Naruto © Masashi Kishimoto

Story © MaelaFarRon

.

Pair : Sasusaku

Genre : Drama/Romance

Rated : T

.

Warning : Abal,GAJE,Typo,terlalu banyak dialog,OOC.

.

Change Chapter 2

.

Enjoy ya~

.

.

Dalam keadaan yang tidak memungkinkan, kenapa Itachi harus datang menemui Sasuke, sudah cukupkah dengan kesialan-kesialan yang Sasuke alami hari ini. Alih-alih tak ingin memikirkan itachi, rupanya sosoknya datang mengunjunginya. Sasuke jadi semakin gondok dengan itachi.

Itachi yang baru saja datang bermaksud untuk melihatnya, kini telah di hadiahi tatapan yang mematikan oleh adiknya, "Jangan memandangku seperti itu, Baka Otouto.."

Tuing #

Jadilah Sasuke yang semakin kesal, seharusnya dia yang marah disini, bukan dia yang dimarahi. "Keluar, dari, kamarku, sekarang" Perintahnya denga nada penuh penekanan dan sinis. Tidak peduli yang sedang di ajak bicara itu kakaknya, atau siapalah. Yang penting sekarang sasuke sedang kesal tingkat dewa.

Itachi menghela nafas beras, "…ternyata sifatmu belum juga berubah.." Gumam Itachi.

GREP!

"HEI-"

"KELUAR SEKARANG! JANGAN MENGGANGGUKU! Kau-.. Ugh.." Habislah kesabaran Sasuke, sejak pagi tadi amarahnya ingin sekali meluap keluar, dan akhirnya sekaranglah amarahnya itu meledak. Dia menyeret Itachi keluar dengan kasar. Sudah cukup, Sasuke sangat lelah, tidak ada tenaga untuk sekedar mengobrol dengan Itachi, apalagi itu mengenai masalahnya.

BRAKK!

Sasuke membanting kuat pintu kamarnya, dan kembali menjatuhkan diri pada kasurnya. Ternyata Sasuke kalau marah sangat menyeramkan.

.

.

.

Hari menjelang malam, Sasuke bahkan belum keluar dari kamarnya semenjak pulang sekolah. Sebegitu lelahnyakah dia sampai-sampai tidak keluar dari kamarnya.

Cklek..

Sasuke keluar dari kamarnya dengan pakaian santai. Kaos oblong, dan boxernya. Tatapan mata tajamnya mengarah pada sosok kakak yang sedang menikmati kopi pahitnya di meja makan dengan membaca majalah.

"Sudah puas tidurnya?" Ujar Itachi menyindir.

Sasuke hanya mendecih dan langsung menuju ke dapur, berniat untuk mengambil itu dia kembali ke meja makan, bergabung dengan Itachi. Sasuke mengambil duduk tepat di hadapan Itachi. Dia menatap kakaknya itu dengan sinis.

Itachi yang merasa di hujani tatapan yang tak mengenakkan itu langsung saja melirik Sasuke yang ada di depannya. "Jangan menatapku seperti itu.." Tegur Itachi datar dan kembali ke majalahnya.

Sejenak kebisuan melanda di ruang makan itu, sampai akhirnya Sasuke membuka suarannya. "Kenapa kau datang kemari?" Tanya Sasuke datar. Namun ada nada kesal dari caranya bertanya itu.

Itachi menutup majalahnya, dan beralih menatap Sasuke tenang. "Kenapa? Tentu saja untuk melihatmu, kau tidak menghubungiku setelah sampai di konoha.." Jawab Itachi.

Sasuke mendengus, "Buat apa aku menghubungimu, bukankah kakashi sudah menghubungimu? Lagi pula, aku baru satu hari di sini, dan itu sangat menyebalkan.." Dia teringat akan kejadian yang membuatnya kesal di sekolah, dasar siswa-siswi tidak punya perasaan. Hei, bukankah dulu kau seperti itu Sasuke?

