Tuberose 02 [KaiSoo ff]
Present by RoséBear
Warning: Everything include in the rating applies to the level of language, adult content, sexual situation in this story, Mpreg!
Disclaimer : Just a fanfiction!
Sesuatu yang kompleks, eksotis dan terasa manis namun paling mengikat, menggoda serta begitu mempesona seperti sang dewi malam tuberose.
(created: 170923 publish: 180223)
"Aku hanya menginginkan teman bicara. Jadi menyingkirlah dari atas tubuhku!"
Kai terkesiap mendengar teriakan Kyungsoo. Bagaimana bisa seorang selir Kaisar yang terlihat menawan berteriak kepada budak sekalipun. Mata bulat yang kini di hadapannya benar-benar berusaha mengintimidasi, namun terlihat begitu polos dan meminta seorang pria seperti Kai untuk menjaganya. Budak itu seakan merasa kehilangan sebagian keegoisannya.
"K-Kai?"
Lelaki itu mendengar nama baru untuk dirinya. Tiba-tiba saja hatinya menghangat dan segera berguling ke samping. Melepaskan Kyungsoo segera untuk berbaring.
"Jadi apa yang bisa kita bicarakan?"
Kyungsoo berdiri dari ranjang, membiarkan Kai tetap terbaring di pinggir sana.
"Aku bertanya padamu Kai."
Sekali lagi pemuda mungil itu tidak menyebutnya budak melainkan nama yang dia berikan beberapa saat lalu. Sementara nada suaranya kembali tenang.
"Kenapa kau menginginkanku?"
Tidak bisa dipungkiri jika Kai masih belum puas akan jawaban Kyungsoo sebelumnya. Teman bicara? Rupanya apa yang salah dari menjadi selir Kaisar? Dia di kelilingi oleh semua harapan penduduk. Tinggal di istana mewah dengan semua yang sama sekali tidak dimengerti, kenapa Kyungsoo menginginkan seorang budak di sekitarnya.
"Apa yang salah dari menginginkan teman bicara? Apa kau benar-benar berpikir aku akan menggunakanmu sebagai, Ukghhh."
"Ada apa!?"
Kai terkesiap. Ia segera bangkit dan membantu Kyungsoo duduk di pinggir ranjang.
Kyungsoo mengapit kedua pahanya, wajah itu meringis dengan kedua baris gigi merapat, sementara tangannya menggenggam baju yang Kai kenakan.
Dengan suara tertahan Kyungsoo mulai bicara, "Kaisarrr," Suaranya setengah bergetar. "Memasukkan serbuk perangsang dalam minumanku."
Segera Kai mengalihkan pandangan pada dua cangkir di atas meja yang telah di singkirkan dari sisi ranjang. Dia mengambil satu cangkir, mengendus bibir cangkir dan membuangnya cepat, mengambil satu lagi kemudian kembali mengendus dari bibir cangkir.
Hanya satu yang memiliki kandungan ekstrak shatavari.
Kai bisa tahu dari aroma yang tidak bisa di cium oleh orang biasa. Dia telah belajar dari seseorang mengenai obat perangsang ketika mengikuti ayahnya melakukan perjalanan, sebab keluarganya pernah menduduki jabatan di pemerintahan. Keluarganya cukup di pandang sebelum tragedi itu terjadi.
"Dia selalu melakukannya agar aku tersiksa."
Kyungsoo kesulitan menyampaikan perkataannya. Tapi pegangan pada Kai menyadarkan pria itu.
"Apa akan menjadi masalah jika aku membantumu menghilangkan rasa sakit itu?"
Pikiran itu muncul begitu saja, melintas tanpa sengaja. Membuat Kyungsoo melotot pada Kai.
Tidak!
Tidak boleh ada pria yang menyetubuhinya apalagi sampai mempertemukan sperma dengan sel telur yang ada pada tubuh Kyungsoo.
