Disclaimer: Hetalia punya Himaruya Hidekaz. Nusantara & Malaysia berdasarkan sketch Himaruya Hidekaz. Singapore berdasarkan gambar laki-laki beralis tebal, berbaju Cina, dan berambut pendek pada corat coret Hidekaz yang saya paksakan menjadi Singapore. Azizi punya Huntress-Ellie21 di deviantART. One Piece punya Eichiro Oda.

Chapter 2: The First Crews: Get!

Brak!

"Ayah!" seru Malaysia yang telah sampai di rumah utama. Ia langsung berlari ke kamar kerja utama dan langsung menghampiri ayahnya yang berlumuran darah.

"Ma- Malaysia… ke- kenapa kau… bi- bisa… uhuk! uhuk!"

"Sudahlah, ayah! Jangan bicara lagi!"

"Uhuk! uhuk! Ce- cepat lari… uhuk! kabur dari sini… uhuk!"

"Jangan bicara lagi! Singapore, ambilkan kotak P3K!" perintah Malaysia.

"Ini nona," kata Singapore sambil menyerahkan kotak P3K kepada Malaysia.

"Mana gadis bajak laut itu?!" tanya Malaysia kepada Singapore sambil mengobati luka ayahnya.

"Maksud anda Nusantara? Saya tidak tahu. Mungkin dia dan Azizi tersesat lagi," jawab Singapore.

"Apa?!"

Sementara itu…..

"Hah… hah…. kau yakin ini arah yang benar Azizi?" tanya Nusantara kepada Azizi sambil berlari.

"Saya yakin 60%," jawab Azizi sambil berlari juga.

"Tapi, kalau jalan ke rumah utama saja sesulit ini…. berarti kalian kuat sekali, dong! Kenapa bisa kalah dari bajak laut Red apalah itu? Sekuat apa sih bajak laut itu?"

"Saya juga tidak tahu. Ini keputusan tuan besar."

"Eh, ngomong-ngomong, ke mana si nona besar dan pelayannya yang suka pundung itu?"

"Tidak tahu. Mungkin nona Malaysia dan Singapore tersesat. Tenang saja, kita berada di jalan yang benar. Kita pasti sampai sebelum mereka. Saya berani menjamin."

"Begitu, ya…. kalau begitu aku tenang… hahaha…."

Sekedar informasi, mereka nyasar. Azizi adalah penderita buta arah parah. Mereka malah melewati jalan memutar melalui perbukitan. Itu menjelaskan mengapa Nusantara mengatakan jalannya sulit dilewati. Alasan mengapa Azizi sampai sekarang masih belum menyadari kebuta arahannya, bahkan saya sebagi author cerita ini pun tidak tahu.

Kembali ke rumah utama…

"Di saat seperti ini… mereka malah…"

Brak!

"Oh, ternyata nona besar sudah pulang," ejek Redpaper sambil memanggul pedang di pundaknya.

"Kau! Sudah kuduga kau pelakunya!" teriak Malaysia.

"Ma- uhuk! Malaysia… uhuk! Ce- cepat lari… uhuk!"

"Nona, cepat pergi dari sini, biar saya yang menghadapinya!" kata Singapore kepada Malaysia.

"Kau pikir aku akan membiarkanmu lari, hah?!" teriak Redpaper.

Redpaper mengayunkan pedangnya, tetapi berhasil ditahan oleh Singapore.

"Singapore!"

"Nona, cepat pergi!"

"Apa?! Dan membiarkanmu dan Pak Tua itu melawan orang barbar ini?! Tidak akan!"

"Nona, tidak baik anda-"

"Hiaaaat!" teriak Malaysia sambil melayangkan tendangannya ke arah Redpaper.

"Lagi-lagi dicuekin… Ya sudahlah, ini bukan saat untuk pundung," batin Singapore.

"Sialan kau, dasar bocah tengik! Rasakan ini!" teriak Redpaper sambil mengayunkan pedangnya ke arah Malaysia, namun serangan Redpaper dapat ditahan oleh Singapore.

"Singapore!"

"Heh, akan memalukan bila seorang pelayan dilindungi oleh nonanya, kan? Maka saya juga harus membantu nona," sahut Singapore.

"Oke! Mari kita kalahkan dia bersama-sama!" seru Malaysia.

"Ayo!"

Sementara itu, Nusantara dan Azizi yang baru saja sampai di rumah utama…

"Ah, sekarang kita sudah sampai!" seru Nusantara kegirangan.

"Benar, 'kan, apa kataku. Jika kita mengikutiku, kita pasti bisa sampai ke rumah utama," sahut Azizi sambil berbangga ria.

