THeiR cHoiCE

Chapter 2: The Decision

Sore hari. Entah kenapa, kastil itu sepi. Yuuki sedang duduk nonton tv di atas sofa yang tadi pagi ramai oleh para vampir yang membaca koran Aidou.

Tiba-tiba, tangannya menyentuh lipatan sofa dan di dalamnya terselip koran.

" Nani kore?" tanyanya, dan diikuti dengan rasa penasaran, ia membuka lipatan koran yang lecek itu.

Kemudian..terlihatlah..

Tulisan pemberitahuan besar yang ber-title kan WANTED. Yang bikin Yuuki syok, pengumuman di lembaran koran itu, tertera atas nama..

Ya, seseorang yang amat dikenalnya!

Zero Kirriyu!

Yuuki terbelalak dan syok." Ze..zero..Massa ka.." sahut Yuuki terbata-bata dan dengan segera menyusuri kata per kata yang ada dengan panik.

Tertulislah di lembar koran tersebut,

WANTED. Huruf besar-besar itu di bawahnya terdapat lengkap dengan foto diri Zero. Dijelaskan di koran itu, bahwa Zero telah memangsa hingga mati seorang gadis dan 2 gadis lain yang mengalami anemia hebat dan sampai sekarang masih belum sadar. Ia dianggap sebagai monster buronan asosiasi pemburu vampir. Asosiasi tempat Zero bekerja itu menganggap Zero adalah monster yang juga telah berkhianat. Dijelaskan pula bahwa seseorang yang berinisial Y ( yang Yuuki yakini sebagai Yagari-sensei) dan orang yang berinisial CK ( yang Yuuki yakini sebagai Cross Kaien), yang menolak menyerahkan Zero dan malah menyembunyikannya, diancam hukuman dibuang dari kota.

Kekagetan dan rasa bersalah Yuuki semakin menjadi-jadi. Ia sekarang hanya bisa menunduk syok dan menangis perlahan, nyaris tanpa suara. Entahlah, akhir-akhir ini Yuuki sangat sering menangis, terutama jika sudah menyangkut Zero..

Ia tidak tahu kenapa, tapi hatinya selalu terasa amat sakit ketika memikirkan Zero..dan..penderitaannya kini sebagai vampire, yang sudah tidak lagi bersama dirinya.

Bukannya Yuuki GR, tapi ia tahu sekali bahwa dengan ia yang tidak lagi bersama dengan Zero, keadaan Zero pasti akan memburuk, terutama masalah kevampir-annya, tanpa dirinya.

Yuuki menangis pelan dan bergumam sendiri, nyaris seperti berbisik," Gomen, Zero..kau pasti sangat menyesal karena sudah melakukan hal ini..hal yang dahulu kau benci dan selalu mati-matian kau tahan akhirnya sekarang dilakukan olehmu..Maaf..maaf, Zero..aku sudah membuatmu melakukannya..Ini salahku.." katanya, seakan sedang berbicara di hadapan Zero.

Disaat itu, kamar Aidou yang terletak persis di sebelah sofa tempat Yuuki sedang menangis sedirian, terbuka.

Aidou pun muncul dan (tentu saja) mendengar sedikit isak tangis di dekatnya, dan buru-buru menengok. Terkejutlah ia melihat Yuuki yang sedang menangis pelan..mukanya pucat..pucat karena syok..

"Yu..Yuuki-sama..! Kenapa? Ada apa?" tanyanya panik.

Yuuki tak menghiraukan keberadaan Aidou. Pada saat itulah, sudut mata Aidou menangkap pandangan sesuatu. Ia menatap lembaran koran yang sedang dipegang (sedikit diremas dan basah, nampaknya oleh air mata)di tangan kiri Yuuki.

Ia terkejut. " Ma..massa ka.." sahut Aidou, nampak takut jika koran itu telah terlihat oleh Yuuki, dan berisi hal yang ditakutkannya.

Ia pelan-pelan mengambil koran itu dari tangan Yuuki. Kemudian buru-buru dibukanya dan sejurus kemudian, ia langsung sangat mengerti penyebab Yuuki menangis.

Koran ini..koran inilah yang tadi pagi ramai dibicarakan oleh vampire-vampire di kastil sama-sama takut jika lembar itu dibaca Yuuki, yang pastinya dapat membuat ia kembali syok.

Mereka semua sudah sepakat untuk tidak berbicara soal isi berita dalam koran tersebut, tapi, kini justru Aidou lah yang ceroboh, menaruh koran itu di lipatan sofa dan membuatnya dilihat oleh Yuuki-sama, orang yang paling tidak mereka inginkan untuk mengetahui isi berita tersebut.

Aidou menatap kelu dan kasihan pada Yuuki, sambil didalam hati terus bersungut-sungut kepada dirinya sendiri, 'Baka! Kenapa aku malah menaruh koran itu di lipatan sofa, sih? Harusnya tadi kubuang, atau kubakar aja sekalian!'

Aidou kini tak bisa berkata maupun berbuat apa-apa. Ia hanya bisa menatap Yuuki yang masih menangis pelan, dan berwajah sangat syok.

Ia khawatir, khawatir sekali. Tapi..apa yang bisa diperbuatnya?

Setelah cukup lama berpikir, akhirnya Aidou pun mulai bersuara dengan diawali sebuah hembusan nafas, " Yuuki-sama sudah melihatnya, ya? Maaf, tadi pagi kami tidak ingin memperlihatkan ini kepada Anda, karena takut membuat Yuuki-sama kembali syok.."