Dalam keterdesakan itu Kyungsoo mengingat kondisi dirinya segera. Jangan sampai Kai melihat tapi sepertinya sudah terlambat ketika pria itu menjatuhkan tubuh Kyungsoo ke atas ranjang. Menelanjangi Kyungsoo dengan cepat dan dengan segera menyadari terdapat dua kelamin pada tubuh Kyungsoo.
"Kau?"
"Ughhhh!"
Kyungsoo mengerang ketika Kai menahan kedua lutut Kyungsoo untuk mengangkang. Pria tan itu telah melihat kondisi Kyungsoo.
Pemuda mungil ini lahir dengan dua kelamin. Dia adalah seseorang yang istimewa karena terlahir sebagai manusia hermaprodit.
"Hhahhhhhh tidakhhh!" Kyungsoo mengerang frustasi. Dia ingin melihat Kai untuk memperingatkan tapi pemuda itu menahannya dengan kuat, menahan Kyungsoo untuk bangkit. Memaksa pria mungil itu meremas seprai kuat sebagai pelampiasan karena Kai mendiamkannya beberapa saat. Antara rasa sesak dan menyakitkan bersamaan dengan perasaan malu serta takut, semuanya berhasil terlarut.
"Jadi apa keistimewaan ini yang membuat Kaisar menjadikanmu selir?"
Tubuh Kai merangkak di atas Kyungsoo. Sebelah kakinya menahan lutut kanan lelaki itu sementara tangan kirinya menahan kedua lengan Kyungsoo agar berada di atas kepala.
"Ahhhh!"
Kyungsoo mendesah hebat merasakan belaian jari Kai padai bibir kelamin keduanya. Di bawah penis yang berkedut itu ternyata Kyungsoo menyimpan sebuah rahasia lain. Sesuatu yang telah ada sejak dia lahir. Keistimewaan yang tidak mendapat perhatian, sebab bisa menjadi bahaya untuk hidupnya.
"Bagaimana ini? Apa kau mengkonsumsi sesuatu seperti obat pencegah kehamilan? Bagaimana jika aku yang menghamilimu?"
Kai bicara pelan, berhasil menyudutkan Kyungsoo. Menciptakan gerakan yang menambah panas di sekujur tubuh Kyungsoo ketika bibir itu menempel di kulit lehernya.
"K-khaisharhh tidak tahu hal ini." Desahnya panjang dan pasrah.
Alis Kai naik setingkat mendengar pengakuan Kyungsoo. Dia bergeser semakin menaiki Kyungsoo. Tidak bisa menyembunyikan rasa penasaran. Tangannya terhenti menyentuh bagian bawah Kyungsoo.
"Jangan sampai dia tahu akan hal ini."
Seketika Kai terdiam. Pria mungil di bawahnya kini memiliki napas terputus-putus. Pandangannya mengisyaratkan jika dia menyerah.
"Sepertinya kau benar-benar butuh teman bicara. Tapi pertama, aku akan membantumu menyelesaikan masalah ini."
Lelaki itu menggunakan tangan panjangnya untuk menarik tali merah yang menjadi pengikat kain di atas ranjang Kyungsoo. Mengikat simpul pada tangan Kyungsoo ke sela-sela ranjang. Dia perlahan menarik tubuhnya ke bawah. Menatap sedikit ragu pada milik Kyungsoo dan mulai memajukan wajahnya
"Ahhhhhhh."
Kyungsoo mendesah panjang merasakan hangat dari lidah Kai serta sentuhan pada kejantaannya. Kai membawa kedua kaki Kyungsoo ke atas pundaknya, sementara mulutnya berusaha pada milik Kyungsoo.
"Owghhh."
Jemari pria mungil itu menggapai udara sekitar di mana pergelangan tangannya terikat.
Suara desahan dan erangan tertahan dari mulut Kyungsoo tidak menghentikan Kai untuk mengaduk lubang itu. Untuk pertama kalinya sesuatu yang asing menyentuh miliknya. Ternyata lubang itu lebih sensitifnya daripada anus Kyungsoo yang telah dimasuki oleh Kaisar.
Kai memasukkan kedua jarinya membuat Kyungsoo terpekik kuat.