Iya, sih… kalian bisa sampai ke rumah utama, tapi… keefektifan juga diperlukan, Azizi.

"Hei, kalian, sedang apa kalian?"

"Ah."

Nusantara dan Azizi pun menoleh ke sumber suara itu. Ternyata di belakang mereka telah berdiri salah satu anak buah Redpaper yang telah dihajar oleh Nusantara di kota tadi.

"Hah?! Ternyata si pelayan dan gadis tengik di kota tadi. Ini kesempatan yang bagus… Aku akan membalas dendam yang tadi!" sahut anak buah Redpaper itu.

"Ah, kita bertemu dengan tikus-tikus, nih. Apa yang harus kita lakukan, Azizi?" tanya Nusantara.

"Yah, mau bagaimana lagi. Hajar saja," jawab Azizi. Kemudian, muncul lebih banyak anak buah Redpaper.

"Hei, Joys, siapa mereka ini?" tanya salah satu anak buah yang baru datang itu.

"Heh, kebetulan sekali kalian datang. Mereka ini adalah para penentang kapten."

"Kalau begitu, kita harus hancurkan mereka," kata salah satu dari mereka sambil mengeluarkan senjata.

"Ah, tikusnya bertambah banyak, nih. Tidak apa-apa, nih?" kata Nusantara.

"Ah, sudah tidak usah dipikirkan. Bereskan saja mereka. Kau bisa kan?" kata Azizi.

"Heh, kau meremehkanku?"

"Tidak, hanya bertanya saja."

"Kalau begitu, dalam hitungan ketiga. Satu…. Dua…. Tiga!"

Duesh!

Dan dimulailah pertarungan Nusantara dan Azizi melawan para anak buah Redpaper.

Kembali ke Singapore dan Malaysia yang melawan Redpaper….

Pertarungan masih terus berlanjut. Malaysia melayangkan beberapa jurus silat melayunya kepada Redpaper sedangkan Singapore menyerangnya dengan kungfunya. Namun, Redpaper masih bisa berdiri lagi, walaupun agak terhuyung-huyung.

"Huh! Kalian pikir, kalian bisa mengalahkanku?! Rasakan ini!" teriak Redpaper sambil mengayunkan pedangnya ke arah Singapore dan Malaysia. Untungnya, mereka dapat menghindari serangan itu. Namun, pertarungan yang berlangsung daritadi telah menurunkan stamina mereka. Di saat itu, Redpaper melayangkan serangannya kembali dan berhasil mengenai Singapore dan melukai pundaknya.

"Ukh!"

"Rasakan itu! Itulah akibatnya jika berani malawanku!"

"Singapore!" seru Malaysia sambil menghampiri Singapore.

"Ukh… sa- saya baik-baik saja, nona," sahut Singapore sambil berusaha berdiri kembali.

"Oh, masih bisa berdiri rupanya. Kalau begitu, pada serangan berikutnya akan kupastikan kau tidak akan bisa bangun kembali!" sahut Redpaper.

"Nona, saya punya rencana," bisik Singapore kepada Malaysia.

"Hmm…. Apa rencanamu?" balas Malaysia sambil berbisik-bisik juga.

"Begini…"

"Hah! Untuk apa kalian berbisik-bisik?! Kalian sudah pasti kalah dariku!" sahut Redpaper sambil bersiap menyerang mereka berdua lagi.

"Anda sudah mengerti, nona?" tanya Singapore setelah selesai menjelaskan rencananya kepada Malaysia.

"Ya."

"Kalau begitu, pada hitungan ketiga. Satu… dua… tiga!"

"Apapun yang kalian lakukan, kalian tidak mungkin bisa menang dariku! Heaaaah!" seru Redpaper sambil berusaha menyerang mereka berdua. Namun, mereka berdua berhasil menghindari serangan itu. Malaysia menyerang Redpaper dan berhasil menjatuhkan pedangnya. Singapore memungutnya dan langsung menyerang Redpaper dengan pedang itu.

"Rasakan ini!" seru Singapore sambil menyerang Redpaper dengan pedang itu. Redpaper pun ambruk seketika.

"Hah… hah…. Kita sudah menang…. " sahut Singapore.

"Ya… Tapi, masih ada anak buahnya. Pertama-tama, kita bawa Pak Tua ke rumah sakit dulu," kata Malaysia.

"Nona, tidak baik me-"

"Huplah! Singapore, bantu aku memapahnya," kata Malaysia sambil berusaha memapah ayahnya.

"Singapore? Singapore?! Kau pundung lagi?! Mentang-mentang sudah selesai bertarung, jadi kau pundung?!"

