CHAPTER 2
Proses evakuasi telah dilakukan, satu persatu potongan tubuh yang masih utuh telah di identifikasi oleh para medis untuk mengetahui siapa saja korban dari ledakan yang terjadi sore kemarin.
Makam dengan rerumputan hijau disekelilingnya tampak tersamarkan dengan tanah-tanah bekas galian yang sedang dilakukan oleh seseorang, setelah kedalaman makam telah dirasa cukup, seseorang yang menggali tadi segera meletakkan satu persatu kain berisi potongan tubuh yang masih utuh kedalam sana dan kembali menguburnya.
Dengan diiringi tangis yang menggetarkan hati.
Seorang wanita paruh baya tak kuasa menahan tangisnya setelah melihat kain-kain berisi salah satu potongan tubuh anaknya yang masih terdeteksi telah tertimbun tanah yang padat. Tukang penggali makam itu telah melaksanakan tugasnya lalu unjuk diri dari hadapan semua orang.
"Seharusnya kau tidak mendahului Kaa-sanmu Sasuke! Seharusnya Kaa-san yang mati!"teriak Mikoto sembari memeluk erat batu nisan milik anaknya, batu nisan yang baru saja tertancap di atas makan milik anaknya, di atas makam milik Uchiha Sasuke.
Fugaku mencoba untuk menenangkan sang istri walaupun dirinya sama-sama kacaunya. Lelaki Uchiha itu masih ingat jelas bahwa pagi kemarin anak bungsunya masih sempat mengobrol dengan dirinya di kantor - Sasuke memutuskan untuk tinggal di apartement - , membicarakan tentang berbagai hal sampai suara telepon dari ponsel anaknya membuat Sasuke dengan berat menyudahi pembicaraan mereka. Namun sekarang sang anak telah tiada. Mendahului kedua orang tuanya.
Belum terlihat sosok sang kakak di antara lautan orang yang menghadiri pemakaman ini, mungkin masih berada dalam perjalan kemari.
Naruto memandang sedih gundukan makam di hadapannya, ia mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya, memandang benda itu lalu menguburnya di dalam makan tersebut.
"Aku akan setia mencintaimu Sasuke, walaupun nanti aku harus menikahi seseorang selain dirimu, aku tidak ingin menggunakan cincin itu di jari manis mereka. Cincin ini hanya untuk dirimu."ujarnya lirih.
|.|
.
Two days Again
.
|.|
Sasuke menghela nafasnya lalu berjongkok di hadapan makam miliknya. Tangan putihnya menggerayangi tanah gembur di hadapannya lalu menemukan sebuah kotak berwarna putih menggilap, memang kotak tersebut tidak di kubur terlalu dalam, jadi ia bisa memegang kotak tersebut.
Dengan perlahan ia membuka kotak kecil itu dan melihat sepasang cincin dengan bertuliskan huruf depan nama mereka berdua. N dan S
Sederhana memang, namun itu bukan masalah untuknya, ia juga tidak suka dengan sesuatu yang mewah. Namun percuma saja, walaupun cincin ini dipendam di dalam makam miliknya,ia tidak bisa memekai cincin indah ini.
"Apa yang harus aku lakukan..."tanyanya entah kepada siapa. Sudah hampir satu hari ia lewati dengan percuma. Ia belum melakukan apapun, hanya mengikuti Naruto kemanapun tanpa melakukan apapun.
Dari pada berdiam diri di depan makam sendiri, Sasuke memutuskan untuk menghampiri Naruto dan kembali melanjutkan kegiatannya sejak kemarin. Mengikuti pemuda pirang itu kemanapun dia pergi, kecuali mandi tentunya.
"Kau tidak bekerja Naruto?" tak sengaja ia melihat kedua orang itu bertemu dan berbincang singkat di pinggir jalan.
"Aku ingin jalan-jalan."jawab Naruto singkat tanpa melihat lawan bicaranya.
"Mau aku temani? Aku juga ingin jalan-jalan. Nggak seru kalau sendirian."ujar seseorang yang Sasuke ingat sekali adalah Gaara. Sahabatnya dan Naruto.
Naruto menganggukkan kepalanya pelan lalu kembali melangkahkan kakinya, pandangannya sedikit kosong, jalannya pun tak segagah seperti biasanya, Gaara hanya bisa memandangnya miris.