"Arghh!"
Pria tan itu mendongak. Berhenti sebentar menyaksikan Kyungsoo bernapas pendek-pendek. Pelan kemudian dia kembali bergerak.
"Owghh," setiap gerakan yang dia lakukan maka akan membuat Kyungsoo melepaskan sebuah desahan.
"Ouwhhhh."
Jari-jari kaki Kyungsoo mengeras satu sama lain mencoba melakukan perlawanan ketika Kai menambah jarinya di dalam sana.
Tusukan demi tusukan yang dibuat lelaki tan itu membuat Kyungsoo mengerang hingga suara kepuasan melengking. Semua hanya karena dimasuki oleh benda asing.
Kyungsoo mengeluarkan cairan squirt yang di produksi oleh kelenjar-kelenjar yang ada di sekitar kelamin keduanya. Jumlah yang disemprotkan Kyungsoo terbilang banyak. Tubuh lelaki mungil itu terbaring lemah di kemudian.
Kai mengambil kain di atas meja. Segera dia membersihkan Kyungsoo. Kembali naik dan melepaskan ikatan pada tangan lelaki itu. Dalam detik itu juga Kai menerima sebuah pelukan erat.
Kyungsoo kelelahan bukan hanya karena seks singkat bersama budak ini. Tetapi karena sejak pagi dia telah melayani hasrat Kaisar kemudian meningalkannya seorang diri.
"Apa sekarang merasa lebih baik tuan muda?"
Kai bertanya lembut. Mengelap keringat di wajah Kyungsoo. Dia mencium bibir selir Kaisar tanpa permisi .
Menyaksikan kepalanya mengangguk pelan. Sedikit senyum terukir berhasil mengejutkan Kai. Bagaimana seorang pria hermaprodit bisa memiliki wajah semanis dan semenggoda ini, pikirnya.
"Terima kasih banyak Kai."
Kai menarik selimut menggunakan kakinya. Tidak melepaskan pelukan Kyungsoo dan menyelimuti tubuh mereka berdua.
"Jadi? Apa kau benar-benar butuh teman bicara tuan muda?"
Jari telunjuk Kyungsoo menekan bibir tebal Kai.
"Kyungsoo. Aku ingin kau memanggilku seperti itu ketika kau hanya bersamaku."
"Tapi aku adalah budak."
Kai menjilati telunjuk itu, bahkan terasa manis ditambah menikmati wajah selir Kaisar dari jarak yang begitu dekat.
"Kau adalah milikku."
Kyungsoo sedikit bangkit. Di bantu Kai dia duduk, pria tan sedikit bingung melihat Kyungsoo melepaskan pelukannya, sedikit bergeser agar bisa membuka laci pada meja di sebelah ranjang.
Kyungsoo mengeluarkan sebuah gelang dengan sebuah hiasan berwarna gelap.
Dia kembali pada Kai, menarik lengan pria tan dan memasangkan gelang itu segera.
"Dengan begini mereka tidak melihat tanda pada dirimu."
Garis kebiruan sebagai pertanda budak itu tertutupi oleh pemberian Kyungsoo. Tanpa sadar Kai tidak bisa melepaskan tatapan dari Kyungsoo.
"Jangan kau hilangkan. Ayah membuatkannya sebagai hadiah kelahiranku. Ini adalah kalung tapi aku tidak bisa memakainya lagi."
Kai mengabaikan perak yang melingkar, dia memandangi ukiran pada hiasan di lengannya.
"Bukankah ini?"
"Batu meteor. Ayah membuatnya sendiri untukku."
"Bagaimana aku harus membalasmu Kyungsoo?"
Sekali lagi bahkan belum setengah jam dia bisa melihat pria ini tersenyum kembali. Membiarkan tangan Kyungsoo membelai wajahnya. Pria mungil itu mengangkat kepala, semakin mendekat dan mendapatkan bibir Kai dalam ciuman singkat.
"Jangan beritahukan kondisiku pada siapapun terutama Kaisar."
