Chapter one
CHANBAEK
Rate : M!
/YAOI/
.
.
.
Tim—I Love You5 Tahun lalu
Masih dengan musim yang sama, musim dingin. Badai salju tidak mengusik keinginan ibuku untuk tetap mengantarkanku menuju sekolah Heerin.
Ia banyak bercerita mengenai cara mendapatkan teman dengan mudah, juga bagaimana supaya aku bisa diterima baik sebagai anak kelas yang baru.
Semua perkataan ibu jelas tersimpan dengan baik dipikiranku. Tetapi senyum terpaksa dan raut pucatku entah kenapa tidak dapat ibu baca. Aku jelas ketakukan. Memikirkan betapa mudahnya Tuhan mempertemukan aku dengan orang penuh dendam terhadapku, Park Chanyeol.
Aku tahu dia ditingkat yang berbeda denganku. Sebenarnya aku masih mengetahui bagaimana keadaan Chanyeol. Aku tidak bisa berbohong ketika Chanyeol sempat memperkosaku dikelas 7 SMP, aku tidak mencarinya. Justru aku sangat mencarinya.
Mencarinya untuk mengetahui sebrengsek apa si bajingan itu. Ternyata dugaanku tepat.
Aku melihat banyak akun di media sosial yang bertebaran memuji betapa kerennya dia, juga mengeluh-eluhkan dirinya sebagai Raja untuk negri ini. Orang nomor satu di korea.
"Di sini tidak seperti kampung kita, Baekie. Ibu mohon untuk tetap memakai pakaian hangat, entah kenapa udara sangat tidak baik." Aku mengganguk mendengar nasehat ibuku. Ia menurunkan beberapa koper bawaanku dibantu supir taksi teman ayah.
Mataku tertuju pada apartement kecil yang sangat sempit, nantinya akan menjadi tempat tinggalku 3 tahun kedepan—hanya sampai aku lulus. Ibu terkekeh sambil mengelus suraiku.
"Maaf jika tidak seperti yang Baekhyun-ie kira. Mama hanya punya sedikit uang makanya membeli yang kecil."
"Tidak apa, Ma. Aku menyukai kawasan ini." Ujarku mencoba untuk menerima. Kawasan ini tidak baik, di sini gelap juga berbau pesing. Tetapi ketika pandanganku menyapu ke dalam apartement, aku sadar. Ibu menyediakan semua dengan sangat baik. Kamarku bersih dan wangi. kupikir ibu bekerja keras untuk menyediakan ruangan ini agar nyaman untuk kugunakan. apalagi banyak tanaman kaktus yang ibu bawa untuk mempersejuk apartementku.
"Ma, terima kasih." Aku memeluknya erat. Entah kenapa aku jadi merasa bersalah oleh sikapku yang memusingkan betapa ketakutannya aku. Ibu dan Ayah padahal berharap banyak kepadaku untuk mendapat yang terbaik. Baiklah, Baekhyun kau pasti bisa!
"Sudah hampir larut. Apa Mama sebaiknya menginap saja?" ibu menggeleng ringan.
"Ayah mu sendiri di kampung, Sayang." Seusai ibu menatap segala perlengkapan dan barang-barang milikku, ibu Tersenyum. Aku yang tengah menyusun beberapa buku untuk sekolah dihampiri oleh ibu.
"Ini. Mama mohon untuk menjaganya dengan baik, sayang. Kau tahu betapa beratnya mama meninggalkanmu sendiri di kota ini? Tolong jadi Baekhyun-ie kesayangan Mama. Jaga dirimu, jangan kecewakan Mama." Ibu memberi kalung putih yang sempat kulihat beberapa hari ini sebelum keberangkatanku. Aku terisak dipelukkannya. Kalung itu adalah kepercayaan ibu dan ayah selama aku merantau. Aku bukan bodoh untuk tidak mengetahui barang mahal apa yang bisa ibu beli. Dan kini satu-satunya barang mahal ibu diberikan kepadaku.
"Kalung ini adalah pengganti kehadiran kami, sayang. Mama bersama Papamu berusaha membelinya dengan hasil panen tempo lalu. Syukurlah bisa terbeli, kami kira awalnya tidak akan cukup membelinya." Ibu mengusap airmataku yang masih terjatuh. Betapa mereka mencintai anaknya ini. Padahal aku masih menyimpan kebohongan kepada orangtuaku. Kebohongan dimana semua bersumber kepada Chanyeol.
