Author : HAHAHAHA #digeplak hiatus panjang! Baru bisa nyelesaian chapter ini dan pendek! Suraaam!
Green : Author memang suram
Author : Tadi bilang apa?
Green : Suram! S-U-R-A-M!
*kemudian Green sudah pingsan*
Author : Haha! Dasar payah!
Ethan : *sweatdrop* Pokémon beserta isinya milik Nintendo, Game Freak dan Creatures Inc.
"A-apa maksudmu? Mau membunuh Red, keluarga hingga orang-orang terdekatnya dengan dia? Kau gila!" orang berbaju jas lab menggebrak meja dihadapannya, beberapa anggota tim Rocket sudah memegang kedua lengan si penggebrak
Orang bernama Giovanni hanya tersenyum, "Tentu saja, memangnya aku mau menciptakan itu hanya bertujuan untuk bersenang-senang atau memiliki anak? Heh, si rambut merah itu saja aku tak peduli"
"Tch! Dasar tak punya hati!"
"Itu pujian untukku?" Giovanni berdiri dari kursi, ia melambaikan tangannya agar ilmuwan itu meninggalkan ruangan
"Oh, Mr. Fuji… terima kasih sudah terlibat dua kali dengan kami. Walaupun kau terlihat terpaka. Namun, jika tak dipaksa pastinya kau tak mau."
ilmuwan bernama Fuji tak bicara apa-apa, ia membalikkan badannya dan menutup pintu dengan keras hingga menimbulkan suara. Giovanni malah terkekeh mendengar suara bantingan pintu. Ia menatap salah satu bawahannya dan memberi aba-aba untuk meninggalkan kantor tersebut. Alasannya? Ia akan berganti pakaian, selanjutnya pergi ke Pokémon league untuk mengambil alih Viridian gym yang sekarang sedang dipegang Green.
Mereka pergi menggunakan helicopter, meninggalkan markas rahasia dan menuju Indigo Plateau.
Sesampainya disana, keempat elite four ditambah si pemenang berambut merah alias Lance menatap bingung kedatangan mantan gym leader di kota Viridian. Giovanni malah tersenyum memperlihatkan gigi, dengan kasualnya mendekati trainer-trainer terkuat se-Kanto tersebut.
"Gym di Viridian, kuambil alih lagi dan… pecat saja Green, aku tak peduli dan ini permintaan harus" ia mengambil sebuah paket bertuliskan 'untuk Viridian Gym Leader', kemudian meninggalkan kelima orang yang sedang terheran-heran.
Lance beserta elite four saling pandang, keheningan menguasai mereka.
"Bagaimana? Lance?" Koga angkat bicara pertama
"Kalau begitu… mau tak mau Green harus diberhentikan, lagipula sudah ada peraturannya dalam Pokémon league, bukan?" Lance sebenarnya merasa kasihan dengan gym leader yang sekarang
Semuanya mengangguk bersamaan, Lance menghela nafas dan mengeluarkan Pokégear. Ia menelepon si gym leader yang terkenal akan keusilannya serta tak bisa diam ditempat, menyulitkan trainer untuk bertarung dengannya. Beberapa lama keheningan, terdengar suara laki-laki muda dan masih dengan nada percaya diri.
"Yo Lance! Aku sedang ada di Pulau Cinnabar! Ada perlu apa dengan gym leader paling keren ini?" masih dengan gaya sombong seperti biasa
Lance hanya menarik nafas, ia mengerti kenapa Red suka kesal dengan rivalnya walaupun jarang ditunjukkan dengan ekspresi.
"Green, kau tahu siapa gym leader di Viridian sebelum dirimu, bukan?"
"Ya, ketua team rocket alias Giovanni"
"dan dia sudah kembali"
"Apa? Aku tak dengar!"
"Dia sudah kembali dan tahu bukan apa peraturannya kalau gym leader sebelumnya kembali serta mengambil alih gym?"
"Tentu saja, itu peraturan Pokémon League, aku tak bodoh… Tunggu? What the distort!?(1) Si orang tua itu kembali lagi? Kuharap bukan membuat masalah! Sudah cukup karena dia Red jadi orang gunung dan tak turun selama tiga tahun!" nada Green mulai memuncak
"Yah… kuharap juga tidak"
"Memangnya kalian tak bisa membiarkan aku saja yang jadi gym leader? Aku tak ingin ketenangan di Kanto terusik lagi, tch"
"Itu sudah jadi peraturan, Green"
"Ya… ya… kalau begitu aku akan kembali ke Gramps, kupikir ia senang cucunya membantu di lab" telepon terputus, Lance menghela nafas. Green memang tak peduli, walaupun tak secuek dulu.
