Title: Revenge
Genre: Romance, angst
Rating: M
Cast: Yunjae
Author: Park Hyerin
Disclaimer: If Yunjae were mine, they would already been married by now… -_-
Warning: YAOI, typos, abuse and adult content in the later chapter
A/N: Ini chapter agak pendek, ga apa-apa deh ya, begini adanya hehe
Chekidot~
Chapter 1
Waktu berlalu tanpa bisa dicegah. Tanpa ada yang menyadari sebulan telah terlewatkan semenjak hari di mana Yunho untuk pertama kalinya bekerja sebagai seorang bodyguard bagi keluarga Kim.
30 hari sudah dilaluinya menjadi bayang-bayang pelindung bagi Jaejoong, putra sulung keluarga Kim, majikan sekaligus anak dari pembunuh kedua orang tuanya. Harus diakui, sifat Kim Jaejoong benar-benar berhasil mengagetkannya. Awalnya Yunho berpikir bahwa dia pastilah seorang anak yang egois, sombong, dan selalu mau menang sendiri, seperti kebanyakan anak orang kaya pada umumnya.
Tapi ternyata tidak satu pun dari sifat-sifat itu ada di dalam dirinya, bahkan mendekati pun tidak. Kim Jaejoong yang ada di hadapannya kini adalah seorang yang baik, lembut, ramah, bahkan terkesan polos. Bayangkan saja, dia bahkan sudah mengajak Yunho berteman dengannya di hari pertama mereka bertemu.
-Flashback-
"Yunho, Jung Yunho imnida." Selama sesaat, Jaejoong tidak mengatakan apa pun, hanya memandangi Yunho dengan tatapan menilai.
"Er, kau tahu, wajahmu itu sangat tampan lho. Kenapa kau mau menjadi bodyguard-ku? Itukan pekerjaan membosankan, berbahaya lagi. Kenapa kau tidak mencoba menjadi aktor atau penyanyi saja, aku yakin dengan tampangmu itu kau pasti akan diterima dengan mudah." katanya kemudian. Yunho memandangnya tidak percaya sebelum kemudian sebuah senyum terpatri di bibirnya. Tak disangka, putra keluarga Kim sepolos ini.
"Terima kasih pujiannya tuan muda." ucap Yunho seraya membungkuk sekilas kepada Jaejoong yang segera berubah cemberut menerima perlakuan tersebut.
"Jangan panggil aku tuan. Kau seumuran denganku kan? Kalu kau memanggilku tuan aku jadi merasa tua. Panggil aku Jae saja, oke."
"Tapi Tuan..." Yunho mencoba protes, tapi Jaejoong sudah keburu memotong ucapannya.
"Sudah kubilang jangan panggil aku Tuan! Ini perintah! Panggil aku Jae, arasso?" katanya tegas.
Sadar kalau pemuda di hadapannya itu tidak akan mengubah pikirannya, akhirnya Yunho memutuskan untuk mengalah. Ia menghela nafas kecil sebelum kemudian mengangguk.
"Baik Tu...ah maksudku Jae." katanya yang sukses membuat Jaejoong tersenyum senang.
"Oke, Yun. Hey, mulai sekarang kau jadi temanku ya? Aku tidak punya banyak teman karena appa melarangku. Tapi sekarang ada kau yang bisa menemaniku setiap hari. Kau mau ya..."
Kedua bola mata hitam Jaejoong memandang Yunho dengan tatapan memelas. Pemuda yang dimaksud melongo kaget selama beberapa detik, namun ia dengan segera mengumpulkan kembali kontrol dirinya dan mengangguk.
"Baiklah." jawabnya singkat.
Yunho kembali harus merasa kaget ketika tiba-tiba saja Jaejoong memeluknya. Pelukan itu tidak berlangsung lama sebab pemuda cantik tadi langsung melepas rangkulannya begitu menyadari tindakannya.
"Maaf" bisiknya, semburat tipis merah muda merekah di pipi pucatnya. Yunho tersenyum puas. Sepertinya rencananya akan berjalan jauh lebih mudah dari semula dibayangkannya.
-End of Flashback-
"Yun, ayo cepat!"
Jaejoong berteriak dari tempatnya beberapa meter di depan Yunho yang tengah memandang bingung ke sekelilingnya. Bandara. Untuk apa Jaejoong menariknya ke tempat ini Penasaran, ia pun mempercepat langkahnya.
"Jae, sebenarnya untuk apa kita di sini?" tanyanya, begitu ia telah berhasil menyamai posisi Jaejoong. Jaejoong mengedipkan matanya beberapa kali kepada Yunho.
"Eh, aku belum memberitahumu ya?" tanyanya, Yunho mengangguk sebagai respon.
"Oh hehhe, mian, aku lupa. Hari ini Junsu kembali! Aku sudah pernah cerita kan tentang adikku yang kuliah di Jepang, nah karena kuliahnya sudah selesai jadi hari ini dia kembali ke Seoul. Dan katanya kekasihnya juga ikut. Ah, sudahlah ayo cepat, mereka akan keluar sebentar lagi." Jaejoong kembali menarik Yunho menuju pintu kedatangan Internasional.
