Update...update...daku update kembali...
.
Eheee... para pembaca fic daku yang lain harap sabar ya... soalnya feel dan mood cerita ku nyantol di sini mulu... jadinya yang keluar adegan kelanjutan fic ini... ehe... (._.)V Happy Reading minna~~~ dozou~~~
0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o 0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o 0o0o0o
Falling Down
By Kinana
Disclamer : Tite Kubo (ultah mu kapan anata~~~? #plaaak)
Genre : Romance, Hurt/Comfort, Supernatural, Drama, Dll
Rating : T time~~
Pairing : IchiHitsu, RenRuki, HichiUlqui
Warnings : Gaje, Abal, OC, OOC, Typo(s), Boys Love a.k.a BL a.k.a Yaoi, just one sentence : Don't Like Don't Read!
o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0 o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0 o0o0o0o0
Chapter 1 : Games Begin!
o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0 o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0 o0o0o0o0
.
Seekor kupu–kupu terbang dengan sayap patahnya
.
Hinggap di jendela menara sang malaikat kegelapan
.
Membisikkan sebuah kata penting
.
Si malaikat berdiri,
.
Menyeringai,
.
Dan...
.
"Let's begin my games minna~~"
.
Semuanya telah masuk ke babak awal
.
Babak permulaan dari sebuah permainan yang diciptakan si malaikat kegelapan...
.
.
.
.
.
Games 1 : New Student
.
.
Kelas 1–1
.
"Minna-san~~~ watashi Kuroyuki Hina desu, Yoroshiku~~ (semua~~ aku Kuroyuki Hina, salam kenal~~~)" seorang gadis dengan sepasang iris hitam sekelam malam, rambut panjang sepinggang yang sama kelam dengan iris matanya membungkuk, memberi gesture hormat.
.
"Nah, sekarang pilih tempat duduk yang kosong" seorang pria berambut hitam panjang dengan hiasan seperti genting berwarna putih a.k.a kenseikan, berkata dengan nada dingin. Kuchiki Byakuya namanya, seorang pemilik sekaligus guru matematika di KSA a.k.a Karankura Soul Academy. Aneh memang, tapi sekolah ini adalah sekolah paling elit se-Jepang, lulusan–lulusan yang keluar dari KSA pun banyak yang menjadi orang berada.
.
Hina berjalan perlahan, lalu duduk di bangku paling belang, pojok dekat jendela. Kelasnya yang kebtulanm berada di lantai 3, apa lagi bagian bangku yang ditempatinya menghadap ke taman belakang, membuatnya mendapat pemandangan bagus, yaitu taman dengan pohon dan bunga yang ditutupi oleh salju yang turun perlahan di awal musim dingin ini. Dia mendengus setelah menaruh tasnya, memalingkan mukanya ke arah jendela. Lebih memilih mnelihat taman yang hampir beku dari pada melihat rumus di whiteboard dan Byakuya sambil mendengarkan ocehan sang guru yang menurutnya sangat membosankan.
.
.
.
Gadis kecil menatap bosan
.
Mengamati butiran salju putih bersih yang turun perlahan
.
Melihat bunga–bunga yang hampir beku karena hawa musim dingin
.
Hawa yang sanggup membekukan
.
Sama seperti hatinya yang telah beku entah karena apa
.
.
.
.
.
Seorang pemuda dengan rambut putih mencuat melawan gravitasi dan memiliki sepasang iris emerald dengan name tag bertuliskan 'Hitsugaya Toushiro' di seragamnya, berdiri di depan sebuah kelas dengan plang kelas yang bertuliskan 3–1. Sebenarnya dia datang kepagian, karena musim dingin seharusnya dia yang masih duduk di kelas 2 datang jam 8, alias tidak ada bimbel selama musim dingin. Tapi, dia ingin mengembalikan sepasang sarung tangan putih yang kemarin dipakaikan oleh seorang pemuda dengan rambut duren, orang asing. Kemarin saat pulang dia menanyakan pada salah satu guru di ruang tata usaha tentang pemuda dengan rambut oranye bak duren, untung saja di KSA ini hanya ada seorang yang berambut oranye, dan dia adalah Kurosaki Ichigo. Murid terpopular di KSA. Menghela nafas saat tak menemukan sosok si duren, dia melirik jam tangan biru langitnya yang dengan setia melingkar di pergelangan tangan kirinya.