" Doushitai yo, Aidou-senpai? Kenapa aku melakukan hal sebodoh itu? Aku sangat mengerti keadaannya, tapi kini malah menyusahkannya! Dahulu, aku ingin menjadikan diriku sebagai pendukungnya, sebagai kekuatan baginya. Maka dari itu aku selalu berusaha membantunya..Namun kini..bukannya membantu, akulah yang…" kata Yuuki, usai mengatakan hal itu, tangisnya menjadi sedikit lebih menjadi-jadi.

Tiba-tiba, saat itu, ditengah keterpurukannya atas rasa bersalah inilah, Yuuki sadar tentang perasaannya bagi Zero..dan melahirkan satu tekad bulat yang matang.

"Bagaimanapun, aku harus bertindak.." tekadnya

Aidou merasa sangat bersalah. Lidahnya terasa kelu untuk menghibur Yuuki-sama, dan ia sangat-sangat-sangat khawatir. " Yuuki-sama.." sahutnya. Kini, hanya kalimat itulah yang dapat ia katakan.

Tak lama setelah itu, Yuuki terlihat berusaha menenangkan dirinya sendiri, setelah tangisnya terhenti dan nafasnya sudah mulai teratur, ia mulai menghapus bekas-bekas air matanya.

Kemudian, ia berjalan mantap ke arah telepon. Aidou masih memperhatikannya.

-ooo-

Yuuki menekan nomor-nomor pada telepon itu. Nomor itu…nomor yang sangat ia hapal dari dulu, nomor ruangan Kepsek Cross Gakuen, nomor ruangan kerja ayah angkatnya dahulu.

Trr…trrrr…

Yuuki menunggu suara di ujung sana dengan harap-harap cemas, semoga ayah angkatnya masih di sekolah, masih di ruangannya…

Kemudian, terdengarlah suara di ujung telepon sana, suara yang amat dikenalnya..

" Moshi-moshi..siapa ini?" suara orang di seberang telepon itu, terdengar formal.

Yuuki lega..beban sekaligus kekhawatiran di hatinya sudah lumayan berkurang. Ia tahu bahwa yang mengangkat teleponnya kini masih baik-baik saja..

Ottosan angkatnya..

Cross Kaien..

" Moshi-moshi..siapa sih ini? Hei..salah sambung ya?" suara itu kembali menyahut, kali ini dengan nada bicara yang sama sekali berubah. Nada bicara yang lebih mirip nada bicara waria.

" Ottosan.." kata Yuuki, mulai berbicara.

" He? Ini..Yuuki? Hontou ni Yuuki? Wah, aku senang kau meneleponku, Yuuki! Ottosan rindu..Jahatnya..kenapa kau baru menelepon sekarang, sih Yuuki?" kata Cross Kaien dengan nada waria+nada merengek.

Yuuki geli. Ia terkekeh kecil. Senang rasanya mendengar suara ayah angkatnya yang unik ini lagi..

" Gomen, Ottosan.." katanya, sambil tersenyum tipis. Walau didalam senyum tipis itu masih kentara kesedihannya, namun ia terlihat sedikit bahagia.

Aidou tersenyum lega melihatnya..

" Lalu? Kenapa kau menelepon, Yuuki? Ah, pasti karena rindu padaku, iya, kan?" tanya Cross Kaien GR, walau itu kenyataan.

Yuuki tersenyum membenarkan." Sou desu yo, Ottosan..Hmm..Ottosan sehat? Bagaimana urusan sekolah?" tanya Yuuki.

" Sehat, sehat..Sekolah juga lancar..sekarang sudah mau ulangan kenaikan lho, Yuuki..semua murid..ah, juga Yori-chan, sobatmu sekarang sedang rajin-rajinnya belajar. Kalau Yuuki masih disini pasti aku sudah menyuruhmu belajar, Yuuki-chan..Atau setidaknya, Iinchou sudah mendesakmu untuk belajar, supaya nilai rata-rata kelas ga anjlok.." kata Kaien, menceritakan manusia-manusia yang dulu selalu bersama Yuuki, yang dulu selalu dialaminya setiap hari.

Yuuki pun kembali bernostalgia dalam ingatannya..Yori-chan..pa kabarnya, ya? Ia pergi meninggalkan tempat itu tanpa memberitahu sobatnya. Yah..meskipun ia tidak bisa memberitahu sebabnya, sih..Tapi pasti..sudah berakhir..Ketika aku kembali ke sana dan mungkin bertemu Yori-chan, ia pasti sudah tidak bisa mengenaliku lagi..ingatannya pasti sudah dihapus..karena berbahaya kalau ia masih mengingat tentangku, padahal ia mausia biasa..

Lamunan Yuuki terpotong oleh sebuah sahutan.

" Yuuki?" kata Kaien.

"Eh..eh..hahaha..aku melamun..gomen, gomen, Ottosan.." kata Yuuki, dengan sedikit tawa tambahan,walaupun..terdengar tidak begitu riang.

" Kamu melamunkan mereka, ya?" tebak Kaien lagi.

" Eh..iya, memang..aku sangat rindu mereka..tapi..mereka pasti baik-baik saja tanpaku.." sahut Yuuki.

Suara Kaien di ujung sana terdiam.

" Ottosan?" sahut Yuuki.

" Oh, iya, ya..ada apa, Yuuki?" tanya Kaien balik.

