Disclaimer: Mashashi kishimoto

Warning: OOC, miss typo.

Rating: T

-selamat membaca!-


chapter 2

Pagi menjelang, masih ada waktu sekitar 30 menit lagi sebelum bel masuk kelas berbunyi tapi Hinata sudah duduk di kursinya melanjutkan membaca novel yang kemarin belum sempat ia selesaikan.

Di kelas yang lumayan besar ini ia tidak sendirian ada beberapa anak yang sudah datang tapi yang tampak hanya tasnya saja, pemilik aslinya entah pergi kemana. Sehingga penghuni hidup yang ada di kelas 2-4 ini hanya dua orang. Sasuke dan Hinata.

Sasuke sedang membaca komik, ia menaikkan kaki ke meja dan menyilangkan tungkainya. mereka berdua hanya diam dalam sunyi. Tidak sampai 3 menit kemudian kesunyian yang melanda mereka berdua menghilang, oleh suara sepatu Sasuke yang mengetuk meja.

Hinata yang sedang serius membaca tiba-tiba menghentikan aktifitasnya, ia menoleh kesamping kirinya, mata lavendernya melirik ke arah dimana Sasuke berada. Ia merasa terganggu dengan suara yang dihasilkan oleh Sasuke, tapi Hinata diam saja, membiarkan Sasuke melakukan sesukannya toh nanti kalau sudah lelah Sasuke akan menghentikan suara bising itu, dan Hinata tidak mau mencari masalah dengan Sasuke lagi. Hinata menghela nafas sambil menggelengkan kepala pasrah, ia kembali kepada novel di depannya mencoba fokus kembali pada bacaannya.

xxx

Oke, semua manusia pasti punya batas kesabaran dan sekarang kesabaran Hinata sudah mulai habis ia sudah beberapa menit berusaha untuk diam saja dan mencoba membaca novelnya tapi tidak bisa karena suara ketukan yang dibuat Sasuke sangat mengganggu konsentrasinya.

Hinata memejamkan mata, ia bisa saja memakai sifat lamanya yang diam saja dan pasrah bila ada orang lain yang menggaggunya, tapi sekarang ia sudah berubah dan ia harus mengikuti kata-kata Neji. 'Dia yang mencari masalah bukan aku, jadi aku tidak salah jika memberinya suatu nasehat.' Waktu itu masih belum ada seorang pun yang masuk ke kelas, yang ada hanya mereka berdua.

'Aku tau aku mencari masalah, tapi kali ini dia benar-benar menyebalkan.' Hinata kini bangkit dari tempat duduknya dan berbalik melangkahkan kakinya ke tempat Sasuke yang berada di belakang dekat jendela.

"Sasuke Uchiha, itukan namamu?" Hinata berusaha bersikap ramah ketika berdiri di depan meja Sasuke.

"Hn. Apa maumu?" Balas Sasuke tanpa melihat Hinata, ia tetap membaca komiknya dan tidak merasa terganggu. Mungkin ia tipe yang berbeda dari Hinata dalam soal membaca.

"Bisakah kau menghentikan suara yang dihasilkan sepatumu? Itu menggangguku. Bukan. Itu sangat menggagguku." Ucapan Hinata agak sopan, tapi tidak dengan nada bicaranyanya. Sangat kentara sekali rasa kesal sedang menggandrunginya.

Mendengar ucapan gadis didepannya tadi, Sasuke menurunkan komiknya dan melihat kearah Hinata. "Kau lagi. Kau mau mencari masalah denganku?" Sasuke mengangkat sebelah alisnya, dan melipat tangannya di depan dada. "Apa ada yang ingin kau katakan?" Ucap Sasuke sambil mengangkat kedua tangannya mempersilahkan Hinata mengatakan apapun yang ia mau. Sepertinya ia tadi tidak memperhatikan apa yang dikatakan Hinata sebelumnya.

"Ada! Ada sekali! Bisakah kau menghentikan aktifitas kakimu yang mengetuk-ngetuk meja? Itu sangan menggagguku!" Kesabaran Hinata sudah habis dengan kelakuan Sasuke yang tak acuh.

Sasuke memberikan tatapan tajam ke arah Hinata ia menggertakkan giginya, baru kali ini ada orang seberani gadis didepannnya yang berkata seperti itu pada Sasuke. "Kau. Dengar! Kau kemarin sudah membuatku tidak bisa bolos dari pelajaran Kakashi yang sangat membosankan! Sekarang? Kau mencoba untuk mengaturku? Jangan pernah berharap Anak Baru!"

