Natural

Wind

Flight

A bird

I was … trapped

I've failed …

I don't exist anymore …

.

.

.

Im Yoona - Im Jaebum - Im Changkyun

Mark Tuan - Joey Tuan

Wang Jackson

Lee Jooheon

Park Jinyoung - Park Jimin

Choi Youngjae

Lalisa

Bambam - Baby

Kim Yoogyeom

.

.

.

Seoul - Winter

Waktu berganti hari, hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Dan sekarang sudah mulai memasuki musim salju. Angin musim gugur dan juga musim dingin bersatu menusuk tulang, itu jika kau keluar dengan hanya menggunakan baju seadanya. Dan itu yang di lakukan Youngjae yang terjebak di mini store saat tiba tiba hujan datang dengan sangat deras. Dan lebih bodohnya lagi dia tidak membawa ponsel atau uang lebih untuk membeli mantel. Jadi saat ini dia lebih memilih menyeduh mie instan yang seharusnya dia makan di apartment.

"hah sedih sekali hidupmu Youngjae, jika bukan karena hyung bodohmu itu. Jadi selamat makan Youngjae, oh dan berdoalah semoga hyungmu makan dengan baik." Youngjae berbicara sendiri dengan mie yang berada pada sumpitnya. Menghilangkan rasa kesepian mungkin.

Pintu mini store terbuka cukup lebar dengan beberapa orang masuk hanya untuk sekedar meneduh. Salah satu di antara kerumunan itu menghampiri Youngjae yang masih asik berbicara sendiri.

"Jae?" Jaebum menepuk pundak Youngjae. Youngjae hanya melirik malas pada Jaebum.

"oh hyung, kenapa? Meneduh? Kesepian?" jawab Youngjae malas. Jaebum mengerutkan alisnya bingung mendengar jawaban Youngjae.

"kemari aku peluk, jika kau ingin menangis menangislah di pundakku." Jaebum memberikan pundaknya, tapi Youngjae mendenguskan kesal dengan ejekan hyungnya itu.

"lebih baik aku makan mie ini saja daripada harus memelukmu." Youngjae menyesap mie instan itu dengan sesekali menghembuskan nafasnya kesal melihat hujan yang pasti tak akan berhenti dengan mudahnya. Akhirnya Jaebum dan Youngjae duduk bersebelahan dan menunggu hujan reda.

.

Jinyoung keluar kamar hanya karena ingin mengambil persediaan air di kamarnya. Saat berjalan melewati kamar adiknya, dia mendengar suara berisik. Karena penasaran Jinyoung mendekati pintu kamar Jimin. Saat telinganya mendekati pintu, pintu terbuka dan salah satu teman Jimin yang cukup tinggi berhenti karena Jinyoung berada di depannya persis.

"Jinyoung hyung?"

"oh oppa, ada apa?" Jimin berada di bekalang Yoogyeom saat mendengar temannya memanggil kakaknya.

"hanya mendengar apa yang sedang kalian lakukan. Tak boleh?" Jinyoung menatap teman adiknya yang terlalu tinggi. Menyipitkan matanya apa yang bagus dari pria ini.

"mengerjakan tugas." Jawab Yoogyeom santai.

"dan tadi aku menyuruhnya turun untuk mengambil minum."

"dia turun denganku hyung, tak apa kan? Hanya mengambil minuman. Maaf jika kami sudah membuatmu terganggu." Bambam menengahi Jinyoung dan Yoogyeom yang masih saling menatap, karena Jimin saja tak bisa melakukannya. Dengan sigap Bambam menarik Yoogyeom untuk turun.

"mereka menginap?" Jinyoung masuk ke dalam kamar adiknya, Lisa yang baru keluar dari kamar mandi terkejut saat melihat Jinyoung sedang membongkar prakarya mereka.

"iya oppa, om dan tante tidak pulang. Kita ada tugas, jadi lebih baik mengerjakan di rumah Jimin. Jika di rumah nanti orang orang akan berpikir yang aneh aneh. Lebih baik di sini karena ada oppa yang menjaga kita." Lisa duduk di karpet beludu warna merah yang penuh dengan kertas dan koran. Jinyoung hanya mengangguk mengiyakan tapi raut wajahnya masih berpikir pertanyaan tentang bagaimana selanjutnya.