" Em..ano..gomennasai..!" kata Yuuki lagi,pelan..

" Soal apa? Soal ga nelepon tadi? Aduh, Yuuki, iya ga pa-pa..Udah dimaafkan,kuq.." sahut Kaien.

" Iie..bukan soal itu..Ini soal..berita..dan soal Zero..aku lihat..bahwa..Zero sudah menggigit habis 1 manusia, dan 2 orang anemia berat. Benarkah itu, Ottosan? Dan..kau..beserta Yagari-sensei..terancam…" kata Yuuki, menggantungkan ucapannya.

Sekejab, suasana jadi kaku dan tegang. Butuh beberapa detik untuk Cross Kaien agar menjawab pertanyaan Yuuki itu.

" Kamu tahu dari mana?" katanya, nada waria hilang dan berganti nada serius dan tegas.

" Di koran..tidak sengaja.." kata Yuuki.

Cross Kaien terdengar menghela nafas. " Yah, benar apa kata berita itu…Zero memang..sudah melakukan hal itu..aku dan yagari-sensei memang..yah, seperti yang kau tahu..tapi tenang saja, Yuuki. Semua akan baik-baik saja..dan kamu tidak perlu minta maaf..Itu bukan salahmu.." katanya, tegas.

" Tapi! Akulah yang telah mengubah Zero kembali menjadi vampire, Ottosan! Seharusnya ia sudah menjadi manusia normal usai pertarungan itu..tapi aku malah..menjadikannya sebagai vampire lagi! Padahal aku sudah tidak akan di sana lagi dan tidak akan kembali menemaninya dan selalu sedia menyodorkan darah untuknya..Aku yang telah membuat Zero kembali menjadi vampire, hingga...sekarang ia tidak bisa menahannya lagi..dan akhirnya ia melakukan hal yang paling tidak ingin ia perbuat!" sahut Yuuki, sedikit histeris.

" Ok,Yuuki..Sebenarnya, sepenuhnya bukanlah salahmu..salah Zero juga kenapa ia menerima perbuatanmu..kalau aku boleh bilang, ini salah kalian berdua..dan keadaan, tentu saja.." katanya, bersuara bijak.

" Lalu, Zero sekarang? Kenapa bisa terjadi hal seperti itu?" Yuuki pun bertanya dengan rentetan pertanyaan.

" Saat itu..Zero sedang ke kota..Ia nampaknya menahan nafsu akan darahnya lebih dari sebulan.. Yah, ia juga mungkin tidak tahu lagi harus memperoleh darah dari siapa..Aku dan Yagari tidak tahu..Kami pikir keadaannya sedang bagus saat itu karena ia sudah tidak begitu liar lagi..dan kami menyuruhnya ke kota, sendirian. Dan..terjadilah pada saat itu..ia tiba-tiba kehilangan kontrol akan dirinya dan langsung menghabisi darah cewe yang berada di sampingnya kala itu..Kini ia sedang berada di penjara bawah tanah sekolah, karena jujur saja, keadaan dirinya yang sedang liar-liarnya karena darah yang ia minum belum cukup,sangat sulit untuk dikendalikan..nafsu vampinya mendesak dirinya terus untuk mencari korban..dan dari sisi psikologis, ia sangat depresi, ia merasa bersalah sekali karena telah melakukan hal itu, tapi tidak bisa menahan nafsu vampirnya. Kami ingin melindunginya..walau..kemarin..nyaris ia jatuh ke " level e', namun kini sudah berkurang. Kami tidak tahu akan sampai kapan mengurung dia disana.." sahut Kaien.

Yuuki tertegun. Matanya berair dan air mata telah menggenangi kelopak matanya. Ada satu tangis yang berhasil tumpah, namun cepat-cepat ia hapus.

" Ottosan..besok..aku akan kesana..aku akan kembali..setidaknya untuk mengurangi segala beban Zero dan Ottosan..aku akan coba memberikan Zero darah yang amat diinginkannya.." kata Yuuki.

" Kamu akan kembali? Yuuki, keadaan Zero sekarang ini sangat liar, bahkan oleh vampire pureblood seperti dirimu.." sahut Cross Kaien, memperingatkan.

" Aku tahu, Ottosan..tapi aku..akan coba bertanggung jawab atas apa yang telah kuperbuat.." sahut Yuuki, mantap.

" Kamu yakin?" kata Kaien lagi.

Yuuki mengangguk mantap dan berkata, " Ya.."

" Hhh..Baiklah..aku tidak bisa melarangmu.." kata Kaien disertai dengan helaan nafas.

" Arigatou, Ottosan..Aku akan kembali pagi-pagi, mungkin sampai di sana siang. Kalau begitu, sudah dulu, ya, Ottosan..Jaa ne.." balas Yuuki, berniat menyelesaikan percakapan teleponnya.

" Wakatta..Jaa ne, Yuuki.." balas Kaien.

Dan usai mendengar suara itu, telepon ditutup oleh Yuuki.

" Ashita..aku harus siap dengan segala yang akan terjadi besok.. Apapun itu..Gomen, Zero..aku melanggar janji kita.. Tapi, aku berharap aku dapat menolongmu..dan pada saat itu, akan kukatakan sesuatu…" tekad Yuuki dalam hati.

Ia segera berjalan memasuki kamarnya dan masuk ke dalam. Ia sangat penat dan lelah hari ini..Ia harus siap tenaga..demi besok..

