Chanyeol x Baekhyun

...

Baekhyun itu langitnya Chanyeol, kau tahu?

Baekhyun tidak tahu lagi bagaimana harus menyikapi sikap Chanyeol yang terus saja menuntut kejelasan status hubungan mereka. Harusnya Chanyeol bisa mengerti apa yang membuat Baekhyun ketakutan menjalani suatu hubungan, terlebih mereka menjalani suatu hubungan yang salah. Meskipun Chanyeol sudah seringkali mengatakan kalau cinta mereka tidaklah salah, melainkan yang membuat hubungan mereka terasa tidaklah benar adalah situasi. Tidak seharusnya mereka terjebak dalam perasaan yang menjurus rasa cinta, tapi biar bagaimanapun Baekhyun sama sekali tidak pernah merasa menyesal telah jatuh pada Chanyeol. Ingin sekali Baekhyun memeluk Chanyeol dengan bebas, menciumnya sepuasnya tanpa takut akan ada orang yang melihat. Mengenalkan pada dunia bahwa Chanyeol-lah lelaki yang dicintainya, atau bahkan memposting foto mereka berdua di media sosial tanpa ragu. Tapi kembali lagi pada kenyataan, Baekhyun tidak bisa melakukan itu semua karena biar bagaimanapun di mata dunia hubungan mereka tetaplah salah. Mungkin semuanya tidak akan serumit ini, jikalau Baekhyun dan Chanyeol bukanlah seorang Idol.

Baekhyun tetap memandangi sosok Chanyeol, hingga punggungnya menghilang di balik ruang studio. Selalu begitu. Pada akhirnya setiap kali mereka bertengkar, Chanyeol akan meninggalkannya sendiri. Membiarkannya menangis dalam sesal, sementara ia mengurung diri di dalam studio. Entah apa yang dilakukannya, Baekhyun enggan tahu.

Malam itu, Baekhyun menangis lagi sampai ia puas menyuarakan sedihnya. Katakanlah kalau Baekhyun cengeng, karena memang nyatanya begitu. Baekhyun hanya tidak mau kehilangan Chanyeol, meskipun ia sendiri tidak akan membiarkan siapapun memiliki lelakinya itu. Baekhyun benar-benar ingin bersikap egois jika menyangkut Chanyeol. Tapi sekalipun Chanyeol tidak pernah mau mengerti dengannya, terus memaksakan situasi agar mereka berada dalam suatu hubungan lebih dari teman. Baekhyun benci terikat dalam suatu hubungan, karena pada akhirnya status dari hubungan itu akan berakhir perpisahan dan Baekhyun benci harus berpisah dengan Chanyeol. Harusnya lelaki itu mengerti, tapi nyatanya susah sekali menjelaskannya pada Chanyeol.

Pintu kamar Chanyeol dan Baekhyun terbuka, Kyungsoo ada di sana dengan kepala yang menyembul ke dalam. Namun setelah melihat Baekhyun tertidur dalam balutan selimut yang menutupi hampir seluruh tubuhnya, Kyungsoo memilih menutup pintu. Tidak, Kyungsoo tidak salah kalau Baekhyun tertidur. Lelaki itu memang tidur, setelah lebih dua puluh menit ia habiskan dengan menangis. Mungkin Baekhyun merasa terlalu lelah, hingga akhirnya merasa kalau matanya yang sembab terasa memberat.

-

Baekhyun terpaku di tempat, hampir merasa kalau nyawanya terenggut secara paksa, ketika menyaksikan Chanyeol menerima pernyataan cinta dari salah satu hoobae mereka dari grup Red Velvet, Kang Seulgi. Jantungnya serasa diremas kuat oleh tangan tak kasat masa, ketika menyaksikan senyum malu-malu Seulgi saat Chanyeol mengecup singkat pipinya yang merona. Tanpa sempat menyadari situasinya, Baekhyun meruntuhkan pertahanannya ketika menyaksikan sendiri, Chanyeol memajukan wajahnya hingga membawa Seulgi hanyut dalam sebuah ciuman penuh kelembutan. Harusnya Baekhyun tidak merasa sesakit ini, karena pada nyatanya mereka sama sekali tidak memiliki hubungan apapun selain teman. Tapi entah bagaimana mengatakannya, yang jelas Baekhyun merasa sesak saat bibir Chanyeol yang dulunya selalu mengecupnya ketika malam datang, sebelum dirinya hanyut dalam buai mimpi indah, dan pagi hari saat matahari bahkan belum beranjak dari tidurnya. Bibir itu miliknya, tidak ada seorangpun yang boleh menyentuhnya terkecuali dirinya. Pelukan Chanyeol juga harusnya hanya miliknya, tapi kenapa sekarang Seulgi yang ada di dalam rengkuhan hangat lelaki itu? Seharusnya Baekhyun yang ada di posisi itu sekarang, bukan Seulgi. Seharusnya Baekhyun yang menerima segala perlakuan lembut Chanyeol, bukan Seulgi. Tapi kenapa yang sekarang ada di posisi itu adalah Seulgi, bukan dirimu, Baek?

