Mimpi apa aku semalam? Pagi ini aku dikejutkan dengan sebuah amplop merah jambu di dalam laci mejaku. Ino yang melihatnya malah menjadi heboh sendiri.

"Dari siapa? Dari siapa?" tanya Ino antusias.

"Aku belum membukanya, dasar Ino-pig!" jawabku sewot.

"Karena itu cepat dibuka!"

Perlahan aku membuka amplop merah jambu itu. Ku baca isi surat itu dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya (?), karena Ino masih saja berusaha mencari tahu apa isi dari surat itu. Aku langsung melipat surat itu begitu selesai membacanya. Ino langsung memasang wajah kecewa.

"Sakura? Sakura!" teriak Ino, sampai teman-teman yang ada di kelas menengok ke arah kami. Spontan aku langsung membungkam mulutnya.

"Diam ah! Berisik!" bisikku.

"Siapa suruh main rahasia! Surat dari siapa? Surat cinta ya? Dari Naruto lagi ya? Atau Gaara yang kemarin menembakmu? Siapa?" tanya Ino seperti mobil yang remnya blong, tidak bisa berhenti.

"Sudah kubilang jangan berisik, Ino! Aku juga tidak yakin, tapi di sini tertulis pengirimnya... Sasori," suaraku memelan ketika menyebut nama Sasori dan kurasakan wajahku mulai memanas.

"Apa?!"

"Iiiih! Jangan teriak-teriak!" gerutuku sambil mencubit lengan Ino.

"Khilaaaf! Eh... isinya apa?" Ino makin penasaran.

Sesuai yang ada pada surat merah jambu itu, aku pergi ke belakang sekolah untuk bertemu dengannya. Sebenarnya, aku agak ragu dengan surat itu. Karena sikap Sasori di kelas pun biasa saja. Tidak mengisyaratkan sesuatu.

"Ternyata kau benar-benar menyukai Sasori ya?" tiba-tiba sebuah suara muncul dari arah belakangku. Refleks aku langsung menengok ke arah suara itu dan... Shion? Mantan kekasih Sasori.

"Shion? Ka...kau?" aku bingung dengan semua ini, aku datang untuk bertemu Sasori. Tapi kenapa yang muncul Shion? Jangan-jangan, Shion yang sudah...

"Iya! Aku yang sudah menulis surat itu! Berani-beraninya kau merebut Sasori dariku!" bentak Shion dan...PLAK!

Sebuah tamparan yang keras mendarat di pipiku. Bersamaan dengan itu aku mulai menyadari apa yang sebenarnya terjadi.

"Shion!" seru Sasori yang tiba-tiba datang bersama Ino. Ino langsung berlari ke arahku yang masih memegangi bekas tamparan Shion.

"Kamu mau bela dia? Iya? Kau jahat Sasori, aku masih menyayangimu. Tapi kenapa kau tidak mau kembali kepadaku? Kenapa?" isak Shion, terduduk di tanah. Sasori menghampiri Shion lalu mengelus lembut kepalanya. Saat itulah aku merasa seperti ada beban berat yang tiba-tiba jatuh ke tubuhku. Dan aku langsung meninggalkan mereka. Ino tidak berani mengatakan apapun. Dia hanya terus menggenggam erat tanganku.

TBC...


gomen T^T karena masih bertahan dengan cerita yang amat pendek..huhu
di otakku sekarang hanya 3 hal GOTONG ROYONG, SALING BERBAGI DAN TOLONG MENOLONG (apakah kalian bingung? Kaka juga bingung -_-" )

mohon review-nya ^_^