"Uuuuh… No- nona jahat… uh… Aduh!" rintih Singapore sambil memegangi pundaknya yang terluka akibat serangan Redpaper tadi.

"Ah, sudahlah, kau tidak usah membantuku. Istirahat saja dan kalau mampu, obati dirimu sendiri," seru Malaysia.

"Baiklah, nona," jawab Singapore sambil mengambil kotak P3K yang tadi dipakai untuk mengobati ayah Malaysia.

Kita lihat keadaan Azizi dan Nusantara…

Seperti yang sudah anda semua perkirakan, mereka berhasil mengalahkan semua anak buah Redpaper.

"Ah, akhirnya selesai juga. Sekarang, waktunya mengalahkan bos tikus!" seru Nusantara.

"Ya! Saat nona Malaysia dan Singapore sampai, mereka pasti akan terkejut," kata Azizi.

Lalu, mereka mulai melangkahkan kaki ke dalam rumah utama, namun saat hendak masuk, mereka bertemu dengan Malaysia yang hendak membawa ayahnya ke rumah sakit.

"Lho, Nona? Kenapa anda sudah sampai? Kenapa tuan besar?" tanya Azizi.

"Kemana saja kalian berdua?! Aku da Singapore bahkan sudah mengalahkan Redpaper tahu! Sekarang cepat bereskan sisanya!" seru Malaysia sambil beranjak pergi untuk membawa ayahnya ke rumah sakit.

"Yaaahh… Aku tidak bisa menunjukkan kekerenanku dong… Ah, ini gara-gara kamu, Azizi," rengek Nusantara.

"Apa?! Aku sudah menunjukkan jalan yang benar, kok. Buktinya kita bisa sampai, kan? Nona Malaysia saja yang aneh. Aku yakin dia pasti pakai sihir."

"Aaaaaaah!"

"Aw! Jangan pukul aku. Sudah, ayo cepat kita bereskan yang di dalam."

"Haaaaah… ya sudahlah, apa boleh buat…"

"Hei Singapore, kan semuanya sudah selesai. Bagaimana kalau kau ikut denganku menjadi kruku. Sepertinya kau cukup pintar, jadi kau bisa menjadi navigatorku," ajak Nusantara kepada Singapore.

"Sudah saya katakan, saya tidak mau. Saya harus melayani nona Malaysia dan membalas jasa orang itu," jawab Singapore.

"'Orang itu'? Siapa? Siapa 'orang itu'? Cepat beritahu aku!" desak Nusantara.

"Ah, sudahlah, tak ada hubungannya denganmu. Pokoknya, saya tidak akan ikut denganmu," kata Singapore sambil meninggalkan Nusantara.

"Ada apa sih dengan dia…"

Sementara itu, di luar…

"Dasar pelayan bodoh…" bisik Malaysia.

"Hei, Azizi," panggil Nusantara.

"Ah, nona Nusantara. Saya sedang sibuk. Jika anda ingin kencan denganku, maka anda harus menunggu sampai sore," jawab Azizi narsis.

"Tidak, bukan itu, dasar narsis. Aku mau bertanya tentang singapore."

"Aaaaaah…. Mengapa dia begitu populer. Apakah aku kurang tampan dibandingkan dia? Ah, sudahlah, jadi, apa yang ingin kau tanyakan mengenai dia?"

"Tadi, saat aku mengajaknya menjadi kruku, dia bilang, dia harus membalas budi seseorang. Apa kau tahu, siapa kira-kira orang itu?"

"Ah, tentu saja tahu. Kau pikir siapa aku? Aku adalah Azizi yang awesome! Mwahahaha!"

"Tolong jangan narsis dulu dan cepat beritahu aku. Ngomong-ngomong, kau seperti seseorang berambut putih yang narsis tingkat dewa..."

Di Grandline….

"Huatchim!"

"Ada apa bruder? Kau terserang flu?"

"Heh?! Mana mungkin orang awesome sepertiku bisa terserang flu?! Pasti ada yang sedang membicarakan ke-awesome-anku ini. Kesesese!"

Kembali ke rumah utama…

"Uhuk! Uhuk! Baiklah. Jadi begini ceritanya…"

Flashback…

Zraaaaash!

Hari itu sedang turun hujan yang sangat lebat. Semua anggota keluarga utama sedang berada di dalam rumah, namun tiba-tiba ada suara ketukan di pintu…

Tok! Tok! Tok!

