'Ya ayah..aku baik-baik saja. Itu tidak ada apa-apanya'
'Hahaha..aku pun tak menyangka semuanya menjadi lebih mudah'
'Ya..aku mengerti. Siapa? Oh..dia juga baik-baik saja. Sekarang? Sekarang dia berada di atask-diatas kamarku maksudnya.' Pria yang merasa dirinya sedang dibicarakan, hanya tertawa kecil dan tetap melanjutkan hentakannya, tanpa perduli tatapan tajam yang diberikan sosok yang sedang bertelepon. Di bawahnya.
'Tentu ayah..aku tidak akan lengah-mmhhh- ya..sudah berjalan 70% -sshhh-'. Pria yang masih memegang telpon ini, mulai tidak mampu menahan suara dari mulutnya ketika bagian selatannya dilingkupi sesuatu yang hangat, basah dan terus bergerak naik turun.
'Ya. Apa..hhh..akuhh..aku tidak sedang...mhhhh..bercinta –ahhh!' Pria ini sampai menjatuhkan handphonenya ketika suatu yang keras menyentuh daging kecil di dalam lubang anusnya. Sambil menahan kenikmatan, ia mendelik marah pada pria yang sejak tadi menggangu kegiatan telponnya.
"Kau..shhhh..benar-benar! Lihat, ayahku sampai..aahhh..mematikan telponnya!" Pria yang berada di atas hanya tersenyum dan terus melanjutkan kegiatannya.
"Ayahmu tahu kita sedang bercinta. Makanya ia mematikan telpon..oh shit! mmrrhh..."Ia memejamkan mata dan menggeram rendah merasakan kenikmatan tanpa tahu ekspresi pria di bawahnya menahan kesal.
"Itu karena otak mesummu! Astaga..bahkan kita sudah bercinta sejak pagi!" Ia mendorong pria di atasnya dan mengubah posisi bersender di headbed. Sepertinya ia sedikit kesal dan kehilangan mood bercinta. Pria yang satunya, lagi-lagi hanya tersenyum dan ikut duduk di sebelah pria yang sedang marah.
"Aku hanya...ingin menghapus jejaknya.." ucapnya masih dengan tersenyum. Pria disebelahnya mulai menoleh. Mengerti kemana arah pembicaraan ini.
"Ini sudah bertahun-tahun..Sampai kapan aku harus membagi tubuhmu?" lanjut pria tadi. Tapi tidak ada senyuman lagi kini. Wajahnya kaku, tangannya mengepal dan iris matanya menunjukkan kekecewaan mendalam. Namun ekspresinya berubah kembali ketika melihat pria yang disayanginya telah duduk di pangkuannya.
"Sebentar lagi..kita harus bertahan hmm" ucapnya lembut lalu mengecup singkat bibir pria yang didudukinya. Pria yang sempat marah tadi kembali tersenyum hangat. Namun, ia sedikit bingung ketika pria yang dipangkunya menolak untuk dibaringkan di ranjang.
"Kali ini biar aku yang memuaskanmu" Dan dengan itu, ia mulai bergerak naik turun di atas pangkuan prianya, disusul dengan suara desahan dan pekikan yang mulai terdengar..
.
.
.
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
And other cast
.
.
.
Sudah 30 menit, Jongdae hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat pimpinannya Byun Baekhyun, bergumam tidak jelas dan menendang batu-batu kecil di dekatnya. Langit sudah berwarna jingga keemasan, namun tidak ada tanda-tanda pimpinannya itu akan pulang. Saat ini, mereka berada di taman dekat rumah Baekhyun, dan Jongdae selaku pengawal pribadi, harus menemani tuannya ini kemanapun dia mau.
Ada yang berbeda dari sore ini. Tidak ada Oh Sehun. Sang tangan kanan yang biasanya selalu mengikuti pimpinannya kemanapun dia pergi. Memikirkan Sehun, membuat Jongdae bergidik mengingat kejadian yang terjadi sebelumnya.
Setelah kejadian terobos waktu itu, Sehun tiba-tiba seperti orang kerasukan dan berniat mengejar Chanyeol membawa pistol. Saat itu, Jongdae, dengan mempertaruhkan nyawanya, menghalangi Sehun dan memintanya mengurusi Baekhyun terlebih dahulu. Untungnya Sehun mau mengerti, meskipun Jongdae mendapatkan beberapa luka lebam setelahnya.
Keeseokan harinya, ketika Baekhyun sudah sadar sepenuhnya, Sehun lagi-lagi pergi untuk memberi pelajaran pada Chanyeol. Baekhyun memerintahkan Jongdae untuk segera menghentikan Sehun karena saat itu, Baekhyun belum fit sepenuhnya untuk menangani Sehun. Dan untuk kedua kalinya, Jongdae harus mempertaruhkan nyawanya. Entah mengapa, Jongdae merasa hari itu Sehun lebih emosi daripada hari sebelumnya. Berbahaya..ketika seorang Oh Sehun penuh amarah itu sangat berbahaya. Percayalah..kau lebih baik menembak dirimu sendiri daripada menghadapi Oh Sehun yang penuh amarah. Jongdae menghela nafas lega ketika setelah sejam lebih berputar-putar di jalan, ia akhirnya menemukan lokasi tempat Sehun berada. Jongdae menarik nafasnya lagi ketika melihat Sehun..sedang berdiri di antara tubuh-tubuh tak bernyawa yang dipenuhi darah. Sehun menghabisi suatu kelompok mafia dengan tangannya sendiri. Bukan itu yang membuat Jongdae terkejut. Bukan sekali dua kali ia melihat hal ini. Tapi..satu hal yang membuatnya merasa mual. Sehun..menaburkan bubuk putih di telapak tangannya. Tepatnya di darah yang mengalir di atas tangannya. Lalu menjilatnya seakan-akan darah itu adalah lelehan es krim...
Lalu kemarin..ketika Baekhyun sudah sehat sepenuhnya dan sedang melakukan diskusi bersama anggota yang lain, Sehun lagi dan lagi, dengan emosi pergi keluar setelah mendengar keputusan Baekhyun untuk tidak memperpanjang masalah. Jongdae sudah siap untuk mempertaruhkan nyawanya lagi ketiga kalinya, namun kali ini Baekhyun mencegahnya. Pimpinannya bilang, biar ia yang menangani Sehun dan memerintahkan Jongdae untuk melarang siapapun berada di dekat kamar pribadinya. Jongdae tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Baekhyun. Yang jelas, malam kemarin, Baekhyun menarik Sehun ke kamarnya. Jongdae baru bertemu dengan pimpinannya siang tadi dan melihat penampakannya yang...berantakan, Jongdae tak sanggup membayangkan cara yang dilakukan tuannya ini untuk menaklukan seorang Oh Sehun.
