yattaa... syukurlah bisa updet... jujur saja, chapter ini sudah lama kelarnya, cuman... karna sya tidak tahu bagaimana mempublis chapter baru, beginilah... lama banget... terima kasih ya.. yang telah memfollow, memfavorit cerita saya... hehehe... dari pada kelamaan... silahkan baca...
oOo Chapter 2 oOo
.
Bzztt Bzztt Bzztt
Terdengar suara aliran listrik yang saling diadukan. Dan jika di dengan dengan cermat. Nampaknya suara itu berasal dari sebuah ruangan dengan dua pintu yang cukup di masuki dua orang sekaligus. Dan setelah masuk ke dalamnya, dapat kita lihat pemandangan sebuah laboraturium yang tidak terlalu rapi, juga tidak terlalu berantakan. Ya, itu karna hanya benda yang sering di pakailah yang berserakan di atas sebuah meja besi dengan ukura meter. Lumayan besar.
"Hah~, ini benar-benar sulit, ttebayo."
Suara baritone seorang pria terdengar. Umm, ternyata ada seseorang di dalam ruangan ini. (readers : yalah, mana mungkin ada suara kalau tidak ada orangnya). Pria itu, nampaknya sedang berkutat di depan sebuah benda yang sulit untuk dikatakan seperti apa bentuknya. Entahlah, author benar-benar bingung bagaimana menjelaskan benda yang bentuknya kurang lebih sebesar bola kasti.
.
Come From The Future
.
CKLEK
"Naru-kun, sebaiknya kau istirahat. Hentikan pekerjaan hari ini, Naru-kun." Ucapan tersebut melantun indah namun lirih dari sebuah bibir tipis milik wanita indigo yang baru saja membuka ruangan tempat pria yang ia panggil Naru-kun. Tepatnya, Naruto. Namikaze Naruto.
"Aku akan istirahat sebentar lagi, Hina-chan." Jelas Naruto yang entah sejak kapan telah di depan wanita indigo itu.
"Naru-kun, kumohon, jangan terlalu memaksakan dirimu."
.
Author : NaYu Namikaze Uzumaki
.
"Apa paman Naruto sadar atas apa yang paman lakukan sekarang ini?" Tanya sebuah suara khas gadis remaja.
"Sara-chan." Ucap wanita indigo itu terkejut melihat gadis bersurai hitam kebiruan dengan kacamata berframe merah bersandar di sisi pintu yang tertutup.
"Konichiwa, bibi Hinata." Sapa gadis yang dikenal Sarada, dengan ramah.
"Tentu saja paman sadar, Sarada. Tenang saja, paman akan berusaha. Jangan kau ragukan kemampuan seorang professor ternama." jawab Naruto dengan nada bangga dan tersenyum lembut ke arah Sarada yang memandangnya dengan tatapan dingin dan…
…sedih?
"Ya, aku tahu. Tapi, jangan terlalu memaksakan diri! Jika paman tumbang, jangan harap kami mengizinkan untuk yang kedua kalinya." Ucap Sarada tegas dengan sorot mata serius namun menyimpan kekhawatiran yang besar.
"Yokey, ttebayo."
.
Disclaimer : Naruto milik Masashi oyaji, CFTF is Mine
.
"Naruto-kun, sudahlah! Lebih baik Naru-kun me-melanjutkannya besok saja. Hari sudah sore. Ayo kita pulang! Sara-chan juga, ayo ke rumah bibi! Nanti Itachi-nii dan Konan-chan juga ke rumah." Ucap Hinata dengan lembutnya. Sarada yang melihatnya pun hanya tersenyum riang dengan anggukan sebagai pengganti jawaban 'ya'. Dan Naruto hanya menggeleng pelan.
"Aku menunggumu di rumah, Anata. Oh ya, bisakah kau mengecek keadaan mereka berempat?" Tanya Hinata.
"Ya, tunggulah 20 menit lagi, aku akan pulang."
.
Rating : T
.
Pairing : NaruHina, SasuSaku, n KonoHana
.
"Yosh, lebih baik aku mengecek keadaan mereka." Gumam Naruto setelah melakukan perenggangan pada tangan, kaki dan jari-jarinya juga lehernya yang agak tegang. Setelah itu, ia pun berjalan ke meja kerjanya dan menekan tombol berwarna oranye.
ZEB
Muncullah layar hologram tepat di hadapannya dan keyboard yang keluar dari dalam meja. (mejanya terbelah dan keyboarnya keluar) Naruto pun mengetikkan beberapa huruf dan angka yang menjadikan sebuah kalimat. Seperti nama suatu lokasi dan tanggal, kemudian menekan tombol enter pada keyboard itu.
.
Genre : Friendship, Family, Sci-fi (maybe)
.
Setelah menunggu proses pencarian, tidak sampai satu menit nampaklah sebuah gambar pada layar hologram di hadapanya, yang memperlihatkan keadaan bagian taman yang jarang di datangi oleh orang-orang, sekarang tengah ramai dengan keempat remaja juga keempat bocah yang tengah berdebat. Naruto tertawa melihat bagaimana perdebatan itu terjadi. Tiba-tiba saja mengalirlah cairan hangat dari blue shappire yang menawan itu.
"Hahaha… hiks.. hiks.. ter-ternyata bocah-bocah itu su-sudah.. hahah… ber-bertemu deng- hiks.. dengan mereka."
