I Do Not Own Shingeki No Kyojin

Original Story by Black Tofu

.

.

Chapter 2

.

.

"…dia tidak bisa melihat…"

.

.

.

Rasanya sesuatu seperti meledak di kepalanya. Ini begitu tiba tiba. Mungkin ia terlalu bodoh dan lambat untuk menyadari hal se-simple ini. dari awalpun kelakuannya sudah sedikit aneh. Gadis ini buta. Mikasa Ackerman, tidak bisa melihat. Dan disanalah Eren terduduk di samping ranjang dimana gadis berambut hitam sebahu itu menerawang jauh ke depan entah seperti apa pemandangan yang ada di matanya. Barangkali hitam, atau buram, tidak ada yang tahu. Dan mengejutkannya, ide Hanji menggunakan keberadaan Eren untuk menenangkan Mikasa secara ajaib berhasil. Pemeriksaan Mikasa yang berstatus pasien tersebut berlangsung cukup baik dengan sosok Eren yang tidak pernah lepas dari genggaman Mikasa. Eren mencoba paham. Barangkali ia adalah orang asing pertama yang Mikasa temui, atau apapun itu. ia jadi bertanya tanya seperti apa masa lalu gadis ini.

Eren memastikan gadis itu mulai pulih perlahan. Obatnya mulai bekerja. Hanji bilang ia sempat terkena Hipotermia ringan. Eren memperhatikan lembaran tebal hijau berlambang khas Scouting Legion kebanggaannya kini masih melekat erat ditubuh gadis itu. ia tampak menyukainya.

"Sudah merasa lebih baik?" Eren bertanya. Manik onyx gadis itu mencari cari keberadaan Eren, kemudian mengangguk. Ini pertama kalinya Eren bertemu dan berkomunikasi secara langsung dengan orang buta. Rasanya menyakitkan.

"Aku lelah…"

"Tidurlah." Eren membantu membaringkan tubuh Mikasa. Jemari gadis itu mengait di lengan jaketnya. "kau mau pergi?"

"Ah.. y-yah…sep-"

"Kau akan kesini lagi?"

Eren tidak yakin dengan apa yang harus ia lakukan. Gadis Ackerman ini… apa benar Eren dibutuhkan olehnya. Eren tidak terlalu mengenalnya. Bisa dibilang Mikasa hanya orang asing yang kebetulan terselamatkan olehnya karena misi. Kenapa harus Eren? Sebegitu tidak nyamannya kah ia dengan orang lain?

"…ya"

.

.

.

"Heichou, kau sudah tahu tentang keadaan gadis itu dari awal?"

"Biarpun begitu itu tetap bukan urusanku." Levi mengangkat cangkir kopinya, menyesapnya perlahan seperti biasanya. "yang tidak aku mengerti adalah keberadaannya. Dan ras itu…"

"…ya, seperti... ia bukan berasal dari sini."

Levi diam diam menyetujui pendapat Eren. Mikasa terlihat tidak seperti gadis pada umumnya secara fisik. Mata dan rambut yang gelap, kulit yang putih sedikit pucat, tulang pipi yang tinggi.

"H-heichou,"

"Apa?"

"Etto… aku tidak yakin tapi… anak itu tampaknya benar benar tidak terbiasa dengan orang asing. Dia… memintaku untuk kembali lagi kemarin. Aku tidak yakin tapi sepertinya ia memang berharap begitu atau-"

"Kembali saja lagi."

"Tapi, heichou! Bagaimana dengan misi-"

"Eren Jaeger, anggap saja ini sebagai misi kecil sebelum kita melanjutkan misi pokok kita. Ada sesuatu yang perlu aku pastikan dari gadis itu. kau juga kan?"

Benar juga. Pikir Eren. Ada beberapa yang cukup dipertanyakan dari gadis itu. Ackerman. Mungkin bisa dibilang cukup beruntung karena Erenlah yang kebetulan menemukannya.

"Jadi, dimana dia? Siapa namanya?"

"Mikasa… Ackerman. A-ano… apa tidak apa apa kau menemuinya?"

"Kurasa selama kau ada denganku tak apa." Levi meneguk habis kopi miliknya, segera beranjak dari kursi kayu tempat ia berada. Tangannya meraba cravat yang menggantung di sekitar lehernya, kemudian berjalan lurus keluar dari ruangan meninggalkan Eren dalam lamunannya hingga akhirnya anak itu sadar dan berlari menyusul seniornya.

.

.

.