Seorang anak laki-laki yang basah kuyup berdiri di luar pintu utama. Dia bilang dia tidak punya tempat untuk pulang dan meminta untuk tinggal di rumah ini.. Pada awalnya, para anggota keluarga tidak setuju karena asal usulnya yang tidak jelas, namun…

"Tidak apa-apa kan? Lagipula, Malaysia perlu teman bermain seumurnya. Kau setuju 'kan, Malaysia?"

Dia adalah ibu Nona Malaysia, Nyonya Langkasuka. Dia sangat disayangi oleh semua orang di kota karena kebaikan hatinya. Dia satu-satunya orang yang setuju untuk menampung Singapore.

"Ta- Tapi sayang…"

"Tidak ada tapi-tapian! Aku sudah memutuskannya! Pelayan, ambilkan handuk dan siapkan baju kering untuk anak ini! Nah, bocah kecil, siapa namamu?"

"Si- Singapore…"

"Singapore? Nama yang bagus. Nah, Malaysia, mulai sekarang, dia adalah temanmu. Ayo beri salam!"

"Eh?" kata Singapore bingung.

Tiba-tiba, muncullah seorang gadis kecil dari belakang Nyonya Langkasuka. Dia adalah Nona Malaysia. Mereka berdua saling bertatapan beberapa saat sebelum Nona Mayalsia menyeletuk.

"Heee…. Jadi dia pelayanku yang baru, ya?"

"Eh?!"

Semua yang mendengar kata-kata Malaysia langsung facepalm.

"Baik! Sudah kutetapkan! Kau pelayanku yang baru! Sekarang, untuk permulaan, panggil aku nona!"

"Ba- Baik! No- nona…"

"Lebih keras!"

"BAIK, NONA MALAYSIA!"

"Hahaha… bagus! Itu baru pelayanku! Hahahaha…."

Semua yang ada di situ langsung hening.

Flashback end.

Nusantara facepalm.

"Huhuhu… Masa lalu yang mengharukan bukan? Huhuhu… aku selalu terharu bila teringat lagi," kata Azizi sambil menyeka air matanya dengan saputangan.

"Tunggu… tunggu… jadi, dia berutang budi pada Langkasuka, alias ibu Malaysia karena dia memungutnya pada hari berhujan dan menjadikannya pelayan Malaysia, begitu?!"

"Begitulah. Tapi, untuk seorang anak laki-laki yang tidak punya tujuan, itu adalah hal yang sangat besar, bukan? Nyonya Langkasuka telah memberinya keluarga dan tempat tinggal. Itulah yang terpenting, dan dia sangat berterima kasih atas hal itu."

Nusantara pun terdiam.

"Apa aku terlihat sangat keren?" batin Azizi narsis.

"Lalu, apa yang terjadi pada Langkasuka?" tanya Nusantara.

"Ah, Nyonya Langkasuka telah meninggal 3 tahun yang lalu, tepat saat Redpaper datang ke kota ini."

"Ba- Bagaimana ia meninggal?"

"Ah, kau sepertinya penasaran sekali."

"Sudah, cepat beritahu aku!"

"Baik, baik. Nyonya Langkasuka meninggal untuk melindungi kota ini. Dia bertarung melawan bajak laut itu. Itu sebabnya Tuan Besar mulai memberikan upeti kepada bajak laut itu. Tuan Besar berharap tidak ada yang bernasib sama seperti istrinya. Tapi, kalau dipikir-pikir, keadaan Nyonya Langkasuka saat itu memang sudah lemah. Tidak heran bila dia kalah. Mungkin setelah kematian Nyonya Langkasuka, Singapore merasa ia harus melindungi Nona Malaysia untuk membalas budi Nyonya Langkasuka."

"Oh, begitu…"

"Sudah cukup? Tidak ada yang ingin ditanyakan lagi pada aku yang tampan ini?" kata Azizi narsis.

"Tidak, sudah cukup. Terima kasih atas informasinya," kata Nusantara sambil beranjak pergi.

"Singapore, aku dengar kau menolak ajakan gadis bajak laut itu, ya?" tanya Malaysia.

"Ah, nona? Kau disini? Sebaiknya anda menjenguk Tuan Besar di rumah sakit. Saya dengar keadaannya sudah lebih baik," kata Singapore.

"Singapore! Jangan mengalihkan pembicaraan!"

"Saya tidak mengalihkan pembicaraan, nona."

"Aku tahu kalau kau selalu bermimpi untuk melihat dunia luar! Ini kesempatanmu! Mengapa kau tolak?!"

"Darimana anda tahu?! Anda bisa saja salah!"

"Aku selalu melihatmu di perpustakaan, membaca buku tentang navigasi dan petualangan! Apa ini karena ibuku?! Kau masih merasa berutang budi?!"

