Diterjemahkan dari 'This Night Is Sparkling (Don't You Let It Go)'
(story/view/884850)
Karya Tapestry (profile/view/799847)
Copyright © Tapestry, 2014
-tambahkan asianfanficsdotcom/ di depannya-
PETERPAN
"Kris membantu Baekhyun untuk menemukan jalannya pulang. Baekhyun membantu Kris menemukan jalan ke hatinya."
Chapter 1 part 2
-x-x-x-
Keesokan harinya, Kris bangun seperti biasa.
Dia sedang berjalan menuju kamar mandi—masih dalam keadaan mengantuk, ketika telinganya menangkap suatu bebunyian yang membuatnya menghentikan langkah. Belum pernah dia mendengar suara yang seperti itu sebelumnya; gemerincing lonceng yang di antaranya ada selipan bunyi denting-denting kecil yang datang silih berganti, terus menerus begitu dan oh, demi kau yang berada di surga sana, suara itu begitu indahnya hingga dia merasa jerohannya-pun ikut bernyanyi. Suara itu terdengar seperti melodi yang bisa bercerita dan bersyair, seperti cinta.
Kris jatuh cinta dengan suara itu.
Dia mengikuti suara itu sampai ke dapur kecil mereka, tapi matanya tak melihat ada apa-apa di sana. Dia jadi berpikir, jangan-jangan itu suara ringtone ponsel Chanyeol atau suara itu berasal dari luar flatnya. Dia berjalan mengitari dapur, mengejar suara itu sebelum akhirnya rangkaian nada itu selesai dan menghilang bersama angin. Kris ingin berteriak agar suara itu jangan pergi dulu atau tolong diulang atau ditambah durasinya, tapi dia tidak tahu ke siapa dan kemana dia harus mengatakan hal itu. Jadi, dengan perasaan kecewa dia melangkah keluar dari dapur dan memulai harinya.
-x-x-x-
Dia sedang menikmati sarapannya ketika Chanyeol—si ceking itu, tersaruk-saruk memasuki dapur.
"Tumben bangun pagi," Kris menaikkan alisnya satu, penasaran.
"Peri," Chanyeol menjawab, kemudian dia berjalan ke arah meja dan mengetuk-ngetuk kotak tisu yang berada di sana. Si peri melongokkan kepalanya keluar. "Apa kabarmu?"
Kris tidak akan mau mengakui bahwa dia 90% sudah lupa kalau mereka menemukan (atau tepatnya membuat cacat—terserahlah apa katamu) seorang peri. Hidupnya selama ini hanya terpusat pada laptop dan deadline proyek-proyeknya sehingga mudah baginya untuk mengesampingkan hal-hal lainnya—termasuk melupakan namanya sendiri.
Si peri keluar dari kotak tisu—tempatnya menghabiskan waktu semalam, dan sedang mencoba untuk terbang menggunakan sisa sayapnya yang tak lagi berguna.
Dia terlihat sedih.
Wajah peri itu kecil sekali, tapi Kris masih bisa melihat betapa sedihnya dia. Kris tidak butuh perasaan-perasaan seperti ini. Sungguh, dia tidak butuh. Dia tidak ingin melihat si laki-laki kecil-dan-bugil itu menunjukkan rona kesedihan macam ini. Peri itu seharusnya hanya menjadi bahan studi kasusnya DAN tidak seharusnya seorang peneliti terlibat secara emosional pada subjek penelitiannya. Apalagi sekarang Chanyeol jadi ikut-ikutan terlibat, Kris sudah tak mau berurusan lebih panjang lagi.
Segera setelah mencuci mangkuknya, dia pergi dari sana.
-x-x-x-
Kris sedang sibuk menulis artikel lepasnya ketika dia mendengar teriakan Chanyeol—yang bisa dikategorikan sebagai 'Chanyeol Yang Sedang Riang Gembira'—yang sebenarnya tidak perlu ditanggapi, dan melanjutkan kembali pekerjaannya.
"Krease!" Chanyeol berteriak-teriak. Dia sengaja tak mengacuhkannya. "Krease!" Tak diacuhkan. Dia berteriak lagi, "Krease!" Tak diacuhkan. "Krease! Kau harus melihat ini!"