Sesuatu melesak ke dalam pikiran Kai. Jika ini adalah sebuah rahasia, seharusnya Kyungsoo tidak memiliki siapapun di sekitarnya. Bagaimana jika Kai memberitahu Kaisar dengan sebuah imbalan kebebasan?
Kebebasan?
Sesuatu yang tidak mungkin untuk budak seperti dirinya. Kai telah memiliki cap budak itu sekalipun Kyungsoo berusaha memudarkan tanda itu. Tapi pertanyaan itu tidak bisa bersarang secara terus menerus di kepalanya.
"Lalu kenapa kau menginginkan aku sebagai budakmu?"
"Aku tidak tahu Kai. Terjadi begitu saja, secara reflek aku menginginkanmu."
Keduanya tidak saling mengerti situasi yang telah terjadi. Menjadi sulit seakan itulah yang dinamakan ikatan takdir.
"Begitu juga hari itu. Kau melihatku bukan?"
Pertanyaan Kai selanjutnya membuat Kyungsoo terkekeh. Suara tawa kecil Kyungsoo menyapu wajah Kai ketika keduanya mengingat kejadian di depan tempat di adakannya rapat para negarawan hari itu.
"Berhentilah menuntut sesuatu dariku Kai."
Kai mendengus pelan mendengar jawaban Kyungsoo barusan.
"Baik! Satu hal lagi! Bagaimana bisa Kaisar tidak tahu tentang kondisimu? Kupikir dia telah menyenyubuhimu, sekalipun kau seorang pria. Kau adalah seorang... selir." Ia bicara pelan pada bagian akhir tidak ingin menyingung.
Kyungsoo membawa Kai berbaring di ranjang. Merasakan detak jantung pria tan tidak terlalu beraturan.
"Dia tidak mencintaiku. Kaisar hanya menginginkan nama keluargaku agar mendapatkan dukungan untuk mempertahankan kekuasaannya. "
Dia diam sejenak memikirkan apa yang telah terjadi di dalam istana ini setelah pergantian penguasa. Terlalu banyak intrik yang terjadi dalam kekuasaan Kaisar baru. Di luar sana tersebar kabar jika Kaisar mencintai selirnya, namun karena itu seorang pria maka dia membutuhkan seorang ratu yang mana wanita itu adalah penyebab utama peperangan besar di perbatasan semakin membara seperti arang yang terkena percikan api sehingga menyala begitu besar.
Ratu di culik dari sebuah kerajaan kecil. Sementara raja negara itu sekarang mencoba merebut putri yang dia miliki.
~ RoséBear~
Ketika pusat penelitian negeri ini memberi kabar yang Kaisar inginkan, betapa bahagia pria tinggi itu mendengarnya dan dengan senang hati dia berjalan tergesa-gesa menuju kediaman sang ratu. Melewati para pelayan istana yang selalu menyambut kedatangan Kaisar setiap waktu.
Di dalam ruangan itu, dia melihat wanita cantik dengan tumpukan benang wol sedang menyulam. Wanita itu segera berdiri menyadari kedatangan Kaisar untuk memberi hormat, tidak peduli jika salah satu gulungan benang menggelinding ke bawah karena tiba-tiba saja Chanyeol menghampiri dan memeluknya begitu erat.
Sedikit tidak mengerti situasi. Baekhyun, ratu negeri ini terkejut.
"Mereka menemukan cara agar kau bisa mengandung. Kau bisa memiliki anak sayang."
Kepalanya merasakan pening luar biasa setelah mendengar pengakuan Chanyeol.
Bukan ini yang Baekhyun inginkan. Sesering apapun Chanyeol menyetubuhinya, sekuat apapun usaha penguasa ini untuk membuatnya mengandung seorang bayi tidak akan membuat Baekhyun mencintainya. Bagaimanapun, Chanyeol membuatnya berpisah dari keluarga utama, membuatnya juga kehilangan harapan untuk bersama pria yang dia cintai.
Tapi tubuh Baekhyun telah terpundur ke sisi ranjang, tersandung hingga jatuh telentang di sana.
