Fairy Tail © Hiro Mashima
A Fairy Tail Fanfiction
Eternal
by Nnatsuki
Warning : AU, OOC, Typo(s), Kingdom!AU
Chapter 2
.
Lucy berjalan mendekati bayangan seorang pemuda yang dipastikan Lucy adalah milik calon suaminya. Dia terus mendekatinya, dengan kepala yang masih tertunduk, sesampainya dia berada tepat di depan pemuda itu, pelan-pelan diangkatnya kepalanya. Dan disaat kepalanya telah berada di posisi yang sama dengan si pemuda itu,
Mata cokelatnya membulat sempurna saat bertemu dengan sepasang mata milik pemuda itu.
"Hei! Lama tak bertemu! "
-XXXXX-
"Hei! Lama tak bertemu! "
Mata colelat Lucy membulat sempurna. Mulutnya terbuka lebar mendapati kenyataan ini. Tubuhnya bergetar hebat. Dengan pelan dia menggerakkan tangan kanannya untuk menutup mulutnya. Air matanya mengalir deras membasahi pipi putihnya. Dia masih tak percaya. Pemuda yang akan menjadi suaminya itu, benar-benar mirip dengan anak laki-laki yang paling disayangi Lucy─bukan─dialah anak laki-laki yang merupakan cinta pertamanya.
Lucy berusaha menguasai dirinya, pelan tapi pasti mendekati sosok pangeran itu. Tangan mungil Lucy bergerak kearah wajah pemuda itu, mendarat di pipi pangeran itu.
" Natsu? " bisik Lucy.
Pangeran bernama Natsu itu mengangguk sambil mengangkat tangannya ke arah wajah Lucy. Mengusap lembut pipi Lucy. Senyum lembutnya terus menghiasi wajah tampannya. Membuat air matanya Lucy semakin membajiri pipi Lucy.
"Lama tak bertemu, Luce…." ucap Natsu, lembut.
Lucy yang masih terisak mencoba membuka mulutnya untuk mengelurkan suara. Dia menundukkan kepalanya, tak mau Natsu melihat mata sembabnya.
Natsu kembali tersenyum lembut. "Angkat wajahmu, Luce." Seraya mengangkat dagu Lucy, membuat Lucy mendongakkan kepalanya, mempertemukan mata cokelatnya dengan mata onyx milik Natsu. Dengan usapan lembut, Natsu menghapus air mata dari gadis yang dicintainya.
"Jangan menangis Luce." Senyum lembut Natsu berubah menjadi samar.
Luce mengusap air matanya. Dia kembali menatap Natsu, pemuda itu memang Natsu yang dikenalnya. Rambut merah mudaberantakan dan mata onyx hangatnya, persis seperti dulu.
"Ja-jadi kau benar Natsu yang pernah menolongku dulu?" tanya Lucy setengah belum percaya.
Natsu menghela napas panjang. "Seingatku, tidak ada pemuda yang berambut merah muda sepertiku. Dan bukankah kau pernah bilang, hanya aku yang pernah memanggilmu Luce?" jawab Natsu sambil memberikan cengiran khasnya. Lucy tersentak. Cengiran yang dirindukannya, cengiran hangat yang selalu membuatnya tak bisa membalasnya dengan senyumannya yang paling manis.
"Dan juga…" lanjut Natsu sambil merongoh sesuatu dari kantung celananya, "Kau memberikan ini padaku sebagai petunjuk untukku mencarimu." Natsu menunujukkan bukti tak terbantahkan kepada Lucy. Sebuah kalung dengan liontin berbentuk bunga mawar kecil berwarna putih. Mata Lucy membulat sempurna melihatnya. Hanya satu orang yang memilikinya.
"Aku juga yang memberikanmu setangkai mawar putih yang kupetik dari taman mawar yang ada di belakang istana Vermithrax."
Air mata Lucy kembali mengalir deras. Bukti yang Natsu tunjukkan sudah membuat Lucy yakin bahwa Natsu Dragneel, putra mahkota Vermithrax yang akan menjadi calon suaminya, adalah cinta pertamanya yang telah lama tak ditemuinya sejak sepuluh tahun yang lalu. Lucy langsung menghambur memeluk Natsu. Natsu yang kaget akan aksi dadakan dari Lucy hampir terjatuh, namun dia berhasil menjaga keseimbangannya. Dengan tangan kekarnya dia membalut pinggang Lucy, memeluk gadis yang telah lama dirindukannya. Membiarkan Lucy menangis dalam dekapannya, dan tentunya, tangis bahagia. Kini Lucy tak perlu menyesali akan takdirnya sebagai seorang putri. Takdir telah menunjukan sebuah masa depan cerahnya sebagai seorang gadis, kembali bertemu dengan cinta pertamanya, dan terus berada di sampingnya, selamanya.
-XXXOOOXXX-
Lucy mencuci wajahnya dan mengusapnya beberapa kali dengan handuk dan kembali bercermin di kamar tidurnya, mengecek apakah wajahnya tidak lagi sembab. Setelah diyakini wajahnya sudah kembali ceria. Dia berjalan keluar kamar. Di saat dia akan membuka pintu kamarnya, tangannyatelah didahuli oleh seseorang yang membukanya dari luar, menampakkan sosok ibunya.
"Lucy, kamu baik-baik saja? Ayahmu menghawatirkanmu." Tanya ibunya cemas.
Lucy tersenyum ceria seraya mengelengkan kepalanya. "Iya, aku sudah lebih baik. Maaf sudah membuat kalian khawatir."