Naruto bergumam sambil tertawa dan terharu di saat yang bersamaan. Dia pun kembali menekan tombol Oranye. Setelah menekan tombol tersebut, layar hologram pun menghilang dan keyboard telah kembali ke dalam meja dengan sendirinya. Ia melepas jas putih panjangnya, lalu keluar dari laboraturium. Laboraturium itu pun hening seketika. Hanya kegelapan yang tersisa saat sosok kuning itu keluar dari ruangan itu.
.
Warning : AU, Super OOC, OC, Typo's, Time Travel, Humor garing, , Sister complex, banyak pendeskripsiannya, Alur lambat kadang juga cepat, dan keanehan lainnya juga kekurangan lainnya dari fanfic ini.
.
Author Note : Banyak pendeskripsian yang terperinci -maupun yang tidak-, jadi author harap, jika tidak menyukai deskripsi berlebihan harap di skip saja. Oh ya, karna Author merupakan seorang Fujoshi, maka aka nada beberapa cuplikan YAOI, tp tetap aja ini Fic STRAIGHT. Jangan lupa mengimajinasikan versi para readers. Terdapat empat OC di dalamnya. Entah karakter OC atau karakter Masashi yang saya utamakan dalam fanfic ini. Karakter Hinata di FF ini tidak saya buat terlalu gagap, tetap lembut namun, gagapnya biasa aja. Dan sekali lagi, ini hanya fanfic dan berasal dari imajinasi sang author yang kelewat tinggi *lebay*. Penempatan jadwal libur sekolah di fanfic ini sesuai keinginan author, jadi tidak sesuai dengan yang ada di Jepang, meskipun ada persamaan sedikit. Intinya, SUKA-SUKA AUTHOR. Yokey, dari pada basa basi lagi… mari silahkan para readers membaca fanfiction author.
.
OC In Fanfiction
Namikaze Fuyu
Namikaze Yuki
Uchiha Lefvi
Sarutobi Revina
.
DON'T LIKE
DON'T READ
THIS FANFICTION
.
Chapter 2 : Kejahilan dan ke-OOC-an
Kediaman Uchiha, 7 Juli 2014, 20.05 pm
Sang Ratu malam pun mulai memperlihatkan wujudnya. Menerangi langit gelap yang bertabur permata-permata kecil dengan indahnya. Menerangi sebahagian permukaan bumi dengan sinar kemilaunya. Malam yang indah juga cerah. Tak luput dari cahayanya, sebuah kediaman yang tidak bisa di bilang sederhana saking megahnya. Menerangi setiap lekuk sudut yang terjangkau cahaya sang rembulan.
Di sebuah kediaman yang cukup megah terlihat di salah satu ruangan, sepuluh orang -empat orang remaja, dua orang remaja tanggung, empat orang anak kecil- tengah duduk dengan tenangnya yah, meskipun tidak setenang air yang mengalir (?).
Hening.
Masih suasana hening yang mendominasi. Nampaknya dari ke-sepuluh-nya belum ada yang mau bicara, meskipun terlihat dari salah satu gadis kecil -dengan surai kuning emas keindigoan panjangnya- ingin membuka suaranya.
"Jadi, yang kalian jelaskan tadi benar adanya?"
Akhirnya seseorang pun membuka suara, meskipun hanya bertanya. Bukan. Bukan gadis kecil yang disebutkan tadi. Melainkan, seorang pemuda bersurai kuning cerah jabrik yang nampak tenang. Dan kesembilan lainnya pun memandangi sang pemuda yang tak lain, Naruto.
Keempat anak itu pun menganggukkan kepalanya bersamaan. Dan Naruto yang melihat itu pun mengembangkan senyuman mentarinya.
"Yup, kalian memang tidak berbohong. Iyakan, teme?"
"Hn."
"Ck, untuk apa juga kami berbohong. Tidak ada untungnya, bukan?" suara cempreng khas anak-anak dengan nada sinis keluar dari bibir bocah laki-laki bersurai kuning layaknya Naruto, namun diujungnya berwarna kemerahan.
"Hn. Kami tau itu."
"Jadi, kau beneran anakku dan dia dari masa depan?" Tanya pemuda yang lebih muda dari Naruto dengan surai coklatnya yang berantakan sambil menunjuk gadis sebayanya -disampingnya- dengan wajah merona. Gadis di sampingnya pun tak kalah merona.
"Mochiron desu, Kaa-san, Tou-san!" Jawab gadis kecil dengan surai coklat sepunggung dengan senyum yang terkembang melihat orang tuanya di masa lalu merona seperti itu. 'Mereka lucu banget kalau seperti itu.' innernya sambil terkikik.
"Uhm… so desuka. Jadi, kalian datang ke masa lalu untuk mempertemukanku dan Sasuke-kun dengan Lefvi-kun?" Tanya gadis bersurai soft pink pendek dengan raut wajah yang tak dapat di baca.
"Ha'i, bibi Sakura benar."
"Jadi, kalian berdua juga…" Ucap Hinata terputus sambil menunjuk si kembar Fuyuki dengan wajah memerah yang sesekali pula melirik kearah Naruto.
"Yup, itu benar, Kaa-chan. Yuki dan Fuyu-nii, anak bungsu Kaa-chan dan Tou-chan di masa depan!" Ucap Yuki dengan semangatnya sembari menggoyang-goyangkan tangan kiri Fuyu yang duduk di samping kanannya.