.
"Kemana dia ya?" gumam Toushiro pada dirinya sendiri
.
"Mencari sesuatu..." sebuah bisikan lembut yang sangat dekat dengan telinganya itu membuat Toushiro membalikkan badanya
.
"...atau mungkin seseorang?" suara itu berujar lagi saat Toushirou telah melihat sosoknya. Toushirou mengulurkan sepasang sarung tangan berwarna putih pada orang itu
.
Pemuda yang memiliki rambut orange bak duren dan sepasang iris cinnamon itu mengernyit, membuat beberapa lipatan terlihat jelas di dahinya saat seorang pemuda dengan sepasang iris emerald yang tidak di kenalnya menyodorkan sepasang sapu tangan berwarna putih.
.
"Aku mengembalikan milik mu senpai" jelas Toushiro saat dia melihat wajah bingung Ichigo. Wajah senpai-nya itu berubah, lalu dengan cengiran lebar senpainya itu menatap dirinya hangat
.
"Tidak perlu begitu err... Toushirou" kata Ichigo sambil memincingkan sedikit matanya saat mencoba membaca name tag di seragam Toushiro
.
"Toushiro ja nai... Hitsugaya demo (bukan Toushiro tapi Hitsugaya)" kata Toushiro yang mengoreksi perkataan Ichigo
.
"Ahh... gomen (ma'af), tapi lebih enak memanggil nama kecil mu dari pada nama keluarga mu" kata Ichigo sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Ichigo menerima sarung tangan yang masih setia disodorkan Toushiro.
.
"Arigato (terimakasih), tapi... ne, Toushiro... nama ku Kurosaki Ichigo" kata Ichigo yang baru sadar kalau dia belum memperkenalkan diri
.
Toushiro mendengus, lalu menatap Ichigo dengan pandangan super datar a la seorang Hitsugaya Toushiro
.
"Pertama, bukan Toushiro tapi Hitsugaya. Kedua, saya tidak bertanya soal nama Kurosaki-senpai. Terakhir, karena saya sudah tidak ada perlu lagi dan saya yakin pasti senpai juga tidak ada perlu dengan saya, jadi saya permisi" kata Toushiro. Pemuda dengan iris emerald itu membungkuk hormat lalu berbalik dan berjalan pergi. Meninggalkan Ichigo dengan sebuah seringai terkembang yang tidak sempat dilihatnya
.
"Menarik..." bisik Ichigo diantara angin musim dingin yang berhembus, lalu berjalan masuk ke dalam kelasnya. Tidak melihat sesosok bayangan yang sedang menyeringai senang di balik tembok koridor di belokan yang tak jauh dari tempat Ichigo dan Toushiro berbincang tadi.
.
"Ah... senang sekali rasanya permainan ku berjalan dengan lancar" kata sosok itu dengan nada sing a song. Sedetik kemudian sosok itu menghilang tanpa jejak
.
.
.
.
.
Setelah menggesekkan kartu berwarna emas yang menjadi kunci pintu kamar asrama yang ditempatinya Toushiro menarik pintu kamar asramanya yang berada di lantai empat itu, kamar asrama dengan nomor 482
.
"Oh, ternyata kamar mu disini Toushiro?" sebuah suara membuat Toushiro berbalik, dan dirinya mendapati seorang pemuda dengan rambut oranye bak duren dan sepasang iris cinnamon
.