Bagaimana dengan Baekhyun sendiri? Jangan ditanya lagi..sampai detik ini, kejadian 3 hari lalu terus berputar-putar seperti kaset rusak di kepalanya. Apalagi hari ini, disaat ia sudah benar-benar sehat dan Sehun sudah bisa ia tangani, membuatnya mengingat semuanya. Tak terlewat sedikitpun. Ia tak habis pikir, Chanyeol akan menggunakan cara seperti itu. Memikirkan nama itu, membuat wajahnya memerah. Bukan. Bukan karena malu. Tapi karena amarah yang semakin berlipat-lipat ganda.
Flashback.
"Awhh!..." Si mungil tersenyum miring. Ia merasa senang setelah berhasil menggigit bibir pria tinggi di depannya. Tapi jangan salah paham..menggigit disini bukan berarti Baekhyun membalas ciumannya. Baekhyun benar-benar mengigigit untuk memberi pelajaran pada si pria tinggi.
Bukannya gentar, Chanyeol justru menampilkan seringainya. Melihat ekspresi Chanyeol seperti psikopat mesum, membuat Baekhyun bergerak perlahan ke arah meja dan diam-diam mecoba mengambil sesuatu di laci meja. Tepat ketika Baekhyun sudah berhasil mengambil pistol di laci meja, Chanyeol dengan gerakan kilatnya menarik pergelangan tangan Baekhyun dan memutar tubuhnya hingga membelakangi Chanyeol.
"Aku suka bermain kasar..." bisiknya di telinga Baekhyun. "Haruskah kita memakai borgol dan cambuk?" Tubuh Baekhyun merinding ketika Chanyeol mengulum telinganya. Sial! Emosinya sudah memuncak kini. Dengan cepat Baekhyun menendang tulang kering kaki Chanyeol.
Berhasil. Chanyeol mengaduh dan jatuh bersimpuh. Baekhyun pun melepaskan diri dan berlari mengambil pistol di lantai. Namun, baru saja Baekhyun menyentuh gagang pistol, kedua kakinya sudah ditarik dan ia pun jatuh tengkurap. Siapa lagi pelakunya kalau bukan pria yang sedang menindihnya dari belakang saat ini.
Chanyeol semakin merendahkan tubuhnya. Bukan hanya terpaan nafasnya saja yang Baekhyun rasakan, tapi juga...sesuatu yang keras...yang berada di atas pantatnya.
"Kau membangunkan sesuatu sayang..." dan dengan kurang ajarnya Chanyeol menggesek-gesekkan bagian tubuhnya yang keras di depan pantat si pria mungil. Baekhyun memejamkan matanya. Bukan karena merasa bergairah. Ia justru merasa seperti akan meledak saat itu juga. Ia sikut perut Chanyeol dan dengan sekuat tenaga, Baekhyun meraih pistol yang tergeletak tak jauh dari tangannya. Yak. Berhasil. Baekhyun langsung berdiri dan menodongkan pistol ke arah Chanyeol.
Baekhyun mengernyitkan dahinya ketika tak melihat adanya ekspresi ketakutan dari wajah Chanyeol. Pria itu tetap menyeringai layaknya psikopat dan justru melangkah mendekati Baekhyun.
"Aku benar-benar akan melubangi kepalamu Chanyeollie". Ancam Baekhyun
"Ya...sebut namaku seperti itu ketika kau dibawahku.." Chanyeol semakin berani mendekati Baekhyun bahkan mengarahkan moncong pistol ke dahinya sambil tersenyum miring. Baekhyun tak perduli lagi. Masa bodoh dengan pelebaran kekuasaan atau polisi sekalipun, saat ini Baekhyun benar-benar ingin mencabut nyawa pria di depannya. 1...2...
3...Ada apa ini? Jangankan menarik pelatuknya, memegang pistolnya saja tidak kuat. Baekhyun merasa aneh dengan tubuhnya yang tiba-tiba merasa lemas seperti tak bertenaga. Pistol tadi terjatuh di lantai dan ia pun juga hampir jatuh jika Chanyeol tidak segera menahan tubuhnya.
"Kena kau!'' Chanyeol menyeringai dan menunjukkan jarum kecil di jarinya. Sial. Baekhyun tak mengira Chanyeol akan memakai cara kotor seperti ini.
Bruk! Baekhyun dibanting di atas sofa. Seluruh tubuhnya tak bisa digerakkan. Ia hanya bisa berkedip dan berbicara saja. Chanyeol nampak puas dan mulai merangkak ke atas Baekhyun.
"Cih! Sudah kuduga kau memang pecundang" Baekhyun berdecih. "Menggunakan cara licik untuk melawanku. Dasar pecun-mmphh" Chanyeol meyumpal mulut Baekhyun dengan bibirnya sendiri. Sudah sejak tadi Chanyeol ingin melumat bibir pink ini. Jujur saja, Chanyeol seperti ketagihan setelah merasakan manisnya bibir Baekhyun sebelumnya. Dia hisap bibir atas dan bawah Baekhyun bergantian, lidahnya mulai ia keluarkan, mencoba masuk ke dalam. Mengetahui Baekhyun yang tidak akan membuka mulutnya, Chanyeol pun menggigit keras bibir bawah Baekhyun. Chanyeol tersenyum miring di sela-sela ciumannya, karena Baekhyun masih bergeming enggan membuka mulutnya meski bibir bawahnya sudah berdarah. Tentu Chanyeol tak kehabisan akal..
"Ahkk!..." Berhasil. Chanyeol pun segera melesakkan lidahnya masuk dan menarik kembali tangannya dari bagian selatan si mungil yang tadi ia remas kuat. Ia lanjutkan membelai lidah, gigi dan mengobrak abrik semua yang ada di mulut Baekhyun tanpa tersisa.
Baekhyun hanya bisa pasrah karena tubuhnya sama sekali tak bisa digerakkan. Sesungguhnya Baekhyun sudah kehabisan nafas, tapi sepertinya pria yang sedang menciumnya ini tidak menyadarinya atau mungkin memang tak perduli. Disaat Baekhyun mengira dirinya akan mati kehabisan nafas, Chanyeol perlahan melepaskan bibirnya dengan hisapan panjang.