Itachi menghela nafas. Kelakuannya bukan semakin membaik, malahan semakin membuatnya kesal. "Oke, oke, aku minta maaf…Puas!" Jeda "…tapi Sasuke, bukankah ini sangat menguntungkan juga bagimu, maksudku, kau jadi bisa-"

"Yayaya…Terserah kau ingin bicara apa, Yang terpenting, aku tidak suka dengan penampilanku yang sekarang, itu memalukan, kau tahu!" Potong Sasuke kesal menatap Itachi.

Itachi menggeleng pelan, "Tapi untuk sekarang, aku sarankan kau harus begitu sementara.."

Sasuke melotot, "Kau sudah gila? Mau sampai kapan aku begitu? Yang ada aku dijauhi semua orang karena penampilanku seperti itu..!" Emosi Sasuke. Bahkan dia sudah berani mengatakan bahwa Itachi gila sebagai kakaknya.

Itachi mengangkat kedua bahunya, "Mungkin sampai kau benar-benar berubah, atau sampai Tou-san dan Kaa-san pulang.." Ujar itachi enteng.

Sasuke tak berkata apa-apa, dia hanya menatap Itachi sinis, dan marah yang sudah memuncak. Tak ingin melihat kakaknya itu lama-lama, dia segera bangkit dan menuju kamarnya kembali dengan emosi yang di tahan.

BRAK!

Dari ruang makan saja, Itachi bisa mendengar suara bantingan pintu yang di buat Sasuke. Itachi hanya menggeleng dan kembali membaca majalah, Namun seakan teringat sesuatu, Itachi menghentikan membacanya, dan bergumam "…Baka otouto…Dia belum makan malam…"

.

.

.

Pagi hari, pkl 06.20…

Seakan sudah terbiasa dengan rutinitasnya, Sasuke di turunkan di tempat biasa oleh Kakashi, dan melanjutkan dengan berjalan kaki menuju sekolah. Tentu saja dengan penyamarannya. Setelah sedikit berdebat dengan kakaknya tadi pagi, akhirnya dia memilih untuk tetap pada penyamarannya. Memangnya dia apa'an? Teroris?

"Ohayou…Sasuke-kun.."

Deg!

Sasuke menegang, itu suara Sakura, beneran suara Sakura. Pasalnya Sasuke baru saja turun dari mobil 2 menit yang lalu. Bahkan mobil Kakashi masih terlihat di ujung jalan sana yang berjalan dengan , sial..Apa dia melihatnya?

Sasuke berhenti berjalan dan berbalik menghadap Sakura.

Bluss..

Tiba-tiba saja terdapat semburat merah di pipinya, namun Sasuke berusaha menghilangkannya dan berusaha tetap pada posisi santainya. Itu karena Sakura terlihat cantik hari ini, Rambut pink panjang ikalnya itu di ikat ekor kuda, poni panjangnya menjuntai di sisi kiri dan kanan wajahnya, Serta dengan senyuman manisnya yang di berikan untuk Sasuke di pagi hari.

Sasuke berbalik cepat dan berjalan kembali. Sakura yang merasa di abaikan oleh Sasuke itu segera menyusul sasuke dengan kesal, dan menyamakan langkahnya.

"Hari ini aku lihat kau datang cepat Sasuke-kun," Ujar Sakura ramah.

Sasuke melirik Sakura yang sedang berjalan di sampingnya dengan wajah berseri-seri. "Kau melihatnya?" Tanya Sasuke mengerutkan keningnya.

Sakura menatap Sasuke dengan bingung, "Hm? Melihat apa?" Tanya balik Sakura dengan mata lebarnya.

Sasuke segera memalingkan wajahnya berusaha menghindar dari tatapan Sakura yang menurut dia itu,..ugh..manis sekali. "Bukan apa-apa" Kata Sasuke singkat.

"Kau tidak bersama pemuda itu?" Tanya Sasuke menatap kedepan.

