Kimi no Shiranai Monogatari Another Story

By : Mikazuki_Hikari

Disclaimer : Fujimaki Tadatoshi ©

All Chara belongs to Fujimaki Sensei

This Fiction belongs to Mikazuki_Hikari

Rate : T

Genre: Romance

Pairing: Nijimura.S, Mayuzumi.C, Akashi.S

Cameo : Haizaki.S, Kuroko.T

Warning: Shonen-Ai, Typo(s), EYD tidak sesuai aturan, Male x Male, Alternate Universe (AU), Out of Character (OOC)

Sekuel dari fic Kimi no Shiranai Monogatari yang punya Mika

Don't Like Don't Read

I have warned you

.

.

Chapter 2

Rombongan Love Comedy yang kita kenal tengah asik menaiki Limo pribadi Akashi-sama dengan tujuan kolam renang sesuai janji Nijimura. Pemandangan indah nampak dari jendela Limo. Akashi sialnya kebagian duduk di paling depan, di lihatnya dari kaca depan Nijimura tengah bercanda dengan Haizaki, ditanggapi riang oleh Haizaki, yang membuat tuan besar kita ingin mengamuk saat itu juga.

"Shogo, lihat awan itu seperti apa? Indah ya?" tangan Nijimura yang ia kepalkan, di putar putarnya pada pipi Haizaki.

"Permen kapas?" Haizaki berusaha menahan sakit yang diberikan Nijimura, tangannya berulang kali ingin menepis tangan Nijimura, tapi apa daya? lengan Nijimura mencengkram pundaknya.

"Bukan duuuh! Itu kayak rambutmu~ aku suka rambutmu." Nijimura tertawa lepas tanpa memerdulikan seseorang, ya, seseorang yang sedari tadi berapi api, dan ingin memukul 'Awan yang Indah' itu telak di kepalanya.

"Bisa aja, daripada kamu kayak awan mendung, jelek~" ledek Haizaki, Nijimura tidak kalah gelinya melihat respon Haizaki dan ia mempererat cengkraman lengannya di pundak pria yankee berambut putih yang ia sukai.

"BERIKAN KEMUDINYA TANAKA!" seru sang tuan besar kepada pelayan pribadinya yang sedang menyetir.

"T-tuan? T-tapi saya—"

"Sudah berikan saja! Bagaimana jika awan awan dilangit itu runtuh saat kita menabraknya sekuat tenaga dengan mobil ini!" Akashi berusaha mengambil alih kemudi dan menjadi diluar kendali, sampai sebuah tangan menepuk pundaknya.

"Chihiro sen—pai?" seketika amarah sang emperor reda saat merasakan ada tangan besar yang menyentuh pundaknya.

Mayuzumi tidak berkata apapun, ia hanya memberi isyarat dengan menganggukkan kepalanya sekali, Akashi yang mengerti maksudnya langsung kembali duduk dengan tenang.

"Kau ada ada saja Akashi-kun~ awan kan tidak akan rubuh kalau ditabrak mobil, kau tahu itu kan? Bhahahaha." Ledek Nijimura mencoba mencairkan suasana.

"Tapi kalau kau yang gebukin juga, pasti lama kelamaan akan runtuh." Cela Haizaki.

"Sepertinya ada yang meminta lebih nih~" Nijimura spontan memeluk erat tubuh Haizaki kesayangannya dengan sekuat tenaga.

"MEMANG LEBIH BAIK MATI SAJAA!" urat marah yang bertengger, serta tangannya yang melesat kearah roda kemudi, cukup membuktikan amarah dari si iblis gunting, kali ini Mayuzumi Chihiro hanya bisa menghela nafas panjang.

.

.

-=Kolam Renang=-

Akashi yang tersengal karena sesuatu hal, Nijimura yang asik bergelayutan di pundak Haizaki, Mayuzumi Chihiro yang sedang menyibakkan rambutnya, sukses sampai dengan selamat sampai ketempat tujuan.