Gadis itu meraba lembaran hangat selimut yang menutupi sekitar kaki dan pinggangnya. Sejak beberapa hari ini ia tidak yakin dimana dirinya sekarang, tapi hidungnya bisa mencium bau obat obatan. Hingga malam ini tidak seorangpun datang ke ruangannya. Atau lebih tepatnya tidak ada yang berani.

Tubuhnya sedikit terlonjak ketika mendengar derit pintu dari arah kanannya. Suara ketukan sepatu yang sepertinya berasal dari dua orang membuatnya sedikit waspada, sampai sebuah suara yang beberapa waktu ini terasa familiar untuknya kembali terdengar. Itu dia.

"Ackerman…"

Itu Eren.

Mikasa menyungging sedikit senyuman. Eren segera menyeret kursi kayu yang tersedia disana agar sedikit lebih dekat dengan ranjang Mikasa. Emerald-nya mengarah ke arah sang kopral yang lebih memilih berdiri bersandar di dinding ruangan dengan gaya khasnya. Levi lebih memilih mengabaikan pandangan Eren dan memperhatikan gadis yang beberapa waktu lalu jadi bahan pembicaraan mereka.

"Bagaimana keadaanmu?" Eren bertanya.

Mikasa mengangguk. "Baik"

Mikasa bahkan tak tahu cara menghentikan senyumannya. Sebelah tangannya tampak menggaruk garuk udara mencari sesuatu, hingga Eren meraih tangan dingin Mikasa dan gadis itu lagi lagi tersenyum. Menemukan yang dicarinya. Keberadaan Eren secara nyata. Tangannya sedikit kasar, tapi hangat. Batin Mikasa. Sedikit menyakitkan untuk kedua prajurit itu melihat kondisi Mikasa yang begitu polos, dan bahkan seolah ia adalah gadis normal, senyumannya tampak menenangkan.

"Jadi… tuan…" kening gadis itu mengkerut tampak berpikir. Benar juga… Eren belum pernah memperkenalkan dirinya dengan benar. Pria bersurai coklat tersebut terkekeh pelan bagaimana ekspresi lucu Mikasa saat memikirkan namanya.

"Eren Jaegar. Maaf… aku telat mengenalkan diri."

"Ah… Eren… Jaegar… jadi apa pekerjaanmu?"

"Aku bergabung dengan Survey Corps sebagai prajurit." Jawab Eren. Wajahnya kemudian menegang kala menyadari bahwa ia hampir saja melupakan sesuatu. "O-oh… dan ini, kau ingat aku bersama seseorang waktu itu? dia adalah kopral pasukan kami. Levi."

"Tch," Levi memalingkan muka. Jelas pria satu ini benar benar benci dilupakan.

"Levi?" Mikasa mengulang namanya. Genggaman tangannya menguat di jemari Eren, dan saat itu juga Eren menyadari rasa cemas dari gadis itu.

"Tidak apa apa, dia adalah atasanku. Dia orang yang baik." Ujar Eren mencoba meyakinkan.

Pembicaraan keduanya berlangsung tak berapa lama dengan Levi yang masih dalam posisinya mendengarkan apa apa saja yang mereka omongkan. Lebih terdengar seperti kerabat lama yang sama sama amnesia kemudian bertemu lagi, begitu menurut sang kopral muda. Bagaimana cerita cerita mereka yang tampak seperti nostalgia, tapi Levi menyadari satu hal. Mikasa tidak sedikitpun menguak tentang dirinya di masa lalu. Seakan itu tidak pernah ada.

Tak berapa lama Hanji datang untuk memberikan perawatan rutin. Dan lagi lagi Eren harus berperan untuk menenangkan Mikasa. Meyakinkan bahwa orang orang di sekelilingnya adalah orang baik. Tidak bisa dipercaya, seorang prajurit mematikan bisa menyuntikan pikiran pikiran naif seperti itu.

"Eren, sudah jam tidur." Levi berkata. Eren menoleh pada atasannya dan mengangguk.

"Sudah malam, sebaiknya kau tidur juga, Ackerman."

"Eren,"

"Hm?"

"Lain kali, bisa memanggilku dengan nama Mikasa?" pinta Mikasa. Matanya menerawang entah kemana. Eren hanya tersenyum dan menepuk pelan puncak kepala Mikasa.

"Ya. Selamat malam."

Pria itu bangkit dari kursinya berjalan kian menjauh dari ranjang dimana Mikasa berbaring dibalik selimutnya. Menatap seolah Eren masih ada disana, tapi ekspresinya jelas mendengar langkah Eren menjauh.

.

.

.