"Jadi apa alasanmu?" chanyeol bertanya tanpa merubah posisi keintiman mereka di atas sofa. Baekhyun mengernyit bingung dengan pertanyaan Chanyeol.
"Kau menyentuh milikku Baekhyun" Miliknya? Baekhyun pun melirik ke bagian bawah tubuh mereka. Chanyeol terkekeh melihat Baekhyun yang sepertinya salah mengartikan perkataannya.
"Kekasihku.." jelas Chanyeol. Baekhyun baru mengerti sekarang. Ia mengumpati dirinya sendiri karena sempat berpikir bodoh sebelumnya.
"Ah..jadi kau si pria tua yang baru saja dicampakkan kekasihnya" Baekhyun tersenyum remeh.
"Kau hendak menuntut balas kepadaku tapi kau tergoda denganku kan?" Baekhyun semakin tersenyum lebar. Tak menyangka dugaan yang ia bahas bersama Sehun ternyata tepat. Ia tak menyadari sosok di atasnya juga tersenyum. Hanya sebentar.
"Pertama, aku tidak tua. Kedua, aku tidak dicampakkan kekasihku. Dan ketiga, ya...mungkin aku tergoda padamu..." Chanyeol mencuri satu ciuman.
"Cih! Kau benar-benar seorang pecundang yang menyedihkan. Kau sibuk menuntut balas kemari, sedangkan pria jalang kesayanganmu itu mungkin sedang mendesah keras dibawah hujaman penis pria lain!" Baekhyun sepertinya tidak sadar posisinya sekarang. Tapi ia tidak peduli, meskipun badan Chanyeol mulai kaku diatasnya.
"Jangan pernah sebut dia Jalang, Baek.." suara Chanyeol mulai rendah penuh ancaman. Namun Byun kita sepertinya tak gentar dan terus menantang monster di dalam diri Chanyeol untuk keluar.
"Kau terlalu naif! Coba saja kau cek lubangnya mungkin sudah longgar sekarang hahaha...Sekali jalang-mmpphht!" Dan...Baekhyun pun berhasil membebaskan monster di diri Chanyeol. Tamatlah riwayatnya sekarang.
Chanyeol menciumnya dengan kasar sekarang. Ia gigit kembali bibir bawah Baekhyun, tak perduli bibir itu semakin berdarah. Seperti layaknya psikopat, ia jilat darah yang menetes itu dan menghisap bibir yang terluka sekuat mungkin. Sama seperti sebelumnya, Baekhyun enggan membuka mulutnya. Berbeda dengan cara yang tadi, kali ini Chanyeol menggunakan tangannya menarik dagu Baekhyun kasar. Segera ia masukkan lidahnya, mengumpulkan salivanya di mulutnya sendiri lalu mengalirkan ke mulut Baekhyun, hingga menetes ke dagu dan lehernya.
Chanyeol memang pencium yang handal. Namun akal sehat dan amarah Baekhyun masih menjaganya dari kabut gairah. Baekhyun mulai menyesali omongannya tadi. Sepertinya, kali ini Chanyeol benar-benar tidak akan memberinya kesempatan untuk bernafas. Ia pun membuka lebar mulutnya untuk mencuri-curi udara dan mendorong lidah Chanyeol agar ia bisa sedikit bernafas dan tidak tersedak air liur. Tidak tahukah Baekhyun, kalau tindakannya itu membuat Chanyeol mengira Baekhyun membalas ciumannya?
Ciuman itu sudah berlangsung 5 menit dan belum ada tanda-tanda Chanyeol ingin berhenti. Dia juga heran kenapa dirinya seolah-olah enggan melepaskan biibir yang sedang dilumatnya kini. Tapi dia harus berhenti. Ini semua hanya gertakan dari Chanyeol. Ia bertekad untuk tidak melanjutkan yang lebih lagi.
Namun..sepertinya tekadnya tadi hilang terbawa angin. Disaat ia memutus ciumannya, matanya tak bisa beralih dari pemandangan di bawahnya. Baekhyun yang terengah-engah, dengan mata sayu, bibir membengkak terbuka dan berkilauan keringat, mengalahkan akal sehat Chanyeol.
Chanyeol merendahkan tubuhnya, tepat menempel tubuh Baekhyun. Perlahan ia buka satu persatu kancing kemeja Baekhyun. Bibirnya pun ikut bekerja. Memberi warna pada leher Baekhyun sampai tidak ada tempat yang tersisa. Begitu kancing kemeja Baekhyun telah terbuka seluruhnya, akal sehat Chanyeol benar-benar tinggal nama ketika melihat dua benda menonjol berwarna pink kecoklatan.
Mata Chanyeol berkabut penuh nafsu. Tanpa membuang waktu ia kulum puting itu bergantian , menggigit, mencubitnya. Ia tidak membiarkan satupun puting itu tak tersentuh. Tidak lupa juga ia membuat tanda di kedua dada Baekhyun. Ia sempat melirik Baekhyun yang sedang menggigit kuat bibir bawahnya.
"Jangan ditahan Baek.." Baekhyun semakin mengigit bibirnya kuat ketika Chanyeol berbisik dengan suara rendahnya dan kedua putingnya yang sedang dimainkan oleh tangan Chanyeol. Baekhyun tetap bertekad kuat dan terus berbicara dengan hati nuraninya. Chanyeol tidak suka melihat Baekhyun sekuat tenaga tidak bersuara. Ia pun membawa bibir dan lidahnya semakin kebawah. Meninggalkan tanda terlebih dahulu di perut rata Baekhyun.
"Keluarkan Baek.." Chanyeol semakin turun ke bawah. Menuntut Baekhyun untuk bersuara. Baekhyun semakin menguatkan nuraninya, ketika ia merasakan kakinya dibuka lebar. Pertahanan Baekhyun sudah diujung ketika Chanyeol menjilat dan mengigit paha dalamnya. Dan...
"Aaahh..." Runtuh sudah pertahanan Baekhyun ketika Chanyeol mencium penisnya yang sedikit menegang dibalik celananya. Chanyeol menyeringai senang.
"Sebut namaku Baek...Desahkan namaku.." Chanyeol mulai menarik turun resleting celana pendek Baekhyun. Tangannya menyelip masuk ke dalam dan menyentuh penis si pria mungil.
"Chanhh...rrrhhh..jangan... Chanhh!" Meskipun tubuh Baekhyun sudah benar-benar terangsang sekarang, tapi setidaknya masih ada secuil akan sehat yang tertinggal. Ia masih berusaha tidak takluk pada sentuhan Chanyeol, namun apa daya tubuhnya masih kaku karena pengaruh obat dan tidak bisa berbuat apa-apa. Baekhyun sudah memikirkan cara yang tepat untuk membunuh Chanyeol nanti ketika dirasanya pria tinggi itu mulai menarik pelan celananya.
