Setelah meletakan busur, dengan langkah malas aku kembali ke tempat tidurku, jujur saja saat ini aku benar-benar lelah dan capek.

"Sakura no hana wa itsu hiraku ?"

"Suara ini...lagi-lagi...", batinku berkata.

"Jika aku bertemu lelaki itu lagi aku akan langsung memberikannya bogeman mentah ke wajahnya", ucap batinku lagi dengan kesal, lalu akupun membungkus tubuhku dengan bedcover dengan harapan tidak mendengar suara itu lagi. Tak selang beberapa lama, suara itu lama kelamaan menghilang.

"Akhirnya, suara itu lenyap...Fyuhh...", ucap batinku lega. Setelah itu akupun tidur dengan pulasnya..

.

.

.

❖❖❖Di Alam Mimpi❖❖❖

Tralala...trilili...lala...li...lili...ting...ting...

terdengar musik sirkus terdengar, menggema ke pelosok karnival, terlihat orang-orang yang sibuk bermain dengan permainan yang ada di stand permainan, makan di kedai, dan menonton pertunjukan sirkus. Terlihat gadis berambut merah jambu pekat dengan mata emerald yang berkilau, menoleh ke kiri dan kekanan mencari seseorang.

"Hmm...sepertinya aku pernah melihat anak itu...tapi dimana ya?.", gumamku sambil melihat-lihat karnival.

Anak itu mengambil selebaran pamflet sirkus dan mendadak tersenyum girang melihat sepasang orang tua, gadis itu berlari menuju wanita berambut soft pink dan lelaki berambut merah itu menggendongnya, terlihat anak laki-laki berwajah baby-face yang berambut merah di sebelah ibunya. Gadis itu memberikan pamflet itu ke ayahnya.

"Hmm...Sakura-Chan mau nonton sirkus yah?", jawab laki-laki itu. Gadis itu pun mengangguk riang.

"Sa...Sakura...tunggu dulu, dipikir-pikir...itu kan...Tou-san?, Mataku terbelalak melihatnya.


HANAFUDA

Genre : Supranatural/Suspense/Romance

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rate : T

Warning GaJe Inside...Don't like? Don't read

Hope you like it!

Chapter 2

.


"Be...berarti gadis kecil itu aku, sedangkan itu Saso-Nii dan Kaa-san.", gumamku yang masih shock melihat penampakan tadi.

"Kalau itu aku...lalu ini..."

Aku pun memberanikan diri melihat diriku sendiri, aku melihat tanganku transparan menembus jalanan. Mataku terbelalak dan panik. Di tengah kepanikan aku melihat lelaki berkimono putih dengan pedang yang tersangkut di obi ungunya dan...dan...

"Lelaki itu tampan sekaliiii !", batinku berteriak *gubraaaks*, wajahku mendadak blushing melihat penampakan lelaki berkulit pucat dengan mata onyx yang menawan. Emerald telah menangkap sosok onyx tsb.

"Sadar bahwa ini adalah mimpi memang susah yah.", kata lelaki itu dengan tenang. Mendadak seketika suasana karnival itu lenyap perlahan-lahan, dan kini tersisa hanyalah aku dan lelaki pucat dengan style rambut yang err...seperti buntut ayam di tengah kegelapan yang pekat.

"Dia bilang ini hanyalah mimpi, jika ini mimpi aku harus bangun.", batinku berkata dan aku mengumpulkan energiku, mencoba berkomunikasi dengan pemuda itu.

"Kauuuuu...!", teriakku sambil menunjuk pemuda itu.

"Kau...mau apa kau ! kenapa kau muncul di mimpiku selama 5 hari berturut-turut dan memanggil namaku terus !" , teriakku sambil mengepalkan tinju untuk membogemnya jika ia tidak menjawab pertanyaanku.

Akan tetapi, pemuda itu hanya diam membisu, sesuai dengan perjanjian jika ia tidak menjawab pertanyaanku dia akan aku bogem, bayaran atas usahanya mengacaukan mimpi indahku selama 5 hari berturut-turut dan memanggil namaku sampai aku hampir gila.

Aku berlari menuju pemuda itu dan bersiap dengan bogemanku, saat di tengah jalan, tiba-tiba tanah yang aku pijak mendadak pecah. Akupun jatuh ke dalam air dan terlihat pemuda itu dengan raut wajah stoicnya di atas. Akupun menggapai-gapai berharap dapat naik ke atas setelah tersedot ke dasar air, tiba-tiba di permukaan dan hendak naik ke darat, terlihat seorang gadis kecil berambut merah muda yang hampir tenggelam.

"Tungguu...gadis itu kan aku, aku harus segera menolongnya.", batinku berkata.

Sesaat aku hendak berbalik badan untuk menolongnya, terlihat bayangan ular naga putih di dasar sungai dan menangkap gadis yang telah pingsan itu, ular naga itu menolongnya dan membawanya ke tepian. Lalu datanglah kedua orang tua gadis itu dan membawanya.

"Kenapa mereka tidak panik melihat ular naga itu?"

"Sepertinya mereka tidak melihat ular naganya." Ucap batinku yang masih terpesona dengan ular naga putih bermata merah dengan 3 titik di matanya.

Tiba-tiba ular naga itu melihatku dan kearahku, ular naga itu melihatku dan badanku mendadak kaku.