Layla tersenyum lega mendengarnya, "Syukurlah kamu kembali ceria," Lucy tersenyum kecil dan mengikuti ibunya menuruni tangga ke arah ruang makan. Lucy harus meminta maaf kepada ayahnya dan keluarga Dragneel. Dia telah mengacaukan perkenalannya dengan Natsu berkat air mata tak mau dibendung.
"Ayo masuk, Lucy." Suara Layla membuyarkan lamunan. Dengan segera dia berjalan mengikuti ibunya. Lucy bisa merasakan bahwa pipi sedikit memanas karena malu telah membuat semuanya menunggu.
"Maaf aku telambat dan…" Suara Lucy tercekat. "Maaf aku telah mengacaukan semuanya." Lanjut Lucy sedikit membukukkan badannya.
"Sudahlah sayang, itu bukan masalah besar." Jawab wanita berambut dan berwarna biru mewakili semuanya, wanita yang diyakini Lucy sebagai ibu Natsu.
"Nah, Lucy duduklah." Terang Jude. Lucy mengangguk sambil mencari tempat duduk yang kosong, yang ada tempat di sebelah kanan Natsu dan sebelah kiri gadis kecil mirip dengan ibu Natsu. Tanpa disuruh dua kali, Lucy langsung menghampiri kursi kosong itu tepat saat Natsu berdiri dari tempat duduknya dan menarik kursi Lucy untuk membuat ruang lebih agar Lucy bisa dengan mudah duduk. "Silakan, nona Heartfilia." Tindakan Natsu sukses membuat pipi mulus berubah warna seperti tomat yang baru dipetik. Terdengar gelak tawa dari kursi yang ada di mereka.
"Hahahahaha….. Natsu, kau benar-benar putraku dan Grandine," ujar ayah Natsu di antara tawanya. Natsu hanya menyeringai ke arah ayahnya.
"Nah, Lucy. Perkenalkan aku ayah Natsu, Igneel Dragneel." Igneel memberikan tangan kanannya.
Lucy tersenyum lebar, "Namaku Lucy Heartfilia. Salam kenal, Paman." Lucy ikut mengulurkan tangan kanan untuk menjabat tangan Igneel. Lucy tak menyangka bahwa Natsu memiliki kehangatan yang sama seperti ayahnya.
"Dan yang disebelahku ini istriku, Grandine Dragneel." Wanita berambut biru itu mengulurkan tangan kanannya untuk menjabat tangan Lucy. "Aih, Layla, Jude, Lucy-chan kalian sungguh manis." Lucy sedikit memerah malu mendengar pujian untuknya, "Te-terima kasih, Bibi."
"Lucy, jangan pangil aku dan Grandine dengan paman dan bibi, pangil kami ayah dan ibu. Kamu akan menjadi putri kami." Igneel mengedip jahil ke arah Natsu yang langsung menatap ke arah lain, menghindari mata onyx ayahnya yang juga dimilikinya.
"Dan yang duduk di debelah kirimu, Lucy, adalah putri bungsu kami, Wendy Dragneel." Wendy langsung tersenyum manis dan segera menjawab tangan kanan Lucy. "Salam kenal Lucy-san." Lucy langsung tersenyum ramah, "Salam kenal juga, Wendy." Lucy sedikit lega karena keluarga keduanya sangat ramah dan harmonis.
"Nah, bagaimana selama kita menunggu makan malam, kita mendengar cerita pasangan ini. Bagaimana kalian bisa bertemu kali pertama?" tanya ayahnya.
"Ya benar. Ceritakanlah pada kami." Tambah Layla yang bersemangat.
Natsu dan Lucy saling pandang, Natsu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Sepertinya itu harus dimulai dari cerita Luce dulu."
Lucy mengaguk menangapi pendapat Natsu.
"Cerita itu terjadi sepuluh tahun yang lalu, saat aku dan Natsu berumur tujuh tahun."
Flashback On
Langit telah merubah warnanya menjadi oranye yang menandakan sore hari akan segera digantikan dengan malam. Matahari yang akan segera naik ke tempat tidur juga menjadi petanda nona bulan akan segera menggantikan sang raja siang.
Seorang anak perempuan berambut blonde tengah digeruti rasa cemas karena dia belum juga sampai di tempat dia dan keluarganya menginap. Dia berharap dia bisa tiba di tempat itu lebih dulu dari orangtuanya, takut mereka tahu dia telah kabur untuk melihat-lihat kota yang pertama kali didatanginya. Sesekali dia melirik ke arah luar jendela yang ada di belakang kereta kuda itu. Berharap dia segera tiba.
Tapi kekhawatirannya berganti dengan kepanikan saat mendengar suara kusir yang mengendalikan kereta, dia sempat berteriak minta tolong dan terdengar suara kuda meringkik dan tak terkendali. Anak itu semakin panik saat dia melihat dari jendela si kusir kuda tergeletak pingsan di jalan.
Air mata anak itu mulai mengalir sambil berusaha membuka jendela yang ada di sebelah kiri. Setelah berhasil terbuka, dia mengeluarkan kepalanya mencari bantuan. Mata cokelatnya menangkap sosok anak laki-laki yang sebaya dengannya. Tanpa peduli apapun, anak perempuan itu berteriak.
"TOLONG AKU! KERETA KUDA INI HILANG KENDALI!"
Anak laki-laki itu tersentak kaget mendengar teriakan minta tolong dari anak barambut blonde itu. Tanpa berpikir dua kali, anak laki-laki itu langsung berlari sekuat tenaga mengejar kereta itu.
"BERTAHANLAH! AKU AKAN SEGERA MENOLONGMU!"