Baekhyun baru saja sembuh dari sakit, baru tadi malam dia merasakan pelukan Chanyeol dengan lembut sementara pagi ini ketika pria ini meninggalkannya untuk menemui senator Do bertanya prihal usaha membuat Baekhyun mengandung adalah sebuah pemberitaan terburuk sepanjang keinginan yang dia buat.
Tidak ada penolakan yang bisa dia lakukan saat satu persatu pakaiannya di lepas, memperlihatkan tubuh yang sangat dikagumi penguasa negeri ini.
"Owhhhhh."
Lidah Chanyeol segera bermain di salah satu puting payudara Baekhyun sementara tangan kanannya bebas meremas yang satu lagi.
"Aaahhhhh."
Desahan panjang itu selalu keluar dengan sembarang setiap kali jari-jari panjang Chanyeol meraba tubuhnya. Seperti saat ini, pria itu naik ke atas tubuh Baekhyun. Menciumi wajahnya dan berakhir pada bibir tipisnya menimbulkan perasaan campur aduk. Memberikan pagutan penuh tekanan dan begitu menikmati balutan bibir tipis Baekhyun pada lidahnya yang menembus masuk.
Tangan yang bebas itu memaksa Baekhyun membuka pakaian Chanyeol. Membuat kejantanan pria itu keluar dari tempatnya. Chanyeol hanya butuh sedikit pemanasan untuk membuat milik Baekhyun siap menerima miliknya.
Menusukkan dua jari sekaligus, menunggu rintihan Baekhyun mereda lalu menambah jumlah jari di sana. Chanyeol selalu menyiapkan dengan segera, setelah merasakan cukup maka dia akan segera membawa kejantaannya memenuhi lubang Baekhyun. Menusuknya berkali-kali hingga Baekhyun mengerang frustasi atas sentuhan pria ini.
"Ughhh! Ahhhh."
Tidak butuh banyak waktu bagi Chanyeol merasakan kelonggaran Baekhyun semakin menerima dirinya. Bahkan wanita itu telah mencapai orgasme hingga kedua kali, tapi lelaki itu tidak akan berhenti hingga spermanya memenuhi lubang Baekhyun.
"Owghhhhhh!"
Erangan panjang Chanyeol akan menjadi penutup kegiatan seks singkat mereka. Tidak pernah melepaskan begitu saja, Chanyeol akan membawa tubuh Baekhyun berguling agar tidak menindih wanita itu, menciumi wajahnya dan memeluk dalam kehangatan. Melupakan waktu maupun tempat mereka berada.
"Aku sangat mencintaimu sejak hari itu. Kau tidak akan pernah kulepaskan Baek."
Dia bicara begitu kemudian membawa selimut menutupi tubuh telanjang keduanya.
Hari itu!?
Di mana Baekhyun untuk pertama kalinya menghadiri pesta di negeri ini. Bukan sekedar pesta, tapi sebuah kunjungan rahasia yang dibuat ayahnya. Ayahnya sebagai salah satu raja di negeri kecil mendapat sebuah kehormatan untuk bergabung dalam pertemuan sepuluh tahun sekali dari lima kerajaan, padahal Baekhyun telah di jaga dengan ketat tapi entah kenapa hari itu dia masih saja tersesat di tengah Kota. Menemukan kedai minuman dan untuk pertama kali Baekhyun melihat seorang pria berkulit tan. Dia menyukai tawa anak lelaki itu, mengikutinya hingga kemudian Baekhyun sadar dia telah berada di perbatasan negeri yang begitu asing
"Arghhh!"
Gadis itu terpekik karena kakinya tidak sengaja menginjak bola logam yang tersebar untuk melindungi perbatasan negeri ini. Darah mengalir namun dengan segera seorang lelaki mendatanginya. Terdiam melihat Baekhyun yang telah menangis. Dia segera sigap menolong Baekhyun, pria yang membawa langkahnya kemari ternyata mendengar teriakan Baekhyun. Membawanya kembali ke Kota. Tapi meninggalkan Baekhyun di rumah pengobatan.
