Heartache

Aku berharap aku bisa membalikkan waktu, kembali di saat kau jadi milikku. Penyesalan yang didapat berubah menjadi air mata. Senyumanmu di hari itu berubah menjadi kenangan. Hanya dirimu yang mengisi hatiku dan kini kau pergi. Ini sangat menyakitkan. Aku ingin segera melupakanmu.

.

.

.

Seorang siswa tampan dengan mata obsidian yang menghipnotis tengah bersandar di depan kelas kekasihnya. Ia memiliki kekasih yang 1 tahun lebih tua darinya. Namun umur bukan menjadi halangan bagi mereka berdua. Hubungan mereka telah menginjak usia 1 tahun, keduanya berusaha sepenuh hati untuk mempertahankan hubungan itu.

Siswa itu memilih memakai earphone untuk membunuh rasa bosan yang menggelayutinya. Ia ikut melantunkan lagu yang terputar di mp3nya. Saat sedang terlarut dalam lagu itu, ia merasakan ada seseorang yang menutup matanya.

"Naru ?"

"Aish, kau tidak seru Suke. Bagaimana kau tau kalau ini aku ?"

"Memangnya siapa lagi yang berani melakukan hal itu padaku selain dirimu, hime ? Lagipula hanya kau dan Himura-senpai yang kukenal di kelas ini, Himura-senpai tidak mungkin melakukan hal itu padaku" jelas Sasuke panjang lebar

"Ya ya terserah padamu saja, Tuan Uchiha yang cerdas" Naruto mempoutkan bibirnya dan membuat Sasuke tersenyum tipis

"Naru, kau marah padaku ?"

"..."

"Naru, berhentilah mendiamkanku. Bagaimana kalau kita makan ramen ?" bujuk Sasuke

"Aku mau~" jawab Naruto antusias

"Sai, kau mau ikut kami ?" tanya Naruto pada Sai yang sejak tadi hanya diam memperhatikan mereka

"Iie, aku mau langsung pulang"

"Hmm baiklah, kami pergi dulu, ne ? Jaa ne~" Naruto menggelayut manja pada lengan Sasuke

.

.

"Kau mau ukuran apa, Naru ?" Saat ini keduanya berada di kedai ramen Teuchi langganan mereka

"Seperti biasa, Suke~" ucap Naruto manja

"Baiklah, tunggu disini, ne ?" Sasuke menjepit hidung Naruto pelan

"Ini" Sasuke menyodorkan ramen jumbo ekstra pedas pada kekasihnya itu

"Arigatou, Suke" Sasuke hanya tersenyum menanggapi ucapan Naruto

Keduanya menikmati ramen sambil bersenda gurau. Mereka bahkan melupakan waktu yang terus berjalan. Keduanya baru menyadari bahwa langit telah berwarna kemerah-merahan saat Itachi, kakak Sasuke menelepon Sasuke.

"Otouto, kau dimana ? Ini sudah sore, cepatlah pulang" teriak Itachi dari seberang sana

"Hn, aku akan segera pulang"

Itachi mendengus dan mematikan sambungan. Itachi sangat memperhatikan Sasuke sebab ia adalah satu-satunya keluarga yang dimiliki oleh Sasuke saat ini. Orang tua mereka telah meninggal beberapa tahun yang lalu.

.

Sasuke dan Naruto berjalan menikmati senja sambil bergandengan tangan. Genggaman tangan mereka baru terlepas saat mereka sudah sampai di apartment Naruto. Naruto tinggal di apartment itu bersama Sai. Mereka bukanlah orang asli Tokyo, mereka berasal dari Osaka dan mendapatkan beasiswa untuk bersekolah di Tokyo. Namun, untuk masalah tempat tinggal mereka harus berusaha sendiri. Oleh karena itu, keduanya memutuskan untuk menyewa apartment dan tinggal bersama agar bisa berhemat.

"Arigatou untuk ramennya"

"Ne, hime Aku pulang dulu"

"Hati-hati, Suke"

"Hn"

.

.

"Kau pasti habis berkencan dengan rubah itu" tuding Itachi pada Sasuke yang baru memasuki mansion megah milik keluarga Uchiha

"Tch, aku ini baru pulang aniki. Tak bisakah kau tak cari masalah ?"

"Kau selalu memberikan seluruh waktumu padanya" desis Itachi

"Gomen ne aniki"

"..."

"Ya sudah kalau kau tak mau memaafkanku" Sasuke berjalan melewati Itachi. Itachi hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap otoutonya itu

.

Sasuke merebahkan badannya, memandang langit-langit kamarnya. Ia tersenyum mengingat kekasihnya yang manis dengan garis horizontal seperti kumis kucing yang menghiasi pipi gembulnya. Ia merasa sangat beruntung karena mendapatkan kekasih semanis Naruto. Ia sangat mencintai Naruto, ia rela mengorbankan apapun untuk melihat Naruto bahagia bahkan nyawa sekalipun. Mungkin terdengar gila namun seluruh syaraf Sasuke sangat mendamba Naruto. Tak pernah ia bayangkan akan seperti apa hidupnya tanpa Naruto.

.

.

.

Sasuke sedang menikmati semilir angin sore di balkon mansionnya saat ponselnya berbunyi.

.

From : My little Kitsune

Suke, apa kau sibuk hari ini ?