"Kau belum melepaskannya? Dia pasti akan sedih jika melihatmu seperti ini."
Naruto tidak menjawab, kakinya masih saja melangkah entah kemana, pikiran pemuda pirang itu tidak pada jalanan. Entah kemana yang pasti tertuju pada satu orang yang selalu ia pikirkan.
Gaara menghela nafasnya lalu menghentikan paksa langkah Naruto. Untung saja ia bertemu dengan Naruto tadi, kalau tidak entah bagaimana nasip sang Uzumaki jika berjalan dengan pandangan kosong seperti itu.
"Datanglah ke kediaman Uchiha, lihatlah kenyataan jika bukan kau saja yang merasa sedih atas kepergiannya!"ujar Gaara sedikit keras. Uzumaki Naruto yang saat ini berada di sampingnya bukanlah Uzumaki Naruto yang ia kenal selama ini. Ia ingin sekali mengembalikan cahaya terang di mata safirnya.
"Aku tahu,tetapi mereka tidak akan merasakan bagaimana perasaan bersalah yang menghinggapiku."balas Naruto lirih, Ia menundukan kepalanya. "Karena keegoisanku lah ia pergi..."
Sosok itu – Sasuke – menggertakkan giginya. Mau sampai kapan dobe nya ini merasa bersalah atas kematiannya? Ini adalah takdir Tuhan, mau bagaimanapun juga ia akan tetap mati di hari itu!
"Baka..."gumamnya pelan. "Kau tidak berubah sama sekali Naruto... Bukankah sudah pernah kubilang jika kau harus menghilangkan kebodohanmu?"tanyanya. Ia tahu Naruto tidak akan menjawab pertanyaannya, ia hanya melampiaskan kekesalannya saja.
"Aku belum lega jika belum meminta maaf kepadanya secara langsung. Aku ingin bertemu dengannya walaupun sedetik sekalipun untuk meminta maaf padanya..."
Sasuke memandang ke jalan raya yang sepi. Tujuannya dengan Naruto memang sama, saling meminta maaf.
"Dua hari lagi Naruto... Dua hari lagi..."
*.*.*.*.*.*.*.*.*
Naruto merebahkan dirinya di atas kasur. Mata birunya tengah menerawang langit-langit apartemen miliknya. Ia malas melakukan apapun, ia biarkan berkas-berkas miliknya bertumpuk di pojok meja sana, ia tidak peduli mau perusahaannya bangkrut atau apapun. Naruto bagaikan mayat hidup saat ini.
"Aku nggak bisa tidur nih.."
"Hn."
"Nyanyikan aku sebuah lagu. Harus mau!"
"Aku tidak bisa bernyanyi."
"Ayolah~~ Aku pernah mendengarmu menyenandungkan lagu saat di atap sekolah dulu. Itu juga yang membuatku jatuh cinta padamu Sasu-Chan~"
"K-Kau mungkin salah dengar, aku tidak pernah bernyanyi!"
"Uchiha Sasuke... Aku mohon bernyanyilah... Please.."
"Huh... Kalau jelek jangan mengejekku!"
"He... he... nggak kok, aku janji deh!"
"Hn."
"Kono oozora ni tsubasa wo hiroge, Tonde yukitai yo..."
Naruto bangkit, kepalanya bergerak liar ke sembarang arah, ia mendengan suara nyanyian. Ia merasa sama sekali tidak menyalakan lagu apapun, televisi pun sudah lama tidak ia nyalakan.
"Kanashimi o nai jiyuu na sora he, Tsubasa hatamekase... yukaitai.."
Dan nyanyian itu berhenti. Tubuh Naruto bergetar hebat, air mata kembali keluar dari kedua safirnya. Kaki kirinya ia gunakan untuk menumpu wajahnya yang kembali kacau oleh air mata.
Ia mengenal suara itu. Suara seseorang yang selalu mengumpati dirinya, yang selalu berkata kasar kepadanya, suara seseorang yang bahkan mendadak melembut saat menyanyikan lagu itu.
Suara nyanyian itu kembali Naruto dengar dengan samar-samar. Lagu yang mengalun dengan lembut itu mendadak membuatnya mengantuk, ia merebahkan dirinya kembali lalu menutup kedua mata. Ia merasakan poni-poni miliknya dirapikan oleh seseorang, ia membuka kedua matanya kembali dan tidak ada seseorang pun yang berada di dekatnya. Ia menghela nafasnya perlahan lalu kembali memejamkan safirnya.