Hinata megepalkan tangannya. "Aku tidak perduli dengan kemarin atau besok, yang penting adalah sekarang! Apakah kau tidak bisa lihat? Aku sedang membaca disana! Bisakah kau memberiku sedikit ketenangan. Tuan Uchiha!" Ucap Hinata tertahan agar tidak terdengar dengan orang yang berlalu-lalang melewati depan kelasnya. "Cowok menyebalkan!"

Kemudian Hinata berbalik berjalan kembali ke tempat duduknya, dan kembali membaca novel walaupun perasaannya tidak karuan.

Sasuke mengernyitkan dahi melihat Hinata dari belakang mejanya. Ia menurunkan kedua kakinya yang sedari tadi ada diatas meja, kemudian Sasuke berdiri. Ketika ia sudah maju satu langkah, Sasuke melihat Sakura masuk ke kelas dan menghampiri Hinata. Melihat itu Sasuke langsung kembali duduk mengurungkan niat awalnya untuk memberi Hinata sebuah pelajaran.

xxx

Sakura mendatangi tempat Hinata, menyadari hal itu Hinata segera berpaling dari novelnya dan melihat Sakura tersenyum senang padanya, entah apa yang ada dipikiran sakura kali ini

"Hinata, aku punya ide bagus untukmu hari ini." Sakura kini berjalan ke samping Hinata dan duduk dibangku Ten-Ten yang kosong karena pemiliknya belum datang. "Bagaimana kalau nanti kita berjalan-jalan keliling sekolah? Agar kau tau apa saja yang ada di sekolah ini. Kau mau tidak? Mau ya, Hinata?" Ucapnya seraya memegang kedua tangan Hinata memohon.

Hinata mengerjap-merjapkan matanya sebentar berusaha membedakan mimpi atau kenyataan. Tak lama kemudian ia tersenyum dan mengaggukkan kepalanya sekali tanda ia setuju dengan tawaran yang diajukan Sakura. Menurutnya tawaran Sskura tidak terlalu buruk. Ia memang dari kemarin tidak ada waktu untuk mengelilingi sekolah yang baru masukinya dua hari ini.

"Hm.. baiklah nanti saat istirahat kita jalan keluar, oke?" Ucap Sakura. Ia lalu beranjak dari bangku milik Ten-Ten. "Sampai nanti."

Hinata hanya mengangguk mengerti. "Sampai nanti."

xxx

"Nah, yang ini laboratorium biologi. Mungkin saat pelajaran Orochimaru kita akan kesini." Terang Sakura kepada Hinata. "Oh iya Hinata kau mau ke kantin tidak? Aku lapar nih. Ke kantin yuk!" Sakura memasang wajah melasnya dan memegang perut pertanda rasa lapar yang amat sangat sedang melanda dirinya.

Hinata tertawa geli melihat kelakuan Sakura. "Baiklah, lagipula kau belum menunjukkan kantin padaku." Kata Hinata. Kemudian ia membaca lagi brosur yang diberikan oleh Sakura. Isinya hanya tentang keunggulan, tempat belajar, fasilitas, foto-foto, dan prestasi di sekolah barunya ini.

"Benarkah? Umm.. kalau begitu tempat apalagi yang belum kuberitahu padamu?" Sakura mengetuk-ngetuk dagu dengan jari telunjuknya, mata berwarna emerald itu melihat keatas, ia mencoba mengingat dan berfikir.

Hinata melihat Sakura yang sedang berusaha mengingat acara turnya hari ini. "Cuma itu saja kok Sakura. Ya sudah. Ayo kita ke kantin, nanti keburu bel masuk, lagi." Hinata menggandeng tangan Hinata dan berjalan sedikit cepat.

Sakura tersenyum kecil, ia lalu menggidikkan bahu dan berlari kecil berusaha mengikuti langkah Hinata.

Hinata dan Sakura melewati koridor yang hanya menuju pada satu tempat.

"Sakura, benarkan kesini arahnya?" Hinata menengokkan kepalanya ke arah Sakura di belakangnya, ia terlihat masih berusaha mengikuti langkah kaki Hinata.

"Iya, bener kok. Nanti kalau salah aku juga bilang padamu." Kata Sakura. Kini langkahnya sudah sama dengan Hinata, karena Hinata sedikit memperlambat langkah kakinya agar Sakura dapat menyusulnya.

Hinata dan Sakura kini menginjakkan kakinya di kantin yang bernuansa seperti coklat kemas-emasan, langit-langitnya dihiasi dengan ukiran indah yang sangat rapih dan sangat indah dipandang.

