Fairy Tail © Hiro Mashima

Living Under One Roof Create by StrawberryVanila

Summary: Lucy Heartfilia, seorang gadis SMA biasa-biasa saja secara tidak terduga mendapat satu Apartemen dengan seorang aktor terkenal! Tapi bukan perasaan senang yang dirasakannya, melainkan rasa jengkel dan niat untuk mencekik pria itu karena sudah merusak barang berharganya. First Collab Fanfic antara Minako-chan Namikaze dan janeolivia750.

.

.

"Kau ?! Apa yang kau lakukan disini?" Teriak Lucy sambil beranjak dari tempat tidur, telunjuknya menunjuk ke wajah polos pemuda Dragneel itu.

"Aku ?! Apa yang kau lakukan disini?" teriak Natsu yang tak kalah kagetnya dari teriakan Lucy.

Seketika Lucy sweatdrop di tempat, raut wajahnya seperti mengatakan 'kenapa dia sangat bodoh?'

"Itu kalimatku bodoh! Apa yang kau lakukan disini, heh? Atau jangan-jangan tadi kau mengikutiku!"

"Seharusnya aku yang berkata begitu gadis purba, jawab aku! apa yang kau lakukan di Apertemenku?"

"Apertemenmu? Apertemenmu ?! Heh, beraninya ngaku-ngaku! Asal kau tahu saja ini Apertemenku, aku baru saja membayar apertemen ini, dan lihat ini aku memiliki kunci Apertemen ini" Teriak Lucy sambil menunjukkan kunci pintu Apertemennya kepada Natsu dan menggoyang-goyangkannya.

"Heh, kau ini, Kalau begitu ini apa?" Tanya Natsu mengambil duplikat kunci pintu Apertemennya lalu menunjukkannya sambil ikut menggoyang-goyangkan di depan wajah Lucy.

Hati Lucy mencelos, sehingga membuatnya diam seribu bahasa, ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi, otak pintarnya sedang mencerna apa yang baru saja dialaminya.

"LEVY !"


"Hachuu" Terlihat seorang gadis berambut biru sedang mengambil tisu untuk mengelap hidungnya

Drrtt.. Drrtt..

"Eh siapa itu? Moshi-Moshi?"

"LEVYY !" Teriak Lucy dari ujung telpon dengan suara yang tentunya gak bisa dibilang normal lagi, dengan segera Levy menjauhkan telinganya dari telepon genggamnya 'ada apa dengannya?'

"Lu-chan kau ini bagaimana sih? Pelan-pelan juga sudah kudengar kok.." Ucapnya sambil mengusap- usap telinganya.

"Levy, apa kau yakin kau memberikan alamat Apertemen yang benar untukku?" Tanya Lucy tergesa-gesa.

"Tentu saja Lu-chan, mana mungkin aku salah, bagaimana? Baguskan Apertemennya? Kata temanku kau cukup beruntung bisa mendapatkan apertemen semewah itu dengan harga yang cukup murah."

"Bagus jidatmu! Apartemennya memang bagus, tapi kenapa bisa ada mahkluk lain di sini?"

Levy bisa merasakan bahwa Lucy sedang cemberut disana, tapi apa tadi katanya makhluk?

"Maksudmu? Aku tak mengerti Lu-chan" Tanya Levy sambil duduk di sofa rumahnya.

"Saat aku masuk ke dalam Apertemen ini, ada pemuda berambut pink yang sedang tidur di ranjangku, Huaaaa Levy-chan! Ayolah Levy-chan, coba kau ingat-ingat dulu, mungkin kau salah memberikan alamat kepadaku." Rengek Lucy.

"Tidak mungkin Lu-chan. Tapi sepertinya.. Ah iya, Gomen ne Lu-chan! Aku lupa memberitahumu kalau tadi sore Reina- san meneleponku, kalau Apertemen itu adalah Apertemen milik orang lain, katanya Apertemen itu sudah lama tidak ditinggali oleh pemilik aslinya, jadi Reina-san berpikir kalau pemiliknya, itu sudah tidak memakai apertemen itu lagi dan menjualnya kepada orang lain, Hehe.." Ucap Levy sambil menggaruk kepalanya, ia tidak menyangka bahwa pemilik asli apertemen itu masih tinggal disana.

