CHAPTER 2

Its all about to start

Disclaimer © Masashi Kishimoto

This fic is mine

Pair © Uchiha Sasuke, Hyuuga Hinata

Summary © Hinata dengan misi rahasia, Sasuke yang mengerti apa yang terjadi. Organisasi

Rate : T

mafia dan agen rahasia.

School life and love

"Hinata, kita harus lebih berhati-hati. Aku mulai curiga informasi tentang kita sudah di dengar oleh Akatsuki" Shikamaru mulai menyeruput kopi hitam.

"Aku sudah tahu, kemarin hampir saja rekening bank milikku di ambil alih. Untung saja cepat ku kendalikan dan aku juga mengambil beberapa uang dari akun yang di gunakannya" Hinata berbangga diri atas apa yang di lakukannya.

Di sebuah cafe yang tak terlalu ramai, Hinata memutuskan untuk bertemu dengan Shikamaru membicarakan hal-hal yang akan mereka lakukan selanjutnya. Shikamaru menunjukkan sebuah foto laki-laki yang terlihat seumuran dengan mereka.

"Sasori. Si ahli penyamaran" Hinata memperhatikan foto yang di berikan oleh Shikamaru. Berdasarkan informasi, Sasori masih duduk di bangku sekolah menengah atas.

"Konoha High School, Sasori di tempatkan di sekolah tersebut karena kebanyakan siswanya adalah anak orang penting negara. Akan lebih mudah baginya mendapat semua informasi di sana" lanjut Shikamaru

"KHS, sekolah Sasuke"

"Akatsuki akan kembali melancarkan aksi pembunuhan. Targetnya adalah seorang polisi yang memiliki jabatan tinggi. Tapi aku belum tahu pasti siapa, aku ingin kau melakukan sesuatu untuk mencari tahunya" Shikamaru menatap Hinata intens melipat tangan di depan dada dan bersandar di sandaran sofa, Hinata yang notabenenya taat aturan dan perintah hanya mengangguk setelah Shikamaru menyerahkan sebuah tas plastik berisi barang yang di butuhkan oleh Hinata untuk melakukan aksinya

"Lalu bagaimana dengan anggota tim kita yang lain?" tanya Hinata mengingat 2 orang anggota timnya belum menampakkan diri

"Aku belum memikirkan apa yang akan mereka lakukan, kalau mereka sudah ada disini tanpa tahu tujuan aku yakin mereka hanya akan merepotkan ku saja. Lalu bagaimana dengan Uchiha Sasuke?"

Perbincangan di akhiri dengan Hinata diantar pulang oleh Shikamaru. Baiklah, perkenalkan Nara Shikamaru berumur 22 tahun, tak beda jauh dengan yang di jelaskan oleh Kisame, Nara Shikamaru adalah si ahli strategi andalan dalam sebuah tim, misi-misi yang di selesaikan berdasarkan instruksi Shikamaru akan selalu berjalan sukses. Shikamaru memutuskan untuk tinggal di sebuah apartemen yang berjarak lumayan jauh dari tempat Hinata.

Pukul 20.00 Hinata tiba di apartemen Sasuke, berjalan masuk membuka sepatu dan menggantinya dengan sandal rumah. Menuju dapur membuka kulkas dan mengambil air minum, Hinata mendapati Sasuke sedang membuat nasi goreng.

"kelihatannya enak" Hinata menghampiri Sasuke yang sibuk berkutat dengan spatula dan nasi goreng ikan tuna yang sedang on proces.

"tentu saja, selain tampan dan bagus dalam olahraga aku juga pandai memasak" lagi-lagi, Sasuke duduk di antrian pertama saat Tuhan membagikan rasa percaya diri. Merasa mendapat pujian, Sasuke berbaik hati mengambil piring dan memberi sebagian nasi goreng untuk di berikan pada Hinata.

"Kau yakin? Nanti tidak cukup buatmu, bagaimana?" Hinata menerima piring yang penuh dengan nasi goreng dengan tatapan heran. Porsi makannya tak sebanyak ini

"kau terlihat kurang makan. Lihat tubuhmu yang hampir tak berbentuk" Sasuke memperhatikan Hinata, yang di perhatikan juga ikut memperhatikan tubuhnya. 'apa yang salah'

"Makan yang banyak, aku tak ingin orang tuamu menyalahkanku karena mengira aku tak memberi makan anaknya dan berhenti berpikir untuk diet" Sasuke berlalu menuju kamar meninggalkan Hinata dengan nasi goreng yang bisa di makan oleh 3 orang dengan nafsu makan normal.