Naruto dan Hinata yang mendengarnya pun memerah. Bahkan melebihi merahnya tomat kesukaan Sasuke. Sasuke dan Sakura yang baru saja mendengar kenyataan pahit tentang mereka berdua pun hanya dapat tersenyum lembut yang diberikan untuk Lefvi.
"Eh? Jadi, beneran nih, anak Hinata-nee dan Naru-nii ada empat?" tanya gadis yang sebaya dengan pemuda tadi, yang tak lain adalah Hyuuga Hanabi, adik dari Hinata.
BRUUSSSHHHH
Makin merahlah wajah Hinata dan dapat di pastikan bahwa sebentar lagi akan…
BRUG
…pingsan?
"HINATA-CHAN/HINATA-NEE!" Pekik Sakura dan Hanabi bersamaan dan disambut oleh gelak tawa si kembar Fuyuki. Sedangkan, Revina hanya terkikik geli melihat bibi kesayangannya pingsan dengan wajah merekah. Lefvi? Dia hanya tersenyum menanggapi hal itu. Dan kehebohan pun terjadi karena Hinata pingsan.
SRIIINGGG
Tanpa sengaja, iris blue shapphire milik Yuki mendapatkan pandangan mangsa kejahilannya yang sedang dalam puncaknya setelah melihat Hinata pingsan (?)
"Ah! Paman Sasuke, moccachino-nya enak sekali. Apa paman masih punya stock-nya? Yuki suka sekali dengan moccachino import dari Italia ini."
DOEENGGG
Semua yang di dalam ruangan itu pun cengo seketika. Tak terkecuali seorang pun termasuk Sasuke dan Lefvi. Bahkan Fuyu pun merasa menyesal mempunyai kembaran yang stress seperti ini. Bagaimana tidak? Yang tersaji di depan mereka berempat hanya susu coklat dan Brownies. Kenapa Yuki mengatakan seakan-akan ia meminum moccachino? Dari Italia pula? Lefvi pun berfikiran seperti Fuyu. Revina hanya bisa menganga melihat kelakuan Yuki.
Sasuke yang mendengar Yuki menyebutkan minuman favorit anikinya pun juga cengo. 'Kenapa anak si dobe ini mengatakan seakan-akan ia meminum moccachino dari Italia? Itu kan minuman favoritnya Aniki?' innernya yang tak jauh berbeda dari apa yang dipikirkan oleh Fuyu dan Lefvi.
"Waaahhh….. Tiramisu Cakenya juga enak banget!" Seru Yuki lagi sembari menggigit dengan secara perlahan brownies yang tersedia untuknya. NaruHina, SasuSaku, KonoHana, pun benar-benar di buat kebingungan. Lefvi, Fuyu, dan Revina pun menatap Yuki Horor.
'Apa anak ini ngelindur atau kerasukan hantu?' inner semuanya sinting.
"Nyam… Tiramisu cake.. nyam… memang yang terenak.. nyamm…" racaunya lagi sembari memakan brownies potongan ketiga. Dan semua yang melihatnya menepuk jidatnya juga sweatdrop akut.
'Tidak! Tidak mungkin Yuki jadi gila sekarang!' inner Fuyu, Lefvi dan Revina bersamaan dengan pandangan yang lebih Horror. Sedangkan, para pemuda-pemudi yang melihat aksi kegilaan Yuki pun masih ber-sweatdrop-ria. Bahkan Hinata yang telah sadar dari pingsannya pun pingsan kembali karena, melihat kegilaan anaknya dari masa depan. Yare-yare… kau telah membuat sembilan orang di dalam ruangan itu terpana (?) melihat aksimu, Yuki-chan…
"Paman Sasuke, Tiramisu cakenya sudah habis. Bolehkah Yuki mengambilnya di kulkas khusus yang berada di dapur?"
"A–"
BRAAAKKKK
"JANGAN BERANI KAU MEMAKAN TIRAMISU CAKE MILIKKU LAGI DAN JANGAN BERHARAP AKAN MEMINUM MOCCACHINO IMPORT DARI ITALIA DI SINI, BOCAH!"
Belum sempat Sasuke menjawab atau bertanya tentang apa yang dilakukan Yuki, terjadi penggebrakkan serta teriakan yang tak biasanya dilakukan oleh seorang pria muda kalem nan berkharisma tinggi. Uchiha Itachi. Kakak dari Sasuke. Dan saat itu pun, Sasuke akan berfikir berkali-kali sebelum mengambil Tiramisu cake sang kakak diam-diam dari lemari es pribadi sang kakak. Kalau Moccachino-nya sih, ia bisa beli sendiri. Wahh… ternyata Sasuke malingin kakak sendiri ya. *dichidori*.
WHOOOSSSSS
Setelah teriakan itu pun hanya terdengar suara angim berhembus. Menerbangkan sebuah kertas yang entah datang dari mana dan pergi entah ke mana (?)
1 detik
.
Hening
…
2 detik
.
"Pfftttt…"
"Hmmppptt…"
…
3 detik
.
"Bwahahahahhahahaha…."
"Khahhahahha…."
Terdengarlah teriakan membahana badai dari bibir mungil keempat bocah itu. Hingga membuat ayam tetangga sebelah sekarat karnanya (?).
Pemuda-pemudi pun kembali cengo dengan suara tawa para bocah itu. Mereka heran, kenapa bocah-bocah ini tertawa sngat nyaring seperti itu? Hinata sampai sadar karnanya. Setelah mereka menoleh ke Itachi…
"BWAAHAHAHAHAH…."
