Previously on Can You Do It?...

Peperangan antar dua klan ini takkan pernah berakhir sebelum Kehancuran Terakhir terjadi…

Hari penyerangan pun tiba. Uruha mengerahkan seluruh prajurit terkuatnya dibawah pimpinan Aoi. Kai dan Reita berturut-turut berada digaris depan, sementara Ruki menjaga kastil kediaman Takashima. Dan Uruha menunggu untuk memberi komando pada pasukan perbatasan untuk meledakkan bendungan pada tengah hari nanti.

"Semuanya! Bergerak menuju wilayah Sakaguchi!!"

"Kehancuran Terakhir… ditakdirkan hanya untuk klan Sakaguchi…"

* * *

Page 2 – The War Begins…

"SERAAAAANNGG!!!"

Pasukan penyerang Takashima pun akhirnya menyerang wilayah Sakaguchi dibawah pimpinan Aoi. Tak tanggung-tanggung, jumlah mereka yang ribuan itu seluruhnya tertuju pada satu tempat… Kediaman Sakaguchi.

"Sakito-sama! Bagaimana ini!? Takashima menyerang dengan jumlah pasukan yang sangat banyak!" ujar Hitsugi panik.

"Aku tahu! Aku tahu! Biarkan aku berpikir!"

Tiba-tiba Yomi dan Ni~ya pun datang. "Sakito-sama! Pertahanan kita tak cukup kuat!"

"Jadi bagaimana!? Mereka akan segera menerobos masuk!"

"Arrgghh! Kurasa tak ada cara lain!" Sakito menggeram.

"Maksudmu?"

"Akan kukerahkan semua pasukan untuk menahan mereka. Dan sementara itu kita terobos menara pusat!"

"Itu gila!"

"Ini satu-satunya cara! Segera persiapkan senjata kalian! Kurasa kali ini… kita akan bertarung sampai mati…," ucap Sakito lirih.

"Aku tidak akan membiarkanmu pergi!" tiba-tiba sosok Neeyu muncul. Wajahnya terlihat sedih mendengar apa yang dikatakan Sakito barusan.

"Neeyu!?"

"Sakaguchi sudah kehilangan dua prajuritnya, dan salah satunya adikku! Aku tak ingin kehilangan apa-apa lagi, terlebih kau, Sakito!"

Sakito mengalihkan pandangannya pada ketiga rekannya yang lain. "Kalian duluan saja. Aku akan menyusul."

"Kami akan menunggumu di garis depan," ucap Yomi tatkala mereka meninggalkan Neeyu dan Sakito.

Sakito mengangguk. Dialihkannya lagi pandangannya pada Neeyu. "Mengertilah. Aku adalah pemimpin. Ini adalah tanggungjawab yang tak mungkin kutinggalkan."

"Setidaknya biarkan aku ikut denganmu!" Neeyu terisak. "Aku akan melakukan tugas apapun darimu."

Sakito terdiam sejenak. "Kalau begitu, aku punya sebuah tugas penting untukmu."

"Tugas apa?"

"Tunggulah aku disini. Aku pasti akan kembali. Dan sementara itu, kuberikan kau kuasa untuk memerintah prajuritku."

"Tapi…"

"Waktuku sempit, Neeyu," ucap Sakito. Dipegangnya erat-erat pundak gadis yang sangat dicintainya itu. "Aku janji, aku akan kembali lagi… untukmu."

Tanpa menunggu jawaban dari Neeyu lagi, Sakito pun mengecup lembut kening gadis itu. "Kita akan bertemu lagi."

Dan akhirnya, Sakito pun benar-benar pergi meninggalkan Neeyu yang masih terisak. Sebenarnya hatinya begitu berat untuk melepas Sakito. Namun memang inilah konsekuensinya.

Perpisahan ini pastilah hanya untuk sementara, batin Neeyu.

* * *

"Astaga," ucap Sakito terkejut tatkala ia melihat begitu banyak prajurit-prajurit yang bertarung di garis depan.

"Kita tak mungkin mundur lagi," ujar Yomi. "Ayo!"

Mereka pun akhirnya memantapkan langkah mereka menuju kediaman Takashima. Mereka terus berlari, menembus hutan, melewati daerah tersembunyi agar mereka tak terperangkap diantara kerumunan dua pasukan yang sedang berperang.

