We Love You, Taeyongie!

NCT ONESHOT

Jaehyun x Taeyong [feat. Dohyun & David of SM Kid Models]

EPILOGUE

Romance. Fluff. Drama. OOCs.

.


NCT Dreams Kindergarten and Playgroup, 25 years later, Summer

"Ayah!"

Seorang anak kecil berumur lima tahun terlihat berlari dengan kencangnya saat melihat sosok yang sedari tadi ia tunggu. Ia segera melompat dari ayunan tempatnya duduk dan segera mendatangi figur yang baru saja membuka pintu mobil.

"Aigoo, jangan lari-lari begitu, Dohyunie," dengan sigap, kedua tangan sosok itu menangkap anak yang menubruk dada bidangnya.

"Ayah kenapa lama sekali?" bibir Dohyun cemberut, membuat pipi anak itu menggembung. Ayahnya spontan mengangkat tubuh kurus puteranya ke udara, menggendongnya sambil mengecup pipinya.

"Maafkan, Ayah, Dohyunie. Apa Dohyun bosan?"

Dohyun menggeleng, "Tidak, kok. Ada David yang menemaniku bermain."

"Begitu. Apa Appa juga di sini?"

Kali ini Dohyun mengangguk. "Ayah, apa kita akan makan diluar setelah ini? Sama David juga kan?"

Ayahnya terkekeh, "Tentu saja, Dohyunie. Apa Appa mengizinkan?"

"Tidak masalah. Asal Appa juga boleh ikut, bagaimana?"

Sebuah suara muncul dari belakang mereka. Jaehyun kenal betul suara lembut yang berpadu sempurna dengan hembusan angin musim panas sore itu. Kepala Jaehyun segera menoleh dan mendapatkan sosok yang tidak pernah membuatnya jengah untuk ia tatap berjuta-juta kali sekalipun. Bibirnya tanpa perintah menyungging sebuah senyum menawan. "Taeyong-hyung ...,"

"Hei, sudah aku bilang jangan menambah embel-embel hyung. Membuatku terlihat tua saja," Taeyong mendorong bahu lebar Jaehyun.

"Biarkanlah, hyung. Lagipula hyung lahir di awal tahun, dan aku di hampir di akhir tahun. Pantas saja aku panggil hyung, hehe."

Senyum Jaehyun yang sanggup membuat dunia tertawa itu mau tidak mau meluluhkan Taeyong yang akan melancarkan protes. Selalu begitu, Taeyong selalu dibuat tidak berdaya jika Jaehyun sudah menampilkan senyum seperti itu. Tayeong hanya menghela napas, "Baiklah, terserah apa maumu. Asal kau mentraktirku es krim cokelat dan crepes matcha yang aku minta tempo hari."

"Deal. Ada lagi?"

"Mm... David hari ini kau mau makan apa, Sayang? Ayah Jaehyun yang akan mentraktir."

"Jjinja? David ingin pie mangga dan chicken, juga sundae oreo yang ada di McD!" saking semangatnya, David meminta Taeyong untuk menggendong tubuh kecilnya, mengoceh ria di depan Jaehyun yang akan membelikan makanan favoritnya.

"Taeyong-hyung...," gumam Jaehyun tidak terima. Traktirannya menjadi beranak begini.

"Eung! Setelah itu kita minta Ayah membelikan David boneka Spongebob, ya!"

"Ah! Dohyunie juga mau boneka Chopper, Yah! Ayah juga akan membelikan untuk Dohyun, kan? Masa hanya David?"

Apa yang bisa dilakukan Jaehyun selain menepuk jidatnya pelan. Tidak ia sangka akan diperas oleh tiga orang sekaligus. "Oke, oke. Ayah akan belikan makanan kesukaan kalian hari ini. Bonekanya nanti setelah Ayah gajian."