"Wah, ramai sekali. Di sekolahku yang lama kantinnya tidak seramai ini. ukiran di langit-langitnya juga indah, keren sekali Sakura." Hinata menghentikan langkahnya, matanya melihat suasana kantin yang besar itu.

Sakura hanya tertawa kecil melihat tingkah Hinata. "Iya, kantin sekolah ini memang selalu ramai. Tapi tenang kita pasti akan mendapatkan tempat untuk makan." Sakura berjalan mendahului Hinata yang masih terdiam melihat suasana kantin ini. "Hey, ayo! Jangan bengong terus, sekarang kita coba makanan di kantin ini pasti kau suka." Sakura langsung menggandeng pergelangan lengan Hinata dan berusaha menariknya.

xxx

Hinata duduk berhadapan dengan Sakura di salah satu meja yang tersedia di kantin ini.

"Hei, Hinata ayo dimakan. Makanan itu untuk dimakan bukan untuk dilihat." Kata Sakura seraya menyuapkan Beef Teriyaki yang dipesannya.

Hinata menatap Sakura sambil menggigit sumpit yang di genggamnya. "Ah, ba-baiklah." Hinata lalu mencicipi makanan yang sama dengan Sakura. Setelah diam sejenak dan mengunyahnya ia memasukkan beberapa suap lagi kedalam mulutnya. Dagingnya yang empuk memanjakan lidah Hinata begitu pun dengan saosnya yang meleleh ketika masuk kedalam mulut. "Wah, makanan ini enak sekali Sakura. Hmm sepertinya sekolahku yang lama benar-benar berbeda dengan sekolah ini." Ucap Hinata terkagum-kagum.

"Benarkan apa kataku?" Sakura menghentikan aktifitas makan siangnya sejenak. Kemudian ia menaruh sumpit di mangkuk nasinya yang sedari tadi ia genggam di tangan kanannya. "Coba saja kau keliling restoran yang ada di sekitar sekolah ini. taruh-taruhan denganku kau pasti akan bilang: 'wah enakkan makanan di kantin kita ya?'" Sakura tertawa dan disusul dengan Hinata. Kemudian Sakura kembali melanjutkan makan siangnya.

Baru beberapa suap Hinata melanjutkan makan siangnya tiba-tiba ia melihat seorang pria yang sepertinya menghampiri meja mereka berdua. Pria itu memunyai mata biru safir yang indah, rambutnya berwarna kuning cerah, wajah lelaki itu juga bersahabat entah mengapa perasaan kagum, tertarik, dan senang sekarang bercampur aduk di hati Hinata membuat jantungnya berdebar kencang dan mukanya sedikit memerah.

Ketika pria itu semakin dekat dengan tempatnya ia segera memalingkan muka dan mencoba menghabiskan makan siangnya, tapi ia tidak bisa, nafsu makannya hilang entah kemana karenaia sibuk menenangkan jantungnya yang berdetak kencang.

Lelaki berwajah ceria itu benar-benar menghampiri meja Sakura dan Hinata. "Hai Sakura." Sapanya pada wanita bermata emerald di depan Hinata.

Mendengar seseorang menyebut namanya Sakura segera melihat ke arah pria itu. "Oh, Naruto. Ada apa?" Kata Sakura begitu tau siapa yang menyapanya.

"Aku hanya ingin mengobrol denganmu saja. Ngomong-ngomong kemana Ino? Biasanya ia bersamamu." Ucap Naruto. Ia berdiri disamping meja dan memegang ujung-ujung meja dengan kedua tangannya, sebagai tumpuan untuk menahan tubuhnya yang berwarna kecoklatan.

Melihat Naruto berposisi seperti itu Sakura menggeser tubuhnya sedikit. "Oh Ino. Dia sedang tidak masuk hari ini, dan tidak memberikan kabar." Sakura menepuk tempat yang tersisa disampingnya bermaksud agar Naruto mau duduk disebelahnya. "Nanti pas pulang aku mau menjenguknya."

Naruto menerima tawaran Sakura duduk disampingnya. "Lalu Sakura, dia ini siapa?" Naruto membisikkan kata-kata itu ke telinga Sakura sambil mengacungkan jari telunjuknya ke arah Hinata dengan sembunyi-sembunyi.

Hinata yang sadar sedang dibicarakan oleh Naruto langsung pura-pura sibuk dengan makanannya dan tidak tau dengan keberadaan Naruto yang sekarang bergabung di mejanya.