'Mungkin hanya perasaanku saja...'batinnya pelan.
Sosok berambut hitam itu tengah memandang lekat-lekat Naruto yang telah tertidur dengan lelapnya. Ya... Sasuke lah yang menyanyikan lagu yang biasa ia nyanyikan untuk Naruto, Ia jugalah yang menyingkirkan poni-poni pirang yang ia rasa menganggu tidur sang kekasih. Ia baru menyadari jika dirinya bisa menyentuh Naruto jika pemuda itu dalam keadaan tidak sadar, tetapi ia masih belum mengerti kenapa Naruto bisa mendengar suara nyanyiannya.
"Mungkin ia benar-benar kehilanganku. Maafkan aku Naruto..."ujar Sasuke lirih, kepalanya bergerak ke arah Naruto lalu mengecup singkat bibir sang Uzumaki. "Oyasuminasai Naruto..."
|.|
.
One Day Again..
.
|.|
Ini masih jam setengah lima pagi saat Sasuke membuka kedua matanya. Setelah asyik memandangi Naruto, ia tanpa sadar tertidur disampingnya, jangan tanya kenapa hantu bisa tertidur seperti manusia, Sasuke pun masih sedikit bingung dengan perilakunya sendiri semenjak menjadi hantu.
Mata hitamnya memandang Naruto yang masih tertidur pulas, ia tersenyum lalu mengelus surai pirang sang kekasih. Karena ini di Jepang, jam 4 sekalipun sedikit demi sedikit sudah mulai terang walaupun masih di kategorikan gelap.
"Ia harus berangkat kerja hari ini!"tekadnya lalu mengambil ponsel milik Naruto yang diletakkan empunya di atas meja kamar. Ia gunakan ponsel itu untuk mengirim pesan kepada seseorang yang ia anggap paling dekat dengan Naruto sekaligus manager sang pirang sendiri.
To : Gaara.
Aku nanti mulai bekerja, kau datanglah ke apartementku dahulu, nanti kita berangkat bersama-sama ke kantor.
Setelah meletakkan kembali ponsel itu di tempatnya yang semula, Sasuke memutuskan untuk berjalan mengelilingi apartement Naruto, masih tetap berantakan seperti biasanya, padahal ia sudah sering mengeluarkan beberapa persen tenaganya untuk memarahi Naruto agar selalu menjaga kebersihan walaupun laki-laki.
'Ok Naruto! untuk yang terakhir kalinya aku akan membereskan semua kekacauan yang kau perbuat!'batinnya lalu mulai memungut bungkus cup ramen, baju atau pun celana dan sampah lainnya. Beberapa menit kemudian ruangan utama telah bersih dari sampah.
Sasuke menutup kedua matanya prihatin, jika saat ada dirinya saja Naruto masih bersikap seenaknya apalagi setelah kematiannya ini? Ia sangat berharap Naruto segera menemukan penggantinya dan segera... menikah.
Ia menggelengkan kepalanya, ia tidak boleh ragu, ia harus ikhlas jika Naruto telah menemukan penggantinya, itu lebih baik dari pada sendirian selamanya. Ia segera membuka kulkas setibanya di dapur dan sama sekali tidak melihat makanan ataupun minuman apapun di dalamnya, kecuali sayuran yang sangat familiar.
Sebelum ia melanjutkan kegiatannya, sebuah suara membuatnya cepat-cepat menutup pintu kulkas sebelum ia tidak bisa kembali memegangnya.
"Siapa?"
Naruto mendekati dapur dengan hati-hati, ia yakin sekali mendengar pintu kulkas itu tertutup dengan cepat, belum lagi dengan ruangan utamanya yang jauh lebih bersih dari sebelumnya, ia ingat sekali jika ia sama sekali tidak membersihkan ruang itu sebelumnya.
Sebelum Naruto melanjutkan pencariannya, ketukan pintu membuat pikirannya teralihkan, ia memandang jam dinding nya yang telah menunjukan pukul setengah enam pagi.
"Siapa juga yang bertamu pagi-pagi begini!"gerutunya kesal lalu segera menghampiri pintu utama untuk di buka. Wajah gembira Gaara lah yang pertama kali ia lihat.
