Exceeding Love: Nothing Lasts Forever.
.
.
Disclaimer : Suikoden is Konami's.
Warning : AU, OOC, OC, Random, etc.
.
.
"Aku… sudah menanti kedatangan kalian berdua, Luc dan Sasarai" ucap wanita yang bernama Leknaat, "Aku Leknaat, dikenal sebagai 'Keeper of Balance' yang menjaga keseimbangan dunia."
Kini kembar ash-brown itu duduk di hadapan Leknaat. Masih terus waspada. Sasarai yang biasanya terlihat santai, terus memandang curiga wanita itu. Begitu pula Luc, pemuda itu semakin yakin jika Luc mengenal Leknaat lebih dari sekedar melihatnya di dalam mimpi. Keduanya disuguhi teh buatan gadis bernama Marina, gadis itu mengaku bahwa Luc dan Sasarai tidak perlu khawatir karena ia tidak memasukan racun atau apapun pada teh tersebut.
"Sebenarnya… kami ada di mana?" tanya Sasarai, "Rasanya berbeda sekali sebelum kami menaiki tangga menuju kuil ini." Jelasnya, "Aku hanya mengira bahwa tangga itu benar-benar menuju ke atas bukit."
Marina tersenyum, gadis itu menyeruput teh yang ia buat, "Bisa dibilang masih di dunia bisa dibilang tidak."
"Kau meledek Sasarai?" sahut Luc kesal. Sasarai memang menyebalkan tapi Sasarai tetap saudaranya.
Marina segera menggeleng, "Tidak. Bukan itu maksudku…" jawabnya, "Jadi… Bagaimana ya… singkatnya diriku dan Nona Leknaat bukan dari dimensi kalian."
"Bukan… dari dimensi—apa maksudnya?" Sasarai terkejut, jawaban Marina semakin membuat dirinya pusing. Luc pun tidak memahaminya.
"Ambang dimensi." ucap Leknaat tiba-tiba, wanita itu kemudian beranjak dan berjalan mendekati jendela. Seakan memandangi bintang, "Tempat ini berbeda dengan dunia tempat kalian tinggal. Namun, diwaktu yang sama dan saling terhubung."
"Maksudmu… Kami menjelajah dimensi?!" seru Luc tidak percaya.
"Wow… keren." Sahut Sasarai takjub, dan dihadiahi tatapan kesal dari Luc, "Tapi… bukankah hal ini sulit dipercaya…?"
"Di dunia ini… tidak, di alam yang luas ini begitu banyak dimensi yang tersebar di dalamnya… Walau berbeda namun saling terhubung, melalui garis bintang." Jelas Leknaat kemudian menoleh ke arah Luc dan Sasarai, "Takdirlah yang membuat kalian dapat melewati batas dimensi… Aku yang selalu melihat pergerakan takdir bintang-bintang mengetahui hal itu."
Luc dan Sasarai terdiam, berusaha untuk menelaah satu persatu perkataan Leknaat. Namun, kesimpulan yang mereka dapat adalah dunia ini begitu luas. Monster-monster yang pernah menyerang desa tempat mereka dibesarkan pun, diketahui berasal dari dimensi lain. Hanya penyihir yang dapat memanggil mereka melalui ritual-ritual terlarang. Lalu, walau wanita itu bilang jika Luc dan Sasarai datang adalah takdir, mereka hanya menyimpulkan itu suatu kebetulan. Tentu saja, mereka berharap bisa secepatnya kembali, kalau tidak Nenek Martha kepala asrama akan marah besar.
"Sepertinya Tuan-tuan sudah Lelah. Bagaimana jika kuantarkan ke tempat istirahat?" kata Marina ramah, melihat raut wajah kedua pemuda tampan itu sangat kalut.
"Tidak bisa kah kami segera kembali?" sahut Sasarai namun Leknaat dan Marina hanya terdiam. Itu berarti… keduanya tidak bisa kembali secepat itu, "Kalau begitu… Luc ayo kita terima tawaran untuk beristirahat!"
Luc menghela napas, "Gampang sekali berubah pikiran." Ucapnya.
"Hal seperti ini jangan dibawa pusing, nanti ketampanan kita berkurang." Sahut Sasarai dan berbuah satu pukulan yang mendarat di kepala Sasarai, tentu saja pemberian Luc.