Tak kalah nyaring dari keempat bocah itu, Naruto, Sakura dan Konohamaru pun tertawa terpingkal-pingkal setelah melihat Itachi. Ada apa gerangan? Ouh, ternyata baru kali ini mereka melihat Itachi dengan wajah bodohnya yang sangat-sangat bodoh dengan penampilan yang kacak adul. Rambut berantakan bahkan ikatannya pun nyaris lepas, baju kusut seperti tidak di setrika sebelum dipakai, keringat dingin yang terus keluar, juga air mata yang nyaris meluncur dengan indahnya dari iris Onyx itu, dan rona merah di kedua pipi sang Uchiha sulung.
Ouh, memang tidak ada yang lucu bagi Author, hanya saja ini hal memalukkan yang dilakukan oleh Itachi. Sang CEO Sharingan Corp., anak perusahaan dari Uchiha Corp.
Hinata? Wajahnya memerah karena merasa aneh melihat Itachi seperti itu (readers : apa hubungannya?). Hanabi dan Sasuke? Hanya bertampang seperti biasanya. Tapi, khusus Sasuke, dia sangat-sangat ingin menguliti aniki-nya yang sangat tidak berperike-uchiha-an sama sekali.
Itachi yang setelah melihat keadaan di ruangan itu, tidak menemukan sama sekali sisa-sisa Tiramisu Cake maupun Moccachino Import langsung dari Italia pun terdiam. Ia pun mengenduskan hidungnya untuk mencium aroma Cake Favenya ataupun Moccachino Favenya. Namun, sama sekali tidak mencium aroma yang menggiurkan -menurutnya- itu
Yare-yare~~
.
.
Itachi POV
Apa benar yang baru saja ku dengar itu? Keempat anak itu dari masa depan? Berarti, aku mempunyai keponakan? Dua keponakan? Huwaaa… bahagianya diriku di masa depan. Aku penasaran seperti apa wajah keponakan laki-lakiku yang di dalam sana juga keponakan perempuanku yang di masa depan? Inginnya masuk, tapi aku malas.
Tapi, mengingat ucapan mereka yang terdengar olehku mengenai my Otoutou juga Sakura-chan, rasanya hanya bahagia sementara. Rasanya sedih! (Author : Alay loe, Chi!)
Oh ya, aku Uchiha Itachi. Kakak dari my beloved Otoutou-kun. Yah, sudah sejak awal -saat mereka datang- aku berdiri di depan pintu ganda yang terbuka sedikit hingga aku dapat mendengar suara yang berasal dari dalam sana. Mendengar suatu berita yang mengejutkanku. Ini benar-benar hebat! Andaikan Tou-san dan paman Minato berada di sini, pastinya mereka akan sangat senang mendengar hal yang mereka impikan sejak dulu yang menjadi kenyataan.
"Ah! Paman Sasuke, moccachino-nya enak sekali. Apa paman masih punya stock-nya? Yuki suka sekali dengan moccachino import dari Italia ini."
Aku mendengar suara cempreng yang kuketahui milik Yuki, salah satu anak bungsu kembar Naruto dan Hinata.
Apa dia bilang? Moccachino? Import dari Italia? Oh, pasti milik Otoutou. Mana mungkin dia mau memberikan milikku. Hahahah…. Lagi pula, kenapa mereka membiarakan anak sekecil itu meminum minuman berkafein?
"Waaahhh….. Tiramisu Cakenya juga enak banget!"
"Nyam… Tiramisu cake.. nyam… memang yang terenak.. nyamm…"
WHAT THE HEAVEN?
Apa-apaan itu? Kenapa bisa ada Tiramisu Cake di dalam sana? Bukankah Otoutou tidak menyukai cake? Naruto, Hinata, Sakura, Hanabi, dan Konohamaru pun sama sekali tidak menyukai Tiramisu Cake. Kok bisa tersaji di dalam? Lagi pula, hanya aku yang memilikinya?
Arrghhhh… aku sampai menjambak rambutku sendiri dengan pikiran yang terbesit. Ku acak-acak surai raven panjang kebanggaanku. Ayolah otak jenius! Berfikir! Berfikir! Ja-jangan katakan… ka-kalau… itu… Ti-tiramisu Cake-ku?
MY TIRAMISU CAKE~~?!
"Paman Sasuke, Tiramisu cakenya sudah habis. Bolehkah Yuki mengambilnya di kulkas khusus yang berada di dapur?"
CUKUP!
Aku tidak tahan lagi!
BRAAAKKKK
"JANGAN BERANI KAU MEMAKAN TIRAMISU CAKE MILIKKU LAGI DAN JANGAN BERHARAP AKAN MEMINUM MOCCACHINO IMPORT DARI ITALIA DI SINI, BOCAH!"
Teriakku setelah menggerebak kedua daun pintu hingga menimbulkan retakan pada dinding. Dan aku tidak memperdulikan itu. Aku pun menatap semua yang berada di ruangan itu. Aku yakin penampilanku sudah seperti orang edan yang sangat–tidak–Uchiha–sekali. Ku teliti apa saja yang tersedia di meja.
"Bwahahahahhahahaha…."
"Khahhahahha…."
Dan tawa super membahana pun terdengar dari keempat bibir mungil itu. Arrgghhh… betapa malunya aku sekarang. Aku pun dapat melihat bocal laki-laki dengan surai raven pendek lurus tertawa biasa sambil memegang perutnya. Aku yakin kalau dia adalah Lefvi, keponakanku. Dua bocah berambut kuning dengan gradasi yang aneh menurutku, dan sepertinya itu si kembar, anak Naruto dan Hinata. Dan gadis kecil bersurai coklat itu, pasti anak dari Konohamaru dan Hanabi.