Anak perempuan itu mengangguk. Sedikit lagi anak laki-laki itu bisa mengapai gagang pintu belakang, kuda yang hilang kendali tampak berusaha menambah kecepatannya. Dengan sigap anak laki-laki itu melompat dan berhasil menggapai gagang pintu belakang itu dan membukanya dengan paksa. Anak laki-laki itu masuk ke dalam kereta itu dan mendapati anak perempuan yang meminta bantuannya tadi.
"Hei, jangan menangis! Kita pasti akan baik-baik saja!" kata anak itu sambil memberikan cengiran ramahnya. Anak perempuan itu tersenyum, dengan mantap dia menghapus air matanya.
"Bagus. Ayo, kita akan keluar." Tambahnya sambil membuka jendela yang ada di kanan.
"Ayo cepat kemari!" lanjut anak itu sambil mengulurkan tangan kanannya. Anak perempuan itu membalas tangan anak itu. Tanpa disadarinya anak itu justru memeluknya dengan erat.
"He-hei! Apa yang kamu lakukan?" tanya anak perempuan itu dengan wajah yang memerah.
"Diamlah! Ini mungkin agak mengerikan, tapi ini satu-satunya jalan keluar."Jawab anak laki-laki itu.
Dengan dorongan kedua kakinya, anak laki-laki itu melompat ke luar jendela, mengarah ke arah hamparan rumput yang bertanah miring. Anak perempuan itu hanya bisa berteriak ketakutan. Saat disadarinya tubuh si gadis cilik akan menyentuh tanah lebih dulu, anak laki-laki itu langsung membalik posisi mereka agar dialah yang membentur tanah duluan. Tepat saat mereka telah bertukar posisi, mereka telah mendarat dan berputar mengikuti kemiringan tanah. Mereka akhirnya berhenti berotasi saat kelandaian tanah telah berhenti.
Anak berambut blonde itu pelan-pelan membuka matanya. Sesaat tadi dia merasa tubuhnya seperti digulung bersamaan dengan anak laki-laki yang telah menyelamatkannya itu. Tepat setelahnya dia menyadari bahwa posisinya dengan anak laki-laki itu yang masih memeluknya.
"Ah, ma-maaf…." ujar anak laki-laki itu terbata yang kemudian melepaskan pelukannya dari anak berambut blonde itu dan berdiri. Ia megulurkan tangan kanannya kepada si anak perempuan berambut blonde itu untuk membantunya berdiri.
"Kamu baik-baik saja, 'kan?" tanya anak laki-laki itu sambil tersenyum lebar.
Anak berambut blonde itu mengangguk sambil menjawab uluran tangan anak itu. "Iya, terima kasih telah menolongku." jawab anak berambut blonde itu sambil tersenyum lembut. Anak laki-laki itu memberikan grins-nya, petanda dia senang akan anak perempuan itu baik-baik saja.
"Aku tidak pernah melihatmu. Apa kau orang dari luar negeri?" tanya anak laki-laki itu.
Anak perempuan itu mengangguk, "Iya, namaku Lucy Heartfilia. Aku berasal dari Fiore. Salam kenal." Anak perempuan blonde yang bernama Lucy itu mengulurkan tangan kanannya ke atah anak laki-laki, yang baru disadarinya, berambut pink.
Anak laki-laki itu tampak terkejut mendengar nama Lucy. "Kau Lucy Heartfilia? Putri dari kerajaan Fiore yang datang berkunjung ke Vermithrax sejak dua hari lalu?"
Lucy mengaguk singkat, "Dari mana kamu bisa tahu sedetail itu?"
Mata onyx anak itu membulat mendengar pertanyaan dari Lucy, "Oh, itu kudengar dari cerita anak-anak bangsawan yang sibuk menceritakanmu."
Lucy sedikit terkejut mendengarnya. "Oh ya, memang banyak anak-anak bangsawan yang menyapaku. Tapi sayang aku tak bertemu dengan putra raja Vermithrax. Hanya dia yang tak hadir waktu pesta penyambutan."
Anak laki-laki itu tampak sangat kaget, "Kenapa kau sangat ingin bertemu dengannya?"
Lucy tersenyum manis mendengar pertanyaan anak berambut pink itu, "Kudengar dia jarang berteman dengan anak-anak bangsawan. Padahal semua anak-anak yang kutemui sangat ramah. Mungkin dia tak menyukaiku.…" seketika wajah ceria Lucy memudar digantikan raut wajah sedih.
"Tidak mungkin dia tak menyukaimu! Siapa yang tak suka bersama dengan anak periang sepertimu?" Ujar anak berambut pink cepat-cepat, kembali membesarkan hati Lucy. Berkat perkataannya, senyum kembali menggembang di wajah manisnya.
"Oya, namaku Natsu. Salam kenal!" Natsu menjabat tangan Lucy yang sempat terlupakan. Senyum Lucy semakin membesar melihat grins Natsu yang hangat.
"Natsu? Hanya Natsu?" tanya Lucy memastikan.
Natsu terdiam sesaat sebelum mengaguk, "Ya, hanya Natsu." jawab Natsu. Cengirannya tak pernah meninggalkan wajahnya. "Bukannya sudah saat kau pulang sebelum orang tuamu khawatir? Lagi pula, kenapa kau keluar dari istana tanpa ada yang menemani? Itu berbahaya untuk anak perampuan sepertimu."
Bukannya sedih akan pertanyaan dari Natsu, Lucy tertawa kecil, "Kamu orang pertama yang mengatakan 'Itu berbahaya untuk anak perampuan sepertimu.' Biasanya orang akan mengatakan 'Itu berbahaya untuk tuan putri sepertimu.'"
"Lagipula sudah dua hari aku berada di sini, aku belum pernah melihat secara langsung kota Draken ini. Mama pernah berjanji mengajakku berkeliling, tapi karena sibuk dia terus menundanya. Dan juga, kota ini memang indah dan patut untuk dikunjungi," lanjut Lucy bersemangat.