-ooo-

Cuuit..cuuit..cuuitt…terdengar kicau burung yang ramai terdengat dari pinggir jendela kamar Yuuki, sinar matahari pagi pun sedikit banyak menerpa wajahnya, dan Yuuki pun bangun karenanya.

Pagi pun tiba..

Yuuki yang terbangun, membuka jendela kamarnya, dan memperhatikan burung-burung di pinggir jendelanya.

" Miina-san..ohayou gozaimasu.." sahut Yuuki menyapa burung burung itu.

Cuuit..cuuit..cuuit..

Burung-burung itu bersiul seakan menjawab sapaan Yuuki. Namun, Yuuki yang memang masih seorang vampire, ternyata masih tidak tahan akan sinar matahari. Walau ia suka, matahari pagi sekarang ini merupakan hal yang tidak bisa dinikmatinya lama-lama.

Cepat-cepat ia kembali menutup jendela kamarnya, dan ia segera melangkah ke kamar mandi.

Sssrrrr…

Suara air shower dari kamar mandi Yuuki terdengar jelas. Sambil mandi, pikiran Yuuki kembali melayang-layang, membayangkan hal yang akan terjadi nanti. Perasaannya antara senang, karena akan kembali bertemu orang-orang yang dulu sangat dekat dengannya, ketika ia masih seorang Cross Yuuki yang manusia. Dan antara..khawatir..akan berbagai kemungkinan yang mungkin terjadi pada dirinya.

Tapi..Yuuki bertekad untuk melakukan..segala yang mampu ia lakukan..demi..Zero..

Yuuki melangkah keluar dari kamar mandi. Rambut Yuuki yang masih basah sedikit, menetes-netes ke lantai. Ia segera bersiap. Ia mulai berpakaian, dan sedikit mengeringkan rambutnya. Setelah selesai, ia keluar dari kamar.

" Ohayou, Yuuki-sama.." sapa Rima dan Shiki berbarengan. Mereka berdua sedang menyiapkan meja makan untuk sarapan bersama.

Mendengar kedatangan Yuuki, bergegaslah Aidou, Akatsuki, Ruka, dan..Kaname-niisama menyapanya.

" Ohayou, Yuuki-sama.." sapa Aidou, Ruka, dan Akatsuki.

" Yuuki..ohayou.." sapa Kaname dengan nada lembutnya yang elegan.

" Minna-san..ohayou gozaimasu.." balas Yuuki kepada seluruh vampire di rumahnya. Sambil tersenyum lembut khas dirinya yang amat manis dan menawan, juga dengan suaranya yang riang. Melambangkan Yuuki yang dulu, sebelum menjadi vampire. Selalu energik, riang, ramah dan lembut.

Semua vampire-vampire itu tertegun melihatnya. Sudah lama, Yuuki tidak seceria ini..Meskipun selama 6 bulanan ini ia selalu bersama kami, ia belum pernah kembali seutuhnya menjadi Yuuki yang energik, riang, dan ceria, seperti sosok yang mereka kenal sebagai manusia. Setelah ia menjadi vampire, seorang Yuuki lebih banyak terdiam, cool, dingin, serta menangis..Selama mereka mengenal Yuuki yang masih manusia, sangat jarang Yuuki menangis.

" Ja,Kaname-niisama, kyou wa ii tenki ne?" kata Yuuki, membuka percakapan basa-basi dengan Kaname.

" Ee..sou yo.." balas Kaname.

" Nah, ayo sarapan.." kata Ruka sambil menyodorkan hidangan sarapan ke meja makan. Ada sereal, wafel, telur ½ matang, roti, dan masih banyak hidangan sarapan lainnya.

Yuuki mengambil sepotong roti, telur ½ matang, dan susu beserta semangkuk salad untuk sarapannya.

" Jaa, Yuuki-sama..kapan kita akan berangkat?" tanya Shiki.

" Eem..jam berapa yah?" kata Yuuki sambil menengok ke arah jam dinding. Jam menunjukkan jam 8.45 pagi.

" Eemm..jam 10 pagi aja bisa, Shiki-senpai? Tanyanya.

" Tentu" balas Shiki.

Yuuki tersenyum simpul dan manis sebagai jawabannya. Kemudian, ia menikmati sarapannya dengan para vampire-vampire itu dengan riang. Ia banyak mengobrol dan bercanda dengan mereka.

-ooo-

Waktu pun berlalu..Kini jam sudah menunjukkan pukul 09. 30. Setengah jam lagi Yuuki akan berangkat kembali ke Cross Gakuen, namun bukan untuk kembali bersekolah di sana, tentu saja.

Kini ia memasuki kamarnya, kemudian mematut dirinya di depan kaca. Diraihnya sebuah pisau kecil dari tas kecilnya, lalu perlahan tapi pasti, mulai mengumpulkan rambut panjangnya ke arah kiri. Dan mengayunlah pisau kecil itu..

Ssrrrk..!

Dalam satu tebasan pisau kecil itu, terpotonglah segenggam rambut panjang Yuuki yang tadi digenggamnya. Kini rambut Yuuki tidak lagi panjang. Rambutnya menjadi rambut tanggung kembali. Satu persatu rambutnya berkibar indah usai terpotong, melambai-lambai dan dengan anggunnya kembali ke posisi semula.

