HEAT: BETA?

JAESON/IM JAEBUM|WANG JACKSON

GOT7/ROMANCE/M/ALPHA/OMEGA/OMEGAVERSE/BL/OOC

ALL CAST BELONGS TO GOD AND THEMSELF

WARNING!

IF YOU DON'T LIKE BOYS LOVE/SHOUNEN AI/YAOI, PLEASE JUST IGNORE IT.

.

.

Chapter 2

Semilir angin pada penghujung musim dingin membelai apa saja yang dilaluinya. Aroma tanah hijau mulai menggelitik penciuman. Sang mentari yang tak belama-lama tiap harinya, kini masih bertengger manis pada awal senjanya. Masih memberikan kehangatannya pada apapun yang terbias olehnya.

Tek.. tek.. tek.. tek..

Terlihat Jackson menekan kasar layar pada ponselnya. Barble dalam genggamannya pada tangan lainnya pun ia lempar begitu saja. Menggambarkan kekesalannya akan panggilannya yang tak kunjung mendapat jawaban. Tak mempedulikan bila kerusakan akan terjadi akibat perlakuannya.

"Memaki ponselmu, takkan membuat orang yang kau panggil mengangkat panggilanmu." Komentar Jaebum akan aksi brutal Jackson pada ponselnya.

"Huft.. Apa dia sudah tidak sayang padaku, hyung? Sudah seminggu mama atau papa tidak mengangkat telponku. Wae?" Rengek Jackson karena kedua orang tuanya tidak ada yang memberi kabar padanya.

"Mungkin mereka sedang sibuk." Balas Jaebum, tidak terlalu mempedulikan rengekan roomatenya.

"Sesibuk apapun mereka, pasti mereka menyempatkan untuk mengabariku. Hiks.." Kembali Jackson merengek.

"Mungkin tidak ada sinyal." Jawab Jaebum asal, tidak habis pikir dengan kelakuan Jackson. Manja, itulah yang ada dalam benaknya.

"Sudahlah, cepat bersihkan badanmu. Kita berangkat bersama." Perintah Jaebum, tak ingin mendengar rengekan Jackson kembali dan tidak kuat dengan aroma yang keluar dari tubuh berkeringat Jackson sehabis pemanasan tadi.

"Kita memiliki jadwal latihan yang sama? Okeh, tunggu aku hyung." Mendapat anggukan dari Jaebum, membuatnya semangat dan melupakan rengekannya. Ia pun melesat menuju kamar mandi.

"Sepertinya ada yang salah dengan penciumanku. Huft.. Aku benci penghujung musim dingin." Gerutu Jaebum akan hawa yang mulai menguasainya.

~Nappeun Bamie~

Kini mereka berjalan beriringan sepanjang jalan Gyeongin. Menjelajahi sisi jalan yang menyajikan etalase-etalase cantik yang dipertontonkan. Menikmati hangatnya pancaran matahari di sore hari yang telah lama tak mereka lihat sepanjang musim dingin.

"Tidak bisakah kita berjalan tanpa perlengkapan ini?" Keluh Jackson pada syal tebal yang hampir menutupi separuh wajahnya.

"Kau lihat baliho dan spanduk-spanduk di sepanjang jalan? Semua memuat wajah kita semua. Silahkan jika kau ingin melepasnya. Namun jangan harap aku akan membantumu jika kau tertahan di sini karena serangan fans." Jelas Jaebum atas keluhan Jackson.

"Apa aku setenar itu?" Celetuk Jackson kembali merendah. Namun tak digubris oleh Jaebum. Ia lebih memilih terus berjalan, menghindari keluhan lainnya.

"Hyung, jangan tinggalkan aku, hyuuung." Teriak Jackson karena tertinggal oleh Jaebum.

"Jaebum Hyung?" Panggil Jackson setelah berhasil menyusul Jaebum.

"Hm?"

"Aish.. Sikap dinginmu membuat cuaca hari ini semakin dingin saja." Keluh Jackson atas sikap Jaebum, yang tentu tidak dipedulikan oleh orang yang dibicarakan.

Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka dalam diam. Menikmati hawa dingin yang mulai menguasai waktu senja mereka. Hingga salah satu dari mereka menghentikan langkahnya, yakni Jaebum. Langkahnya terhenti dan pandangannya menengadah. Memperhatikan dahan-dahan pada pohon yang berada di hadapannya. Jackson yang melihatnya pun, ikut berhenti dan mengikuti arah pandang Jaebum.

"Musim Semi yah?" Gumam Jackson saat melihat dedaunan mulai terlihat di dahan-dahan pohon yang ada di hadapan mereka.