Di Laboratorium Prof. Oak
Green menghentakkan kaki memasuki kantor milik kakeknya, ekspresi kesal bercampur khawatir adalah yang ia tunjukkan sekarang. Tentu ini membuat perhatian sang kakek tertuju padanya.
"Green ada ap-"
Omongan Profesor Oak dipotong oleh Green, "tumben tak memanggilku douche lagi"
"Ayolah, waktu itu aku terkena amnesia sesaat" ia duduk di samping Green
Green menatap kakeknya dengan pandangan aneh, "Yah… terserah katamu, Gramps… yang pasti Giovanni kembali lagi sedangkan si idiot Red tak turun dari gunung! Kenapa dari semua pilihan tempat isolasi harus gunung terkutuk bernama Silver itu, pula!"
"Giovanni? Dia kembali lagi?"
"YA! Dan… GAAAAHHHH! Kalau aku ke gunung terkutuk itu, aku tak mau! Waktu itu aku hampir dijatuhkan dari puncak gunung oleh dia!"
"Ahh… Giovanni kembali, Red tak turun sudah tiga tahun sedangkan gadis itu malah ke Kanto… kenapa tak tinggal di Sinnoh saja?"
"Tunggu, Gramps! Gadis? Gadis dari SInnoh? Maksudmu Dawn atau Cynthia? Keduanya itu champion disana!"
"Bukan, dia saudara jauhmu, Green"
"Saudara jauh…" Green berpikir, matanya mulai melebar saat menyadari siapa si gadis tersebut
"Jangan katakan Leaf akan datang kesini! Jangan! JANGAN! ADA GIOVANNI DISINI!" Green mulai panic
"Sayangnya ia sudah dalam perjalan, kalau tak salah ada di Vermillion"
Green berwajah masam, ia lebih memilih menuju rumah. Terakhir kali ia merasa panic, bingung hingga tak jelas seperti ini saat dikalahkan oleh dia. Dirinya hanya memegang titel sebagai Pokémon champion selama sepuluh menit! Bayangkan! Bahkan Machamp miliknya bisa dikalahkan Snorlax yang notabennya adalah lambat serta tipe normal. Ia seharusnya menang karena tipe disadvantage!
Pintu rumahnya dibuka hingga menimbulkan suara, Daisy sang adik sedang keasyikan menonton televisi sampai teralihkan.
"Ah, Green nii-san… selamat datang kembali dan tumben kembali siang? Biasanya bekerja hingga malam?" suara Daisy terdengar polos, Green malah makin merasa tertekan
"Hanya masalah kecil, bukan apa-apa kok. Oh, apa kau sudah masak makan siang? Aku lapar" Green mengambil remot televisi, adiknya meninggalkan dirinya mungkin untuk menyiapkan makanan.
Green menghela nafas panjang, rambutnya diacak-acak. Ia terkejut saat sebuah sentuhan terasa di pundak, kepalanya ditengokkan dan bertemu wajah khawatir si adik. Green mengangkat alis kanannya.
"Ada apa?" Green memindahkan ke program yang ia sukai
"Aku tahu nii-san sedang ada masalah, wajahmu terlihat tertekan" Daisy duduk disamping Green
"Yah… sebenarnya aku diberhentikan dari pekerjaanku sebagai Gym Leader"
"Ehhh? Memangnya kau membuat masalah apa hingga dihentikan oleh Elite four dan Lance? Mungkin kebiasaanmu yang suka keluyuran membuat mereka kesal?"
"Nah, justru seharusnya mereka berterima kasih kepadaku karena kupersulit trainer menyebalkan macam Lass atau Breeder bahkan bisa lebih buruk seperti Bug Catcher. Mereka pasti tidak mau mendapatkan sekelompok trainer menyebalkan yang memiliki Pokémon lemah!"
"Lalu apa alasannya?"
"Dia kembali, Daisy…"
"Dia?"
