.

.

.

.

.

Hopefully

"Memangnya berapa lama aku pergi? huh badanku pegal-pegal." Kyungsoo bermonolog seraya memegangi pinggangnya. Dia bangun tidur pagi ini dengan badan yang sakit, seolah-olah tulangnya ingin memoloskan diri dari tempatnya.

Sepeninggalan Kyungsoo, tempat ini memang tidak ada yang mengunjungi, apalagi merawat, jadi begitu sampai ia terpaksa langsung berbenah membersihkan. Ada banyak kenangan dikota ini bersama Chanyeol. Ada atau tidaknya Chanyeol disini, Ia tetap memutuskan untuk kembali dibanding mencari ide kota mana lagi yang akan jadi destinasi selanjutnya dan secara otomatis memaksanya untuk kembali beradaptasi, seperti kota yang ia tinggali tiga tahun sebelumnya.

Udara dingin menyeruak memaksa masuk kedalam kamarnya ketika Kyungsoo membuka salah satu daun jendela-sejuk yang dirasakannya atau lebih tepatnya dingin. Disentuhnya tanaman Adiantum menggantung dikanan kiri jandela, Adiantum yang basah karena embun pagi.

Dengan memandang beningnya embun pagi hari saja sudah membuat Kyungsoo tenang.

Kyungsoo berdiri didepan jendela kamar dengan piyama yang masih bertengger ditubuhnya, diedarkannya pandangan-menyapu rata dari ujung kanan hingga kiri. "Semua terasa berbeda, bukankah dulu disana hanyalah cafe kecil? Lihatlah sekarang bahkan mereka menyewa satu ruko disebelahnya. Ck bahkan aku ingat sekali saat dulu cafe itu launcing dan memberikan promo besar-besaran. Aku mengajak Chanyeol kesana, yang selalu dijawab 'hmm' olehnya setiap kali kuajak. Dan cafe itu sudah semakin besar dengan menyewa 2 nomor ruko bersebelahan itupun aku belum juga mencoba mencicipi makanannya?" Kyungsoo masih bermonolog. Yahh.. beginilah hidup sendirian, bermonolog, mungkin jika ada orang yang lewat didepannya akan mengira bahwa dia gila.

Kyungsoo menjulurkan kedua tangannya keluar jendela, menengadah kelangit abu-abu diluar sana. "Chans apa kabarmu? Lihatlah, kau bahkan belum sempat mengajakku makan disana, tempatnya sudah semakin ramai jika kulihat dari sini." Pandangannya masih pada cafe di seberang gedung apartemennya. Lalu beralih memandang langit abu-abu pagi ini. Dia merasa sedih seperti langit kali ini-abu-abu.

Kyungsoo baru saja kembali kekota ini setelah kurang lebih tiga tahun pergi. Pergi karena terpaksa, pergi yang membuatnya menjadi yang sebenar-benarnya pengecut. Kyungsoo terlalu takut jika tetap disini waktu itu, takut jika harus terus bertemu dengannya atau kalau tidak, takut jika harus teringat padanya ketika melewati atau mengunjungi tempat yang pernah mereka kunjungi bersama. Mereka, Kyunsoo dan Chanyeol tentunya.

Dan benar saja, Kyungsoo menangis. Kembali dia teringat pada sosok yang telah lama dia coba untuk lupakan. Kembali membuatnya meneteskan air mata. Ia teringat apa yang Chanyeol minta saat terakhir kami bertemu. Hiduplah dengan bahagia, dan jangan pernah mengulangi kesalahan yang sama. Hidup harus terus berjalan, dan jangan pernah jadikanku sebagai pusat hidupmu. Saat ini bahkah mungkin baru sepertiga dari umur kita di bumi, atau bisa jadi esok kita sudah harus mwnghadap Tuhan. Maka kita harus berbahagia. Kyungsoo berkata lirih mencoba untuk menirukan apa yang Chanyeol katakan pada saat itu. Setidaknya, kurang lebih begitu yang dia ingat.

*Kyungsoo POV

Aku merasa pipiku basah "Ahh sepagi ini saja sudah turun hujan? Bagaimana nanti siang?" Kutengadahkan wajahku kelangit abu-abu, seraya mengusap pipi kananku. Tidak hujan sebenarnya, hanya gerimis. Ya aku menangis, kembali menangisinya.

Setelah lima menit lamanya mengulurkan kedua tanganku keluar dengan berdiri didepan jendela dengan telapak tangan menengadah. Baru kusadari telapak tanganku berkedut, memerah dan sedikit gatal, ketika aku melihat ternyata sudah membengkak. Udaranya sangat dingin. Aku menutup jendela dan membungkus diri dengan selimut,dan menyalakan tv. Sebenarnya aku tidak suka menonton tv, hanya agar ada suara saja.

Disini sangat sepi. Aku merasa sepi sejak terakhir aku bertemu dengan Chanyeol. Sepi sejak aku memutuskan untuk pergi dari kota ini tiga tahun lalu. Dan sangat kesepian ketika aku tidak pernah bertemu dengannya lagi.

"Chanyeol.. apa kabarmu?" Aku memeluk kedua lututku yang terbungkus selimut, dan mulai terisak.

Setelah beberapa menit menangis Kyungsoo jadi merasa sakit kepala. Kini ia sedang meletakan cangkir bening berwarna hijau bertuliskan Chanyeol's, ya itu artinya milik Chanyeol. Kyungsoo tersenyum melihat cangkir itu yang ia letakan di meja riasnya. Duduk dan melihat dirinya di cermin, tersenyum pada dirinya sendiri, teringat kejadian semalam, dan teringat satu hal; 'Chans, ada atau tidaknya dirimu dikota ini nanti, aku akan tetap kembali kesini. Dan jika aku melihatmu lagi itu mungkin artinya Tuhan telah Merestui kita. Atau jika kelak saat kukembali aku tidak melihatmu, ya.. mungkin.. aku harus benar-benar melepasmu' itu adalah ucapan terakhir Kyungsoo pada Chanyeol tiga tahun lalu.

Dan Chanyeol membalasnya 'Hidup harus terus berjalan, dan jangan pernah jadikanku sebagai pusat hidupmu. Saat ini mungkin baru sepertiga dari dari umur kita dibumi, atau bisa jadi esok kita sudah harus menghadap Tuhan. Maka kita harus berbahagia, dan jangan pernah berpikir untuk melupakan Tuhan.' Jika diingat-ingat kata-kata yang diucapkan Chanyeol dulu begitu memilukan di telinga Kyungsoo, tapi kini Kyungsoo malah sedang memandang lekat-lekat dirinya sendiri di cermin, lalu menyeringai.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

Heii-heii!! aku kembali hehe :D

trims ya.. yang sudah review kemarin.. iya Chanyeol sama Kyungsoo beda keyakinan :((

Chapter kali ini cerita sedang terjadi ya.. chapter berikutnya udah masuk ke chapter flashback, dan seterus-seterusnya masih flashback. Nanti tamatnya baru deh balik ke masa kini lagi :D Aku update lagi habis ini, btw.

Ada yang baca Ff ku nda ya? yahh.. whateverlah ada atau nda aku bakal tetep nulis..

maybe bakal beda karanganku dengan author-author yang udah pro di luar sana, tapi ku harap ada yang suka ya :)

With love,

Arfalix