"Aominecchi!" Teriak sang blonde dengan semangat. Aomine selalu tahu apa yang akan terjadi apabila ia mengabaikan panggilan itu, maka ia melihat kekasihnya yang berlarian sambil melambai ke arahnya. Aomine hanya melambai kecil, namun itu saja sudah menimbulkan efek yang besar pada Kise.

Kise merasakan pipinya memerah karena gugup. Dunia modelling begitu menghabiskan waktunya, membuatnya harus mati-matian mencari waktu untuk bertemu dengan kekasih dim-nya itu, maka ia berharap, natal ini menjadi waktu yang tepat.

"Menunggu lama, Aominecchi? Maaf, tadi manager tidak memperbolehkanku pergi lebih cepat," Kise sambil tersenyum minta maaf, dan ia hanya tersenyum melihat perilaku kekasihnya itu ketika gumaman 'tidak apa-apa' meluncur. Dasar orang idiot pecinta basket, gumamnya geli, dalam hati.

"Lumayan. Tapi nggak terlalu lama." Aomine menjawab sembari melihat salju yang perlahan turun.

"Begitukah? Tumben, banget ya~! Aominecchi biasanya kan datang telat-ssu!" Kise berujar dengan nada jahil, membuat Aomine mengelus pelipisnya lalu mencubit pipi sang model dengan keras.

"Apa katamu?! Aku tidak semalas itu, bodoh!" dan Kise hanya berteriak geli sambil berusaha melepaskan cengkraman Aomine dari pipinya.

Kise memeluk lengan pria itu, "Baiklah! Kita mau kemana, Aominecchi?" Aomine terlihat berpikir dan—

—Mimpi apa ini?

…. Mimpi apa yang barusan itu?

Kise tertawa getir. Ia bahkan masih ingat detailnya; di hari itu, jika kau tanya. Hari itu menjadi hari yang paling dia suka, karena ia tahu hari (dan seluruh hal manis) itu tidak akan jadi kenyataan lagi. Ia tahu.

(Namun tidak pernah sanggup ia abaikan, dan manakala ia mencoba, hanya ada kegagalan. Selalu.)

Aomine sekarang sudah berubah. Tidak ada kata-kata manis, tidak ada sentuhan lembut, gumaman menenangkan—apapun yang baik dalam hubungan mereka. Singkatnya…

tidak ada cinta diantara mereka.

Kise lelah, jujur saja.

Ia ingin kabur, tetapi ia merasa terikat pada lelaki itu. Aomine sudah memberikan banyak hal kepadanya, dan sekarang ia berpikir egois (egoisegoisegois hingga ia merasa begitu muak pada dirinya sendiri), tetapi pikiran ini tidak bisa ia tahan.

"Aku tahu ini akan menjadi seperti ini, Kise-kun." Kuroko selalu jujur. Lebih jujur dari siapapun. Dan itu tak membuat apapun membaik dalam diri sang blonde. Sebelum ia mampu bertanya apa maksud Kuroko, Kagami masuk ke dalam apartemen dan langsung mencium Kuroko, mengabaikan Kise. Dan sejujurnya, melihat mereka seperti ini membuatnya iri. Ia juga ingin kembali seperti ini.

(ia rindu—saat-saat ketika setiap ia pergi, ia mendapat sebuah ciuman dan ketika ia pulang, ia mendapat pelukan.)

Ia begitu merindukan saat-saat seperti itu, namun ia tahu resikonya—kalau ia menjadi egois, maka tidak akan ada yang tersisa untuknya. Semua akan diambil darinya. Semuanya… harus disembunyikan dibalik topeng.

—semua, kecuali dari Kasamatsu Yukio. Senpainya.

Kasamatsu Yukio mungkin cuma orang biasa. Tapi, di mata Kise, dia bukanlah orang biasa.

Kasamatsu mampu melihat dibalik kebohongan yang dilontarkan Kise, bagaimana perasaan Kise dan bagaimana suasana hati Kise. Ia selalu berusaha untuk membantu adik kelasnya yang punya kesulitan dalam mengekspresikan diri.

Kise menyukainya.

Tidak, tidak—Aomine masih ada di sampingnya, dan ia tidak berani untuk memutuskannya. Dia selalu takut. Ia tahu seberapa menakutkan ketika Aomine tahu. Ia tidak ingin merasakan siksaan yang begitu menjadi karena kekasihnya.

Para Kiseki no Sedai kecuali Aomine, tentu saja—sebenarnya mengerti apa yang terjadi kepada Kise. Mereka terus membujuk Kise untuk meninggalkan Aomine, tetapi Kise begitu tuli—membuatnya menyesal karena tidak mendengarkan mereka. Tapi, sungguh, ia tidak mau semua orang itu repot mengurusi hidupnya. Ia harus meyakinkan orang-orang agar tidak terlalu khawatir kepadanya.