Naruto, Sakura, dan Konohamaru pun menoleh kearahku. Aku hanya bisa terbengong melihat wajah mereka yang terkejut dan…
"BWAAHAHAHAHAH…."
… pecahlah tawaan mereka.
GOD! Aku merasa gagal menjadi seorang UCHIHA.
Ku alihkan dengan cepat pandanganku kearah meja yang di penuhi dengan cemilan tanpa memperdulikan tawa yang cukup memekakkan telinga itu. Setelah ku perhatikan, tidak ada Tiramisu Cake yang tersedia juga Moccachino Import dari Italia. Kenapa aku tahu? Karna dari aromanya saja tidak tercium sama sekali.
'Cih, aku dikerjai oleh bocah. Tapi, dia tahu tempat Tiramisu Cake-ku berada. Bisa gawat kalau ternyata dia benar-benar suka dengan Cake Favoritku. Gawat!' innerku. Aku terdiam. Inginnya ke Dapur. Tapi, setelah di fikirkan lagi, kenapa ke dapur kalau kulkas khusus milikku saja menggunakan kode? Cih, bocah itu memang dari masa depan hingga mengetahui hal ini.
AKU SI UCHIHA PALING TAMPAN DI JAHILI ?!
'Jangan katakan, kalau mereka sering mengerjaiku seperti ini di masa depan?' innerku. Gezzz… Apa-apaan ini? akan kutarik kata bahagia -atau mungkin setengah bahagia- itu. Tapi, aku belum tahu pasti seperti apa masa depan kelak. Cih, pikiranku jadi rumit begini.
Tap
Tap
Aku berjalan kearah gadis kecil yang mengerjaiku sampai separah ini. (Author : memangnya ini parah ya -_-a). Perlahan dan perlahan. Kutatap tajam pula iris bak batu shappire yang persis dengan iris kepunyaan Naruto. Aku pikir akan mendapatkan tatapan ketakutan atau parahnya ia akan menangis, namun ini di luar dugaanku. Gila! Dia tersenyum. Sekali lagi, TERSENYUM. Tapi aku tetap menatapnya tajam bak mangsa yang sangat lezat. Entah kenapa aku jadi seperti ini, hanya karena cake fave-ku jadi korbannya.
Set
Fuyu, si kakak kembarnya langsung turun dari sofa dan berdiri di depan Yuki. Seakan-akan tengah melindungi seorang putri kerajaan yang akan di bunuh oleh seorang penjahat. Eh? Berarti aku penjahatnya dong? Arrgghhh… kenapa aku jadi mendramatisir begini? Oh Kami-sama, apa salahku sehingga bertemu bocah yang membuatku sampai frustasi seperti ini?
Ku enyahkan pikiran edanku dan kembali menatap gadis kecil incaranku. Kulihat ia berdiri di atas sofa dan memanjat ke atas sandaran sofa. Apakah ia akan bunuh diri? Ah, tidak mungkin. Sofa itu saja tingginya kurang dari dua meter tidak mungkin ia akan mati, bukan?
"Yuki-chan, turun! Ngapain manjat-manjat? Ini rumah paman Sasuke loh. Nanti kau akan disembelihnya!"
Apa lagi ini? Kenapa pula Revina mengatakan hal seperti itu? Disembelih? Oh ayolah, sungguh sangat edan sekali otoutou-ku sampai ingin menyembelih gadis kecil hanya karena memanjat sofa di kediaman Uchiha.
Kulihat ekspresi otoutouku yang mendengar kalimat yang diutarakan Revina. Waow~! Nampaknya ia menahan amarah. Khekhekhe… tentu saja, ngapain juga dia menyembelih anaknya Naruto, yang ada di gorok duluan dia sama Naruto. Eh?! Kok pikiranku rancu gini sih?!
Tuing
Eh? Kok ada suara loncatan ya? Ku fokuskan lagi pandanganku ke sofa. HIEE? Yuki hilang?
"PAMAN ITACHIII~~~"
Huwaaa…. Ternyata dia loncat. DIA LONCAT!
"Yuukiii-chaannn~~~!"
Hup
Hah~, untungnya aku mendapatkannya. Yatta ne.
Itachi POV End
.
.
"PAMAN ITACHIII~~~!"
"Yuukiii-chaannn~~~!"
Hup!
"Yatta…" desah lega mereka yang melihat adegan loncatan super dari Yuki. Jelas saja super, jika kau berdiri di sandaran sofa trus loncat ke tempat duduknya pasti terjadi loncatan super dari daya pegas yang dihasilkan dan dirimu akan terbang tinggi ke langit ke tujuh *lebay*. Itu sih menyenangkan XD *plak!*
Itachi yang telah berhasil menangkap Yuki dengan selamat pun menatap gadis kecil di gendongannya. Ia melihat embun yang berada diiris shappire milik Yuki. Itachi terkejut melihatnya. Entah kenapa ia merasa sedih, terharu, juga senang. Mungkin inilah yang dirasakan dirinya di masa depan jika bertemu dengan Yuki lagi. Mungkin saja, batin dirinya sekarang dan dirinya di masa depan saling terhubung. Ya, itu hanya pikiran Itachi saja.