Bel di pintu tiba-tiba berbunyi dan Kris—tahu saja, itu pasti tetangganya. Kalau dia tidak mau bangun sekarang, bisa-bisa polisi yang akan memencet bel selanjutnya.
Dia meregangkan tubuhnya yang kaku dan beranjak meninggalkan kamarnya—yang lebih mirip tempat pertapaan itu saking kurangnya sinar matahari disana, "Apa, Chanyeol?"
"Sebelah sini."
Pikirnya, apapun itu asal jangan sesuatu yang bodoh dan—WOW!
Kris mundur selangkah karena—WOW!
Cerebrum(1)nya masih sibuk memproses apa yang sedang terjadi di hadapannya—WOW!
WOW!
"Wow!"
"Ya kan!"
Chanyeol melayang. MELAYANG. Dengan semua gigi-gigi bodohnya yang terlihat saat dia tersenyum terlalu lebar.
Kris adalah tipe laki-laki yang lebih suka dengan fakta dan statistik—omong kosong.
Detik itu Kris menyadari bahwa dia telah berbohong pada dirinya sendiri dan, apapun, siapapun—semuanya! telah membohonginya selama ini. Fakta yang mengatakan bahwa manusia itu tidak bisa terbang dan peri itu tidak ada dan kebahagiaan itu tidak bisa dibeli—semuanya omong kosong!
Kris pikir dia adalah tipe laki-laki yang suka dengan fakta dan statistik, yang baru-percaya-kalau-sudah-melihat-buktinya-sendiri-dan-mungkin-masih-akan-tidak-percaya-karena-dia-tipe-yang-sulit-percaya. Sekarang dia melihat dengan mata kepalanya sendiri dan dia percaya akan hal itu.
Lagipula, Park Chanyeol itu teman satu flatnya.
Hari dimana mereka berdua berjabat tangan harusnya jadi semacam pertanda baginya kalau hidup seorang Kris sebagai manusia biasa, tidak akan pernah sama lagi. Menerima peri itu sebagai sesuatu yang nyata juga harusnya sudah jadi lampu merah untuknya. Mungkin sudah, tapi dia tak menyadarinya saja. Hah, dia jadi bertanya-tanya kenapa.
"Bagaimana bi—" Kris memotong ucapannya sendiri sementara Chanyol sedang tertawa-tawa dengan riangnya.
"Pasti gara-gara kau." Dia memutar kepalanya ke arah meja dimana sang peri sedang duduk di atas bungkusan roti dan tersenyum kepadanya. Dengan tangan kecilnya, dia mengisyaratkan Kris untuk maju dan dia menurutinya. Mata si peri yang berhiaskan sipat(2) memperhatikannya dengan seksama, menembusnya dalam seolah-olah dia sedang mencari-cari jiwanya. Si peri tiba-tiba mengalihkan perhatiannya ke tempat lain dan menghela nafas putus asa, secara tersirat seperti sedang mengumumkan kalau Kris is a lost cause—sudah tak bisa ditolong lagi.
Kris merasa dipermalukan.
Chanyeol telah cukup banyak menghabiskan waktunya dengan melayang-layang di udara saat Kris memutuskan kalau dia sudah cukup banyak melihat kebahagiaan dan kalau masih lagi, bisa-bisa dia sakit perut, "Chanyeol, Yura menelepon."
Dia tidak mengira Chanyeol akan langsung jatuh ke bawah begitu mendengar perkataannya, tapi Kris tidak akan meminta maaf karena hal itu.
-x-x-x-
Seminggu berlalu seperti air yang menyerap di pasir.
Si peri menjadi bagian dari kehidupan mereka dan Chanyeol bahkan membawanya diam-diam ke kelas. Itu sih yang Kris duga. Tak banyak yang berubah di hidup Kris tapi jelas banyak yang berubah di hidup Chanyeol.
Daripada pergi dengan kawan-kawan pemabuknya, dia jadi lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menonton film bersama si peri dan mengajarkannya berbicara—meskipun kerja kerasnya sia-sia karena suara yang bibir kecil merah muda itu bisa hasilkan masih hanya bunyi gemerincing dan dentingan lonceng saja.
Sekarang Kris juga sudah sering mendengarnya. Seringkali dia memergoki Chanyeol dan si peri sedang bercakap-cakap, seperti keduanya saling mengerti saja. Di minggu ini juga dia mengetahui kalau si peri suka menyanyi setiap pagi saat dipikirnya dia dan Chanyeol masih terlelap tidur.
