Disclaimer- Naruto © Masashi Kishimoto
Genre- Friendship and Romance
Summary - Memikirkan seseorang bukan berarti kita mencintainya, mungkin ada makna lain dari pikiran tersebut.
.
.
PAIN
.
.
.
Chapter 2
"Pagi, forehead…" Ucap Ino menepuk punggung Sakura.
"Ah, Ino pig… Pagi." Ucap Sakura membalas senyum Ino.
"Selamat pagi, Yamanaka!" Sapa Neji pada Ino.
"Selamat Pagi Hyuuga-senpai!" Balas Ino ceria.
"Kalian selalu datang bersama ya? Hey senpai, apa Sakura begitu sulit untuk bangun pagi?" Tanya Ino meledek Sakura.
"INO NO BAKA…" teriak Sakura yang sontak membuat Neji dan Ino tertawa.
"Tidak, tapi kami selalu bersama karena rumah kami dekat." Jawab Neji disela tawanya.
"Huh, memangnya aku sepertimu? Ino pig pe-ma-las." Ledek Sakura.
"Apa? Hey, begini-begini aku ini rajin tau." Ucap Ino tak mau kalah.
"Oh ya? Rajin berdandan maksudmu?" Balas Sakura.
"KAU…" Teriak Ino mengejar Sakura yang telah berlari meninggalkan Neji sendirian.
"Dasar." Gumam Neji melihat tingkah Sakura dan Ino.
Tak berapa lama bel tanda masukpun berdentang. Siswa-siswa yang tadinya masih di ambang pagar sekolah berlarian masuk ke gedung sekolah agar tidak terlambat dan dihukum oleh guru BP, pemandangan sama yang selalu dapat dilihat setiap hari.
.
.
Di kelas, Sakura kembali memperhatikan lapangan dan menangkap sosok yang akhir-akhir ini mengganggu pikirannya. Uchiha Sasuke. Sosok yang selalu datang bermain-main di kepalanya dikala ia sedang senggang alias bengong. Dengan santainya pemuda itu berjalan melewati gerbang sekolah dan lapangan padahal murid-murid yang lain berlari-lari agar dapat masuk ke kelas tepat waktu.
"Uchiha-senpai." Gumam Sakura masih memperhatikan Sasuke yang makin menghilang di balik tembok gedung sekolah. "Akan tiba saatnya nanti." Lanjutnya dan tersenyum tipis. Ino hanya dapat menggeleng-geleng pelan melihat tingkah laku Sakura.
Entah apa yang merasuki Sakura hingga ia terus memikirkan senpai-nya itu. Jika yang dikatakan Ino benar bahwa dirinya jatuh cinta pada senpai-nya, lalu kenapa ia sama sekali tidak berdebar-debar seperti kebanyakan yang orang katakan? Jika hanya memikirkan seseorang bisa dikatakan jatuh cinta, maka selama ini ia telah jatuh cinta dengan banyak orang, apa benar begitu?.
Pelajaranpun berlangsung, jam pertama, jam kedua dilalui Sakura dan teman-teman sekelasnya seperti biasanya. Sesekali Sakura memalingkan manik emeraldnya ke luar jendela memandang langit biru yang dihiasi awan-awan dengan berbagai bentuk. Angin yang sepoi-sepoi masuk ke kelas melewati jendela-jendela yang terbuka, rambut pink Sakurapun sedikit melambai mengikuti hembusan angin yang perlahan. Disibaknya rambut-rambut halus yang menghalangi pandangannya ke belakang telinga lalu ia kembali memperhatikan papan tulis yang kini telah terisi dengan tulisan-tulisan guru.
.
.
.
.
Saat itu kelas Neji sedang berlangsung pelajaran olahraga di lapangan. Tanpa disadari Sakura, Neji menatapnya dari kejauhan begitu pula dengan Sasuke. Neji dan Sasuke adalah teman sekelas, oleh karena itu Neji tahu bahwa Sakura selalu mencuri-curi pandang pada teman sekelasnya itu. Ia juga tahu bahwa Sasuke juga diam-diam mencuri pandang ke arah Sakura. Lagi-lagi perasaan kesal itu muncul dan dengan cepat ditepisnya.
