Bagian pertama
Dia di sana, dengan satu cangkir kopi dan tabloid fotografi di pangkuannya. Lampu yang remang tidak membuat Yoongi kesulitan untuk mengenali sosok tampannya, meski sebagian wajah Taehyung tertutup bayangan. Dia di sana, duduk tenang di dekat jendela sambil serius membaca—dengan ponsel setia dalam genggaman.
"Aku pulang." Yoongi mengusap rambutnya yang lepek setelah berlari seratus lima puluh meter dari halte pemberhentian busnya. Jimin hanya mendengus pasrah saat Yoongi melepas mantel miliknya untuk dikembalikan sembari berkata untuk hanya mengantarnya sampai sana.
"Oh." Taehyung mengangkat kepalanya. Usapan ringan di tengkuk adalah indikasi jika ia setengah gugup, "kau sudah pulang."
"Hm. Hujannya cukup deras jadi aku menunggu agak lama di halte."
"A-ah, begitukah?" Binar cokelat Taehyung meredup dan senyumnya nampak sedikit ragu. Taehyung meletakkan ponsel dan tabloidnya di dekat cangkir kopi, lalu menunduk untuk mengusap jemarinya.
Yoongi mendekat, berdiri di hadapan Taehyung sampai kedua lututnya menempel pada milik Taehyung. Lalu menunduk untuk membelai pipi Taehyung lembut sebelum menambat satu kecupan singkat di bibirnya.
"Lain kali telepon aku, kalau kamu cemas."
Ada semu merah muda yang tak sempat Yoongi tangkap dengan matanya, sebab Taehyung buru-buru menarik pinggangnya, dan bersembunyi di perutnya. Usapan ringan di kepala cokelat Taehyung adalah satu-satunya yang bisa Yoongi berikan.
.
Taehyung di sana, duduk diam di depan jendela dengan ponsel tergenggam erat di tangannya. Serta cangkir kopi yang isinya utuh tak tersentuh. Ya. Tidak butuh frasa atau pun klausa untuknya paham. Taehyung memang di sana—begitu cemas menunggunya.
.
.
.
Ketika kamu berpikir akan menyakitiku dengan genggamanmu
Ketika kamu menahan diri dengan gemelut resah seorang diri
Ingatlah jika aku, selama itu kamu, tidak akan pernah takut tersakiti sekalipun kamu menggenggamku terlalu erat
.
.
.
Mantel itu masih didekapnya dalam pangkuan. Satu jam sudah ia habiskan memaku pandang pada jalanan yang basah. Dia kedinginan. Tapi hatinya terasa jauh lebih dingin. Jimin nyaris tidak menyadari jika senja sudah berganti malam. Hujan sudah tinggal gerimis kecil. Bahkan surainya yang lepek sudah kembali kering diterpa angin. Hanya satu yang masih tetap sama. Adalah perasaannya pada Yoongi.
Sekeras apapun Yoongi mendorongnya menjauh. Ia akan tetap di sana, menggenggam erat hatinya yang patah karena jatuh cinta. Jimin akan tuli jika Yoongi menyebut Taehyung. Jimin akan buta ketika Yoongi bersama Taehyung. Jimin akan baik-baik saja, meski hanya jadi bayangan tak tersentuh.
Senyum getir itu tersemat di bibirnya. Seraya mengenakan mantelnya yang bercampur parfum Yoongi, Jimin lantas bangkit meninggalkan halte. Meninggalkan satu lagi perih yang ditorehkan sang pujaan hati.
.
.
.