"Ada apa Gaara? Kau kemari terlalu pagi."tanya Naruto lalu mempersilahkan Gaara dan Neji yang mengantarnya untuk masuk ke dalam apartemen nya.
"Tumben rapi Naruto, kau kesambet apaan?"tanya Neji yang cukup terkejut dengan kerapian apartemen Naruto.
Naruto menghela nafas lalu mendudukan dirinya, "Bukan aku yang membersihkannya, tahu-tahu saat aku bangun apartemen ini telah bersih dengan sendirinya."ujarnya.
"Kau mempunyai ilmu sihir?"
"Pertanyaan macam apa itu?"
"Sudah-sudah! Yang terpenting kau sudah mulai kembali beraktifitas Naruto, aku dan Neji kemari lebih awal untuk membantumu mempersiapkan berkas-berkas yang telah menumpuk mulai kemarin."sela Gaara masih dengan wajah bahagianya.
Naruto mengerutkan alisnya. "Kata siapa aku kembali bekerja hari ini? Aku masih malas bekerja."ujarnya jujur.
"Jangan bercanda, kau mengirimiku sms tadi pagi,"Gaara menunjukan ponselnya pada Naruto. "Ini buktinya, kau mau menyangkal lagi? Sana cepat mandi dan kita selesaikan sebelum jam delapan!"
"Tunggu.. tunggu Gaara!"sela Naruto cepat, "Di pesan ini aku mengirim pesan sekitar jam setengah lima padahal jelas-jelas aku baru bangun jam setengah enam, aku bukanlah orang yang bisa bangun sepagi itu kan?"jelasnya.
"Nggak lucu Naruto, sudah sana cepat mandi!"sela Gaara dengan wajah bosan sembari mendorong Naruto untuk segera ke belakang. Naruto dengan wajah putus asa memutuskan untuk mengikuti perintah Gaara dari pada kena semprot lelaki yang mendadak OOC itu.
"Aku akan coba mencari bahan makanna di kulkas. Kalau nggak ada kita makan di luar dulu saja."ujar Gaara lalu berjalan menghampiri dapur. Beberapa menit kemudian ia tidak kembali lagi ke ruang utama, Neji menyimpulkan jika ada bahan makanan yang bisa lelaki merah itu masak. Lelaki berambut panjang itu menyenderkan dirinya di sandaran kursi lalu melirik malas ke arah sosok yang juga tengah memandangnya tak minat.
"Kau membuat Naruto bingung."
"Hn..."
*#*#*#*#*#*#*#*
Tidak banyak yang Naruto kerjakan saat bekerja untuk pertama kalinya semenjak kejadian malang yang menimpanya. Sahabatnya, Gaara memang sangat perhatian terhadap dirinya, bahkan sangking perhatiannya pernah membuat Neji yang notabene kekasihnya sedikit cemburu terhadapnya.
"Kalau kau memang mencintai Gaara sama sekali bukan masalah untukku. Hak mu kan untuk mencintai dan dicintai siapa saja." Itu kata yang keluar dengan lugasnya dari mulut Sasuke setelah ia mengetahui kedekatan Naruto dan Gaara yang melebihi sahabat sekalipun.
Ia bahkan sampai tidak bisa melihat wajah cemburu Sasuke saat melontarkan kalimat tersebut, tetapi sebagai tandanya lelaki raven itu menolak saat di telepon atau menjaga jarak dengannya. Memang butuh kesabaran penuh untuk memahami perilaku sang Uchiha.
"Aku pulang Gaara. Sebaiknya kau segera pulang juga, biarkan berkas-berkas itu aku yang melanjutkan."ujar Naruto setelah membereskan kertas-kertas di atas meja kerjanya. "Apa perlu aku antarkan?"
"Tidak perlu. Aku dan Neji sudah ada janjian untuk makan malam bersama. Terima kasih atas tawarannya."tolak Gaara halus. "Sebaiknya kau makan malam diluar saja, makanlah banyak sayur dan kurangilah ramen. Itu nggak baik buat kese-"
PRANKK!
Omongan Gaara terhenti saat mendengar suara pecahan kaca terdengar nyaring di telinganya. Naruto segera mencari sumber suara dan melihat patung ular mini yang terbuat dari kaca jatuh dengan beling-beling kaca yang berserakan.
"Kenapa bisa jatuh?"tanya Naruto pada Gaara.