Syuuutt!

Tiba-tiba sebuah anak panah melesat dengan cepatnya. Hampir saja anak panah itu mengenai Sakito kalau tak segera ditangkis oleh Ni~ya. Sosok yang bersembunyi diatas pohon ek itu pun membidik panahnya lagi. Busur yang dipegangnya merenggang dengan sangat lebar, sementara tangannya siap melesatkan anak panah yang dipegangnya.

Syuuutt!

Sebuah anak panah dilepaskan lagi.

Ptaaang!

Tanpa diduga, anak panah itupun kembali ditangkis lagi oleh Ni~ya.

"Ha-ha-ha, cukup hebat kau bisa menangkis seranganku," ucap pria itu. Kali ini wajahnya terlihat ketika sinar matahari bergeser dan bayangan yang menutupi wajah pria itu menghilang.

"Itu Kai! Pemanah terhebat klan Takashima!" ucap Ni~ya. "Kalian, pergilah! Aku akan menahan orang ini!" lanjutnya.

"Tapi, Ni~ya! Kalau bertarung satu lawan satu begini…"

"Dengar, aku tak menjamin aku bisa mempertahankan nyawaku disini, karena itulah…"

"Ni~ya, kami tak mungkin meninggalkan…"

"Kami mengerti, Ni~ya," sela Sakito.

"Tapi, Sakito-sama!"

"Hitsugi, seorang prajurit takkan pernah rela jika tak diijinkan untuk berkorban. Bukan begitu, Ni~ya?"

Ni~ya mengangguk pelan. Namun Hitsugi yang melihatnya bahkan tak mengerti sama sekali maksud perkataan Sakito.

"Kalau begitu kami duluan. Arigatoo, Ni~ya." Sakito pun membungkuk, memberikan penghormatan terakhir untuk Ni~ya.

Ni~ya balas membungkuk. "Semoga berhasil."

Akhirnya dengan berat hati, Sakito, Yomi, dan hitsugi pun meninggalkan Ni~ya dengan Kai. Sementara itu Kai bersiap dengan panahnya. Membidiknya, lalu…

Jleb!

Sebuah anak panah tertancap di pundak Ni~ya.

"Arghh!"

Jleb!!

Belum sempat Ni~ya memegang lukanya, Kai memanahnya lagi.

"Sudah kuduga. Bahkan kaupun tak mampu menahan seranganku."

"Tutup mulutmu! Pada akhirnya kaulah yang akan mati!"

"TARIK KEMBALI PERKATAANMU!!" Kai pun melompat turun dari pohon tempatnya berdiri. Ia membidik panahnya lagi. "Mati kau!"

* * *

"Perasaanku tidak enak…"

Dengan perasaan yang campur aduk, Sakito, Hitsugi, dan Yomi melanjutkan perjalanan mereka menuju kediaman Takashima. Sedikit lagi mereka akan sampai di gerbang perbatasan depan. Hitsugi menyiapkan kedua pedang yang bertengger di pinggang kanan dan kirinya. Ini adalah kali pertama Hitsugi melakukan sesuatu yang senekad ini, tak heran jika ia merasa sedikit takut. Namun entah mengapa, ia merasa ketangguhan hati Sakito-lah yang seakan membuatnya menjadi kuat.

"Itu dia," ucap Sakito tatkala mereka sampai didepan gerbang.

"Besarnya…," ucap Yomi.

"Kalau begitu, tunggu apa lagi? Ayo masuk!"

"Tunggu, Hitsugi!" Sakito menarik erat tangan Hitsugi.

"Apa lagi!?"

"Ini aneh. Ada sesuatu yang tidak beres."

"Maksudmu?"

"Lihat itu. Seluruh wilayah didepan gerbang kosong. Tak ada prajurit sama sekali."

"Bukankah mereka semua pergi ke wilayah kita?"

"Tapi tak seharusnya mereka semua pergi. Pasti ada beberapa yang berjaga di garis belakang. Hanya saja…"

"Sakito-sama! Awas!!"

Braakk!

Yomi mendorong keras tubuh Sakito hingga ia tersungkur di tanah. Sebagai gantinya, tubuh Yomi terluka akibat terkena serangan lemparan kunai.