Revina, Lefvi, dan Fuyu yang melihat adengan memuakkan -bagi mereka- itu pun hanya membuang muka kearah lain. Kenapa memuakkan? Bagaimana tidak memuakkan jika di masa mereka berada hampir setiap mereka -Yuki dan Itachi- bertemu, selalu melakukan hal gila. Sampai-sampai, Lefvi berfikir kalau ia hanyalah keponakan terbuangnya (?) Itachi.
Naruto dan yang lainnya memperhatikan dengan detil setiap kejadian di hadapannya. Bahkan Sasuke yang sangat cuek pun memperhatikan dengan intens. Sebab, tidak pernah sama sekali seorang Uchiha Itachi menatap seorang perempuan -gadis kecil pula- seperti menatap kekasih hatinya. Eh? Apa Itachi Pedophile, ya? (Itachi : TIIDDAAKKK~~~! I'm not Pedhophille!)
"Ne, Kaa-san, Tou-san, paman Naruto, paman Sasuke, bibi Hinata, bibi Sakura, apa kalian tidak jadi pergi ke festival?" Tanya Revina setelah 20 detik tidak ada perubahan berarti sejak tadi.
"AH! Kita harus ke festival!" pekik Sakura dan Naruto dengan hebohnya.
"Huwaa… betul! Ayo cepat kita ke festival!" ajak Konohamaru yang tengah merapikan hakama miliknya.
"Chotto matte!" seru Hinata masih dengan lembutnya. Dan sukses menghentikan kehebohan yang lainnya, kecuali Itachi dan Yuki yang kini tengah duduk di sofa dengan tenangnya, juga Revina dan Lefvi yang menghabiskan brownies milik mereka.
"Nande, Hina-chan? Ini sudah jam 10 lewat. Kita harus cepat!" tanya dan ujar Naruto yang telah selesai merapikan rambutnya, walaupun takkan pernah rapi sih.
"Anak-anak bagaimana? Terus, apa Itachi-nii tidak mau ikut?" tanya Hinata dengan seriusnya. Entah bagaimana ia bisa seserius ini jika menyangkut anak kecil. Bukan hanya pada mereka berempat saja loh tapi, pada semua anak kecil yang ia kenal atau pun kenal tak sengaja.
"Ah, aku tidak ikut. Kalian berenam bersenang-senanglah. Aku ingin istirahat." Ucapnya sambil merenggangkan tangannya.
"Hn, baguslah!"
"Kaa-chan, Fuyu-nii, Lefvi-nii, dan Revina-chan bolehkan ikut kalian ke festival?" Pinta Yuki dengan riangnya. Ia merasa mendapatkan momen yang bagus untuk mendekatkan Lefvi dengan SasuSaku, juga mengakrabkan Fuyu dengan Tou-san mereka. Kalau Revina, yah.. supaya ia dengan orang tuanya lebih akrab lagi.
Keheningan pun tercipta setelah Yuki mengucapkan permintaan itu. Naruto dan Sakura merasa double date mereka gagal jika memenuhi permintaan itu. Hinata sendiri merasa senang jika mereka ikut. Itu artinya akan lebih ramai lagi. Sasuke? Dia sih terserah aja, asalkan tidak mengganggunya. Konohamaru dan Hanabi sih tidak keberatan sebenarnya. Sedangkan Itachi, ia merasa ganjil dengan permintaan Yuki. Karna keheningan masih medominasi, ia pun berniat memecahkannya.
"Lalu, kenapa Yuki-chan tidak ikut juga?"
"Eh? Memangnya Yuki boleh ikut?" Tanyanya polos sambil memiringkan kepalnya. Kyaaa… so cute.
Spontan keenam pemuda-pemudi juga satu pria muda pun terheran-heran. Memangnya, siapa yang tidak mengijinkan ia ikut? Oh, kalau soal Naruto dan Sakura sih tidak masalah, sebab mereka pun tidak mungkin melakukan double date jika keadaan seperti ini. Terus, siapa yang tidak memperbolehkannya? Hinata? Tidak mungkin, ia malah sangat senang. Sasuke? Entahlah~
"Memangnya siapa yang melarang Yuki-chan ikut?" tanya Hanabi lembut. Ia benar-benar merasa menjadi seorang bibi dan ia senang akan perasaan itu.
"Umm… Tou-chan, Kaa-chan, Boruto-nii, Hima-nee, Fuyu-nii, Sarada-nee, Lefvi-nii, Vina-chan, bibi Hanabi, paman Konohamaru, paman Itachi dan yang kenal sama Yuki melarang Yuki untuk keluar malam-malam." Jawabnya dengan polos sambil menyebutkan nama-nama di atas dengan menghitung kesepuluh jarinya. Masih banyak sebenarnya, hanya saja ia malas menyebutkan semuanya.
"Eh? Kapan Kaa-chan dan Tou-chan melarang?" bingung Naruto. Ia merasa, semenjak mereka bertemu tidak pernah sekalipun ia melarang Yuki untuk keluar malam.
Dug
Satu pukulan pun mendarat di surai jabrik Naruto. Taulah, siapa yang sering melakukannya?
"Baka! Bukan kita, kau, dan yang lainnya di sini. Tapi, kau dan yang lainnya di masa depan." Geram Sakura karna kebodohan Naruto memperlambat kepergian mereka ke festival.
"Sudahlah Yuki-chan, ayo kita pergi ke festival bersama?" ajak Konohamaru sambil menggandeng tangan Yuki.
