Disclaimer: I don't owned Persona, Dark Hour, shadows, and Tartarus. It all belongs to ATLUS. But, my friends and my family belongs to me.

Selamat menikmati chapter 2 ini!


Chapter 2 The Journey Begin

Tengah malam

"Anggir, kenapa kamu bisa ada di sini?!" kata Hadi kaget. "Apa ini? Kenapa bisa begini?" tanyaku sambil terdiam. "Kaget ya Gir, melihat kampus kita tiba-tiba berubah. Menyeramkan bukan?" kata Hari sambil melihat kampus.

"Kenapa Nana sama Feby bisa ada di sini?! Jangan-jangan..." *bletak* "Baka! Jangan mikir yang aneh-aneh deh! Kamu memang tidak pernah melihat keadaan sekitar ya! Masa Kampus kita berubah kamu tidak sadar. Malah tanya soal Nana sama Feby." jawab Hadi sambil memukul kepalaku.

"Auow, sakit tahu! Memangnya kampus kita kenapa... kok, gedungnya jadi aneh begini sih?!" aku baru sadar saat kepalaku diarahkan ke kampus.

"Inilah Tartarus, tempat di mana 'shadows' berkumpul. Kampus kita berubah menjadi Tartarus setiap Dark Hour." jelas Adipta. "Tartar sauce?". *bletak* "Kenapa ku dipukul lagi sih?" kataku sambil memegang kepalaku. "Pikir aja sendiri!" jawab Hadi kesal. "Lalu apa itu Shadows dan Dark hour?" tanyaku bingung.

"Dark hour adalah waktu yang tersembunyi antara hari ini dengan keesokan hari. Kita pertama kali dapat memasuki Dark hour jika kita terbangun tepat jam 12 malam. Setelah itu meskipun kita tidak tidur, kita akan tetap merasakan Dark Hour setiap hari." jelas Nana, teman sekelas Hadi yang memiliki rambut sebahu.

"Dan 'shadows' adalah monster yang memakan jiwa manusia yang terjebak saat Dark hour. Itulah sebabnya akhir-akhir ini banyak orang yang terkena Apathy syndrome, penyakit yang diasumsikan para dokter akibat stress berlebihan." lanjut Feby, temanku sejak SMA yang rambutnya dikuncir.

"Nah kita di sini untuk membasmi mereka, keren 'kan?! Kita menjadi jagoan pada malam hari, sayangnya tidak ada yang tahu." kata Hari dengan nada senang. "Kenapa disebut Tartarus? Dan apa gedung kampus yang lainnya juga berubah?" tanyaku lagi.

"Ya, ketiga tempat kampus IPB berubah menjadi Tartarus. Tetapi kita hanya bisa masuk dari kampus GG (Gunung Gede), sepertinya ini gedung yang menghubungkan kedua tempat lainnya. Tapi setelah Dark Hour selesai, Tartarus akan hilang." jelas Adipta.

"Kalau soal nama.... nah, itu ada tulisannya di gerbang. Entah kenapa bisa ada papan namanya, mungkin dulu ada yang buat." tunjuk Hadi ke arah gerbang. Aku pun melihat ke atas pintu gerbang, yup, tertulis' Tartarus' dengan gaya tulisan yang lumayan seram, seperti pesan kematian.

"Karena kamu sudah ada di sini, bagaimana kalau kamu ikut kami menjelajahi Tartarus?" ajak Hadi. "Tapi Hadi, Anggir 'kan belum tentu memiliki kekuatan untuk memanggil 'Persona'. Nanti dia malah jadi korban, 'kan bahaya." kata Nana tidak setuju.

"Kita lihat saja nanti. Feby, berikan kartunya ke Anggir." perintah Hadi. Aku mengambil kartu yang diberikan Feby, dan melihat gambarnya. Ada tulisan 'Fool' dan angka nol dibawahnya. "What's the meaning of this?" tanyaku sambil mengayunkan kartuku.

"Kartu itu menunjukkan kepribadian seseorang. 'Arcana'mu adalah 'Fool', artinya kamu orang yang kurang memahami situasi disekitarmu, tetapi kamu memiliki berbagai kemampuan yang unik. Hal itu ditunjukkan dari angka nol yang ada di situ." jelas Adipta.

"Hahaha, pas banget sama diri kamu Gir. Kamu memang 'fool'!" ejek Hari. "Enak saja, memangnya Arcana kamu apa?". "Hanged Man." jawabnya bangga. "Justru kamu lebih parah, kamu selalu bergantung pada orang lain setiap ada masalah." kata Hadi membelaku.

