HetaGakuen: World's Nightmare

Hetalia – Axis Power © Hidekaz Himaruya

HetaGakuen: World's Nightmare © NightmareMaid

Warning: OC, OOC, gore, etc.

~ Chapter Two: Revenge ~

.

.

Rintik hujan yang terjatuh dari langit tidak mengurungkan pria berambut cokelat tua itu untuk melangkahkan kakinya menjauh dari tempat di mana ia berada. Ya, sebuah tempat sunyi berhiaskan batu-batu besar bertuliskan nama, tanggal lahir juga tanggal kematian. Tentunya kalian sudah bisa menebak. Dimana gerangan pria dengan keriwil di sebelah kirinya itu berduka kini.

Kemarin malam, saudara kembarnya ditemukan tewas dengan kondisi yang sangat mengenaskan. Bersama dengan sang kekasih berketurunan Belgia yang tidak kalah mengerikan kondisi tubuhnya. Terkoyak. Seperti bangkai yang tidak pernah hidup sebelumnya.

Walaupun sebenarnya ini bukan kali pertama pria Italia itu melihat pemandang mengerikan itu di depan matanya, tentu ia masih bersedih hatinya. Yang terbujur seperti itu dihadapannya bukan orang lain. Kakaknya. Orang yang selama ini telah mengajarkannya banyak hal sekalipun kasar diterimanya dari pelajaran hidup yang diajarkan mendiang kakaknya.

Ia sendiri—tanpa sang kakak yang biasa menemani tidurnya di malam yang dingin.

"Fratello," panggilnya dengan suara yang terdengar sedikit parau. "Beristirahatlah dengan tenang di sana, ve."

Pria itu mengelus batu berwarna abu-abu bertuliskan nama sang kakak dengan perlahan. Seolah kini ia sedang mengelus wajah sang kakak. Bulir-bulir air mata kembali terjatuh dari sudut mata beriris hazel miliknya. Ia menangis. Namun tersamar oleh hujan.

"Aku yang akan membalaskan dendammu." di sela air matanya, pria itu tersenyum. Bahkan ia mulai tertawa tidak jelas di tengah guyuran hujan di pemakaman sepi itu. Seolah ada sebuah hal yang lucu.

Kedua pupil matanya mengecil bersamaan dengan diangkatnya sebagian wajahnya yang sedari tadi tertunduk menghadap tanah. Pria itu menggerakkan bibirnya untuk mengucapkan sebuah kalimat. Namun sayang sekali suara pria itu kalah dengan suara hujan hari ini.

Pria itu bangkit dari tempatnya berduka tadi setelah sebelumnya mencium batu yang menjadi pemisah alamnya dengan alam sang kakak. Ia mulai melangkahkan kakinya. Berjalan menjauhi tempat itu dengan kedua telapak tangan yang ia masukan ke dalam saku jas hitamnya. Ia kembali menarik kedua sudut bibirnya untuk tersenyum. Walau tidak jelas hal apa yang membuat pemilik iris hazel itu tersenyum. Ya—sudahlah. Setidaknya ia sudah bisa tersenyum sekarang.

I'll take my revenge, big brother.

.

.

"Bukankah ia hebat, hm? Ia berhasil membunuh target kita!" ujar seorang perempuan beriris merah darah seraya tersenyum senang.

"Iya. Tapi entah kenapa aku merasa kasihan kepada Feliciano. Ia terlihat murung belakangan ini." jelas seorang wanita beriris sapphire seraya melipat kedua tangannya di depan dada. Ditatapnya seorang pria berambut cokelat yang tengah terduduk di sebuah bangku taman seraya membaca sebuah buku—dengan tatapan kosong, dari balik jendela berbingkai putih itu.

"Oh, ini 'kan permainan, Belle. Jangan terlalu dipikirkan. Bukankah ia menganggukkan kepalanya ketika kau menawarinya bermain, hm?" wanita lainnya dengan rambut pirang sepinggang lengkap dengan sebuah jepitan cross berwarna putih berkata. Sementara Belle hanya bisa menganggukkan kepalanya.