"Ohh! Fuck..!"
.
.
.
.
Jangan salah paham... Tidak ada yang terjadi, selain Chanyeol yang sedang mengumpati handphonenya yang berdering tiba-tiba. Namun begitu melihat ID pemanggilnya, ekspresi marahnya melembut.
"Iya sayang..aku akan segera kesana" Baekhyun mencibir mengetahui siapa yang menelpon Chanyeol. Tapi, meskipun ia membenci kekasih Chanyeol setengah mati, setidaknya kali ini ia bersyukur, karna secara tidak langsung mencegah Chanyeol untuk berbuat lebih.
"Kau beruntung kali ini" Baru saja Baekhyun hendak menjawabnya, Chanyeol sudah membungkam mulutnya dalam ciuman. Dan perlu diingat, bukan Chanyeol namanya jika ia mencium hanya dalam hitungan detik.
Hingga 3 menit kemudian, Chanyeol baru melepaskan ciumannya. Ia segera berdiri sebelum kehilangan akal sehat lagi melihat Baekhyun terengah-engah. Sebelum melangkah pergi, ia mendekat kembali ke wajah Baekhyun.
"Hubungi aku jika kau ingin melanjutkan yang tadi..." dan ia pun pergi setelah mencuri satu ciuman.
Flashback end.
.
Sial! Rasanya Baekhyun lebih memilih membenturkan kepalanya lalu amnesia daripada harus mengingat kejadian tak senonoh itu berulang-ulang. Ia tak habis pikir, setelah bertahun-tahun lamanya tak bertemu dan tak mendengar satu pun kabar dari pria itu, tiba-tiba ia hadir begitu saja. Dengan cara yang tidak biasa pula.
Baekhyun mengusap wajahnya kasar. Membayangkan hidupnya kini tidak akan tenang lagi. Lebih baik ia berurusan dengan ribuan mafia daripada seorang Park Chanyeol. 4 tahun bersama Chanyeol, sudah lebih dari cukup bagi Baekhyun untuk merasakan hidup bagai di neraka.
Hubungan mereka di masa lalu bukanlah seorang teman atau sahabat apalagi mantan kekasih. Mereka pertama kali bertemu di Spanyol, karena sekolah di tempat yang sama. Baekhyun sendiri yang memutuskan untuk melanjutkan sekolah menengah disana, karena ia ingin belajar tentang seluk beluk kehidupan mafia dari pamannya yang juga pimpinan salah satu mafia di Spanyol. Saat itu, Baekhyun diminta oleh ayahnya, untuk menyembunyikan identitas aslinya di sekolah untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, mengingat Baekhyun adalah satu-satunya penerus mafia terbesar di Korea. Dan berawal dari perintah tersebut, Baekhyun merubah penampilan layaknya seorang kutu buku yang tidak bisa bergaul.
Penampilan yang aneh dan berbeda dari yang lainnya tentu membuat Baekhyun tak mempunyai teman seorang pun. Ia tidak perduli dengan itu, karena dirinya memang tidak suka berurusan dengan orang lain. Memasuki 3 bulannya di sekolah, satu persatu penindasan mulai dirasakan Baekhyun. Mulai dari buku tugasnya yang disembunyikan, bangkunya yang dilumuri lem, meja yang penuh coretan dan masih banyak lagi. Baekhyun masih bisa tenang, ia bertekad untuk tidak terpancing dengan tingkah kekanakan teman-temannya.
Namun..Baekhyun pun punya batas kesabaran. Suatu hari, tubuhnya yang mungil diseret ke gudang sekolah yang berisi 5 orang senior laki-laki di sekolahnya. Baekhyun masih bisa diam ketika wajahnya ditampar oleh salah satu pria disana. Tapi..ketika 2 orang mulai bergerak membuka kancing baju dan celananya, Baekhyun tak perduli apapun lagi. Persetan dengan identitasnya! Ia harus melakukan sesuatu sebelum dirinya menjadi objek pemuas kelima pria ini.
Disaat Baekhyun sedang berusaha bangkit melawan, saat itulah..pria itu datang. Park Chanyeol. Yang dengan wajah angkuhnya memasuki gudang dan berdiri di depan Baekhyun. Meskipun masih siswa junior, Chanyeol sudah terkenal akan kebengisannya. Menurut kabar yang Baekhyun dengar, Chanyeol mampu mengalahkan 10 preman sendirian tanpa adanya bantuan. Sepertinya kabar itu benar melihat kelima pria tadi mundur perlahan dan terus mengawasi gerak gerik Chanyeol.
Baekhyun salah besar jika berpikir Chanyeol akan menyelamatkan dirinya. Karena, bukannya uluran tangan yang ia dapatkan, melainkan sebuah tendangan di perutnya. Kelima pria tadi hanya mampu menyaksikan dalam diam dan merasa was was ketika Chanyeol menatap tajam mereka.
"Mulai detik ini. Pria ini adalah mainanku. Tidak ada satupun yang boleh menyentuhnya. Selain aku!"
Itu adalah suatu perintah mutlak. Tidak ada yang berani melanggarnya jika mereka masih sayang pada nyawa mereka. Penindasan yang diterima Baekhyun memang tidak lagi terjadi setelahnya. Tapi demi Tuhan..Baekhyun sama sekali tidak merasa senang. Berada di bawah kuasa Chanyeol lebih buruk dari apapun yang pernah ia terima. Setiap hari Baekhyun harus mengerjakan tugas Chanyeol, membawakan makanan untuknya dan yang paling menjengkelkan...Baekhyun harus selalu berada di dekat pria itu. Yah..setidaknya pria itu tidak pernah melecehkan atau menggunakan kekerasan pada Baekhyun. Namun tetap saja...Baekhyun yang notabenenya seorang penerus yang selalu diperlakukan terhormat, harus tunduk seperti bawahan pada Chanyeol.
Hingga akhirnya..tibalah masa dimana Baekhyun terbebas dari belenggu Chanyeol. 3 tahun sudah terlewati dan masa kelulusan sudah di depan mata. Tanpa berucap perpisahan dengan Chanyeol dan teman-teman sekolahnya, Baekhyun memutuskan mengikuti pamannya ke Italy dan melanjutkan kuliah disana. Di Italy, Baekhyun tidak perlu lagi menyembunyikan identitasnya, karena teman pamannya merupakan pimpinan mafia terbesar di Italy. Meskipun begitu, Baekhyun tetap berpenampilan apa adanya. Ia sudah terbiasa sendiri dan tidak mau terlihat mencolok.