Karena berada di rumah pengobatan itu dia bertemu dengan Chanyeol. Di sana, Chanyeol mengenakan pakaian pelindung tubuh, tampak juga mendapat luka akibat perburuan yang baru dia lakukan. Tidak Baekhyun sadari jika ternyata Chanyeol menyadari tatapan singkat itu, membawa Chanyeol jatuh cinta kepadanya.
Namun beberapa pengawal ayahnya akhirnya menemukan keberadaan Baekhyun.
Menjadi awal tindakan nekat Chanyeol berusaha mendapatkan Baekhyun hingga saat dia dewasa kemudian menculik Baekhyun karena sang raja tidak memberikan restu mengingat negara mereka adalah kerajaan merdeka yang tidak mengabdi untuk Kaisar. Mereka tidak termasuk sebagai penyedia sejumlah kebutuhan negeri ini, negara kelahiran Baekhyun bukanlah sebuah penyanggah. Tapi ternyata mereka kesulitan bertarung dengan negeri sebesar ini, terutama ketika Kaisar meninggal dan di gantikan oleh putra satu-satunya yang pada akhirnya berhasil menculik Baekhyun.
~ RoséBear~
"Bibi Oh bilang aku adalah bayi berambut jingga dengan mata besar dan berkulit putih. Meskipun terlahir begitu, Ayah dan ibu tetap menyayangiku. Musim dingin ketika umurku tujuh tahun, aku mendapatkan izin resmi memasuki perpustakaan negeri ini. Paman Oh berkata aku anak yang sangat polos dan pandai."
Kai mendengarkan celoteh Kyungsoo. Sejak terbangun pagi ini dia telah mendengar selir Kaisar ini bicara. Di saat itu Kai menyadari jika Kyungsoo benar-benar membutuhkan teman bicara atau tepatnya seorang pendengar. Pemuda itu beranjak dari ranjang, dia masih mengenakan pakaian lengkap tidak seperti Kyungsoo yang telanjang di balik kain hangat itu. Membawa langkah kakinya menuju jendela yang mana terpasang gorden dengan kain muslin. Menyingkap untuk membiarkan sinar matahari masuk.
"Jadi kau bisa beritahu aku apa yang akan kau lakukan hari ini?"
Kai kembali ke atas ranjang, sedikit menahan tubuhnya dengan tangan ketika mendekatkan kepala pada wajah Kyungsoo.
Chup
Sebuah kecupan membuatnya terdiam. Baru saja lelaki bermata bulat ini menciumnya.
"Aku bahkan belum selesai bicara tapi kau berani memotongnya."
Apa ini jenis hukuman yang Kai dapatkan? Dia terkekeh pelan menyadari sikap menggemaskan Kyungsoo.
"Kemarilah dan berdoa bersamaku, kita belum melakukannya sejak terbangun."
Kyungsoo menarik Kai agar duduk bersila menghadapnya. Membiarkan pemuda itu menurut dan menutup mata. Merasakan keindahan wajah Kai yang seperti permata.
"Apa yang kau harapkan hari ini?"
"Ekh?"
Kai terkejut ketika membuka mata melihat Kyungsoo memandanginya. Lelaki mungil itu tersenyum penasaran namun juga menggoda. Entah kenapa membuat wajah Kai merona.
"Ayolah Kai... Kau bisa katakan padaku."
Sekarang keluar bagian lain dari Kyungsoo ketika dia menarik lengan Kai untuk menahan kepergian pria itu.
"Baiklah! Tidak perlu mengatakannya. Aku akan bersiap. Setelah itu kita pergi ke pusat kota. Aku harus mengunjungi rumah Perak." Kyungsoo menyerah dengan segera.
"Rumah perak?" Kai bertanya sedikit penasaran pada penjelasan Kyungsoo.
"Ya. Aku harus menyiapkan pesta tahunan untuk ratu."
"Bahkan ketika negeri ini dalam ketegangan politik?"