"Akk...akuuu...tidak biii...sssa...bergerak." ucapku.

Ketiga titik di bola mata merah ular itu berputar dan sekujur tubuhku mati rasa seketika, ular itu mendekatiku dan membuka mulutnya.

"Uuuu...uwaaaa...ular itu akan memakanku !" teriakku, akan tetapi tidak ada seorangpun di sungai ini.

Ular itu mendekatiku dan membuka mulutnya, secercah cahaya berkumpul di mulutnya dan ia menembaki cahaya itu ke tubuhku dan...


.

.

.

Dheeegggh...

Mataku terbuka dan aku terlonjak dari tempat tidurku, aku mengusap-usap mataku dengan telapak tanganku dan yang kulihat adalah kamarku yang bernuansa pink. Lalu ku coba menampar pipiku.

Plaaaak...

"Adawww...!", jeritku. "Ternyata bukan mimpi toh, terima kasih Kami-sama.", kataku sambil meringis memegang bekas tamparanku di pipi kananku.

Kulihat jam bekerku yang menunjukkan pukul 06.30. Akupun bangun dan merapikan tempat tidurku, lalu ke kamar mandi dan mandi tentunya. Setelah itu aku mengambil semua barang-barang yang akan aku bawa ke Kiri, sebuah koper pink mini dan backpack pink. Kuletakan koper dan backpack dekat pintu keluar, lalu aku kembali ke dapur untuk menikmati sarapan. Kulihat bibi Tayuya dan Ayame sibuk membuat bekal bento untuk diperjalanan dan kakakku yang sedang sarapan sambil mendengarkan musik lewat headphone mix-stylenya yang berwarna merah.

"Pagi bibi, pagi Ayame-san..."

"Pagi Sakura-chan." Balas Ayame-san.

"Pagi, kau sudah membawa barang-barangmu ke bawah?" tanya Tayuya.

"Sudah bi, semua barangku sudah di pintu depan.", jawabku.

"Hei, kau tidak memberi salam kepada kakakku yang ganteng ini?", jawab Saso-Nii.

Seketika penghuni dapur sweatdrop, termasuk aku.

"Ganteng, katamu? Huahahahahhah...", ejek bibi Tayuya. Sedangkan Ayame hanya cekikikan membelakangi Saso-Nii.

"Ganteng kalo dilihat dari hongkong.", ejekku.

"Dasar kalian semua !", balas Saso-Nii yang mukanya merah karena malu dan kesal dikeroyok oleh 3 gadis cantik (?)

Setelah sarapan, kami pun mengambil barang-barang kami lalu kami pergi ke bandara dengan taxi. Dengan menggunakan pesawat terbang, kami menghabiskan waktu sekitar 3 jam untuk pergi ke Kiri dari Konoha. Disana kami akan dijemput oleh paman kami, dia adalah kakak dari ayahku dan tentunya kami akan bertemu dengan anaknya yang sekaligus errr... sepupu kami yang sangat...sangat...sangat...M-E-N-Y-E-B-A-L-K-A-N ! Yang jelas dia adalah sepupu sekaligus rival abadiku.


.

.

.

❖❖❖Di Kirgakure❖❖❖

"Hoaaaam...akhirnya kita sampai juga.", Kata Saso-Nii yang baru bangun dari tidurnya.

"Dasar...kalo bibi tak membangunkanmu, mungkin kau masih ada di pesawat", kata Tayuya sambil mengangkat Hpnya yang sejak dari tadi berdering.

"Moshi-moshi, disini Tayuya, hmmm...iya...kami sudah sampai...hnnn...baiklah."

"Bibi, paman sudah datang menjemput?", Tanyaku.

"Iya, mereka menunggu kita di luar bandara, sebaiknya kita cepat." Kata Tayuya.

Setelah mengambil tas dan koper, kami berlari kecil ke luar bandara, disana paman menunggu kami dengan mobil APV silver dan tentunya terlihat seorang gadis berambut merah menyala bersama adiknya berambut merah pucat. Entah mengapa kedua saudara itu mempunyai kepribadian yang berbeda, sang adik menurutku lebih manusiawi ketimbang kakaknya, itu saja.

"Oh...kalian akhirnya sampai juga, ayo cepat masuk." Kata Paman.

Lalu kami pun memasukkan koper dan barang lainnya ke bagasi mobil lalu masuk ke mobil dan aku duduk di belakang bersama Saso-Nii yang sekarang melanjutkan tidurnya yang tertunda.

"Huh, lama sekali kau jidat.", kata gadis berambut merah menyala itu.

"Terima kasih sudah menunggumu kaca mata, salammu begitu hangat.", jawabku sarkasme.

"Heiii...ini kacamata yang lagi ngetren pinky.", balasnya.

"Oh, aku baru tau, maaf...aku bukan pelanggan setia pasar loak sepertimu, merah.", balasku tak kalah sadisnya.

"Apa katamuu ?", teriaknya yang sudah terpancing amarahnya.

"Sudah...sudah...Sakura, Karin, kalian kan baru bertemu kok malah bertengkar.", jawab paman yang sedang melerai kami. Sejak kecil kami memang tidak bisa akur, seperti kucing dan anjing. Kami hanya mendengus dan melempar muka.