Sakura menggeleng pelan, "Aku lebih suka berjalan kaki, sambil menikmati udara pagi.." Jeda "…dulu aku selalu berjalan kaki sendiri ketika pergi sekolah, tapi sekarang tidak lagi.." Lanjut Sakura tersenyum menerawang.

Sasuke mengerutkan keningnya heran, "Kenapa?" Tanya Sasuke bingung.

Sakura menatap Sasuke, "Loh, kan sudah ada Sasuke-kun, Berarti, kita akan sering berjalan bersama dong, iya kan?" Jawab Sakura masih tetap tersenyum manis.

Sasuke yang mendengar itu langsung mempunyai semburat kecil di kedua pipinya. Baguss.. Baru saja beberapa menit bersama, Sakura sudah membuat Sasuke blushing dua kali. Sakura harus di beri penghargaan atas sifatnya yang kelewat polos itu.

.

.

Setelah sampai di depan gerbang sekolahnya, seluruh siswa-siswi menatapnya dengan berbisik-bisik. Ada yang menatapnya dengan kaget, dan ada juga yang menatapnya sinis. Pasalnya Sasuke si culun sedang berjalan bersama dengan Haruno Sakura, yang notabene adalah primadona di sekolah sekaligus tunangan Sabaku Gaara sang idola.

Sasuke yang melihat itu dari balik kacamata besarnya hanya terdiam, lalu melirik Sakura. "Sakura, sepertinya mereka tidak suka melihat kita bersama.." Gumam Sasuke, namun masih bisa di dengar oleh Sakura.

"Hmm..biarin saja, itu 'kan menurut mereka.." Jawab Sakura mengabaikan omongan Sasuke.

Sasuke menatap Sakura heran, "Maksudmu?" Tanya Sasuke.

"Iya, itu 'kan menurut mereka, tapi aku senang kita bersama.." Jawab Sakura enteng sambil tersenyum.

Sasuke menahan nafas, tidak pernah dia bertemu dengan gadis seperti Sakura, ck, sial! Tapi, apa Sakura benar-benar senang bersamanya? Atau hanya kasihan padanya? 'Buat apa kau pikirin, Sasuke, sadarlah' Batin Sasuke menggeleng pelan.

Namun, dia teringat oleh perkataan kakaknya itu sewaktu di oto, 'aku hanya ingin mengetahui setiap gadis yang ingin mendekatimu, apa mungkin, mereka mendekatimu dengan cinta yang tulus, bukan cinta kepada hartamu,' Sasuke terdiam. Sampai akhirnya Sakura memanggilnya untuk pamit duluan karena ada jadwal piket untuknya. Sasuke pun mengangguk singkat dan menatap Sakura yang berlari menjauhinya dengan pandangan yang sulit di artikan.

.

Sasuke menatap bosan guru yang sedang mengajar di depan kelasnya, tidsk biasanya dia benar-benar serius memperhatikan sang guru. Karena bagi sasuke tidak perlu di perhatikanpun, suara guru yang masuk ketelinganya saja sudah cukup untuk mencerna semua soal yang akan di kerjakannya nanti.

Sasuke melirik keperutnya, kenapa tiba-tiba perutnya terasa sakit? Apa karena dia semalam lupa makan, bahkan tadi pagi dia hanya sarapan sepotong roti, dan itu belum cukup untuk mengganjal perutnya. Mengingat itu Sasuke menghela nafas berat.

"sstt..sstt…Sasuke, hei, Sasuke.." Panggil Naruto berbisik dan sedikit menolehkan kepalanya. Sasuke menatap Naruto datar yang berada di depannya itu. "Bagaimana kalau kita nanti ke kantin, kau mau kan?" Ajak Naruto masih tetap berbisik pelan.

Pas sekali! Kalau begitu, dia akan ikut Naruto ke kantin dan segera mengisi perutnya yang keroncongan itu. "Hn" Gumam Sasuke.