Kadang-kadang ia bingung, kenapa dirinya dulu bisa begitu mencintai Aomine. Aomine itu bodoh, kasar, jahat, hangat, kadang-kadang terlihat manis—

See? Inilah kenapa Kise menyukai Aomine.

Ia benar-benar ingin Aomine kembali menjadi sebelumnya, tapi ia tidak bisa menolak perasaan baru yang timbul di hatinya.

Perasaan ini sama seperti saat ia menyukai Aomine dulu. Ia ingin pergi dan mengejar ceritanya bersama Yukio, tetapi kenyataan tidak begitu mudah untuk diubah. Ia seolah mengetahui ia akan selamanya terikat dengan Aomine dan sungguh, itu membuatnya putus asa.

"Kise? Ada apa?"

Di hari yang cerah ini, matahari sedang mengejeknya dan senpai-nya juga tampak bingung dengan dirinya. Ia langsung mengangkat wajahnya dan menemukan sosok Yukio dihadapannya. Duduk dengan segelas minuman, di sebuah café yang mereka datangi. Oh, sialan, aku melamun, ia mengutuk dirinya sendiri.

"O-ooh, senpai! Maaf! Aku kebanyakan mikir!" kata Kise dengan nada yang terdengar cukup malu. Kasamatsu hanya menaikkan salah satu alisnya lalu hanya bergumam mengerti.

"Hmm, senpai?" Gumam Kise pelan sambil mengaduk teh yang ada dihadapannya. Kasamatsu lagi-lagi hanya menggerutu pelan tanda ia mendengarkan sambil meminum kopi yang ia pesan barusan.

"Ah, itu senpai—Buat senpai aku i—" Kise langsung menghentikan kata-katanya, menggelengkan kepalanya dengan cepat , mengangkat wajahnya, dan menatap kedua mata hitam senpainya.

"Ah, ujiannya senpai, gimana?" Tanya Kise setelah meminum tehnya dengan hati-hati. Kasamatsu bingung mendengar pertanyaan Kise yang mendadak berhenti namun hanya mengangkat bahunya.

"Baik." Ia mengerut, merasa kouhai-nya ini harus cepat-cepat ke psikiater.

"Nee, nee! Senpai! Menurutmu aku ace yang baik?" Kise bertanya dengan suara yang pelan namun cukup keras untuk tertangkap telinga Kasamatsu yang cukup tajam.

"Pertanyaan macam apa itu?!" Kasamatsu mendesis lalu menginjak kaki Kise, "Tentu saja kau Ace yang baik!" Kata Kasamatsu dengan kesal, namun Kise langsung tersenyum lebar diantara ringisannya.

"Uwa, arigatou Kasamatsucchi!" Kise nampak terlalu bahagia, membuat yang dihadapan merona, "A-apa-apaan itu.." Kata Kasamatsu pelan dan terdengar agak malu. Kise hanya mengangkat alisnya lalu tertawa melihat respon kakak kelasnya yang ia anggap manis.

Ah, persetan dengan Aomine. Kise menyukai Kasamatsu lebih dari ia menyukai Aomine.

[ apakah benar aku menyukaimu? ]

Waktu terus berlalu ketika ia menikmati kehidupannya ketika ia di Kaijou. Tetapi hal itu berbanding terbalik dengan kehidupan cintanya—kehidupan bersama Aomine Daiki yang dulu ia cintai. Setiap kali mereka bertemu, tidak ada lagi sesuatu yang manis di antara mereka.

Kise tahu, selalu tahu—tahu tentang sebuah rahasia yang Aomine punya. Ia tahu—sungguh, hatinya sakit ketika ia mengingat rahasia itu. Dimana setiap model yang Kise temui selalu berkata tentang Aomine yang telah mencuri hati mereka dan membahagiakan mereka. Oh, sial, sebenarnya siapa yang kekasih Aomine di sini?

Aomine sendiri juga sekarang tidak pernah membisikkan kata cinta, merengkuhnya, menciumnya dengan lembut—bahkan melupakan anniversary mereka sendiri. Kise hanya memasang senyuman palsu untuk membuat Aomine bahagia. Namun yang ia dapatkan hanya perbuatan kasar atau tidak kata-kata yang mampu membuat Kise lemas—bukan lemas dalam hal yang baik namun lemas dalam artian ia tidak tahu lagi harus berbuat apa—karena kekasihnya itu bahkan nyaris tidak pernah berkomunikasi dengannya.