"Dari pada adu mulut mending kita dengerin lagu baru Koyuki Kazahana yuk. Akhir-akhir ini sering diputar di radio, siapa tau sekarang sedang diputar", kata Moegi yang notabene sebagai adik Karin yang berharap dapat mempercerah suasana, sambil menghidupkan radio.

.

"Hei...you guys...! How are you today, Welcome to Kiri's Radio FM !"

"Kali ini kami akan menampilkan banyak jingle amatir dari berbagai band, dan tentunya setelah di seleksi dari sekian banyak jingle band kami mendapatkan 5 terbaik !"

Jreeeng...jreeeng...jreeeng...

"Number five...from Akatsuki Band...dengan judul Cintaku Berkeringat"

.

Seketika mendengar suara penyiar itu, aku merasa ada hal yang familiar...Akatsuki Band...dan aku pun bisa merasakan firasat buruk yang akan terjadi setelahnya.

"Lah, itu kan bandnya Saso-Nii...", batinku.

"Uwooo...bandku masuk nominasi 5 besar ! Naikkan volumenya !", teriak Saso-Nii yang terbangun dari tidurnya setelah mendengar kata AKATSUKI.

.

Intro

"Jreeeng...jreeeeng...duummm...dummmm..deeng...denggg."

"1...2...3...GOOO...!"

"Janganlah kau ragu bicara..."

"kenapa kau menyalahkan diriku yang berkeringat ini"

"uwooooooo...wooo...woooo..."

"Jangan membujukku dengan perhiasan mencolok"

"yeahhh...yeaaahh..."

"Pada saat itu kami akan majuuu."

"AKATSUUUUKIIII...!"

"Kamiii begitu banyaaaaak..."

"Kamiii begitu tangguhhh..."

"Meskipun kami tidak bisa diandalkaaaan...yeaaah...yeaaah..."

"Kamiiii...selalu berbuat onaaaarrr..."

(Vocal by Pein and Itachi, Guitar by Deidara, Drum by Kisame, Bass by Sasori, Synthesizer by Hidan, Lyrics by Konan)

.

"Nah...bagaimana dengan jingle baru kami? Sehabis liburan musim panas kami mau manggung loo", jawabnya dengan bangga, tak sadar seketika penghuni mobil membatu mendengar jingelnya. (Sampe paman memberhentikan mobilnya loh)

"Buahahahahaha...lagu apaaan ituuu...", ejek Karin yang juga setelahnya seisi mobil tertawa keras.

"Heh, gini-gini kami membuatnya dengan susah payah, apalagi penentuan judul lagunya, itu memakan waktu 1 bulaaaaaan !", jawab Sasori yang tak terima dengan hinaan Karin.

"Gyahahahhahaaa...busuk banget lirikna, aduh perutku...hahahahahah...", tawaku sampe perutku sakit.

Melihat seisi mobil yang tertawa, apalagi hinaanku dan Karin, Saso-Nii hanya bisa diam cemberut. Selama perjalananpun kami hanya tertawa, mendengarkan musik, bergosip, dan tentunya perang mulut. Sesampainya di dekat desa tempat nenek tinggal, kami melewati sebuah jalan kecil menuju kota karnival yang sudah lama tak beroperasi, sejak orang tuaku menghilang tanpa bekas di tempat itu. Di depan jalan itu, aku melihat pemuda itu lagi, dengan rambut anehnya yang merupai...pantat ayam...style yang aneh pikirku, tapi kali ini disampingnya terlihat seorang gadis berpakaian ala miko, wajahnya sangat cantik, berambut pirang pucat dan tatapannya terlihat sendu, sedih. Melihat pemandangan itu, aku langsung memalingkan muka lalu aku melihatnya sekali lagi, mereka tidak ada. Kami pun sekarang menuju desa tempat nenek tinggal, terlihat jalan dua arah yang cuma muat 2 mobil, di sekelilingnya ditanami pohon dan sawah-sawah. Setelah beberapa menit, kami sampai di desa Baa-chan, terlihat ladang sayur, rumah-rumah penduduk dan sawah-sawah di sebelah sungai. Setelah perjalanan yang memakan waktu 4 jam ini pun berakhir, kami sampai di rumah nenek.


.

.

.

Terlihat sebuah rumah sekaligus penginapan yang ada kliniknya yang terbuat yang berbahan dasar kayu, minimalis dan menyegarkan, terdapat onsen di belakang penginapan dan taman kecil yang ada pohon Sakura dan Plum. Kami pun mengetuk pintu dan terlihatlah bibi Tsunami yang bekerja di penginapan itu dan juga anaknya, Inari, kamipun masuk dan bergegas pergi ke ruang tamu, disana terlihat wanita tua yang sedang minum teh membelakangi kami. Karin pun berjalan lebih dulu menuju wanita tua itu, karin memanggil dan menyentuhnya, tapi wanita tua itu tetap tak bergeming dan beranjak dari tempatnya.

"Huh, sudah mati yah...", kata Karin.

"Nee-san...jangan ngomong gitu, nda baik.", kata Moegi.

"Palingan lelucon konyol Baa-chan.", tambah Saso-Nii.

1 detik berlalu.

10 detik berlalu..

1 menit berlalu...

"Aduh, Baa-chan kok nda bangun-bangun?" kata Moegi cemas sambil menggigit jarina, Karin hanya melambai-lambaikan tangannya di depan muka sang nenek, sedangkan aku dan Saso-Nii dibelakangnya menepuk pundak Baa-chan dengan lembut.