"Ya, kota tempat kelahiranku ini memang kota yang paling indah. Ngomong-ngomong bagaimana kau bisa kabur dari istana? Semenjak keluargamu datang mengunjungi Vermithrax, pengaman di istana diperketat," tanya Natsu.
"Aku menemukan bahwa penjagaan paling longgar berada di taman belakang istana. Aku cukup beruntung menemukan sebuah pintu keluar yang hanya bisa dimasuki oleh anak kecil yang tersembunyi di semak-semak mawar," jawab Lucy dengan bangga.
"Heh. Tak kusangka kau cukup pintar, Luigi."
"Hehehe, tentu saja. Dan namaku Lucy!"
"Kau bilang namamu Luigi."
"Kamu harus memeriksakan telingamu ke dokter. Namaku Lucy! Bukan Luigi!"
"Ck. Terserah kau, Luce."
"LUCY!"
"Berhenti berteriak! Kau membuat telingaku sakit. Sudah, sekarang…" Natsu memutus perkataannya sambil mendekati Lucy dan membalut mata indah Lucy dengan syal sisik miliknya.
"Na-Natsu! Apa yang kamu lakukan?" tanya Lucy yang mulai panik.
"Sudah, diam saja. Aku akan memberikanmu hadiah selamat datang ke negeri ini. Yah… memang terlambat,sih. Tapi dari pada tidak ada. Nah selesai! Sekarang, hitung sampai sepuluh. Lalu bukalah ikatannya," terang Natsu bersemangat.
Lucy yang tak mengerti hanya bisa mengangguk kecil. Kemudian mulai menghitung. "Satu." Walau dengan mata tertutup dia bisa merasakan Natsu berada di belakangnya.
"Dua. Tiga. Empat. Lima." Di saat hitungan kelima, Lucy merasakan sosok Natsu mulai menjauh darinya.
"Enam." Lucy mendengar derap kaki yang berlari kearah depan, meninggalkan dirinya.
"Natsu! Kamu mau kemana?" tanya Lucy mulai panik.
"Aku akan segera kembali! Tetaplah menghitung! Aku tak akan meninggalkanmu!" suara Natsu yang sedikit samar, menandakan jarak antara Natsu dan Lucy cukup jauh.
Lucy menghebuskan napas untuk mengumpulkan keberaniannya, "Tujuh. Delapan. Sembilan. Sepuluh!" Lucy menyelesaikan hitungannya, dengan cekatan dia melepaskan ikatan syal Natsu. "Natsu, di mana ka-" perkataan Lucy terpotong saat mata cokelatmya melihat ke arah depan.
Pemandangan paling menakjubkan yang pernah dilihat Lucy. Matahari terbenam dengan anggunnya, melukiskan nuansa oranye yang indah bukan main, melatari istana Vermithrax yang megah. Tiupan angin yang menggelitik kulit putih Lucy membuatnya sedikit kedinginan, membuatnya menutup matanya dan meninggalkan pemandangan yang indah itu sesaat. Lucy pun segera menggulung tangannya di depan perutnya dan menahan rambutnya yang mengikuti hembusan angin. Tepat saat Lucy kembali membuka matanya, pemandangan yang lebih indah kembali memanjakan mata cokelatnya. Hebusan angin membuat mawar merah yang tumbuh di halaman istana ikut menari layaknya penari waltz mengikuti irama angin, meninggalkan tangkai mereka . Pemandangan yang mungkin biasa ini tampak luar biasa dengan ikut sertanya mawar-mawar merah yang tumbuh subur di halaman istana Vermithrax itu. Lucy merasa sangat tersanjung dengan hadiah yang diberikan oleh Natsu.
Natsu? Tunggu, di mana dia? Lucy tersentak dan menoleh ke kiri dan kanan, mencari sosok anak berambut pink itu, namun tak berhasil.
"Natsu! Kamu di mana?" teriak Lucy yang mulai panik.
"LUCE!"
Lucy segera menoleh ke arah suara Natsu. Natsu melambaikan tangan kirinya ke arah Lucy, tak luput dengan dengan cengiran khasnya.
"Natsu!" Lucy berlari mendekati Natsu. Saat berada tepat di depan Natsu, Lucy menyadari Natsu sedang menggenggam sesuatu.
"Ini!" Natsu memberikan Lucy setangkai mawar putih besar. "Maaf tadi aku meninggalkanmu." Kata Natsu dengan wajah bersalah. "Mawar putih ini tumbuh tepat di depan halaman istana, jadi aku harus berlari dulu untuk memetiknya. Hanya ini yang paling besar, sepertinya baru ditanami beberapa bulan terakhir ini, jadi bunganya masih kecil-kecil." Jelas Natsu seraya menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
Lucy mengeluarkan semburat merah di kedua pipi pualam miliknya, "Te-terima kasih, Natsu." Ucapnya malu-malu sambil menerima mawar putih itu. Didekatkannya ke arah hidung manjungnya, mencium aroma khas milik mawar itu.
"Baru kali ini aku diberi bunga dari laki-laki selain oleh ayahku." Lucy tersenyum manis, menimbulkan sepasang semburat merah di pipinya.
"Tapi kenapa kamu harus jauh-jauh memetik bunga mawar putih? Di dekat sini ada mawar merah yang lebih besar dari mawar ini." Tanya Lucy penasaran.
"Mawar putih jarang diberikan untuk orang lain. Jadi akan lebih spesial jika bisa memberikan yang unik untuk orang lain." Jawab Natsu setengah tak yakin dengan jawabannya.