Melihat itu Naruto memekik pelan, "Yes.." Gumam Naruto. Dan tanpa dia Sadari, sensei yang tadinya sibuk menerangkan, kini sudah berada di samping Naruto dengan tatapan mengerikan.

TUK!

"Perhatikan, Naruto!" Ujar sensei itu tegas dan seram setelah menjitak kepala Naruto.

Sedangkan Naruto mengaduh kesakitan.

.

.

Kantin..

Kini Sasuke dan Naruto sudah berada di kantin dan memesan makanan mereka masing-masing. Dan hanya tinggal mencari tempat duduk yang kosong. Tetapi saat hendak menuju bangku yang kosong, kejadian sewaktu pertama datang ke sekolah terulang lagi.

Tak..

Brukk..

PRANG..!

Sasuke terjatuh dan semua makanannya tumpah berserakan, Kacamatanya terlepas jatuh entah kemana.

Seluruh pengunjung kantin menertawakannya. Naruto yang melihat itu terkaget-kaget dan menghampiri Sasuke.

"Ups, sorry lagi.." Ujar Gaara tersenyum menyeringai. "Setimpal 'kan, untuk orang yang telah mendekati Sakura-ku.." Lanjutnya.

Sasuke langsung bangkit dan menantang Gaara, Onyx nya yang tidak terhalang kacamata itu menatap sangar mata Gaara. Dia mencengkram kerah kemeja sekolah Gaara dengan keras, "Apa masalahmu.." Gumam Sasuke tajam dan dingin.

Tidak peduli dia akan membongkar semua penyamarannya, tidak peduli si baka Itachi memarahinya, dan dia tidak peduli akan membuat gempar seluruh sekolah ini. Sasuke sekarang hanya bernafsu untuk mengeluarkan amarahnya dan meninju muka Gaara saat ini.

"hei lihat itu si Sasuke,.."

"itu beneran dia, si culun itu?"

"Tampan juga ya.."

Bisik-bisik pun mulai terdengar di sekelilingnya, Sasuke melihat sekelilingnya tanpa melepaskan cengkramannya pada kerah kemeja Gaara. Namun onyx nya berhenti pada sosok gadis yang selama dua hari ini selalu mengajaknya mengobrol.

Sakura berdiri di sebelah Naruto dengan mematung, dia menatap Sasuke tak percaya, Bola mata emeraldnya melebar dengan sempurna. Begitu juga dengan Naruto.

Sasuke segera melepaskan cengkramannya dengan menyentaknya, dan berjalan melewati Sakura dengan menatap kedepan. "Ayo, naruto, kita pergi.." Gumam Sasuke pelan. Naruto yang mendengar itu akhirnya tersadar dan segera menyusul Sasuke dengan masih membawa makanannya.

Sakura menatap kepergian Sasuke dengan pandangan nanar, lalu dia meliat kacamata Sasuke yang masih tergeletak di bawah. Sakura segera mengambilnya perlahan dan berusaha pergi dari kerumunan itu.

Gaara segera mengejar Sakura, dan menarik lengannya namun di tepis oleh Sakura dengan kasar.

"Sakura a-"

"CUKUP!" Potong Sakura tegas. Dan itu berhasil menarik kembali perhatian semua yang ada di kantin.

Sakura menggeleng pelan, "Jangan ikuti aku," Jeda

"…dan jangan bicara padaku.." Gumam Sakura dan berlalu meninggalkan Gaara yang memandang Sakura dengan pandangan bersalah.

Gaara melihat sekelilingnya yang menatapnya dengan pandangan kasihan. "APA YANG KALIAN LIHAT?! HAH!" Teriak Gaara emosi dan setelah itu pergi dari kantin.

.

.

"Hei, kau yakin tidak mau..?" Tanya Naruto menyodorkan makanan yang di belinya tadi.