"Dari nadamu, seperti kau tidak menyukai musim semi. Wae?" Tanya Jaebum yang mendengar gumaman Jackson.

"Ani. Aku sangat menyukai musim semi. Hanya saja.." Jackson berhenti, menghirup nafas sejenak sebelum melanjutkan perkataannya.

"Hanya saja, selalu ada yang kurang jika musim semi tiba. Dan saat itu ada masa di mana aku benar-benar tidak bisa beranjak dari kamarku. Itu sangat merepotkan." Terang Jackson dengan helaan nafas berat menyertainya.

"Apa kau mengidap penyakit parah?" Tanya Jaebum spontan.

"ANI! Tolong jangan katankan itu lagi. Itu mengerikan." Sangkal Jackson dengan memasang wajah ngeri.

"Lalu?" Jaebum kembali bertanya.

"Entahlah. Dokter mengatakan bahwa itu wajar. Jadi selama itu bukan sebuah penyakit, aku membiarkannya."

"Ahh.. Sudahlah, tak usah dipikirkan. Lebih baik kita sekarang segera menuju tempat latihan. Di luar mulai dingin." Ajak Jackson langsung mengapit lengan Jaebum. Kembali berjalan beriringan menuju tempat tujuan mereka sebenarnya.

~Nappeun Bamie~

"Tap tap tap.. Hap!"

" and jump!"

"Once more!"

"Sekarang lakukan dengan musik!"

" 1.. 2.. Yap!"

Aba-aba demi aba-aba diserukan. Gerakan demi gerakan dilakukan bersamaan. Musik pengiring pun menggema di seluruh penjuru ruang. Alirah peluh pun tak dapat dihindarkan dari mereka yang memainkan.

"Latihan kita akhiri, kamsahamnida yeorobeun." Ucap sang pelatih mengakhiri latihan pada hari itu.

"Kau sepertinya lelah sekali, Jackson-ah?" Tanya sang pelatih yang melihat Jackson kini terbaring di ruang latihan dengan peluh membanjiri tubuhnya.

"Hah.. Hah.. Hah.. Aku belum meminum obatku, hyung." Jawab Jackson kelelahan. Ia pun segera bangkit dan mengambil tasnya untuk mengambil obat yang ia sebutkan tadi.

"Itu obat penambah stamina atau apa?" Tanya sang pelatih yang masih penasaran dengan obat berbentuk pil yang diminum Jackson.

"Sebut saja begitu." Jawab Jackson seadanya. Yah karena ia memang tidak mengetahui pasti obat apa yang sebenarnya ia minum.

"Coba ku lihat?" Pinta sang pelatih. Jackson pun tanpa ragu memberikannya.

"Obat penurun hormon?" Gumam sang pelatih saat melihat komposisi yang tertera pada botol tersebut.

"Kau mengatakan apa, hyung?" Tanya Jackson karena merasa kurang jelas mendengar perkataan pelatihnya.

"Ahh, tidak. Ini hanya tebakanku saja. Berdasarkan beberapa komposisi bahan yang digunakan, itu satahuku adalah untuk menurunkan hormon." Terang sang pelatih agak ragu.

"Kau tahu tentang obat-obatan, hyung?" Tanya Jackson dengan begitu antusias, karena merasa mendapat sedikit pencerahan mengenai obat yang selama ini ia minum.

"Hanya sedikit. Karena ayahku seorang dokter farmasi." Terang sang pelatih, menjelaskan mengapa ia mengetahuinya.

"Jinjjayo, hyung? Jujur saja sebenarnya aku kurang tahu obat apa yang aku minum selama ini. aku meminumnya karena selama ini obat itu berhasil mengatasi masalah kondisi tubuhku yang suka menurun." Tutur Jackson, menjelaskan masalahnya.

"Jadi selama ini kau meminum obat yang kau sendiri tidak tahu untuk apa? Kau ini! yang benar saja." Respon sang pelatih, tak habis pikir dengan kelakuan muridnya yang satu itu.

"Kau ingin tahu ini obat apa?" Tawar sang pelatih, kasihan akan ketidaktahuan Jackson.

"Ne.. Ne.. Bisakah?" Jawab Jackson begitu antusias. Dulu ia tidak begitu mempermasalahkan akan obat itu, karena yang memberikannya adalah orang tuanya sendiri. Yang ia yakin bahwa setiap yang diberikan orang tuanya adalah baik untuknya. Namun, setelah Jaebum memperanyakannya membuat ia jadi benar-benar memikirkannya. Obat seperti apakah yag selama ini ia minum. Naif.