"Wah, sepertinya beneran mati.", kata Karin yang duduk di sebelah sang nenek.

"Nee-sannnn...!.", jawab Moegi yang matanya sudah berkaca-kaca.

"Gyahahahahahahaaa...kalian semua tertipuuu !", teriak Chiyo-Baa sampai Karin yang ada di sebelahnya terjatuh. Aku dan Saso-Nii sampai terperanjat kaget, terjatuh ke belakang.

"Hyaaa...Baa-chan...selalu aja seperti itu !." umpatku.

"Chiyo-BaaChan...", jawab Moegi yang merupakan cucu paling muda, aku, kakak dan Karin pun tak mau kalah, dan kami memeluk nenek bersamaan.

"Hei kalian, lepaskan pelukan kalian, nanti nenek tak bisa bernafas ! dan untuk Kaa-san, jangan memainkan lelucon seperti itu, nda lucu tau !", jawab Tayuya yang tiba ke ruang tamu setelah mendengar keributan disana.

"Gyahahahhaha...tak apa Tayuya...anggap ini salam kangen untuk cucu-cucuku.". jawab nenek yang masih tertawa mengingat leluconnya berhasil membuat kami kaget dan cemas. Tayuya hanya sweatdrop mendengar ucapan Kaa-sannya.

"Hehehe...maaf Baa-Chan.", jawab kami semua.

"Baa-Chan sih, pake ngelucu pura-pura mati, aku hampir nangis.", jawab Moegi yang masih memeluk Chiyo-Baa.

"Huh, dasar nenek aneh.", jawab Karin yang membetulkan kaca mata kotak merahnya.

"Maaf, kamar kalian sudah kami siapkan, silahkan ikuti saya sambil membawa barang-barang.", jawab Tsunami yang tiba-tiba datang.

"Konichiwa Sakura-Nee...Karin-Nee...Saso-Nii...dan Moegi-Chan.", kata Inari yang berdiam di belakang Tsunami.

"Konichiwa Inari-Chan.", balasku sambil tersenyum.

"Inariii-Chaaan..." panggil Moegi seraya melepaskan pelukannya dari Chiyo-Baa dan kini memeluk Inari.

Kamipun mengambil barang-barang yang sudah diturunkan dari mobil oleh kakek Tazuna, lalu berjalan sepanjang koridor, aku mendapat kamar di sebelah kamar Saso-Nii, disana aku sekamar dengan Karin dan Moegi, maklum penginapan ini hanya penginapan kecil yang memiliki 10 kamar, kami hanya dapat memakai 5 kamar, dan sisanya untuk pelanggan. Kami pun membereskan barang-barang kami di kamar.

"Huh, sepertinya hari ini hari sialku...", jawab Karin yang sepertinya ingin memancing perkelahian.

"Sial? Akupun merasa begitu, sial sekamar denganmu.", jawabku yang merupakan lanjutan kata dari Karin yang aku tebak.

"Huh, berarti pikiran kita sama.", jawab Karin dengan muka sebal.

"Sudah...sudah...perang mulutnya nanti saja, bagaimana kita berendam di onsen, jam 7 kita akan makan malam bersama.", Jawab Moegi yang berusaha menghentikan perkelahian kami sebelum menjadi besar.

"Huh, baiklah...", jawab Karin, akupun hanya mendengus dan mengambil peralatan mandi.

Sesampainya di Onsen, terlihat bibi Tayuya yang sedang berendam, kami pun bergabung dengannya.

"Huaaah...segarnya, enaknya setelah menempuh perjalanan lama dengan bermandi di onsen setelahnya.", Jawabku.

Kami pun berendam sambil bergosip, mendengar cerita Karin yang intinya mengatakan "betapa populernya" dia di sekolahnya, dan aktor-aktor ganteng muda yang sedang naik daun, akupun hanya melengos mendengarnya. Dan tiba-tiba...

"Kyaaaaaaa...", teriak Karin sampai keluar dari kolam Onsen.

Semuapun seketika berdiri dan menghujani Karin pertanyaan mengapa ia berteriak.

"Nee-san kenapa?", Tanya Moegi.

"Itu...ituuu...di air, aku melihat wajah manusia...giginya seperti ikan hiuuuu...", jawabnya, terlihat ia begitu ketakutan sampai badannya gemetaran. Tayuya pun menyelam ke air dan memastikan tak ada apa-apa.

"Tidak ada apa-apa kok, palingan halusinasi, mungkin kamu kecapean." Kata Bibi Tayuya.


.

❖❖❖Someone POV❖❖❖

Di dekat onsen...

"Dasar...kau tak perlu menakut-nakutinya, Baka !", kata seorang pemuda berambut raven dengan model chicken butt.

"Hahahaha...tenang, itu hanya sedikit salam saja, aku sepertinya tertarik dengan wanita berambut merah yang berisik itu.", jawab seorang pemuda berambut silver kebiru-biruan sambil memamerkan gigi-giginya yang mirip hiu.

"Apa yang kalian lakukan di pemandian ini ? kalian tidak sedang mengintip mereka mandi kan? Dasar Mesum !", jawab seorang wanita dengan rambut blonde pucat sambil mengacakkan pinggang.