Kyungsoo mengangguk. Melingkarkan selimut ke tubuhnya namun kemudian dia memekik membuat Kai segera menaiki ranjang kembali.
"Ada apa?" Ia bertanya penasaran.
"Kau menyakitiku!"
Kyungsoo menatap Kai sinis. Tentu saja pemuda itu paham arti tatapan Kyungsoo. Padahal kemarin dia hanya membantu Kyungsoo mencapai klimaks dengan jari. Tidak tahu jika itu masih berdampak hingga pagi.
"Itu pertama kalinya benda asing memasuki kelamin keduaku."
Dia berkata kesal namun kemudian Kai mengacak rambut jingga Kyungsoo. Mendekatkan wajahnya dan berbisik pelan, "lain kali aku akan memasukkan milikku ke sana."
Wajah merah merona Kyungsoo terlihat sempurna dengan rambut jingga yang dia miliki. Malu atas ucapan barusan.
"Apa kau membutuhkan seseorang untuk membantumu mandi?"
Kyungsoo menatap ragu. Dia masih bisa melakukannya sendiri. Dia bahkan ingat jika pagi pertama ketika terbangun di kamar ini sendirian dengan tubuh telanjang serta rasa sakit Kyungsoo telah mengurus tubuhnya sendiri. Tidak ada yang membantu atau tepatnya Kyungsoo menolak bantuan itu sebab dia menutup diri agar Kaisar tidak mengetahui situasi yang terjadi. Tapi pemuda ini telah mengetahui kebenarannya. Lagipula, dia memiliki kepercayaan penuh terhadap Kai.
"Kau memang harus membantuku."
Kai terkekeh pelan. Entah kenapa berada di dekat selir ini, hatinya yang membeku akibat apa yang Kaisar lakukan pada kedua orang tuanya sedikit memudar. Bahkan Kai mengangguk untuk melayani sang selir. Kesedihan tentang kedua orang tuanya yang telah dibunuh tergantikan dengan bagaimana Kai ingin mendengarkan lebih banyak cerita Kyungsoo.
Ketika Kyungsoo telah berada di dalam sebuah bathup yang dilapisi marmer, pria itu menggosok tubuhnya dengan sabun batangan beraroma tuberose adalah aroma segar dan manis yang melekat pada tubuh Kyungsoo.
"Hari itu, beberapa orang memilih bunuh diri daripada dipermalukan sebagai budak. Tapi kau? Hanya diam seperti menunggu sesuatu."
Kai tidak berhenti menggosokkan sabun batangan itu ke punggung Kyungsoo ketika sang selir bicara sementara tangannya memainkan air yang menenggelamkan sebagian tubuh.
"Aku baru saja berencana membuat pertunjukkan dengan menggigit lidahku sendiri. Tapi sepertinya tidak jadi ketika aku menyadari siapa yang menginginkanku."
'Karena itu adalah dirimu,' Kai berkata di dalam hati.
Rumah Perak adalah sebuah bangunan di pinggir pusat Kota dengan beberapa pekerja pembuat kerajinan Perak. Kyungsoo kemari untuk mengambil pesanan ratu sebagai persiapan pesta tahunan itu. Dia juga bekerja sebagai penyebar undangan bagi kaum bangsawan tingkat tinggi agar menghadiri pesta ratu.
~ RoséBear~
Beberapa hari kemudian ketika kediaman ratu cukup ramai dengan para pekerja yang mempersiapkan pesta tahunan.
Kyungsoo disibukkan untuk turut merangkai bunga hias pada pintu masuk utama kediaman ratu. Menjadi sesuatu yang tidak menentu.
Kyungsoo dengan ditemani Kai sepanjang hari di bawah pohon dengan ribuan tangkai bunga yang dikumpulkan para pengawal. Tidak ada yang menyangka jari-jari pemuda manis itu begitu lihai merangkai bunga sepanjang waktu.