"Hahaha, jangan mau dibohongi Ayah kalian, anak-anak. Coba kalian periksa dompetnya di saku belakang, pasti banyak uang di sana."

"Taeyong-hyung...," geram Jaehyun gemas, "jangan terlalu memanjakan anak-anak."

"Boo, lihat, Ayah kalian memang pandai merusak suasana."

"Hhhhh...aku merasa punya tiga anak sekarang. Terserahlah, ayo pulang."

Ketiga orang selain Jaehyun hanya tertawa ceria, meninggalkan taman kanak-kanak dan segera menuju mobil untuk menagih apa yang sudah dijanjikan Jaehyun. Meskipun begitu, Jaehyun senang saja. Sama sekali tidak keberatan jika uangnya dijajakan untuk membuat anak-anaknya tersenyum. Membuat Taeyong tertawa.

Setelah membeli semua kudapan dan makanan kesukaan Dohyun, David dan Taeyong, plus boneka Spongebob dan Chopper, keempatnya memutuskan untuk makan di rumah. Jaehyun dan Taeyong begitu senang ketika melihat buah hati mereka makan dengan tangan mereka sendiri. Tersenyum lembut ketika kedua anak mereka meminta tisu untuk membersihkan sisa makanan di sekitar mulut. Tidak lupa memuji ketika mereka melahap habis semua makanan tanpa ada sisa di atas piring.

Begitu cepat detik berlalu, hari sudah menjelang malam ketika mereka selesai makan. David dan Dohyun bermain dengan boneka baru mereka di ruang TV, sedangkan Jaehyun dan Taeyong di dapur membersihkan meja makan dan mencuci piring.

Hanya ada suara air keran yang mengalir, atau piring yang saling bergesekan satu sama lain. Bahkan, saat kecil dulu, keduanya selalu berisik jika sudah berdekatan seperti sekarang. Tapi saat ini, saat mereka hanya berdua seperti ini, seolah ada tembok pembatas di antara mereka yang membuat keduanya canggung untuk sekedar mengela napas. Tidak ayal juga mengundang salah tingkah. Tangan Taeyong tidak sengaja menyenggol jemari Jaehyun saat ia menerima piring yang baru saja Jaehyun cuci. Taeyong dengan kecerobohannya hampir menjatuhkan piring itu jika tangan tangkas Jaehyun tidak segera menangkapnya.

"Ah, maaf," gugup Taeyong.

"Tidak apa-apa, hyung. Kalau kau lelah, kau bisa istirahat menemani anak-anak bermain."

Ah, Jaehyun selalu saja baik. Dan Taeyong selalu terpana saat melihat wajah putih susunya yang sedang fokus mengerjakan sesuatu.

"Apa ada sesuatu di wajahku?"

Taeyong bodoh, umpat Taeyong dalam hati. Ia bisa merasakan wajahnya menghangat, matanya mengerling kemana-mana saking gugupnya. Jaehyun hanya terkekeh pelan. Sial. Tawa kecil itu lagi-lagi membuat bulu kuduk Taeyong meremang, membuat jantung Taeyong berdetak satu detik lebih cepat. Taeyong tidak punya pilihan selain membuang muka, menyembunyikan rona merah yang mungkin sudah berkumpul di kedua pipi tirusnya.

"Hyung ...," tiba-tiba Jaehyun memanggil, lirih dan pelan. Taeyong meluruskan wajahnya, memperhatikan Jaehyun yang usai mencuci piring, menutup keran, dan mengelap tangan basah di apron yang dikenakannya. Lalu Jaehyun menatapnya.

Untuk pertama kalinya di momen mereka berdua hari itu, Jaehyun dan Taeyong saling menatap, benar-benar menatap dari mata ke mata. Bagi Taeyong, semuanya terasa begitu sempurna. Kemeja putih Jaehyun yang ia singsingkan hingga seperempat lengan, badan jangkungnya yang bersandar pada counter dengan satu tangan sebagai tumpuan, kepalanya yang ia miringkan sedikit, dan mata hitamnya yang menatap tajam.