"Aku tidak mengintip, hanya mengawasi.", jawab pemuda raven dengan tenang.

"Kau pasti mengintip kan Suigetsu ! Sasuke-Kun tak mungkin melakukan hal rendah seperti ini Iya kan Sasuke-Kun." Jawab gadis itu.

"Hn"

"Hei...hei...aku hanya memberi tanda saja, kalau gadis pink itu pintar, pasti dia sudah mengetahui tanda-tanda yang kita buat dan akan menemui kita.", jawab suigetsu sambil mengetuk kening wanita itu.

"Huh, yang ada gadis itu malah ketakutan tau !", jawab wanita itu lagi.

"Hentikan perkelahian konyol kalian, Shion dan Suigetsu, kalian kembalilah, aku akan tetap berjaga disini, tugas kita membimbing keturunan wanita tua itu ke alam kita, sesuai dengan perintah Koharu-Sama...", jawab Sasuke.


.

❖❖❖Normal POV❖❖❖

Setelah itu kami pun meninggalkan onsen dan Karin masih bersihkeras kalau Onsen itu berhantu, lalu kami menikmati santapan makan malam, setelah itu kami pun kembali ke kamar masing-masing. Karin yang masih gemetaran dengan peristiwa tadi akhirnya berhasil di alihkan dengan gosip seleb dari Moegi, sepertinya aku berhutang 3x dengan Moegi yang berhasil membungkam mulut Karin. Kamipun tidur sekitar tengah malam setelah bergosip ria dan aku akui lumayan menyenangkan.

.

Tiba-tiba akupun terbangun dari tidurku, dan terlihat sesosok bayangan lelaki di luar pintu geser kertas, dari bentuk siluetnya, aku pun mengenal dengan cepat sosok ini. Sosok itu adalah pemuda rambut buntut ayam...dan aku pun membuka pintu dengan hati-hati dan terlihat sosok pemuda itu, tubuhnya bercahaya walau cahaya itu redup dan berwarna putih. Disekitar pemuda itu terdapat kertas-kertas berbentuk pola burung berserakan dan juga darah yang berasal dari pemuda itu yang juga membekas di kimononya. Pemuda itu melihatku...onyx dan emerald...kami saling memandang diam, tiba-tiba pemuda itu membuka mulutnya dan berkata...

"Sakura...", lirihnya.

"A...apa...apa maumu...", jawabku berbisik agar yang lain tak bangun.

"Kau harus ikut denganku..ughhh...", seketika ia memegang dadanya dan memuntahkan darah lewat mulutnya, melihatnya aku menjadi ngeri dan iba.

"Ugghhhh...dasar kertas-kertas sial...!", umpatnya.

Aku mendekatinya dan membersihkan darahnya dengan kimono tidur putihku. Entah mengapa di dalam benakku, tak sebersitpun rasa takut menghantuiku, yang ada rasa rindu, sepertinya aku pernah bertemu dengannya dulu sekali...

"Ke...kenapa aku harus ikut denganmu...?", tanyaku.

"Datanglah ke karnival pada siang hari, dan tunggulah sampai matahari terbenam, kami akan menjemput kalian.", jawabnya lirih.

"Ba...baiklah, apa aku harus sendirian ke sana?", jawabku. "Cih, masa aku harus datang sendirian, ngeri banget bersama stalker ini !", batinku.

"Lebih banyak...lebih baik dan bawa hanafuda, itu akan membantumu.", jawabnya sambil tersenyum kecil.

Seketika ruangan mendadak gelap dan terdengar suara Karin memanggilku panik. Aku membuka mataku perlahan-lahan, terlihat seberkas cahaya dari lampu neon diatasku, terdengar juga suara Moegi yang hampir menangis.

"Sakuraaaa...raa...apa yang terjadi ? lengan bajumu ada darah !", teriak Karin dengan tatapan cemas sekaligus ngeri melihat darah pemuda yang aku lap dengan kimono tidur putihku.

"Sakura Nee-chan...aku panggil Saso-Nii yah.", jawab Moegi panik dan segera membuka pintu dan berlari ke kamar sebelah untuk membangunkan Saso-Nii.

"Ummm...", aku masih mengantuk dan menggeliat di futon sambil merenggangkan otot-ototku.

"Sakura ! apa yang terjadi ? tadi kau mengigau keras sekali ! sampai kami terbangun, lengan bajumu berdarah dan berhentilah menggeliat-geliat seperti itu !", Kata Karin sambil membetulkan kacamatanya yang turun setengah hidung sambil menunjukku.

"SAKURAAA !", teriak Saso-Nii

"Kenapa di luar banyak kertas berserakan dan...apa yang terja...haaah...lenganmuuu kenapaaa?", teriak Saso-Nii yang segera berlari kearahku.

"Hoaaaaam...ada apa sih kalian, ribut amat...HUWAAAA...lengankuuu...!" teriakku histeris melihat lengan bajuku yang berdarah. Sejenak akupun mengingat peristiwa tadi pagi...

"Be...berarti yang tadi bukan mimpi dunk...benar-benar nyata...pemuda itu benar-benar datang !", batinku.

"Ah...ini aku tidak tau...", jawabku yang masih terkejut dengan peristiwa tadi. Karin dan yang lainnya hanya melihatku dengan tatapan cemas dan mencurigakan.