"Mungkin karena angin. Sudahlah biarkan saja begitu, besok pagi biar OB yang membersihkannya."jawab Gaara ketika Naruto berniat untuk membereskan pecahan beling tersebut.
Lelaki pirang itu merengangkan tubuhnya lalu berbalik meninggalkan tempat pecahan beling. Tangan kanannya menenteng tas kerja miliknya lalu jas hitamnya ia sampirkan begitu saja pada bahu kirinya.
"Aku pulang duluan Gaara. Aku benar-benar capek, Jaa Naa!"seru Naruto lalu mempercepat langkahnya. Gaara hanya menganggukkan kepalanya lalu ganti mengambil tas kerja miliknya dan berjalan pelan meninggalkan ruangan, ia membalikkan badan sejenak untuk menutup pintu ruangan kerja Naruto sebelum matanya tanpa sengaja melihat siluet seseorang yang berada di dalam tempat kerja Naruto.
Ia menitup pintu tersebut dengan cepat lalu mengatur nafasnya yang mendadak tersendat.
'Tidak ada siapa-siapa, aku hanya salah lihat.'batinnya kalut lalu setelah nafasnya kembali normal, ia dengan cepat berlari menjauhi ruangan Naruto.
Beberapa menit kemudian muncullah sesosok yang tadi sekilas Gaara lihat tengah menembus pintu dan memandang malas lelaki berambut merah yang tengah ketakutan melihat dirinya.
"Kenapa tiba-tiba dia bisa melihatku walau sekilas?"tanyanya entah kepada siapa.
Sasuke menghela nafasnya lalu berjalan keluar dari perusahaan yang Naruto pimpin, mata hitamnya memandang langit gelap dengan sedikit bintang di atasnya.
Sebentar lagi ia tidak akan bisa memandangi langit indah ini, sebentar lagi ia benar-benar tidak bisa merasakan sejuknya angin malam yang membelai tubuhnya, sebentar lagi ia akan benar-benar meninggalkan kehidupannya di muka bumi ini dan benar-benar pergi dari hadapan Naruto.
"Semoga aku bisa menampakkan diriku di hadapan Naruto walaupun 5 menit sekalipun. Aku benar-benar ingin meminta maaf padanya.."ujarnya lirih sembari menutup kedua matanya, besok adalah batasannya dan ia akan menghilang di waktu yang sama saat ia meninggal beberapa hari yang lalu.
"Semoga kau menemukan pengganti yang lebih baik dari aku. Kau harus berbahagia dengannya."
|.|
.
The Day
.
|.|
Hari ini di tanggal 26 Oktober di Konoha, dan juga bertetapan dengan hari minggu. Naruto masih tertidur dengan lelap di atas kasur di hari libur ini dan sosok Sasuke yang masih saja menemaninya di pinggir kasur. Biasanya ia selalu memandang wajah tertidur Naruto dengan senang hati namun kali ini ia memasang wajah sendu.
Naruto bergerak pelan lalu membuka kedua matanya, sinar matahari pagi yang menerpa langsung wajahnya membuat matanya sedikit memincing, matanya menangkap siluet seseorang di tengah sinar-sinar yang memasuki apartemennya lalu menghilang saat kedua matanya benar-benar terbuka.
"Siapa yang membuka tirai jendelanya?"tanyanya pada dirinya sendiri. Ia menarik nafas dalam-dalam lalu bangkit dari kasurnya dan berjalan pelan ke arah kamar mandi. Ia terdiam sejenak lalu membalikkan badan, ia merasa diikuti oleh seseorang dan itu sedikit membuatnya merinding.
Di dalam kamar mandi, keanehan pun terjadi kembali, lantai kamar mandi telah basah oleh air dan juga berbau wangi, padahal jelas-jelas ia baru bangun tidur dan tentu saja belum ke kamar mandi.
'Mungkin sisa kemarin malam,'mencoba berpikir positif, ia mengindahkan bau wangi kamar mandinya lalu menyikat giginya.
'Aku seperti merasakan kehadirannya disini…'
x.x.x.x.x.x
"Berlibur? Kau dan Neji saja sana, aku nggak ikut!"tolak Naruto saat Gaara dan Neji mendatangi apartemen nya untuk mengajak Naruto bersenang-senang di pinggir kota.