Butuh waktu cukup lama bagi Eren untuk mendengar komando selanjutnya dari Irvin. Sejujurnya ia sedikit bosan. Mungkin karena terbiasa dengan kegiatan sehari hari yang menantang, Eren sedikit lupa bagaimana caranya menikmati hidup tenang.

Dan disinilah pria Jaeger itu berada. Rupanya ia tidak mau susah susah mengenakan baju 'perang'nya, cukup dengan tshirt beige biasanya, celana coklat yang tidak terlalu panjang dan boots, memapah seorang gadis bergaya modest yang tampak meraba raba dimana ia berada. Sosok yang mendadak memaksa Eren menjadi cukup dekat dengannya. Eren sendiri masih penasaran apa yang membuatnya menjadi satu satunya orang yang dipercaya Mikasa begitu cepat? Rasanya ia sudah seperti suster pribadi Mikasa sekarang ini.

"Nah.. disini." Eren mencoba mendudukan Mikasa di halaman dekat rumah sakit. Ini juga pertama kalinya untuk Eren berjalan jalan secara bebas di balik dinding Sina. Karena sebelumnya ia tidak pernah punya kesempatan memasuki kawasan elite ini secara bebas. Banyak sekali hal indah disini. Tapi tetap saja, ini didalam tembok.

Mikasa bisa mendengar langkah kaki halus mendekati mereka. Dan ia bisa mengira siapa itu. sosok yang selalu ada di sekeliling Eren setiap kali ia bersamanya. Biarpun laki laki yang Eren bilang bernama Levi itu tidak banyak bicara, tapi Mikasa sudah merasa cukup familiar dengan keberadaannya.

"Heichou?"

"Dua jam lagi kita berangkat ke markas. Kita mendapat misi baru." Ujar Levi bersandar di salah satu sisi bangku yang sama yang di duduki Mikasa.

Wajah Eren tampak mulai bersemangat. Misi baru? Ah akhirnya, batinnya dan menjawab kata kata Levi dengan anggukan antusias. Eren bisa melihat tangan kiri Mikasa tampak mengawang awang sampai akhirnya mendarat di t-shirt punggung Levi, dan sang pemiliknya menoleh ke arah Mikasa.

Benar juga, bagaimana dengan Mikasa?

Eren menggeleng kepalanya cepat. Masih ada Hanji yang mengurusnya. Hanji cukup sering menemui Mikasa, ia pasti sudah terbiasa. Mikasa pasti baik baik saja.

"Kau sudah kenal dengan Hanji kan, Mikasa?" Levi bertanya tanpa repot repot berbalik menatap lawan bicaranya. Mikasa mengangguk.

"Dokter yang bicaranya banyak itu?" celetuk gadis itu.

"Oi, oi kau ini tidak sopan." Tegur Eren seraya mencolek ujung hidung gadis itu. Mikasa terkekeh pelan.

"berbaik baiklah dengannya nanti." Ucap Levi tanpa diduga. Eren sendiri sedikit terkejut dengan bagaimana Levi bisa menjadi sosok yang perhatian seperti itu. Telapak tangannya mendarat di pucuk kepala Mikasa, mengusapnya pelan.

Beberapa saat terlewat dengan hanya suara hembusan angin menyapu objek di sekitar ketiganya. Membelai kulit pucat Mikasa, hangat. Sorot matanya kosong, namun menyirat sendu secara tak kasat mata. Eren sering bercerita tentang kehidupannya menjadi prajurit, dan bagaimana ia harus bertaruh nyawa setiap kali mereka menjalankan misi.

"Kami akan pergi untuk menjalankan misi."

Mikasa merasakan seolah dimensi waktu menjadi begitu lambat dan menjauhinya. Membuatnya sadar kemudian.

Penyelamat hidupnya bisa mati kapan saja diluar sana.

.

.

.

Para anggota unggulan dari masing masing legion kini berkumpul di sebuah hall untuk membicarakan misi pengambil alihan kembali dinding Maria sekali lagi. Rasa sakit hati dan kesal yang menggumpal di pribadi masing masing sangat kentara terlihat. Perlu bertahun tahun untuk mereka mengambil alih dinding Maria saat pertama kali di bobol oleh titan titan tersebut, dan kini semuanya terulang lagi.

"Mengidentifikasi persentase kerusakan dinding Maria, dan memblokade lubang lubang yang ada untuk sementara. Misi pertama ini akan jadi penentu apakah misi kedua, untuk menutupi kerusakan pada dinding secara permanen bisa dilaksanakan atau tidak. Untuk misi pertama, Survey Corps akan dibantu oleh Pasukan Polisi Militer…" sang ketua ketiga Legion berbicara. Menerangkan tentang formasi dan pembagian kelompok untuk misi yang akan dijalankan besok sore.