Bagaimana bisa aku tidak mengecewakan kalian. Seandainya kalian tahu, aku sudah rusak ditangan anak pemilik sekolah Heerin. Tangisku membatin.
Setelah mengantarkan kepulangan ibu, aku memilih untuk membersihkan diri. Banyak persiapan yang kulakukan untuk memulai bersekolah di Herrin. Sebagai murid baru tentu saja Heerin tetap memberikan Ospek hingga 3 hari berturut. Maka dari itu, malam ini aku perlu mempersiapkannya.
"Semoga besok menjadi hari terbaikku. Tuhan lindungi aku."
Author's part
Pagi ini Heerin dibisingkan oleh murid-murid baru yang bertebaran disekeliling lapangan besar. Mereka menggunakan seragam pertama berwarna putih-hitam dengan almamater hitam berlogo Mahkota emas sebagai lambang sekolah Heerin.
Ketika terdengar punyi alarm sekolah, semua murid baru langsung masuk pada barisan panjang yang rapi sesuai arahan kakak kelas. Lapangan ini tidak seperti lapangan pada umumnya. Baekhyun rasa ini adalah penggambaran lapangan konser? Entahlah, tetapi sangat mirip seperti manusia-manusia yang ingin menonton konser. Mereka dibariskan untuk berfokus kepada satu podium besar.
Tepatnya, posisi mereka berbaris menghadap pada panggung megah yang terdapat tiga buah kursi emas. Banyak murid menaruh semangat menunggu kursi-kursi itu terisi, tetapi Baekhyun malah menaruh rasa heran. Apa benar ini ospek? Tanyanya dalam hati.
Srak!
Suara di panggung terdengar. Kakak pembina sebanyak 10 orang berbaris rapi disisi ketiga kursi emas. Mereka berpakaian drak-blue yang menandakan jika mereka dari angkatan akhir. Ditangan mereka masing-masing terdapat semacam peluit yang digunakan untuk memanggil siswa baru yang bermasalah.
"Kalian dibariskan di sini untuk beberapa alasan." Suara lelaki tinggi dengan tubuh semampai terdengar. Ia menatap seluruh murid baru dengan wajah tegas. Tidak ada sedikitpun senyum yang diberikan. Raut wajahnya mengundang pekkikan histeria dari siswa perempuan yang menaruh kagum.
"Alasan pertama, karena kalian murid baru. Alasan kedua, kalian harus melewati masa pengenalan sekolah juga peraturan didalamnya. Dan alasan terakhir, kalian harus mengetahui siapa pemimpin kalian. Paham?!" teriaknya galak.
"Paham, Sunbae!"
Baekhyun mengeratkan genggaman pada jas almamaternya. "Apakah sekolah ini, sekolah militer?" cicit salah satu teman yang juga sama ketakutannya dengan Baekhyun. Dan disinilah Baekhyun paham sumber suara itu. Ia satu barisan dengan dua orang lelaki bertubuh pendek yang memakai handband berwarna merah maroon yang sama dengannya—mereka sekelas.
"Hai.." cengir lelaki bermata bulat dengan wajah yang sangat imut. Ia tersenyum menyalami tangan Baekhyun yang tadi ia tarik paksa.
"Aku Kyungsoo, Do Kyungsoo. Dan ini temanku yang baru ku kenal juga, dia Luhan. Hehe"
"Ah, begitu. Aku Baekhyun, hehe." Balas Baekhyun menatap aneh dua orang yang nyengir tidak jelas di hadapannya. Mereka terlihat baik dan juga unik. Entahlah, tetapi Baekhyun senang mereka ramah. Tidak seperti anak orang kaya ditempat ini yang sedari ia memasuki gerbang sekolah langsung menatapnya perang. Apa aku kelihatan sekali dari murid beasiswa? Tanya Baekhyun dalam hati.
"Mari berteman baik, Baekhyun-ie.." ujar Luhan merangkul pundak sempit teman barunya. Ketiga orang itu berbicara mengenai perkenalan mereka dengan suara kecil—sepelan mungkin. Mungkin karena tubuh pendek mereka yang kecil, kakak pembina di depan tidak menangkap ketiganya.