Tak ingin berlama-lama seruangan dengan Sasuke, Hinata mengambil Macbook berjalan menuju ruang tamu, duduk di sofa nyaman, mulai menyalakan LCD TV super besar dan mulai tersambung dengan koneksi internet, oh iya jangan lupakan sambil menyantap nasi goreng buatan Sasuke. Hmm, tak bisa di pungkiri rasanya memang sangat enak dan kalau boleh memberi bocoran baru pertama kali Hinata memakan makanan yang di buatkan oleh orang lain, terlebih di buatkan oleh pemuda tamvan bernama Uchiha Sasuke. Diam-diam tanpa di sadari Hinata tersenyum saat menyantap nasi gorengnya.

"Yosh! Baiklah, ayo kita lakukan!" Hinata menyemangati dirinya sendiri kemudian berkutat dengan Macbooknya.

.

.

.

In Other Side

"Ada apa kita di kumpulkan seperti ini?" satu-satunya perempuan dalam ruangan ini membuka mulut. Tak biasanya mereka di kumpulkan dalam satu ruangan seperti ini.

"iya, padahal aku sedang asyik menikmati hari liburku" Yahiko menambahkan

"Tenanglah, Itachi akan mengatakan sesuatu pada kita. Ku dengar, Tobi mencoba memblok akun rekening bank salah satu anggota FBI yang dikirim untuk mengintai kita, Tobi menggunakan akun rekening Kakuzu dan benar saja bukannya berhasil menutup dan mengambil saldo, malah saldo Kakuzu yang tiba-tiba menjadi nol rupiah" jelas Nagato yang sepertinya sudah mendengar banyak berita tentang hal ini

"Lihat saja raut wajah Kakuzu, suram di kelilingi aura hitam. Di tambah Tobi yang akan mendapat ceramah panjang tanpa alur dari Itachi" Hidan yang sedari tadi memperhatikan Kakuzu benar-benar tahu keadaan hati Kakuzu, Kakuzu adalah bendahara kepercayaan Itachi tapi dengan keteledoran Tobi si ahli hack. Uang milyaran yang di sayang Kakuzu harus menghilang begitu saja.

Itachi memasuki ruangan, di ikuti dengan Kisame, lelaki berambut pirang yang di kuncir ala cheerleaders 'Deidara', laki-laki berambut merah maroon berseragam sekolah 'Sasori' , laki-laki dengan warna wajah hitam putih bak papan catur 'Zetsu' dan Kisame sang Asisten kesayangan.

"aku to the point saja" Itachi membuka keheningan.

"Masalah rekening nol rupiah dan hacker ulung kita lupakan saja, aku ingin kalian fokus menghabisi 2 kucing kecil itu"

"Sasori,Deidara dan Tobi. Kalian untuk sementara bertugas untuk menghabisi 2 anak itu. Apapun caranya" mendengar perintah Itachi Sasori dan Deidara ber-high five ria.

"Aku akan mencari informasi tempat tinggalnya" kata Sasori.

"bom akan mengembalikannya ke Amerika tapi lewat peti jenazah" Deidara menambahkan, Deidara memang terkenal dengan keahliannya menggunakan bom.

"baiklah, bagaimanapun aku memiliki sedikit dendam terhadap anak itu" Tobi berapi-api, baru kali ini ia di kalahkan.

"Konan, kau atasi masalah transfer Narkoba yang akan kita lakukan sekitar 5 hari yang akan datang. Aku ingin kau melakukannya seperti biasa" Itachi memberi berkas map kepada Konan yang di ikuti dengan anggukan oleh Konan.

.

.

.

Jam sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari, Sasuke terbangun dari tidurnya melihat sekeliling mencari sosok perempuan berambut panjang yang telah resmi menjadi tamu VIPnya.

"ck. Ini sangat mengganggu!" Sasuke membuka lemari dan mengambil selimut tebal berwarna biru, ia juga membawa bantal.

