya yang seperti itu, Grimmjow adalah teman yang baik dan dapat diandalkan.

"Terima kasih. Kau baik sekali Grimmjow," kata Rukia

"We're friends. That's what friends do," jelas Grimmjow dan berhasil membuat Rukia tersenyum mendengarnya. Terlihat jelas sekali mata violetnya kini berkaca-kaca.

Alis Grimmjow terangkat. Ia baru menyadari keanehan akan gadis yang ada di sampingnya. "Eh...kenapa musim panas seperti ini kau memakai jaket dan syal? Dasar aneh."

"Apa kau bilang? Terserah aku mau memakai pakaian apa," jawab Rukia disertai sebuah jitakan ke kepala Grimmjow dan berhasil membuatnya meringis kesakitan.

"Ehm...wah kalian akrab sekali."

Reflek Rukia dan Grimmjow segera menoleh. "Apa kabar Hanabi-chan?" tanya orang itu dengan senyum khasnya.

-TBC-

A/N:

Special thanks to:

So-Chand 'Luph pLend', Astrella Kurosaki, , Jee-ya Zettyra, Aizawa Ayumu, Yuki-ssme, sarsaraway20, Ciel , Ruki Yagami, nutmeg-not-head, aRaRaNcHa, Yuu Ika.

Mungkin pembaca masih penasaran bagaimana Rukia bisa akrab dengan Grimmjow. Memang di chapter ini tidak dijelaskan. Tapi pasti akan author jelaskan. Jadi harus sedikit bersabar.

Ah iya. Pasti ada yang heran kenapa saya memilih nama Hanabi. Karena judul fic ini summer jadi saya mengambil sebuah tradisi masyarakat Jepang yang mengadakan festival kembang api saat musim panas. Lalu saya teringat dengan Sumidagawa Hanabi. Jadwal festival yang biasanya diadakan pada hari Sabtu terakhir di bulan Juli.

Maaf updatenya lama. Sempat author pikir untuk tidak melanjutkan fic ini karena belum ada ide untuk chapter selanjutnya.

Bila ada sesuatu yang kurang, mohon author dikasih tahu. RnR?