"Sekolah ini selalu menerapkan sistem yang sedikit berbeda. Kau lihat tiga kursi di depan sana?" tunjuk Luhan yang diikuti langsung oleh mata Kyungsoo dan Baekhyun. Mereka mulai mendengar tuturan Luhan mengenai Heerin yang sedikit aneh. Memang semua terasa berbeda, Luhan juga mengetahuinya karena ayahnya sendiri adalah donatur ditempat ini.
"Aku harap pada jam terakhir Ospek ini kita tidak ikut berbaris."
"mengapa? Bukankah kita malah akan mendapat masalah?" tanya Kyungsoo yang diangguki setuju oleh Baekhyun. Mereka berbisik-bisik untuk menghindari perhatian dari teman-teman yang ikut berbaris. Arahan di depan podium mereka abaikan. Baekhyun juga lebih tertarik mengenai cerita Luhan tentang sekolah ini.
"Hm, pokoknya jangan. Lebih baik kita bersembunyi. Kalian harus mendengarkanku. Tiga kursi itu adalah tempat pemimpin di sekolah, yang artinya mereka selalu mencari mangsa. Kalian mau dijadikan mangsa?" kedua teman baru Luhan menggeleng serempak.
"bagus! Nanti kita sepakat untuk tidak ikut ospek pada jam terakhir, mengerti?"
"baiklah." Baekhyun sedikit tidak menyetujui saran ini. Dia hanya berpikir mengenai betapa anehnya langsung melanggar pada hari pertama dia bersekolah di Heerin. Tetapi ketika mendengar ucapan Luhan, Baekhyun sedikit takut. Apalagi ia harus menghindar karena seseorang yang mungkin saja menjadi salah satu pembina ospek kali ini.
"Luhan, kau tahu sesuatumengenai Park Chan—
"kalian paham?!" perkataan Baekhyun tenggelam oleh teriakan menggelegar pembina yang menperkenalkan diri sebagai Kris. Semua siswa baru ikut pada pembina masing-masing untuk mulai pengenalan sekolah Heerin.
"Kau berkata sesuatu, Baek?"
"Ah, tidak. Ayo—nanti kita terlambat!" ketiganya tetap pada barisan memanjang untuk mengikuti dimana pengenalan sekolah dilakukan.
Banyak tempat yang mulai dijabarkan. Mulai dari tempat olahraga, ruang berenang, ruang membaca, dan sebagainya. Baekhyun dan yanglainnya menaruh rasa kagum untuk Heerin.
Sekolah ini selain luas, tetapi sangat megah seperti istana. Apalagi kolam ikan kecil yang berada dibawah pohon Oak yang sempat dilewati grup Baekhyun.
Baekhyun langsung jatuh cinta dengan tempat itu. Ia berharap suatu saat nanti bisa kembali dan menjadikan kolam ikan tersebut sebagai tempat favoritenya untuk beristirahat di sekolah.
"Baek, ayo. Pembina bilang kita saatnya makan siang." Pandangan Baekhyun teralih dari kolam, ia mengikuti kedua temannya dengan menggandeng tangan mereka untuk melanjutkan perjalanan menuju tempat makan siang yang telah disediakan.
CCTV yang berputar diruangan mewah menayangkan adengan per-adengan yang terjadi dilapangan dan sekitar sekolah sejak tadi pagi hingga jam makan siang.
Objek yang dituju bukan memantau seluruh siswa baru yang bertebaran, melainkan satu siswa bertubuh mungil dengan surai coklat kesukaan pemimpin sekolah, Byun Baekhyun.
Wajahnya yang sedikit terluka—akibat sisa pertarungan semalam—tidak mengurangi betapa tampannya dia. Belum lagi surai merah acak-acakan, juga baju yang tampak berantakan ia kenakan malah menambah kesan panas untuk dirinya. Satu kata ketika melihatnya; sempurna.
Tak!
Gelas yang sudah tandas dari cairan wine ia taruh di atas meja. Ia sedikit berdecih ketika pandangannya jatuh menatap tayangan CCTV. Kedua teman yang bersamanya, menatap penuh perhatian yang sama. Mereka bertiga sedang mencari incaran, begitu kira-kira.