Lucy mengaguk senang, "Terima kasih, Natsu! Akan kujaga baik-baik."
Natsu kembali menunjukkan cengirannya, tiba-tiba terdengar dari arah jalan suara derap kuda yang berlari kencang. Bukan hanya satu, melainkan sekitar belasan kuda yang dipacu ke arah mereka.
"Gawat, itu pasti pasukan istana yang datang mencarimu! Baiklah Luce, aku pergi dulu!" Natsu segera mengambil langkah seribu untuk pergi.
"Tunggu! Beritahu aku di mana kamu tinggal! Supaya aku bisa bertemu denganmu nanti!" Cegah Lucy. Natsu seketika menghentikan pelariannya dan kembali menghadap ke arah Lucy.
"Kita pasti akan bertemu lagi! Aku tak tahu kapan, tapi…" putusnya seraya menghela napas. "Berjanjilah untuk menungguku. Aku akan datang menemuimu saat kita sudah besar."
"Ba-baiklah. Aku janji. Ambillah ini." Lucy melemparkan sesuatu ke arah Natsu yang langsung menangkapnya dengan sigap.
"Itu kalung yang baru kubeli di pasar hari ini. Jika bertemu lagi, tunjukkan itu padaku untuk menunjukan padaku bahwa kamu adalah 'Natsu' yang menolongku. Aku juga akan menunjukkan mawar putih ini sebagai bukti." Jelas Lucy. Natsu menyempati untuk melihat kalung itu, kalung dengan liontin berbentuk mawar putih.
"Oke! Sampai jumpa, Lucy! Dan tolong jangan beritahu orang tuamu soal aku yang menyelamatkanmu!" pamit Natsu sambil melambaikan tangannya, menghilang dengan cepat ke arah yang tak diketahui Lucy akan mencapai ke mana.
"Lucy!"
Lucy tersentak mendengar namanya yang dipanggil dengan suara yang sangat dikenalinya. Lucy berbalik ke arah sumber suara, mendapati sosok orang tuanya dan beberapa prajurit istana berjalan cepat ke arahnya.
"Mama!" Lucy berlari mendekat ke arah ibunya.
"Kenapa kamu keluar istana seorang diri, sayang? Mama cemas sekali waktu tahu kereta yang mengantarmu lepas kendali." Layla langsung memeluk putri tunggalnya itu. Air mata ibunya membasahi pipinya.
"Maafkan Lucy, Mama. Lucy janji tidak akan mengulanginya lagi." Ungkap Lucy dengan perasaan bersalah telah membuat ibunya cemas. Ayahnya menghela nafas lega, "Syukurlah kamu baik-baik saja, Lucy. Kami tak mau sesuatu yang buruk terjadi padamu." Jude membelai lembut rambut blonde anaknya.
"Iya, Papa! Lucy janji tak akan membuat kalian cemas lagi." Kata Lucy sungguh-sungguh.
Ayahnya tersenyum mendengarnya, "Baiklah, ayo kita pulang."
"Lucy, siapa yang memberikanmu bunga itu?" tanya ibunya yang menyadari setangkai mawar putih di tangan kanan putrinya.
"Ini hadiah dari anak yang menolongku, Mama." Jelas Lucy.
"Benarkah? Di mana dia? Kita harus berterima kasih kepadanya." Kata Lucy sambil menoleh ke sekililingnya.
"Dia tak bisa bertemu dengan Papa dan Mama. Dan dia memintaku untuk tidak menceritakan dirinya." Ungkap Lucy kepada ayahnya.
"Hmm… aneh," ucap Jude.
"Sudahlah sayang, kita bisa mencari anak baik hati itu nanti. Hal yang terpenting adalah Lucy telah kembali dengan selamat." Kata Layla.
"Baiklah. Ayo, Lucy. Kita harus berpamitan dengan keluarga kerajaan Vermithrax. Sekaligus berterima kasih sudah meminjamkan beberapa pasukan untuk membantu mencarimu." Jude meraih tangan kecil Lucy, menuntunnya ke arah kereta kuda megah milik kerajaan Vermithrax.
'Kuharap aku bisa bertemu denganmu lagi Natsu….' bisik Lucy dalam hati. Sebelum mengikuti orang tuanya memasuki kereta kuda yang akan mengantarkan mereka ke istana Vermithrax.
End of Flashback
Ruang makan yang tadi hanya terisi dengan suara Lucy yang bercerita setelah makan malam, kini diisi oleh suara isakan dari dua permaisuri dan seorang putri.
Layla dan Grandine membanjiri pipi mereka dengan air mata, membuat suami mereka tengah sibuk menghibur mereka dengan cara merangkul pundak mereka dan terus meminta tambahan tisu. Tak luput Wendy yang juga berlinang air mata.
"Ce-cerita yang indah, Lucy-san." Puji Wendy terbata-bata sambil terus menghapus air mata yang terus membanjiri pipi kecilnya.
"Ah, terima kasih, Wendy." Tanggap Lucy sambil memberikan rangkulan hangat untuknya. Wendy menyambutnya dengan senang, membuat Lucy terheran-heran akan reaksi keluarganya yang, errr, berlebihan?
"Oh, Natsu…" panggilan dari ibunya disela-sela isakannya mengundang perhatian Natsu.
"I-ibu tak pernah menyangka ka-kamu bisa lebih romantis dari Igneel." Lanjut ibunya sambil sesengukan. Membuat Natsu sweatdrop melihatnya.
"Tunggu! Apa maksudmu tadi, Grandine?" tanya Igneel jengkel.
"Ka-kamu tak pe-pernah memberikan ma-mawar." Jawab Grandine tersendat-sendat.