"Kalau begitu, siapa target kita selanjutnya? Aku sudah tidak sabar melihat banyak darah lagi di sekolah ini!" ujar Chi, wanita beriris merah darah dan berambut hitam tadi seraya mengelus kapak yang selalu ia bawa secara diam-diam ke sekolah itu.

Bianca Luz, wanita berambut pirang dan beriris ungu tersebut menjilat bibir bawahnya sendiri, "Aku sudah mengetahui orang yang tepat dalam permainan selanjutnya."

.-.-. World's Nightmare: Revenge .-.-.

"Muchas gracias, hermana! Masakanmu enak sekali!" puji seorang pria berambut cokelat tua seraya mengelus perutnya. Sepertinya ia kekenyangan setelah menyantap bekal yang dibuatkan oleh sang kakak.

"Ya, ya, ya! Terserah! Besok giliranmu yang membuatkan bekal!" balas seseorang yang dipanggil hermana itu seraya memutar kedua bola matanya. Sejujurnya, ia sangat malas berhadapan dengan adiknya yang satu ini. Tapi apa boleh buat? Hanya dirinyalah satu-satunya keluarga yang dimiliki oleh pria berketurunan Spanyol yang saat ini tengah tersenyum bodoh kepada dirinya.

"Tentu! Aku akan membuatkan bekal untukmu, hermana! Tonio 'kan adik yang baik!"

Maria, nama wanita itu, akhirnya menarik kedua sudut bibirnya untuk tersenyum tipis. Ia mengulurkan tangannya untuk mengacak-ngacak rambut adiknya, Antonio Fernandez Carriedo. Sesekali tak apalah untuk bersikap seperti itu sebagai seorang kakak. Ya—walaupun ada rasa sebal.

"Hermana, boleh aku meminta sesuatu darimu?" tanya Antonio yang sedikit mengagetkan Maria. Tumben sekali sang adik mengatakan hal seperti itu.

"Apa itu?"

Antonio menarik napas sejenak. Ia menolehkan kepalanya dan mulai menatap lekat iris sapphire milik sang kakak. Tersenyum kecil kemudia berkata, "Berjanjilah kau tidak akan pernah melepaskan cincin di jari manismu yang aku berikan itu. Itu sebuah tanda kalau kita bersaudara. Dan juga—berjanjilah bahwa kau tidak akan pernah meninggalkanku."

Maria menaikkan sebelah alisnya, "Apa masakanku tadi meracuni pikiranmu, huh?"

"Tidak kok," Antonio menggelengkan kepalanya. "Hanya saja—aku merasa kau akan pergi jauh dari sisiku. Terlebih lagi semenjak kasus kematian Lovino dan Bella. Aku takut sesuatu yang buruk terjadi padamu, hermana. Oleh karena itu, aku ingin kau berjanji."

Mendengar hal itu, Maria hanya dapat tersenyum seraya kembali mengacak-ngacak rambut adiknya. Ia merasa senang sekaligus terharu.

"Sepertinya aku tidak akan memasak untukmu lagi, irmão. Aku takut membuatmu out of character lebih dari ini," Maria terkekeh kecil. "Baiklah, aku berjanji. Aku tidak akan pernah melepaskan cincin ini. Begitu pun denganmu. Jangan lepaskan cincin itu jika kau tidak mau hubungan Iberiancest ini lenyap."

"Hee~? Apaan tuh Iberiancest?" tanya Antonio seraya memasang ekspresi polos di wajahnya.

"Jangan sok tidak tahu! Bodoh kau!" Maria mencubiti pipi sang adik dengan gemasnya.

Hubungan saudara itu memang indah, bukan? Seperti halnya sepasang kakak beradik berbeda negara itu. Di bawah langit biru yang menjadi saksinya, mereka mengikat janji untuk selalu bersama. Semoga saja Tuhan menjaga janji mereka. Tanpa harus ada air mata yang terjatuh dari kedua mata mereka.