"Y-Yomi!!"

"Ughk! T-Tak apa, Sakito-sama…"

"Ah, manisnya," ucap Aoi yang tiba-tiba muncul dibelakang mereka. Dan ternyata bukan cuma Aoi, tetapi juga Reita. Dan parahnya lagi, ditambah pasukan Takashima yang jumlahnya sekitar seratus orang. Mereka mengepung Sakito, Yomi, dan Hitsugi dari segala arah.

Yomi pun menarik keluar pedangnya. Sebuah kemantapan terlihat jelas dalam matanya. "Dengan segala hormat, Sakito-sama, bisakah aku dan Hitsugi memintamu untuk pergi lebih dulu?"

"Apa!? Tapi, kalian!?"

"Pergilah duluan. Biar kami yang mengurusnya untukmu."

"Tapi mereka terlalu banyak!"

Tiba-tiba Hitsugi maju kedepan. "Seorang prajurit takkan pernah rela jika tak diijinkan untuk berkorban. Bukan begitu, Sakito-sama?" tanyanya seraya tersenyum.

"Hitsugi…"

"Percayalah. Oke?"

"Tapi bagaimana dengan kalian?"

"Tak apa, Sakito-sama. Terimakasih untuk semuanya, dan kepercayaanmu, tentu saja."

Entah mengapa kata-kata Yomi barusan seakan seperti sebuah kalimat perpisahan di telinga Sakito. Pria itu terenyak mendengarnya. Ia dapat melihat sorot mata yang teduh dari paras Hitsugi dan Yomi. Ya, sebuah kesungguhan. Sebuah ketangguhan hati yang sama seperti yang dimilikinya.

"Semoga berhasil. Kutunggu kalian di menara sana," ucap Sakito.

Sakito pun bergegas pergi. Ia menerjang beberapa prajurit-prajurit Takashima yang ada dihadapannya dengan sebilah pedangnya. Lagi-lagi, perasaannya begitu berat. Seluruh emosi bercampur aduk dalam hatinya. Bagaimana tidak, ia harus meninggalkan iteman-temannya/i bertarung mempertaruhkan nyawa demi dirinya. Namun, lagi-lagi, inilah konsekuensinya…

"Yomi, kau siap?"

"Untuk bertarung? Tentu."

"Yah, oke. Setidaknya kalau kita mati…"

"…aku akan dikenang sebagai prajurit paling mesum di klan Sakaguchi. Ha-ha," celetuk Yomi.

"Kau!"

"Nah, kurasa kita sudah berada pada puncaknya.," ucap Reita. "Kalau begitu, SERANG MEREKA!!"

* * *

"Hah, hah, hah." Kai berusaha mengambil napas sebanyak yang ia bisa. Bertarung dengan Ni~ya ternyata memang bukanlah perkara mudah. Ia hamper kehabisan tenaga, begitu juga anak panahnya. Sementara Ni~ya terluka sangat parah karena serangan Kai yang terkadang membabi buta. Namun, separah apapun kondisi musuhnya itu, tetap saja Kai merasa bahwa ia tak cukup kuat untuk melanjutkan pertarungan ini. Akhirnya Kai pun memutuskan untuk melakukan sesuatu yang sangat fatal.

Sebuah jurus yang bahkan belum pernah ia gunakan sebelumnya.

Kai mengangkat busur panahnya tinggi-tinggi. Diarahkannya bidikan panahnya itu menuju ke langit yang mulai meneteskan air hujan. Ditariknya sebuah anak panah yang paling berbeda dari anak panah yang lain. Ia pun meletakkan anak panah itu pada tempatnya.

Kai pun membidik, bersiap menembak. Sementara itu Ni~ya sama sekali tak mengerti dengan apa yang dilakukan musuhnya.

Namun akhirnya tanpa pikir panjang lagi, Ni~ya langsung berlari menuju Kai untuk menghunuskan pedangnya dengan sisa tenaganya yang terakhir. "Hiyaaaahh!!"

"Dengan ini, kau dan aku akan mati bersama!" ujar Kai. "Kusebut ini 'Shi no Shigure'. Hujan Kematian!!"

Kai pun lantas menembakkan anak panahnya itu ke langit. Matanya terpejam tatkala anak panahnya menembus salah satu awan.