Mereka menunggu selama beberapa menit sampai akhirnya tampak dua orang pria berjalan ke arah mereka. Yunho memandang mereka kaget. Pria yang lebih kecil segera berlari dan memeluk Jae begitu ia melihatnya.
Tapi bukan itu yang membuat Yunho tercengang, melainkan pria satunya yang mengikuti di belakang pria imut tadi. Kekagetan di wajah Yunhop segera berubah menjadi senyum kemenangan begitu ia melihat pria tadi menyeringai seraya mengedipkan sebelah mata ke arahnya.
Yoochun. Adik sekaligus satu-satunya keluarga yang masih ia miliki kini telah berdiri di hadapannya. Yunho tertawa kecil. Jadi ini ternyata alasannya meminta untuk berkuliah di Jepang. Ia tidak akan pernah bisa menebak isi pikiran adik angkatnya itu. Yunho dan Yoochun saling bertukar pandangan penuh arti. Kakak beradik itu punya banyak sekali hal yang harus mereka bicarakan setelah ini.
Yunho mengalihkan pandangannya dari Yoochun saat ia merasakan seseorang menyikut legannya pelan. Ia menoleh dan mendapati Jaejoong sedang menatapnya kesal dengan pout terbentuk di bibir kecilnya.
"Kau tidak mendengarkanku kan?" tanyanya kepada bodyguard-nya itu. Yunho hanya memegangi belakang kepalanya gugup.
"Maaf, Jae, aku hanya sedang teringat sesuatu Tadi kau bilang apa?"
"Aish, aku bilang, kenalkan ini Junsu, adik laki-lakiku" katanya seraya menunjuk ke arah pria imut di sebelahnya. Junsu tersenyum dan mangulurkan tangannya ke arah yunho.
"Hai, Kim Junsu imnida. Dan yang disebelahku ini Park Yoochun, my boyfriend" ucapnya ramah. Yunho membalas uluran tangan Junsu dan Yoochun bergantian.
"Jung Yunho imnida. Senang bertemu dengan kalian" jawabnya sopan. Yoochun tertawa kecil mendengarnya.
"Senang bertemu denganmu juga hyung. Kau lebih tua darikukan? Jadi aku akan memanggilmu hyung" katanya tenang. Yunho tersenyum manis kepadanya.
"Ya, panggil saja aku hyung" Mereka diam untuk sesaat sampai Jaejoong memecah keheningan itu.
"Baiklah, ayo kita pulang sekarang, aku lapar. Junsu sini biar kubawakan barangmu."
Jaejoong berjalan mendekati koper-koper milik Junsu dan mencoba mengangkatnya, tapi setiap kali ia mencoba koper-koper itu pasti akan selalu kembali jatuhke lantai, bahkan kadang jatuh menimpa kakinya. Yunho tertawa melihat tingkahnya. Perlahan ia berjalan mendekati Jaejoongdan mengangkat seluruh koper-koper itu dengan mudahnya. Jaejoong kembali menatapnya cemberut.
"Aku bisa, Yun!" rengeknya, tapi Yunho hanya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.
"Kalau kami harus menunggumu untuk membawa koper-koper ini, bisa-bisa kitatidak pulang sampai tengah malam. Sudah kubilang berat badanmu harus ditambah Jae, kau kurus sekali, sampai mengangkat barang seperti ini pun kau tak bisa."
Jaejoong semakin cemberut mendengarnya, ia ingin membalas ucapan yunho, tapi baru saja ia ingin mengucapkan sesuatu Yunho sudah berjalan meninggalkannya.
"Yah! JUNG YUNHO! Mau kemana kau!" teriaknya kemudian ia berlari mengejar Yunho. Tawa Yunho semakin kuat saat ia mendengar Jaejoong berteriak. Harus ia akui, entah mengapa ia senang menghabiskan waktunya bersama dengan Jaejoong.
Belakangan ini ia bahkan mulai ragu untuk melanjutkan rencananya setiap kali ia melihat senyum di wajah Jaejoong. Apa dia akan sanggup melihat senyum itu terhapus dari wajahnya? Apa dia akan sanggup melihat jiwa polos itu hancur? Yang terpenting apa dirinya sendiri akan sanggup melihat pria itu menangis? Tapi setiap kali pikiran itu datang, ia selalu berusaha meyakinkan dirinya kembali. Sudah tidak ada jalan untuk kembali sekarang.
Yoochun dan Junsu mengikuti kedua hyung nya itu dari belakang. Junsu mendekatkan dirinya kepada kekasihnya itu.
"Mereka sangat serasi ya", katanya. Yoochun menatap Junsu bingung.
"Maksudmu?"
"Iya, mereka berdua sangat cocok", ulangnya. Yoochun tampaknya masih belum menangkap maksud ucapan junsu.