Luc menatap Marina, "Kalau begitu… kami ingin beristirahat." Marina pun mengangguk dan mempersilahkan keduanya kembali mengikuti gadis itu. Marina segera meninggalkan ruangan tersebut, diikuti Sasarai dan Luc. Namun, ketika Luc sudah ada di depan pintu, Leknaat memanggil namanya.
"Luc…"
Luc menoleh dan membalikan badannya. Leknaat seperti menatapnya dalam, walau kedua mata wanita itu tidak melihat, "Apakah di dunia yang sekarang kau bahagia?" tanya wanita itu lagi. Kedua mata Luc membulat ketika ditanya seperti itu. Apa maksudnya?
.
.
"Nona Leknaat… Jadi, pemuda itu yang bernama Luc?" tanya Marina, "Hm… sepertinya agak berbeda dengan apa yang kubayangkan. Maksudku berbeda dengan yang aku tahu."
"Pemuda itu telah terlahir kembali atas kekuatan 108 Stars of Destiny di masa lalu." Jawab Leknaat, "Walaupun sedikit berbeda, namun dialah Luc."
"Luc-senpai, ya?" sahut Marina sembari menatap langit berbintang, "Lalu… Nona Leknaat, ada apa memanggilku?"
Leknaat terdiam sejenak, "Sebentar lagi.. Dimensi tempat mereka tinggal akan ada kekacauan… Aku ingin dirimu pergi ke sana, membantu mereka."
"Nona Leknaat…."
.
.
Sasarai berlari menuruni tangga, merasa senang bisa kembali ke dimensi tempatnya berasal. Tanpa beban, lupa jika mereka akan dimarahi oleh Nenek Martha yang galak karena tidak pulang semalaman. Sasarai, mungkin, berharap agar Nenek itu tidak mengadakan inspeksi karena sakit. Tentunya agar dia dan adiknya terselamatkan dari seramnya Nenek Martha, yang menentukan hukuman melalui sistem lottery. Sementara itu, sang adik, sedang memikirkan pertanyaan Leknaat yang mereka temui itu. Apakah dirinya bahagia? Pertanyaan itu terngiang terus menerus di kepalanya. Sampai-sampai Luc tidak bisa tidur. Selain itu, ada hal yang membuatnya semakin berpikir keras.
"Kenapa kau harus ikut pulang bersama kami?" tegur Luc pada gadis mint di sebelahnya itu.
Marina masih sibuk dengan lollipop-nya sebelum menjawab pertanyaan Luc. Sasarai yang sudah berada di bawah berkata, "Tidak apa-apa, Luc. Bukankah semakin ramai semakin seru?"
Luc menepuk dahinya. Kesal. Sampai saat seperti ini pun Sasarai masih santai seperti itu, "Lalu apa yang akan kau jelaskan pada Nenek seram itu? Atau pada kepala sekolah? Teman-teman?"
"Luc biasanya tidak peduli kan? Bersikap biasa saja~" sahut Sasarai, "Aku sudah ada rencana kok. Bilang saja Marina sepupu kita, dan kita pergi karena ada urusan mendadak menjemput Marina. Pokoknya tenang saja~"
Luc hanya bisa menghela napas panjang. Mengandalkan Sasarai? Sepanjang perjalanan hidupnya, Sasarai memang memiliki ide-ide yang simple. Ide-ide itu juga yang bisa menyelamatkan mereka berdua sampai saat ini. Walau kadang Luc kurang paham dengan jalan pikir saudaranya itu.
"Oh ya… Marina itu apa hubungannya dengan Nona Leknaat?" tanya Sasarai penasaran, "Sepertinya bukan ibu dan anak, karena tidak mungkin memanggil dengan sebutan 'Nona Leknaat' 'kan?"
Marina kemudian berpikir, "Hmmm… Aku murid nomor dua-nya Nona Leknaat." Jawabnya.
"Nomor dua? Apakah ada yang nomor satu?" sahut Sasarai semakin penasaran.
Marina kemudian terdiam, kedua mata burgundy itu menatap Luc yang berjalan di sampingnya. Kemudian, Luc memandanginya tidak mengerti. Gadis itu mengembangkan senyumnya dan berkata, "Bukan apa-apa. Rahasia."
.
.
