GOUKON

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pair : SasuFemNaru

Rated : T

Genre : Romance

By : Lukas "Luke"

Warn : AU, OOC, Gender Blend. , Gaje, Garing,

Typo nempel di mana- mana..

..

Selamat membaca

.

.

Naruto menatap kalem segelas ocha yang baru saja diletakkan di atas meja pendek, tepat di depannya, berikut sepiring besar shusi dan tempura menyusul dan diletakkan di bagian tengah meja persegi panjang di salah satu bilik rumah makan sederhana di dekat SMA nya.

Dua pemuda di depannya duduk bersimpuh, sama seperti posisi duduknya dan kedua teman perempuannya yang ada di sebelah kiri. Seorang pemuda lagi di bagian paling ujung dekat pintu, duduk bersila seraya mengetukkan jari- jarinya malas ke atas permukaan meja, seolah tak mengenal sopan santun.

Dalam hati Naruto memaki.

Mimpi apa semalam sampai- sampai ia diseret paksa oleh kedua teman sekelasnya, Sakura dan Ino untuk mengikuti acara kencan buta mereka. Apa sih itu istilah kerennya? Naruto mengerutkan kening. Mencoba mengingat sebuah kata yang pernah didengarnya.

' Goukon? Ah, ya, Goukon,' batinnya.

Disertai iming- iming akan bertemu dengan pemuda paling ganteng, seksi, berotak encer, ganteng, dan berdompet tebal dari SMA tetangga, sebuah sekolah menengah yang Naruto tahu dikhususkan untuk siswa berjenis kelamin laki- laki. Oh, tunggu! Dia menyebut ganteng dua kali?

Naruto mendengus.

Ia tak perlu melirik siapa yang duduk paling ujung di dekat pintu. Sama sekali tidak perlu.

Sasuke Uchiha.

Tidak ada yang tidak mengenalnya. Dia pemuda populer, Naruto tahu. Wajahnya ganteng dan punya tingkat intelligence tinggi, katanya. Yah, Sakura benar. Pemuda dengan marga Uchiha satu ini memang pantas menjadi incaran utama gadis- gadis yang mengenalnya.

Tapi demi Tuhan, Naruto sama sekali tidak ingin ikut acara goukon atau apalah ini. Dia hanya ingin cepat- cepat pulang dan meminta saudara angkatnya, Utakata, untuk menemaninya membeli ponsel baru. Kalau bukan karena kekasih brengseknya yang dengan kurang ajar melempar si ponsel malang ke atas aspal di depan rumahnya senja kemarin, ia tidak akan sudi pergi ke counter besar untuk memilih ponsel dengan merk yang bejibun banyaknya.

Ahh, ia cukup menyayangkan ratusan foto yang belum sempat di simpannya ke memory card. Dan itu benar- benar membuatnya kesal hingga rasanya ingin menjambak rambut kekasih brengseknya.

Naruto beringsut, menyamankan duduknya dan menegakkan tubuh.

Menatap pemuda berambut jabrik di depannya. Wajah bengal pemuda itu bergerak miring saat memperhatikan wajahnya lekat.

" Aku seperti pernah melihatmu," ujarnya memecah keheningan.

Naruto diam.

" Benarkah?" balasnya membuka suara dengan nada malas.

Ohh, man. Dia benar- benar ingin cepat keluar dari tempat sempit ini. Bahkan kakinya mulai kesemutan.

Pemuda itu mengangguk dengan kening berkerut. Mencoba mengingat- ingat sesuatu.

Naruto bisa mendengar kedua teman perempuannya juga mulai bersuara. Mencoba mencairkan suasana yang terasa tidak nyaman karena pemuda paling ujung itu belum juga bersedia menyumbangkan suaranya dan malah mengedarkan mata ke sekeliling ruangan dengan malas dan tampang kusut.

" Sungguh, aku pernah melihatmu," si jabrik kembali membuka suara.

' Oh, masih belum ingat?' batin Naruto malas.