Tatapan mata yang mampu menembus iris kelam Taeyong hingga bagian terdalam, yang perlahan menjalar ke hatinya. Di tengah kekagumannya akan figur Jaehyun yang tak terbantahkan, mata Taeyong memandang sayu padanya. Jaehyun terangsang untuk mengangkat tangannya, menyentuh sudut mata Taeyong.

"Hei, apa mata hyung memang sebulat itu?"

Taeyong dingin sebeku es. Meskipun jemari Jaehyun begitu hangat, sensasi sentuhan yang diberikan membuat Taeyong diam terpaku. "A-apa aneh?" Taeyong mengutuk suaranya yang kembali terbata.

Jaehyun tersenyum dan menggeleng pelan, "Justru indah sekali," ujarnya seraya mengelus pelipis Taeyong. Jaehyun benar-benar mengagumi mata bulat nan indah itu. Mata yang selalu menyorot keceriaan. Tapi terkadang juga bisa menyorot sayu seperti sekarang. Dan ketika Taeyong memandangnya seperti itu, Jaehyun tidak bisa untuk tidak memperpendek jarak. Memajukan wajah dan memiringkannya sedikit, untuk mengecup lembut bibir Taeyong yang tipis.

Meskipun Jaehyun hanya menempelkan kedua bibir mereka, jantung Taeyong rasanya berdebum keras sekali. Siap meledak bagai bom atom yang sanggup meluluhlantakkan ketahanan dirinya. Benar saja, saat suhu tubuh Taeyong mulai memanas, tangan Jaehyun dengan agresif memeluk pinggang Taeyong, sedangkan tangan yang lain menarik perlahan tengkuk Taeyong, membawanya lebih dalam ke ciuman mereka.

Mata Taeyong masih membelalak. Berbanding terbalik dengan mata Jaehyun yang setengah terbuka, namun sorotnya begitu memabukkan. Ketika melihat mata Jaehyun yang terpejam dengan indah beberapa detik setelah itu, Taeyong refleks menutup matanya.

Merasakan sesapan demi sesapan, lumatan dan jilatan dari lidah hangat Jaehyun, dan elusan hangat di tengkuk serta punggung. Demi apapun yang bergerak saat itu, Taeyong bersumpah dunia di sekitarnya diam bergeming. Hanya ada suara bibir yang saling menaut, lidah yang saling mengulum, dan gesekan tubuh yang semakin mendekat. Taeyong dibuat melayang, jika teriakan David yang terdengar sampai dapur tidak membangunkannya.

Taeyong kembali ke akal sehatnya. Ia mendorong pelan dada bidang Jaehyun ke belakang, sambil melepas lembut bibir mereka yang tadi menjadi satu. Taeyong menunduk dan menghela napasnya.

"Irene wanita yang baik."

Sebuah lirihan yang terdengar seperti teriakan keras di telinga Jaehyun. Tubuh Jaehyun lambat laun mundur, menyisakan jarak kembali di antara mereka. Ia mengangkat dagu Taeyong sehingga bisa melihat mata bulatnya yang hitam dan indah sekali lagi. "Aku tahu. Maafkan aku," balas Jaehyun, lirih pula.

Taeyong tersenyum manis, membuat Jaehyun tersenyum pula. Taeyong kemudian beralih pada dua anak kecil yang masih bermain di ruang TV. Bibirnya membentuk sebuah senyum tipis, "Apa Dohyun baik-baik saja? Apa kau merawatnya dengan baik?"

"Seperti yang hyung lihat. Semuanya tambah baik ketika David menjadi sahabatnya," jawab Jaehyun sambil memandang puteranya.

"Aku benar-benar syok waktu tahu ibunya ...," Taeyong mendesah perlahan, "... waktu tahu istrimu tiba-tiba meninggal."