Segenggam rambut panjang Yuuki dibuangnya ke tempat sampah. Kemudian ia membuka lemari bajunya, dicarinya seragam lama Cross Gakuen Day Class. Segera ia berganti baju dengan seragam itu, lengkap dengan armband Guardiannya, tanda bahwa dia Anggota Guardian, yang bersama dengan Zero, menjaga identitas murid Night Class. Atributnya yang lain pun segera ia pasang. Senjata artemis-nya kembali diikatkan di pahanya di balik rok, dipakainya kalung dan gelang Cross Gakuen. Dan terakhir, sepatu boot Cross Gakuen dipakainya.

Sekali lagi, Yuuki mematut dirinya didepan kaca. Ia nampak seperti Yuuki yang dulu, Yuuki yang manusia. Rambut lurus tanggungnya berkibar-kibar, dengan seragam hitam Day Class milik Cross Gakuen, aksesori-aksesori Cross Gakuen, sepatunya yang dulu..tak lupa ia mengibaskan rok pendeknya, dan tersembullah artemisnya yang masih terikat dengan kuat di pahanya yang diambilnya tas kecil di atas mejanya.

Yuuki tersenyum simpul dan puas. " Dengan ini, beres.." gumamnya, dan melangkah keluar kamar.

Diluar kamar, Shiki dan para vampire lain sudah menunggu. Shiki sudah siap dengan kunci mobil yang digenggamnya. Ia dan vampire lain melihat Yuuki yang sudah siap dan tertegun sejenak.

" Sudah siap, Yuuki-sama?" tanyanya.

Yuuki mengangguk " Ayo, Shiki-senpai.."balasnya.

Shiki bergegas keluar mengambil mobil. Kini, Yuuki bersama dengan Kaname dan Aidou, Akatsuki, Rima, dan Ruka.

" Yuuki-sama..anda berdandan seperti dahulu lagi.." tegur Ruka.

" Iya, aku kangen memakai seragam ini lagi. Lagipula, aku ingin tahu apa reaksi Ottosan dan Zero melihatku begini.." balas Yuuki riang.

Yang lain hanya tersenyum.

" Yuuki..hontou ni? Kamu benar-benar akan kesana?" tanya Kaname, terdengar menegaskan dengan nada dan raut muka khawatir.

" Ee..sudah pasti, Kaname-niisama..Jangan khawatir..semua akan baik-baik saja..terima kasih sudah mencemaskan aku.." balas Yuuki, dan kata terakhirnya juga ditujukan untuk vampire-vampire yang lain.

" Yuu..Yuuki-sama..! Pasti kembali, ya?" kata Rima.

" Betul, Yuuki-sama! Kamu harus kembali..! Kami tidak keberatan kok tinggal bersama si Zero.." sahut Aidou menambahkan.

Yuuki tidak menawab. Ia hanya tersenyum kalem dan penuh makna. Dan pada saat itu, suara mobil yang dibawa Shiki terdengar sudah mengeluarkan bunyinya. Tanda Shiki sudah siap.

" Jaa, sayonara, miina-san.." kata Yuuki akhirnya. Ia memperhatikan sekilas para vampire-vampire itu, yang nampak masih keberatan melepasnya. Ia pun berbalik dan segera berlari menuju mobil, dan setelah ia msuk, mobil pun melaju, siap mengantarkan dirinya kembali ke tempat dulu ia pernah berada..

-ooo-

Setelah 2 jam perjalanan dari kastilnya, kini Yuuki telah berada..di halaman depan tempat yang sangat dinantikannya.

Cross Gakuen..

Tempat ia dulu mengenal semuanya. Zero, Yori-chan, Iinchou..dan terbayang hari-harinya kala itu yang manis.

Shiki mengarahkan mobil ke wilayah tempat gedung kantor sekaligus rumah Kepsek Cross Gakuen.(Maklum ,sekolah asrama ini luas sekali, dan tempatnya tediri dari kavling-kavling wilayah.)

Setelah 15 menit, akhirnya Yuuki sampai di depan gedung Kepsek. Ia turun di situ.

" Arigatou ne, Shiki-senpai..sudah mengantarkan aku.." kata Yuuki kepada Shiki.

" Tidak masalah, Yuuki-sama.." kata Shiki, dengan nada menggantung.

" Anu..Yuuki-sama..pasti akan kembali, kan? Kutunggu, ya, Yuuki-sama..Saat kau memutuskan untuk kembali, teleponlah hpku, nanti akan segera kujemput secepatnya!" kata Shiki.

Lagi-lagi, Yuuki tidak menjawab, tidak pula hanya tesenyum simpul…

Melihat itu, Shiki nampak sedikit kecewa. Namun tidak ada lagi yang bisa dilakukannya, jadi sekarang..ia hanya bisa..memutarkan kembali mobil itu..dan kembali ke kastil Kaname…

-ooo-

Yuuki segera memasuki bangunan kantor sekaligus rumah Kepsek itu. Ia masuk, dan menyusuri lorong tempat itu dengan perlahan-lahan. Tiap langkah membawa seluruh ingatan pada tubuhnya melayang-layang mengingat tempat ini.

Kemudian tibalah ia, di depan ruang Kepsek.

Took..took..toook..

Ketika pintu diketuk Yuuki itulah, terdengar suara dari dalam.

" Siapa itu? Masuk saja.." kata Cross Kaien dari dalam ruangan.

Yuuki pun membuka pintu, dan terlihatlah ruangan dan orang yang sangat familiar sekali dibenaknya.

Ottosan angkatnya..dan ada pula..Yagari-sensei..