Hari itu adalah hari pertama Baekhyun dengan status seorang mahasiswa. Seminggu pertama Baekhyun menjadi mahasiswa, tidak begitu buruk karena banyak yang mengajaknya berkenalan dan menjadi teman. Selain itu, karena otak Baekhyun yang memang di atas rata-rata, membuat teman-teman seangkatannya kagum padanya. Namun..kebahagiaan Baekhyun tidak berlangsung lama, ketika keesokan harinya, seorang pria yang sangat dikenalinya ternyata tercatat sebagai mahasiswa di jurusan yang sama dengannya. Baekhyun menghela nafas keras melihat Chanyeol yang menyeringai ketika melewati tempat duduk Baekhyun.
Sebulan setelah kehadiran Park Chanyeol tidak berdampak buruk baginya. Chanyeol hanya diam, menebar pesonanya, mengencani gadis-gadis di jurusan mereka, dan bersikap seolah tidak mengenal Baekhyun. Kondisi ini justru membuat Baekhyun khawatir, karena 3 tahun di sekolah yang sama membuatnya begitu hafal mengenai tingkah laku Chanyeol.
Dan ternyata firasatnya itu benar. Suatu hari, ketika Baekhyun berjalan di sekitar gedung fakultasnya, semua orang memandanginya dan mencibir. Hal itu juga terjadi di kelasnya. Dan Baekhyun tahu penyebabnya ketika sebuah pesan gambar masuk ke handphonenya. Itu poto dirinya di SMA dulu. Dengan penampilan super culunnya sedang diraba oleh dua orang pria. Baekhyun menggeram kesal. Ia tahu persis siapa pelakunya. Siapa lagi kalau bukan pria di ujung sana yang sedang tersenyum remeh padanya.
Baekhyun memutuskan untuk tak ambil pusing dan membiarkan dirinya menjadi bahan hinaan seisi kampusnya. Dia sudah terbiasa sendiri dan untungnya, teman-teman seangkatannya masih ada yang mau berteman dengan Baekhyun.
Seolah masih belum puas, di penghujung bulan semester pertama perkuliahan, Baekhyun dikejutkan oleh beberapa temannya yang sudah terkapar lemah di ruang kuliah mereka. Baekhyun baru saja ingin menanyakan siapa pelakunya, dihentikan oleh suara lantang dibelakangnya...
"Jika kulihat masih ada yang berani berteman dengannya. Kupastikan kalian akan mendapat yang lebih dari ini!" Itu Park Chanyeol. Dengan wajah yang penuh amarah dan tangannya yang sudah berlumuran darah.
Ini sudah cukup bagi Baekhyun. Ia tak mengerti apa salahnya pada pria itu. Jika ia yang disakiti ia tidak akan semarah ini, tapi kali ini Chanyeol sudah benar-benar kelewatan. Orang yang tidak bersalah hampir mati hanya karena mereka berteman dengan Baekhyun.
Maka dengan amarah yang sudah memuncak, Baekhyun menantang Chanyeol untuk berduel dengannya. Perkelahian mereka cukup pelik saat itu. Sejam terlewati namun tidak ada satupun yang telah tumbang. Padahal masing-masing dari mereka sudah berbalut darah dan luka lebam. Seharusnya Baekhyun ingat, waktu SMA Chanyeol mampu mengalahkan 10 preman sendirian. Dan kini ia rasakan sendiri tenaga Chanyeol yang seolah tidak ada habisnya. Maka..setelah sejam selanjutnya terlewati lagi, Baekhyun benar-benar kehabisan tenaga. Ia pun tumbang dan jatuh di lantai. Baekhyun menutup mata pasrah ketika Chanyeol mendekatinya. Ia sudah siap menerima pukulan. Namun bukan pukulan yang ia dapatkan, melainkan...usapan lembut di dahinya. Chanyeol..sedang menyeka darahnya sambil tersenyum..lembut.
Tidak mau diperlakukan seperti orang yang lemah, Baekhyun segera menepis tangan Chanyeol. Pria itu mengganti senyum lembutnya menjadi senyuman remeh, lalu bangkit untuk pergi keluar. Dengan sisa tenaga yang dimiliki, Baekhyun meneriaki pria itu. Menantangnya untuk berduel kembali besok. Chanyeol menoleh sekilas, dan lagi-lagi...tersenyum padanya.
Sayangnya..tantangan Baekhyun tidak bisa terlaksana. Karena keesokan harinya, ayahnya datang menjemputnya untuk kembali ke Korea hari itu juga. Tanpa sempat meninggalkan satupun pesan..
.
.
Jika Baekhyun masih berusaha meredam emosinya, lalu bagaimana dengan Chanyeol sendiri? Berbeda jauh dengan Baekhyun, Chanyeol justru mati-matian menahan senyumnya sejak tadi. Ia tidak mau imagenya yang kejam dan dingin harus tercoreng di depan paman leeteuk dan beberapa bawahnnya yang sedang berdiri di dekatnya saat ini.
"Jadi, Byun Baekhyun adalah seorang pimpinan gangster?" Tanyanya dengan wajah dingin yang dipaksakan.
"Ya tuan. Ayah tuan Byun merupakan sosok yang paling disegani oleh seluruh gangster di Korea, dan beberapa tahun ini, ia menyerahkan kekuasaanya ke tangan putranya"
"Cih, pria mungil seperti itu menjadi pimpinan gangster terbesar di Korea? Sulit dipercaya!" Chanyeol berdecih meremehkan.
"Maaf tuan bukan maksud saya merendahkan pendapat tuan, tetapi saya dengar, kekuatan utama mereka adalah sang tangan kanan. Oh Sehun namanya. Tapi saya dengar juga, tuan Byun pun bukan orang yang bisa dianggap remeh"
Chanyeol hanya bergumam pelan lalu mempersilahkan paman Leeteuk dan yang lainnya keluar dari ruangannya. Ia masih tidak habis pikir, bahwa seorang Byun Baekhyun..yang dulu selalu ia tindas, adalah seorang pimpinan gangster terbesar di korea.
Sungguh selama 4 tahun Chanyeol mengenal Baekhyun, ia sama sekali tidak melihat ciri-ciri anak seorang mafia pada diri Baekhyun. Chanyeol tersenyum kembali, mengingat masa-masa perkenalannya dulu dengan Baekhyun.