"apa ini cukup?" Bambam dan Yoogyeom masuk ke dalam kamar dengan membawa kardus dan beberapa botol mineral. Jinyoung memperhatikan gerak gerik Yoogyeom.

"ntah kenapa aku benci denganmu." Jinyoung dengan spontan mengatakan itu dan menatap Yoogyeom saat berdiri di hadapannya.

"iya aku tau. Karena aku tinggi kan? Aku merasakan aura irimu hyung." Yoogyeom tersenyum miring saat mengatakannya. Jinyoung membuka matanya cukup lebar, karena apa yang di katakan anak itu memang benar.

"aku tidak akan pernah merestui jika kau berpacaran dengan bocah tengik ini Jimin, mengerti!" Jinyoung menoleh ke arah Jimin dan Lisa lalu menunjuk Yoogyeom yang berada di depannya. Jimin sendiri hanya mengangguk tidak mengerti.

"aku memang tidak menyukai adikmu, dia pendek dan gempal. Tidak sexy." Yoogyeom menjawab dengan santai. Saat itu juga Jinyoung ingin menampar Yoogyeom, tapi sebelum dia sempat melakukan itu Jimin sudah lebih dulu melemparinya dengan perekat yang belum terpakai dan tepat mengenai kepalanya. Yoogyeom mengaduh, Jimin melanjutkan pekerjaannya sedangkan Jinyoung menepuk kepala Yoogyeom, bangga karena adiknya sendiri yang melakukan. Jinyoung berjalan keluar kamar dan menutup pintu kamar, tapi dia sempat mendengar Yoogyeom mengomel kepada adiknya.

.

Mark mencari simpanan makanannya yang dia simpan di lemari. Tapi lemari itu isinya kosong yang ada hanya beberapa makanan kaleng. Mark mencari apapun setidaknya untuk mengisi perutnya yang kosong. Roti pun dia akan berterima kasih. Nihil, dia tidak mendapatkan apapun. Alhasil dia hanya berdiam diri di ruang makan, memperhatikan lemari es itu dengan tatapan kosong. Karena di dalam sana hanya ada kimchi, telor, dan ikan teri, jadi Mark hanya membuat nasi goreng kimchi.

Dengan sigap Mark memasak untuk dirinya sendiri. Biasa hidup sendiri jadi harus bisa di biasakan dengan keadaan darurat seperti ini, kau harus bisa masak. Setidaknya hanya nasi dan kimchi kau masih bisa hidup walau rasanya akan sangat luar biasa aneh. Tapi karena Mark sering belajar dari kesalahannya dia sudah bisa membuat makanan yang hanya dia yang bisa memakannya.

"selamat makan." Dengan santai Mark memakan nasi goreng kimchi dengan ikan teri dan telur yang di goreng seadanya. Mark tau ada yang memasuki apartmentnya tapi dia terlalu senang dengan masakannya.

"hyuuuuuung! Aku membelimu makan malam, kenapa kau malah memasak!" Protes Jackson saat melihat Mark makan dengan lahap.

"kau menghilang, tak bisa di hubungi, tak ada makanan, aku lapar, aku masak, dan aku makan sekarang." Mark masih memakan masakannya, Jackson hanya berdiri kesal di depannya.

"aku membawakan ini untuk makan malam. Padahal lusa kemarin kau bilang ingin memakan ini karenanya aku keluar mencari. Dan kau tidur jadi aku keluar sendiri, aku juga tak tau jika cuaca akan-sangat-tidak-bersahabat-hari-ini. Ponselku juga mati, jadinya aku tak bisa mengabarimu. Maaf." Jackson kesal, tapi dia juga merasa bersalah karena tidak mengabari Mark dan berakhir dia kelaparan sendirian dan memasak makanan aneh itu lagi. Jackson meletakkan beberapa bungkusan dimsum yang masih hangat dan memperhatikan Mark.