Sasuke berjalan menuju ruang tamu tempat terakhir ia melihat tersangka utama yang membuat jantungnya sudah bekerja lebih cepat dari biasanya. Benar saja, Sasuke mendapati Hinata tidur di sofa, untung saja sofa tersebut lumayan besar untuk seseorang bertubuh mungil seperti Hinata. Sasuke menghampiri Hinata dengan langkah yang sangat pelan, mengangkat leher Hinata dan menaruh bantal di bawahnya. Terakhir, Sasuke menyelimuti Hinata lalu memandangnya sesaat. Entah apa yang mulai hinggap di pikiran Sasuke, lagi-lagi ia menggeleng cepat, menepuk pipinya lalu berlalu. Biar bagaimanapun juga, Sasuke adalah remaja normal dan serumah dengan seorang gadis tanpa melakukan apa-apa adalah salah satu tindakan bodoh. Sasuke melihat Macbook Hinata masih menyala, penasaran dengan apa yang di lakukan Hinata, Sasuke mencoba membuka beberapa file dan...

"huh, pakai password. Damn it!"

Hari senin yang di kenal sebagai monster day, hari biasa seperti biasanya. Sasuke terbangun dari tidur nyenyaknya, mengerjap-ngerjapkan matanya dan mulai menampakkan mata onyx yang mampu melumpuhkan para gadis hanya dengan tatapannya saja. Pagi-pagi begini, apartemennya sudah gaduh dengan suara dari dapur.

"Apa yang kau lakukan?" Sasuke dengan kaos putih dan celana hitamnya berdiri mematung di depan dapur. Melihat pemandangan yang tak pernah ia ciptakan di dapurnya. Seorang gadis berambut ekor kuda, di tangan kanannya ada pisau dan tangan kirinya sepotong paha ayam. Melirik sedikit, akan di temui wortel, tomat dan sayuran lainnya. Sementara di lantai, air tumpah, sendok berjatuhan dan kompor dengan api yang menyala-nyala.

"o-ohayo!" Hinata merasa agak sedikit aneh tapi memang hal ini bakat alami Hinata, bakat alami menghancurkan dapur seseorang.

"hei, kau ini mencoba membakar apartemen orang atau bagaimana" buru-buru Sasuke mematikan api kompor.

"Aku hanya mencoba membuatkanmu sarapan" Hinata meletakkan pisau dan paha ayam lalu menunduk menatap ujung kakinya.

Dengan sigap Sasuke mulai memotong beberapa bagian ayam, melumurinya dengan bumbu. Sementara menunggu bumbu ayam meresap, Sasuke mencincang sayuran dan mulai memblender tomat untuk di jadikan jus. Ada yang mencari Hinata ? oh yeah, Hinata sedang duduk manis memperhatikan sosok yang sebenarnya adalah future husband baginya.

"Kau ingin minum jus apa?" tak ada jawaban, Sasuke melirik ke samping dan mendapati Hinata sedang melihat ke arahnya. Merasa di perhatikan, Sasuke agak sedikit kikuk tapi tetap berusaha terlihat cool.

"sudah puas memandangiku, eh?" Hinata di kagetkan dengan suara Sasuke yang mendekatkan jarak wajah di antara mereka. Sasuke tepat beberapa centi di depannya. Hinata gelagapan. Rona merah mulai menguasai wajahnya yang putih.

"Bahkan belum mandi saja, kau sudah terpesona begitu. Sebaiknya kau berhati-hati, jangan sampai aku benar-benar jatuh hati padaku" Sasuke kembali fokus dengan ayam goreng di hadapannya.

"A-ano... aku minum susu putih saja" lagi-lagi Hinata harus memakan masakan orang lain.

.

.

.

Di meja makan, Sasuke makan dengan lahapnya. Menggunakan seragam sekolah memang mampu mengeluarkan aura penuh pesona dari seseorang, termasuk Sasuke. Kemeja putih dengan dasi biru kotak-kotak yang terikat longgar menggantung di lehernya, celana panjang biru dan sepatu baru yang ia dapatkan secara gratis, jam tangan hitam di tangan kiri seakan menambah kesan maskulin seorang Uchiha Sasuke. Berlalu di samping Hinata, menarik kursi dan duduk tepat di samping Hinata, wangi parfum khas sempat membuat Hinata seakan terkena genjutsu Kurenai-sensei.

"aku akan ke sekolah. Lakukan apa yang ingin kau lakukan tapi jangan pernah mencoba memasak. Kalau ingin makan siang, telepon aku saja" sasuke menggantung kalimatnya, terlihat sedang berpikir untuk melanjutkan apa yang ingin di katakannya atau tidak.