"Sebentar lagi kau akan merasakan apa yang aku rasakan, ve~" ujar sebuah suara yang sepertinya memperhatikan mereka sedari tadi. Entah dimana pun ia berada.

.

.

Gelap malam sudah menghiasi langit Hetalia Gakuen semenjak beberapa jam yang lalu. Namun masih saja ada beberapa siswa maupun siswi yang berada di dalam gedung tersebut. Seperti halnya Maria. Gadis dengan rambut cokelat panjang itu terlihat tengah menuruni salah satu tangga yang menjadi penghubung antara ruang kelasnya yang berada di lantai tiga, dengan loker pribadinya yang terdapat di lantai satu. Terburu-buru. Sepertinya ia mencemaskan sang adik yang sudah terlebih dahulu kembali ke rumah.

"Maria~" sebuah suara memanggil namanya tepat ketika wanita itu tengah membuka loker pribadi miliknya.

"Huh? Feliciano? Kau belum pulang?" begitu menyadari siapa orang yang tadi memanggilnya, hasrat ingin membanting sesuatu yang muncul dalam diri Maria menghilang. Malahan kini, wanita itu tersenyum ramah pada sosok pria di depannya itu.

Pria itu, Feliciano Vargas, menggelengkan kepalanya. Ia sedikit menyunggingkan senyuman di bibirnya, "Aku takut jika aku berada di rumah, ve. Aku takut menangis lagi."

"Ah—maafkan aku sudah menyinggung tentang hal itu." Maria menatap sedih Feliciano. Ia mengerti betul perasaan seorang saudara yang baru saja ditinggal mati saudaranya. Terlebih lagi mereka sepasang saudara kembar.

"Tidak apa, ve," Feliciano mengangkat wajahnya untuk menatap Maria. "Waktu itu… yang bersama dengan fratello terkahir kali itu…" Feliciano mulai melangkahkan kakinya untuk mendekati wanita beriris sapphire itu. "Antonio, 'kan?"

Maria yang merasa bingung akan perubahan atmosfir di sekitar mereka. Perlahan mengambil satu langkah mundur. Menjauh dari Feliciano.

"I-iya. Ta-tapi kenapa tiba-tiba kamu seperti ini, Feli? Kemana senyum bodohmu itu? Apa kau berpikir—"

"Iya," Feliciano tersenyum senang. Bulir-bulir air mata mulai terjatuh dari kedua sudut matanya. "Ya—aku memang berpikir kalau Antonio lah yang membunuh kakakku. Benar, 'kan? YA, 'KAN?" Feliciano mengeluarkan sebuah gunting rumput dari balik jas seragamnya. Ia mulai tertawa sekeras-kerasnya. Membuat Maria ketakutan. Ditambah lagi dengan petir yang mulai menyambar-nyambar. Mungkinkah malam ini akan menjadi malam yang semakin menakutkan baginya?

"Dan dengan benda yang aku pinjam dari dia ini. Aku akan mengambil dendamku. Dendam atas sakitnya kehilangan saudaraku sendiri, ve." Feliciano mulai menghunuskan gunting besar itu ke arah Maria. Beruntung sekai Maria berhasil menghindar dari serangan itu. Ia mulai memakai sepatunya dan berlari menjauhi loker miliknya.

"Percuma saja kau lari, ve. Aku sudah menguci semua ruangan di gedung ini. Termasuk ruangan-ruangan dimana para murid lainnya berada, ve." Feliciano hanya melangkahkan kakinya dengan santai untuk kembali mendekati wanita berambut cokelat panjang itu.

"Sial! Seseorang tolong aku!" teriak Maria seraya menggedor-gedor pintu yang pembatas antara ruangan loker dan bagian lainnya dalam gedung itu.

"Percuma, ve."

Maria yang menyadari keberadaan Feliciano yang semakin mendekati dirinya. Mulai mencari celah untuk kabur dari pria baik hati yang ternyata seorang psikopat itu.