"Teme, kau memandang siapa?" Tanya pemuda berkulit tan.
"Bukan siapa-siapa." Jawab Pria yang dipanggil Teme tadi singkat. "Dobe, giliranmu." Ucap pemuda tadi, Sasuke.
"Aah… Iya-iya." Jawab pemuda yang dipanggil Dobe sekenanya. "Hei Shikamaru, Neji giliran kita tuh" Ucapnya mengajak teman sekelompoknya.
"Merepotkan. Naruto, Neji lebih baik kita cepat selesaikan ini." Ucapnya dengan malas.
"Aa." Jawab Neji sekenanya.
"Baiklah…" Jawab Naruto, pemuda berkulit tan tadi dengan semangat.
Lalu merekapun bermainan basket dengan lincahnya dan penuh perhitungan. Dalam sekejap pikiran Neji teralihkan dari Sakura dan Sasuke. Rasa kesal yang tadi sempat merasukinya kini hilang tanpa bekas digantikan dengan kesenangan yang menyelimutinya. Ya, menggerakkan tubuh adalah salah satu kesenangan Neji untuk mengalihkan perhatian selain bermeditasi.
.
###
.
Sakura baru saja keluar dari kelasnya yang sepi, ketika sosok lengan putih memegang bahunya pelan. Membuat gadis itu tersentak kaget, refleks mengayunkan tas yang di pegangnya ke belakang.
"Hei, bahaya!" Terdengar suara baritone dari seorang pemuda, dengan cepat menangkis tas yang hampir mengenai wajahnya.
"Eh, Neji-senpai? Apa yang kau lakukan disini?" bukannya meminta maaf, gadis itu malah bertanya keheranan.
"Kau ini!" gerutu Neji melihat tingkah sakura yang mulai tenang. Terlihat tidak merasa bersalah atas ulahnya barusan. "Seharusnya aku yang bertanya. Kenapa kau belum pulang juga? Jangan bilang kalau kau menungguku?" Tanyanya heran.
"Tidak, aku baru saja selesai piket." Jawabnya datar, tidak peduli dengan perubahan raut wajah Neji yang terlihat kecewa. "Senpai sendiri?"
"Kau seperti tidak tahu saja." Ucapnya memberikan isyarat.
"Ah, Osis." Angguknya paham kembali berjalan diikuti oleh Neji.
Kembali keduanya berjalan dalam keheningan. Hal yang tidak biasa mengingat seperti apa sakura dulu, selalu saja ada topik – topik menarik yang mereka bicarakan sepanjang perjalanan menuju rumah. Tidak seperti sekarang, entah sejak kapan Sakura yang dikenalnya bisa berubah seperti ini.
Belum keluar dari gerbang sekolah saja dia merasa seperti berjalan seorang diri. Membuatnya menghela nafas berusaha memikirkan topik pembicaraan yang menarik.
"..Setahuku, bukannya kau piket dua hari yang lalu. Kenapa sekarang jadi giliranmu lagi?" tanyanya melirik gadis itu yang menghela nafas.
Melirik Neji sesaat, sebelum akhirnya menjawab. "Aku menggantikan Ino, dia ada keperluan mendesak hari ini," jawabnya.
"Oh, aku kira.."
"NEJI‼"
Terdengar suara teriakan cempreng dari arah belakang. Membuat keduanya berhenti dan menoleh, mendapati dua orang pemuda berjalan ke arah mereka. Ralat, salah satunya kini berlari menghampiri mereka.
"Ah, untunglah kau belum pulang." Cengirnya melihat Neji yang menatapnya heran.
"Ada apa Naruto?" Tanyanya heran.
"Kau melupakan bukumu," cengirnya memberikan buku yang tadi dipinjamnya pada pemuda itu.