Tatapan Jaehyun menurun. Entah ia sedang memandang lantai yang sudah terlihat kusam, atau kedua kakinya yang terlihat lemas. "Dia memang sudah waktunya pergi. Aku tidak ingin melihatnya melawan kanker yang tidak bisa dia kalahkan lagi."

Ucapan itu begitu getir di telinga Taeyong. Jemarinya bergerak untuk mengelus pelan punggung tangan Jaehyun yang bersandar pada counter, memberikan energi semangat di sana. "Maafkan aku sudah mengungkitnya. Kau ... benar-benar hebat merawat Dohyun seorang diri, Jaehyunie."

Rasanya sudah lama sekali Taeyong memanggilnya begitu. Jaehyun tersenyum memesona karenanya. Hatinya seperti mendapat pelukan kala Taeyong memanggil nama kecilnya dengan sayang, dengan perhatian. "Terima kasih pada seseorang yang dulu mempunyai kasus yang sama. Yang harus selalu aku hibur saat dia merengek dan mengeluh tiap kali ingat ibu cantiknya."

Taeyong terkekeh. Jejak-jejak memori masa kecilnya berputar kembali dalam pikirannya. Jaehyun bisa melihatnya, mata Taeyong yang sehitam malam itu kini berbinar. Benak Jaehyun ikut berlari-lari mengenang masa kecil yang selalu mereka habiskan bersama. Hingga sekarang sampai mereka dewasa, tidak terpisahkan.

"Hyung ...," panggil Jaehyun memecah keheningan yang sempat melanda mereka.

"Mm?"

"Apa yang terjadi ... jika kita memutuskan untuk bersama?"

Taeyong tertegun mendengar pertanyaan yang tidak ia sangka.

"Hyung tahu ... bagaimana kita saling mengikat, kan?"

Suara berat Jaehyun membuat Taeyong menunduk. Ia menutup matanya sejenak, sebelum mengangkat wajahnya untuk memandang Dohyun dan David yang asyik bermain. Wajah Taeyong dihiasi senyum samar, "Kalau kita bersama, maka David dan Dohyun tidak akan pernah ada."

Selesai sudah. Satu jawaban telak yang mengembalikan keduanya untuk kembali ke realitas. Melepas segala ego dan kehendak, demi putera-putera mereka yang kini hadir sebagai matahari mereka. Sungguh, adalah hal yang mengerikan saat membayangkan Dohyun dan David tidak terlahir di dunia.

"Terkadang, aku menyesal mempertemukanmu dengan Irene. Apa dia sepenuhnya mirip Joohyun-ssaem?"

Lagi-lagi Taeyong hanya terkekeh, "Tentu saja tidak. Irene dan ibuku hanya punya satu kesamaan. Senyum malaikat seperti yang teman-teman dan para ssaem katakan."

"Apa itu yang membuatmu jatuh cinta dengannya?"

Kenapa Jaehyun suka sekali memborbardir hati Taeyong dengan pertanyaan singkatnya. Taeyong hanya mengangguk pelan mengiyakan. Tangannya yang sepi dielus balik oleh Jaehyun, tidak sadar bahwa ia belum melepas sentuhannya di punggung tangan Jaehyun.

Ketika tangan mereka bertaut, mereka tidak akan mudah untuk saling melepaskan. Dari dulu, Jaehyunlah yang selalu menggenggam tangan kurus itu kemanapun ia pergi. Wajah Taeyong yang damai saat Jaehyun menggandengnya adalah oasis yang tidak bisa Jaehyun tolak. Hati Jaehyun merasa damai saat Taeyong senang dan tersenyum manis. Hati Jaehyun menggebu saat Taeyong berada di dekatnya.

Sejak dulu, memang Taeyonglah yang mampu membuatnya seperti itu. Hanya Taeyong yang selalu Jaehyun inginkan.