"Hiii...jangan-jangan penginapan ini ada hantunyaaa...tadi di onsen aku melihat lelaki setengah hiuuu...", kata Karin panik.

"Nee-san...penginapan ini nda berhantu kok, jangan mengada-ngada...", jawab Moegi yang kini ketakutan, terlihat kaki mungilna gemetaran.

"Cih, benar-benar aneh sekali, aku akan melap..."

BRAAAAAK...

"Hah, ada apa ini? Kenapa tadi teriak-teriak? Kenapa banyak sampah kertas di depan kamar kalian ? Haaaaa...Sakuraaaa...lenganmu?", teriak Tayuya histeris dengan rambut yang masih di roll.

"Akk...aku tidak tau, tiba-tiba Karin membangunkanku dan ada bercak darah di lenganku...", jawabku enteng.

"Tidak ada yang terluka kan? Tidak ada yang sakit?", kata Saso-Nii cemas, segera memegang tanganku dengan hati-hati dan melihat lenganku yang tertutup kimono tidur putih yang penuh dengan bercak darah.

Sreeekkk...terlihat lengan putihku yang tak ada goresan sedikitpun, Saso-Nii dan yang lainnya hanya menatap heran, dan bau darah pemuda itu masih tercium di hidungku. Saso-Nii memeriksa lenganku dan mencium noda darah itu.

"Hmm...benar-benar darah, darah asli...", jawab Saso-Nii.

"Ya iyalah...bau darahnya terasa banget !", jawab Karin.

"Bau darahnya seperti bau besiii...", kata Moegi sambil menggigit jarinya.

"Oh...kalau kau tak terluka, kenapa bisa begitu yah? Ini benar-benar aneh...pertama siluman hiu, kedua sampah kertas yang penuh darah dan ketiga lenganmu yang berlumuran darah...", kata Tayuya sambil tertegun mengingat peristiwa-peristiwa aneh lainnya yang terjadi hari ini.

"Tuh kan ! penginapan ini berhantuuu !", jawab Karin.

"Aku rasa tidak, aku sejak kecil tinggal disini dan tidak ada hal aneh yang terjadi kok.", jawab Tayuya yang menegaskan rumah yang ia tinggali sejak lahir tak berhantu.

"Ya sudah kalian kembali tidur, Sakura kau ganti saja kimonomu, aku rasa di lemari masih ada, dan kita akan membicarakannya besok.", jawab Tayuya yang kini pergi ke kamarnya.

"Nee-san...aku takut.", jawab Moegi.

"Sama...penginapan ini benar-benar aneh.", jawab Karin.

"Saso-Nii...Saso-Nii...tidur disini yah...", jawab Moegi sambil menarik kimono tidur Saso-Nii.

"Aku rasa masih ada futon di lemari.", jawabku saat memeriksa lemari sambil mengambil kimono tidur yang lainnya.

"Hnnn...ya sudah, aku akan tidur disini, tapi kalian jangan berisik yah.", jawab Saso-Nii sambil ke lemari dan mengambil futon dan menggelarnya di sebelah futonku.

Kini kami kembali melanjutkan tidur kami yang tertunda, Karin melihatku seperti sedang menyembunyikan sesuatu, begitu pula Saso-Nii, akupun masih berpikir tentang kejadian tadi dan pemuda tadi...apa aku harus menceritakannya yah...

.

Selama pagi ini, aku selalu berfikir apakah menceritakan wasiat si pemuda buntut ayam itu merupakan pilihan yang tepat. Sekali lagi aku memergoki Karin yang tengah mengawasiku...tentunya bersama Saso-Nii...

"Keluar kalian ! aku tau kalian sedang mengintip disana.", teriakku.

"Tak usah teriak-teriak Jidaaat !", jawab Karin kesal.

"Sakura...apa yang sedang kau sembunyikan dari kami?", jawab Sasori.

"Ceritakanlah...aku ini kakakmu juga loh, siapa tau aku bisa bantu."

"Kau juga sepupuku ! siapa tau ini berkaitan dengan siluman hiu itu!", jawab Karin yang masih kesal dengan peristiwa onsen tersebut.

"Errr...begini, darah yang ada di lengan kimonoku...itu darah seorang pemuda yang sering muncul di mimpiku dulu, dia memintaku datang hari ini ke karnival...", jawab Sakura.

"Tuh kan ! kau pasti ada hubungannya dengan peristiwa aneh yang terjadi di sekitar kita.", kata Karin.

"Apa kau akan datang Sakura?" jawab Saso-Nii harap-harap cemas.

"Hmmm...dia bilang, makin banyak makin baik, tapi aku akan datang, lokasinya sama dengan lokasi tempat orang tua kita hilang, siapa tau hantu itu tau dimana orang tua kita berada Nii-chan." Jawabku semangat.

"Aku akan ikut.", jawab Saso-Nii mantap.

"Heee...?", jawabku dan Karin serempak.

"Aku kan kakakmu, nanti kalau terjadi apa-apa disana gimana? Ini lebih baik daripada berdiam di penginapan ini selama liburan.", jawab Saso-Nii santai, seolah-olah kasus ini hanya permainan anak kecil.

"Cih, kalau begitu aku ikut jidat ! aku akan membuat perhitungan dengan siluman hiu itu !", jawab Karin yang bersiap untuk mencincang hiu itu kecil-kecil jika mereka bertemu untuk kedua kalinya.