Kris menikmati sekali suara itu. Dia selalu menunggu dalam diam sampai si peri menyelesaikan lagunya sebelum bergerak untuk memulai aktifitasnya.
-x-x-x-
Pada akhir minggu itu, sayap kedua si peri tanggal.
-x-x-x-
Pada akhir minggu itu pula, Kris menyadari bahwa dia telah bisa menerima bahwa ada sebuah perubahan kecil dalam kesehariannya.
-x-x-x-
Kris terbangun dari tidur, masih sepagi biasanya. Dia mengucek matanya sedikit. Lalu mengecek jam dan mengecek jadwalnya hari ini. Dia meninggalkan kamarnya dengan tenang dan mendudukkan dirinya di depan pintu kamar.
Dia menunggu dan menunggu untuk beberapa menit namun telinganya tak juga mendengar apapun yang telah menjadikannya sebagai pendengar rahasia seminggu belakangan ini. Dia malah mendengar suara lemari dapur dibuka dan ditutup lalu benda-benda sedang dipindahkan. Dia jadi merasa bingung untuk beberapa saat karena bagaimana bisa Chanyeol bangun pagi? Apa dia begadang untuk ujian atau sedang mengerjakan laporan tugas?
Kris melangkahkan kakinya ke dapur dan sebelum dia menyadarinya, dia sudah berteriak.
Lelaki bugil yang ada di dapur juga terkejut akan kemunculannya yang tiba-tiba, selembar roti yang semula berada di mulutnya jatuh saat dia menyamakan teriakannya dengan Kris. Kris menutup mulutnya dan begitu pula yang dilakukan oleh si-orang-asing itu.
Kris merasa geram.
Dengan langkah terhentak dia menuju kamar Chanyeol dan berencana untuk mendobrak pintunya saat dia menyadari akan bagaimana keadaan teman sekamarnya itu. Dia memilih untuk menggedor-gedor saja pintunya.
"Lima menit lagi!" jawab Chanyeol.
"Tidak! Keluar sekarang atau kupaksa keluar!"
"Aku membencimu!"
"Aku sudah tahu!" balas Kris. Dari sudut matanya dia bisa melihat si lelaki bugil itu keluar dari dapur—mungkin untuk mengecek keributan yang terjadi.
"Apa sih?" dengan terhuyung-huyung Chanyeol membuka pintunya. Dibalik bahu Kris, matanya menangkap ada seseorang yang asing dan bugil berdiri di pintu dapur sebelum dia mengalihkan matanya kembali kepada Kris dengan tatapan oh-aku-tahu-nya. Chanyeol menaikkan alisnya satu dengan sugestif "Krease? Habis 'bersenang-senang', ya, semalam?"
"Apa?" Alisnya mengerenyit bingung, "Kalau dia bukan temanmu…" Chanyeol tiba-tiba jadi ikut merasa bingung.
"Aku kira kau yang membawanya ke sini semalam."
"Aku tidak pergi kemana-mana," jawab Chanyeol, "Kau kan yang membuat peraturan untuk tidak membawa pulang siapa-siapa." Ya, memang dia, karena tembok mereka tipis dan kesepian itu tidak enak.
Alis Kris mengerenyit makin dalam. Dia berputar kembali ke arah dimana ada model-anggota-tubuh-disajikan-secara-utuh-dan-alamiah-tanpa-ditutupi-sehelai-benangpun, "Kau siapa, sih?"
"Aku Baekhyun!" pekiknya. Wajahnya terlihat terkejut, "Suaraku!" Dia meraba-raba lehernya tak percaya, "Aku Baekhyun," dan merapalkannya berulang-ulang bagai mantra, "Baekhyun Baekhyun Baekhyun Baekhyun Baekhyun"
"Kami sudah tahu!" Kris mengangkat tangannya agar dia mau diam.
"Kau bisa mengerti omonganku!" seru Baekhyun, wajahnya masih menunjukkan rona keterkejutan yang sama. "Apa wajahku juga berubah? Kau tidak bisa mengingat siapa aku?" Tangannya menepuk-nepuk pipinya sementara mulutnya terus-terusan mengoceh.