"Nanti akan ku temani" oh, ternyata ini sambungan kalimatnya.

"Umm, wakatta" Hinata mengangguk pelan.

Itadakimasu...

Setelah selesai melakukan ritual pagi ini itu, Sasuke menyambar helm hitam dan jaket hitamnya dan jangan lupakan kunci motor. Berpamitan dengan Hinata, Sasuke berangkat ke sekolah. Sementara Hinata ?

"well, Its show time"

Sasuke memacu kecepatan tinggi menggunakan motor sport kesayangannya, sesampai di sekolah memarkirkan motornya di tempat biasa, membuka helm dan menampakkan garis wajah sempurna seorang Uchiha Sasuke. Beberapa gadis berlalu tak bisa melepaskan pandangan dari Sasuke. Sasuke bejalan cool menuju kelasnya.

"Yoo! Sasuke. Hisashiburi da naa.." siswa berambut kuning tiba-tiba saja menyambar dan merangkul Sasuke.

"lama bagaimana maksudmu? Baru satu hari bodoh!" Sasuke berdecak kesal.

"bagaimana dengan sepak bolamu?" tanya Sasuke

"berjalan baik, aku mencetak gol dan memenangkan pertandingan. Uzumaki Naruto memang kapten sepak bola penuh prestasi" cengiran lebar mulai menghiasi wajah dengan 3 garis tipis di masing-masing pipi. "lalu bagaimana dengan latihan basketmu, kau ada latihan nanti siang?" lanjut Naruto.

"hn, benarkah? Aku hampir lupa"

Sesampai di kelas, baru saja Sasuke touch down pintu kelas seorang gadis berambut pink sebahu tiba-tiba mendatanginya dengan kotak bento bermotif Hello Kitty.

"Ini ku buat khusus untuk Sasuke-kun, makanlah" mata emerald si gadis berbinar-binar, begitu berharap agar bentonya di terima oleh Sasuke.

"Sankyuu, Gomen naa" Sasuke menolak halus dan berlalu ke belakang menuju bangkunya, gadis bermarga Haruno tersebut masih belum menyerah.

"Ta-tapi Sasuke-kun setiap pagi biasanya hanya minum jus tomat saja, sarapan dengan masakanku akan menambah tenagamu latihan basket nanti siang" well, yang main basket saja hampir lupa jadwal latihannya. Sementara si penonton hafal betul dengan jadwal.

"Siapa bilang? Tadi aku makan banyak!" tanpa memalingkan wajah Sasuke menggantungkan ransel di bangkunya.

"aku tidak percaya" oh Ayolah, Haruno Sakura.

"hmm... bagaimana yah, tadi pagi aku bangun awal. Seseorang mengacaukan dapurku dan membuatku bersemangat untuk memasak" Sasuke bertopang dagu. Tak lama bento Sakura sudah di sambar oleh Naruto.

"Ohayo, Sasuke-kun. Ini ambillah. Aku membeli lebih, jadi ini untukmu saja" belum berakhir juga ajang sumbang-sumbang makanan ke Uchiha bungsu ini, kini giliran gadis pirang menyerahkan sekotak susu coklat.

"Dasar kecentilan. Sejak kapan Sasuke-kun minum susu" Sakura memang sudah merasa paling tahu kebiasaan Sasuke dan memang Sasuke tidak suka susu.

"Arigatou" di luar dugaan, Sasuke mengambil susu kotak tersebut tingkahnya sukses membuat jeritan Yamanaka Ino, si pemberi susu kotak meledak pecah berantakan mengacaukan kelas –eh?

"Ayo di minum sekarang Sasuke-kun. Minum susu di pagi hari baik untuk kesehatan" Ino makin merasa memiliki peluang.

"Akan ku minum nanti" Sasuke memasukkan susu ke dalam tasnya. Tak menghiraukan riuh gaduh suasana kelasnya, Sasuke membalikkan kepalanya menatap pemandangan. Sasuke memang duduk di dekat jendela. Pandangannya mulai turun, ia merasa matanya menangkap benda di bawah sana yang sudah tak asing baginya tapi sepertinya lagu shake it off milik Taylor Swift sudah menjadi favorite list Sasuke, akhirnya Sasuke mengabaikannya saja.