"Kami juga ikuuut !"

Terdengar suara Moegi dan Inari yang sepertinya juga sudah menguping pembicaraan kami sejak tadi.

"Kalian anak kecil nda usah ikut campur.", jawab Karin santai.

"Ini urusan orang dewasa, nanti kalian terluka gimana?", jawab Saso-Nii.

"Nee-Chan...aku dan Inari sudah 13 tahun.", jawab Moegi sambil menggembungkat pipinya.

"Heeehh...ya sudah kalian boleh ikut.", Kataku.

"Heeeee...mereka kan anak kecil, nanti malah bikin kita repot.", kata Karin yang benci kerepotan.

"Pemuda itu bilang, lebih banyak lebih baik, ayo kita persiapkan barang-barang kita, sehabis makan siang kita akan pergi kesana, Saso-Nii tolong antarkan kami yah.", kataku sambil memikirkan strategi dan barang-barang yang akan dibawa.

.

Sehabis makan siang, kami terlebih dahulu pamit dengan bibi Tayuya dengan alasan mau bermain di sungai. Setelah itu kami naik di mobil APV silver yang di kemudikan oleh Saso-Nii.

"Hmm aku bawa senter, dompet, hp, dan snack...kalau kamu?", tanyaku.

"Juga hanafuda dan tali tambang...fufufufu...lagian ngapai sih bawa hanafuda segala, Cuma kartu lusuh dan gaje", batinku.

"Aku bawa barang-barang seperti punyamu, cuma aku juga membawa first aid.", jawab Karin.

"Kami jugaaa...", jawab Moegi dan Inari serempak.

"Kalau aku bawa badan doank.", jawab Saso-Nii santai yang membuat kami sweatdrop.

"Yaaak...kita sebentar lagi sampai, itu jalan masuknya kan?", tanya Saso-Nii.

Kami pun mulai masuk jalan menuju karnival, disana kami melalui pohon besar dengan banyak rumah-rumah batu kecil yang sepertinya kuil kecil, kami terus menuju kota karnival tersebut yang harus melewati hutan kecil untuk sampai disana.

Druuug...druuug...druuuug...

"Hyaaaa...", jerit Moegi.

"Jalannya rusak banget.", jawab Saso-Nii yang tengah tegang menyetir mobil dalam medan jalan yang rusak dan penuh bebatuan.

"Saso-Nii...pelan-pelan nyetirnya, awas kalau sampai mobil Tou-San rusak !", kata Karin.

"Perasaan dulu jalannya nda separah ini.", jawab Inari yang notabene penduduk sekitar sini.

Akhirnya kami sampai di sebuah pintu gerbang masuk kota karnival, sebuah bangunan tua bercat merah yang sudah banyak yang terkelupas dan berlumut. Diatasnya terdapat jam besar yang sepertinya sudah lama mati. Di depan gerbang terdapat patung aneh seperti daruma yang sudah berlumut.

"Lah sejak kapan ada patung gaje disini ?', tanyaku sambil menepuk-tepuk patung itu.

"Hiii...serem banget patungnya.", jawab Moegi.

Kami pun mendekat ke dalam terowongan yang merupakan pintu masuk ke kota kecil tersebut. Aku mengelus dinding yang mempunyai banyak kenangan tersebut.

"Disini terakhir kalinya kami bertemu Tou-San dan Kaa-San."

Angin berhembus dengan kencangnya ke dalam terowongan yang gelap tersebut. Terdengar sayup-sayup suara aneh bersama angin yang masuk ke terowongan dan gemerisik pohon yang tertiup angin.

"Hiii...serem banget, aku di mobil saja kalau gitu.", jawab Karin.

"Yang boneng nih? Kalau gitu kami semua masuk kedalam loh, kamu disini sendirian jaga mobilnya.", Jawab Saso-Nii.

Kamipun mulai memasuki terowongan yang gelap tersebut, tak lupa kami menghidupkan senter karena terowongan yang gelap gulita. Terlihat Karin yang sedang berkacak pinggang di depan mobil dan melihat patung daruma itu dengan tatapan ngeri.

"Cih, ya sudah aku ikut, kalian tunggu aku !", jawab Karin yang merogoh senter di tas pinggangnya dan berlari menuju kami yang sudah masuk di tengah terowongan.

Setelah melewati terowongan, terdapat loket masuk karnival yang sudah tutup dan beberapa kursi kayu tempat orang-orang menunggu dan duduk, beberapa kursi kayu itu rusak dan berdebu, serta banyak yang menjadi sarang laba-laba.

"Haloo...ada orang disini ?", teriak Inari.

"Ya jelas nda ada donk ! kan sudah lama tutup !", jawab Karin sambil mendesah.

Kami pun memeriksa gedung tersebut dan tak ada tanda-tanda kehidupan manusia. Lalu kami memutuskan untuk keluar menuju karnival, terlihat hamparan rumput hijau dan patung-patung daruma yang terlihat di depan gedung tua tadi. Kali ini banyak sekali patung-patung tersebut, kami pun berjalan menuju kota dan melewati sungai kering dengan melompat-lompati batu-batu yang ada di sungai kering itu, lalu terlihat anak tangga dan patung daruma di depan pintu masuk kota.

Kami pun berjalan dan memasuki kota tersebut, dan kami mencium aroma sedap di dalam kota itu.