Luc memikirkan kembali pertanyaan wanita itu. Apakah di dunia yang sekarang kau bahagia? Semakin ia memikirkannya, rasanya ia tidak mendapatkan jawaban. Luc duduk di atap gedung sekolah menekukkan lutut, melipat kedua tangannya dan menundukkan kepala, sehingga terlihat kedua tangannya itu menyembunyikan wajahnya. Rasanya pemuda ash-brown itu tidak bisa tidur dengan nyenyak belakangan ini. Mimpi-mimpi buruk tentang peperangan semakin menjadi, beberapa wajah familiar bahkan muncul di mimpinya. Hugo, Chris bahkan Paman di café, Geddoe, mati-matian menyerangnya. Sampai Sasarai pun, saudara kembarnya melafalkan mantra-mantra sihir untuk menyerangnya. Apa yang terjadi sebenarnya? Hingga puncaknya, semalam ia bermimpi tertidur pulas dipangkuan seorang gadis di tengah-tengah reruntuhan.
"Luc? Kau tidak enak badan?" tegur seseorang padanya. Lalu, pemuda itu menengadahkan kepalanya. Dilihatnya sesosok pemuda berkulit coklat dengan rambut blonde-nya yang khas, itu Hugo, satu angkatan dengan Thomas. Luc hanya tersenyum tipis tidak menjawab. "Kau tidak keberatan jika aku duduk di sini?" tanya Hugo lagi.
"Silahkan." Sahut Luc singkat, kemudian ia kembali menundukkan kepalanya.
Hugo membuka bungkusan roti dan memakannya, sebelumnya ia tentu menawarkan sebagian roti miliknya, namun Luc menolak. Atap memang tempat favourite para siswa dan siswi, tapi jika Luc sudah berada di sana, biasanya mereka menyingkir. Tapi tidak untuk Sasarai atau Hugo. Hugo sudah mengenal Luc sejak dirinya masuk di sekolah itu. Mungkin karena kamar mereka bersebelahan di asrama. Berbeda dengan Thomas, Hugo tidak memanggil Luc dan Sasarai dengan embel-embel kak atau Tuan.
"Belakangan ini… kau telihat pucat." Hugo menoleh ke arah Luc, "Oi."
"Bukan urusanmu." Sahut Luc yang tetap pada posisinya. Sedikit kesal, Hugo hanya melahap rotinya dengan barbar.
Sebal. Hugo mengomel padahal ia hanya menanyakan keadaan tempat satu asramanya itu. Setelah puas, ia menghela napas panjang bermaksud mengalah dan beranjak dari sana sebelum Luc tiba-tiba bicara, "Apa kau pernah mimpi buruk?" Hugo mengurunkan niatnya, mencoba mendengarkan.
Luc mengangkat kepalanya dan menatap lurus ke depan, namun tatapannya kosong. "Belakangan ini rasanya aku tidak bisa tidur dengan lelap." Cakapnya, "Ada saja yang membuatku terbangun dari tidur. Mimpi buruk yang terus menghantui."
Hugo mendengarkan dengan baik. Luc mulai bercerita awal mula mimpi itu terus berlanjut. Sosok dirinya yang memulai perang, bahkan membunuh pasukan lawan dengan sihir. Kemudian, berlanjut dan terus berulang. Kadang hal itu membuatnya tidak enak badan dan mual. Sampai pada akhirnya, semalam ia bermimpi orang-orang yang ia kenal melawannya. Termasuk Hugo.
"Perang ya?" gumam Hugo. Kepalanya ia tengadahkan melihat langit, "Menurut Aila, sepupuku. Mimpi bisa mengambarkan masa lalu, masa depan bahkan meramalkan yang akan terjadi. Tapi… kebanyakan hanya bunga tidur sih."
"Aku harap… hanya bunga tidur…"
Luc menyandarkan kepalanya di tembok pembatas. Rasanya sedikit lega bisa berbicara tentang mimpinya, walau pada awalnya ia ingin merahasiakan kelanjutan mimpi-mimpinya, bahkan dari Sasarai. Tapi bicara dengan Hugo setidaknya membuat kepalanya yang terasa berat menjadi lebih enteng, "Hugo… jangan beri tahu Sasarai."
"Hah? Memangnya kenap—"
BOOOM! Tiba-tiba terdengar suara ledakan yang sangat keras diikuti suara-suara gemuruh pergerakan bumi. Teriakan histeris semakin menjadi ketika berkali-kali suara ledakan kembali terdengar.
"MONSTER! TOLOOONG!"