"Kau sudah gila!" Maria yang berhasil menemukan celah untuk kabur dari pria Italia itu langsung berlari menuju ke sana. Sayang sekali pergerakkan kedua kaki Maria kalah cepatnya dengan pergerakkan tangan kiri Feliciano yang berhasil mencengkram kepalanya yang bahkan tanpa harus menolehkan kepalanya.

"Sudah kubilang itu percuma, ve," Feliciano menarik tubuh Maria dan memeluk wanita itu dari belakang. "Aku akan membuat Antonio merasakan sakit ini." Feliciano mulai melebarkan dua mata pisau gunting tersebut dan mengarahkannya ke leher jenjang milik Maria.

"Jangan! Kumohon! Antonio tidak bersalah! Bukan dia yang membunuh kakakmu! Jangan libatkan kami dalam masalah ini!" teriak Maria sekeras mungkin. Air mata perlahan turun dari sudut matanya. Inilah ketakutan terbesarnya dalam hidup.

"Oh~ tapi dia yang terakhir bersama kakakku, ve."

"Masih ada Bella!"

Feliciano tertawa mendengarkan ucapan itu.

"Bella katamu? Dia bahkan mati bersamanya!" Feliciano semakin mempersempit jarak antara kedua mata pisau itu dengan leher Maria.

"Tapi—"

"Selamat tinggal, Maria~" Feliciano langsung menempelkan kedua mata pisau itu di leher wanita dalam pelukannya itu. Ia mengguntingnya seperti tengah menggunting sebuah kertas. Ia tidak peduli dengan darah yang bermuncratan seperti air yang keluar dari berbagai urat yang terdapat di leher itu. Maria yang tentunya merasa sangat tersiksa dengan itu sudah tidak bisa mengeluarkan rintihan apapun lagi. Yang terakhir dilihatnya hanyalah gelap. Semuanya gelap sebelum akhirnya ia kehilangan nyawanya di tangan Feliciano.

"Wah, wah~ cepat sekali matinya, ve~" Feliciano melepaskan pelukannya. Membiarkan tubuh yang penuh dengan darah itu terjatuh begitu saja dengan kepala yang nyaris terpisah dari tubuhnya. Ia mendekati tubuh itu seraya menggenggam tangan kanan yang sekarang sudah tak bertuan lagi. Iris hazelnya sibuk memandangi sebuah cincin emas yang melingkar di jari manis wanita itu. Ia pun kembali memainkan gunting besar itu memotong satu persatu jari jemari Maria.

Tidak ada penyesalan yang tersirat. Ia malah tertawa senang. Seperti seorang anak kecil yang baru saja mendapat mainan.

"Apalagi ya, ve~?" Feliciano mengelus-ngelus dagunya. Mencari bagian tubuh mana lagi yang harus ia mainkan.

Dan pandangannya pun tertuju pada bagian atas tubuh Maria. Tanpa banyak bicara lagi, Feliciano langsung membuka paksa kulit yang menutupi organ dalam milik Maria.

"Ve~" Feliciano yang sudah berhasil melihat bagian dalam organ Maria, segera menggunting beberapa urat yang menempel pada bagian jantung itu. Ia mengeluarkan jantung tak berdetak itu dari tempatnya semula berada.

"Indahnya, ve. Dan ini semakin indah karena sudah tidak berdetak lagi." ujar Feliciano seraya menghirup aroma darah yang menempel pada jantung itu. Juga yang berceceran di seragamnya maupun di lantai.

"Wah~ di luar hujan. Aku harus segera pulang~" Feliciano beranjak pergi meninggalkan tubuh Maria. Namun ia berubah pikiran dan kembali mendekati tubuh berlumuran darah itu. Ia menggeretnya dan meletakkannya di loker pribadi pemilik tubuh itu. Lengkap dengan potongan jari dan cincinnya. Hanya saja jantungnya—dibawa pulang sebagai hiasan.