" APA?! Bagaimana ini Levy aku sudah terlanjur membayarnya.." Suara putus asa mulai keluar dari bibir gadis bermata caramel itu, lututnya terasa lemas sekali.

"Ya sudah kau tenang dulu na—"

"TENANG BAGAIMANA? BERIKAN AKU SOLUSI LEVY!"

Bulu kuduk Levy berdiri, ia paling takut kalau sahabatnya itu sedang marah, terkadang bisa lebih menyeramkan dari ibunya sendiri saat sedang marah.

"E-eh? Lu-chan.. K-Kau berbicara saja dengan pemilik Apertemen itu mungkin dia mau bernegosiasi dengan mu—Halo, Lu-chan?" Levy melihat ke arah layar ponselnya. "E-Eh sudah terputus!"

Levy menggenggam telefonnya sebenarnya ada perasaan bersalah dalam hatinya

'Ku harap kau baik-baik saja, Lu-chan..'


"Oke dengar, aku sudah membayar apertemen ini selama 3 bulan dan aku tidak mau menarik uang itu lagi, jujur saja aku tidak mau rugi, jadi aku akan tetap tinggal disini, aku tidak peduli kau mau atau tidak. Pokoknya aku akan tetap tinggal disini!" Ucap Lucy sambil menghepaskan tubuhnya di sofa dengan menunjukan raut wajah bossy (yang sepertinya warisan dari ayahnya).

"Hei, tidak bisa begitu! aku sudah membeli Apertemen ini, aku juga tidak mau rugi!" Ucap Natsu tak mau kalah.

"Kau kan artis! Beli saja Apartemen baru! Dan biarkan aku hidup tenang di Apartemen ini!" sahut Lucy tidak mau kalah.

"Kau pikir kau siapa seenaknya memerintahku?! Aku tidak mau keluar dari Apartemen ini! Ini adalah tempat persembunyianku!" teriak Natsu.

"Tempat persembunyian? Kenapa tidak sembunyi di tempat lain saja! Dasar artis aneh! Pelit!" seru Lucy sengit.

"Apa kau bilang?! Terserah aku! Ini kan Apartemenku!"

"Ini juga Apartemenku, banci!"

"Berhenti memanggilku BANCI! Dasar pirang aneh!"

"Dan berhenti memanggilku aneh! Arghh! Kami-sama berikanlah aku kesabaran.." Ucap Lucy seperti merasa bahwa hari ini adalah hari terakhir kalinya ia hidup.

Akhirnya dua insan manusia itu diam selama beberapa menit—bukan beberapa jam mencari solusi yang benar agar bisa keluar dari permasalahan ini, tak ada salah satu dari mereka yang membuka topik pembicaraan, keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing, sampai akhirnya salah satu dari mereka menyampaikan solusi yang—

"Hei, daripada ribet begitu, lebih baik kita tinggal bersama saja" Usul Natsu bersemangat.

"KAU GILA? Mana mungkin aku mau tinggal satu atap dengan pria apalagi dengan makhluk aneh berambut pink sepertimu, Eww.." Lucy sepertinya tidak bisa membayangkan jika ia hidup bersama dengan pemuda pink itu.

"Hei setidaknya aku sudah memberikan usul daripada kau yang tidak memberikan usul sama sekali" Ucap Natsu tidak terima.

Lucy diam merenung, uang tabungannya sudah ia habiskan untuk membayar apertemen ini, ia tak yakin jika pemilik apertemen ini mau mengembalikan uangnya kembali, melihat dari wajah pemilik Apartemen itu sangat menyeramkan dan perhitungan sekali dengan uang.

'Well.. apa tidak ada pilihan lain yang aku punya?' batin Lucy pasrah.

"Huftt.. Baiklah aku setuju dengan ide konyolmu" Dengan berat hati Lucy menyetujui ide Natsu yang menurutnya cukup konyol itu.

"Yosh! Akhirnya aku tidak perlu mencari pembantu untuk membersihkan apertemen ini- upss."

Lucy langsung melotot mendengarnya. "Apa kau bilang ?!" Wajah Lucy mulai memerah mendengar kata Natsu, ets—bukan Karena malu tapi Karena menahan marah

'Dia pikir aku pembantunya ?!'

"Tapi tunggu, aku tidur dimana ?" Tanya Lucy.

"Tentu saja tidur dikamar bodoh."