"Jaejoong dan Yunho hyung?", tanyanya lagi. Junsu menatapnya kesal.
"Iya duh. Tadi aku sempat bertanya tentang Yunho pada hyung-ku. Wajahnya langsung memerah saat ia membicarakan Yunho hyung. Aku yakin dia pasti menyukai Yunho hyung. Apa menurutmu Yunho hyung juga menyukainya?"
Yoochun menatap ke arah hyung-nya yang sedang asyik tertawa bersama Jaejoong. Dia tidak pernah melihat hyung-nya tertawa selepas itu semenjak kematian kedua orang tua mereka. Dia mendengus pelan.
"Ya, aku rasa Yunho hyung juga menyukainya." jawabnya pelan.
Sepertinya hyung-nya sendiri pun sudah terjatuh kepada pesona anak dari keluarga Kim, sama seperti dirinya. Ia sendiri heran bagaimana bisa anak dari musuh besar keluarga mereka bisa memberi efek yang sangat besar pada diri mereka. Tapi rencana tetaplah rencana. Mereka harus tetap bergerak maju demi orang tua mereka.
Yoochun berhenti berjalan dan perlahan memutar badannya hingga ia berhadapan dengan Junsu. Junsu balas menatapnya bingung.
"Ada ap.." sebelum Junsu sempat menyelesaikan ucapannya bibir Yoochun sudah membuat kontak dengan bibirnya.
Ciuman itu lembut, hanya berisikan cinta di dalamnya. Junsu perlahan menutup matanya dan mulai membalas permainan bibir Yoochun. Tak berapa lama Yoochun melepaskan ciuman itu. Dia tersenyum manis kepada pria di hadapannya sebelum kemudian menarik tangannya.
"Kkaja!" katanya.
Mereka berlari menyusul Yunho dan Jaejoong yang telah jauh di depan. Junsu terus tersenyum, sedangkan Yoochun hanya berusaha sebisa mungkin menahan perjolakan emosinya agar tidak terlihat di dalam matanya.
"Maafkan aku, Su…" lirihnya pelan
xoxox
-Kim's Mansion-
Yunho menatap lurus ke arah langit malam dari balkon kamarnya. Ia larut ke dalam pikirannya hingga ia mendengar seseorang memasuki tempat itu. Ia tersenyum mengetahui orang itu.
"Jadi, apa sebenarnya rencanamu, Yoochun?" tanyanya tanpa menolehkan pandangannya. Yoochun mengambil tempat di sebelahnya dan mengikutinya menatap ke arah langit.
"Sama seperti rencanamu hyung. Hanya saja sepertinya rencanaku berjalan lebih bagus daripada rencanamu." jawab Yoochun, membuat Yunho menaikkan alisnya sebelah.
"Benarkah? Hah, sudah sejauh mana rencanamu berjalan?"
"Hampir menuju sukses hyung. Junsu sudah berjanji akan memberikan sahamnya kepadaku." Ucap Yoochun, ada sedikit rasa bangga dan sedih bermain-main di nada suaranya. Yunho mengalihkan pandangannya ke arah adiknya itu.
"Kau tidak perlu ikut-ikutan dalam rencana ini, Chun. Aku tidak ingin mereka ikut memandangmu jelek setelah rencana ini berhasil" kata Yunho seraya tersenyum bagaimanapun Yoochun adalah adik kecilnya, dan ia tidak ingin adiknya itu melakukan sesuatu yang akan disesalinya kelak. Tapi Yoochun malah menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak peduli dengan pendapat mereka, hyung. Lagipula keluarga ini memang perlu mendapat balasan."
"Lalu bagaimana dengan Junsu? Kau menyukainya bukan?" tekan Yunho lagi. Ia menyadari perlakuan yang diberikan adiknya kepada putra bungsu keluarga Kim itu lebih daripada sebuah akting belaka.
Yoochun tidak menjawab. Ia mengalihkan pandangannya dan menerawang lurus ke arah langit.
"Biar bagaimanapun keluarga yang terpenting hyung. Aku tidak bisa memaafkan Kim Jong Won atas apa yang dilakukannya kepada umma dan appa." Bisikknya pelan. Yunho menganggukkan kepalanya pelan.
"Kau sendiri hyung? Aku bisa lihat kalau Kim Jaejoong itu menyukaimu, dan aku yakin kau juga menyukainya. Apa kau masih tetap ingin melanjutkan hal ini?"
Yunho menghela nafasnya pelan.
"Tidak ada jalan untuk kembali Yoochun. Tidak ada lagi jalan untuk kembali."
-TBC-
Ayoo, yang kangen sama saya ngaku *disorakin reader* XD
Yang kangen jangan lupa review, yang ga kangen juga review
Yang penasaran review, yang ga penasaran juga review
Yang puas review, yang ga puas juga review
Intinya REVIEW~
Yang nunggu lanjutan ceritaku yang lain sabar ya, satu-satu di updatenya hehe^^
Love ya~