"Apa kau mengikutiku Kurosaki-senpai?" tanya Toushiro dengan nada datar sedatar triplek gepeng. Dengan cepat Ichigo menggeleng
.
"Aku adalah kepala asrama cowok, dan kamar asrama ku selisih dua kamar dengan milik mu, lebih tepatnya kamar nomor 485" kata Ichigo sambil menunjukkan sebuah kartu berwarna emas, kartu untuk membuka kunci pintu kamar di lantai empat
.
"Hitsugaya-kun, halo" sapa seorang gadis dengan rambut coklat dan sepasang iris violet yang berjalan berdampingan dengan seorang cowok yang memiliki rambut diikat bak nanas. Kuchiki Rukia dan Abarai Renji
.
"Yo, Ichigo!" sapa Renji sambil mengangkat tangan kanannya, memberi gesture menyapa
.
"Renji" kata Ichigo balik menyapa. Rukia membungkuk hormat setelah sampai di depan Ichigo dan Toushiro
.
"Kurosaki-senpai, tumben disini" kata Rukia lembut
.
"Em-hm... ini semua gara–gara Byakuya sensei, ada seorang murid baru yang ditempatkan di salah satu kamar di lantai ini, tapi si murid baru ini nggak mau memakai kamar asrama yang ada di lantai empat. Maunya memakai asrama di lantai dua, sedang kan seluruh kamar asrama di lantai dua sudah penuh. Yah, sebagai sorang kepala asrama cowok aku di tendang dari kamar asrama ku yang lama dan di berikan kamar asrama di lantai ini" kata Ichigo panjang lebar dengan wajah pura–pura terpuruk
.
"Jadi, kau mengenalnya Ichigo?" tanya Renji sambil menunjuk Toushiro. Ichigo menatap Renji dengan seringaian. Renji tau maksud dari seringaian Ichigo itu tidak lain dan tidak bukan adalah 'dia–incaran–baru' dan menjadi sahabat Ichigo sejak kecil sudah membuatnya mengerti apa maksud dari 'incaran baru' itu
.
"Kalian habis berkencan Rukia, Abarai-senpai" perkataan yang lebih mengarah ke pernyataan itu membuat Rukia yang sedang enak–enakan menyeruput chocolate milk shake-nya tersedak dengan wajah merah merona karena malu. Melihat itu Ichigo tertawa terbahak–bahak, Renji langsung sigap menepuk pelan pundak kekasihnya sambil membersihkan mulut Rukia dengan sapu tangannya dan melayangkan death glare tingkat tinggi pada Ichigo yang masih sibuk tertawa sambil gulung–gulung di lantai koridor kamar asrama, sedang Toushiro masih setia dengan bwajah datar dan tatapan malasnya.
.
Beberapa menit kemudian...
.
Toushiro melihat jam tangan biru langitnya yang masih setia melingkar di pergelangan tangannya.
.
"Hitsugaya-kun. Bisakah membantuku membuat makalah sejarah?" tanya Rukia. Toushiro menghela nafas berat lalu membuka pintu kamar asramanya
.
"Rabu minggu depan, jam 04 sore di cafe tengah kota" kata Toushiro singkat, dia menutup pintunya dan menguncinya dari dalam. Mengacuhkan Rukia yang sedang berteriak 'Yatta' dan kedua senpainya yang sedang melongo. Cengo, karena dia begitu dingin
.
.
.
.
.
Di salah satu kamar asrama di lantai dua...
.
Seorang gadis dengan rambut panjang sepinggang tengah mencampurkan bahan–bahan dari berbagai toples berwarna putih di sebuah kuali yang berisi cairan mencurigakan
.
"Hmm... tinggal sentuhan terakhir" kata gadis itu sambil mengambil sebuah bulu burung gagak lalu menusuk nadi pergelangan tangan kirinya dengan bulku itu. Dia meringis kesakitan saat ujung bulu gagak itu berputar di nadinya, mencoba membuat seluruh permukaannya terolesi darah. Setelah seluruhnya basah karena darahnya, dia memasukkan bulu itu ke dalam kuali
.