.

To : My little Kitsune

Iie. Nande ?

.

From : My little Kitsune

Bagaimana kalau kita ke kedai ramen Teuchi ?

.

To : My little Kitsune

Anything for you, hime

.

From : My little kitsune

Arigatou ^^ jemput aku pukul 7, ne ?

.

To : My little kitsune

Hn

.

Sasuke meletakkan ponselnya saat tak ada lagi balasan dari kekasihnya itu. Ia menutup mata, membiarkan angin membelai lembut wajahnya. Ia baru menghentikan aktifitasnya saat langit mulai kehilangan mentari. Ia menutup jendela balkonnya dan merebahkan badan. Ia baru ingat jika ada tugas dari Kakashi-sensei, ia berjalan menuju meja belajarnya dan mulai mengerjakan tugas itu.

Sasuke meregangkan badannya yang terasa kaku. Mengerjakan 100 soal bukanlah hal yang mudah bahkan untuk siswa cerdas seperti Sasuke. Ia melirik jam dan bergegas mengganti baju saat jam menunjukan pukul 6.30.

15 menit kemudian ia keluar dengan pakaian rapi nan harum. Hal itu membuat Itachi heran.

"Otouto, kau mau kemana ?"

"Kedai ramen" jawab Sasuke datar

"Kencan lagi ?"

"Hn. Aku pergi dulu"

"Hati-hati, otouto"

"Hn"

.

Sasuke berjalan menuju apartment kekasihnya. Senyum terus terkembang di wajahnya. Ia sangat mencintai Naruto. Naruto adalah oksigen baginya. Ia bisa mati jika Naruto menghilang dari jangkauannya.

.

"Naru, aku di depan apartmentmu" ucap Sasuke melalui telepon

"Aku akan segera turun"

.

"Konbawa" sapa Naruto

"Ayo berangkat"

"Ha'i"

.

Sasuke menautkan jemarinya pada jemari Naruto, menggenggamnya erat seakan jika ia melepaskan tautan jemarinya maka ia akan kehilangan Naruto.

.

"Suke, aku-" saat ini mereka berada di kedai ramen Teuchi. Mereka memilih tempat di samping jendela agar dapat melihat pemandangan malam kota Tokyo yang indah.

"Ramen jumbo ekstra pedas seperti biasa kan ?" potong Sasuke

"Kau memang selalu tau apa yang kuinginkan"

"Ini, Naru" Sasuke menyodorkan ramen jumbo ekstra pedas pada Naruto dan langsung dinikmati oleh Naruto dengan lahap. Sasuke mengacak rambut Naruto penuh kasih sayang.

"Urusai ! Rambutku jadi berantakan"

"Kau tetap manis, Naru"

"Jangan menggodaku, Suke"

"Hn" Sasuke menyeruput green teanya

.

"Sasuke, jangan langsung pulang ya ?" ucap Naruto saat mereka keluar dari kedai ramen

"Tapi ini sudah malam, Naru dan bukankah besok kita harus bersekolah ?"

"Aku ingin ke taman kota sebentar. Onegai~"

"Baiklah tapi hanya sebentar"

"Arigatou" Naruto mengecup singkat pipi Sasuke

.

Pasangan kekasih itu kini berada di salah satu taman kota di Tokyo. Keduanya menikmati suguhan opera cahaya yang di tampilkan langit malam.

"Suke~"

"Hn"

"Mmm, ada yang ingin kusampaikan"

"Apa ?"

"Nggg, a-aku..."

"Kau kenapa ?"

"Aku tak bisa melanjutkan hubungan ini"

"Hn ? Nande ? Apa aku melakukan kesalahan ?"

"..."

"Naru, jawab aku. Gomen, hontou ni gomenasai jika aku berbuat salah. Tapi aku mohon jangan tinggalkan aku, Naru. Aku tak bisa"

"Gomen" Naruto berlalu meninggalkan Sasuke yang terpaku

"Naru, onegai. Jangan tinggalkan aku" Sasuke berlari mengejar Naruto, ia tak memperhatikan keadaan sekitar lalu tiba-tiba sebuah mobil dengan kecepatan tinggi mengarah padanya

'Ckiiiiiitt'

'Braaak'

Tubuh Sasuke terpental, kesadarannya perlahan-lahan hilang. Hal yang terakhir ia lihat adalah Naruto yang terus berjalan tanpa memperdulikannya. Liquid bening menetes dari manik obsidiannya, lalu semuanya menjadi gelap.

.

.

.

.

.

Chapter 1 selesai..

Bagaimana ceritanya, minna-san ? Memuaskan kah ? Tulis komentar, kritik, dan saran kalian di kotak review, ne ? Supaya Aika bisa perbaiki kesalahan yang ada..

.

Oh ya, Aika mau ngucapin makasih buat TachiUchiha, Riena Namikaze, hanazawa kay, Yurika46, Harpaairiry, sivanya anggarada, Little Kyung Kyung, Ahn Ryuuki untuk reviewnya di prolog kemarin..

.

Boleh minta review lagi ? :) Semakin banyak review, Aika makin semangat ngelanjutinnya hehe..

.

Aika cuma mau bilang itu aja, Aika pamit dulu ne ? Sampai ketemu lagi di chapter 2..

Jaa ne~ (^.^)/