"Aneh ya, untung tiba tiba Akashi-kun berjengit seperti itu, sampai pingsan, entah kenapa, jadi kita selamat deh." Nijimura tertawa melihat sang emperor yang pucat pasi karena pingsan tadi.

"Ya sudah aku mau ganti baju!" Haizaki pergi dengan barang bawaannya, nampak tidak perduli dengan Nijimura yang belum puas mentertawai adik kelasnya yang jarang jarang bisa berekspresi seperti itu.

Sei masih belum pulih benar, nampak arwah menyembul dari mulutnya bagaikan di film kartun anak anak, 'Bakashi' itulah yang sedari tadi di ucapkan Nijimura Shuuzo ditengah tawanya yang meledak ledak.

"Akashi." Mayuzumi mendekati Akashi yang masih nampak seperti mayat hidup.

"Maafkan aku, aku tidak sengaja memukul tengkukmu tadi, kupikir kalau kau terus cemburu seperti itu, tidak baik untukmu jadi—" Akashi menepuk tangan Mayuzumi yang ada di pundaknya, dan berterimakasih pada senpainya itu karena mengingatkannya, walau memang sakit rasanya.

"Aku ikut daaaarl~" nampak Nijimura berlari mengejar Haizaki yang belum jauh dari tempat mereka berada.

Sensor Nijimura senpai kesayangan yang ada di otak seorang ukeshi langsung merespon tindakan sang senpai kesayangannya itu perihal berganti baju bersama.

"Sei!" panggil Mayuzumi mencegah Akashi untuk mencegah Nijimura, dan tetap berada disini bersamanya hingga mereka selesai.

Merasa nama kecilnya dipanggil, Seijuuro Akashi menghentikan langkah kakinya sejenak dan menoleh kearah Mayuzumi, pupil manik merah itu mengecil karena terkejut, tidak ia kira seseorang akan memanggil nama kecilnya lagi sekarang.

"Tidak, tidak apa apa." Mayuzumi mengizinkan Akashi pergi sekarang, dan benar saja, bocah merah itu langsung melesat kearah sang pelangi kesayangannya.

"Maksudku, kau disini saja bersamaku, kau kan bisa bersamaku walau sejenak." Gumam Mayuzumi setelah sang emperor benar benar menghilang dari titik lenyap matanya.

"Andai kau bisa memanggilku seperti dulu, ah tidak, mungkin lebih dari itu, namun lebih baik seperti ini, aku tidak perlu kehilangan kau lagi untuk kedua kalinya." Dengan tangannya yang ia sisipkan ke kantung celananya, Mayuzumi berjalan menyusul ketiga temannya itu.

.

.

"POLKADOT! WUANJER GAK NGIRA BISA LEBIH NGAKAK DARI EKSPEKTASI~" Nijimura Shuuzo tengah berbahagia melihat celana renang polkadot milik Haizaki yang menurutnya lucu.

'Tapi 'punyamu' sudah berkata lain dibawah sana mengenai polkadot itu idiot!' Akashi geram melihat milik senpainya yang terbangun dibawah sana.

"DIEM AH! IBUKU YANG MEMASUKKAN INI!" wajah sang yankee bertindik dua itu lebih merah dari rambut Akashi.

Demi Tuhan Akashi sebenarnya berdebar debar melihat dada bidang senpainya yang terekspose di depan matanya, serta lekuk yang dibuat otot perut itu, membuat Sei menjadi seperti fangirl amatir yang baru terjun ke dunia per yaoi(?)an (?)

"Maaf menunggu lama." Mayuzumi datang dari kamar mandi tempat mereka berganti pakaian, lain halnya dengan pria pria yang lain, pria abu abu ini, ia mengenakan kaus oblong tanpa lengan biasa dan celana pendek, gayanya teramat santai saat itu.