"Anyeong, David. Besok kita main lagi, ya! Bawa boneka kita ke sekolah."

"Eung! Kita perang-perangan lagi besok dengan boneka baru kita, Dohyunie!"

Jaehyun dan Taeyong tertawa kecil. Mereka sudah di ambang pintu apartemen Jaehyun, mengantar Taeyong dan David yang akan pulang ke rumah di mana Irene menunggu.

"Baiklah, Jagoan. Cium tangan Ayah Jaehyun dulu sebelum pulang," Taeyong menggendong anaknya, membawanya mendekat pada Jaehyun yang berdiri di hadapannya.

"Ayah Jaehyun, terima kasih sudah membelikan David dan Appa makanan yang enaaak sekali. Boneka Spongebob-nya juga terima kasih, mmuah!" pipi mulus Jaehyun mendapat kecupan manis dari buah hati Taeyong. Jaehyun tidak tahan mengambil alih David dari gendongan Taeyong.

"Sama-sama, Jagoan Ayah! Pipi yang satu lagi belum David cium," Jaehyun menyodorkan pipi satunya dan disambut kecupan lucu dari David.

"Anak pintar, ini hadiahnya karena sudah membuat Ayah senang hari ini," Jaehyun juga mencium kedua pipi David dengan sayang, mengacak rambutnya pelan lalu menggesekkan kedua hidung mereka. Taeyong benar-benar tersenyum bahagia melihatnya.

"Ayah! Kok cuma David yang dicium? Dohyun kan juga anak Ayah!"

"Aigoo, selain anak Ayah, Dohyunie juga anak Appa. Sini Appa kecup," Taeyong mengangkat tubuh Dohyun ke udara, membuatnya berhadapan dan mengecup gemas kedua pipi anak Jaehyun. Mengusak rambutnya halus dan mengelus punggungnya ketika Dohyun dengan senangnya melingkarkan tangannya di sekeliling leher Taeyong. Jaehyun benar-benar tersenyum damai melihatnya.

Jaehyun dan Taeyong memang dekat, bagaikan nadi dan jantung yang saling berirama satu sama lain. Begitu dekat hingga mereka menganggap anak masing-masing juga sebagai anak mereka sendiri. Membiarkan Dohyun dan David mempunyai dua bapak, dan mengizinkan keduanya memanggil Ayah dan Appa.

Orang lain mungkin tidak akan memahami. Tapi, saat keempat insan itu sudah bersama, niscaya badai sekalipun tidak akan sanggup memisahkan.

"Sampai jumpa, Jaehyunie."

"Hati-hati di jalan, hyung."

Keduanya berpisah dengan senyum. Dohyun sudah berada di atas pundak Jaehyun dan melambai semangat pada David yang digandeng Taeyong. Dan sebelum Taeyong benar-benar menghilang di balik lift, Jaehyun berteriak.

"Hyung! Kau tahu siapa yang paling aku sayangi, kan?"

Taeyong sedikit terperanjat saat lengkingan Jaehyun menggema di koridor apartemen. Ia berbalik penuh, memandang Jaehyun di kejauhan yang saat ini tersenyum hangat kepadanya. Taeyong tersenyum sambil menghela napasnya, sebelum berteriak balik kepada Jaehyun.

"Tentu saja, bodoh! Kau juga tahu siapa yang paling aku sayangi!"

Ya, tanpa bertukar kata sekalipun, Jaehyun dan Taeyong saling menyayangi, dan mencintai.

Kendati mereka sudah menikah, namun Taeyong selalu menyediakan satu tempat khusus di hatinya untuk Jaehyun singgah, bahkan menetap. Begitu juga Jaehyun yang selalu memberi satu ruang di relung dadanya untuk Taeyong berkunjung, dan berlabuh.

Meskipun keduanya tidak saling memiliki, hati mereka terikat oleh benang merah sebagai takdir.

Selamanya.


Epilogue : END