"Bos team rocket, Giovanni. Sedangkan orang yang cukup gila menghentikannya sedang bertapa di gunung terdingin di Kanto dan Johto" mukanya bertambah masam
Team Rocket HQ
Tabung berisi cairan beserta tubuh seorang anak laki-laki yang anehnya terlihat berumur 13 tahun makin diperhatikan oleh para ilmuwan di dalam lab. Berbeda dengan orang pintar lain, sang pemimpin para ilmuwan, seseorang bernama Fuji bertambah khawatir. Apalagi kalau ia benar-benar terbangun dan berakhir digunakan oleh orang itu sebagai senjata.
Mungkin ia bisa membuat masa depan si anak tanpa orang tua ini lebih cerah daripada menjadi suram. Jika benar-benar terbangun, anak ini akan ia culik dan mungkin saja salah satu rumah tak beruntung akan jadi tempat bernaung. Tapi, bisakah dirinya beserta si anak keluar dalam keadaan lengkap tanpa sedikit luka? Ia berpikir sebentar, hingga Fuji teringat akan Alakazam milik koleganya, mungkin bisa digunakan karena telah menguasai Teleport.
Disela-sela berpikir, Fuji menyadari ada gelembung terbentuk di tempat tak seharusnya, ia perhatikan dan ternyata itu dari arah tangan si anak. Mata laki-aki berumur tersebut melebar.
"Cepat kosongkan air ditangki dan bawakan handuk beserta pakaiannya!"
Mendengar perintah dari atasan mereka, beberapa ilmuwan mulai menyibukkan diri. Entah menuju komputer atau memang meminta salah satu anggota team rocket untuk membawakan baju. Fuji malah mondar-mandir tidak jelas, kekhawatiran mulai memuncak. Sedangkan ilmuwan lain mulai berbisik-bisik tanda kagum ataupun menunjukkan ketidak sabaran.
Beberapa menit berselang, anggota team rocket yang diminta membawa pakaian datang bersamaan dengan bossnya, Giovanni. Fuji menatap Givanni dengan pandangan tak suka. Tapi si pemilik team Rocket ini tak peduli, ia hanya melihat ke arah tabung berisi tubuh anak.
"Oh, akan bangun? Tak kusangka lebih cepat dari perkiraan, tapi tak apa… makin cepat, makin baik" tangannya memberi aba-aba agar ilmuwan mengosongkan cairan dalam tabung.
Tabung mulai terkuras cairannya, meninggalkan si anak dengan beberapa alat untuk mempertahankan organ tubuh vitalnya sehingga bisa 'hidup'. Kemudian tabung dibuka, para ilmuwan ada yang mendekat ataupun bersiap-siap dengan handuk serta pakaian. Alat-alat mulai dilepas, menyebabkan sang anak terbatuk-batuk menyesuaikan udara sekitar. Badannya gemetar, mungkin karena kedinginan dikarenakan tanpa sehelai pakaianpun menutupi. Ilmuwan yang memegang handuk langsung menghampiri serta mengeringkan badan. Untuk mencegah ia terkena dingin hebat, handuk itu sengaja dipakai untuk menutupi badannya.
Giovanni tersenyum puas, "Ah… selamat datang subjek 24! satu-satunya yang berhasil diantara lainnya"
Mendengar ada yang bicara, anak laki-laki itu membuka mata. Memperlihatkan sepasang warna cokelat hazel nan polos. Layaknya seorang bayi baru lahir, ia menatap bingung orang-orang sekitarnya. Ia bersin, mungkin terkena flu.
"Nah, aku hanya melihat bagaimana hasilnya. Jadi aku harus kembali, banyak pekerjaan" Givanni meninggalkan kerumunan tersebut
Fuji menatap Giovanni kesal, tapi langsung dikesampingkan. Dirinya lebih fokus ke anak laki-laki dengan pandangan entah itu campuran bingung, takut tapi ada sedikit penasaran disana. Ia tersenyum lembut, mendekati dan kemudian menyesuaikan tingginya dengan cara berdiri dengan lutut.
"Nah, nak! Ada banyak hal yang akan kita pelajari! Aku juga percaya pasti kau akan suka Pokémon!" ucap Fuji
"A-aku… sub-jek 24? A-ahh… Pokémon?" anak laki-laki itu terbata-bata dalam merangkai kata
Fuji terkejut mendengar anak tersebut mengetahui beberapa kata, tapi ia tersenyum lembut lagi.
"Bukan nak… kau itu anakku"
"Anak?"
"Ya, jadi panggil aku Ayah"
Author : Chapter dua! Maaf kalau ada typo! Saya ngetik ngebut (sambil nggak niat) yaudah! See you!