Perlahan. Perlahan. Perlahan. Sampai akhirnya seluruh cairan di dalam kuali itu berubah warna menjadi ungu tua
.
"Yatta! Come to me my beloved doll" sorak gadis itu saat cairan dalam kuali keluar dan membentuk sesosok figur yang mengenakan jubah hitam
.
.
.
TAP
.
.
.
TAP
.
.
.
TAP
.
.
.
SREEEEKKK
.
.
.
Figur berjubah hitam itu menatap bingung pada amplop coklat yang di sodorkan si gadis
.
"Aku sudah memanipulasi pikiran orang–orang yang ada di KSA ini. Lalu... ini adalah data tentang mu, apa yang kau perlukan, seperti kunci kamar dan bla...bla...bla... sekaligus hal–hal yang harus kau lakukan untuk ku" kata gadis itu. Si figur mengambil amplop coklat yang di sodorkan padanya, lalu membungkuk hormat. Si gadis tersenyum lembut, lalu tangan mungilnya mengelus pipi pucat yang dimiliki figur itu, gadis itu mendongak menatap sepasang emerald yang dimiliki pria yang lebih tinggi darinya itu
.
"Aku ingatkan. Kau. Adalah. Boneka ku. Jangan melangkah terlalu jauh. Aku tidak suka boneka ku membantah" kata gadis itu. Si figur mengangguk lalu berbalik, membuka pintu kamar asrama sang gadis lalu melangkahkan kaki keluar. Si figur masih bisa mendengar sayup–sayaup perkataan si gadis sebelum pintu kamar asrama itu tertutup sepenuhnya
.
"panggil aku Hina-san, dan aku adalah junior mu disini"
.
.
.
.
.
o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0 o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0 o0o0o0o0
Falling Down : Line Breaker!
o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0 o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0 o0o0o0o0
Esoknya...
.
Jum'at, 05 pagi
.
.
.
GRREEEEKKKK...
.
.
.
.
TAP...
.
.
.
.
TAP...
.
.
.
.
TAP...
.
.
.
.
Suara langkah kaki dan gesekan antara roda koper dan jalan aspal itu memecah keheniangan di pagi yang dingin. Sesosok siluet dengan rambut putih jabrik dan kulit albino yang mengenakan celana jeans biru panjang, jaket hitam dengan tudung berbulu berwarna putih, serta kaos oranye di balik jaket yang tidak dikancing itu, berjalan kearah bangunan dengan lima lantai. Bangunan tempat dimana kamar asrama berjejer. Wajah tampannya dihiasi dengan sebuah seringaian lebar yang membuatnya tampak terlihat semakin keren. Kaki jenjangnya berhenti di depan sebuah lift, lalu dia melepas kaca mata hitam yang sedari tadi bertengger di matanya. Menampakkan iris emas dengan latar hitam yang dimilikinya
.
.
.
"I'm coming sweet ototou~~~" bisiknya pelan
.
.
.
.
TING
.
.
.
Suara lift itu membuat pemuda berkulit albino itu fokus kembali pada pintu lift yang sekarang terbuka lebar, baru saja kaki kanannya melangkah masuk tapi...
.
.
.
BRRRUUUUUKK
.
.
.
Pemuda berkulit albino itu terjembab jatuh ke depan, tubuhnya terasa berat karena tertimpa tubuh lain. Orang yang menimpanya itu berdiri, membersihkan pakaiannya yang sedikit kusut dan kotor, lalu melenggang pergi dengan wajah yang tetap datar. Seperti tidak terjadi apa–apa
.
Pemuda dengan kulit albino itu menggeram kesal, lalu berdiri dan masuk ke dalam lift sambil menarik koper berwarna silver miliknya yang cukup besar. Setelah menekan tombol untuk menuju ke lantai 4 dia berbalik melihat si penabrak yang sekarang sedang menunduk, memperhatikan tumpukan kertas putih yang ada di tangnya
.
