Disclaimer : EXO adalah milik agensi mereka, diri mereka, dan orang tua mereka masing masing.
Genre : Friendship, Fantasy
Rating : T
Warning : Fantasi yang tidak terlalu terasa.
Note : Tiba tiba ingin mendengar History dan jadi memikirkan untuk membahas apa yang dulu terjadi sehingga Kai jadi pencuri.
+Pencuri di Musim Panas+
"Ini!" Yunho yang kepala keluarga Jung menyodorkan sebuah papan panjang yang dihias pada Kai.
"Apa ini?" Tanya Kai. Dia bingung ketika mendapat papan biru itu dari Yunho.
Yunho mulai pergi menjauh dari Kai dan duduk di sofanya "Kau ingat apa yang kemarin aku ajarkan padamu?" Tanyanya.
Kai diam berpikir.
"Waktu kita menemukan papan yang sepertinya bagian dari kapal." Tambah Yunho.
"Ah, berselancar?"
"Ya! Dan itu adalah papan yang harusnya dipakai berselancar." Kata Yunho.
Kai jadi antusias dengan papan itu "Apa aku boleh pergi?" Tanyanya. Bagaimanapun hubungannya dengan Yunho tidak semudah hubungan Jung Sisters dengan Yunho.
"Maksudmu berselancar?" Tanya Yunho dan Kai mengangguk.
"Tentu, pergilah sampai kau puas."
+Pencuri di Musim Panas+
Kai menatap laut yang biru, dia kembali berdiri di sini dan mengingat semua yang Yunho ajarkan tentang berselancar.
Sementara ruh angin sedang belajar menggulung ombak.
Kai pernah berkali kali jatuh dari papan, juga sudah terbiasa dan bisa menyelamatkan diri kalau tenggelam, tapi ruh angin sedang sedikit ceroboh dalam membuat ombak dan membuat satu yang akhirnya menenggelamkan Kai.
Kai belum pernah tenggelam sedalam itu.
Kai membuka matanya perlahan dan terbatuk ketika dia tersadar, pasir pantai terasa di punggungnya dan di hadapannya ada seseorang. Seseorang yang sangat putih dengan rambut peraknya.
"Ma-maafkan aku! Aku tadi tidak sengaja, aku masih belajar jadi maafkan aku! Maafkan aku!" Katanya, Kai sadar dia adalah orang yang paling ribut yang pernah Kai temui.
"Siapa kau?" Tanya Kai.
Orang itu diam, seperti takut memperkenalkan dirinya.
"Haruskah aku memperkenalkan diri?"
"Ya, tentu saja, aku ingin tahu siapa yang menyelamatkanku." Kata Kai, dia duduk menghadap orang itu. Kesannya sangat tipis seperti benda tembus pandang, tapi Kai yakin dia melihat orang itu.
"Aku Sehun, itu saja."
Kai menatapnya aneh, itu saja katanya? Apa dia menyembunyikan sesuatu?
"Itu saja?"
"I-iya."
"Tidak ada yang lain?"
Sehun diam dulu sampai akhirnya dia menghela napas "Sebenarnya ada, tapi aku tidak tahu aku boleh memberitahumu atau tidak."
"Beri tahu saja, aku janji tidak akan memberitahu orang lain." Kata Kai, dia duduk berhadapan dengan Sehun.
Sehun menghela napas "Aku ini ruh angin." Katanya.
"Lalu yang membuatmu tenggelam tadi adalah aku dan karena itu aku minta maaf." Lanjutnya lagi.
"Tapi kau juga yang menyelamatkanku, jadi aku yang berhutang budi padamu." Kata Kai.
"Hutang budi, aku suka yang seperti itu." Kata Sehun.
"Jadi kau ingin aku melakukan untukmu?"
"Mari menjadi teman dan di musim panas yang akan datang aku punya permintaan untukmu." Kata Sehun, dia menyentuh dada Kai dan ada rasa panas menusuk di setiap sentuhannya. Itu seperti segel, atau tanda, atau justru tato, tapi tanda itu membuat Kai terkejut karena bentuk melingkarnya yang menurut Kai mirip mawar.
+Pencuri di Musim Panas+
Sehun tiba tiba datang ke jendela Kai setelah pertemuan terakhir mereka di pantai. Sehun tiba tiba menghilang saat Jessica menjemput Kai waktu itu dan itu sedikit membuat Kai kesal.
"Kau tahu Robin Hood?" Tanya Sehun dengan santai, seakan dia tidak pernah punya salah pada Kai. Kai nyaris tersandung saat mendengar suara Sehun.