Mereka berdua bergerak mendekat dan memperhatikan orang asing itu secara seksama. Kris mencoba dengan sangat untuk menjaga matanya agar tidak memandangi putingnya atau bagian-bagian lain yang tidak layak untuk dipandang. Lalu keduanya menyadarinya dalam waktu yang bersamaan.
"Si peri!"
"Kau si peri!" seru Chanyeol, "Sihir memang benar-benar nyata! Tolong bilang padaku kalau Santa juga nyata!"
Seolah kepalanya baru ditepuk oleh sendal jepit, Baekhyun akhirnya menyadari sesuatu, "Kau 'kan mematahkan sayapku."
-x-x-x-
Kris tak habis-habisnya merasa terhibur melihat bagaimana Chanyeol menghindari Baekhyun seolah-olah dia itu mantan pacarnya—yang putus dengan cara paling buruk. Seperti tadinya mereka disatukan di jiwa dan hati mereka namun sekarang Baekhyun terpaksa harus dipisahkan darinya seperti usus buntu.
Kelakuan mereka sangat menggelikan dan Kris sampai terbahak-bahak.
Ada peri di rumah ini—meskipun sekarang wujudnya manusia dan Kris belum tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Semua itu terasa menggelikan bagi Kris sampai Baekhyun masuk ke kamarnya dengan santa dan berdiri di belakang tubuhnya sementara dia sedang bekerja dengan laptopnya. Kris tahu itu Baekhyun karena pintunya dibuka lalu ditutup secara normal. Kakinya yang telanjang menapak perlahan dan ada aroma keanggunan yang menguar dari tubuhnya; seperti campuran antara bau mint dan citrus lalu bunga-bungaan—lavender mungkin? Dia tak begitu yakin. Sudah bertahun-tahun yang lalu sejak terakhir kali dia melihat bunga sungguhan, apalagi mencium wanginya. Lelaki yang lebih kecil darinya itu berbau seperti alam.
Sosok Baekhyun yang nampak dari balik bahunya tiba-tiba terasa menyebalkan dan membuat Kris harus menghentikan pekerjaannya. Dia memutar kursinya, menyilangkan tangannya di depan dada dan juga kakinya.
Dalam sekejab dia merasa seolah kembali ke keadaannya di dapur tadi; mencoba dengan sangat untuk menghapus sosok lelaki bugil itu dari bola matanya dan semoga, sekalian dari otaknya juga—selamanya. Apalagi, dia malah mendengar suara ayahnya bergema di telinganya, sungguh dia benci sekali karena mengapa harus di saat yang tidak tepat. ("Kau bisa mengetahui tingkat kebijaksanaan seseorang dari ukuran 'anu'-nya!" Filsuf Yunani jaman dahulu pasti punya ukuran 'anu' yang luar biasa kalau begitu.)
"Ya?" tanya Kris—sedikit lebih kencang dari yang dibutuhkan.
"Tidak jadi," jawabnya. ("Laki-laki itu bukan laki-laki kalau 'anunya' tidak lebih besar dari ukuran sepatunya!" Ayah, tolong diamlah!)
Kris berjalan menuju lemarinya, dengan amat sangat berusaha untuk tidak melirik-lirik Baekhyun dari sudut matanya. ("'Anu' seseorang harus cukuplah kuat untuk bisa membolongi—" Ya Tuhan, tidak! Jangan yang itu!)
"Kau harus memakai baju," perintahnya dalam satu nafas sembari membolak-balik tumpukan pakaiannya. Dia tahu tak ada satupun bajunya yang akan pas di tubuh si peri, tidak juga dengan baju-baju yang sudah tak-muat-tapi-dia-tak-tega-membuangnya itu. Dia terus mencari sampai akhirnya menemukan satu-dua baju yang tak disukainya dan melemparkannya ke belakang, ke arah Baekhyun, "Pakai ini."
"Apa aku bisa keluar setelah memakainya? Aku harus mencari Chen."
"Ya, ya," jawab Kris tak peduli sambil menutup lemarinya sementara Baekhyun sedang mencoba memakai pakaiannya. Si peri membuatnya sedikit kesal karena; tolonglah, kau ini cuma pakai baju kenapa harus lama-lama?,-jangan-jangan dia sampai harus membantunya? tapi untunglah itu tak perlu. Si peri pasti sudah cukup mengerti hanya dengan memperhatikan Chanyeol saja. ("Satu hal tentang 'anu' yaitu—" Satu tamparan keras dalam batin diperintahkan dan diterimanya sendiri.)