"Annie…" Eren cukup terkejut ketika melihat sosok Annie di kelompoknya. Perempuan blonde satu ini benar benar menciptakan banyak kejutan bagi Eren. Annie berhasil menjadi prajurit terbaik Polisi Militer di angkatannya. Bahkan rumor yang beredar, gadis Leonhartd itu ditawarkan untuk mengawal salah satu petinggi bawahan langsung sang raja. Dan sisa malam itu dihabiskan oleh Eren, Annie dan salah satu senior Polisi Militer, Jacob dengan penyusunan rencana.

.

.

.

"Aku dengar tentang berita itu. Kau mendapat penawaran untuk menjadi pengawal pribadi mentri kan?"

"itu cerita lama. Aku menolaknya." Annie berkata sambil tetap berjalan sejajar dengan Eren.

"Sudah kuduga." Jawab Eren. Annie mendelik ke arahnya, menatap dengan sorotan tanda tanya. "Ya… terkadang aku menemukan banyak sekali hal yang mengejutkan darimu. Mendengarmu menolak tawaran besar seperti itu, kau pasti punya alasannya."

"Aku tidak membicarakannya."

"Aku tahu," Eren menghela nafasnya. Gadis satu ini benar benar sulit ditebak.

"Aku tidak banyak melihatmu di tempat latihan belakangan ini." ujar Annie sedikit mengejutkan Eren. Sebegitu mencoloknya kah ketidak beradaannya? Annie seolah menyadari sesuatu kemudian berkata, "W-Well… beberapa bertanya padaku tentang itu. Aku tidak bermaksud apapun." Lanjutnya seraya memalingkan muka.

Satu lagi kejutan dari Annie, batin Eren.
"Ah, itu… aku harus merawat seseorang."

Annie mengundurkan niatnya untuk bertanya lebih lanjut ketika Eren mendahuluinya dan memasuki sebuah ruangan di lorong itu. Sebuah kamar sederhana dengan ranjang yang menjadi tempat dimana sesosok gadis tampak terlelap dibalik selimutnya.

Pria itu tidak bergerak, cukup menatap lurus ke arah sosok yang kini tampak sangat tenang. Annie melempar tatapan penasaran tentang siapa sosok itu. ia belum pernah bertemu dengan gadis itu. mungkin ia kerabat Eren?

"Kalau sedang tidur seperti ini ia terlihat seperti anak anak…" gumam Eren. Suaranya masih cukup jelas untuk didengar gadis blonde di belakangnya. Bagi Annie, pemandangan ini sedikit asing. Karena selama ia mengenal Eren, ia tidak pernah melihat laki laki ini menaruh perhatian terhadap seorang gadis. Tak terkecuali dia.

.

.

.

-TBC-

.

.

A/N :

Hontou ni arigatou minna-san ^^ aaaaa senang sekali liat jumlah FF SNK melejiiit makin banyak tiap hari~ )/ nah jadi… gomen kalo disini chara2nya pada ooc ._. tapi ya… semoga oocnya ga mengecewakan dan ini cerita bakalan sedikit ngeduluin yang aslinya '-')/ ah baiklah itu jadi sedikit bocoran yah~ x_x

To Gummy : terima kasih , ini udah update^^

To xxxBlue : aaaa terima kasih semoga chapter ini suka juga :3

To Neima-san : Etto… kok rada ngakak sama komen ini XD gomen kalo pendek T_T nanti aku coba bikin agak panjang deeh hohoho~ soal berapa chapter…. Kalo sanggup sih pengennya banyak aaaaa~ terima kasih Neima-chan!^^

To ErenMika Lover : ahaha terima kasih^^ iya soalnya sebel juga sama 'aslinya' Eren di anime/manga ._.v tapi tetep cinta kok sama 'priaberwajahuke'ku itu w aaaaa makasih yaaaa ^^)/ ureshiii~~~

To Kueii : saya juga suka erenmikalevi XD aaaaa~ ah terima kasih Kei-san sarannya diterima banget~^^ disini aku udah coba pake kapital, semoga ga ada yang kelewat ya Arigatou~~ :3

To Leavian : Terima kasih^^ rencananya sih… Mikasa ga akan masuk anggota scouting legion… tapi jadi….. *kabur* XD ah sou ka? Baguslah XD semoga suka juga chapter yang ini^^

Ah, terima kasih juga buat yang follow & favorite Akiko Rin, Kueii, Leavian^^

Komentar & kritiknya sangat ditunggu m(_ _)m semakin banyak review tofu makin semangat ngetiknya^^ Jaa~~~