* * *

"Kai, tak bisakah kau mengundurkan diri dari tugas ini?" Sosok Yuu berdiri di ambang pintu kamar Kai. Tatapannya berubah jadi sendu ketika ia melihat Kai tengah mempersiapkan diri untuk bertarung di garis depan.

Kai terdiam. Sesaat kemudian ia mengalihkan pandangannya pada Yuu. "Tak biasanya kau begini," ujarnya seraya tersenyum.

"Aku hanya… takut."

"Takut? Memangnya apa yang harus ditakutkan?" Kai mendekatkan dirinya pada Yuu.

"Aku takut kau tidak kembali, Kai."

"Tenanglah. Aku bukan lagi seorang prajurit yang lemah, Yuu. Kali ini perang ini akan benar-benar berakhir. Dan Takashima-lah yang akan menang. Lalu setelah itu…"

"Setelah itu?"

Kai pun mengeluarkan sebuah cincin dari sakunya. "Aku janji… Kita akan menikah."

Bayang-bayang kenangan itu terlintas jelas dalam ingatan terakhir Kai. Janjinya pada Yuu, cincin yang ia berikan, dan senyuman Yuu yang sangat cerah tatkala jari manis gadis itu dilingkari sebuah cincin yang sangat indah. Mata Kai pun berkaca-kaca melihat awan yang terbelah diatasnya.

"Yuu… Maafkan aku yang tak bisa menepati janjiku," ucap Kai lirih. Tetesan air mata terlihat jatuh dari matanya.

Bersamaan dengan itu, hujan turun dengan derasnya. Namun bukan hanya hujan, kilatan-kilatan putih pun mulai muncul dari atas langit. Itu bukanlah petir, melainkan anak panah Kai yang jumlahnya ribuan. Ribuan anak panah itu meluncur turun dengan cepatnya. Ni~ya pun sontak terkejut menyaksikan pemandangan yang dilihatnya.

"I-Ini!?"

"Inilah yang terakhir yang bisa kulakukan untuk Takashima," ucap Kai. "Dengan jurus ini takkan ada diantara kita yang selamat. Kau dan aku… Kita akan mati bersama!"

Dan akhirnya…

DHUUUUAAAAARRRR!!!!

Ribuan anak panah itu pun menghantam tanah yang dipijak Kai dan Ni~ya. Dan tentu bukan hanya tanah tempat mereka berdiri yang dihujami hujan panah itu, tetapi juga tubuh mereka berdua. Tubuh lemah Kai dan Ni~ya yang telah terluka parah pun tertusuk ribuan anak panah Kai.

Dan seketika itu juga mereka tewas…

* * *

"Uruha-sama… Apa tadi kau melihat kilatan putih di langit sana?" tanya Ruki yang tengah berjaga di menara bersama Uruha. Ia begitu terkejut ketika melihat ribuan kilatan putih melesat di langit, karena yang ia tahu, satu-satunya yang bisa menimbulkan fenomena seperti itu hanyalah jurus rahasia Kai.

"Ya, aku melihatnya."

"Mungkinkah ini artinya…?"

Uruha menghela nafas panjang. "Kai sudah tewas…," jawabnya pelan. Namun entah mengapa, Ruki seolah tak melihat adanya raut kesedihan dalam wajah Uruha.

"Haruskah ia tewas dengan cara seperti itu?" ucap Ruki lirih. "Seharusnya prajurit sehebat Kai bisa gugur dengan cara yang lebih terhormat."

"Ia memang gugur dengan cara yang terhormat, Ruki. Ia mengorbankan nyawanya demi klan Takashima."

Ruki terdiam. "Kita kehabisan orang untuk menjaga gerbang masuk," ujarnya mengalihkan pembicaraan. "Salah satu dari Sakaguchi itu pasti sudah berhasil menerobos kedalam wilayah kita."

"Bagaimana dengan Aoi dan Reita?"

"Mereka tak ada di garis depan. Atau… bagaimana kalau aku saja yang menjaga daerah depan menara ini?"

"Ya. Kurasa itu ide yang bagus. Bunuh saja siapapun yang mencoba masuk ke sini."