"Senpaaaaaai~" Akashi kembali dengan rencananya, dengan manis, rupawan, elegan, dan muka uke keramatnya, ia menerjang sang senpai abu abu, melompat kedalam pelukan yang tentu saja di terima dengan senang hati oleh si senpai abu abu.

"Chihiro senpaaai~ Sei ga bisa renaang, mau kan ajari Sei yaaa~" Demi langit ketujuh, dan demi Ibunya yang melahirkannya kedunia ini, Mayuzumi berani bersumpah, wajah memelas Akashi adalah yang paling langka(?) dan paling manis sedunia, matanya yang mendadak besar dan berkaca kaca, serta rona wajahnya, walau ia tahu itu hanya sekedar ekspresi yang dibuat buat, namun, ia tidak ingin melewatkan kesempatan emas ini.

"Ayo senpa-" Akashi yang berlari di depan Mayuzumi seketika tergelincir lantai kolam berenang yang licin, dihadapannya menanti kolam renang sedalam tiga meter.

"Se—" belum sempat Mayuzumi menyelesaikan larinya, siluet hitam melesat menuju Sei kesayangannya yang hampir tenggelam itu.

Diluar dugaan, Nijimura Shuuzo lah yang melompat ke kolam renang dan menyelamatkan Akashi, dipeluknya tubuh gemetar Akashi itu, dibenamkannya kedalam dadanya, dan Nijimura mengusap rambut Akashi perlahan.

"Tidak perlu takut lagi, kau sudah aman sekarang." Ucap Nijimura menenangkan adik kelasnya.

'Nijimura sen...pai?' batin Akashi yang terkejut melihat orang yang ada dihadapannya saat ini bukanlah Chihiro senpai, melainkan Nijimura Senpai kesayangannya. Yang lebih mendebarkan menurut Akashi adalah, wajahnya berada tepat di dada bidang Nijimura senpai kesayangannya itu, dan dalam sekejap-

Kolam renang umum sedalam tiga meter tempat mereka berada, berubah menjadi lebih merah airnya daripada rambut si uke manis yang tengah kehabisan darah karena ingin mati bahagia didalam dekapan senpainya.

Nijimura bingung, Mayuzumi lega namun sedikit cemburu, Haizaki tengah membeli cumi bakar di stand makanan terdekat.

Dikejauhan, di sisi lain kolam berenang, Tetsuya Kuroko, yang meniatkan dirinya dari kemarin(?) menghela nafas panjang dengan matanya yang memicing tajam ke arah Nijimura senpai kesayangan Akashi-kun kesayangannya itu. Menurutnya, entah siapa yang menyelamatkan Akashi-kun kesayangannya itu, ia tetap tidak bisa terima.

Perlahan mengendap alih alih mendekat, Kuroko Tetsuya mengintip dari balik tubuh pengunjung lainnya.

"Dek, bisa tidak mengintip ditempat lain? Kakak geli." Ucap anak muda yang ditumpangi Kuroko.

"Aku sudah SMA, dan harap jangan banyak bergerak." Nampaknya Tetsuya kita benar benar tidak perduli.

'Tangannya lembut sekaliii~' nampaknya pengunjung yang satu ini menikmati sensasi tangan Tetsuya yang ada pada pundaknya.

"Dek, mau ikut kakak ke sana? Disana kita bisa melihat permen panjang isi susu punya kakak, kau pasti suka, sehari menyimpang demi anak semanis kau kakak tidak keberatan" Ucap sang pengunjung dengan muka mesumnya.

"Aku sudah SMA, dan ga kau lihat apa pacarku lagi disetubuhi orang lain disana." Okeh, kali ini Tetsuya benar benar ambigu dan melenceng, maksudnya adalah, tubuh Akashi-kun kesayangannya sedang digendong layaknya seorang putri oleh Nijimura senpai kesayangan Akashi-kun kesayangannya itu.