"Berati aku lebih hebat dari ayah, heh?" Natsu menyeringai, memperlihatkan sepasang taring miliknya.
"Belum waktunya kau mengatakan itu, dragon boy! Kau bisa mengatakannya saat kau sudah menikah dan menggantikan posisiku." Sanggah Igneel.
"Yah, itu hanya menuggu waktu…." kata Natsu dengan nada malas.
Igneel hanya menggeleng pelan kepalanya dan kembali menghibur permaisurinya.
"Oh, Natsu…" kali ini panggilan dari ibu keduanya, "Kenapa kamu tak memperbolehkan Lucy menceritakan tentangmu?"
Natsu menghela napas sebelum menjawab, "Karena aku pasti akan mendapat masalah…" jawabnya sopan. "Pertama aku pasti akan dibenci Lucy karena aku tak mau menemuinya untuk sekadar menyapa, kedua ayah akan sangat marah jika tahu aku pergi keluar tanpa seizinnya."
Pipi Lucy memerah mendengar pengakuan Natsu, "Maaf aku sempat menilaimu sebagai pangeran yang sombong." Natsu menatapnya lembut dengan senyum─bukan cengiran yang biasa─menghiasi wajah tampannya. "Tak apa, Luce. Aku minta maaf terus menghindarimu." Lucy tersenyum lembut seraya menggenggam tangan besar Natsu, yang tak kalah hangat dengan milik Igneel.
"Tapi kenapa kamu selalu menolak undangan pesta, Natsu?" tanya Layla.
"Ah, itu karena-"
"Natsu kami tak suka menjadi pusat perhatian, terutama para gadis." Potong Igneel sambil melempar senyum jahil ke arah putra sulungnya, yang dibalas Natsu dengan dengusan gusar seraya mengerling ke arah Lucy yang tertawa kecil.
"Benarkah itu?" tanya Lucy yang tak bisa menyembunyikan rasa gelinya membayangkan Natsu dikejar para putri yang ingin berdansa dengannya.
Natsu mengangguk pelan dan mengalihkan mata onyxnya dari mata cokelat tunagannya.,"Aku mulai menolak semua undangan, terutama pesta dansa, semenjak aku berumur duabelas tahun."
Lucy menganggkat sebelah alisnya, "Oh ya? Kenapa?" Natsu menghela nafas berat, dia sungguh tak suka membahas masalah itu kepada orang lain, terutama Lucy, "Para gadis itu selalu berebut ingin menyapa, berbicara, dan berdansa denganku! Entah sudah berapa pesta yang dibatalkan karena masalah kecil itu! Jadi daripada aku mengacaukan pesta, lebih baik aku tak usah datang!" jawab Nasu, membuat Lucy semakin tertawa geli. Dia mengerti alasan para gadis itu ingin mendekati Natsu. Siapa gadis yang tak mau berdansa dengan pangeran seperti Natsu? Natsu memang tidak berubah, tapi itu hanya rambut pinkish-nya dan kulit tan yang sudah dimilikinya sejak kecil. Dan sama seperti waktu kali pertama bertemu, Natsu lebih tinggi dari Lucy, dan tentu saja sekarang dia sudah seperti pria dewasa.
"Natsu selalu kedatangan surat undangan makan malam dari raja-raja yang ingin memperkenalkan putri mereka kepadanya. Dan jawabannya hanya satu, 'aku tak tertarik dengan hal membonsankan seperti itu.' Grandine sempat mengira Natsu tak normal dan, errrr, menyukai sesama…." Igneel memelankan nada suaranya dan melirik hati-hati ke arah Natsu yang menatapnya tak percaya.
"Ibu! Apa itu benar?" tanya Natsu dengan nada itu-bukanlah-lelucon-yang-bagus.
"Maaf Natsu. Itu hanya perasangka karena kamu tak pernah mengatakan sesuatu tentang wanita atau hanya sekedar melirik putri-putri cantik yang sering berkunjung ke kerajaan kita. Tapi..." Grandine memutuskan perkataannya untuk memberikan senyum lembutnya ke Natsu, "Ibu senang sekali saat kamu meminta persetujuan ibu bahwa kamu ingin menikah dengan Lucy-chan."
Natsu tersentak mendengar ibunya membocorkan rahasianya. Dengan cepat dia membuang muka dari semua orang yang tertawa akan tindakannya, kecuali Lucy yang sama memerahnya dengan Natsu, menundukkan kepalanya dan hanya berani memandang gaunnya.
"Bayangkan saja, Jude. Natsu kami yang tak pernah berkencan dengan wanita, tiba-tiba meminta persetujuan pernikahan di depan seluruh bangsawan di negeri kami dan para petinggi kerajaan. Bukan main senangnya Grandine bahwa dia akan mendapat anak perempuan lagi." Wajah Lucy semakin mirip tomat yang baru matang di pohonnya, antara malu dan senang mendengarnya.
"Dan Wendy terus memastikan Natsu tidak main-main akan pilihannya dan menanyakan kepada setiap orang seperti apa kakak iparnya ini." Wendy tersenyum manis ke arah Lucy yang langsung membalasnya dengan senyumannya yang paling manis.
"Tapi sebenarnya itu semua adalah sekenario yang Natsu dan aku persiapkan sejak lima tahun yang lalu." Pernyataan Igneel cukup membuat semua orang terkejut, kecuali dirinya dan Natsu.
"Sepuluh tahun yang lalu, setelah Natsu menyelamatkan Lucy dan kembali ke istana, dia langsung menemuiku dan mengakui semuanya, aku akan menghukumnya sampai dia bilang..." Igneel melirik ke arah Natsu, memancingnya untuk melanjutkan. Natsu menghela napas kasar. Hanya hari ini ayahnya dia perbolehkan untuk mengejeknya.