" Di layar ponsel seseorang. Aduhh, siapa ya," pemuda berkulit pucat itu masih terus berusaha mengingat dengan otak payahnya yang nyaris tidak bisa diajak bekerja sama.

" Benarkah? Wah, kau pasti jadi primadona di SMA mereka, Naruto," celetuk Ino seraya menepuk bahu si pirang sedikit keras.

" Mungkin saja," balas Naruto pendek.

Lagi- lagi bergerak pelan menyamankan duduknya.

' Kuso! Kakiku nyaris kram,' desisnya dalam hati.

" Sakura- san dan Ino- san juga. Banyak yang ingin sekali bertemu dengan kalian," pria berambut kelam dengan model cepak tersenyum manis hingga matanya menyipit lucu.

Ino dan Sakura tampak malu- malu. Sesekali melirik ke arah Sasuke yang sudah menguap untuk ke sekian kalinya.

" Sasuke- kun jangan diam saja," Sakura memberanikan diri membuka suara.

Sasuke menoleh dari acara 'mari memejamkan mata'. Pria berhidung mancung itu menatap Sakura dengan mata tajamnya dan berujar.

" Hah?" seraya menaikkan kedua alisnya. Memangnya dia harus bilang apa?

Membuat gadis yang duduk tepat di hadapannya merona malu.

' A- astaga ganteng sekaliii~' pekiknya dalam hati.

" Ehem," suara deheman keluar dari mulut Naruto.

Sasuke meliriknya.

" Kau sedang sakit, Naruto- san?" tanya Sai khawatir. Pria berambut cepak itu menatap Naruto cemas.

" Ha?" Naruto mendongak.

" Oh, tidak. Tenggorokanku gatal," jawabnya kemudian.

" Ku dengar Sasuke- kun jadi ketua OSIS, pasti banyak sekali kerjaannya," Sakura kembali membuka suara.

" Hn,"

Sakura mengernyit. Tidak begitu paham arti 'Hn' legendaris milik sang Uchiha muda.

" U- uhm, apa Sasuke- kun ada waktu akhir pekan nanti? Kurasa Sakura ingin mengajakmu ke suatu tempat," ujar Ino yang tampak jengah dengan tingkah malu- malu Sakura. Baginya, lebih cepat, lebih baik. Seperti kata seseorang.

Sasuke menatap keduanya bergantian. Kemudian menghela nafas panjang.

" Seharusnya kau tanya aku sudah memiliki kekasih atau belum, Nona. Kau salah urutan," balasnya dengan suara berat yang selalu berhasil membuat banyak gadis klepek- klepek.

" Ah, maaf, kalau begitu apa kau sudah memiliki kekasih, Sasuke- kun?" tanya Sakura. Sedikit malu. Ia hampir tidak percaya menanyakan hal ini pada pemuda yang disukainya.

" Kurasa belum. Sasuke tidak pernah terlihat dekat dengan gadis manapun," celetuk Sai.

" Wah, kebetulan, Sakura juga-"

" Jadi, apa kau sudah berhasil mengingatku?" tanya Naruto memotong ucapan Ino.

Gadis pemilik marga Namikaze itu menatap jengah pada pemuda jabrik yang kini sibuk memasukkan shusi ke dalam mulutnya.

Shuukaku, pemuda itu menggeleng mantap.

" Otakku sedikit tersendat. Mungkin aku akan mengingatnya beberapa saat lagi," balasnya sedikit cuek.

Naruto memutar bola mata bosan.

" Jadi, Sasuke- kun, bagaimana?" tanya Ino lagi dengan senyum usil melirik Sakura yang wajahnya memerah penuh.

' Bagaimana apanya?' batin Sasuke kesal.

" Aku bahkan belum pernah ke sini. Dan kau hampir menghabiskan setengah porsi shusi- nya, Tuan tanpa nama," suara Naruto kembali terdengar. Tertuju untuk Shuukaku.

" Ah, maaf. Aku kelaparan. Aku tidak sempat sarapan pagi tadi," balas pria itu.