Saat dia berbalik, Baekhyun sudah berdiri di depannya, dia tersenyum dengan sangat indahnya yang langsung menohok ke hati terdalam Kris, sepasang matanya berseri—terlihat polos seperti halnya anak-anak. Mata Kris lalu turun ke bawah, ke bibirnya yang tipis dan berwarna merah muda. Di suatu tempat, di belakang kepalanya, dia bisa mendengar suara lonceng-lonceng yang berdenting dan bergemerincing itu.
Hatinya sampai lupa berdetak satu kali.
"Besar sekali," ucap si lelaki mungil itu. Tangannya dikepalkan di pinggang, memegangi bajunya yang super besar dan sembari memegangi celananya yang kedodoran.
Kris menyerahkan padanya sebuah gesper, tapi kelihatannya Baekhyun tidak tahu benda apakah itu. Lalu dengan menelan salivanya banyak-banyak, Kris berlutut untuk memberitahu bagaimana cara menggunakannya. Dia berusaha untuk melupakan fakta kalau matanya benar-benar langsung, lurus menghadap—arrgh lupakan!, mungkin dia juga harus menggulung celana Baekhyun beberapa kali. Telapak kakinya bahkan tenggelam di antara celana itu dan membuatnya terlihat seperti kurcaci. Lalu Kris benar-benar melakukannya.
"Apakah kau pernah ke Neverland?" tanya Baekhyun secara tiba-tiba saat Kris beranjak bangun.
"Kemana?"
"Neverland? Apakah kau pernah ke Neverland?" ulangnya.
"Ada di Disneyland ya?" Kris mendudukan dirinya kembali ke kursi, tubuhnya bersandar dengan lega saat melihat jarak yang tercipta diantara mereka berdua.
"Bukan, 'Neverland' saja. Bintang ke dua dari kanan lalu lurus terus sampai pagi menjelang(3)." Baekhyun pasti sedang berusaha untuk memberitahunya dimana letak 'Neverland' itu karena tangannya bergerak-gerak menunjuk ke suatu tempat di atas sana. Kris jadi bertanya-tanya apakah dia sudah ketularan Chanyeol atau memang kebiasaannya begitu. Lalu apa maksud perkataaanya itu? Terdengar seperti omong kosong saja. Pasti cuma peri yang tahu.
"Kau terlihat familiar," ucap Baekhyun, tangannya mengelus-elus dagunya—berpikir. Matanya menatap langit-langit, "Dimana kita pernah bertemu ya?"
"Aku belum pernah bertemu dengan apapun yang bugil sebelumnya," jawab Kris, dia kembali menekuni laptopnya. Dia tahu kalau dia tak akan bisa menyelesaikan apa-apa dengan adanya Baekhyun disini tapi dia akan berpura-pura sibuk saja.
"Jangan-jangan kau kru-nya Jolly Roger, ya? Atau pernah jadi kru-nya?"
"Jol—apa?"
"Oh!" Baekhyun mengadu kepalan tangannya ke telapak tangan kecilnya yang lain—Kris tak bisa tak melihatnya melakukan itu dari sudut matanya.
"Aku tahu sekarang!" serunya.
bersambung...
(1) Cerebrum itu otak.
(2) Sipat/sipat mata itu semacem eyeliner. Karena di fanfik aslinya ditulis kohl bukan eyeliner, jadi aku tulis disini Baek pake sipat mata. Lagian di Neverland mana ada yang dagang eyeliner, mentok-mentok jadi pake kohl. Haha
(3) Di versi fanfik aslinya adalah Second star to the right, and then straight on 'till morning. Persis kayak di novel Peterpan karya J.M. Barrie—aslinya. Hanya Tuhan dan J.M. Barrie yang tau itu dimana. :p
t/n Harusnya aku update ini minggu kemarin, tapi ya gara-gara stuck di letaknya Neverland itu aku jadi males haha aku sampai diskusi sama authornya yang orang UK buat mengartikan bagian itu, dia juga ternyata nggak paham. Mungkin lulus D3 nanti, aku harus masuk SasIng biar ngerti :D
Makasih yang kemarin udah review :D