"Aku terlambat karena aku menolong seorang anak perempuan berambut blonde bernama Lucy Heartfilia, putri kerajaan Fiore. Tapi aku tak percaya dia adalah seorang putri..." Natsu memutus kalimatnya, membuat para pendengar mengangkat sebelah alis mereka dan Igneel yang memandangnya seraya meberi perintah 'cepat selesaikan kalimatmu!'. Natsu membuang napas keras-keras sebelum melanjutkan, "karena dia lebih mirip malaikat ketimbang seorang putri." Natsu bersumpah besok dia akan membalas ayahnya yang telah membuatnya malu di depan calon orang tua keduanya dan istrinya.
Jude dan Igneel tertawa menggelegar mendengar penuturan Natsu, diikuti oleh Layla dan Grandine. Wendy hanya bisa tertawa geli, tak percaya kakaknya bisa mengatakan hal seperti itu. Lucy terus memandang Natsu dengan mulut mungilnya membulat sempurna, membuat yang dipandang merasa tak enak sendiri sambil menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.
Sebuah tangan mendarat pelan di pipi pemuda itu. "Terima kasih atas pujianmu, Natsu. Aku senang kamu memujiku." Lucy tersenyum lembut ke arah sang pangeran, yng dijawab dengan cengiran khas Natsu, "Aku senang kau menyukainya." Senyum Lucy semakin melembut.
"Well, saatnya kita semua beristirahat. Kita bicara tanpa memeerhatikan waktu." Kata Layla sambil memandang jam yang ada di ruang makan yang menunjuk kearah jam sembilan.
Jude dan Igneel berdiri dari kursi makan masing-masing, membantu istri mereka berdiri dari kursi makan. Lucy yang bersiap akan berdiri, tertahan saat sebuah tangan besar terulur kepadanya. Lucy menoleh ke si pemilik, mendapati cengiran yang menghias wajah Natsu. Lucy tersenyum dan membalas uluran tangan Natsu yang membantunya berdiri dari kursinya, lalu menggumamkan kata terima kasihnya dengan pelan, terlalu malu untuk mengatakannya secara langsung secara adanya semburat tipis yang menjalar di pipinya, yang dibalas oleh Natsu dengan cengirannya yang biasa.
"Ayah, Ibu, boleh aku dan Lucy berjalan-jalan sebentar di halaman istana?" Pinta Natsu sambil berjalan ke arah Wendy untuk membantunya berdiri.
"Jangan Natsu. Sudah malam. Kamu harus beristirahat dari perjalan jauh. Besok sajalah." Cegah Grandine halus.
"Tak apa, Grandine. Tapi hanya sebentar Natsu." Kata Igneel memperingatkan putranya.
Jude mengangguk tanda setuju, "Baiklah Natsu. Setelah selesai segeralah kembali ke kamar."
Natsu tersenyum mendapat persetujuan dari ayahnya, "Aku mengerti, Ayah. Permisi." Natsu berjalan bersama Lucy ke pintu ruang makan mendahului orang tua mereka. Keluar dan berjalan ke arah pintu utama menuju keluar, tempat tujuan mereka, halaman istana.
"Natsu, kita mau kamana?" tanya Lucy sambil merangkulkan tangannya ke lengan kekar Natsu akan dinginnya malam hari.
"Tentu saja jalan-jalan. Memang mau apa lagi?" jawab Natsu yang langsung menarik Lucy lebih mendekat, membagi panas tubuhnya yang tidak dimilki orang lain.
Lucy terdiam menikmati kehangatan milik Natsu yang telah merambat ke seluruh tubuhnya.
"Nah…" Natsu memulai pembicaraan sambil mempersilakan Lucy duduk di sebuah kursi pualam yang ada di dekat sebuah air mancur yang berada di tengah halaman luas istana Fiore, mengikuti Lucy dan duduk disebelahnya.
"Aku minta maaf tidak memberitahu identitasku yang sebenarnya saat kita kali pertama bertemu," ucap Natsu serius. "Aku takut kau akan membenciku karena menganggapku sombong dan tak mau menemuimu. Aku menyesal."
Lucy tersenyum sambil mendaratkan kepalanya ke pundak Natsu, "Jangan khawatir. Aku tak mungkin membenci orang yang telah menolongku dan cinta pertamaku." Mata onyx Natsu membulat dan langsung menatap ke arah mata cokelat Lucy.
"Sejak itu aku tak pernah melupakanmu. Sosokmu terus menghiasi bayanganku… senyummu memberikanku semangat untuk terus menunggumu… kehangatanmu melindungiku," Lucy tersenyum dan kembali melanjutkan, "Aku menyukai semua yang ada padamu. Kamu berbeda dari pangeran-pangeran yang lain, itulah yang membuatmu spesial di hatiku," senyum Lucy terus menghiasi wajah cantiknya. "Aku bersyukur bisa bertemu dengan pangeranku." Lucy tersentak kaget saat sepasang tangan kekar melingkari pinggangnya, menariknya ke dekapan pemuda itu.
"Terima kasih sudah menungguku," ucap Natsu lirih.
"Terima kasih telah menempati janjimu," Lucy menarik dirinya dari pelukan hangat Natsu, "Maaf aku sempat mengira kamu telah berbohong padaku."
Natsu tersenyum lembut, "Wajar kau berpikir begitu. Aku sudah membuatmu menunggu selama sepuluh tahun. Itu karena aku harus menyiapkan persiapan yang matang."
Mata Lucy melebar sesaat, "Persiapan? Paersiapan untuk apa?"