"baiklah ayo kita makan bersama. Ganti bajumu aku akan menyiapkan semuanya. Sisa belanjaannya nanti kita rapikan bersama, bersihkan saja badanmu lalu kita makan bersama. Cepat cepat." Karena tidak ingin mengecewakan Jackson yang sudah bersusah payah dan lagi di luar sana cuaca memang sangat tidak bagus pasti kondisi Jackson kacau. Mark menyingkirkan makanannya lalu menyiapkan makan malam yang sudah Jackson beli. Makanan yang Mark masak tadi dia letakkan di dekat pemanas makanan. Mungkin lain kali lebih baik Mark menunggu Jackson pulang saja, karena memasak dan makan sendiri adalah hal payah yang pernah Mark lakukan.

.

.

.

Distrik tempat tinggal Jinyoung dan juga Jaebum sangat ramai karena mereka mengadakan pesta selama tujuh hari terhitung dari malam natal hingga malam tahun baru. Hampir di setiap persimpangan jalan akan ada banyak pameran atau jajanan pinggir jalan yang di jualkan. Bahkan mereka yang bukan berasal dari distrik itu akan mampir dan ikut memeriahkan setiap malam. Karena libur panjang maka mereka tidak pernah menyianyiakan kesempatan itu. Mark, Jackson dan Jaebum berkumpul dan menginap di rumah Jinyoung. Karena rumah kosong, dan juga noonanya sedang ada kerja di Jepang, Changkyun mengajak Youngjae untuk menginap di rumahnya. Dan itu berlaku juga untuk Jimin, karena teman teman kakaknya akan menginap dia lebih memilih tidur bersama Lisa, dan itu di gunakan Bambam untuk memanggil Yoogyeom dan menginap bersama.

"hyung lebih baik kau ajak adikmu ke sini. Dia bersama Youngjae kan di rumah?" tanya Jinyoung pada Jaebum. Jaebum sempat berpikir, dan segera menghubungi adiknya.

"jika kau mengajak Changkyun dan juga Youngjae, kenapa kau tidak sekalian mengajak adikmu dan teman temannya?" Mark memberi usul. Jinyoung memang berniat seperti itu karenanya saat Mark mengatakan itu dia sudah menghubungi Jimin.

Tak berapa lama mereka berenam memasuki rumah Jinyoung. Jimin sempat berpikir jarang sekali kakaknya mengajak orang lain bahkan group luar untuk bergabung dengannya. Tapi ini bahkan hampir semuanya dia undang.

"ada apa? Kau jarang sekali mengundang kita untuk bergabung denganmu?" tanya Jimin yang di angguki oleh Changkyun dan Youngjae. Jaebum hanya tersenyum lalu merangkul Changkyun dan Youngjae -yang sudah dia anggap adiknya sendiri- menuju halaman belakang tempat dimana Jackson sedang asik bermain game. Mark menarik Bambam dan Lisa, Yoogyeom hanya mengikuti di belakangnya.

"kau kan adikku, dan kau punya teman teman yang sama dekatnya dengan aku dan mereka bertiga. Sama seperti Changkyun adik Jaebum hyung yang berteman dekat dengan Youngjae. Jadi tak masalahkan jika aku dan yang lain ingin mengenal kalian, lebih bagus jika ternyata kita bisa berkumpul bersama. Semakin banyak bukankah semakin seru. Pasti ada keunikan di antara kalian yang membuat kita akan sering berkumpul." Jinyoung merangkul Jimin yang sedang melipat tangannya. Mengajaknya berkumpul di taman belakang rumah. Memberikan penjelasan kenapa dia ingin berkumpul dengan yang lain. Jimin memperhatikan teman temannya dan teman teman kakaknya yang langsung cepat membaur. Mereka terlihat seperti sudah lama saling mengenal. Jimin sempat tertawa kecil lalu menarik Jinyoung untuk segera berkumpul dengan yang lainnya.

.

.

.

.

.

tbc

.

.

.

Intronya kelamaan yah hahahaha

Review yah dear~

Peace out! Jjjai~