Cast : -Kim Jong In, -Do Kyung Soo.
Other cast : (Sesuai gairah)
... = flash back
Sai'datul Qara wa Khusyuu'..
Selamat membaca dan Fokus.. Konsentrasi..
Rasa tersinggung sekaligus kebingungan. Jongin berusaha menahan sakit dan panas di pipinya, sambil menatap tangannya yang menjijikan.
Chapter 2 . . .
Libur yang membosankan menambah pengaruh penasaran Kyungsoo pada FanFiction. Tidak.. Kyungsoo tidak sedang membaca FanFict sialan itu lagi. Ia menahan diri untuk tidak membaca FanFict.
Menatap bunga-bunga hias yang ia letakkan di teras kamar mereka. Angin meniup Pot bersama bunga yang ada di dalamnya. Terasa menenangkan melihatnya dengan angin sejuk menerpa wajahnya.
Krek.. Kyungsoo rifleks menoleh pada asal suara lemari yang dibuka.
Deg.
Kyungsoo tahu. Tak seharusnya dadanya berdegup kencang saat bertatapan dengan Jongin. dengan cepat Kyungsoo memalingkan wajahnya dari Jongin, sampai Jongin keluar kamar—
Kyungsoo menghela nafasnya. Pikirannya terus menyalahkan dada Jongin yang telanjang. Bagaimana jika handuk Jongin melorot—
Pak pak pak.. kyungsoo menampar pipinya berkali-kali
...
Jongin keluar dari kamar mandi dan langsung saja menghampiri Kyungsoo yang tersenyum melihat ada banyak bunga di dalam pot.
Jongin tersenyum simpul. Mengambil dua pot bunga di tangannya. Berjalan keluar kamar. Mengangkat tangannya, menggantungkan pot mungil itu di teras. Wajah tampan itu terlihat senang dan bahagia. Membuat Kyungsoo tertarik untuk ikut—
Berjinjit menggantung pot bunga. Deru nafas terdengar jelas di telinga Kyungsoo—
Kyungsoo menoleh
Puk. Wajah mungil itu tak sengaja menabrak bahu Jongin. seakan terhipnotis.. kyungsoo terdiam lumayan lama, sampai ia tersadar Jongin telah menariknya kedalam kamar dan tersenyum begitu menggoda—
...
'TIDAK! Itu adalah senyum pervert!' Bantah Kyungsoo menatap sangar ke arah pot bunga yang terasa bergerak begitu cepat dan semakin cepat, sampai antara pot satu dan yang lainnya berbenturan begitu keras. Memeka kan telinga—
Kring kring kring . . .
- Shared Dream_
Kriiiiiiiiiiiing.
Alarm panjang memeka kan telinga membuat Kyungsoo terbangun dari tidurnya. Tidur?
Sedikit menggeram sambil memulihkan kesadarannya. Mengambil Jam Beker yang masih berbunyi.
Tek tek tek!. Telunjuk mungil itu terus menarik-narik tombol Jam Beker. Jam itu terasa sulit di gerakkan, membuat Kyungsoo menggeram gemas dilanjutkan dengan teriakkan kesal yang tak ber arah. Kesal sendiri.
Kriiiiiiiiiiiiing kriiiiiiiiiiiiiing. Alarm itu semakin nyaring di telinga Kyungsoo. memejamkan kedua matanya menahan kemarahan—
Tek!. Alarm berhenti dan Kyungsoo membuka kedua matanya saat merasa ada tangan panas menyentuh punggung tangannya. Pipinya ikut menghangat, bukan karena malu, tapi karena terpaan nafas dari orang yang berjarak terlalu dekat dengan wajahnya sekarang.
Sedikit melirik Kim Jongin yang begitu dekat dengan dada yang telanjang.
Kyungsoo memasang wajah sedatar mungkin. "Bisa kah kau menjauh?"
"aku hanya membantumu mematikan Alarm—" perkataan Jongin terhenti saat Kyungsoo menampik tangannya yang ternyata bersentuhan dengan tangannya. Terdiam bingung melihat Kyungsoo yang mendorong kasar dadanya dan berjalan keluar kamar.
BRAK!. Di akhiri dengan bantingan pintu.
Jongin semakin kalut dengan Fikirannya sendiri, memandangi pintu kamar yang ditutup kasar, beralih memandangi tangannya. Mencari dimana letak kotor tangannya.
.
.
.
Masih dengan wajah datar, seolah ia menyesali dan merasa kotor sekarang. Kyungsoo terus berfikir dengan kepala yang sudah berbaring di atas meja halaman belakang. Mengingat-ingat apa saja yang telah Jongin lakukan padanya.
Mungkin saja Jongin sengaja mengaktifkan Alarm dengan alasan tersembunyi agar ia bisa menyentuh tangan Kyungsoo.
Mungkin saja waktu itu Jongin sengaja membantunya menghias teras kamar agar Kyungsoo berlama-lama mencium pundaknya.