"Tidak! Kau harus ikut! Kau pasti bisa menenangkan dirimu di pengunungan yang sejuk."paksa Gaara lalu menarik tangan Naruto menuju ke kamar mandi, memang tadi Naruto hanya menyikat giginya saja, belum mandi. Ia menganut paham 'Malas mandi pagi di hari Minggu'
Neji hanya memandang mereka berdua datar dan mendudukan dirinya di atas sofa.
"Aku masih cemburu soal kedekatan mereka berdua."celetuk Sasuke yang tiba-tiba saja berada di sebelah Neji.
"Hn, aku juga tapi mau bagaimana lagi, kau yang menyuruhku untuk menyuruh Gaara memaksa Naruto pergi berlibur."balas Neji.
"Aku tahu."
Jeda sejenak sebelum Neji memulai pembicaraan kembali.
"Kau tidak ikut?"tanyanya pada Sasuke.
Sasuke menggelengkan kepalanya, "Aku merasa lemas, nanti adalah waktu untukku pergi."ujarnya lirih, ia memandang Neji dengan sendu sekaligus memohon, perilaku yang jarang sekali ia tunjukan kepada siapapun termasuk keluarganya.
"Tolong buat Naruto bisa melihatku sore nanti. Aku tidak akan membiarkan 3 hari ku ini berakhir sia-sia."pintanya. "Aku tahu kau bisa melakukannya, semuanya akan sia-sia jika aku sama sekali tidak berbicara dengannya. Aku mohon Neji… Ini kesempatan terakhirku di dunia ini.."
Neji memandang wajah berharap yang sangat kentara sekali di hadapannya, melihatnya membuatnya memutuskan untuk menganggukkan kepalanya.
"Baiklah akan kulakukan jika itu bisa membantumu di akhir waktumu."
Sasuke tersenyum senang.
"Arigatou Neji, buat Naruto bersenang-senang ya!"
XXXXXX
"Hah.."Naruto menghempaskan badannya di atas sofa empuk miliknya lalu memejamkan mata sejenak, ia membuka matanya dan safir birunya tak sengaja melihat secarik kertas di atas meja ruang tamu.
"Dari mana asal kertas ini?"Naruto memandang heran secarik kertas di tangannya, tak ambil pusing soal itu, ia mulai membaca pesan tersebut.
"Temui aku di taman dekat kantor mu.."eja Naruto membaca pesan misterius yang hanya tercetak di selembar kertas sobekan. Ia takut kalau ini hanyalah perbuat klien yang tidak suka dengannya dan menyewa 'pesumo' untuk menghajarnya, tetapi pikiran itu segera di tepisnya mengingat tempat perjanjian di taman, dimana taman adalah sebuah tempat yang ramai.
Naruto mengangguk mantap lalu menyanggupi permintaan 'sang kertas' dan segera melesat menuju tempat yang dituju. Ia sudah menangunng resiko saat mendatangi sosok misterius yang mengiriminya pesan singkat pada selembar kertas kecil, ia adalah seorang lelaki sejati yang mau menyanggupi permintaan apapun walaupun aneh sekalipun.
Sesampainya di taman, Naruto seakan mendapatkan jebakan batman dimana tidak ada satu pun orang yang berkeliaran pada sore hari ini di taman. Lelaki murah senyum yang akhir-akhir ini kehilangan semangatnya itu pun menghela nafas lelah.
'Sudah kuduga kalau ini hanya main-main. Brengsek sekali!'batinnya kesal lalu membalikkan badannya untuk meninggalkan taman sebelum sebuah suara yang memanggil namanya membuat dirinya berhenti seketika.
"Naruto..."
Naruto terdiam di tempatnya, ia merasa sedikit adanya deja vu akan kejadian ini. Lalu sebuah suara itu, Naruto masih ingat seseorang yang mempunyai suara seperti itu.
"Apa aku datang terlambat lagi? Kalau begitu aku minta maaf untuk kesekian kalinya.. Walau kau meninggalkanku lagi seperti waktu itu, aku akan terus mengejarmu sebagai bukti rasa cintaku padamu."
Ia membalikkan badannya dan matanya dengan gambalang melihat sesosok orang yang seharusnya telah meninggal 3 hari yang lalu. Seketika mata safir itu membulat tak percaya.
"K-kau m-masih.."