Saat itu, Chanyeol yang memang sejak kecil tinggal di Spanyol, sudah cukup mengenal teman-teman sekelasnya. Banyak juga teman SMP nya dulu yang juga bersekolah di SMA yang sama. Mungkin karena Chanyeol yang terlalu cuek hingga sebulan kemudian baru menyadari ada seseorang asing di kelasnya. Itu pun dia tahu karena teman-teman sekelasnya sering beramai-ramai menindas siswa tersebut.
Percayalah, Chanyeol bukan lah orang yang baik yang mau repot-repot menolong orang lain. Dibanding menolong orang, Chanyeol justru lebih senang mencelakakan orang. Namun...disaat ia sedang lewat di dekat kantin dan telinga lebarnya tidak sengaja mendengar pembicaraan kelima seniornya, ia memutuskan untuk berhenti sejenak. Dengan jelas ia mendengar, kelima pria itu berencana melecehkan seorang pria Asia kutubuku. Chanyeol tahu persis siapa yang mereka maksud. Salah satu pria itu mengatakan bahwa si pria culun itu anak yatim piatu, sehingga mereka tidak perlu takut untuk dilaporkan. Dan..entah karena persamaan suku, atau persamaan nasib menjadi anak yatim, atau karena alasan lain. Chanyeol melangkahkan kakinya menuju gudang tempat kelima pria tadi menyekap bocah itu.
Chanyeol sempat bernafas lega, melihat ia belum terlambat. Lalu, dengan wajah angkuhnya ia masuk ke dalam. Tentunya ia tidak takut, semua penghuni sekolah pasti sudah mengetahui namanya. Dan ia pun menyeringai melihat 5 seniornya berjalan mundur. Ia melirik ke bawah, melihat kondisi Baekhyun yang menunduk lemah. Sekali lagi..tanpa alasan yang jelas..Chanyeol mengucapkan dengan lantang tentang kepemilikannya akan diri Baekhyun.
Baik semua penghuni sekolah..maupun Baekhyun sendiri mengira Chanyeol seorang yang benar-benar kejam yang selalu menindas orang yang lemah. Mereka benar Chanyeol memang kejam. Tapi tahukah mereka..tahukah Baekhyun..
Chanyeol melakukan semua ini demi kebaikan Baekhyun. Agar tak ada satupun orang lagi yang berani mengganggunya..menyentuhnya.. Sayangnya Baekhyun terlalu emosi untuk melihat semua itu. Ia terlalu kesal dengan tingkah semena-mena Chanyeol terhadapnya. Oke Chanyeol akui ketika dia menyuruh Baekhyun mengerjakan tugas karena ia malas. Namun..lihatlah yang lain. Chanyeol meminta Baekhyun membawakannya makanan...agar Baekhyun tak makan sendirian lagi di kelas. Chanyeol meminta Baekhyun selalu berada di dekatnya...agar Baekhyun selalu dalam jangkauannya, lindungannya...
Lalu, ketika tiba saatnya mereka lulus SMA, Chanyeol berniat menemui Baekhyun karena tak lama lagi ia akan melanjutkan kuliah di luar negeri. Namun, Baekhyun hilang tanpa jejak. Tak satupun orang yang mengetahui kemana perginya. Chanyeol tidak ambil pusing, dia hanya berharap Baekhyun bisa menjadi orang yang tegar di suatu tempat.
Hari itu harusnya hari pertama Chanyeol masuk kuliah. Namun, karena kelelahan menikmati liburnya, ia jatuh sakit. Chanyeol tidak mengkhawatirkan absensi kuliahnya, karena ayahnya merupakan penguasa yayasan yang menaungi kampusnya.
Hingga seminggu kemudian, Chanyeol memutuskan untuk berangkat kuliah. Melalui informasi dari bawahan ayahnya, Chanyeol segera menuju ruang kuliahnya. Ia tidak terkejut lagi mendapati wanita-wanita di kelasnya memandanginya dengan tatapan takjub. Ia teruskan langkahnya, sampai...seseorang yang dikenalinya terlihat sedang memandanginya juga. Chanyeol menyeringai namun jujur ia merasa senang melihat teman SMAnya dulu, Byun Baekhyun juga kuliah disini.
Penampilan Baekhyun tidak seperti kutu buku lagi, tapi cara berpakainannya tetap sederhana. Melihat Baekhyun sepertinya sudah berkembang dan memiliki banyak teman membuat Chanyeol hanya diam mengawasinya.
Hingga sebulan lebih, Chanyeol masih diam tidak melakukan apa-apa. Tapi..satu yang ia dapat selama pengawasannya sebulan ini. Teman-teman Baekhyun..hanya memanfaatkan kepintarannya, namun dibelakang Baekhyun mereka menghina dan menjadikan Baekhyun bahan tertawaan. Ini tentunya membuat Chanyeol jengkel. Maka ia pun melakukan sesuatu untuk Baekhyun. Yang sayangnya, entah karena otak Chanyeol yang kecil atau apa, cara yang ia pilih justru mempermalukan Baekhyun. Menurut Chanyeol hanya dengan cara itulah, teman-temannya akan menjauhinya.
Namun Chanyeol salah besar. Meskipun banyak yang menjauhi Baekhyun, namun beberapa temannya masih memilih untuk berpura-pura simpati pada Baekhyun. Tentu saja mereka hanya ingin memanfaatkannya. Dan seperti terulang, Chanyeol tidak sengaja mendengar pembicaraan teman-teman Baekhyun. Mereka berencana mengajak baekhyun menginap di apartemen salah satu dari mereka dengan dalih untuk belajar bersama. Rahang Chanyeol mengeras ketika mereka mengatakan akan memberi obat perangsang pada Baekhyun, merekamnya ketika sedang memuaskan mereka satu per satu lalu menyebarnya di lingkungan kampus. Maka..tanpa pikir panjang lagi Chanyeol menggebrak pintu kelas dan langsung menerjang kelima teman Baekhyun. Ia menghajar dan menendang mereka satu persatu seperti orang kesetanan. Chanyeol mungkin akan menghajar mereka sampai mati jika satpam tidak datang waktu itu.
Chanyeol tidak jadi pergi ke parkiran ketika melihat Baekhyun masuk ke kelasnya. Masih dengan emosi yang tinggi ia berlari kembali ke kelas. Dan betapa emosinya dia melihat Baekhyun justru tampak mengkhawatirkan teman-temannya. Sekali lagi...dengan lantang ia menyuarakan ancamannya. Tanpa Baekhyun tahu..agar tidak ada lagi yang masih berani memanfaatkan Baekhyun.