"Ta-tapi kamar siapa? Di sinikan hanya ada 1 kamar" Tanya Lucy sambil menunjuk ke ranjang yang berada di kamar tidur.

"Kita tidur bersama saja."

"SUDAH CUKUP, KAU BENAR-BENAR GILA, TUAN! Mana mungkin aku satu ranjang dengan banci sepertimu!" Teriak Lucy.

"Hey! Kau perempuan mesum, kau kira aku mau satu ranjang denganmu?! Kau tidur di futon saja, kan aku sudah membeli, kau baru menyewa." Sindir Natsu sambil memamerkan senyum kemenangannya.

Dan suara keributan mulai terdengar lagi dari arah Apertemen itu.


Setelah mereka berdua (baca: Lucy) membersihkan apertemen itu mereka berdua memutuskan untuk duduk di sofa yang berada di depan Televisi.

"Aku jadi berpikir siapa yang akan membersihkan rumah ini untuk seterusnya, ya?" Tanya Lucy sambil duduk di ujung sebelah kanan sofa.

"Entahlah.. mungkin kamu.." Jawab Natsu asal-asalan yang sedang berusaha mengganti saluran-saluran tv secara acak agar mendapat saluran tv yang menarik.

"Enak saja kau ini, ku beritahu ya kalau kau terus-terusan seperti ini lama-lama kau akan menjadi kerbau besar yang pemalas." Ucap Lucy sambil menunjukkan wajah mengejek kearah Natsu.

"Ya, ya, terserah kau aku tak peduli." Jawab Natsu bosan tak peduli.

"Oh ya, sebelumnya kita belum berkenalan, siapa namamu?" Tanya Natsu.

"Lucy, Lucy Heartfilia" Jawab Lucy sambil tersenyum.

"Luigi ?" Tanya Natsu sambil menunjukan wajah konyolnya.

"Apa-apaan kau ini? Itu jauh sekali dari namaku! LUCY! L-U-C-Y" Ucap (baca: teriak) Lucy sambil mengeja namanya satu-persatu.

"Luce?" Tanya Natsu lagi,sepertinya Natsu perlu pergi ke rumah sakit untuk pemeriksaan THT.

"Huaahh.. Abaikan, terserah kau mau memanggilku apa, aku tidak peduli." Jawab Lucy bosan sambil memainkan kuku-kukunya yang sepertinya lebih menarik dari wajah pemuda pink yang duduk disebelahnya ini.

"Okay.." Natsu mulai memutar-mutara saluran televisi lagi.

Terhanyut dalam kesepian

.

.

.

"Kau tidak bertanya siapa namaku?" Tanya Natsu sambil menunjuk dirinya dengan telunjuk.

"Namamu... Banci pink yang tidak diinginkan seluruh dunia?"

"HEI!"

"Baiklah-baiklah... Siapa namamu" Tanya Lucy malas, sedangkan Natsu sudah sweatdrop di tempat.

"Natsu, Natsu Dragneel, pria yang paling tampan dari seluruh dunia." Ucap Natsu sambil memasang pose senyum nan gaya yang 'wow' yang sebenarnya cukup menjijikan di mata Lucy.

"Iuhh, hentikan senyumanmu itu, itu menjijikan" Ucap Lucy sambil menjauhkan wajahnya dari wajah Natsu, sementara Natsu? Ia hanya poker face mendengar jawaban Lucy.

"Okay, Kembali ke topik, kita tetap harus membersihkan Apertemen ini, bagaimana kalau kau membersihkan apertemen ini setiap hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis ? Sedangkan aku setiap hari Jum'at, Sabtu, dan minggu, Setuju?" Tanya Natsu.

"Hei! Kok curang begitu kenapa jatah hari punyaku lebih banyak? Itu tidak adil!" Jawab Lucy dengan wajah cemberut.

"Karena.. Karena kau itukan perempuan, bodoh!" Jawab Natsu, ia mulai berdiri dari sofanya seakan tetap kukuh dengan keputusannya kali ini.

"Itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan situasi seperti ini! Pokoknya aku mau adil, seadil-adilnya orang bisa adil" Lucy mulai berdiri dari sofanya juga.

"Huftt.. Baiklah.."Ucap Natsu pasrah.

"Bagaimana kalau hari minggu kita jankenpon saja" Usul Lucy.

"Okey-Okey" Sepertinya kali ini Nastu mulai percaya pada keberuntungannya kepada Dewi Fortuna.