Seorang guru brewok mulai memasuki kelas, rokok tak pernah lepas dari mulutnya yang sudah mulai menghitam. Meletakkan buku-buku yang di bawanya, berdiri di samping meja dan mulai menyapa kelasnya

"Ohayo!" sapa Asuma-sensei. Setelah di balas dengan ucapan yang sama oleh para muridnya, Asuma melanjutkan

"Hari ini kelas kita kedatangan siswa baru dari Amerika, ayo masuk" Asuma-sensei terlihat memberi isyarat kepada seseorang untuk segera memasuki kelas, merasa di persilahkan siswa baru tersebut mulai memasuki kelas dan berdiri di depan kelas

"Dia tak tampak seperti seorang bule," Sahut siswa dengan tato segitiga merah terbalik di kedua sisi pipinya.

"wah, namanya menggunakan kanji. Aku bahkan tak bisa membacanya" di ikuti celetukan Naruto saat Asuma sensei mulai menuliskan karakter nama siswa baru tersebut menggunakan kanji.

Bertanya bagaimana keadaan Sasuke ? well, mari kita lihat tangannya sementara membuka kotak pensil tak bergerak sedetik pun, mulutnya bahkan menganga dan matanya tak berkedip.

"Hyuuga Hinata, Jyuu-nana sai desu. Yoroshiku!" oh man, fuck this shit, apa maunya anak ini dan bagaimana bisa ? itulah yang di pikirkan oleh Sasuke. Sasuke kembali melihat kebawah jendela, ternyata mobil yang di parkirkan di bawah memang Ferrari milik Hinata.

"bagus sekali Hyuuga-san, meski tinggal di Amerika tapi bahasa Jepangnya masih bagus!" puji Asuma-sensei.

Hinata di persilahkan duduk di bangku kosong yang baru saja di tinggal penghuninya pindah keluar negeri dan bangku tersebut tepat di depan bangku Sasuke. Hinata berjalan dengan anggun, ransel warna biru gelap bertengger manis di punggungnya, sementara di tangan kanannya ia membawa sweater warna putih. Kemeja putih dan dasi biru putih kotak-kotak menjadi atasannya, sementara rok biru putih kotak-kotak tepat di atas lutut Hinata menampakkan kaki jenjang dan mulus. Hinata menggunakan sepatu converse hi-navy dan plaster masih membalut bekas lukanya. Melihat wajahnya,, astaga di umur 20 tahun Hinata memang masih tampak seperti siswa SMA di tambah poni barunya dan dua jepitan hitam di kedua sisi rambutnya menambah kesan 'teens' pada Hinata. Hinata berjalan dengan terus melihat Sasuke yang juga masih menatapnya dengan tatapan tak percaya, setelah duduk dan meletakkan ransel dan jaketnya, Hinata berbalik menatap Sasuke dan tersenyum jahil mengucapkan kata 'Ohayo!'. Hinata tahu, ini pasti sangat mengejutkan Sasuke. Sapaan pelan Hinata kepada Sasuke masih termasuk suara yang sangat besar bagi Sakura dan Ino.

'Apa-apaan dia, baru datang sudah ganjen dengan Sasuke-kun' batin Sakura

'awas saja kalau dia berani merebut Sasuke-kun dariku' batin Ino

Di depan Hinata, siswa bernama Inuzuka Kiba berbalik dan mengajukan tangannya untuk bersalaman.

"Inuzuka Kiba, nanti kita bisa bertukar e-mail" Kiba memperkenalkan dirinya,

"Hyuuga Hinata, mohon bantuannya. Aku tidak terlalu mengerti sekolah ini" Hinata menjabat tangan Kiba dengan senyuman lembut.

'Oh Kami-sama, bencana apa ini' Sasuke memijit kepalanya melihat tingkah Hinata yang mulai berjabat tangan dengan siswa lainnya, Kiba, Naruto, Shino, Lee, Tenten, Shion, Matsuri dan semuanya. Sasuke mengambil Iphonenya dan mengetik sebuah pesan

To Hinata :

"selamat pagi pengacau kecil, apa maksudnya ini?"

Send

Tak sampai satu menit balasannya sudah datang menggetarkan Iphone putih Sasuke.

From : Hinata

"Aku hanya ingin bersekolah. Itu saja. Oh iya, bagaimana penampilanku?"

Setelah mengirim pesan kepada Sasuke, Hinata berbalik dan lagi-lagi menyeringai kepada Sasuke. Asuma-sensei keluar lebih awal karena ada rapat guru.