Mungkin saja Jongin sudah menggagahinya saat ia tak sadarkan diri.
Bahkan sudah banyak bukti Jongin tertangkap kamera tengah menatap Kyungsoo. dalam.
.
.
.
Berbalik dengan hari yang telah lalu. Jongin menatap Kyungsoo yang sedari tadi diam dan menunduk memakan makanannya. Menatapnya tajam, mencari apa yang salah atau memang Kyungsoo memang ada masalah kejiwaan?—
Yixing merasa risih menyadari kegelisahan Kyungsoo yang ditatap oleh Jongin."K-kai.. bisakah kau tak menatap Kyungsoo seperti itu? Dia takut padamu—"
"mungkin saja dia ada kelainan dan merasa gugup dengan tatapan ku" tuduh Jongin masih dengan tatapan tajam mengintimidasi.
Semua Member terdiam.
Kelainan?.
Kyungsoo mengepalkan kedua tangannya. Tidak terima tuduhan yang dilemparkan oleh Jongin.
"tidak usah berkata apa-apa jika tak tau apa-apa!" bentak Kyungsoo mendorong meja makan dan menjauh. Yixing semakin hawatir, mendorong kursinya pelan ke belakang—
Jongin menahan tangannya. "semua ini ada hubungannya denganku 'kan?" menarik tangan Yixing dan berbicara empat mata.
"kau yang paling tahu masalahnya" Jongin berujar. Meminta penjelasan.
"aku tidak bisa memberitahu mu Kai. ini Privasi." Tegas Yixing.
Jongin membuang muka dan tertawa "memang Privasi selama tidak menyangkut diriku."
"..."
"kesulitan mencari alasan yang masuk akal?" Jongin sedikit menengok wajah Yixing yang terlihat menyembunyikan hal yang menurutnya penting.
"baiklah.. sepertinya kau orang kedua yang bermasalah denganku. Hyung" suara Jongin mulai mendingin. Dan meninggalkan Yixing.
###
"katakan. Privasi apa yang membuatmu kesal padaku" tanya Jongin ketika memasuki kamar mereka. Lalu duduk diranjang Kyungsoo. Mencari penjelasan dari mimik Kyungsoo yang terlihat tak suka.
"jangan mendekat—"
"kenapa? Beri aku alasan." Jongin penasaran. Meminta penjelasan lebih.
Kyungsoo mencengkram bantal yang ada di pelukannya kuat-kuat, melemparnya dan menuruni ranjang_menjauhi Jongin—
"katakan! Ada apa.." Jongin menahan lengan Kyungsoo sebelum ia menjauh. Lengan itu terasa memanas, bagai sengatan listrik dan membuat kemarahannya menaik. Rasanya lebih menggelikan daripada FanFiction. Genggaman Jongin yang membuatnya mual.
Kyungsoo menarik lengannya agar terlepas dari Jongin dan tak berhasil. Jongin menariknya kembali dan menahan kedua lengannya. Menghadapkan wajah Kyungsoo agar menatap wajahnya.
Kyungsoo semakin membatin geli atas perlakuan Jongin. Sebelum terlambat—
"jangan mendekat" dingin Kyungsoo. Jongin terpaku sejenak sebelum melepas genggamannya di lengan Kyungsoo.
"kau mengerti? Apa arti dari jangan mendekat?" ucap Kyungsoo dan mendorong tubuh Jongin yang menghalangi jalannya untuk keluar kamar sambil mengusap lengan itu seolah sentuhan Jongin memberikan bekas yang menjijikan.
Kembali Jongin menghalang jalannya. Menahan pintu kamar sebelum Kyungsoo keluar.
Menahan rahang Kyungsoo agar menatapnya. Tangan Kyungsoo terangkat mencengkram tangan Jongin yang begitu keras menahan wajahnya. Hingga tangan itu terlepas, dengan cepat Kyungsoo mengusap wajahnya kasar.
Dan Jongin mulai mengerti.
Mengangkat satu tangannya. Memperlihatkan telapak tangannya "apa yang salah.." Jongin kembali menahan rahang Kyungsoo agar menatap tangannya, namun Kyungsoo kembali menunduk. Matanya sudah berkaca-kaca menahan kemarahan yang sulit di ungkapkan.
Pak!. Kyungsoo meninju tangan itu agar tidak terlalu dekat. Jongin semakin menatapnya tajam, menahan tubuh itu kedinding—
"aku tak tahu apa yang membuatmu merasa aku menjijikan. Kau terlihat biasa saja saat disentuh maupun dipeluk oleh mereka, tapi tidak denganku."
Kyungsoo semakin menunduk, degupan jantung terasa lebih cepat, aliran darahnya seolah berlari-lari membuatnya memanas, telapak tangan yang mulai berkeringat. Kyungsoo tak tau bagaimana menjawabnya.
"bahkan kau jijik menatap wajah ku heh? Sekotor apa aku dimatamu. Hyung" Jongin memiringkan wajahnya menatap wajah yang terus menunduk.
