Disclaimer : Kuroko no Basuke
belongs to Tadatoshi Fujimaki

But this story is mine

Genre : Romance, Friendship

.

Rate : T

.

Main Cast : Akashi Seijuro and Furihata Kouki

Main Pair : AkaFuri

Warning : OOC, Typo(s), Yaoi

.

Don't Like Don't Read

.

Evening Sky

.

Chapter 02

Furihata mematung. Tidak tahu harus berkata apa, membuat suasana di kamar penginapan itu terasa begitu canggung.

"Kenapa diam saja?" Akashi bertanya, mencoba mengajak Furihata berbicara dengannya─kali ini Akashi sudah mengenakan kaos putih polos tanpa lengan dan juga celana pendek abu-abu selutut.

"A-aku tidak terbiasa berbicara dengan umm orang asing." Jawab Furihata agak terbata dengan telinganya yang terlihat memerah karena menahan malu.

"Pfft. Orang asing?" Akashi sedikit terkejut ketika mendengar jawaban Furihata tentang anggapan bahwa dirinya adalah orang asing. "Bagaimana bisa aku disebut orang asing? Bukankah kita sudah saling mengetahui nama masing-masing?"

Furihata memainkan jari tangannya. Terlalu gugup untuk membalas ucapan Akashi. Ia juga bingung apakah ucapan Akashi barusan adalah sebuah pertanyaan yang harus di jawab atau tidak. Tapi kalau pun ingin menjawab, ia terlalu bingung akan mengatakan apa. Jadi apa sebaiknya dirinya diam saja?

"Sudahlah, pertanyaanku tadi tidak perlu kau jawab." Ucap Akashi serata menyentil pelan dahi Furihata yang agak berkerut karena berpikir terlalu keras. "Lebih baik sekarang kau suapi aku. Aku sudah sangat lapar."

"E-eh? Ta-tapi aku ti-"

"Tamu adalah Raja. Dan permintaan Raja itu absolut. Sama sepertiku. Jadi kau tidak boleh menolaknya, Kouki." Akashi memotong ucapan Furihata. Tersenyum penuh kemenangan setelah Furihata mengambil sendok dan mangkuk berisi sup miso yang masih hangat. Menyendoknya dengan perlahan untuk kemudian ia arahkan ke depan mulut Akashi.

"I-ini. Bu-buka mulut Anda."

"Ini masih agak panas. Bisa kau tiup agar lidahku tidak terbakar, Kouki?" Kembali Akashi mengajukan permintaan yang membuat wajah Furihata merona.

"Ta-tapi.."

"Aku adalah Raja. Ingat?"

Dengan sekuat tenaga Furihata menahan rasa malunya, mulai meniup sesendok sup itu hingga di rasa sudah tidak panas lagi. Setelahnya kembali mengarahkan ke depan mulut Akashi yang kali ini sudah terbuka.

"Enak." Komentar Akashi saat sudah menelan sup itu. Melirik kearah hidangan lain yang ada di hadapannya. Mengambil sebuah tomat ceri lalu mengarahkan ke depan mulut Furihata. "Kau juga makanlah." Perintah Akashi dengan seringaian tampan di wajahnya.

Furihata kembali merasakan seluruh wajahnya memanas, namun tetap membuka mulutnya dengan perlahan. Menggigit setengah dari tomat ceri tadi dan mengunyahnya. Melirik kearah Akashi untuk menunggu perintah apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Dan betapa terkejutnya ketika dirinya melihat Akashi memakan tomat ceri yang tadi baru saja ia gigit.

"A-apa yang-"

"Ini manis. Sama sepertimu."

Uh. Oh. Sepertinya Akashi cukup lihai dalam permainan ini. Bermainan dengan hati para pemula dalam hal percintaan.

.

.

.

Selesai dengan kegiatan suap-menyuapi yang berhasil Furihata lalui meski dengan jantung yang terus saja berdebar-debar dengan cepatnya-membuat dadanya agak sesak karenanya, Furihata kini tengah membereskan semua peralatan makan yang tadi digunakannya untuk menyuapi Akashi, yang sekarang ini tentu saja masih duduk manis berhadapan dengannya sambil memperhatikannya. Nampaknya jantung Furihata kembali harus di uji.

"Semuanya sudah selesai di bereskan. A-aku permisi dulu." Pamit Furihata sudah dengan nampan di tangannya. Hendak segera pergi dari ruangan itu namun kembali langkahnya terhenti saat Akashi memanggil namanya.

"Kouki, mulai besok aku ingin kau menemaniku berjalan-jalan di desa ini." Ucapnya. "Kau mau kan?"

Furihata menoleh kearah Akashi-namun tidak menatap matanya-hanya untuk memberikan satu anggukan kecil dan setelahnya kembali berpamitan. Melenggang pergi keluar kamar Akashi begitu sang tamu itu berucap

"Baiklah. Selamat malam, Kouki. Mimpi indah."

Dan tentu saja dapat di bayangkan bagaimana debaran jantung di dada Furihata kembali berdebar dengan kencangnya.

'Ah, sepertinya aku memiliki penyakit jantung.' Batinnya.

.

.

.

Esok harinya, sesuai seperti permintaan Akashi, Furihata sudah terlihat siap dengan kaos putih bergambar kucing serta celana pendek selutut berwarna cokelat. Tapi sebelumnya ia ikut membantu neneknya menyiapkan sarapan pagi Akashi yang pastinya akan ia antarkan.