" Dan namaku Shuukaku, ngomong- ngomong, Nona. Kau mau?" tawar Shuukaku seraya menyodorkan shusi dengan jari- jari kokohnya tepat ke depan mulut Naruto. Reflek alami, tidak bermaksud menggoda. Serius.

" Aih, Naruto, kau disuapin tuh" goda Ino.

Naruto menghembuskan nafas kasar.

Gadis bersurai pirang cerah itu membuka mulutnya. Berniat menolak.

BRAKKK

" Maaf. Aku sedang tidak ingin makan, Shuukaku- san," balasnya yang Naruto yakin tidak begitu diperhatikan oleh pemuda di hadapannya, karena ia tahu 4 manusia di antara mereka tengah menatap kaget pada satu manusia lain yang kini menghembuskan nafas kasar.

' Sasuke memukul meja?' Sakura sedikit begidik melihat wajah dingin bungsu Uchiha di hadapannya.

Naruto bisa merasakan bahu Ino gemetaran lewat lengannya.

' Ahh, bagus. Cerberusnya mengamuk,' batinnya.

Naruto dengan santai meraih ocha dari atas meja dan meminumnya pelan.

" Na- naruto," bisik Ino gugup. Bermaksud mengingatkan.

Naruto yakin kali ini dialah yang jadi pusat perhatian karena dengan beraninya mengabaikan tatapan menusuk dari pemuda Uchiha yang kini menegakkan punggung dengan wajah garang. Nyaris menyamai begal jalanan, menurut Naruto.

" Aku-" Sasuke bersuara.

" –tidak bisa menghubungimu sejak pagi. Terus memikirkanmu karena cemas. Dan ternyata kau enak- enakkan duduk di sini demi sebuah kencan buta? Ahh . . . mengesankan," ujarnya dengan nada mengejek.

" . . ."

" Siapa yang ingin kau temui, huh? Begundal mesum dari kelas XII F? atau papan gilasan idiot yang duduk di sebelahku? Hm?" lanjutnya.

" . . ."

" Ah, sayang sekali. Apa kau tidak ingat kalau kau sudah ada yang punya, Sayang?" Sasuke terus berujar.

" Bahkan kau tak melirikku sedari tadi," tambahya ketus.

" . . . cermin,"

Huh? Ino menoleh pada Naruto.

" Bicara saja pada cermin," ulang Naruto.

" Naruto?" bisik Ino heran. Sungguh, ia belum mampu membaca situasi yang tengah dihadapinya saat ini. Sepertinya kondisi Sakura kurang lebih sama.

" Ah, benar. Aku ingat sekarang," celetuk Shuukaku enteng.

" Aku melihat fotomu di ponsel Uchiha brengsek itu," lanjutnya seraya menunjuk Sasuke dengan ujung jempolnya.

' Telat, Bodoh! Dasar otak bebal!,' maki Naruto dalam hati.

" Masih mau shusi- nya," lagi- lagi ia menyodorkan sepotong untuk Naruto.

" Kau bisa memilih sendiri tulang bagian mana yang ingin ku patahkan, Moron!" desis Sasuke.

Shuukaku mendengus.

" Wah, wah, sepertinya kau harus mengambil shusi mu sendiri dengan tanganmu, Nona," selorohnya pada Naruto.

Naruto memutar bola mata bosan.

" Dobe!," seru Sasuke kesal. Menuntut penjelasan.

Naruto melotot, geram.

" Siapa yang membuang ponselku saat memaksa mencium kemarin sore? Coba ingat- ingat dengan otak jeniusmu yang Brengsek itu. Dan apa kau sudah tahu arti dari kata 'diseret'? karena aku mengalaminya sepulang sekolah tadi hingga sampai di sini," terangnya. Disusul hembusan nafas kasar di akhir kalimatnya.

" Oke. Dimengerti," Sasuke mengangguk paham. Berujar kalem.