"menjauhlah—" pinta Kyungsoo, mulai memberanikan diri untuk sekedar menatap Jongin.
Jongin hanya diam, menatap wajah Kyungsoo_meminta penjelasan lebih dan lebih.
"aku tak suka tatapanmu!"
Jongin mengangkat satu alisnya "wae?"
". . ." Kyungsoo diam, merasa lelah menjelaskan. Kyungsoo merasa bahwa Jongin mengerti maksudnya.
"kau ingin aku tidak menatapmu lagi? kau ingin mataku kosong saat menatapmu?" ucap Jongin berusaha menebak-nebak.
"ya.. bersikap biasa. Jadilah Lelaki normal."
Deg. . .
Tiba-tiba Raut gelisah begitu jelas terlihat diwajah Jongin. kini Jongin yang terdiam.
"heh? Jadi aku benar eoh?—" Kyungsoo tertawa miring.
"berhenti bersikap seolah tak mengerti apa-apa! berhenti menyukaiku! Aku normal!" tegas Kyungsoo.
Pandangan Jongin terasa meredup, dadanya berdetak terlalu cepat, kepalanya terasa diputar saat Kyungsoo menyadari perasaan yang sesungguhnya. Dan memang benar adanya. Jongin merahasiakan perasaanya agar Kyungsoo selalu ada disisinya.
"kau menyuruhku berhenti menyukaimu? Kau fikir aku bisa?" lirih Jongin membuat Kyungsoo semakin mual. Kaki nya menendang keras lutut Jongin agar melepas cengkraman dibahunya.
Jongin memejamkan kedua matanya menahan sakit dilututnya. Tak melepaskan cengkraman itu "aku ingin melindungimu hyung. Tak peduli sebutan tak normal. Aku merasa normal"
"menjijikan! Carilah lelaki lain yang sama sepertimu!"
Jongin menggeleng. Tak sanggup bersuara menahan sesak yang terasa tiba-tiba. Aliran darah terasa melambat, otaknya tak bisa berfikir. Hanya mampu menarik Kyungsoo kepelukannya "a-aku tak bisa. aku normal. Dan aku hanya menyukaimu. Hyung"
Kyungsoo terdiam. Kakinya terasa lemas mendegar penuturan Jongin yang terdengar rapuh.
"a-aku tau ini salah. tapi Aku juga tak bisa mengendalikan perasaan ku untuk berhenti. Cintaku mengalir begitu saja" pelukan itu semakin erat. Menyalurkan rasa takut yang selama ini dipendam secara paksa. Jongin tak dapat menahan rasa sesak itu sendiri.
"aku sudah berusaha bersikap biasa saja, ternyata kau menyadarinya dari tatapanku. Aku tidak tau harus bagaimana lagi"
Kyungsoo merasa tubuhnya ikut bergetar—
"berhenti menangis" ucap Kyungsoo sedatar mungkin, melepas paksa pelukan Jongin.
Jongin terlihat semakin lemah. Namun Kyungsoo tak peduli.
"jauhi aku" Kyungsoo berbalik keluar pintu.
BRAKK!. Jongin menutup pintu itu kasar sebelum Kyungsoo keluar. Kembali menarik Kyungsoo dan menyatukan bibirnya dengan bibir Kyungsoo. menahan tengkuk Kyungsoo agar tidak terlepas. Kyungsoo hanya bisa menahan nafas nya saat Jongin melumat bibirnya. Demi Jongin yang putus asa, dari lumatan yang terasa lemah gemulai seakan menari menggelitik bibir Kyungsoo.
Anggaplah. Kyungsoo berbaik hati untuk Jongin yang sudah terlalu sakit hati. Walaupun jijik dan menggelikan.
Satu kecipak mengakhiri ciuman itu. Jongin melepasnya dan menatap wajah manis itu. Kembali memeluknya, mencari kehangatan yang membuatnya bahagia untuk yang terakhir kali.
Jongin memaksakan senyumannya, walau ia tahu.. Kyungsoo tak melihat senyum itu. Jongin ingin belajar tersenyum didepan maupun dibelakangnya.
"hyung.." panggilnya masih dengan suara serak.
"hn..?"
"terima kasih, maaf." Pelukan Jongin melemah.
Kyungsoo hanya diam. Tak bersuara lagi, mendorong tubuh Jongin dan keluar dari kamar. Meninggalkan perasaan sesak yang memenuhinya.
Terimakasih. Untuk kesempatan pertama atau mungkin yang terakhir. Kau menyuruhku untuk berhenti mencintaimu...
Hyung.
Aku mencintaimu dan aku tak bisa menghentikannya. Memaksakan berhenti hanya membuat Luka ku melebar. Aku berusaha menikamati rasa sakit ini sendiri. Dengan bayang-bayang mimpiku bahagia bersamamu. Mimpi kau memelukku seperti tadi.
-a shared dream_
p.s : kesempatan = ciuman perpisahan.
