When We Must Part II
Deslaimer : Eyeshield 21 By Riichiro Inagaki-sensei and Yusuke Murata-sensei
By : Yukari Hyuu-Kei
.
.
Devilish 'Yuuri' aka Fio-chan : hee ...? Saia jgga blum mikirin sampe situ! ^^" *Plak!* UPDATE kilat!
.
Chapter 2—The Parting
.
.
"Kakei! Mulai sekarang, kita akan menjadi rival. Walau sekolah kita berbeda—aku di Enma dan kau di Saikyoudai, tapi kita akan tetap jadi teman. Dan, pastikan saat Rice Bowl kita akan bertemu lagi!" seru Mizumachi antusias sepulang perpisahan. Perpisahan siswa angkatannya dan juga Kakei.
Kakei terdiam.
Saikyou? Ya, Saikyoudai yang terkenal itu. Universitas elit dengan tim Amefuto yang luar biasa itu.
"Tentu saja," Kakei tersenyum kecil.
xXxXx
Sore ini, Mizumachi mengajak Kakei, Maki, dan beberapa kawan seangkatan mereka untuk merayakan kelulusan mereka di klub karaoke favorit Mizumachi. Bagaimana pun, rasanya tidak wangun melihat seorang Kakei Shun berpesta dengan orang-orang gaje seperti Mizumachi. Namun, Kakei tidak bisa menolak. Yah, dirinya itu memang sulit dimengerti.
Mizumachi mengambil gelasnya yang ada di meja. Lantas, tentu saja meminumnya. Lagi pula, kurang kerjaan juga, kan, bawa-bawa gelas cuma buat hiasan?
"Nghaaa~ apa iniii ...? Berputar-putaaar~!"
"Mizumachi ...? Apa yang ..."
"Tidak apa-apa, Kakei-sensei! Aku cuma mengganti gelas jus-nya dengan gelas wine ini! Nanti dia juga bangun lagi!" seru Ohira bangga. Bangga bisa mengerjai Mizumachi.
"Yah, kalau memang kau bilang tidak apa-apa ..."
"Tenang saja, sensei!" tambah Onishi sambil mengacungkan jempolnya gaje.
"Dan berhenti panggil aku sensei!"
xXxXx
"NGEHH!" Mizumachi terbangun seketika.
"Benar, kan! Ini dia ramuan hebat karya Guru Onishi~!" seru Onishi sambil tersenyum tanpa dosa. Padahal, kini Mizumachi sudah memuntahkan tigaperempat dari isi perutnya.
"Apa yang kau berikan itu, hah? Baunya lebih parah dari terasi goreng buatan ibuku!" teriak Mizumachi protes. [Readers : terasi goreng?]
"Ah, ini? Ini kaus kaki milik Ohira!" ujar Onishi.
"APAAAHH?" Mizumachi kambali tepar dengan mata berkunang-kunang.
"Yah, dia pingsan lagi ..." ucap Otohime sweatdropped.
"Bukannya itu kaus kakimu?" tanya Ohira tiba-tiba dengan aura death glare yang luar biasa. Kenapa dia begitu? Tentu saja karena aibnya disebar-sebarkan.
"Tidak, kok! Aku mengambilnya dari tasmu!" sergah Onishi—tidak mau aibnya disebarkan pula.
"Kau menggeledah tasku, ya? Eh, bukan, itu milikmu yang tertinggal di kamarku, tahu!" balas Ohira tidak mau kalah.
"Memangnya kapan aku ke rumahmu? Ke rumahmu saja aku tidak pernah, apa lagi ke kamarmu!" kini, pikiran Onishi mulai rancu. Yang dipikirnya adalah memangnya aku ke kamarnya Si Ohira buat ngapain?.
Kakei menghela napas. Ia tidak bisa menghentikan adu mulut mereka kalau sudah begini. Tidak akan bisa. Sementara itu, Otohime berusaha keras membangunkan Mizumachi yang masih tepar.
"Oh, iya, Kakei-kun ..." panggil Otohime setelah menyerah dengan laki-laki norak di depannya. "Shibuya-chan tidak datang? Kemarin Mizumachi-chi sudah mengundangnya, kan?"
Kakei menggeleng pelan. Menggeleng yang artinya aku juga tidak tahu.
"Aku sudah menghubunginya, tapi ..."
"Apa nomornya tidak aktif?" tanya Otohime. Kakei menggeleng lagi.
"Nomornya bisa dihubungi, tapi Shibuya tidak mengangkatnya," jawab Kakei tidak mengerti. Padahal biasanya, begitu mengetahui penelponnya adalah Kakei, Maki langsung menyerbu handphone malangnya.
"Apa Shibuya-chan sedang jauh dari handphone-nya?" Otohime bertanya lagi.
Kakei terdiam.
"Aku jadi mengkhawatirkannya," ucap Otohime pelan—berhubung Kakei tidak menjawab pertanyaannya yang terakhir tadi.
"Tidak perlu khawatir. Memang apa hal buruk yang mungkin terjadi kepadanya?" Kakei balas bertanya.
"..." Otohime berusaha berpikir. Menjawab ucapan Kakei yang cukup logis. "Apa dia terlalu sedih berpisah dengan kita ...?"
"... yah, sebenarnya itu mungkin tidak salah juga,"
xXxXx
09.24 PM
"Hee? Sudah semalam ini?" tanya Otohime. "Kalau perempuan sepertku pulang lebih malam lagi ... bisa bahaya," ujar Otohime khawatir.
"Tidak apa, Otohime-chan! Biar aku temani, ya ...!" seru Mizumachi semangat.
"Dari pada ditemani olehmu, mendingan aku pulang sendiri saja!" tukas Otohime kesal.