Hinata-chan tinggal dimana? Oh iya, Hinata-chan suka makan apa? Nanti Hinata-chan ikut club menari saja bersamaku

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu mulai menghujani Hinata tapi semuanya tiba-tiba melupakan pertanyaannya ketika Hinata mulai mengeluarkan bentonya. Astaga, Hinata benar-benar mempersiapkannya.

"Wah, selain kawaii ternyata Hinata-chan juga pandai memasak. Ummm, enak sekali" Naruto mulai memenuhi mulutnya dengan bento Hinata.

Perlahan-lahan deatglare Sasuke mulai di keluarkan, jelas-jelas bento yang di bawa Hinata adalah sisa masakannya tadi pagi. Melihat teman-teman barunya menikmati bentonya Hinata memutuskan untuk keluar kelas. Baru pertama kali ini Hinata menginjakkan kaki di sekolah tingkat SMA, apalagi ini adalah KHS. Di lapangan ada kelas yang sedang olah raga, bermain basket, bola, voli dan masih banyak lagi, jam pelajaran memang sudah di mulai tapi siswa-siswa KHS yang berseragam sama dengannya tak berhenti berlalu lalang, Hinata benar-benar ingin menikmati bersekolah tapi sayangnya hal ini di lakukannya hanya karena misi. Meski misi ini sangat berbahaya tapi Hinata merasa bersyukur tanpa misi ini dia tidak akan pernah menginjakkan kaki di sekolah, tak akan mengenal teman-teman baru dan tak akan mengenal Sasuke tentunya. Hinata tampak bertanya dengan seorang siswi dan berjalan mengikuti lorong-lorong seperti apa yang siswi tersebut instruksikan. Sesampai di toilet, Hinata menelpon seseorang.

"Shikamaru, aku sudah menjadi siswa KHS. Terima kasih seragamnya, sangat cocok denganku dan terima kasih sudah membantuku menginput data sebagai siswa pindahan"

"Baiklah Hinata,kau tahu kan? Salah satu anggota Akatsuki ada di sekolah tersebut, Akasuna Sasori berhati-hati dengannya" sahut Shikamaru dari balik telepon

"Wakatta, jadi apa yang akan ku lakukan selanjutnya?"

Setelah mendengarkan instruksi dari Shikamaru, Hinata keluar dari toilet wanita dan di depan pintu keluar telah berdiri seseorang dengan style rambut aneh yang entah bagaimana bisa menjadi salah satu daya tariknya.

"Sasuke?" Hinata berdesis pelan tapi masih bisa terdengar jelas oleh empunya nama

"ini sudah siang, ayo ke kantin. Aku lapar" heii..heii undangan makan siang mendadak dari Sasuke baru saja di kirimkan

"Aku punya bento dan ak-"

"Aku tidak yakin kalau makananmu akan bersisa" tanpa sadar Sasuke menarik tangan Hinata paksa, sudah menjadi aturan nomor 1 ayolah girls, Seorang Uchiha Sasuke tak suka penolakan.

"Ada yang harus ku ambil di kelas. Tunggu disini, i'll back soon" Hinata meyakinkan Sasuke dan berjalan menuju kelas. Dengan sangat tidak ikhlas Sasuke melepaskan tangannya dari sensasi lembut yang ia dapatkan dari tangan Hinata.

Sshhiiinnnggggg...

Dalam perjalan tenang Hinata menuju kelas, seseorang berambut merah baru saja berpapasan dengan Hinata.

"hee.. ano saa, chotto matte.." suara datar, pelan dan terdengar meremehkan tiba-tiba membuat Hinata. Berdiri tegap dan meyakinkan diri Hinata mulai mendengar langkah mendekat padanya, seseorang yang tampak mengenal Hinata menghampiri Hinata dengan berjalan mundur dan berhenti ketika tepat berada di depan Hinata. Sesaat, setelah orang tersebut berada di depannya Hinata memberanikan diri untuk menatap wajah pemilik suara datar yang terdengar sangat mengerikan. Wajah baby face dan rambut merah maroon, tak salah lagi, he must be

"Akasuna Sasori.." Hinata memberanikan diri menatap iris mata yang kini menatapnya dengan tajam

TBC

Its amazing i could get so far,

My bad at romance section.

Maklum, jam terbang dalam romantisme belum begitu padat. –eh?

RnR , please...