Ctak Ctak
Dua pertigaan pun mendarat di pelipis Fuyu. Dengan cekatan ia menepis tangan Konohamaru dan membawa sang adik ke belakang tubuhnya.
"Jangan pernah kau menyentuh Yuki-chan sedikit pun paman Konohamaru!" desisnya tajam.
"Fuyu, jangan begitu sama Tou-sanku! Minta maaf sana!" Revina tidak terima Tou-sannya di perlakukan seperti itu.
Puk
"Sudahlah Fuyu, jangan menampakkan Sister Complex-mu hanya karna tangan Yuki dipegang." Saran Lefvi sambil menepuk beberapa kali pundak Fuyu.
"Ck. Hentikan itu baka Lefvi!" Menyingkirkan tangan Lefvi dengan kasar.
"Hey, apa-apaan kau?"
"Hentikan bocah! Kalau kalian mau ikut, ikut saja!" ucap Sasuke pada akhirnya. Jengah juga ia melihat perdebatan tak bermutu ini.
"Saa… Yuki-chan, ikimasho!" ajak Naruto sambil mencoba meraih tangan Yuki namun di tahan oleh Fuyu.
"Seperti yang Yuki katakan, dia tidak boleh keluar malam, Tou-chan." Ucap Fuyu Lirih dengan tatapan sendu kepada Naruto. Naruto terkejut melihat ekspresi yang diperlihatkan Fuyu padanya kali ini. Ia merasa ganjil dengan sikap Fuyu. Mengesampingkan perasaan ganjilnya itu, Naruto pun mengacak surai pirang kemerahan Fuyu dengan gemas dan tersenyum lembut. Entahlah, ia merasa Yuki memang tidak boleh keluar malam. Meskipun ia tidak tahu sebabnya, namun pasti dirinya di masa depan lebih mengetahui hal yang harus dilakukan demi anak-anaknya.
"Yosh, kalau begitu Yuki-chan sama Itachi-nii di rumah tidak apa kan?" Tanya Naruto dengan lembutnya sembari menepuk pelan kepala Yuki bak orang tua yang menyuruh anaknya untuk tetap bersikap baik di rumah orang. "Itachi-nii, bolehkan Yuki-chan di sini?" pinta Naruto dengan penuh harap juga nampak kekhawatiran di iris shappirenya.
"Yah, tidak masalah!" Balas Itachi dengan senyum lembutnya.
"Ha'i, Tou-chan! Yuki malah senang berdua sama paman Itachi." Ucapnya riang dan langsung memeluk Itachi. Fuyu yang melihat itu pun langsung menatap tajam Itachi. Ia tidak terima adik kecilnya berdekatan paman mesum -menurutnya- seperti Itachi.
"Aku akan tinggal untuk menja–"
"Tidak, kau juga harus ikut Fuyu-kun! Biarkan Yuki dengan paman Itachi di sini!" Revina memotong ucapan Fuyu dengan tegas.
"Hn, dan hilangkanlah sifat Sister Complexmu itu. Memalukkan!"
"Eh? Tapi.."
"Ikimasho, Fuyu-kun! Minna!" ajak Hinata sambil menggandeng tangan Fuyu, juga sedikit memaksa Fuyu untuk berjalan. Ia merasa kalau di biarkan terlalu lama nantinya akan makin sulit.
Lefvi di gandeng sama Sakura, sedangkan Revina di gandeng oleh KonoHana. Meskipun mereka masih canggung tapi, ini kan anak mereka di masa depan, tidak masalah bukan? Lagi pula, jika orang sekitar yang melihatnya pasti akan dianggap adik mereka.
Hinata sebenarnya merasa berat hati meninggalkan Yuki berdua dengan Itachi, tapi ia menganggap apa yang di putuskan dirinya di masa depan pasti ada alasannya jadi, ia tidak perlu memperpanjang masalah. Kelak ia akan tahu dengan sendirinya.
"Ne, Yuki-chan, ini tasnya. Nanti rapikan di kamar yang akan kita tempati ya." Revina memberikan tas yang sejak awal ia bawa pada Yuki.
"Mereka tidur di sini?" Tanya Sasuke datar. 'Memangnya sejak kapan aku mengijinkan?' innernya heran.
"Tentu saja, Sasuke! Lagi pula kita kan sudah sepakat sebelumnya seminggu mereka di rumahmu lalu di rumahku dan begitu seterusnya, bukan?" Itu benar. Di dalam pembicaraan mereka sebelumnya, telah ditetapkan keempat anak dari masa depan itu akan tinggal bergilir di rumah Naruto dan Sasuke. Itu dikarenakan rumah mereka bersebelahan alias tetangga, jadi akan lebih mudah untuk memindahkan mereka. Kalau di rumah Hinata-Hanabi atau Sakura dan Konohamaru, pasti akan ribet.
"Hn."
"Ayolah, cepat kita berangkat!"
"Aku setuju dengan Konohamaru! Hayaku ne!"
"Yosh, jaa na!"
"Hn, ittekimasu."
"Ittekimasu!"
"Itterashai, kio tsukete minna!" balas Itachi dan di tambahkan lambaian tangan darinya juga Yuki.
Setelah semua pergi, Itachi dan Yuki duduk di sofa sambil berbincang-bincang tentang masalah tadi. Ternyata Itachi masih penasaran kenapa Yuki mengerjainya seperti itu. Dan terus berlanjut dan berlanjut. Hingga Itachi pun menunjukkan di kamar mana saja yang akan di tempatinya nanti.