"Jika kau mau, aku akan membawanya pada ayahku untuk memastikan kandungnnya. Namun itu memerlukan waktu yang cukup lama." Tawar sang pelatih.

"Memangnya butuh waktu berapa lama hyung?" Tanya Jackson.

"Aku kira tidak sampai satu minggu." Ujar sang pelatih memperkirakan.

"Hmm.. kalau begitu, ku rasa tak apa." Balasnya mengizinkan.

"Kalau behitu serahkan padaku. kau membawa obat lainnya kan?" Tanya sang pelatih memastikan.

"Ehh.. Tidak. Hehehe.." Jawab Jackson ragu.

"Aishh.. Kau ini." lelah sang pelatih menghadapi kelakuan muridnya yang satu ini.

"Aku tak apa, hyung. Aku akan baik-baik saja." Ujar Jackson meyakinkan.

"Baiklah kalau begitu. Aku akan membawa obatnya, berdoalah hasilnya akan keluar cepat." Putus sang pelatih.

"Ne, gomawo hyung." Ujar Jackson berterima kasih. Akhirnya ia dapat mengetahui dengan pasti obat apa yang selama ini ia minum. Semoga.

"Sama-sama. Sekarang pulang dan beristirahatlah." Balas sang pelatih. Mereka pun pulang bersama dengan yang lainnya. Kembali pada masing-masing peraduannya. Merehatkan segala letih pada tubuhnya.

~Nappeun Bamie~

Jaebum jengah dengan apa yang dilihatnya saat ini. Lelah tubuhnya terasa semakin bertambah dengan apa yang kini ia saksikan. Melihat Jackson yang kini berjalan mondar-mandir di hadapannya. Wajah itu terlihat gelisah namun ia tidak tahu akan sebabnya. Dan sosok itu pun tak kunjung menceritakan akan masalahnya. Membuatnya semakin penat karenanya.

"Bisakah kau kembali ke tempat tidurmu dan segera terlelap." Tanya Jaebum, namun lebih terdengar seperti perintah di telinga Jackson.

"Ne." Jawab Singkat Jackson. Ia pun langsung merebahkan tubuhnya. Namun tak lama setelahnya ia kembali terbangun dari tempat tidurnya. Kembali berlaku menyebalkan bagi Jaebum.

"Ck.. Sebenarnya ada apa denganmu, eoh?" Tanya Jaebum sedikit kesal. Tangannya pun tak lepas dari memijat keningnya.

"Hmm.. Ehh.. Hmm.. Aku tidak memiliki pilnya." Jawab Jackson ragu.

"Pil? Pil yang setiap hari kau minum itu?" Tanya Jaebum memastikan. Yang kemudian dibenarkan oleh Jackson.

"Mwo? Bagaimana bisa?" Tanya Jaebum kembali.

"Hmm.. Aku memberikannya kepada pelatihku untuk mengetahui obat apa yang sebenarnya aku minum selama ini." Jawabnya sedikit takut dengan respon Jaebum nantinya.

"Lalu?" Tanya Jaebum kembali.

"A.. Aku takut tidak bisa tidur dan aku takut kondisiku benar-benar menurun." Jawab Jackson apa adanya.

"Lalu mengapa kau berikan kepadanya?"

"Aku penasaran hyung." Sambar Jackson setelah pertanyaan Jaebum terlontar. Menunjukkan rasa keingintahuannya yang teramat.

"Haruskah aku menelponnya lagi? Tapi aku begitu penasaran." Terang Jackson akan kebimbangannya.

"Sudahlah. Yakin saja bahwa semua akan baik-baik saja. Karena itu mulai sekarang jaga kondisimu dengan baik. Dan sekarang cepatlah tidur!" Tutur Jaebum, menyemangati Jackson. Karena bagaimana pun, kegelisahan Jackson akan mempengaruhi kualitas tidurnya. Kejam.

"Huft.. Baiklah." Jackson pun mencoba tenang dan menuruti perkataan Jaebum. Kini ia pun mulai merebahkan tubuhnya. Mencoba merilekskan tubuhnya. Menjauhkan segala pemikiran negatif yang merasukinya. Dan ia pun terlelap. Yang disusul Jaebum setelahnya.

~Nappeun Bamie~

Kegelisahan kembali menguasai tubuhnya yang terlelap. Namun dengan kegelisahan yang berbeda dari malam sebelumnya ketika pertama kali kedatangannya. Ia rasakan sekujur tubuhnya memanas. Nafasnya sedikit terasa berat, dan naluri lelakinya entah mengapa secara tiba-tiba mendatanginya. Ia pun memutuskan bangun dari tidurnya.