"Sudah cukup ngocehnya, kita cuma punya waktu sejam tahu." kata Nana. "Sejam? Tapi sekarang sudah pukul 03.15. Eh, kok cepat sekali sudah jam tiga?" heranku saat melihat jam tanganku.

"Saat Dark Hour, tidak ada mesin dan listrik yang menyala. Dan semua jarum jam bergerak secepat jarum menit, artinya Dark Hour baru berlangsung selama 15 menit." jelas Adipta.

"Sebentar, bagaimana dengan air?" selidikku. "Saat ini air berubah menjadi darah, memang aneh sih. Kenapa?" tanya Hadi heran. "Damn it! Berarti tadi ku minum darah dong! Cuih...." aku langsung lari ke selokan.

Kemudian kami masuk ke dalam ruangan pertama. Ukurannya cukup besar, sehingga dapat memuat banyak orang. "Nah, sekarang aku akan membagi kelompok. Hadi, Anggir, kalian berjaga di luar dan kalau bisa menolong jika ada orang-orang yang terjebak pada dimensi Dark Hour ini. Karena shadows di luar lebih lemah daripada yang ada di dalam, sehingga kita bisa tahu apakah Anggir memiliki 'Persona' atau tidak. Sementara aku, Hari dan Nana akan menjelajahi Tartarus lebih jauh. Feby, tugasmu membimbing kami dengan memeriksa area yang kami jelajahi." perintah Adipta.

"Yes sir! Ayo Hadi, kita cari 'korban'." ajakku bersemangat. "*sigh* kenapa harus aku yang menjaga anak ini. Ya sudah, ayo kita keluar." keluh Hadi. Kami berdua keluar dan menuju jalanan, lagipula tidak ada kendaraan yang berjalan saat ini.

"Hey Hadi, sebenarnya tadi masih banyak yang ingin kutanyakan, tapi nanti mengganggu Adipta. Tapi yang paling ingin kutanyakan adalah soal 'Persona'. Memangnya Persona itu apa sih?".

"Hm, bagaimana ya.... rasanya sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata." Hadi berpikir sambil mencari kata yang tepat. Lalu kami melihat beberapa monster di depan kami. Apa itu yang disebut shadows?

"Kebetulan ada 3 shadows di sana. Hm, mereka lemah, kalau begini sih nggak perlu pakai Persona. Kita gunakan senjata saja. Aku akan menghajar 2 shadows sementara kamu lawan sisanya." kata Hadi sambil mengambil kartunya.

"Senjata, mana?" aku bingung. Tiba-tiba Hadi berteriak, "Arcana Weapon!" kartunya berubah menjadi sarung tinju besi dengan duri di depannya. "Wow, cool! Hey, can I do that?".

"Of course, pegang kartumu dan pikirkan senjata yang cocok untukmu. Tetapi kalau sudah memilih senjata, kamu tidak bisa menggantinya lagi, jadi pikirkan baik-baik senjata yang akan kau pilih. Aku duluan ya." Hadi langsung berlari menuju shadows. "Hm, senjata yang pas untukku... tentu saja! Arcana Weapon! Dual sword!" kartuku langsung berubah menjadi dua pedang kecil.

"Kenapa kamu pilih senjata itu, kayaknya tidak terlalu kuat?" tanya Hadi setelah menghabisi satu shadow. "Karena aku tidak sekuat kamu, jadi aku hanya bisa mengandalkan kecepatan agar musuh tidak sempat menangkis seranganku." aku langsung menyerang shadow yang belum diserang Hadi.

Shadow ini berbentuk gumpalan hitam dan hanya memiliki topeng dan dua tangan, gerakannya juga lambat, jadi aku bisa menghindari serangannya dan balik menyerang. "Die!!" teriakku sambil membelah topengnya. Shadow itu langsung hilang. "Good job Anggir!" kata Hadi sambil menepuk tangannya. Sepertinya dia sudah selesai duluan.

"Maaf mengganggu kesenangan kalian, tapi di dekat kalian ada sekelompok shadows lainnya yang menuju kalian." tiba-tiba suara Feby terdengar. "Eh, Feby? Kamu di mana, kok ku bisa mendengar suaramu?" kataku sambil mencarinya.

"Ini kemampuan Personaku. Aku bisa mengetahui keberadaan kalian dan shadows di sekitar kalian. Aku juga bisa mengetahui kelemahan shadows yang akan kalian lawan. Tapi shadows ini lebih kuat dari yang kalian lawan tadi." jelas Feby.