Lalu bertepatan ketika pandangan Chanyeol mengarah padanya, Baekhyun benar-benar memaksa kakinya untuk beranjak dari sana. Sama sekali tidak kuat, saat melihat langsung senyum penuh siratan kebahagiaan terpatri di sana. Baekhyun menangis sejadi-jadinya, membawa pergi hatinya yang remuk redam oleh sesak serupa penyesalan.

Baekhyun benar-benar menyesal karena telah mengabaikan perasaan Chanyeol, ketika dulu perhatian lelaki itu masih sepenuhnya tertuju padanya.

Baekhyun terbangun dengan keadaan menangis, kejadian di mana Chanyeol yang telah menemukan pengganti dirinya, masih terngiang-ngiang hingga Baekhyun sadar dari mimpinya. Rasa sesaknya terbayang hingga kesadarannya benar-benar kembali. Sungguh sakit sekali, bahkan untuk seukuran mimpi saja kejadian itu begitu memilukan. Lantas tanpa sempat memerdulikan kenyataan bahwa Chanyeol yang memilih meninggalkannya itu adalah mimpi, Baekhyun segera beranjak mendatangi sosok bunga tidurnya di studio.

Ketika sampai di ambang pintu, Baekhyun segera membalik papan pemberitahuan yang Chanyeol pasang untuk memberitahukan sang pemilik studio ada di ruangan—yang selalu tergantung di sana, menjadi sebaliknya. Lalu melangkah masuk dan mengunci pintunya. Tangisnya masih belum reda, bahkan bertambah dengan sesegukan.

Chanyeol yang tadinya sibuk dengan gitar akustik miliknya, langsung meletakkan benda itu di samping sofa, begitu melihat Baekhyun masuk ke studio dalam keadaan menangis.

"Chanyeol.."Baekhyun berusaha keras untuk tidak meledakkan tangis. Bibirnya mengatup, mencegah isakannya keluar. Namun usahanya itu tidak berhasil saat melihat wajah khawatir Chanyeol yang langsung membawanya ke dalam rengkuhannya.

"Langitku kenapa, hmm?"suara lembut yang Chanyeol gunakan, tak ayal semakin membuat Baekhyun mengeraskan tangisnya.

"Hei. Hei. Kau kenapa Baby Boy?"Chanyeol semakin mengeratkan pelukan. Sebelah tangannya mengelus surai merah muda Baekhyun penuh kasih.

"Hiks.. a-aku benar-benar tidak mau Chanyeol pergi. Jangan pergi, hiks.. tetaplah d-disini bersamaku. Kau tidak boleh berkencan dengan orang lain, selain a-aku, hiks.. Chanyeol.."Baekhyun berujar kepayahan di sela tangisnya.

Chanyeol terkekeh geli, ia melonggarkan pelukan sebelum mengangkat wajah Baekhyun agar mau menatapnya. "Hei, kata siapa Chanyeol ingin pergi dari Baekhyun, eoh?"ibu jarinya bergerak untuk menghapus airmata Baekhyun yang masih saja sesegukan. "Baekhyun berhentilah menangis, Chanyeol tidak suka melihatnya."lanjutnya dengan wajah sedih.

Baekhyun memandangi Chanyeol dalam, seolah tengah berusaha menyampaikan segala hal yang berkecamuk di pikirannya. "Baekhyun tadi tertidur lalu bermimpi buruk."mulainya menjelaskan. "Baekhyun benar-benar tidak mau Chanyeol pergi, apalagi sampai berkencan dengan orang lain."

Chanyeol terkekeh singkat. "Chanyeol tidak akan pergi, Langitku."