Setiap kata yang ia utarakan hanya berisi dengan kemalasan atas hubungan mereka. Kise menyerah—bahkan ia begitu putus asa sampai ia berani mengorbankan tubuhnya untuk perubahan—karena ia lelah.

Kise ingin mengutarakan kata-kata itu, tetapi apa daya setiap kali ia melihat lurus ke mata Aomine, ia hanya bisa merasa lemah karena ia sudah jatuh cinta kepada mata itu. Mata yang dulu pernah menunjukkan keindahan cinta. Ketika ia sudah memantapkan keinginannya—saat-saat ia ingin membuka mulutnya—tidak ada suara yang keluar. Yang ada hanyalah teriakan sunyi yang sama sekali tidak dipedulikan oleh Aomine.

Kenapa ia harus menghadapi ini?

"Kasamatsu-senpaaaaaai!" Teriak Kise dengan manja lalu memeluk kakak kelasnya yang sedang akan menembakkan bola basketnya dari garis third point. Suara pantulan bola yang membentur ring dan bercumbu dengan lantai menjawab teriakan Kise.

Kasamatsu langsung melirik ke arah Kise yang ternyata sedang menangis. Kise menyembunyikan wajahnya di pundak sang rambut hitam. Ia mengerenyit, bingung.

"O-oi, kau kenapa?" sembari men-signalkan para anggota tim basket untuk terus berlatih selagi ia menenangkan sang blonde yang terus menangis, ia mengelus kepala itu. Yang dilakukan Kise bukan tangisan seperti anak kecil yang biasanya ia lakukan, tetapi tangisan dimana ia bahkan bisa merasakan kesedihan setiap airmata itu mengalir.

Anggota tim basket Kaijou mengerti. Mereka sering melihat Kise menangis karena dikerjai, tetapi kali ini Kise langsung mendatangi kapten mereka yang paling ditakuti. Kasamatsu menunduk tanda terimakasih, lalu menyeret Kise ke gudang tempat penyimpanan barang-barang gym.

"Kise, ada apa?" Tanya Kasamatsu begitu mereka sendirian. Kise belum menjawab, hanya terus menangis dan—oh, kutuklah Kasamatsu untuk ini tetapi—tangisan Kise terdengar begitu—sedih.

Lelah berbicara, ia hanya mengelus punggung Kise dengan lembut, berusaha menenangkan lelaki yang lebih tinggi. Akhirnya setelah beberapa menit terlewatkan, suara tangisan Kise mulai berhenti. Kasamatsu yang lega langsung menangkup pipi Kise, berjinjit kecil, lalu mencium kening itu.

"Ada apa, Kise? Kenapa kau menangis seperti itu?" ia bertanya dengan lembut (oh, sungguh, hanya Kise yang membuatnya berubah seperti ini) sambil menghapus airmata yang masih mengalir di pipi Kise tanpa suara. Kise hanya melihat sekitarnya lalu menghela nafasnya, terdengar putus asa.

"Ini tentang.. Aominecchi." Bisik Kise pelan, membuat sang kapten basket menegang. Ia tahu tentang perbuatan kekasih Kise. Setiap hari ia melihat setidaknya satu lebam baru di tubuh Kise namun si pirang hanya tersenyum dan berkata ia hanya menabrak sesuatu—walaupun Kasamatsu tahu dia berbohong.

Kasamatsu terus mengelus punggung Kise dengan lembut, berusaha menguatkan sang blonde untuk bercerita kepadanya, "Ada apa dengan anak itu? Heh, akan kuhajar dia jika dia terus menyakitimu." Ia bergumam pelan, namun setiap kata-kata yang dia utarakan dipenuhi dengan janji untuk membalas Aomine Daiki.

"Aominecchi… terus menuduhku. Berselingkuh. Padahal dia sendiri—" Sebuah isakan lolos dari tenggorokan Kise, membuat Kasamatsu langsung memeluk Kise.

Hening sesaat pecah dengan suara bariton tenang, "Tenang saja Kise. Kalau terus seperti ini, ah… Kapan kau berencana untuk memutuskannya, kalau begitu?"

Kise menghela nafas… apa memang ini sudah waktunya?

[ selain ombak, kenangan dari cinta hanyalah berupa laut, yang tak memiliki apa-apa ]

A/N ; UWO! JADINYA SERIES OTL AKU NGGAK NYADAR AJSHAHDSIHFS
Banyak yang bilang kalau plotnya terlalu cepat, jadi aku coba buat melanin(?) plotnya dan kalau aku jadiin one shot lagi—kayaknya panjang banget deh lol. Derp, yaudah. Rate n Review? Kalau writer block ku udah mendingan, mungkin updatenya cepet ._.