' Teme brengsek!' maki si pirang dongkol bukan main.

" Dan aku tidak membuangnya. Hanya menjatuhkan," lanjut si pria membenarkan.

Naruto mengangguk.

" Dan merusaknya," ucap si pirang.

" Oke, fine! Akan ku ganti dengan yang terbaru,"

" Oh, memang sudah seharusnya begitu," dengus Naruto.

" Sekarang kita pergi dari sini," ajak Sasuke.

" Tidak mau," balas Naruto pendek.

" Kau bercanda!? Jadi benar kau berniat ikut kencan buta sialan ini?" geram Sasuke dengan sorot mata tajam.

Naruto menggeleng.

" Ku pikir itu dirimu," ujarnya sinis diiringi lirikan sadis untuk laki- laki yang duduk paling ujung dekat pintu itu.

Sasuke tampak diam. Keningnya berkerut dalam masih dengan wajah kesal.

" Aku juga diseret," jawabnya pendek.

" . . ."

" . . ."

" Ohh, kupikir seorang Uchiha 'Brengsek' Sasuke bisa melawan ketika diseret," desis Naruto.

Hening.

Hening.

" Kuso!," umpat si Uchiha muda.

" Jelaskan padanya, Idiot. Atau akan ku potong asset masa depanmu saat ini juga!," Sasuke menatap Sai tajam. Seolah ingin menguliti teman satu sekolahnya itu yang sudah membuatnya terdampar di tempat sempit ini.

" A- apa?" Sai menoleh kaget.

" Kenapa ak- oohh, oke oke, jadi tadi motor Sasuke mogok dan tidak bisa jalan. Lalu kami, aku dan Shuukaku, menawarkan untuk mengantarnya ke SMA mu karena dia bilang ingin bertemu seseorang. Tapi Shuukaku mengusulkan ide padaku agar menculiknya dulu dan membawanya ke sini agar teman- temanmu mau datang di acara dadakan ini, Naruto- chan,"

Chan?

Sasuke melotot garang. Benar- benar sudah siap lahir batin untuk menguliti si rambut cepak dan menjualnya ke pabrik sepatu kulit di pinggir kota.

" Errr, Naruto- san," ulang Sai membenarkan.

" Sasuke sama sekali tidak tahu kalau kami akan membawanya ke sini," tambahnya.

" Kau bisa mencakar wajah kekasih brengsekmu setelah ini kalau tidak percaya, Nona. Dan aku juga ingin mencakar muka tembok di sebelahku yang pintar sekali beralasan, ngomong- ngomong," tukas Shuukaku. Dengan seringai kecil.

" . . . . . aku yang mengusulkan ide sesat itu. kurasa tadi lidahku terjepit," ralat Sai dengan senyum kecil- merananya.

Shuukaku mendengus.

Sementara Sasuke menghembuskan nafas kasar. Berniat untuk jauh- jauh dari dua makhluk idiot di sebelahnya ini mulai besok. Oh, atau mulai saat ini juga bila perlu.

" . . ."

" Fine. Alasan diterima," balas Naruto.

" Berdiri!" titah si Uchiha dengan nada dingin. Ia benar- benar sudah tidak betah berlama- lama di tempat panas ini.

" Tidak mau," balas Naruto pendek.

" Chk, apalagi?" si Uchiha berdecak.

" Aku belum makan shusi- nya, Teme," protes Naruto menoleh dengan wajah kesal.

ASTAGA! Sasuke nyaris mengumpat. Gemas.

" Kita cari di tempat lain saja," putusnya.

" Cepat berdiri!" Sasuke bangkit dan mengulurkan telapak tangan lebarnya pada Naruto, melewati meja kecil di antara mereka.

" Aku sudah bosan di sini. Kakiku kesemutan. Kita keluar dan cari ponsel baru untukmu, sayang,"

Naruto mendengus.

Sasuke sudah di ambang batas kesabaran. Tidak ada gunanya melawan. Naruto meraih tangan sang Uchiha muda.