"Hoi! Kau!" si pemuda berkulit albino itu berteriak berniat memarahi pemuda yang tadi menabraknya.
.
Pemuda dengan rambut emo dan kulit putih itu mendongak, menatap orang yang membentaknya dengan tatapan datar dari kedua iris emeraldnya. Si pemuda berambut putih dan berkulit albino itu menatap si penabrak tepat di matanya
.
.
.
Emas bertemu Emerald
.
.
.
Niat si pemuda albino untuk memarahi orang yang menabraknya perlahan terkikis, tergantikan dengan niat untuk menatap emerald yang memandangnya dengan datar itu lebih lama. Memandang binar polos yang tersembunyi di balik tatapan datar si emearld
.
.
.
"Cantik" tanpa sadar si pemuda albino berbisik pelan, tapi cukup untuk didengar si pemuda dengan iris emerald itu
.
TING
.
Si pemuda beriris emerald itu mendengus saat mendapati perkataan si albino
.
.
.
Lalu?
.
.
.
Dengan santai si pemuda beriris emerald itu melenggang pergi, melewati si pemuda albino. Langkahnya terhenti saat kaki kanannya berada di luar lift, dengan tatapan datar dia menoleh ke belakang. Melihat pemuda albino yang menahan lengan kanannya
.
"Siapa namamu?" tanya si pemuda albino. Lagi–lagi si pemuda dengan rambut emo dan iris emerald itu mendengus
.
"Bukan urusan mu" katanya singkat dan dingin seraya menyentakkan dengan kasar tangan si pemuda albino yang menahan lengan kanannya, lalu melenggang pergi, dan menghilang di salah satu kamar asrama di lantai tiga
.
Melihat itu si pemuda albino yang memiliki iris emas berlatar hitam itu menyeringai
.
"Maa~~~ maa~~~ bersyukurlah ototou (adik cowok)... karena aniki (kakak cowok) memiliki target baru" kata si pemuda albino dengan seringai lebar yang terpoles sembpurna di wajahnya. Lalu dia masuk kembali ke dalam lift yang membawanya ke lantai empat. Lantai dimana kamar asrama adiknya berada
.
.
.
Karakter baru telah muncul...
.
Memeriahkan permainan yang di buat si malaikat kegelapan...
.
Permainan yang menentukan akhir kehidupan cinta orang yang terlibat di dalamnya...
.
Tidak bisa mundur
.
Tidak bisa keluar
.
Karena permainan sudah di mulai dari tadi...
.
.
.
.
.
.
.
Falling Down...
.
.
.
To Be Continued...
.
.
.
So, minna~~~ sumbang reaview dong~~~
.
.
.
.
.
.
Chibi-tan~~~ aku ucapkan TANJOBI OMEDETO~~~~~ ini dari kado dari aku #lempar fic ini ke meja kerja Toushiro# ma'af kan aku sebagai kekasih yang durhaka karena tidak bisa membuat fic yang bagus untuk mu~~~ #diinjek Ichigo sampe gepeng# ummm… maunya sih ngepost tanggal 20… biar bareng~~~ Demo ne, dari pada nih menjamur mending aku post sekarang… kecepetan ga pa pa kan?
.
FUUUUUUUUUU~~~~~ lagi – lagi thank you buat onii-chan yang mau jadi beta readrs... tapi, tapi, ini fic aku akuin emang rada kusut deskripsinya #pegang kedua pundak nii-chan# tenang nii-chan, bukan hanya kamu kok! Aku aja yang nulis rada njlimet sendiri bacanya. Ehe~~ #nyengir #plaaak. Ugh... karena pipi ku sudah merah sangat karena korban tampar aku ucap kan bye–bye minna~~~ #dengan muka bonyok# Hiview Hiaseee (Reaview Please)