"Aku sudah mati Naruto, kumohon terima lah kematianku."sela sosok itu lalu berjalan mendekat, tinggi mereka yang hampir sama memudahkan sosok itu memberikan ciuman pada bibir Naruto, sosok dengan pakaian serba putih yang melekati tubuhnya tersebut memejamkan matanya sembari memiringkan kepalanya untuk memperdalam ciuman, kedua tangannya ia kalungkan pada leher Naruto yang mulai membalasa ciumannya, mata safir itu turut memejamkan matanya sembari merangkul pinggang sosok yang tengah menciumnya.
Ini terasa nyata.
Naruto melepas ciuman di antara mereka lalu memandang lekat-lekat wajah sosok di hadapannya. Sesosok orang yang membuat hidupnya berantakan akhir – akhir ini, sesosok lelaki berambut raven yang familiar sekali di ingatannya.
"Sasuke!" ia memeluk tubuh lelaki Uchiha itu erat, air matanya tumpah seketika, tubuh berbalut kemeja putuh itu bergetar hebat.
"B-bodoh! Kenapa kau uh... berbuat senekat itu teme! K-kau tahu walaupun kau tidak mengejarku sekalipun, aku...ugh!"isak Naruto di ceruk leher Sasuke. "Aku masih tetap mencintaimu Sasuke! Aku sangat mencintaimu!"tangisnya lebih keras.
Sasuke yang berada di dalam pelukannya juga tak kuasa menahan tangisnya, walapun ia masih sedikit bisa mengendalikannya, ia memeluk tubuh bergetar di hadapannya erat sekali.
"Aku tidak pernah berpikir untuk mati di hari itu, ini semua memang kehendak Tuhan yang menghendakiku berada di barisan kematian. Aku tahu kalau aku sangat salah mengecewakan dirimu di hari yang sangat kita nanti. Maka dari itu aku meminta maaf. Jika tidak, aku tidak tahu bagaimana aku nanti di akhirat. Selama tiga hari ini aku berusaha untuk membantumu semampuku dalam wujud hantu."ujar Sasuke panjang, hal yang jarang sekali ia lakukan. Namun waktu yang tinggal setengah jam baginya ini akan ia manfaatkan sebaik-baiknya.
"Neji pun mengetahui kehadiranku dan aku melarangnya untuk memberitahukan kehadiranku kepadamu." Sasuke melepas pelukannya, kedua tangan putih yang mulai bercahaya itu menyentuh kedua pipi Naruto lalu mengecup bibir itu cepat. "Kau harus segera bangkit dan kembali menjadi Naruto-ku yang dulu. Aku tidak memaksamu untuk melupakanku tetapi sebaiknya kau segera mencari penggantiku, kau sudah dewasa dan mapan, kedua orang tuamu pasti telah menanti cucu darimu dan 'istrimu' nanti."
"Setelah ini kau juga harus meninggalkan kebiasaan jorokmu karena aku tidak lagi menjadi seseorang penggerutu yang selalu memberishkan apartemen mu, Kurangilah makan ramen dan perbanyak makan sayur, lalu juga- Kenapa aku mendadak ngomong panjang lebar seperti ini.."
Sasuke tersenyum sendu sembari menghapus air mata yang mulai mengalir kembali membasahi pipi yang ia pegang, "Aku tahu... Penyesalah memang selalu datang terakhir, tetapi rasanya tetap menyesakkan, seakan-akan ingin sekali memutar waktu untuk kembali ke masa itu dan memperbaiki segalanya.." ia menundukan kepalanya, air matanya berjatuhan membasahi tanah di bawahnya bak air hujan.
Naruto mengangkat dagunya, meminta dirinya untuk memandang lekat-lekat mata biru safir miliknya, mata safir yang sangat disukainya dan membuatnya ingin menangis kembali.
"Apa tidak ada waktu lagi untuk memperbaiki segalanya?"tanya Naruto perlahan. "Aku juga meminta maaf darimu, Jika aku tidak egois dan tidak meninggalkanmu sendirian di tempat ini, mungkin aku masih bisa menghindarkan kematian darimu. Apakah aku bisa memperbaiki kesalahanku untuk menebus rasa bersalahku?"
"Kau masih memiliki kehidupan yang panjang di bumi ini, mungkin dengan move on dan kembali menjadi Uzumaki Naruto yang dulu akan memperbaiki segalanya. Tidak ada jaminan aku akan terus mengingatmu di akhirat sana, tetapi..."tubuh Sasuke semakin bercahaya, waktu telah menunjukan pukul 5 lebih 20 menit, mereka bahkan tidak merasa telah berbicara dalam waktu lama.