"Baik." Ruki pun lantas meninggalkan Uruha dalam ruangan paling atas menara itu.

* * *

Dengan sedikit tenaga yang tersisa, Sakito terus dan terus berlari menuju kediaman Uruha. Ia tak peduli dengan kondisi tubuhnya yang sudah lelah lantaran daritadi ia terus berlari menempuh jarak yang sangat jauh. Tetes demi tetes keringat mengucur dari pelupuk matanya. Terlihat jelas raut kelelahan mulai memenuhi wajahnya.

Braak!

Tiba-tiba Sakito terjatuh ketika ia tepat berada didepan pintu masuk menuju menara tempat Uruha berjaga. Nafasnya benar-benar tersengal.

"Ah, ternyata benar. Kau sampai kesini." Tiba-tiba muncullah Ruki dari dalam bangunan itu.

"Hah, hah, hah." Sakito berusaha membangkitkan tubuhnya lagi seraya mengambil nafas. "Sial sekali nasibku," ujarnya seraya terkekeh.

"Sayangnya aku tak bisa memberimu kesempatan untuk hidup."

Syuuutt!

Ruki pun meniup sumpit beracunnya yang ia sembunyikan dibalik punggungnya. Dan sumpit beracun itu sukses tertancap di tubuh Sakito dan membuat pria itu kesakitan. Sakit yang benar-benar diluar batas.

"Arrgghh!!" Sakito tersungkur ke tanah. Ia benar-benar meringis karena tak tahan dengan rasa sakit yang menjalari seluruh tubuhnya. Racun buatan Ruki benar-benar bereaksi dengan cepat.

"Tenang saja. Rasa sakitnya cuma sebentar. Tak lebih dari semenit lagi kau pasti akan mati," ucap Ruki. Ia pun akhirnya meninggalkan Sakito yang tengah tersiksa karena rasa sakit itu. Ruki pun masuk kembali kedalam menara untuk menemui Uruha, dan memberitahu bahwa ia telah berhasil merobohkan Sakito.

Dan seketika itu juga keringat yang mengucuri tubuh Sakito semakin banyak. Kulitnya memucat, nafasnya mulai habis dan detak jantungnya melemah.

Matanya terpejam…

"Sakito …!"

Tiba-tiba sebuah suara terngiang di telinga Sakito. Sebuah suara yang sangat dikenalnya. Suara Ruka.

Sakito pun mencari-cari sumber dari suara itu, namun tak dapat ditemukannya karena semua terlihat putih.

Namun tak lama kemudian, ia melihat dirinya sendiri. Dirinya ketika masih berumur 7 tahun.

Ia melihat dirinya sendiri yang tengah bermain dengan Ruka kecil. Mereka terlihat begitu bahagia bisa bermain bersama.

"Ruka-kun! Tunggu aku!"

"Ayo, cepat, Saki! Bolanya terlempar ke semak-semak!"

Namun tatkala Sakito kecil hampir menggapai tangan Ruka, dua tangan besar menarik tubuhnya.

"Tuan Muda! Jangan bermain disini! Ayo pulang!"

"Tunggu dulu! Aku masih ingin bermain dengan Ruka-kun!"

"Tidak bisa! Anda itu pangeran. Anda harus kembali!"

"Ruka-kuuunn!!"

Sakito pun melihat wajah Ruka kecil yang memelas. Wajahnya terlihat sedih ketika Sakito kecil dipaksa untuk pulang ke kediamannya.

Tanpa Sakito sadari, setitik air mata jatuh dari salah satu matanya. Itulah terakhir kalinya ia bisa bermain dengan Ruka, sahabat masa kecilnya. Namun semenjak Sakito naik tahta, terlebih setelah kematian keluarganya, ia seakan melupakan sosok Ruka dan benar-benar melenyapkan Ruka dari masa lalunya.

"Jahat sekali… Aku begitu jahat padanya…," Sakito terisak.

Plok!

Tiba-tiba sebuah tangan menepuk pundak Sakito. Sakito pun mengalihkan pandangannya, mencoba mencari siapa yang menepuk pundaknya tadi. Dan ia begitu terkejut ketika melihat sosok Ruka tersenyum di belakangnya.

"Belum saatnya bagimu untuk mati…," ucap Ruka pelan.

To Be Continued…….