" Ah, Yuuki! Kamu sudah datang!" sambut Kaien riang, dengan nada warianya. Ia segera menghampiri Yuuki dan segera memeluknya erat-erat.

" Okaerinasai, Ottosan..A, aduh, Ottosan..sakit ah..Jangan membuat badanku remuk, dong!" balas Yuuki, sambil sedikit bercanda.

Kaien segera melepaskan pelukannya dari Yuuki.

" Hidoi yo, Yuuki.." katanya, merajuk.

" Mou..Ottosan ini.." kata Yuuki geli dan akhirnya ia sendiri yang memeluk Kaien pelan.

Yagari yang melihat semua ini tertegun. Matanya membelalak.

" Gakuchou..apa maksud semua ini?" katanya.

Kaien segera melepaskan diri dari pelukan Yuuki.

" Yagari ini! Ia kan Yuuki, ia sedang kembali ke sini..untuk menemui aku.." katanya menggantung dengan genit, " dan Zero.." lanjutnya.

" Iya, aku tahu ia siapa. Tapi..bukannya.." kata Yagari-sensei masih takjub akan semua pemandangan ini dan menggantungkan perkataannya.

" Sou desu yo, Yagari-sensei. Aku memang Yuuki..tapi aku bukan lagi Yuuki yang manusia..kini tubuhku sudah menjadi vampire..aku hanya kembali berpakaian seperti ini, dan memotong rambut vampire ku yang panjang..supaya dari luar, aku masih nampak seperti dulu.." jelas Yuuki dengan sendirinya.

" Mau apa kau ke sini?" tanya Yagari-sensei tajam.

" Maksudku ke sini sama seperti apa yang disebutkan Ottosan tadi..aku hanya ingin kembali bertemu, dengan Ottosan..serta Zero..Namun alasan yang spesifik adalah..aku akan mencoba..bertanggung jawab. Akan kucoba menghilangkan penderitaan vampire Zero.." katanya, pelan dan mantap.

Yagari-sensei menghela nafas. " Terserah kamulah..Tapi ingat, jangan mangsa murid-murid di sini!" tegasnya.

" Hai.. Wakarimashita.." kata Yuuki, mengangguk.

" Saa, Yuuki. Ayo makan siang dulu yuk, bersama Ottosan? Setelah itu, baru kau selesaikan masalahmu dengan Zero.." kata Kaien, menagajak Yuuki.

Yuuki mengangguk " Boleh.." katanya, dan mengikuti Kaien ke ruang makan.

-ooo-

Makan siang Yuuki kali ini terasa sangat nikmat. Ia kembali bersama Cross Kaien, walau kini Zero belum berada di sisinya. Mereka terus mengobrol nostalgia akan kejadian dahulu..

Usai makan, Kaien segera menyilangkan garpu dan sendok di atas piringnya sambil berkata, " Yuuki, jadi sekarang? " tanyanya.

Yuuki jelas mengerti maksudnya. Ia akan diajak menemui Zero.

" Hai.." kata Yuuki, mengangguk.

Kaien berdiri. " Kalau begitu, ikutilah aku. Tapi ingat, Yuuki, kondisi Zero sedang cukup liar sekarang..Dahulu saat terjadi hal ini aku merahasiakannya dari kamu, takut kamu syok dengan Zero. Tapi kini kamu harus siap, ya?" tanyanya.

" Baik.." kata Yuuki, sembari memantapkan hatinya. Ia tidak akan takut sebagaimanapun Zero yang akan ia temui nantinya. Ia harus mengingat bahwa itu Zero..orang yang sangat berarti bagi dirinya dan hendak ditolongnya..

Yuuki memasuki bangunan bawah tanah Cross Gakuen yang bahkan tidak pernah ia ketahui. Ia menuruni tangga berliku-liku yang panjang, hingga sampai di sebuah pintu kuno yang dikunci bahkan dengan 2 gembok.

Kaien segera mengambil kunci dari kantong bajunya, dan mulai membuka gembok-gembok yang mengunci pintu itu. Begitu pintu telah terbuka, Yuuki segera menengok ke arah dalam. Begitu melihat keadaannya, Yuuki tak sanggup berkata-kata. Matanya membelalak dan refleks langsung membekap mulutnya.

Keadaan Zero benar-benar..

Menyedihkan..Kemeja putih Zero masih berlumuran darah, tubuhnya meronta-ronta dengan liar dan terlihat benar-benar lemas, raut wajahnya yang terlihat sekilas sangat kuyu dan lelah, namun terkadang wajahnya kembali menjadi beringas, dan matanya berkilat kemerahan. Tanda vampir yang sangat haus darah. Tangan ia diborgol di sebuah tiang.

Ya ampun..Yuuki benar-benar tidak tega melihat Zero seperti ini..!

Rasa bersalah Yuuki semakin berlipat ganda, ia nyaris menangis, suaranya bergetar-getar, hendak berbicara, namun tidak sanggup mengucapkan sesuatu.

Kaien melihat reaksi Yuuki dan merangkulnya dari belakang.

" Maaf, Yuuki…Kamipun tidak tega, tapi jika tidak dibegitukan, mungkin ia akan memangsa lebih banyak orang lagi..Zero pun sepertinya sudah lelah menuruti tubuhnya yang haus darah.." kata Kaien lembut dan sangat simpatik.

Dengan susah payah, akhirnya Yuuki berhasil bersuara, dengan suara yang amat bergetar, " Ze..Zero.." sahut Yuuki.