"Umm.. Ya sudah kalau begitu.. Tapi janji kau akan membersihkan rumah ini setiap hari Kamis, Jum'at, Sabtu?" Tanya Lucy sambil mengerutkan wajahnya.

"Ya tentu-tentu." Jawabnya tak peduli dan kembali fokus ke layar tv.

Akhirnya dua manusia itu mulai fokus kembali pada kegiatan awal mereka.


LUCY POV

Saat ini aku baru saja berbelanja dari super market, tadi siangku lihat di kulkas persediaan bahan makanan yang ada hanya pasta, dan yang tentunya tidak bisa membuat Natsu kenyang, ia pasti akan merengek terus seperti bayi yang kelaparan, dia memang merepotkan, dan kalian tahu? walaupun ia berkata bahwa ia akan membersihkan apertemen selama hari Kamis, Jum'at, dan Sabtu, ia berbohong! Iya kalian tak salah baca DIA BERBOHONG!

Selalu saja ia berkata "nanti-nanti" atau "nanti Luce" atau "sebentar lagi Luce" yang pada akhirnya aku yang mengerjakan tugasnya, seperti tadi siang, dia begitu lagi! Dasar laki-laki tak betanggung jawab atau bisa disebut chicken.

(Bayangkan Natsu memakai kostum chicken) Okey. Abaikan.

Astaga! Aku tidak pernah menyangka bisa tinggal seminggu dengan pemuda pink itu, bayangkan kalian semua dengan pemuda pink itu selama SEMINGGU! SEMINGGU!

Tinggal dengan pemuda berambut pink asing yang bahkan tidak tahu dari mana asal-usulnya, tapi anehnya semuanya berjalan lancar

I hate to say this, tapi menyenangkan bisa tinggal dengannya, entah dia mendapat uang dari mana, setiap aku akan pergi ke super market untuk berbelanja bahan-bahan makanan ia selalu memberikan uangnya padaku yang tidak bisa dibilang dikit, katanya agar aku bisa membeli makanan yang banyak, bukan hanya itu ia juga orang yang menyenangkan, terkadang ia bercerita tentang keluh kesahnya (baca: kecerobohan)padaku walaupun aku orang baru untuknya, entah bagaimana ia bisa mempercayai orang baru sepertiku, aku rasa, aku juga jadi terbiasa keberadaannya.


"Hey kau lihat dia? Tak kusangka ternyata di Apertemennya ada pria, kukira itu suaminya habisnya mereka terlihat begitu akrab, Aku benar-benar tak menyangka bahwa gadis seusianya sudah menjadi telah seorang istri."

PESSHHHH

Aku merasa wajahku mulai memanas, apa-apaan ibu itu? Dia pikir aku sudah mempunyai suami? Hei! Takkah kau lihat aku masih remaja? Dan suamiku Natsu? Pemuda aneh itu, yang rambut pink? Yang menyebalkan? Yang baru tadi kubicarakan? Arghhh! Pusing kepalaku, Dasar belum tau apa-apa tapi ibu-ibu itu sudah membicarakanku seenaknya, Huh! Moodku jadi hilang sekarang, dan satu lagi, kutarik kembali kata-kataku tentangnya di paragrap yang terakhir, Huh!

Normal POV

Lucy masuk ke dalam apertemennya sambil membanting pintunya dan segera menuju ke dapur, Natsu yang sedang bersantai di sofa jadi bingung mengapa Lucy menjadi seperti ini, perasaan sebelum pergi tadi, Lucy masih baik-baik saja.

"Oi! Kau ini kenapa? Masuk-masuk sudah banting pintu seperti itu" Tanya Natsu yang ikut menyusul Lucy menuju dapur.

"Tidak apa-apa, sudah sana! Kau bersantai-santai lagi saja sana!" Usir Lucy menyuruh Natsu keluar dari dapur.

"Hey, kau masih marah denganku karena masalah tadi ya? Gara-gara aku.. Hehehe Tidak ikut membantu mu membereskan kamar?" Ucap Natsu sambil menyengir.

"Tidak! Sudah kau sana saja! Bermalas-malas saja seperti biasa, aku tidak peduli"

"Tapi Lu—"

"Pergi. Natsu." Ucap Lucy memotong ucapan Natsu, seketika aura menyeramkan keluar dari tubuh Lucy ditambah dengan penampilan Lucy yang memegang pisau tajam yang seperti siap memotong tubuh Natsu kapan saja.