Sakura mengikuti arah telunjuk Naruto yang mengarah ke Hinata yang mengaduk-aduk makan siangnya dan bukan memakannya. "Ah iya! Hinata." Panggil Sakura pada teman barunya itu.

Hinata segera melihat kearah Sakura yang tadi memanggil namanya. "Ya?" Sahut Hinata.

"Nah Naruto, perkenalkan dia ini anak baru di kelasku namanya Hinata Hyuuga." Sakura melambaikan tangannya ke arah Hinata. "Dan Hinata ini adalah Naruto Uzumaki, temanku." Kali ini Sakura memegang kedua pundak Naruto dan menggenggamnya erat.

Naruto mengulurkan tangannya ke Hinata. "Hai aku Naruto." Ucapnya ramah. Membuat jantung Hinata semakin berdebar kencang.

"Hi-hinata. Hinata Hyu-hyuuga." Kata Hinata sambil menjabat tangan Naruto dan tersenyum kaku, ia merasa malu jika menatap mata biru yang dimiliki oleh Naruto.

Tiba-tiba Sakura melihat pergelangan tangannya yang dihiasi jam tangan merek terkenal. "Ah iya Naruto sudah jam segini aku dan Hinata masuk kelas dulu ya! Sampai jumpa" Ucap Sakura sambil bangkit dari tempat duduknya dan disusul oleh Hinata.

"Sampai jumpa!" Teriak Naruto ketika Hinata dan Sakura sudah berjalan agak jauh. 'Hinata.' Lalu ia tersenyum dan pergi dari tempat itu.

xxx

Jam menunjukkan waktu pulang di sekolah Hinta. Seperti kemarin Hinata membereskan barangnya pelan-pelan membiarkan teman-temannya keluar lebih dulu darinya sehingga ia tidak berdesak-desakkan dengan yang lain.

Setelah Hinata selesai mengatur barangnya dan melihat suasana di luar sudah tidak terlalu ramai ia segera berdiri dan memakai tas ransel warna coklat miliknya di pundak.

Ketika ia sudah berada diambang pintu kelas Hinata menghentikan langkahnya dan melihat ke belakang, ke sekeliling kelasnya. Mata lavendernya berhenti pada salah satu sosok yang paling ia benci belakangan ini. 'Sasuke?' Hinata menaikkan sebelah alisnya dan kembali menghadap ke pintu yang ada di depannya. Ia menggidikkan kedua bahunya, saat ia mau melangkah Hinata melihat ke belakang lagi, ke arah Sasuke masih dengan posisi yang sama, tidak berubah.

Hinata menggigit bibir berusaha meyakinkan diri, kemudian ia berballik ke arah Sasuke dan melangkahkan kaki ke arah lelaki itu pelan-pelan. Jarak Hinata dan Sasuke mulai mengecil, dari jarak sekitar 1 meter Hinata menyadari bahwa Sasuke tertidur, kakinya di angkat ke atas meja seperti biasa, tapi kali ini komik yang biasa ia baca berada diatas wajahnya menutupi ketampanan lelaki itu dan kedua tangannya dilipat di dada.

"Sasuke?" panggil Hinata sambil berbisik. Tidak ada reaksi dari Sasuke.

Kemudian mata lavender Hinata teralih ke arah meja Sasuke, barang-barangnya masih berantakkan bahkan ada yang jatuh ke bawah meja.

"Dasar, apakah ia tidak bisa sedikit lebih rapi?" Hinata menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali lalu ia membungkukkan badan untuk mengambil barang-barang Sasuke yang jatuh dan menaruhnya diatas meja, serta membereskan buku-buku Sasuke yang berantakan. "Sekarang lebih baik." Hinata berkacak pinggang dan tersenyum puas dengan hasil kerjanya walau tidak seberapa.

Tiba-tiba senyum yang tadi mengembang di bibirnya menghilang. 'Apa yang ku lakukan? Buat apa aku membereskan barang-barang milik orang menyebalkan ini?' Hinata mengenyeritkan dahi dan memandang wajah Sasuke yang tertutup komik. 'Lebih baik aku pergi sebelum ia terbangun.' Hinata langsung melesat pergi dari kelasnya, meninggalkan Sasuke yang masih tertidur.

Saat sudah berada di depan gerbang Hinata menyandarkan punggungnya ke dinding berwarna putih dan mengambil nafas sebanyak-banyaknya.

"Hinata?" Seorang memanggil namanya. Hinata segera menengok ke arah lelaki yang kini berdiri disampingnya.