Apalagi si ketua yang masih menaruh dendam kepada seorang di antara tayangan CCTV. Melihat raut cantik Baekhyun masih bisa tersenyum, entah mengapa semakin menjadikan rasa amarah begitu mendominasi si ketua.
Apalagi dari yang ia lihat, tampak sekali jika hidup Baekhyun sangat baik-baik saja setelah apa yang terjadi dulu menimpa keduanya. cih, si pelacur itu, geram Chanyeol.
"Hahaha...cantik sekali." Suaranya pelan dan berat. Tetapi tidak cukup menyimpulkan begitu saja. Ada sarat emosi berlebih ketika lontaran ucapan itu terdengar. Apalagi senyum mengejeknya muncul dengan tangan mengelus pergelangan tanggannya yang tertutup tatoo.
Tatoo tersebut adalah simbol dari seluruh dendamnya bertambah kepada si mungil. Tatoo dilengannya hanyalah penghias dari cacat yang digoreskan oleh Baekhyun. Mengingatnya, Chanyeol menjadi semakin tidak sabar membalas cacat yang sama untuk lelaki itu.
Ia mengambil jas almamaternya sebelum melempar gelas wine kearah CCTV hingga layarnya pecah. Kaki panjangnya menuju pintu keluar diikuti oleh kedua sahabatnya yang mengekor di belakang.
"Sehun siapkan gudang untuk eksekusi!" titahnya menyeramkan.
"Baik, boss. Jangan sentuh si china, dia milikku." Ujar Sehun tertawa gila sebelum berlari menuruni tangga untuk menuju gudang sesuai rencana si ketua.
"Kai, siapkan benda yang aku suruh tadi malam. Ah! Juga panggil si Jae." Kai bersiul mesum mengerti maksud ketuanya. Ia menitip salam untuk tidak menyentuh pria mungil bersurai hitam. Entahlah, Kai berpikir si pendek itu mempunyai tubuh yang bagus untuk ia pakai sebagai pemuas nafsu. sungguh bajingan!
Chanyeol merogoh Ponsel miliknya untuk menghubungi seseorang. Ia melangkah santai pada tingkat teratas sekolah ini yang tidak seorang pun dapat melewatinya. Ia yang membuat peraturan itu, jika ada yang melanggar, bersiaplah untuk pulang dengan tubuh terpisah. Chanyeol hobby bermain pisau, apalagi melihat kepala musuhnya terpisah hingga mengeluarkan darah, itu sungguh memuaskan hati Chanyeol.
"Kris, siapkan murid yang bernama Baekhyun untukku. Bawa ke gudang!" suara tertawa terdengar menggelengar di sebrang sana.
"Wait, jangan bilang ini adalah pesta?"
"bagus kalau kau tahu." balasnya singkat dengan raut wajah mengerikan.
"Hahaha, siap Bro! Pesananmu datang~" ucap Kris melompat-lompat kegiranngan. Mereka sangat menyukai adanya hiburan selanjutnya terjadidi sekolah. Jika sekolah tanpa hiburan, semua akan terasa membosankan. Setidaknya si ketua berbaik hati untuk mencetus seseorang menjadi bahan bullyan. Bukankah itu menyenangkan?
Chanyeol membalas tawa Kris. Ia menutup sambungan ponsel mereka dan masuk ke dalam lift. Tubuhnya yang merasa panas, semakin menjadi panas ketika membayangkan pertumbuhan tubuh Baekhyun yang ia rasa terlalu cepat. Terlampau berisi dan itu sexy.
"Selamat datang ke rumahku, Baekhyun. Kita lihat bagaimana kau melayaniku lagi, Jalang..."
.
.
.
T.B.C
hai hai, CH1 sudah update. maaf jika kelamaan yah, soalnya sekalian nulis CH2. sebenarnya CH ini masih berlanjut sampai penyiksaan Baekhyun. tapi saya berpikir untuk memotong part itu dan menggabungkan dengan CH2 saja.
harap terus mendukung saya. saya akan semaksimal mungkin melanjutkan ff ini jika kalian merespon.
terima kasih kepada kalian yang mereview ff ini.
akhir kata--salam cinta, wjn.
