Meskipun nyeri terasa di sekujur tubuhnya, seorang anak laki-laki tidak boleh menangis! Itulah prinsip yang dipegang teguh oleh Aomine Daiki. Still kid!AoMomo. A ficlet collection. Chap 2.


Disclaimer for Tadatoshi Fujimaki

Character: Aomine Daiki & Momoi Satsuki

Timeline: saat usia tujuh tahun

~oOo~

Because I'm Your Guardian, Princess
Chap 2: Pride as A Boy

by Little Hatake

.

.

Kalimat pertama yang keluar dari mulut Momoi Satsuki adalah "Dai-chan sok jago, sih!" saat melihat tangan, kaki dan wajah sahabatnya itu penuh dengan plester.

Daiki hanya membuang pandangannya ke arah jendela dan memajukan bibir bawahnya, tanda tak setuju atas ucapan Satsuki. Namun, tak ada protes yang keluar dari mulutnya. Raut wajahnya yang tak acuh itu berjengit menahan sakit. Ekor matanya menangkap anak perempuan berusia tujuh tahun itu tengah tersenyum jahil.

"Satsuki, sakit, tahu!" Suara seraknya akhirnya keluar juga dari bibirnya. Tapi, itu tidak menghentikan keisengan Satsuki untuk menyentuh luka-lukanya.

"Satsuki!"

"Makanya, jangan sok kuat!"

.


.

Langkah kaki kecil seorang anak lelaki berderap cepat. Tak peduli cipratan genangan lumpur yang mengotori sepatu converse biru tuanya, ia berlari membelah padang ilalang yang tingginya melebihi dirinya. Tangan kirinya yang bebas menyingkirkan rumput-rumput liar itu yang terkadang tak sengaja menyentuh matanya, sedang tangan kanannya memeluk erat bola basket di depan dada.

Beres berurusan dengan ilalang, iris deep blue Aomine Daiki disuguhkan pada pemandangan lapangan berumput hijau yang luas. Kedua keping yang senantiasa memercikan semangat itu menyisir areal inchi demi inchi, mencari sesosok anak perempuan dengan rambut panjang bersuasana musim semi. Tapi, ia tak menemukan sahabatnya di tempat terakhir kali mereka berpisah.

"Satsuki, kau di mana? Aku sudah membawa bola basketnya!"

Tak juga mendapati sosok Satsuki, Daiki mengikuti intuisinya untuk berjalan ke balik sebuah pohon rindang. Pohon itu adalah saksi saat Daiki dan Satsuki tidur beristirahat sehabis bermain di sebuah musim panas. Mungkin Satsuki bosan menunggunya di tengah lapangan sehingga ia memilih beristirahat di dekat pohon, pikir Daiki.

"Dai-chan... Hiks... Dai-chan..."

Sebuah isakan yang menyebut namanya segera bergema di indera pendengaran Daiki. Semakin langkahnya mendekati pohon, semakin jelas isakan itu. Kini ditambah dengan suara tangis yang tertahan, Daiki segera berlari untuk mencari tahu apa yang terjadi.

"Sini, aku pinjam sepedanya!"

Daiki disambut oleh suara bentakan yang cukup keras.

"Kalau kau tidak mau meminjamkan, sepedanya untuk kami saja! Hahaha!"

Satu... Dua... Empat orang anak laki-laki berusia sekitar delapan sampai sepuluh tahun mengelilingi Satsuki. Satu orang dengan plester melintang di hidungnya tengah menarik-narik sepeda putih berstrip merah muda milik Satsuki dan anak perempuan itu berusaha mempertahankannya sekuat tenaga, meskipun air mata dengan deras menuruni pipinya yang putih. Sedangkan tiga orang lainnya berdiri pongah menunjukkan arogansi, tertawa-tawa sombong sok berkuasa.

Salah seorang dengan luka baret di pipinya berjalan mendekati temannya yang sedang berebut sepeda, membantunya agar Satsuki segera melepaskan sepedanya.

"Dai-chan... Huhuhu... Dai-chan..." Anak itu berpura-pura mengikuti tangisan Satsuki dengan nada mengejek. "Dai-chan-mu itu tidak akan mendengar tangisanmu dan dat—ADUUHH!"

Isakan Satsuki tiba-tiba terhenti. Ia melihat pipi kiri anak itu memerah karena terkena sebuah lemparan bola basket. Matanya yang masih berair mengikuti arah dari mana bola dilempar. Seorang Aomine Daiki sedang menggeram. Terpancar kilatan amarah dari keping biru kelam itu.

"Hentikan. Atau. Aku. Akan. Menghajar. Kalian."

Tiap katanya tersirat nada perintah yang tidak dapat dibantah. Giginya bergemeletuk saling beradu, menahan emosi.