Gadis pirang itu berdiri setelah berpamitan pada kedua temannya dan dua pemuda di hadapannya.

" Kita naik bus?" tanya Sasuke seraya memimpin langkah untuk keluar ruangan.

" Boleh. Kau yang bayar,"

" Oke," balas si pria.

Dan punggung keduanya menghilang di belokan.

Menyisakan empat manusia yang masih sibuk dengan pikiran masing- masing.

" Haruno- san," suara Shuukaku memecah keheningan.

" Kurasa kau harus melupakan perasaanmu untuk si Uchiha tengik itu. Dia sudah berlabel 'Milik Naruto Namikaze', chk chk chk," lanjutnya di susul kekehan bibir pria berambut jabrik itu.

END

Maaf, Gamabunta masih ke pending, kawan. Yang nongol malah cerita gaje ini. Maaf bget. Hehee.. tenang, masih dalam proses kok.. bakal menyusul (suatu saat nanti, hihi)

Wah, sneng bingit waktu bnyak yang like follow dan mampir buat kasih komen di cerpen chapter pertama.. aku pikir ceritanya pasaran dan bakal dicap aneh.. tapi syukur deh, kalau bisa menghibur..

Terima kasih untuk sudah foll n fav, juga yg sudah menyumbangkan komentar penumbuh semangat ..

_Ur Comment itu satu- satunya yang bkin saya ngekek smpai mules, little kid. Apa gara2 puasa jdi sneaker yng kebayang cuma iklan merk makanan 'mulai lapar' dan lo rese kalo lagi laper itu? SNICKERS eta mah..

Nuruko03_ makasih nuruko-san. Ottee~

Fyodult_sambil bayangin siapa itu, smpai merona? Wkwk

Jonah Kim_Matur suwun..hhee

Byakuren Hikaru_yep, Edisi terbatas banget pokoknya mah.. makasih.. Gamabuntanya mash antri, ngomong2..

A13iput_iyes, dia emng bkin gemes, smpai saya pgin pesen satu sama pakdhe "MK" kalo boleh.

Aleazurabooyunjae_Naruto emang kyut, udah dr sonohnya kok.

Pha chan_terima kasih banyak..siipp..dah bkin lagi nih..

Primara_mau yg bunuh2an? Serius? Saya juga serius, serius gak tega bikinnya..hehe

Boltltou-ku_yap, saya juga puasa..tadinya ngantuk, trus jd melek krn kecolok SFN..

Ayanara47_ hehe, makasih bget ya.. btw, Gamabunta nya masih ….#mikir … dalam proses..

Choikim1310_ he'eh tuh, betul.. paling fenomeneul, sensasioneul..

Habibah794_iyak, betul.. nih dah lanjut.. mkasih kawan..

Deera Dragoneella_ terima kasih banyak Deera- san.. siip.. kalo idenya nongol, karya baru pasti akan mengikuti..hehe.. makasih bnyak ya..

Akane. Uzumaki _ Siiip, makasih ya.. jgn lupa mampir lagi..hehee

Meriana_ iyaaaa…makasih banget yaaa..

Arum junnie_manis donk.. kan habis makan kurma..wehehehee

Mysuga_ Suga? BTS? Ahh, aku taetae, aku taetae! #semangat .. iyep.. kalo ide nongol nanti bkin lagi deh..

Dan Harpa_ Manis donk..udah saya semprot pakai air gula sih kemarin sblum di publish.. mngkin di chap2 tertentu bisa di bikin lebih pnjg.. siipp makasih komennya.. hehee.. mampir lagi ya..

Daaaan, untuk semua yang tidak bisa saya sebut satu per satu, semua yg sdh dn slalu member dukungan. Saya ucapkan terima kasih.

Siip,

Jangan lupa mampir lagi, ya..

Sampai jumpa chapter berikutnya ..

..

..

Tunggu!

Gimana sama chapter dua- nya?

..

..

Salam,

Lukas kece badai (liatnya lewat sedotan)