Baiklah, meninggalkan si pengunjung mesum tadi, Tetsuya langsung melesat ke spot terdekat, dimana Akashi-kun kesayangannya itu, sedang dalam dunia romansa komedi miliknya sendiri karena tubuhnya yang di bopong oleh Nijimura senpai kesayangannya.

'Untung tadi aku pura pura ga bisa renang~' Akashi tertawa kecil saat melihat tubuhnya dalam tangan senpainya.

"Sudah tidak apa apa eh Akashi-kun?" ucap Nijimura.

"Senpai? Kenapa senpai menolongku?" tanya Akashi penasaran.

"Ya tadi kan kau bilang ga bisa renang, ya kau kepeleset, ya ga enak aja kalau ga nolongin." Nijimura menggaruk kepalanya yang tidak jawab, dengan jawaban seadanya, setidaknya ia sudah menjawab pertanyaan sang emperor.

"Souka..." Akashi mencoba untuk tersenyum ditengah rasa kecewanya.

"Mau minum ini?" Nijimura menyodorkan teh hijau dalam botol yang ia keluarkan dari tasnya.

"Itu punya senpai? Sudah senpai minum?" way to go Akashi, masih dalam rencananya, dan tentu mengincar indirect kiss dengan sang senpai, luar biasa(?)

"Belum lah, dasar bodoh." Nijimura memukul pelan kepala bocah itu, membuat sang bocah itu takluk dengan rona wajahnya.

"Aduuh... hehe.." Akashi mengaduh sambil menjulurkan sedikit lidahnya, tidak ada momen yang lebih bahagia daripada sekarang, begitu menurutnya.

.

.

Akashi berjalan menyusuri kolam renang umum untuk mencari makanan, sesaat ia melirik ke stand penjual minuman, ia melihat sosok yang tidak asing menurutnya.

"Tetsuya?" pandangannya terarah kepada pria biru muda yang melongok dari balik tong sampah tempat ia bersembunyi.

"Tidak ada Tetsuya kesayanganmu disini Akashi-kun, hanya tong sampah yang berbicara, beep beeep, beep beep."

"Tetsuya kesayangan? Ppfft—bisa aja, mana ada tong sampah berbunyi seperti robot Tetsuya, lain kali kalau mau berbohong yang lebih baik lagi." Akashi terkekeh geli.

"Yo Akashi-kun, doumo~" seperti yang di duga dari seorang Tetsuya, pandangannya yang datar itu kembali menjadi raut wajahnya, dengan tangannya yang ia angkat.

"Doumo~" Akashi tersenyum hangat pada Tetsuya yang berdiri statis pada posisinya.

"Aku tidak terlihat seperti mengikuti Akashi-kun bukan? Aku mendadak ingin berenang, dan ga tau kenapa berenangnya tuh, maunya disini." Ucapnya polos.

"Kalau bohong yang bagus dikit kenapa sih?" Akashi membelai surai biru muda itu lembut, si anak biru muda nampak menikmatinya, terlihat dari matanya yang terpejam.

Tangan mungil Tetsuya berusaha meraih jemari Akashi saat ia hendak pergi meninggalkannya sendiri ditempatnya, Akashi bisa melihat sorot mata kesepian si bayangan, dan memutuskan untuk tinggal.

"Jadi? Kita mau ngapain?" Akashi mengangkat kedua belah alisnya.

"Kita makan disana yuk?" Kuroko menunjuk stand makanan yang menjual aneka makanan disana, tangannya menarik tangan Akashi-kun kesayangannya dan membawanya kesana.

"Kau hanya melihat yang dibagian bawah sana kan Tetsuya?" Akashi menunjuk label Vanilla Shake yang terletak di bagian spanduk berisi menu makanan.

"Aku kan tidak memberi tahumu Akashi-kun, darimana taunya?" Kuroko menatap heran sebagai kode, ya, sebagai kode.

