Étoile Sans Nom / Bintang tanpa nama

[Gintama Fanfiction]

.

.

Belum sampai fajar dan ke duanya sampai ke bangungan sepi.

Sampai di pintu Shoyo mengubah posisi yang dibawaannya dari bahu ke depan dada –gaya seperti seorang putri. Suara menyambut, ramah dan hangat seperti senyumnya tepat selayaknya tuan rumah baik. "Selamat datang di Shouka Sonjuku, Toshirou-chan."

Bibir kemerahan melengkung ke bawah. Dahi berkerut, tidak senang mendengar namanya. Hijikata masih tidak berucap, masih menatap nyalang Shoyo. 'Sialan kamu!'

Yang ditatap hanya masih sabar melengkungkan senyum. Dibawanya pemuda indah ini masuk. Sampai di kamar mandinya ia membiarkan Hijikata turun.

Hijikata berdiri mengerutkan dahi, menatap air yang tampak dingin. 'Untuk mandi?! Kamu pasti bercanda!'

Ternyata Shouyo telah pergi sebentar untuk mengambil haduk. Diambilnya tangan Hijikata dan langsung di taruh handuk di tangannya. "Maaf airnya dingin tapi kurasa itu bukan masalahnya, gunakan sabun sebanyak apa pun dan jika kekurangan air kau bisa mengatakannya jangan merasa malu. Setelah itu singkirkan pakaian rusakmu. Pakaian gantinya akan di taruh di depan pintu."

"..." Hijikata menatap datar. Terkejut sebenarnya.

Ditatap begitu Shoyou jadi bertanya-tanya. "Apa Toshirou-chan tidak tahu caranya mandi? Mau dibantu?"

"..."

Buk!

Shoyou tidak bisa menangkis tendangan cepat Hijikata. Iya, ia ditendang ke luar. Setelah itu pintunya tertutup rapat dengan kencang.

Shoyou tersenyum. "Tersinggung."

Hijikata memelototi panas di pintu terus turun ke handuk di tangannya. 'Beraninya dia!' diangkatnya tangan –bermaksud membanting handuk ke lantai lembab.

Tapi gerakan terhenti di udara.

Eh, sayang pikirnya, kalau handuk bersih ingin dinodai carahnya bukan hanya ini. Cara lain yaitu Hijikata memutuskan untuk menggunakan handuknya dulu lalu merusaknya. Iya, pada akhirnya rusak tapi dalam cara yang berguna baginya.

Handuk disampirkannya di gantungan. Pakaian beroda darah dilepas dari tubuh ramping berotot.

Kulit sehalus permukaan mutiara bergidik ketika kontak pertama tangan menyentuh air.

.

.

Shoyou mengepalkan tangannya. Bahan putih jadi berkerut di dalam genggamannya. Setelah dilepaskan kemudian ia usap agar kembali rapi. Mata hijau terbuka menatap atas tapi apa yang dia lihat bukan langit, sebenarnya yang ia selami adalah kilas memori.

Langitnya hujan bintang.

Bumi di bawahnya lautan api.

Sekitarnya mayat-mayat menghitam.

Hanya seorang diri berdiri.

Abadi, berdarah, menangis.

"Jadi paling indah dalam ketiadaan. Diselimuti bayangan mata biru esnya bersinar tajam. Seperti bintang yang paling berbahaya."