Ia dudukkan dirinya di tempat tidurnya. Ia lihat jam weaker di atas lacinya. Jam 04.00 dini hari. Waktu yang menunjukkan terlalu pagi untuk seseorang terbangun dari tidurnya. Ia lirik Jackson yang terlelap di sebrang tempat tidurnya. Terlihat Jackson yang terlelap dengan tenang dalam tidurnya sambil memeluk sebuah guling. Sebuah guling miliknya yang entah sejak kapan sudah berada dalam dekapan Jackson.

Ia hampiri tempat tidur Jackson. Ia perhatikan wajah manis pria yang tertidur di sana. Yang entah mengapa ia merasa iri dengan guling dalam dekapan Jackson. Ia terus perhatikan wajah yang begitu damai itu. Hingga pandangannya tertuju pada bibir mungil Jackson yang semakin berisi ketika dia tertidur, membuat naluri lelakinya kembali merasukinya.

"Hahh.. Pergantian musim dingin menuju musim semi yah. Suhu yang sangat cocok untuk.." Ia hentikan perkataannya. Pikirannya berkelana semakin liar.

"Akhh.. Jogging sepertinya sedikit membantu." Ia pun memutuskan. Lari ringan di pagi hari sepertinya akan sedikit meredam hasratnya. Ia pun bersiap-siap. Tak lupa meninggalkan sebuah memo untuk Jackson.

Jika kau bangun sebelum aku kembali, susul aku di Sky Dome.

Jaebum

"Semoga aku tidak bertemu dengan seorang omega." Doanya membatin. Ia pun meninggalkan apartement.

Satu jam setengah telah berlalu. Kini ia terduduk di depan sebuah mini market dengan kopi hangat menemaninya. Mengistirahatkan kakinya setelah berlari mengelilingi kota. Setelah ia rasa tenaganya telah terisi kembali, ia pun beranjak melanjutkan aktivitasnya kembali. Melanjutkan larinya. Sesampainya ia di depan stadiun, ia melihat seorang laki-laki dengan hoodie berwarna hitam yang tidak asing di matanya. Ia pun menghampiri pria tersebut.

"Kau datang lebih cepat dari perkiraanku." Ujarnya pada sosok berhoodie.

"Aku sudah di sini setengah jam yang lalu, kau tahu!" Keluh pria itu karena telah lama menunggu.

"Mianhae, aku tak menyangka kau akan secepat itu menyusulku. Sebagai ucapan maaf, aku akan mentraktirmu sarapan." Tawar Jaebum.

"Benarkah? Kau yang terbaik hyung." Balas pria itu dengan wajah yang sangat senang, bahkan lakunya seperti anak kecil. Tak terlihat berlebihan baginya, namun terlihat menggemaskan.

"Tapi sebelumnya, temani aku berlari. Ne, Jackson-ah?" Pinta Jaebum kepada pria itu yang teryata adalah Jackson.

"Dengan senang hati." Jawab Jackson. Mereka pun melanjutkan lari mereka. Menghirup udara segar di sepanjang kota Gocheok. Menikmati momen bersama yang jarang mereka lakukan.

Seperti yang dijanjikan. Kini mereka sudah berada di sebuah Mc. Donald yang buka 24 jam di daerah tersebut. Mereka pun mencari tempat yang nyaman untuk mereka tempati.

"Tunggulah di sini, aku yang memesan." Imbau Jaebum, menawarkan layanannya, yang dituruti Jackson.

Selama menunggu, Jackson pandangi jalanan sepi yang ada di depannya. Begitu tenang, karena belum banyak orang yang beraktivitas di jam ini. Namun kini pandangannya teralihkan pada sosok yang kini sudah ada terduduk di hadapannya.

"Mark hyung, sedang apa kau di sini?" Tanya Jackson pada pria yang ada di hadapannya.

"Aku hanya sedang lewat, dan melihat kau dengan pria itu." Tunjuk Mark pada pria yang sedang membawa makanan menuju meja mereka, Jaebum.

"Ahh kebetulan sekali, makanlah bersama kami di sini." Pinta Jackson pada Mark.

"Tidak perlu, aku hanya ingin melihat dari dekat pria yang sekamar denganmu, Jackson." Tolaknya. Setelahnya jaebum pun datang dengan makanan memenuhi nampannya. Hingga pandangan mereka pun saling bertemu.

"Alpha." Batin keduanya.

"Ah.. Jaebum hyung, ini Mark. Temanku yang sempat aku bicarakan waktu itu. Atau lebih tepatnya dia adalah sepupuku. Dan Mark hyung, ini Jaebum. Teman sekamarku." Jackson mengenalkan keduanya. Mereka pun saling bersalaman.