Chanyeol tidak menyangka, Baekhyun menantangnya untuk berkelahi. Sesungguhnya tidak sedikitpun Chanyeol ingin menerimanya, namun melihat tekad yang kuat dari Baekhyun, ia pun meladeni pria mungil itu. Chanyeol pikir, Baekhyun pun harus bisa menjadi lelaki kuat untuk melindungi dirinya sendiri. Dan dengan pikiran itu, Chanyeol mengerahkan sekuat tenaganya untuk meladeni Baekhyun. Lagi-lagi dengan alasan..agar Baekhyun nanti mampu melindungi dirinya sendiri ketika Chanyeol tidak ada.
Tentu saja perkelahian saat itu dimenangkan oleh Chanyeol. Didekatinya Baekhyun yang telah menutup mata tergeletak di atas lantai. Chanyeol mungkin sudah sering melihat darah di depan matanya, namun kali ini...ia mengerutkan dahi melihat darah mengalir di dahi Baekhyun. Tangannya terulur menyeka darah itu pelan-pelan, seolah itu akan menyakiti Baekhyun. Seperti yang ia duga Baekhyun pun menepis tangannya ketika ia membuka mata. Melihat Baekhyun masih baik-baik saja, Chanyeol pun beranjak pergi. Baru beberapa langkah ia berjalan, suara lantang di belakangnya menghentikan sejenak. Dan Chanyeol pun tak tahu..mengapa saat itu ia tersenyum.
Keesokan harinya Chanyeol menunggu kedatangan Baekhyun. Ia bertekad untuk berdamai dengan pria itu dan mengajarinya teknik pertahanan diri. Bahkan, Chanyeol juga berpikir untuk merekrut Baekhyun menjadi anggota mafianya saat itu. Namun..seperti deja'vu. Semua niat Chanyeol tadi hanya tinggal ucapan belaka. Baekhyun tidak datang. Tidak pernah datang. Tanpa tahu apa yang dirasakan Chanyeol..
.
.
2 minggu sudah Chanyeol tinggal di Korea. Hari ini adalah pesta penyambutan kedatangan pria itu sekaligus untuk menjalin hubungan yang baik dengan beberapa gangster ternama di Korea. Salah satunya, yang dipimpin oleh Baekhyun. Memikirkan Baekhyun akan datang, entah kenapa membuat dirinya bersemangat.
"Tuan..waktunya anda turun ke bawah" ucap paman Leeteuk sambil menunduk.
Tanpa menjawab, Chanyeol pun keluar ruangan dan tersenyum melihat Kyungsoo sudah menunggunya di depan pintu. Ia genggam tangan Kyungsoo, mengecupnya sebentar, lalu bersama-sama turun ke bawah untuk menyambut tamu-tamunya.
Pesta sudah berjalan satu setengah jam, dan saat ini Chanyeol masih berbincang bersama pimpinan Lee, salah satu kelompok yang bergerak di bidang tempat hiburan kelas eksekutif. Chanyeol turut membawa Kyungsoo di genggamannya, menunjukkan pada seluruh undangan bahwa ia lah kekasihnya. Chanyeol baru saja menyapa pimpinan Kim, ketika ada seseorang yang menginterupsinya.
"Pesta yang indah tuan Park" Chanyeol tersenyum miring mendengar suara yang telah ditunggunya sejak tadi. Ia menoleh perlahan. Menampilkan wajah angkuhnya.
"Terima kasih sudah berkenan hadir Tuan Byun. Oh..perkenalkan ini kekasihku. Do Kyungsoo" Kyungsoo menatap datar Baekhyun kemudian menatap tajam orang di belakang Baekhyun.
"Ah..kekasihmu sangat manis tuan Park. Kyungsoo-ssi, anda juga beruntung, bisa mendapatkan kekasih yang begitu memuaskan seperti Tuan Park. Kau tahu..bahkan bekasnya masih belum hilang." Baekhyun membuka sedikit kancing kemejanya dan menunjukkan tanda-tanda merah keunguan di lehernya.
Baik Jongdae maupun Sehun hanya menatap datar melihat tingkah Baekhyun. Orang-orang sekitar mereka mulai berbisik mendengar percakapan ambigu antara dua pimpinan mafia yang paling bergengsi saat ini.
"Tapi..kekasihmu ini suka sekali bermain kasar. Aku sampai tidak bisa bangun sampai keesokan harinya" Baekhyun mati-matian menahan tawa. Ia berniat untuk sedikit mempermalukan pria angkuh di depannya ini. Wajah Kyungsoo memerah dan mendongak menoleh ke arah Chanyeol. Chanyeol sendiri hanya memasang wajah tak berekspresi sejak tadi.
"Aku ke belakang dulu Yeol" Kyungsoo pun pergi. Chanyeol tak mengejarnya. Ia tahu Kyungsoo marah dan Chanyeol sudah hafal, Kyungsoo butuh waktu sendiri jika sedang marah. Baekhyun tersenyum puas melihat Kyungsoo marah dan meninggalkan Chanyeol.
Chanyeol mulai mengeluarkan seringai andalannya. Bukan Chanyeol namanya, bila ia kalah adu kata-kata dengan si mungil ini. Tanpa takut seidkitpun, ia membawa dirinya maju selangkah mendekati Baekhyun.
"Oh..kau ketagihan akan sentuhanku kemarin? Kau serius memintaku menjadi partner sex-mu?" Dengan suara sekeras-kerasnya ia mengucapkan kalimat laknat itu. Benar-benar keras hingga semua mata tertuju pada mereka. Baekhyun membeku dan wajahnya memucat seketika. Dan ia baru percaya dengan istilah senjata makan tuannya.
Melihat Baekhyun sudah kalah telak, Chanyeol semakin berani mendekatinya. Ditariknya pinggang Baekhyun hingga dada mereka saling bersentuhan. Chanyeol memiringkan kepalanya, membuat seluruh tamu undangan menahan nafas.
"Turuti permintaanku, kupastikan namamu bersih kembali.." bisik Chanyeol di depan bibir Baekhyun yang hanyak berjarak centi di depannya.
Baekhyun tidak gentar. "Tidak akan! Aku akan menghabisi-"
"-jangan lupa kau berada di daerahku Byun. Dan bukan hal yang sulit membuat pimpinan yang lain bergabung bersamaku." Chanyeol berbisik dengan posisinya yang semakin rendah. Baekhyun tak bergeming. Anak ini menjadi sangat keras kepala sekarang-pikir Chanyeol.