Membawa nampan berisi nasi, sup miso dan lauk seperti ikan bakar, tamagoyaki, natto dan acar yang sudah tersusun rapi di beberapa piring kecil. Serta tidak lupa membawakan teh hijau hangat sebagai minumannya.

Berdiri di depan pintu kamar Akashi untuk meminta izin pada sang pemilik kamar, menggeser pintu itu setelah Akashi menyuruhnya masuk. Dengan perlahan Furihata meletakan nampan yang ia bawa di meja persegi yang ada di tengah ruangan itu. Berencana untuk pergi agar Akashi dapat menikmati sarapannya, namun entah bagaimana dirinya malah berakhir duduk di sebelah Akashi, kembali menyuapi sang Tuan Muda.

.

.

.

Waktu sudah menunjukan pukul 9 pagi. Akashi dan Furihata sudah siap untuk pergi berjalan-jalan di sekitar desa sesuai dengan permintaan yang di ajukan Akashi kemarin. Berpamitan dengan neneknya terlebih dahulu sebelum ia pergi bersama Akashi, tak lupa berpesan pada neneknya untuk berhati-hati di rumah selama ia pergi.

"Kita akan berjalan kaki. Tidak apa-apa kan?" Tanya Furihata ketika mereka sudah akan meninggalkan penginapan itu.

"Aku tidak keberatan. Lagipula itu akan membuatku sehat." Jawab Akashi.

"Apa Tuan yakin? Sebenarnya kalau mau, Tuan bisa naik sepeda. Tapi hanya ada satu di sini."

Akashi menaikkan sebelah alisnya. "Oh, ya? Kalau begitu kita naik sepeda saja."

"Eh?"

"Ayo cepat tunjukkan aku di mana sepedanya." Ucap Akashi tak sabaran.

"Ba-baik, Tu-"

"Ah, dan jangan panggil aku tuan. Panggil saja Sei." Potong Akashi. "Lagipula sepertinya kita seumuran."

Furihata hanya memandangi punggung Akashi yang tengah berjalan lebih dulu─mencoba mencari sepeda itu sendiri─dan ketika Akashi berhenti berjalan, tentu saja wajah Furihata dengan mulus menabrak punggung yang ia perhatikan sedari tadi.

BRUK

"Kouki?" Sontak Akashi menoleh, kemudian menemukan Furihata tengah mengusap-usap hidungnya yang terlihat memerah. "Haha, kau ini makanya kalau jalan hati-hati." Suara tawa itu membuat jantung Furihata berdegup sedikit lebih kencang, membuang wajahnya kearah lain untuk menutupi rasa malunya.

"Se-sepedanya ada di gudang penyimpanan barang di depan Tu-maksudku Akashi-san." Ucap Furihata pada akhirnya, nyaris kembali memanggil Akashi dengan sebutan tuan─meskipun ia juga tidak memanggilnya Sei.

Tanpa banyak bicara Akashi langsung saja masuk ke gudang penyimpanan itu, mengambil sepeda yang tersimpan di sana dan segera menaikinya.

"Ayo naik." Ajaknya.

"Eh?" Furihata agak kaget. Bukankah seharusnya dirinya yang membonceng Akashi?

"Kenapa diam saja? Ayo naik."

"A-aku saja yang membonceng Akashi-san. Akashi-san itu tamu, jadi tidak perlu memboncengku."

Akashi menatap Furihata agak lama lalu tertawa setelahnya. "Kau ingat kan, tamu adalah Raja. Dan perintah Raja itu absolut." Kembali kata-kata itu keluar dari mulut Akashi. Kata-kata yang membuat Furihata mau mengikuti apa kemauannya. Dan setelahnya dapat terlihat dua orang pemuda tengah menyusuri jalan kecil di sepanjang desa dengan sepeda mereka, mengayuhnya perlahan, membiarkan angin menerpa wajah mereka. Namun sesekali kayuhan sepedanya menjadi sangat cepat, sengaja dilakukan oleh si pengayuh agar bisa menyuruh pemuda di belakangnya untuk berpegangan padanya. Dan pemuda berambut merah itu pun tersenyum ketika merasakan adanya tarikan kecil pada kaosnya, sedangkan pemuda yang satunya lagi tengah sibuk berusaha untuk menstabilkan detak jantungnya yang kembali berdetak lebih cepat dari biasanya.

.

.

.

TBC

.

.

Jei kembali membawa apdetan untuk FF ini xD Terlalu singkat? Iya begitulah, ide sudah mentok sampe sini karena beberapa faktor. Salah satunya tugas dan tugas orz

Dan seperti FF Jei yang lain, kemungkinan besar FF ini juga akan mengalami keterlambatan (?) Karena Jei yang memang di awal April nanti akan ada ujian jadilah di sibukkan dengan tugas, bimbel, les, try out, dan beberapa ulangan lainnya. Jadi intinya FF ini akan lanjut setelah Jei selesai UN. Dan Jei harap readers sekalian masih mau menunggu Jei :') Doakan saja UNnya lancar, jadi Jei bisa segera meng-apdet FF ini /aamiin/ Sekian dari Jei, bai bai '-')/

RnR please!