"Senang bertemu denganmu." Sapa keduanya terlihat ramah. Namun aura dari keduanya menggambarkan sebaliknya. Aura persaingan yang terlihat nyata.

"Musim yang tepat untuk mencari mangsa bukan?" Tanya Mark pada Jaebum dengan nada menantang.

"Kau benar." Jawab Jaebum sinis. Bibirnya pun tak lepas dari seringai yang khas di wajahnya.

"Jackson-ah. Habiskan makananmu. Aku pamit." Pamit Mark, setelah menyelesaikan tujuannya.

"Cepat sekali." Keluh Jackson, karena Mark yang hanya sebentar menemaninya.

"Kita akan bertemu lagi." Ujar Mark memberikan pengertian. Senyuman hangat pun tak lepas dari wajahnya.

"Dan Jackson, berhati-hatilah dengan pria itu." Imbau Mark, dan langsung meninggalkan tempat tersebut.

"Ya, dan hati-hatilah di jalan, Mark Hyung." Salam Jackson.

"Ah.. Jaebum hyung. Kau tak perlu mendengarkan perkataannya yang tadi, yah. Dia memang suka memperlakukan orang yang berada di sekitarku seperti itu." Terang Jackson akan saudaranya.

"Jackson, kau yakin kau seorang beta?" Tanya Jaebum tiba-tiba.

"Ne, Waeyo?" Tanya Balik Jackson. Bingung dengan pertanyaan mendadak dari Jaebum.

"Kau yakin?" Tanya Jaebum kembali. Masih tidak yakin dengan jawaban Jackson.

"Mama mengatakan bahwa aku seorang beta. Dan aku merasa bahwa aku memang bukan alpha. Dan lagi bukankah aku terlalu manly untuk seorang omega?" Tutur Jackson yang sontak membuat Jaebum terkekeh.

"Baiklah, sekarang makanlah. Dan aku sarankan, pakailah hoodie itu kemana pun kau pergi. Aku juga punya warna yang lain jika kau bosan dengan yang itu." Ujar Jaebum yang sontak membuat Jackson tersedak.

"Uhuk.. ahh mianhae hyung. Aku lupa mengatakannya. Tadi sebelum berangkat aku melihat hoodiemu di sofa. Karena terlihat sangat hangat jadi aku memakainya. Dan ini benar-benar nyaman. Aku boleh memakainya?" Aku Jackson akan aksi mencurinya.

"Pakailah. Dan Habiskan makananmu." Izin Jaebum.

"GOMAWO HYUNG." Teriak Jackson dan langsung memeluk Jaebum karena begitu bahagia. Tak hanya itu, ia pun memasang wajah menggemaskan dengan pipi mengembung karena dipenuhi oleh makanan. Mata bulatnya yang jernih menciptakan ekspresi yang begitu berbahaya bagi masa heatnya.

Yah, Bulan Maret, bulan di mana periode musim dingin akan berakhir dan akan digantikan dengan musim semi. Peralihan musim dengan suhu yang sangat cocok untuk para alpha mencari mate mereka. Masa di mana para alpha secara naluri akan saling bersaing mencari mangsanya. Masa di mana para beta dan omega menyebarkan pheromonenya.

Masa di mana Jaebum sangat membencinya. Masa di mana ia harus mati-matian menahan hasratnya agar tidak menyerang mereka yang memiliki pheromone yang begitu kuat. Dan kini yang menjadi masalah adalah ia harus berhadapan dengan seorang yang mengaku beta dan sedang mengeluarkan aura pheromone yang begitu memikat.

Ia bisa saja melakukannya dengan Jackson. Pada masa ini, meniduri siapa pun akan mudah jika kau memiliki daya tarik yang cukup kuat. Dan Jaebum percaya diri akan hal itu. Ia pun yakin Jackson takkan menolaknya, mereka sedang dalam masa heat bukan. Namun ia tak bisa melakukan itu, ia tidak bisa meniduri sembarang orang. Ia hanya akan melakukannya dengan matenya. Namun, semenjak Jackson tidak meminum pilnya, pria yang ada di hadapannya kini mengeluarkan aura yang semakin kuat. Membuat ia frustasi.

"Hyung?"

"Hm?"

"Kau agak berbeda hari ini."

"Bedanya?"

"Kau terlihat lebih mengoda."

.

.

Bersambung...

Cerita mulai berbahaya.. tolong anak kecil menyingkir xixixix

Hope u enjoyed.. ^_^