"Ya, kami melihat mereka, type gloves 'kan. Aku juga masih ingat kelemahan mereka kok, agi dan serangan slash 'kan?" jawab Hadi. "Ya, benar, tapi kamu tidak memiliki kemampuan tersebut 'kan?".

"Tenang saja, meskipun tidak punya, aku masih bisa mengalahkan mereka. Nah Anggir, akan aku tunjukkan Persona itu seperti apa." Hadi kembali mengambil kartunya. Aku baru sadar kalau Arcana Hadi adalah 'Chariot', Arcana petarung, pas sekali dengan Hadi.

"Datanglah, Pegasus!" kartu Hadi bersinar dan menjadi sosok kuda bersayap. "Mazio!" tiba-tiba petir menyambar ketiga shadows, tetapi satu lolos dari serangan tersebut. "Cih, biarlah, Anggir, coba kamu panggil Personamu!" perintah Hadi. "Okay, I'll try it."

Aku langsung berkonsentrasi "Persona!!" tapi tidak terjadi apa-apa. Ku coba sekali lagi, tetap tidak ada yang keluar. "No way, ku nggak bisa manggil Persona. Hadi, gimana nih?!" sebelum Hadi sempat menjawab, shadow di depanku langsung menyerangku. Untung aku sempat menghindar, langsung saja ku serang dengan kedua pedangku. Tetapi shadow itu masih bisa menghindar, bahkan berhasil menyerangku.

"Uaarghh!!" aku terpental. Saat shadow itu akan menyerangku lagi.... "Zio!!" petir kembali menyambar dan kali ini berhasil menghabisi shadow itu. "Anggir, kamu tidak apa-apa?!". "Lumayan, punggungku agak pegal sih." Kataku sambil bangkit.

"Sepertinya kamu belum bisa memanggil personamu, atau....". "Atau apa?" tanyaku. "Tidak.... tidak apa-apa kok. Feby, apa masih ada shadows lagi di sekitar sini?" kata Hadi sambil berpaling dariku. "Aku sudah tidak merasakan keberadaan mereka. Lebih baik kalian segera kembali ke gerbang. Adipta dan yang lainnya juga sudah kembali." Jawab Feby. "Baiklah, kami segera ke sana. Ayo Anggir, kamu bisa jalan sendiri 'kan?" tanya Hadi kuatir. "Yeah, I'm okay. Let's go back.".

Setelah kami berkumpul, kami memutuskan untuk kembali ke kost. Aku juga merasa kelelahan, kata Hadi itu karena aku baru pertama kali mengalami Dark Hour. Sesampainya di kost, aku langsung merebahkan diri di kasur. Tiba-tiba lampu kamarku menyala. Sepertinya Dark Hour sudah selesai. Aku pun langsung tertidur.

Jumat, 17 April 2009

Sore hari (pulang kuliah) 17.00

"Finally, kuliah minggu ini selesai juga. Hey, malam ini kita ke Tartarus lagi nggak?" tanyaku spontan. Hadi dan Hari kaget sementara Goman dan Aziz bingung. "Memangnya semalam kalian ke mana?" tanya Goman. "Ng-nggak.... ki-kita semalam langsung tidur kok, Anggir mimpi kali...." Kata Hari gugup, sementara Hadi menyeretku ke kamarnya.

"Kamu gila ya! Goman sama Aziz 'kan nggak tau soal Dark Hour! Jangan sembarangan ngomong kayak gitu dong!" kata Hadi marah-marah. "Eh, mereka nggak tau, kirain mereka Persona-User juga. Maaf deh, lain kali kalo ku mau tanya pasti kasih kode dulu." Kataku sambil minta maaf. "Ya udahlah. Tapi aneh, biasanya orang akan lupa soal Dark Hour saat pertama kali mereka mengalaminya. Tapi kamu berbeda." Kata Hadi bingung.

"Malam ini kita nggak ke Tartarus, Weton ada rapat BEM, yang cewek juga ada acara, plus kamu masih capek 'kan gara-gara semalam. Kita biasanya cuma satu atau dua kali seminggu ke Tartarus." Jelas Hadi sambil menuju keluar. 'Kalau begitu tanya-jawab soal Dark Hour and the other related things kapan-kapan aja deh' pikirku sambil mengikuti Hadi. Setelah puas bermain Poker selama sejam, aku langsung pamit pulang ke rumahku.

Malam hari 19.30

"Aku pulang! Heh, udah main PS duluan! Tungguin dong. Aku 'kan juga mau main." Kataku ke Andjar yang sedang main di ruang depan. "Kelamaan sih, lagian game ini cuma bisa satu player, 'kan ini game RPG." Kata Andjar sambil bermain.

"Game baru ya? Apa judulnya?".