"Sepuluh menit lagi, seluruh mobil yang berhenti saat itu akan terbakar, tentunya aku yang berada di dalam mobil ikut terpanggang oleh api. Apakah kalau aku menampilkan wujud hancurku saat terbakar, kau akan segera lari dan jijik melihatku?"tanya Sasuke sekali lagi.
Naruto menggelengkan kepalanya, "Walaupun aku sangat takut melihat film horror, bukan berarti aku takut melihatmu, mau bagaimanapun kau adalah Uchiha Sasuke. Apakah kau berniat memperlihatkan wujud mu saat itu? Aku siap! Aku akan melakukan apa saja untuk membuktikan rasa cintaku padamu."ujarnya mantap.
"Tentu saja tidak, aku bahkan tidak mau mengingat betapa mengerikannya tubuhku saat itu. Kau lelaki yang baik, aku tahu kau sangat mencintaiku tanpa kau buktikan sekalipun." Sasuke memutuskan untuk menjauh dari Naruto saat ia merasa jiwanya mulai di tarik oleh sesuatu dan rasanya sakit sekali.
Naruto menangkap tangan kanan Sasuke, mencengahnya pergi menjauh darinya. "Tidak Sasuke! Jangan terlalu cepat! K-kita bahkan baru bertemu!"ujarnya panik.
"Maafkan aku Naruto tetapi ini waktunya, aku telah mati dan dunia ini bukanlah tempatku yang sesungguhnya."balas Sasuke mencoba untuk menenangkan Naruto.
"Aku masih ingin mengobrol banyak denganmu, aku masih ingin membawamu ke suatu tempat, aku masih ingin berada di sisimu! SASUKE!"teriak Naruto frutasi, air mata yang sempat mengering itu mulai mengalir kembali. Ia genggam erat tangan putih pucat Sasuke.
Sasuke dengan terengah-engah mendekati Naruto kembali dan memeluknya. "Ikhlaskan aku, biarkan aku pergi dengan tenang. Kau harus berjanji akan melakukan semua yang aku katakan tadi, sebagai bukti jika kau benar-benar mencintaiku.."
Cahaya yang keluar dari tubuh Sasuke semakin lama semakin banyak, waktu telah menunjukan pukul setengah enam tepat dan inilah saatnya untuk Sasuke kembali ke tempatnya yang sebenarnya dan pergi meninggalkan Naruto selamanya.
Kedua matanya menutup saat merasakan Naruto membungkam bibirnya di saat-saat terakhirnya, hanya sebuah kecupan yang penuh kesesakan, Naruto bahkan tidak peduli kedua matanya akan silau oleh sinar keemasan yang melekati Sasuke, bahkan ia merasa Sasuke tampak indah dengan sinar itu.
Seluruh tubuh Sasuke tak terlihat kembali oleh mata Naruto, hanya ada cahaya yang mulai melesat ke atas, meninggalkan Naruto yang tengah memandang sendu cahaya tersebut.
"Selamat tinggal..."
"Terima kasih untuk semuanya,"
"Aishiteru..."
..dan cahaya itu tak lagi terlihat bersamaan dengan tenggelamnya matahari.
Naruto mengadahkan tangan kanannya ke atas, "Aishiteru yo Sasuke..."
Tangan kanannya mengepal lalu berteriak keras. "Aku janji akan kembali menjadi diriku yang sebenarnya, akan kubuktikan jika aku benar-benar mencintaimu!"Naruto melemparkan senyum, senyum pertama yang ia lakukan setelah masa-masa yang ia lalui beberapa hari ini.
"Lihat aku dari atas sana Sasuke! Peganglah janji yang aku buat Uchiha Sasuke!"
.
.
FIN
.
.
Berakhir dengan gajenya XD
Fic ini aku persembahkan untuk NaruSasu day 2014, maaf kalau kecepatan dalam meng update fanfic karena hanya hari ini saja waktu luang yang aku punya. Kurikulum 2013 benar-benar 'menyenangkan' sekali untukku.
Maaf kalau masih banyak typo yang berkeliaran, fanfic ini adalah hasil kebutan kemarin malam, kalau nggak begitu aku sama sekali tidak bisa memberikan hadiah buat OTP kesayanganku. ^J^
Review ya Minna!