"Tidak hanya itu saja, Baekhyun juga melihat Chanyeol mencium wanita lain."Baekhyun menyentuh bibir Chanyeol, lalu mengecupnya singkat. "Bibir ini hanya milikku, tidak ada yang boleh menciumnya selain aku."Baekhyun mengecupnya lagi.

Chanyeol tersenyum lebar, mengiyakan perkataan Baekhyun.

"Pelukan ini juga hanya milik Baekhyun, tidak ada seorangpun yang boleh Chanyeol peluk selain Baekhyun. Arra?"

"Bagaimana kalau Ibunya Chanyeol?"Chanyeol menyela, bermaksud menggoda si mungil.

Baekhyun mencebikkan bibirnya, sebal. "Itu beda hal, Chanyeol."

"Baiklah aku mengerti, tapi hal ini berlaku sebaliknya, kan?"kini giliran Chanyeol yang mengecup bibir Baekhyun. "Ini hanya miliknya Chanyeol kan, Baekhyun?"

Baekhyun tersenyum, kemudian balas mengecup Chanyeol, kali ini sedikit lebih lama. "Iya, Chanyeol."

Chanyeol ikut tersenyum lebar. Rengkuhannya tambah ia eratkan. "Pelukan Baekhyun juga?"

Baekhyun mengangguk berulang kali, dengan senyum gemasnya. "Iya, Chanyeol. Pelukan Baekhyun juga."jawabnya.

"Mm, senang mendengarnya."Chanyeol menggesek ujung hidungnya pada hidung Baekhyun. "Aku menyayangimu, Langitku."

Baekhyun merasa jantungnya berdetum sangat cepat di dalam sana. Darahnya berdesir, menghantarkan sensasi serupa kehangatan di jiwanya. "Baekhyun juga, Chanyeol-ah."balasnya malu-malu. Tangannya bermain-main di kancing baju Chanyeol, hingga beberapa kancing sudah terlepas di sana.

"Aku sudah membalik papan di luar, dan juga mengunci pintu studiomu, Chanyeol."

Chanyeol menahan senyumnya, merasa gemas saat Baekhyun bermain-main dalam pelukannya dengan ekspresi polos seperti itu. "Lantas? Apa maumu, Baekhyun-ah?"

"Chanyeol.. jangan menggodaku!"Baekhyun mencebikkan bibirnya lagi.

"Katakan apa maumu, sayang."

Baekhyun mendongkak, kemudian sedikit berjinjit untuk kemudian berbisik di telinga Chanyeol. "Ayo kita berkencan, Chanyeol. Karena itu, aku milikmu sekarang."

Chanyeol memandang Baekhyun tidak percaya, ia bahkan melototkan matanya. "Baek—"

"Aku benar-benar tidak mau kehilanganmu,Chanyeol. Maka dari itu jangan pernah meninggalkanku sendiri. Aku benar-benar benci dengan gagasan hidup tanpamu."

"Baek, kau serius?"

Baekhyun mengangguk mantap. "Tentu saja, Yodaku."

"Aku benar-benar akan menjadikanmu milikku seutuhnya, Byun Baekhyun."

Lalu semua terjadi begitu saja, Baekhyun sepenuhnya milik Chanyeol mulai malam itu. Lenguhan terdengar memekik, membuat suasana menjadi tambah pelik. Desahan Baekhyun serupa musik klasik yang menghanyutkan. Ketika waktunya tiba, mereka sama-sama berteriak sarat akan kepuasan. Chanyeol mengecup kening Baekhyun lama, lalu katanya. "Aku mencintaimu, Langitku."

Ya, Baekhyun adalah langitnya Chanyeol. Pusat seluruh kebahagiaannya, tidak perduli bahkan ketika seluruh dunia menghujatnya. Yang terpenting, mereka saling memiliki sekarang. Sepasang kekasih. Dan itu sudah cukup.

Benarkan, Baekhyunnie?

FIN

A/n:

Ini apa?

Ini adalah hasil kegabutan, hehe. Serius, menurutku ini sangat alay. Iyakan?

Gaya tulisannya beda, kan? Iyalah, soalnya ini file lama, hehe. Masih gantung dan mau dibuang sayang, jadinya langsung sambung nulis sedikit dan langsung di up. No edit, jadi jangan heran kalo masih banyak typonya, hehe.

Bye~