"Jangan begitu, akan berbahaya jika seorang perempuan pulang sendiri, kan?" kata Kakei menyela. Otohime manyun—menirukan gaya pacarnya—sesaat.
"Kalau Mizumachi yang menemani, entah kenapa aku malah merasa lebih bahaya!" putus Otohime. "Tapi, yah ... baiklah,"
"Kau ini bagaimana, sih?"
Akhirnya sudah diputuskan, Mizumachi pulang bersama Otohime.
Kakei, tentu saja pulang sendiri. Rumahnya tidak begitu jauh dari tempat itu, jadi, ia bisa berjalan kaki.
"Eh, hujan?" tanya Otohime pelan. Di dalam klub karaoke yang berisik, suara hujan memang tidak terdengar. "Kakei nggak apa, pulang sendiri?"
Mizumachi manyun. Kenapa Otohime lebih memperhatikan Kakei daripada dirinya?
"Tidak. Aku akan baik-baik saja. Lebih baik, khawatirkan dirimu. Jangan sampai ada apa-apa—terutama gara-gara Mizumachi—."
"Dia terlalu keren sampai bikin kesal!" seru beberapa siswa seangkatan Kakei dalam hati.
"Aku justru pengen kamu ikut aku sama Mizumachi, tahu!" ternyata Otohime juga ikut membatin.
"Ng? Kakei ke mana?"
Di luar, Kakei berjalan sendirian ditemani payungnya beserta kesunyian malam. Malam ini tentu saja lebih sunyi. Gara-gara hujan.
Pyak!
Seseorang menginjak genangan air di hadapan Kakei. Seseorang yang tentu saja dikenalnya. Seseorang yang sempat dibicarakannya tadi. Seseorang yang ...
"Shibuya ...?" gumam Kakei melihat sosok gadis berambut oranye itu. Kini, rambutnya telah basah oleh air hujan ... karena tidak memakai payung, tentunya.
"Kakei ... kenapa kau tidak memberitahunya kepadaku?" tanya Maki dengan nada kekesalannya.
"Apa maksudmu?"
"Kau tidak akan melanjutkan universitasmu di Saikyou, kan? Kau akan kembali ke Amerika, kan?" teriak Maki. Putus asa. Tidak bisa menerima kenyataan ini.
Kakei menghela napas.
"Kenapa kau menyembunyikan hal ini kepadaku, Kakei? Kenapa ...?" suara Maki merendah. Maki terisak.
Kakei terdiam. Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Sudah terlambat untuk mengakuinya. Aku memang berbohong, Shibuya. Memang.
"Awalnya aku benar-benar akan mendaftar di Saikyoudai ... dan, aku juga baru dapat kabar kalau akan kuliah di Amerika juga baru sehari sebelum lulus," terang Kakei. Ia tidak punya pilihan lain selain mengakuinya.
"Kakei ..." gumam Maki. "Kau bahkan murid baru saat kelas 3 SMP. Sekarang, kau masih mau pindah lagi ..."
"Ngh ..."
"Aku masih ingin bersamamu,"
Tak ada jawaban dari lelaki di hadapannya. Keduanya terdiam.
Tiba-tiba saja, Maki merasa hujan berheti. Padahal sebenarnya tidak. Maki mengangkat wajahnya yang sedaritadi menunduk. Ternyata lawan bicaranya barusanlah yang memayunginya.
"Kalau kau berhujan-hujanan begini ... kau akan sakit," kata Kakei pelan. Maki merengut kesal.
"Sepertinya omonganku tidak didengarkan!"
"Kenapa kau begitu sulit berpisah denganku, Shibuya?" tanya Kakei. Maki terdiam.
"Karena aku ... Menyukai seseorang," sahut Maki pelan. Kakei diam tidak mengerti. "Dia adalah ... orang yang sedang di hadapanku ..."
Maki termenung sejenak. Tapi ...
Ia tidak menyadari kalau detik berikutnya adalah detik-detik yang akan selalu ia ingat. Detik-detik yang mengejutkan ... dan tidak akan ia lupakan, selamanya.
.
"Eh ...?" gumam Maki terbelalak.
"Kakei ..." Maki menutup matanya pelan.
Di dalam hujan, di keheningan malam, mereka ... berciuman.
"Shibuya, aku pasti kembali menemuimu. Aku janji,"
"..."
.
Kakei melepaskan ciumannya. Lalu, memberikan payungnya kepada Maki yang masih terdiam—tidak percaya. Sedangkan dirinyalah yang sekarang pulang dengan berhujan-hujanan.
"Kakei ..." Maki menggenggam gagang payung milik Kakei itu.
Tbc
OMAKE
Sepanjang perjalanan pulang dengan Mizumachi, Otohime tidak pernah berhenti merengut kesal. Mana payungnya cuma satu, lagi.
"Kenapa aku setuju jalan sama dia, ya?" umpatnya dalam hati.
Sedangkan Mizumachi, sedaritadi cengar-cengir gaje seperti biasanya—untuk orang yang satu ini, tidak ada lagi kata merengut.—
"Eh, Otohime-chan," panggil Mizumachi dengan senyum iseng mengembang di mukanya.
"Apaan?"
"Mau ikut ke rumahku aja, nggak?"
"HEH! Enak saja, ya? Mana mungkin aku mau ...!" tukas Otohime tidak terima.
"Tapi kita udah di depan rumahku, loh!" Mizumacih menunjuk rumah di samping kanan mereka. Otohime sweatdropped sendiri.
Pesan untuk anak baik : jangan melamun di tengah jalan! Nanti malah jadi ikut sama orang aneh! Kayak yg dialami Otohime!
.
.
Shibuya Maki hujan-hujanan,
Ketemu Kakei di tengah jalan.
Apa pun yang orang katakan,
REVIEW sangatlah diharapkan!