"Oh ya, satu lagi, ve." Feliciano mencolek darah yang masih basah dan menempel di pipinya. Ia menuliskan sebuah kalimat sebelum akhirnya meninggalkan loker yang perlahan ia tutup.

.

.

"Semuanya! Jangan mendekat!" teriak seorang guru untuk memperingatkan para muridnya.

"Ada apa lagi memangnya?"

"Ada seorang murid lagi yang terbunuh. Mayatnya ada di dalam loker ini." jelas guru tersebut yang langsung membuat gempar seisi gedung. Termasuk dia.

"Minggir!" dia, pria dengan rambut cokelat tua dan iris emerald itu menerobos kerumunan guru dan siswa yang berada di sekitar loker itu. Dengan terengah ia menatap tak percaya loker yang penuh dengan bercak darah itu.

Setelah menelan ludah dan memberanikan dirinya untuk membuka pintu tersebut, pria itu menempelkan salah satu telapak tangannya dan mulai membuka pintu loker itu perlahan. Sampai akhirnya—

Maafkan aku yang tidak bisa menjaga janji kita.

Sebuah cincin emas terjatuh dari dalam loker itu. Sebuah cincin yang sama seperti yang tengah dikenakan oleh pria itu pada jari manisnya.

Maafkan aku yang ternyata sudah harus pergi meninggalkanmu terlebih dahulu.

"HERMANA!"

This is my revenge…

~ To be continue ~

A/N: !Hola~ maafkan saya karena terlalu lama mengerjakkan fict ini dari target semula. /dibunuh Frau Haruka dan Frau Tjoo/ dan lagi… MAAF KALAU INI FAIL BANGET! Saya ngejar waktu, karena beberapa hari yang lalu sibuk dengan urusan sekolah. Orz! /jangancurhat

Disini saya berusaha memenuhi permintaan TeQueiro-san yang merequest pairing Iberiancest (alasan lain karena saya memang suka pairing ini dengan fem!Portugal XD), tapi maaf karena dalam cerita ini salah satu dari pairing itu akan mati. ; u ; dan juga maaf buat minna-san yang sudah merequest, request-an kalian kami tampung dulu ya~

Dan biasanya saya menamai fem!Portugal dengan Belle Julians. Tapi ternyata Belle yang saya maksud udah jadi anggota Nightmare United duluan. Lol! Jadi mendadak ngasih namanya. Orz~!

Sekali lagi saya minta maaf atas kekurangan dalam chapter ini. Tapi saya atau kami menunggu review dari kalian semua. :3

Sampai bertemu di chapter selanjutnya bersama Frau Tjoo! XD

Sign,

Uchiha Ry-chan / Frau Ry

Special thanks to: thisangtjoo, Ichigo Kenji, TeQueiro, Memenesia, Mokakoshi, apa aja boleh, Kuroneko Lind, dan Nom nom.

OMAKE (By Darkness Maiden) :

"Hei..." seorang wanita beriris merah darah terlihat berbicara ke sebuah rumah tua yang nyaris rubuh dan sudah terbakar. "Aku... masih ingin merasakan kasih sayang kalian. Aku mau kalian membelai, mencium, memberi nasihat... bahkan memarahiku," wanita yang diketahui bernama Chi Monroe itu mulai menangis. "Aku benci... tidak ada yang peduli padaku sama sekali... aku ingin diperhatikan dan disayang kalian!, tapi... itu tidak mungkin kan?" kini Chi mulai menangis keras. "Ayah, ibu, kakak... tenang saja... aku akan membalas dendam kalian! dia dan semua orang yang berhubungan dengannya... akan aku bunuh dengan kapak kalian ini. DIA AKAN MERASAKAN KEPEDIHAN DAN KESENDIRIANKU!" ujar Chi seraya berjalan dengan senyum menyeramkan di wajahnya. baru lima langkah dia berjalan, dia kembali tersenyum ke rumah itu.

"Welcome to your nightmare..."

dan Chi pun kembali berjalan meninggalkan rumah itu