Zero tersentak. Tubuhnya seakan membeku. Ia ingat sekali suara itu. Tapi tidak mungkin.. Tidak..orang itu pasti bukan…

Dan ditolehkannya wajahnya, berusaha melihat siapa yang datang. Benarkah itu…Yuuki? Mengapa ia disini?

1001 pertanyaan bergelayut dalam benak Zero. " Yuu..Yuuki?" katanya bersuara, dengan suaranya yang terdengar amat sangat lelah dan berat.

Yuuki menatap ke arah Cross Kaien dan berisyarat padanya untuk meninggalkan ia berdua dengan Zero. Kemudian berbisik kepada Kaien untuk minta diserahkan kunci borgol Zero.

" Kamu yakin, Yuuki?" tanyanya, memastikan kepada Yuuki.

Yuuki mengangguk mantap.

" Baiklah. Ingat..hati-hati ya.." kata Kaien, dan keluar dari ruangan. Pintu pun ditutup, tapi tidak dikuncinya.

Yuuki mendekat perlahan ke arah Zero..Lama kelamaan, butir air matanya semakin jelas menetes.

Zero juga tidak kalah kagetnya. 'Yuuki? Kenapa ia berada di sini? Ini..Yuuki yang dulukah, Yuuki yang manusia? Ah, bukan! Ia hanya berpenampilan seperti itu, ia tetap vampire! ' batin zero berkata.

Namun, setengah dari hatinya merasakan suatu rasa damai yang aneh, karena Yuuki berada di dekatnya..

" Sagatte, Yuuki!" bentak Zero kepada Yuuki dengan seluruh ditundukkan.

" Iie.." balas Yuuki, tetap pada pendiriannya semula dan tetap melangkah menuju Zero.

" Omae! Doushite koko ni? Kubilang, kita tidak akan.." ucapan Zero terpotong oleh sebuah reaksi dari dirinya. Reaksi vampirnya yang sedang menginginkan darah.

Zero terbatuk-batuk sambil berusaha menahan dirinya. Yuuki yang sudah berada di dekatnya, segera jatuh terduduk. Kemudian, di tengah Zero yang sedang terbatuk-batuk..Yuuki..

Memeluknya..

Zero bagai membeku. Ia tak bisa berkata-kata. Disaat itu pulalah, Yuuki mulai berbicara.

" Gomennasai, Zero..! Hontou ni gomennasai..! Kamu jadi sangat menderita karena aku..! Gomennasai, Zero..! Gomen, ne..!" tangis Yuuki meminta maaf dengan air mata deras yang membasahi kerah kemeja Zero. Tangisnya amat keras. Kini segalanya tumpah begitu saja.

Zero masih membeku. Namun entah kenapa, suatu kekakuan di hatinya mulai mencair..Sedikit..demi sedikit..

" Yuuki..apa yang kamu lakukan? Kenapa di sini?" kata Zero akhirnya, setelah sedikit sadar dari segala kekakuannya.

Yuuki tersenyum tipis, ia menjawab sambil meraih kunci borgol Zero dan membukanya.

" Selama aku tinggal dengan Kaname-niisama dan vampire lainnya, aku sadar kalau selama ini aku yang bersama kamu sangat menyenangkan..Aku merasa suatu kekosongan karena tidak lagi bersamamu..Sampai pada akhirnya, aku tahu ternyata kau belum terbebas dari nasib vampire yang terus mengintaimu..Terlebih lagi, akulah yang membuat kamu kembali menjadi vampire setelah harusnya kamu menjadi manusia biasa lagi, suatu kehidupan manusia normal yang kau impikan sejak dulu, kan,Zero? Namun aku dengan seenaknya sendiri, melepaskan hal yang bagaikan mimpi dari dirimu itu, dan membawamu kembai ke mimpi buruk. Karena itu aku kembali.. Aku ingin melepaskan dirimu dari nasib vampire pemberianku.." kata Yuuki, sambil menggenggam tangan Zero.

Zero terbelalak. Lagi-lagi..ia merasakan kehadiran Yuuki yang dulu..Yuuki tetaplah Yuuki..yang selalu hangat dan perhatian kepada semua orang, sekalipun kini ia adalah Yuuki yang vampire.

Zero merasakan segala kerinduannya terhadap Yuuki menumpuk saat itu juga..Ia sebenarnya juga sadar, Yuuki-lah yang menopang dirinya selama ini. Dan kejadian ini bisa terjadi..sedikit banyak adalah karena tidak adanya Yuuki lagi.

" Yuuki..ore wa.." kata Zero, kemudian terdiam dan tidak jadi melanjutkan perkataannya.

Yuuki sedang mengikat dan mengangkat rambutnya ke atas.

' Apa yang akan ia perbuat..?' tanyanya dalam hati.

Kemudian Yuuki mendekati bibir Zero. " Saa, Zero..kubilang aku akan membebaskan dirimu dari takdir vampire pemberianku, kan? Kamu pasti tahu, caranya menghilangkan itu. Mengisap darah ' master' mu..Nah, kini akulah mastermu. Dozo..Zero..silahkan nikmati darahku.." kata Yuuki mempersilahkan Zero untuk mengisap darahnya.

Zero tertegun. Yuuki tetaplah Yuuki. Ia tetap dengan sukarela memberikan darahnya untuk membantunya. Tak peduli itu Yuuki yang manusia ataupun Yuuki yang vampire..