".Shin Megami Tensei".

"Bagus nggak?".

"Kalo nggak bagus, ngapain aku beli. Udah sana mandi dulu, bau nih!" ejeknya.

"Berisik! Ku juga baru mau mandi." Aku langsung ke kamar mandi. Selesai mandi, aku makan sambil memperhatikan Andjar bermain. 'Entah kenapa rasanya game ini mengingatkanku tentang kejadian semalam, mungkin karena sama-sama membasmi monster' pikirku.

Tengah malam 23.30

"Hah, sudah jam segini. Ade, tidur yuk! Mainnya besok lagi aja." Ajakku. "Ya sebentar, aku mau save gamenya dulu.". "Kalo gitu Hes tidur duluan ya!" kataku sambil menuju kamar. Karena masih kelelahan dari semalam, aku langsung tertidur.

Dark Hour

"Where am I, kok aku bisa ada di sini? Tempat yang aneh, gelap lagi." Aku terus berjalan hingga menemukan sebuah pintu berwarna biru.

"Hey, you late. I've been waiting for you." Tiba-tiba seorang anak muncul dari kegelapan. Dia memakai baju bergaris hitam putih. "Whoa, who are you?". "Oh, I'm Pharos, nice to meet you. If you want to proceed, please sign this contract first." Katanya sambil menyerahkan sebuah map berisi secarik kertas.

"Don't worry, it only contain that you will take full responsibility of your actions. You know, the usual stuff.". "Yeah, I know." Aku pun menandatangani kontrak tersebut. "Okay, now you can enter through this door. Remember, I'll be watching you, good bye." Anak itu langsung menghilang ke dalam kegelapan. Aku langsung membuka pintunya, dan cahaya menyilaukan keluar dari dalam pintu.

Saat aku sadar, aku sudah duduk disebuah ruangan berwarna biru. Di depanku ada seorang pria tua yang duduk berhadapan denganku. Di sampingnya berdiri seorang wanita yang umurnya mungkin sama denganku.

"Welcome to the Velvet Room. It's been a long time since we have a guest. My name is Igor, and this is Elisa, she is my assistant." Kata pria berhidung panjang itu memperkenalkan dirinya dan wanita di sampingnya.

"Where am I? Is this a dream?" tanyaku sambil mencoba menampar pipiku. 'nggak sadar juga, coba kalo ditonjok' pikirku. "auww!! Sakit!".

"Sampai kamu tusuk dirimu sendiri juga tidak akan pergi dari tempat ini. Tempat ini merupakan transisi antara mimpi dan kenyataan." Jelasnya. "Lho, kamu bisa Bahasa Indonesia? Kirain kamu orang asing." kataku kaget. "Hohoho, jangankan Bahasa Indonesia, Bahasa Sanskerta saja aku bisa." Jawabnya bangga. Aku hanya bisa bengong alias sweatdropped.

"Back to topic, Kau sudah menandatangani kontrakmu 'kan? Kalau begitu aku tinggal menjelaskan tentang perjalanan yang akan kau hadapi. Sepertinya kamu sudah mengetahui tentang Dark Hour dan hal lainnya. Tetapi sepertinya potensimu yang sebenarnya belum bangkit, ya 'kan?".

"So you know about Dark Hour and the other. Dan maksudmu potensi yang belum bangkit itu Persona 'kan?" tanyaku spontan. "Oh, bukan. Kamu memang tidak memiliki persona." Jawabnya. "What?! Aku nggak punya Persona? Yang benar saja! Lalu kenapa aku bisa menggunakan Arcana Weapon?! Bukankah itu merupakan senjata yang hanya bisa digunakan oleh Persona-User!" kataku tidak mau menerima jawabannya.

"Easy my boy, apa kamu lupa apa Arcanamu? Arcanamu adalah 'Fool'. Itu artinya meskipun kamu tidak memiliki Persona, kamu masih memiliki kemampuan lainnya." jelasnya sambil menenangkan diriku. "Then, what another abilities do I have?" tanyaku setelah menenangkan diri.

"The time will answer. Now take this. You will need it if you want to come here again. Until we meet again" katanya setelah menyerahkan sebuah kunci kepadaku. "Hey, wait!!" cahaya kembali menyelimutiku.


Author's note: Nah, Pharos, Igor dan Elizabeth (Elisa) nggak ku ganti. Toh mereka character fiksi ini. Saat ini MC masih belum memiliki kekuatan luar biasa, jadi harus berjuang dulu untuk mendapatkan sesuatu yang hebat. Persona yang muncul juga baru satu, jadi sabar dulu ya! Jangan lupa Review!