Snifff...snifff...

"Hmm...baunya enak banget.", jawab Inari dan Moegi.

"Hmmm...bau ayam, sepertinya ada manusia disini.", jawab Saso-Nii.

Akupun masih tetap memasang siaga 1, berharap jika pemuda itu datang tiba-tiba, maka kami akan mengikatnya dengan tali tambang yang sudah aku siapkan, lalu menginterogasinya. Kami pun berlari menuju aroma makanan itu berasal, berharap bertemu seseorang di kota mati ini. Kami sampai di sebuah rentetan warung yang semuanya tutup kecuali 1 warung yang merupakan asal dari makanan tersebut. Terdapat ayam, daging sapi, daging babi, ikan, sosis dan telur. Kucium aromanya yang menggoda dan terlihat beberapa dari kami hampir meneteskan air liur, terutama Saso-Nii.

"Huwaaa...sepertinya enak sekali...", kata Moegi.

"Gimana kalau kita coba makan yuk.", jawab Saso-Nii yang sudah kehilangan imannya.

"Jangan, kita harus minta ijin dengan pemilik toko dulu !" jawab Karin yang tumben naluri kemanusiaannya muncul.

"Benar kata Karin, jangan di makan, tempat ini juga mencurigakan.", jawabku yang masih melihat sekeliling.

"Haloooo? Ada orang? Bibi atau paman pemilik warung?", jawab Inari.

"Sudah...kita makan saja, nanti kalau orangnya datang kita bayar.", jawab Saso-Nii yang sudah mengambil piring dan mengambil makanan.

"Betull...betull...kita makan saja Nee-San...perutku lapar.", jawab Moegi sambil memegang perutnya yang keroncongan.

"Hhhh...ya sudah kalian makan saja, awas kalau pemilik toko marah !" jawab Karin.

"Heh Sakura? Kau mau kemana?", jawab Karin yang memergokiku untuk kabur melihat-lihat karnival.

"Aku mau memeriksa keadaan sekeliling, kau mau ikut? Kalau kau lapar ikut makan saja."

Terlihat Saso-Nii, Moegi dan Inari tengah lahap memakan makanan yang ada di warung tersebut.

"Nee-chan...sosis ini enak looo...", jawab Moegi yang sedang mengambil beberapa sosis lagi.

"Iya, cobain Sakura, ayamnya juga enak, lembut.", jawab Saso-Nii.

"Tidak, aku ikut kamu saja Sakura, kelihatannya makanan itu penuh dengan kalori, nanti aku bisa gemuk.", jawab Karin yang tengah dalam masa dietnya.

"Huh ya sudah, ayo kita berkeliling.", jawabku.

"Saso-Nii...jaga Moegi yah, awas kalo sampai dia terluka !." jawab Karin yang sudah menjauh dari warung. Saso-Nii hanya membalas ucapan Karin dengan jempol OK ala Rock Lee.

Kami pun meninggalkan warung dan berjalan keatas, terlihat sebuah penginapan yang mengeluarkan uap air yang menandakan ada onsen didalamnya. Lalu kami berjalan menuju penginapan tersebut melewati jembatan merah.

"DAN-ZOU...", kataku membaca tulisan di pintu masuk pemginapan tersebut

"Nama yang aneh..."

"Hei, lihat ! dibawah jembatan ada kereta api !", kata Karin sambil melihat ke bawah dari jembatan. Di bawah jembatan terdapat jurang yang curam dan air yang sedang surut menampakan rel kereta yang dilewati kereta api tersebut dari dalam terowongan di dalam jurang.

"Sepertinya disini masih ada kehidupan, tapi...bukannya kota ini sudah tertutup.", kataku.

"Entahlah, mungkin pemilik karnival sedang merenovasinya dan akan membuka kota ini kembali.", jawab Karin.

Tiba-tiba terlihat seorang pemuda berambut silver kebiru-biruan dengan pedang besar aneh yang mempunya dia pegangan. Pemuda itu melihat kami dan setelah itu bola mata violetnya membelalak.

"Ka..kalian...sejak kapan kalian disini ! Kalian seharusnya tidak berada disini...!", Teriaknya dan berjalan ke arah kami.

.

End of Chaper 2

.

Behind The Scene

.

"Sakura no hana wa itsu hiraku ?"

itu lagu yang sasuke nyanyikan di chapter sebelumnya dan di awal chapter ke 2, artinya kurang lebih seperti "Kapan bunga Sakura mekar"

Aku masukin supaya menambah kesan misteri n mistis sasuke yang bermakna keberadaan Sakura.

Semua chara yang ada di fic ini chara yang ada di Naruto loh.

Hmmm buat yang review, makasih banyak yah :D

Maya : makasih banyak . benernya udah dari dulu pengen buat fic, cuma males ajh :p maklum ane silent reader yang malas :p

Rizuka Hanayuuki : makasih sudah RnR fic ane :D silahkan baca lanjutannya .

Fiyui-Chan : makasih yah :D yang ini lebih panjang dari fic yang sebelumnya B-)

Poetri-Chan : makasih sudah RnR...silahkan baca lanjutan ficnya :D

.

For the next Chappie...mungkin bakal lama di update...tapi ane bakal buat sebaik mungkin .

Sasuke CS bakal banyak tampil :D

See you