"A-Aye" Segera Natsu berlari keluar dari dapur.

"Huftt.. untung aku selamat." Ucap Natsu sambil memegang dadanya.

Tuk-Tuk-Tuk-Tuk!

Saat Natsu mengintip ke dalam dapur, terlihatlah Lucy yang sedang memotong ayam tanpa ampun dan sedang mencurahkan kekesalannya kepada tiap potongannya, Yup tiap potongannya terdapat kebencian Lucy kepada Natsu.

Glup!

Natsu menelan air liurnya sendiri, ia tidak pernah menyangka bahwa Lucy bisa menjadi sekejam itu pada seekor ayam, Natsu hanya berjalan Lesu menuju sofa dan mencari hiburan dengan cara menggonta-ganti channel tv lagi, yang sama sekali tidak menghiburnya.


Sekarang dilihatnya Lucy berjalan melewatinya, dengan segera Natsu menarik pergelangan tangan Lucy.

"Hey Luce, kau tak apa? kau tampak berbeda setelah pulang dari pasar tadi" Tanya Natsu baik- baik, baik-baik.

"Iya, aku tak apa, tak perlu mengkawatirkanku, kenapa kau tak suka ?" Jawab Lucy wajahnya benar-benar menandakan Lucy sedang tidak mood dalam pembicaraan ini.

"E-eh bukan begitu, K-kau.. K-kau.." Wajah Natsu mulai memerah.

"Hm?"

"K-kau sedang PMS ya?" Tanya Natsu dengan wajah yang memerah seperti rambutnya.

Tuingg

"BAKA!" Teriak Lucy sambil berlari menuju kamarnya.

Brakk!

Pintu kamar dibanting dengar keras.

"Akukan hanya bertanya apa salahku?' Tanya Natsu sambil memanyun-manyunkan bibirnya.

Ia melihat jam di dinding rumah, tak terasa sudah jam makan malam ia segera menuju ke dapur, tapi apa yang dilihatnya ? Kosong, tidak ada makanan, tidak ada makanan sedikitpun, segera Natsu berlari menuju ke kamar.

"Lucy! Mana makananku?" Tanyanya sambil menggedor-gedor pintu kamar Lucy.

"Diam! Berisik! Masak sendiri!" Teriak Lucy dari dalam kamar.

"Hey Lucy! Nanti aku akan kelaparan! Lu—"

Lucy keluar dari kamarnya, wajahnya merah, ia benar-benar kesal dengan pemuda yang di depannya ini.

"Apa peduliku? Dengar ya, malam ini kau tidak dapat jatah makan malam! Cuci bajumu sendiri! Jangan manja-manja! Dan satu lagi tuan Dragneel jangan pernah berharap kau akan tidur di sini!"

"APA?! LUCE JAHAT!"

"Berisik! Jauh-jauh dari kamarku dan jangan teriak-teriak seperti orang gila begitu!"

Brak!

"Hei, tapi ini kan kamarku juga!" teriak Natsu. Dia menggedor-gedor pintu kamar, berharap Lucy keluar dan mengijinkannya tidur di kamar malam ini. Dan terkabullah harapannya. Lucy keluar dari kamar sambil membawa sesuatu.

Pluk!

Sebuah bantal dan selimut tiba-tiba melayang dan menghantam wajah Natsu. Pria berambut pink itu menatap Lucy penuh tanda tanya.

"Ini bantal dan selimutmu yang bau! Tidurlah di atas sofa sana."

Blam.

Lucy kembali menutup pintu, namun dengan sedikit pelan.

"Kejamnya. Lalu, aku makan apa malam ini?"

Bersambung...

Chapter 2 sudah update! Makasih banyak bagi yang review dan udah nebak siapa yang nulis chap kemarin! Yup, yang bikin chapter kemarin memang Minako-chan Namikaze. Haha. Lalu, ada yang bisa nebak siapa yang bikin chapter kali ini? Okey, silahkan tuangkan pendapat kalian mengenai fanfic ini! Baguskah? Lucu kah? Atau... sama sekali gak menarik? Kalau gitu, sampai jumpa di chapter depan! Terus ikutin cerita ini ya!

Bye-Bye!