"Persiapan untuk memerintah Vermithrax menggantikan ayahku, dan…" tiba-tiba Natsu berdiri dari tempatnya. Berdiri menghadap Lucy, berlutut dengan menggunakan satu lutut yang menompangnya.
"Untuk menjadi pasangan hidup yang tepat untukmu."
Lucy terdiam tak bisa mengatakan apa-apa. Suara seolah telah dicuri dari pita suaranya. Mata cokelatnya membulat sempurna saat Natsu mengeluarkan sebuah kotak kecil beludru berwarna merah dan membukanya, memerlihatkan sebuah cincin bertahtakan ruby berwarna scarlet, indah seperti mawar.
"Lucy Heartfilia, will you marry me?"
Air mata Lucy tak bisa dibendung lagi. Dia gunakan kedua tangannya untuk menutup mulutnya, Lucy berusaha mengeluarkan suara, namun suaranya seolah diambil darinya. Air mata tak berhenti menghujani kedua pipinya, dia juga tahu sekarang pipinya telah berwarna seperti cincin itu. Keheningan ditambah angin malam yang dingin menusuk membuat Natsu semkin penasaran akan jawaban Lucy. Tapi dia tak akan memaksa Lucy, dia tahu Lucy terkejut akan aksi dadakannya dan membutuhkan waktu untuk menjawab. Tapi yang namanya melamar akan terasa spesial jika dilakukan secara mendadak, bukan?
"Oh, ya." Akhirnya Lucy berhasil mengeluarkan suaranya memecahkan keheningan di halaman istana ini.
"Ya! Tentu saja, Natsu!" Lucy tersenyum sambil berdiri dan memeluk Natsu. Tampak kilatan syok tergambar jelas di mata onyx Natsu, membuat senyum terpoles di wajah tampan putra mahkota Vermithrax itu.
Natsu meraih tangan kiri Lucy, memasangkan cincin tunangannya kepada Lucy, seraya menghapus air mata Lucy dan membelai lembut rambut pirang indahnya.
Natsu merengkuh kedua pipi Lucy untuk mendekat dengan miliknya. Tanpa meminta persetujuan Lucy, dia mencium lembut bibir pink Lucy. Lucy bukan main terkejut dengan aksi tunangannya itu, tanpa protes dia membalas ciuman hangat Natsu, yang merupakan ciuman pertamanya. Natsu tersenyum di sela-sela ciuman mereka, sama sekali tak mau menyerah sampai akhirnya dia menarik diri akan pasokan udara yang sudah menipis, ditandai dengan nafas mereka yang terengah-engah.
"Senang bisa bertemu denganmu lagi, calon nyonya Dragneel." Natsu meraih tangan kanan Lucy, menciumnya dan membuat blushing Lucy semakin akut.
Hari ulang tahun yang dianggapnya sebagai bencana, justru mengantarkannya kepada orang yang dicintainya. Tak pernah menyangka bahwa hidupnya yang menurutnya telah divonis tidak bahagia akan berubah drastis berkat sepenggal kisah yang mempertemukannya dengan cinta sejatinya, membuktikan bahwa keajaiban akan terjadi kapan saja, di mana saja, dan siapa saja. Keajaiban yang ditakdirkan kepada Lucy Heartfilia akan kisah cintanya. Keajaiban yang mengantarkannya kepada kebahagiaan yang abadi.
~To Be Continue~
Fuh! Akhirnya terkuaklah identitas 'si pangeran'!
Mungkin banyak yang akan teriak, "Kenapa Natsu jadi fatal OOC?"
Maaf, minna-san! Karena diisini Natsu adalah Ouji, jadi harus… sopan (?)
Tapi Natsu akan sedikit kembali dengan sifatnya yang... U know what I mean?
Yosh! Saatnya membalas review!
Hikaru Dragneel : Hehehe... iya aku kembali lagi setelah hiatus akan UN! Wah, terima kasih atas doanya! Semoga hasil UN-nya sesuai yang di harapkan! Aih, arigatou atas pijiannya! ^^ Hika-senpai bener kok! Sip! Sudah kembali update!
Akemi Shuichi: ... Untuk yang ini nanti aja aku marah-marahnya. Untuk selanjutnya, jangan kasih bocoran soal kelanjutan cerita! Nanti kurang greget! Iya, Ini lanjutannya!
Hanara VgRyuu : Whoa... terima kasih atas pujiannya! Jangan sungkan-sungkan untuk memberikan kritik jika ada yang salah. :D Maaf sudah membuatmu penasaran. ^^ Iya, ini sudah ada kelanjutannya. Iya, salam kenal juga! :D
Kagura Yuki : Aih... terima kasih! xD Loh, untuk apa tertawa, tebakannya benar kok! *tepuk tangan* Maaf aku tak bisa memberikan apa-apa untuk hadiah. -_-
Sadsa : Hehe... terima kasih atas pujiannya! Ini sudah ada lanjutannya! Terima kasih sudah menunggu!:D
Nyanmaru :Maaf sudah membuat kamu bingung. -_- Terima kasih sudah menunggu! :D Ini sudah kembali update!
Mako-chan :Waduh! Semua cowok keren di FT di sebutin semua! Tunggu! Zeref? Kayaknya aku nggak sampe ke situ... -_- Maaf sudah membuatmu penasaran! Sip! Ini sudah lanjut! ^^
Haiirookami: Hehe... terima kasih atas pujiannya! ^^ Ini aku sudah update! Terima kasih sudah menunggu!
Hitosi Sagara: Hehe.. tidak apa-apa kalau gag tahu. Sekarang sudah tahu, kan! Iya, aku akan terus lanjut!
Oke! Sampai ketemu lagi di chappy selanjutnya! Matta ne~