Dia bicara dengan beberapa pelayan wanita yang turut membantu, kemudian ketika pekerjaan selesai para pekerja lelaki mengangkat semua hasil pekerjaan selir Kaisar ini. Meninggalkan sang selir dengan pelayan pribadinya, Ia mengatakan itu hingga beberapa orang tidak menyadari jika sebenarnya Kai adalah budak sebab perak dengan hiasan batu meteor di lengannya terlalu menutupi garis biru pemisah status sosialnya. Karena batu meteor bukan hal yang mudah untuk di dapatkan.
"Kita punya beberapa jam untuk beristirahat. Ahhh! Aku benar-benar lelah."
Kyungsoo berteriak kecil merenggangkan tubuhnya, membawa tubuh untuk bersender di sisi pohon.
"Duduklah! Aku ingin bersender di pundakmu."
Seorang pelayan tidak seharusnya menolak permintaan tuannya. Maka Kai segera duduk dan menerima kepala Kyungsoo bersender. Hanya dalam hitungan detik di mana suasana taman belakang kediaman Ratu yang telah di tinggalkan para pekerja membawa rangkaian bunga ke tempat pesta menjadi begitu sepi berhasil membawa Kyungsoo segera terlelap.
Tidak ada yang bisa pria itu lakukan sampai matanya menangkap sisa pekerjaan Kyungsoo. Akar-akar pohon yang berserakan di satukan hingga membuat lingkaran, dengan pelan memasangkannya pada kepala Kyungsoo. Tanpa mengganggu tidur sang selir, dia mengumpulkan potongan bunga-bunga yang berserakan dan menyelipkanya satu persatu di kepala Kyungsoo membentuk sebuah mahkota.
"Bahkan ketika kau adalah seorang selir, akan sulit bagiku untuk tidak mencintaimu. Benar yang dikatakan paman Oh itu kepadamu, kau sangat manis dan juga polos. Selain itu kau juga cerdas."
Tanpa sadar tubuh Kai mendekat, mencium Kyungsoo dengan begitu lembut seperti sentuhan angin musim semi pada bunga yang telah mekar di malam hari. Sesuatu yang kompleks, eksotis dan terasa manis namun paling mengikat, menggoda serta begitu mempesona seperti sang dewi malam tuberose.
Tidak pernah dia sadari jika ratu negeri ini berdiri bersama beberapa pelayan dan pengawal menyaksikan apa yang telah dia lakukan pada selir Kaisar. Semua orang di istana memang sudah mengetahui jika selir Do memiliki seorang abdi atas izin Kaisar. Namun tidak menyadari jika abdi itu berasal dari pelelangan budak.
Tapi tatapan ratu kepada pemuda itu sedikit berbeda.
'Semua orang di negeri ini menyukai selir Kaisar. Apapun yang dia lakukan adalah sebuah tindakan baik, tapi kenapa kau juga harus menyukainya? Apa maksud semua ini?'
Ratu itu masih memandangi kedua pemuda dengan paras berbeda yang sedang duduk memejamkan mata menikmati hembusan angin di bawah pohon.
Napasnya pendek-pendek merasakan kecemburuan luar biasa atas apa yang baru saja ia lihat.
Seperti sebuah labirin yang menjebak perasaan mereka. Di mana Kaisar begitu mencintai ratunya, sementara tidak menyadari perasaan ratu terpendam pada seorang pemuda yang kini telah menjadi abdi selir. Seorang budak yang terikat akan pesona sang selir. Sementara selir itu sendiri memiliki keistimewaan yang harus di sembunyikan dari Kaisar.
To be continue...
A/N: Ehmm! sorry for late update. I'am sorry. I hope you guys have a nice day. Thank you for reading this ^^
Glossary
Hermaprodit ; penderita interseksual atau tidak jelas jenis kelaminnya. Berabad-abad dahulu, manusia hermaprodit adalah istimewa sebab dianggap sebagai titisan dewa dan memiliki kemampuan super-natural. Ada beberapa jenis hermaprodit, dalam cerita ini mengambil bagian hermaprodit sebenarnya.
Selir ; n gundik; istri tidak resmi
Kaisar ; n maharaja; raja diraja
Shatavari ; asparagus liar
Thank you
RoséBear