"Bagaimana? Kau lihat? Banyak orang-orang penting disini. Kau mau namamu tercoreng begitu saja dan tidak ada yang mau bekerja sama denganmu?" Baekhyun masih diam. Membuat Chanyeol mulai jengkel. Entah apa yang ada di kepala mungilnya itu.
"Baiklah, kalau kau mementingkan egomu... Ehem! Perhatian-" Chanyeol merasa puas ketika tangan pria yang sedang di dekapnya ini menutup mulutnya. Dengan sebelah tangannya, ia genggam tangan Baekhyun dan mengecup jemarinya. Baekhyun mengeryit jijik dan menarik kasar tangannya yang dikecup.
"Cepat katakan apa maumu! Aku muak berlama-lama berada di dekatmu"
"Ssstt...kau tahu kan..Hasratku selalu memuncak bila mendengarmu berkata kasar.." Baekhyun hanya memutar matanya malas. Percuma meladeni pria di depannya ini. Chanyeol tersenyum tipis dan membawa bibirnya mendekati telinga Baekhyun. Membisikkan sesuatu...
.
.
"Kau tidak berubah..kakak" Pria yang dipanggil kakak, tersenyum miring mengetahui siapa yang tengah berbicara dengannya saat ini. Ia tetap duduk di pinggir kolam, tanpa mengindahkan pria yang sedang berdiri di sampingnya.
"Adikku juga tidak berubah...masih betah menjadi peliharaan seseorang" Pria yang berdiri itu tertegun sejenak. Namun ia tertawa remeh setelahnya.
"Yah..setidaknya aku mengabdikan nyawaku bukan menawarkan tubuhku" Si adik merasa puas karena perkataannya menohok hati sang kakak. Terlihat dari tangan si kakak yang sudah menegang.
"Jangan merasa paling suci...Kita ini sama"
"Aku rasa tidak. Aku tidak mengikuti langkahmu yang membohongi dan memanfaatkan seseorang" Lagi-lagi perkataan si adik tepat menusuk jantung si kakak.
Suasana pun hening sesaat.
"Sepertinya majikanmu kali ini mengurusmu dengan sangat baik. Haruskah aku memberikan tanda terima kasih kepadanya?" Kali ini si kakak merasa puas melihat pria di sampingnya menegang.
"Berani menyentuhnya meski hanya satu helai rambutnya...kau akan berurusan denganku" Suaranya penuh ancaman kini. Tak mau berlama-lama berbincang bersama kakak yang sangat dibencinya, ia pun beranjak pergi. Ia berhenti sejenak ketika mendengar pria di belakangnya berbicara kembali.
"Sepertinya..kau telah melupakan ajaran ayah..." Si kakak mulai bangkit berdiri mendekati adiknya. Dan berbisik...
"Jangan biarkan musuhmu..mengetahui kelemahanmu..."
.
.
.
Jongdae yang berada 2 meter di belakang Baekhyun hanya bisa diam mengawasi pemimpinnya. Mereka memang tidak bisa berbuat apa-apa karena saat ini posisi mereka tidak menguntungkan. Hanya bertiga dengan Sehun, serta satu mobil yang berisi 4 bodyguard, tentu tidak mampu mengalahkan Chanyeol di kandangnya. Jongdae tidak tahu, apa yang dibicarakan oleh kedua pimpinan tersebut. Yang jelas, ia lihat tuan Byun-nya membulatkan mata lebar setelah Chanyeol membisikkan sesuatu. Jongdae sedikit was-was melihat Baekhyun berjalan kearahnya dengan wajah memerah dan terus mengumpat.
"Sial! Ayo kita kembali Jongdae! Harusnya aku tak- dimana Oh Sehun?!" Baekhyun baru menyadari Sehun tidak ada bersama Jongdae.
"S-saya akan mencarinya tuan Byun."
"Cepatlah!" Jongdae pun segera melesat mencari Sehun. Baekhyun yang memang sudah kesal semakin kesal mengetahui Sehun tidak di tempatnya. Ia terus-terusan mengumpati Sehun yang membuatnya tidak bisa langsung segera pergi dari tempat ini.
Baekhyun baru saja ingin ikut mencari Sehun, setelah dilihatnya Jongdae berjalan ke arahnya membawa Sehun.
"Silahkan memarahiku sekarang bila kau masih ingin berlam-lama disini atau memarahiku nanti dan kita bisa langsung pulang" Sehun buru-buru berbicara melihat Baekhyun sudah membuka mulutnya. Baekhyun pun diam dan berjalan terlebih dahulu. Meskipun emosi masih membakar dirinya, ia tetap menjaga tata krama dan menyapa beberapa kelompok yang ia lewati sampai menuju mobilnya.
Sampai di parkiran, Baekhyun keheranan karena Sehun mencegahnya masuk ke dalam mobil. Sehun masuk terlebih dulu, dan mengecek semua bagian yang ada di dalam mobil.
"Untuk jaga-jaga" katanya. Lalu ia membuka pintu untuk Baekhyun setelah dirasanya mobilnya dalam kondisi aman.
Di mobil itu terisi Jongdae, Sehun dan Baekhyun. Sedangkan bodyguard mereka berada tepat mengikuti di belakang mobil. Sejak dari rumah Chanyeol tadi, hanya suara radio yang terdengar di dalam mobil itu. Ketiganya hanya diam larut dalam pikiran masing-masing. Jongdae yang sedang memikirkan apa yang kira-kira terjadi, hingga Baekhyun dan Sehun sama sekali tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Sehun yang..seperti biasa tidak ada yang tahu apa yang ada di pikirannya saat ini. Yang pasti, itu bukan suatu berita bagus melihat banyaknya kerutan di dahinya.
Sedangkan Baekhyun...Ia sedang memikirkan langkah apa yang tepat untuk mengalahkan Chanyeol. Rasanya ia rela diculik malam ini jika mengingat kembali kata-kata yang dibisikkan Chanyeol di pesta tadi..
"Habiskan satu malam denganku...Besok"
.
.
.
Tebece
.
.
Hayy...semoga chapter yang ini ga mengecewakan kalian yaaah. Kira-kira siapa tuh yang lagi ena-ena? Siapa juga kakak adik itu? Hehehe
Terima kasih yang udah read, follow, fav, terutama sudah mau repot-repot memberikan review. Semoga semakin banyak yang berbaik hati mereview ceritaku.
Oiya, Terima kasih juga sama sunbaenim yang udah berkenan fav dan review ff ku.
See you on next chapter :)