"Ti-"

"Kau tidak perlu merasa berutang budi. Kejarlah mimpimu. Aku akan mendukungmu."

"Nona…"

"Sekarang, cepat temui Nusantara."

"Te- terima kasih nona…"

Singapore pun beranjak pergi.

Drap! Drap! Drap!

"Nona Nusantara!" panggil Singapore.

"Ah, Singapore. Tidak apa-apa kok, aku mengerti, jadi-"

"Bukan itu. Saya akan menjadi kru anda."

"Ah, tidak usah memaksakan diri. Aku sudah dengar ceritanya dari Azizi, kok. Tidak apa-apa kalau kau tidak mau."

"Tidak, bukan itu. Saya sebenarnya mempunyai impian untuk bertualang melihat dunia luar. Sekaranglah saatnya, dan nona Malaysia juga sudah mengijinkan."

"Benarkah?!"

"Iya."

"Uuuuuh…"

"Nona Nusantara?"

"IYEEEEEI! KRU PERTAMAKU! YEIIIII!"

"No- nona Nu-"

"Jangan panggil aku nona, panggil aku kapten!"

"Ba- baik! Kapten…"

"lebih keras!"

"KAPTEN!"

"Hahahaha…. Bagus!"

"Rasanya ini pernah terjadi…" batin Singapore.

Keesokan harinya di pelabuhan…

"Nah, nona Nusantara, kau bisa memakai kapal yang ditinggalkan oleh Redpaper. Semoga anda sehat selalu. Ini bahan makan untuk sebulan, semoga cukup. Dan Singapore, jaga nona cantik ini baik-baik! Dan tidak usah khawatir tentang nona Malaysia karena aku yang tamapn ini akan menjaganya," kata Azizi kepada Singapore dan Nusantara.

"Hahaha! Terima kasih, Azizi. Ayo Singapore!" kata Nusantara.

"Baik, kapten. Dan aku berharap padamu, Azizi. Jaga Nona Malaysia baik-baik."

"Nah, sekarang ayo berang-"

"Tunggu!"

Nusantara, Azizi, dan Singapore pun menoleh ke asal suara itu.

"Eh?! Malaysia/Nona?!"

"Untuk apa anda ada di sini nona?" tanya Singapore.

"Tenang nona. Anda tidak perlu khawatir, saya akan selalu menjaga anda," sahut Azizi.

"Kau tidak perlu menjagaku, Azizi. Hei Nusantara, kau tidak keberatan 'kan kalau seorang gadis bergabung dengan krumu?" kata Malaysia.

"Hmmm… tidak masalah, sih. Lebih banyak lebih baik." sahut Nusantara.

"Bagus. Kalau begitu, aku bergabung denganmu," kata Malaysia sambil naik ke kapal.

"Eeeeeeeeeh?!" Singapore kaget/

"Hore! Satu kru baru lagi!" seru Nusantara kegirangan.

"Nona, bukankah anda sudah merelakan saya?" tanya Singapore.

"Kapan aku bilang begitu? Aku hanya bilang aku akan mendukungmu. Maka, sekarang aku disini, sesuai kata-kataku, kan?" jawab Malaysia.

"Tapi, nona, bagaimana dengan tuan besar?" tanya Azizi.

"Tenang saja, Azizi, aku sudah meminta izin dari pak tua itu," jawab Malaysia.

"Nona, tidak baik an-"

"Azizi, jaga ayahku baik-baik ya!" seru Malaysia kepada Azizi.

"Ah, baik nona. Semoga anda selamat. Dan kau Singapore, kalau sampai terjadi apa-apa kepada nona, aku akan mengejar dan menghajarmu. Ingat itu," sahut Azizi.

"Ahahaha! Yah, sekarang sudah siap kan? Ayo kita bertualang menuju jalan menjadi Ratu Bajak Laut!" seru Nusantara.

"Ayo!" seru Malaysia dan Singapore bersama-sama.

"Selamat jalan semuanya! Jaga diri kalian baik-baik!" seru Azizi dari pelabuhan.

"Hahaha! Apa?! Tidak kedengaran nih… Ahahaha….." sahut Nusantara sambil tertawa.

Dan dimulailah petualangan Nusantara menuju jalan menjadi ratu bajak laut bersama kedua kru barunya.

To be continued….

Aaaah…. Makasih kepada yang sudah mereview, memfollow, dan memfave cerita ini, dan terima kasih kepada beta reader saya, Anakeren-san *sembah sujud*.

Saatnya balas review bagi yang tidak log-in:

Cheerin-san: Terima kasih, cheerin-san.

Sampai jumpa di chapter depan! Ciao!