Sasuke menggeleng pelan, "Tidak usah, kau saja yang makan.." Tolak Sasuke berbaring dan memejamkan matanya.

Naruto mengendikkan bahunya dan segera makan.

Setelah kejadian tadi, mereka langsung ke atap sekolah dan menenangkan diri, lebih tepatnya Sasuke yang menenangkan diri. Sasuke di hujani tatapan bertanya oleh Naruto, namun Sasuke bilang akan memberitahukannya nanti, setelah Naruto menghabiskan makanannya.

Sungguh, Sasuke pernah membayangkan hal ini akan terjadi, namun tidak pernah terbayangkan akan terjadi secepat ini. Bahkan belum ada seminggu dia di sekolah ini. Diam-diam Sasuke menghela nafas lagi.

Puk!

Sasuke merasakan benda asing bertengger di atas perutnya, Penasaran, Sasuke membuka matanya perlahan. Dan hal pertama yang ia lihat adalah wajah cantik Sakura yang tengah memandangnya dengan senyum manis. Hal itu tentu saja membuat Sasuke segera mengalihkan pandangannya ke arah lain.

"Kotak..bekal?" Gumam Sasuke menatap kotak bekal yang terbungkus kain pink di perutnya.

Sakura mengangguk, "Untukmu, kau pasti belum sarapan.." Raut wajah Sakura berubah menjadi sendu "….aku lihat tadi di kantin, makananmu jatuh.." Lanjutnya.

Naruto yang melihat itu tidak ingin mengganggu, jadi dia memutuskan untuk tetap makan.

"Sakura-"

"Gomen, Sasuke-kun..maafkan aku, dan maafkan kelakuan Gaara tadi,.." potong Sakura dengan mata berkaca-kaca.

Sasuke menatap Sakura dengan kaget, gadis ini sangat baik, Bahkan gadis ini menangis hanya karena memikirkan kelakuan tunangannya. Sasuke teringat sewaktu masih sekolah di oto, kelakuannya persis seperti kelakuan Gaara saat ini, hanya saja, dia tidak mempunyai pacar seperti Sakura. Bahkan pacarnya dulu care-care saja dengan kelakuannya yang kasar. Tidak seperti Sakura, yang tidak membenarkan kelakuan kasar tunangannya, malah ia yang bertanggung jawab atas semua kelakuan kasar tunangannya.

Tangan Sasuke perlahan bergerak untuk menghapus air mata yang mengalir di kedua pipi Sakura. "sudahlah, Kau tidak pantas menangisinya, berhentilah, menangis" Ujar Sasuke tenang, dan menjauhkan kembali tangannya. Dia juga tidak tahu kenapa tiba-tiba dia berlaku seperti tadi kepada Sakura.

Apa itu artinya,..dia telah berubah….

.

.

Sasuke termenung di balkon rumahnya dengan secangkir jus tomat yang sudah habis setengah.

Itachi yang melihat itu langsung menghampiri adiknya itu dan dengan sengaja menepuk belakang kepala Sasuke dengan koran yang di bawanya. Hal itu membuat Sasuke berteriak dan menatap Itachi sinis.

Sedangkan Itachi hanya terkekeh dan mengambil tempat duduk di seberang meja lainnya. "Ada apa denganmu?" Tanya Itachi tanpa memandang Sasuke dan mulai membuka korannya.

"…." Sasuke tak menjawab, pikirannya kembali pada kejadian siang tadi di atap sekolah dengan Sakura dan Naruto.

Flashback

Setelah Sakura mengembalikan kacamata Sasuke, Sakura menyuruh Sasuke untuk makan bekal yang ia bawakan tadi.

"Aku punya satu lagi.." Ujar Sakura cepat seakan tahu apa yang akan di tanyakan Sasuke. Sakura tersenyum memamerkan satu lagi bungkus bekal di tangannya. Jujur saja, Sasuke lebih suka melihat Sakura tersenyum seperti itu ketimbang menangis seperti tadi. Rasanya, dadanya tiba-tiba merasa sesak melihat sakura sedih.