Hugo dan Luc segera berdiri melihat keadaan dari atas gedung dan keduanya menyaksikan api yang berkobar dari rumah-rumah penduduk yang tidak jauh dari komplek sekolah itu. Api itu disebabkan oleh sesosok makhluk besar bersayap dengan ekor yang panjang. Napas makhluk itu mengeluarkan asap panas, dan menyemburkan api dari mulutnya.
"SIAL! Kukira makhluk seperti itu sudah punah!" ucap Hugo, "Luc! Ayo kita selamatkan mereka!" serunya, kini pemuda pemberani itu sudah melompat dari atap menuju lantai paling bawah.
"Yang benar saja… Naga. Ck." Luc segera berlari menuruni anak tangga, dia tidak sebarbar Hugo yang dengan spontan melompat dari atas gedung seperti itu. Seluruh siswa dan siswi panik, hanya sebagian saja yang berlari untuk memasang badan melawan amukan sang naga.
"Luc!" seru Marina yang berlari menyusulnya, "Luc tunggu!" Gadis mint itu menarik lengan Luc, memaksanya untuk berhenti berlari.
"Ada apa?!" sahut Luc panik, "AH! Sasarai… Sasarai di mana dia!?" ucapnya lagi.
Belum saja Marina menjawab, semburan api sudah menjalar ke lorong sekolah. Luc semakin panik. Ia tidak ingin terpisah dari Sasarai. Tidak. Satu-satunya keluarga yang tersisa. Menerobos kobaran api dengan mantra sihirnya, Luc berlari ke arah ruangan OSIS, berharap menemukan Sasarai, saudaranya. Marina terus mengikuti Luc dari belakang, melafalkan mantra-mantra sihir air sehingga kobarannya tidak semakin menjalar.
.
.
Di lain tempat, Sasarai berusaha mengevakuasi para siswa dan siswi. Pemuda itu memastikan bahwa tidak ada yang terjebak dari kobaran api. Bahkan pemuda itu tidak menghiraukan Dios untuk segera turun dari gedung tersebut. Sepasang mata olive itu mendapati Thomas berlari terengah hampir kehabisan napas. Sasarai segera menghampiri adik kelasnya yang hampir jatuh.
"Thomas… kau tidak apa-apa?" tanya Sasarai. Kemudian ia membopong Thomas menuruni tangga demi tangga.
"T—Tuan Sasarai, aku masih bisa berjalan…" jawab Thomas, "T—tapi tadi aku mendengar Kak Luc berteriak di atas… mencari Tuan Sasarai…"
"Luc?"
"Kak Luc sangat mencemaskan Tuan Sasarai… Aku masih bisa berjalan." Ucap Thomas lagi, pemuda berambut coklat itu berdiri sendiri dengan dua kakinya, "Tuan Sasarai… carilah Kak Luc." Sambungnya.
Setelah memastikan Thomas bisa berjalan sendiri, Sasarai segera kembali berlari ke lantai 2. Tempat ruang OSIS berada. Menurut Thomas, ia mendengar suara Luc dari sekitar sana. Kobaran api dan asap hitam membuat Sasarai sulit bernapas, tetapi ia terus berusaha menelusuri lorong yang sudah ditutupi asap hitam itu. Sayup-sayup terdengar suara adik kembarnya memanggil nama Sasarai.
"—Rai….. Sasaraaai!" seru suara itu, "KAK! KAU DI MANA!?" teriak suara itu lagi.
Sasarai merasa lega ketika mendengar suara Luc. Hal itu menyatakan bahwa adiknya baik-baik saja. "Di sini Luc!" sahut Sasarai, dengan sihirnya ia mencoba melenyapkan asap hitam yang menghalangi pandangan. Kedua mata olive itu menangkap adik kembarnya yang berlari memanggil Namanya dan segera memeluknya erat, "LUC—Sesak.."
"Syukurlah…" ucap Luc lega. Marina yang berhasil menyusul Luc hanya bisa menghela napas lega melihat saudara kembar itu bertemu.
"Kalian… Aku tahu kalian senang bisa bertemu seperti ini… Tapi ini bukan saatnya berpelukan, kita harus keluar dari sini." Tegur Marina yang menepuk kedua pemuda ash-brown itu. Marina memejamkan mata dan melafalkan mantra, sesaat kemudian muncul cahaya putih di antara mereka bertiga.