Hasrat darah Zero yang menggunung segera membuat dirinya untuk langsung menggigit darah Yuuki.

JLEEB..!

Taring Zero yang menyentuh kulit leher Yuuki terasa sakit..sekaligus..nikmat..kenikmatan yang hanya bisa diketahui oleh kaum vampire..

Zero mengisap darah Yuuki lama sekali..lama..dibandingkan dahulu saat Yuuki masih manusia…

Tapi Yuuki tidak masalah..Darah vampire nya tidak akan habis selama ia tidak terkena senjata anti-vampire di jantungnya. Darah itu akan terus ber-regenerasi…

Setelah waktu yang cukup lama diisapnya darah Yuuki, ( menurut ingatan Yuuki sekitar sejam) akhirnya Zero usai mengisap darah Yuuki.

Efeknya langsung terlihat saat itu juga.

Taring dan mata berkilat kemerahan vampirenya menghilang, begitu juga dengan tato vampire yang berada di leher kanan Zero. Kini, tidak ada setitik pun nafsu darah yang berada pada diri Zero, bahkan setelah melihat banyak darah disekitarnya.

" Zero? Daijyoubu? Bagaimana?" tanya Yuuki.

" Ee..nampaknya vampire di dalam diriku sudah hilang sepenuhnya.." Kata Zero dengan nada lega yang amat sangat.

Kemudian melanjutkan perkataannya, " Arigatou, Yuuki.." kata Zero dengan senyum dirinya.

Senyum yang berbeda dari zero yang dulu. Senyum yang benar-benar terasa ringan, berbeda dari senyum Zero dulu yang dikenalnya, yang walaupun tersenyum, tapi tetap terasa penuh beban.

" Yokata, ne.." balas Yuuki, dengan senyumnya yang paling manis pula.

Dan setelah keheningan yang sesaat setelahnya, Yuuki akhirnya bersuara.

" Ne, Zero.." katanya.

" Nani?" balas Zero.

" Aku ingin..menyatakan sesuatu..Uummm..Zero.." kata Yuuki, sambil menunduk.

Zero menanti apa yang akan dikatakan Yuuki dnegan penasaran. " Nani?" ulangnya berkata.

Yuuki memandang lurus ke arah Zero.

" Zero..atashi.." sahut Yuuki, kemudian dengan kecepatan yang tidak diduga oleh Zero, Yuuki..

Menciumnya..

Zero terkejut. Amat sangat terkejut. Wajahnya yang biasanya kaku dan dingin kini menjadi mencair, dan wajahnya memerah.

" Aishiteru yo, Zero.." kata Yuuki akhirnya, sambil kembali menatap Zero lurus. Terlihat sebersit rona kemerahan padanya, tapi nada dan tatapan matanya tegas menatap Zero.

Zero memalingkan wajah.

" Hontou ni?" kata Zero.

" Hontou.."kata Yuuki tegas.

" Dulu..kau bilang kau menyukai Kaname, kan? Apa maksudnya? " tanya Zero akhirnya.

" Dulu memang..Dulu kurasa perasaanku kepada Kaname-niisama memang suka, dan kepadamu hanya rasa suka terhadap orang yang selalu besar bersama seperti saudara. Namun, setelah jauh darimu dan tinggal dengan Kaname-niisama, aku baru sadar kalau yang kurasakan selama ini terbalik. Justru aku mencintaimu, Zero. Kepada Kaname hanyalah rasa suka terhadap saudara dan suatu kekaguman terhadapnya. Tidak lebih..!" kata Yuuki, menegaskan.

Zero menengok ke arah ia tahu bahwa Yuuki kali ini serius.

" Baiklah..aku juga akan mengaku.." katanya.

" Yuuki..aku juga.."sahutnya, menggantung.

" Aishiteru..sudah dari dulu..bahkan semenjak pertemuan pertama kita pas masih anak-anak 6 tahun silam, aku sudah jatuh cinta kepadamu. Kehangatan dirimu mencairkan diriku yang dingin, Yuuki. Dari dulu..sampai sekarang.." kata Zero akhirnya.

Yuuki terharu. Ia sangat terharu.

Terharu kali ini adalah terharu bahagia. Air mata senang sudah menggenang di kelopak matanya.

Yuuki kembali memeluk Zero dan berkata, " Wakatteru yo, Zero..aku akan selalu mencintaimu..Kore kara mo..Zutto.."

-ooo-

THE END

Kyaa..! Akhirnya karya fic perdana q yang super panjang akhirnya jadi juga,

Ini hasil editan dari yang pertama. Kuharap ga ada lagi yang salah ketik n lebih jelas dibaca disbanding yang dulu.

Gimana menurut kalian, di fic q ini Yuukinya terlalu cengeng ngga, dikit-dikit nangis? Lebay ga sih critanya? Please review, eah!

Walo fic ini lama banget kutulis nyicil-nyicil n jadi sekitar sebulanan, ide fic ini sih muncul dah lama sebelum sempat ditulis, malah pas tengah-tengah ulum kenaikan dulu.

Hahaha..

Gile, orang malah lagi ulum, otak bukannya isi rumus n hapalan, malah ide fanfic. Pantaslah kalo ranking q lumayan anjlok dibanding semester lalu.

Yosha..!

Untuk selanjutnya aku akan berjuang dengan baik di akademik skula n bikin fic yang lebih baik dari pada karya perdana q ini.

( Halah, bahasanya..)

Miina-san..tolong dukungannya, yah..

N please review my story, please..^^