"Woahh… Sakura-chan, kau membawa bekal dua bungkus.."Ujar Naruto kagum. "Tapi…kenapa?" Lanjut Naruto bingung.

"Sebenarnya, satu lagi untuk ino, tapi dia sudah keburu di traktir makan oleh sai, jadinya tidak dimakan.." Jelas Sakura kesal.

"Boleh aku mencobanya Sakura-chan.." Pinta Naruto girang.

Sakura tersenyum, "Tentu saja, Naruto.." Jawab Sakura menyodorkan kotak bekalnya.

Dan acara makan mereka pun di bumbui dengan cerita Sasuke yang membuat Naruto dan Sakura terkaget-kaget mendengarnya.

"Jadi,,kau dulu seorang brandal seperti Gaara di sekolah lamamu? Itu sebabnya kau dipindah sekolahkan oleh Ni-san mu? Begitu?" Tanya Naruto tak percaya.

"Hn, Begitulah.." Jawab Sasuke santai.

"Hahaha..pantas saja kata-katamu itu selalu kasar.." Naruto tertawa dan dihadiahi tatapan horror oleh Sasuke. Sedangkan Sakura hanya tersenyum melihatnya, tak ingin berkomentar apapun. Mengetahui Sasuke sudah jujur padanya itu sudah cukup baginya.

Naruto berhenti tertawa, "Tapi…Perubahanmu inilah yang telah membuat kita menjadi teman, dan aku senang akhirnya kita berteman, iya kan, Sakura-chan?" tanya Naruto kepada Sakura sambil tersenyum tulus.

Sakura mengangguk mantap, "Um!"

Dan Sasuke baru pertama kali merasakan hatinya menghangat, apakah ini yang di sebut sebagai teman sejati. Kalau dulu mereka berteman dengan Sasuke hanya karena sebuah title tinggi yang di sanding Sasuke, namun kali ini, mereka berteman dengan Sasuke yang apa adanya.

End Flashback

"Ni-san, apakah ini karma.." Tanya Sasuke menatap lurus kedepan.

Itachi yang merasa Sasuke berbicara dengannya itu segera mengalihkan pandangannya dari koran dan menatap Sasuke. Ada apa gerangan dengan Sasuke? Kenapa tiba-tiba adiknya itu berkata seperti itu?

"Kalau menurutmu ini adalah karma, mungkin benar.." Jawab Itachi apa adanya. "Kau yang lebih tau, karena kau sendiri yang merasakannya.." Lanjut Itachi tersenyum.

"Heh, Begitukah?" Gumam Sasuke terkekeh pelan.

"Sasuke" Panggil Itachi.

"Hn" Jawab Sasuke menoleh menatap kakaknya itu.

"Ni-san lebih suka kau yang sekarang dibandingkan dengan yang dulu.." Ujar Itachi memberi pernyataan yang sangat mengenai hati Sasuke.

Sasuke mengalihkan perhatiannya dari Itachi, dan beranjak dari duduknya sambil membawa gelas yang berisi sisa jus tomatnya. "Heh, dasar baka.." Gumam Sasuke lalu pergi meninggalkan Itachi yang tengan tersenyum menatap kepergian Sasuke.

"Tunggu sampai Tou-san dan Kaa-san melihat perubahanmu,Otouto.."

.

.

.

Tobicontinue^^

.

Akhirnya chapter 2 Selesai, pusing! Sebentar lg mau Ujian…Huff!

Nah, jadi terimakasih buat yg udah repyu ya..! jangan bosan2 buat repyu.. ^^/

Thank to:

Vivianne Ruskov, Sasara Keiko, , Azizaanr, AAAlovers, dianarndraha, syahidah973, Shofie Kim, orange, Jungjeon, Otan, Guest, Go, Kuroko Hime-Chan.