"Na-Naruto."

"Ternyata benar ya? Apa yang kau lakukan disini? Tidak pulang?" Tanya Naruto, sambil memasukkan salah satu tangannya ke saku celana bermotif kotak-kotak itu.

Melihat Naruto jantung Hinata yang tadi sudah agak tenang kembali berdetak kencang dan mukanya mulai memerah. "A-aku.. aku tadi ba-baru keluar dari k-kelas sekarang ma-mau pulang." Kata Hinata gugup, dan badannya sedikit gemetar. 'Kenapa aku jadi gelagapan seperti ini?' Hinata menggigit bibirnya. Ia gelisah, nafasnya memburu seperti ada sesuatu yang menggaggu saluran nafasnya.

"Oh, rumahmu ke arah mana? Mau pulang bersamaku?" Tawar Naruto yang tidak menyadari perubahan gadis di depannya yang terlihat mulai berkeringat bukan karena hawa panas hari itu, tapi karena rasa gugup yang mencoba mengambil alih tubuhnya.

"Ti-tidak usah Na-Naruto te-terima kasih. A-aku duluan ya." Hinata membungkukkan badannya dan segera meninggalkan Naruto.

Naruto terdiam melihat Hinata keluar dari kawasan sekolah, lalu ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan menggidikkan bahu.

xxx

Hinata berjalan menelusuri wilayah kompleknya sambil menendang batu kecil yang menghalangi langkahnya. Ia menghela nafas panjang.

"Kenapa aku jadi gelagapan di depan Naruto? Kenapa juga tadi aku membungkukkan badan di depan Naruto? Naruto pasti akan menganggapku aneh." Hinata mengacak-acak rambutnya.

Perasaan Hinata kali ini benar-benar tidak karuan, sebenarnya ia senang jika bertemu dengan Naruto tapi kenapa ia harus kembali ke sifat lamanya setiap melihat atau berbicara dengan pemuda bermata biru itu? Padahal ia sudah berusaha untuk merubah sifatnya. Tetapi kalau bertemu dengan Naruto semuanya kembali ke awal, ke Hinata yang pemalu dan gelagapan.

xxx

Sasuke terbangun dari tidur siang di kelas 2-4 itu. Ia menyingkirkan komik yang menutupi wajahnya lalu menggeleng-gelengkan kepala agar rasa pegal yang melanda seluruh tubuhnya itu hilang karena posisi tidur yang bisa dibilang tidak nyaman.

Sejenak Sasuke melihat ke arah mejanya. Keningya berkerut memandang keadaan barang-barangnya yang tadi berantakkan sekarang sudah tertata rapi.

'Siapa yang membereskan semua ini?'

Sasuke mengedarkan padangannya ke sekeliling kelas, ia tidak menemukan satu orang pun yang masih tinggal di kelas itu.

'Sakura, Ino, atau fans kanibal itu?' Sasuke menyebutkan satu persatu nama yang melintas di otaknya.

Sakura? Dia memang suka padanya, tapi ia tidak pernah lagi berani menyentuh barang-barang Sasuke sejak Sasuke membentaknya karena waktu itu Sakura ingin mengambil pulpen Sasuke yang jatuh saat pelajaran Asuma.

Ino? Melihat Sakura di perlakukan seperti itu oleh Sasuke, Ino jadi angkat tangan dan tidak pernah mau resiko berbahaya seperti yang dilakukan temannya itu.

Jadi siapa?

Fans setianya? Tidak akan mungkin. Kalau bertemu Sasuke pasti mereka sudah teriak dan memanggil namanya, yang ada bukan meja yang rapi tapi meja yang berantakkan serta barang hilang, dan beberapa hari kemudian dapat di temukan beberapa fans Sasuke memakai barang-barangnya.

Sasuke mengangkat tangan kirinya dan melihat jam yang melingkar di tangan pucatnya, waktu menunjukkan pukul 15.45, Sasuke segera memasukkan barang-barang yang secara tiba-tiba tertata rapi ke dalam tas ranselnya dan segera pulang sambil tetap berfikir, siapa yang membereskan semua barang-barangnya. Mungkin dia orang baik.


Akhirnya bisa juga update chapter 2, maaf ya kalo jelek atau agak kurang enak gitu di bacanya, soalnya saya ngerasa chapter ini feelnya kurang dapet, tapi sudah saya perbaiki, semoga readers suka.

makasih ya yang udah review, saya seneng banget bacanya, bikin semangat. hehehe

kritik dan saran masih di harapkan, terima kasih!