Sementara itu, Dios masih terlihat panik bahwa Sasarai masih juga belum keluar dari gedung setelah menyelamatkan Thomas. Lalu Thomas sedang terduduk lemas mengatur napasnya dan menenangkan diri. Chris, gadis berambut perak, sedang menyiapkan siswa-siswi yang siap untuk melawan amukan sang Naga. Di luar sana masih terdengar riyuh suara-suara yang berteriak meminta tolong. Naga raksasa yang sedang mereka takuti masih terbang memutar dan menyemburkan api panas. Suasana sekolah dan kota damai itu seketika menjadi mencekam.
Chris memandangi para siswa-siswi yang sudah memegang senjata mereka masing-masing. Melihat raut wajah yang hampir putus asa dari rekan-rekannya, membuat Chris sedikit khawatir. Dalam keadaan seperti itu, siapapun bisa melakukan hal yang gegabah. Di samping Chris berdiri dua orang pemuda berambut blonde dan hitam, Borus dan Percival namanya. Keduanya sudah lama menjadi rekan Chris dalam beberapa tugas yang diberikan Sekolah untuk memburu bandit ataupun monster. Ketiganya memiliki kerja tim yang sangat baik. "Teman-teman, Aku tahu bahwa ini kali pertama kita semua turun di medan yang sesungguhnya." Ucap Chris yang menatap satu persatu mata para siswa dan siswi, "Tetapi… Aku harap teman-teman bisa menghadapi Naga itu dengan tenang. Ingat bahwa kita tidak sendirian. Ingatlah team-work yang sudah teman-teman pelajari." Lanjutnya, "Jika teman-teman menginginkan keajaiban, maka kita sendirilah yang akan membuat keajaiban itu."
"KE MEDAN TEMPUR!" seru Chris seraya mengangkat pedang yang ia genggam tinggi. Hal itu membakar semangat para siswa dan siswi di hadapannya. Sesaat kemudian, mereka berlarian menuju medan pertempuran untuk melawan Naga yang masih mengamuk. Walau terlihat mustahil, mereka ingin mencobanya.
"Chris, kudengar Hugo sudah ada di medan pertempuran seorang diri. Beberapa siswa tadi membicarakannya." Percival mencoba memberitahu keadaan terkini, "Tentu saja. Hugo sangat kewalahan."
"Sial. Anak itu selalu gegabah dan semaunya sendiri!" umpat Borus kesal.
Chris menghela napas, mengetahui rekan OSISnya itu tidak berpikir panjang. "Baiklah. Kalau begitu kita pun harus bergegas membantunya."
.
.
Cahaya putih tiba-tiba muncul di dekat danau yang tidak jauh lokasinya dari kota dan sekolah New Leaf, perlahan cahaya putih itu memudar dan terlihat tiga sosok pemuda-pemudi, Luc, Sasarai dan Marina. Terbatuk-batuk, mungkin akibat asap hitam yang ketiganya hirup dari gedung sekolah. Namun, angin yang berhembus di sana begitu segar. Ketiganya dapat kembali bernapas dengan baik. Gadis mint mengulurkan kedua tangannya, bermaksud membantu kembar yang masih terduduk lemas untuk berdiri. Sasarai menerima uluran tangan itu, namun Luc menepisnya dan pemuda olive itu berdiri sendiri. Sasarai hanya tersenyum maklum.
"…Ngomong-ngomong…" ucap Luc, "Kau menggunakan sihir teleportasi?" tanya Luc pada Marina, dan gadis itu hanya mengangguk.
"Hebat! Maksudku dalam keadaan terdesak seperti itu…" timpal Sasarai kagum.
Marina kembali menghela napas dan tersenyum kecil. Gadis itu tiba-tiba menunjukkan tangannya ke arah kota. Bermaksud membuat Sasarai dan Luc kembali fokus pada apa yang terjadi. Asap hitam terus mengepul, di balik asap itu, samar-samar terlihat Naga besar yang masih berputar-putar di sana. Luc dan Sasarai saling berpandangan. Keduanya bermaksud kembali untuk mencoba mengalahkan Naga itu. Sesaat Luc dan Sasarai mulai beranjak, tiba-tiba Marina berdiri di hadapan mereka, berniat menghalangi.
"Tunggu dulu." Ucap Marina, "Aku ingin memberitahu kalian sesuatu."
"Apa lagi?" sahut Luc.
"Mou.. Luc selalu seperti itu…" protes Marina, "Aku ingin membantu kalian, terlebih sepertinya hanya aku yang bisa melakukannya."