"Aku kan yang paling mengerti apa yang kau suka Tetsuya, masa begitu saja bertanya." Akashi menepuk puncah kepala biru muda milik Tetsuya.

Tangan Kuroko melingkar di tangan Akashi. Sebenarnya pingin peluk karena bilang begitu, batin Tetsuya, tapi akhirnya malah bersifat menarik Akashi-kun saja, Tetsuya menyesal, namun sepertinya memang tidak menyesal juga.

Akashi memesan onigiri, Tetsuya seperti biasa hanya memesan Vanilla Shake yang memang sedari semula sudah ia incar, dengan lahap Tetsuya menyeruput tiap tetesnya hingga habis.

"Segitu sukanya ya?" Akashi tertawa melihat wajah belepotan Tetsuya sehabis meminum minuman kesukaannya, seperti anak kecil dengan permen kesukaannya. Tangan Akashi menyeka mulut Kuroko dengan jarinya, tidak diduga Akashi bibir anak itu lembut sekali.

Tetsuya menggigit bibirnya, seperti berusaha menjilat sesuatu disana. Sebenarnya Tetsuya ingin mengecap manis jemari Akashi-kun kesayangannya, begitu menurutnya.

"Anu Akashi-kun, maksudnya tadi kau paling mengerti aku itu apa ya? Apa jangan jangan ada sesuatu apa gitu? Perasaan apa gitu?" tanya Tetsuya yang sebenarnya hanya ingin iseng, namun ia juga penasaran.

"Kan emang kelihatan kamu itu suka Vanilla Shake kan? Itu sampai belepotan." Akashi tersenyum.

"Oh, seperti itu ya."

.

.

Sore menjelang, Tetsuya yang memang hanya memiliki niatan mengikuti mereka, jadi Tetsuya tidak ikut naik mobil Akashi, jadinya ia kembali dengan sepedanya, sambil melambai kearah Akashi-kun kesayangannya, sementara empat orang gerombolan love comedy lainnya naik ke mobil Akashi.

Haizaki memutuskan untuk duduk di depan, karena dia tidak mau di bully Nijimura lagi. Sementara di baris belakang, menciptakan kombinasi ajaib disana.

Untung saja, Akashi-sama kita kelelahan setelah seharian berenang, jadi dia tengah separuh tertidur dengan tubuhnya yang terayun akibat laju mobil.

Nijmura terkejut saat kepala Akashi terkulai di pundaknya, kali ini sebenarnya tidak sengaja, karena Akashi kedua kelopak mata itu sudah benar benar berat.

Mayuzumi yang melihat hal itu tentunya merasa sedikit risih, Nijimura menyadari hal itu, ia melirik kearah iris kelabu milik Mayuzumi, dan melihat bahwa pria itu tengah dilanda risau yang teramat sangat.

"Kalau memang mau, kau pindahkan saja."

"Eh?" Mayuzumi terheran dengan statement Nijimura barusan, Haizaki juga tidak mendengar, ia tertidur didepan sana.

"Sudah kubilang pindahkan." Nijimura mengucapkannya sekali lagi kepada Mayuzumi.

"Kenapa diam?"

"Aku..." Mayuzumi menundukkan kepalanya.

"Aku hanya ingin dia bahagia." Ucap Mayuzumi mantap.

"Maksudmu?" Iris hitam itu terbelalak mendengar ucapan Mayuzumi barusan.

"Aku ingin melihat dia bahagia bersama orang yang ia sayang." Mayuzumi mencoba untuk tersenyum, berat memang, tersenyum di depan rivalnya, apalagi mengenai Sei yang amat dia sayangi.

"Apa kau tidak keberatan kalau memang aku mengambilnya darimu?" tukas Nijimura.

"Apa maksudmu?" Mayuzumi terkejut.

"Namun memang alangkah baiknya tetap seperti ini."

-=To be Continued=-