Menatap buku itu, mengambilnya cepat. Melihat sosok Sakura yang tadi berjalan sendirian membuatnya benar – benar melupakan buku miliknya.
Sementara Sakura hanya menatap datar ke arah Neji, sebelum pandangannya beralih pada dua pemuda di belakang tubuh Neji.
Seakan tersadar bahwa dirinya dari tadi terus di tatap oleh sepasang mata beriris hitam. Menatap balik, sebelum akhirnya memberikan senyum terbaiknya.
"Selamat sore, Uchiha-senpai, Naruto." Sapanya ramah.
"Ah, Sakura-chan." Ucap ceria Naruto, seakan tersadar ada gadis itu di sana. "Ah, pantas saja Neji melupakan bukunya. Aku mengerti sekarang." angguknya paham.
Tidak di pedulikannya, Neji yang kini menatapnya kesal. "Apa maksudmu, Naruto?" tatap pemuda itu sinis.
Sedangkan yang ditatap terlihat tidak ambil peduli, terus saja pemuda itu memberikan senyum mencurigakan pada keduanya. Tidakkah disadarinya, pemuda di sampingnya kini ikut menatapnya datar. Terlihat apa yang baru saja dikatakan olehnya, merupakan hal yang menyebalkan.
"Jangan menggoda Neji-senpai seperti itu, Naruto." Senyum simpul Sakura "Tidakkah kau lihat, wajahnya sekarang sudah mulai merah. Bisa – bisa nanti meletus lagi."
"Meletus?"
"Iya, meletus. Seperti gunung berapi, menyeramkan loh." senyumnya
"Eh…Hahaha, kau benar. Wah gawat jika sudah seperti itu." Tawa Naruto,
"Ck, jangan ikut – ikutan Sakura." Gerutu Neji.
Tawa kecil keluar dari bibir Sakura, menanggapi sifat Neji kini yang terlihat makin kesal.
Iris zamrud itu perlahan melirik iris gelap di depannya, menghela nafas menyadari mata itu masih memandangnya datar. "Apa aku mengatakan sesuatu yang salah, Uchiha-senpai? Sepertinya Senpai tidak begitu suka dengan apa yang ku katakan."
"Hnn."
Hanya satu kata itu saja yang keluar dari bibir pemuda Uchiha itu, perlahan berjalan meninggalkan ketiganya begitu saja. Membiarkan ketiganya diliputi tanda tanya berusaha mengartikan apa maksud dari katanya barusan.
"Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?"
Kembali Sakura bertanya, tapi kali ini ditunjukan untuk kedua pemuda di hadapannya.
Seperti halnya Sakura yang tampak kebingungan, keduanya pun kini mengalami hal yang sama seperti dirinya. Melihat Naruto yang hanya mengangkat bahunya, Neji yang menghela nafas.
"Sudahlah tidak usah pedulikan dia." Ujar Neji
"Teme, memang selalu seperti itu." sahut Naruto menyetujui ucapan Neji "Baiklah, Sakura-chan, sampai nanti. Aku harus mengejar Teme dulu."
Satu anggukan kecil dilakukan Sakura, membiarkan Naruto berlari mengejar Sasuke yang menjauh. Tepukan pelan kini mendarat di kepala Sakura, dan asalnya kini dari pemuda berambut coklat di sampingnya.
"Sebaiknya kita pulang sekarang." ujar Neji berusaha mengalihkan perhatian Sakura dari sosok Sasuke. "Ayo!"
Perlahan ditariknya tangan gadis berambut pink itu, iris zamrud yang dari tadi memperhatikan Sasuke itupun, kini mengalihkan perhatiannya. Kembali menghadap depan, sesuai dengan tujuan keduanya, yaitu pulang.
Biarlah soal Sasuke nanti jadi urusan Naruto, sepertinya pemuda itu juga ikut kebingungan dengan perubahan sikap temannya, yang tiba – tiba berubah. Entah apa yang ada di pikiran pemuda itu saat ini.
.
.
.tbc
.