"Hah? Kau kira kami tidak bisa melakukannya?" balas Luc lagi.
Sasarai menepuk pundak Luc, "Hey adikku yang lucu… Sepertinya kita harus dengar penjelasan dari Marina." Tegur Sasarai, dan hanya mendapat tatapan kesal dari Luc.
"Ma-maksudku… Naga itu pun bukan berasal dari dimensi ini. Naga itu…. berasal dari dimensiku," Jelas Marina, "Aku akan mengirimnya lagi ke dimensi asalnya. Tapi aku butuh bantuan kalian berdua. Aku… ingin kalian memancing Naga itu… ke sini."
"HAH?!" Hanya perkataan saja memang terdengar mudah. Memancing? Naga kan bukan ikan yang bisa dengan mudah ditangkap hanya dengan umpan. Umpan. Ya, maksud dari gadis mint itu adalah menjadikan Luc dan Sasarai sebagai umpan. Tapi bagaimana caranya?
Marina mengerti, hal itu tidaklah mudah dilakukan. "Dengan kata lain, aku ingin kalian berdua menyerang naga itu, namun mengarahkannya ke sini. Tidak perlu mengalahkannya." Ujarnya, "Kalian hanya perlu melakukan pertahanan."
"Element terkuatku adalah Angin, sedangkan Sasarai adalah Tanah." Balas Luc, "Jika melihat api yang disemburkan oleh Naga itu, kita perlu seseorang dengan element terkuat air."
Sasarai mengangguk, "Mungkin kita bisa meminta bantuan Chris." Usulnya, "Walaupun Chris bukan tipe yang mengandalkan sihir seperti kita, aku yakin dia bisa membantu." Lanjutnya lagi, "Setelah naga itu melemah, kita bisa melakukan penggabungan sihir, melemparnya ke arah Marina!" seru Sasarai antusias.
"Baiklah, Aku akan menunggu kalian di sini. Mempersiapkan portal sihirnya." Sahut Marina yang tidak memperdulikan kata-kata Sasarai, melemparnya ke arah Marina. "Berhati-hatilah."
Luc pun menggunakan sihir teleportasi miliknya, membuat tubuhnya dan Sasarai hilang di tengah pusaran angin. Marina yang ditinggal di sana, membacakan suatu mantra, seketika sebuah tanda di tangan kirinya bercahaya. Gadis bermata burgundy itu lalu menghadap ke arah danau yang luas. Permukaan danau yang semula terlihat tenang bercahaya.
"Show me your true power, Rune of Time." Bisik Marina dengan memejamkan kedua matanya, "Buatlah portal ruang dan waktu."
.
.
~To be continued~
Waayy~ Halo saya Ryoko kembali lagi~ syudah chapter 2 di-update hshshshshs~ Di sini Luc bertemu dengan Bunda tercintah~ /salah/
btw sekedar curhat~ teehee~ Selama aku bikin fanfiksi ini, Ryoko selalu puter lagi openingnya Suikoden III - Ai wo Koete/Exceeding Love biar dapat feel-nya maksudnya hihihi... Terus~ Saya menyisipkan satu OC yang punya true rune dari dimensi "lain" /maksudnya OC tersebut dari universer utama Suikoden series gitu-"ceritanya"/
Awalnya OC tersebut ada di cerita jaman Ryoko SMP sekitar tahun 2008/2009 gitu masih main friendster pokoknya OvO) cuman, skripnya ilang hiks karena sudah lama banget sih... Itu ceritanya dibuat khusus tentang Rune of Time. Nah saat Suikoden Tsumugareshi Hyakunen no Toki rilis tahun 2012, Ryoko sempet "WAH" gitu karena konsepnya hampir sama ternyata dengan cerita yang waktu Ryoko buat saat SMP... hampir mirip ketika Hero-nya bisa menjelajah masa lalu gitu, cuman bedanya ya kalau Tsumutoki menggunakan pohon sedangkan ceritaku dulu karena ceritanya masih satu universe sama Suikoden series yang utama, fokusya ke true rune... terus Ryoko merenung... dulu sampe niat bikin 100++ nama buat nama SoD dan musuhnya ' ') Nanti deh kucurcolin lagi pankapan X"D /heh/
Nah daripada Ryoko curhatnya makin panjang... sampai ketemu di chapter berikutnya~ Let's keep spreading Suikoden's Love till the end~!