Dua orang yang lain memukul-mukulkan kepalan tangannya, menantang Daiki yang sedang berjalan mendekat. Mereka menganggap enteng Daiki karena usianya di bawah mereka. Namun, mereka tidak tahu bagaimana seorang Aomine Daiki jika sedang mengamuk. "Sini, kau kalau bera—"

BRUAGHH! Satu pukulan telak mendarat di hidung anak lelaki yang menggulung lengan bajunya.

"Apa yang kau laku—"

DUAKK! Anak dengan kaos tak berlengan tersungkur terkena bogem mentah di tepat wajah.

Lalu, tidak ada lagi air mata yang mengalir dari keping fuchsia Satsuki. Lebih tepatnya, air mata tidak sanggup lagi keluar karena Satsuki terlalu terkejut menyaksikan sebuah perkelahian di depan matanya. Pukulan dan tendangan segera bersarang di tubuh Daiki. Tapi dengan cepat, semua itu Daiki balas dengan lebih keras.

Daiki tidak memedulikan rasa asin yang tercecap di lidah. Ia juga tidak menghiraukan nyeri yang berkedut di sekujur tubuhnya. Kaosnya yang kotor terkena lumpur, celana yang robek terkena patahan ranting ketika terbanting ke tanah, lebam-lebam yang mulai menghiasi kulit tannya; ia tidak peduli dengan semua itu. Ia hanya ingin melihat empat anak nakal itu segera angkat kaki dari sini.

Selang lima menit dalam perkelahian hebat itu, anak-anak nakal yang hampir merebut sepeda Satsuki akhirnya berlari meninggalkan mereka berdua sembari menangis. Seorang anak terjerembab terkena tendangan Daiki sekali lagi dan langsung dibantu oleh ketiga temannya untuk segera pergi.

Daiki mengambil bola basket yang sempat menjadi senjata untuk menghajar mereka. Lalu, tangannya yang penuh dengan tanah menggamit tangan Satsuki, mengajak untuk pulang.

"Ayo, kita pulang."

Satsuki menuntun sepedanya dan mengikuti tarikan pelan tangan Daiki untuk pulang ke rumah. Diliriknya sekilas keadaan pahlawannya sore ini. Rambut birunya berantakan, terselip daun-daun kering. Guratan-guratan kasar terukir di lengan dan kakinya, beberapa mengeluarkan darah. Jangan tanya bagaimana kondisi wajahnya, biru di sana-sini serta goresan dengan bercak darah di pelipisnya.

Daiki terdiam. Setitik air mata mulai muncul dari matanya, ekspresi rasa sakit dari luka-lukanya. Dengan cepat ia menghapus cairan bening itu sebelum Satsuki sempat melihat. Masa' anak lelaki menangis? Harga dirinya akan jatuh berkeping-keping.

Tidak di depan Satsuki.

.

~oOo~

.

Esok paginya setelah sarapan, Satsuki langsung berlari ke rumah Daiki, ingin memastikan jika Daiki-nya baik-baik saja setelah menyelamatkannya kemarin sore. Setidaknya, tidak ada luka serius seperti patah tulang.

Setelah mengetuk pintu kamar Daiki, dibukanya kayu berwarna cokelat kehitaman itu dengan perlahan. Satsuki melihat Daiki sedang duduk di atas tempat tidur dan ibunya sedang menyuapi sarapan. Senyuman ramah Aomine Shizuka dan dengusan kecil Daiki menyambut dirinya.

"Ah, Satsuki-chan! Ayo, masuk!" ajak ibu Daiki. Dengan hati-hati Satsuki menaiki tempat tidur Daiki, takut menyentuh luka-luka yang sudah terplester itu. "Satsuki-chan, apakah Daiki menangis ketika berkelahi?"

Satsuki menggeleng sebagai jawaban.

"Waah, Daiki-kun hebat tidak menangis! Tetapi mengapa waktu lukamu diobati oleh ibu kau menangis?"

Wajah Daiki langsung memerah. "I-ibu, yang itu ti-tidak usah diceritakan!"

Satsuki terkikik pelan. Ekspresi malu Aomine Daiki terlalu lucu untuk dilewatkan. Setelah selesai menyuapi Daiki, wanita muda itu meninggalkan mereka berdua. Lalu, Satsuki menemani Daiki seharian sembari membaca, bercanda dan bahkan beberapa kali jahil menekan luka Daiki yang kemudian diiringi rengutan kesal anak lelaki itu yang hanya bertahan selama lima detik, dan kembali tertawa. Sore harinya, Daiki sudah dapat mengajak Satsuki lagi untuk bermain basket.

Adegan itu persis sama, seperti minggu kemarin. Dan minggu kemarin.

Dan minggu kemarin.

.

.

FIN

.

~oOo~

rgrds, LH