"Hei, tahu tidak?" Tanya Sehun lagi. Kai menatapnya malas.
"Kau tahu, aku nyaris tersandung tadi."
"Maaf saja, ya."
"Aku tidak tahu ruh angin semenyebalkan ini."
Sehun tertawa kecil dan turun dari jendela yang tinggi.
"Jadi kau tahu atau tidak?"
"Tentu saja aku tahu."
Sehun berjalan mendekati Kai, Kai masih melihatnya sangat amat tipis seakan dia bisa menghilang kapan saja.
"Kau masih ingat soal balas budi?"
"Ya,, tentu saja."
Sehun terlihat girang. "Aku ingin kau jadi Robin Hood abad ini."
+Pencuri di Musim Panas+
Akhirnya Kai mengikuti Sehun, berkeliling kota dan mengenal siapa saja keluarga kaya yang menimbun harta. Peraturannya adalah satu rumah setiap malam dan apa yang didapat harus diberikan pada orang lain.
Kai sama sekali tidak keberatan, dia sudah hidup nyaman dengan keluarga Jung dan dia juga sedikit bosan diam di rumah itu, selalu ada Jessica dan Krystal yang minta tolong ini dan itu dan kadang Yunho sendiri membuatnya mendengarkannya terlalu lama.
Kai melompat di antara pohon pohon, dia lebih ringan dari seharusnya karena tanda dari Sehun di dadanya, Sehun bilang itu tanda bahwa dia membagi kekuatannya dengan Kai.
"Sekarang kita kemana?" Tanya Kai, Sehun sedang duduk di dahan pohon.
"Tentu saja pulang." Kata Sehun, tapi Kai tidak bergerak.
"Ada apa?" Tanya Sehun.
"Soal tanda itu, apa tidak bisa kau menghapusnya?"
"Menghapus? Itu sama saja mengambil kekuatanku lagi."
Kai tetap diam saja, Sehun juga diam.
"Tapi kalau disamarkan aku bisa."
"Ya, samarkan saja."
Sehun mendekat padanya, membuat gerakan seperti megusap pada dada Kai.
"Kenapa kau tidak suka tanda itu?"
"Yunho akan menyanyaiku macam macam kalau aku berbuat yang aneh aneh."
"Seperti membuat tato?" Tanya Sehun.
"Ya, seperti itu." Jawab Kai.
Sehun pergi begitu saja, dia memang suka seenaknya.
"Mau kemana?"
Sehun hanya diam memandangi satu satunya orang yang bersamanya.
"Mau pulang lewat jalan lain?" Tanyanya.
Kai hanya tersenyum dan mengikuti Sehun, dia juga tidak keberatan di bawa kemanapun.
"Kai." Panggil Sehun. Mereka ada di ujung hutan saat ini, di jalan yang sedikit berbeda dari yang biasa mereka lalui.
"Apa?" Kai menoleh pada Sehun.
"Aku lupa mengatakan sesuatu tentang tanda itu."
"Ya, katakana saja sekarang."
"Setelah kusamarkan, tanda itu hanya akan muncul kalau kau sedang mengerjakan tugas dariku."
Kai diam, Sehun juga jadi diam.
"Itu saja?"
"Iya, itu saja."
Kai tertawa. "Kau memang aneh."
Kai kembali memperhatikan pemandangan di depannya, pinggir kota yang langsung berbatasan dengan hutan. Mereka dekat sekali dengan sebuah rumah, rumah yang jendelanya tertutup semua walau ini musin panas.
Kai menatap salah satu jendela di rumah itu seakan ada hal bagus yang akan terjadi, Sehun juga ikut memperhatikan. Tiba tiba jendela itu terbuka dan menampakan seorang pemuda di sana, dia terlihat mungil dan sangat putih, rambut dan bajunya sedikit berantakan. Kai sedikit banyak tertarik padanya.
"Aku ingin menemuinya." Kata Kai, Sehun melirik padanya dan pandangan Kai tetap lurus pada orang di jendela itu.
"Mudah saja." Kata Sehun. "Tapi aku tidak ingin kau menemuinya sekarang."
Kai menoleh pada Sehun, antara memelas dan kesal.
"Musim panas yang akan datang, bersabarlah sedikit."
+FIN+
Setengah karena aku tidak tahu harus melakukan apa, setengah lagi karena ayahku punya lidah yang sangat tajam. Tolong maafkan aku kalau aku dan fanficku jadi lebih labil, tolong maafkan aku kalau kualitasku menurun, dan tolong maafkan aku kalau ada hal hal aneh dalam fanficku.