Yuki tidur dengan Revina, Fuyu dengan Lefvi. Kamar mereka pun bersebelahan. Itachi pun tahu apa isi dari tas yang di berikan Revina. Dan terkagum-kagum dengan isi dari tas kecil di hadapannya. Naruto dan Sasuke sangat hebat menurutnya, sebab lemari kecil yang menjadi salah satu barang yang ada di dalam tas itu, memuat baju mereka yang sebenarnya. Hanya memencet tombol kecil bewarna kuning maka lemari itu akan besar. Jika memencet tombol bewarna merah, maka akan mengecil. Sungguh, ini penemuan yang luar biasa.
Jika begini, akan sangat mudah digunakan untuk bepergian jauh. Sangat praktis dan simple. Naruto dan adiknya benar-benar ilmuan dan penemu teknologi terhebat di masa depan. Itulah yang dikatakan Yuki padanya. Dan jika Tou-sannya juga Minato mengetahui bahwa anak mereka akan menjadi ilmuan teknologi terhebat, pasti mereka akan sangat-sangat bangga.
Setelah membantu Yuki membereskan perlengkapan keempat bocah itu yang tidak membutuhkan waktu lebih dari 20 menit, Itachi dan Yuki pun duduk di ruangan sebelumnya sambil menonton TV dan memakan cemilan, tidak dihiraukannya suara hiruk piruk kembang api yang baru saja menggelegar di luar sana.
Ting
Seakan mendapatkan pencerahan dari kembang api yang meledak, Yuki pun teringat sesuatu.
"Paman Itachi, maukah paman Itachi membantu Yuki?"
"Eh? Membantu apa lagi? Bukankah semua sudah beres? Uhmm.. atau masih ada yang tertinggal?" Tanya Itachi sambil mengingat-ingat lagi.
"Bukan itu, tapi membantu Yuki untuk membuat kejutan!"
"Kejutan untuk siapa?" tanya Itachi heran. Tentu saja heran. Bukankah Yuki dan yang lainnya baru saja tiba di sini? Dan ia ingin membuat kejutan? Untuk siapa pula?
"Hehehe… dengarkan baik-baik!"
.
.
Bukit Konoha, 8 Juli 2014, 00.06 am
DHUAAARRR
DHUUAAARRRR
"Kireii…" ucap para gadis juga seorang gadis kecil yang tengah duduk di atas rumput dengan tinggi kurang lebih 10 cm yang dikelilingi oleh ilalang.
"Bagus juga ide mu , Dobe?"
"Hahahah… Tentu saja, Naruto ttebayo! Inikan demi Hinata-chan." serunya bangga. Hinata pun seketika merona dan mulai limbung jika saja tidak di tahan sama Sakura juga Hanabi.
"Kembang apinya sangat besar kalau dari bukit!" seru Revina dengan mata yang berbinar-binar. Ia merasa festival di masanya sekarang sangat berbeda dengan di masa asalnya.
"Ck, kembang api memang besar 'Re-vi-na-chan'!" Ucap Fuyu dengan ketusnya juga menekankan kata 'Revina-chan'.
"Ukh… dasar, Fuyu no baka. Makanya, sesekali ikutlah denganku dan Lefvi-kun kalau ke festival, jadi kau akan tau bedanya jika dilihat dari atas bukit, atau dari taman . Benarkan, Lefvi-kun?"
"Hn, Vina-chan benar."
"Kau taukan, aku tidak mungkin pergi jika Yuki tidak tidur." Ucapnya ketus sambil mengalihkan pandangannya. Menyembunyikan mata langitnya yang berembun. Yah, jika menyangkut sang adik tersayang beginilah dia. Ck… ck… ck…
"Ck, cengeng! Dasar, Sister Complex akut!" ejek Lefvi. Mendengar ejekan Lefvi, membuat telinga Fuyu panas. 'Apa-apaan itu membuka aibku sembarangan?' inner Fuyu naik pitam. Padahal sudah sejak di kediaman Uchiha aibnya sudah terbongkar. Yare-yare~~
"Lefvi-aho… kau juga Sister Complex, baka!" pekiknya tidak sadar kalau telah mengeluarkan setitik liquid bening. Lefvi dan Revina yang melihatnya pun tersentak. Mereka tidak sadar jika telah membuat Fuyu yang terkenal arogan menangis. 'Aku sudah terlalu berlebihan.' Inner Lefvi dan Revina bebarengan sambil menundukkan kepalanya.
Sedangkan keempat remaja juga dua remaja tanggung itu terhanyut dalam dialog yang dilakukan ketiga bocah di hadapan mereka. Kembang api pun masih tetap meramaikan suasana hening di Bukit Hokage itu.
"Ne, bisakah kami tau apa yang terjadi di sini?"
"Hinata-chan betul, kenapa kalian ribut begini?"
"Oishite yo?"
"Iie, nande mo nai yo, Kaa-chan, Tou-chan, bibi Hanabi." Ucap Fuyu dengan senyum yang terkembang.
Ting
Entah mengapa Fuyu mempunyai firasat jika Yuki tengah merencanakan sesuatu yang sangat menarik pastinya. Sebab, ia merasakan jantungnya seperti tersengat listrik dan kesedihannya hilang mendadak. Inilah ikatan batin si kembar Fuyuki. Meski jauh mereka merasakan keadaan batin saudaranya.
Lefvi dan Revina yang melihat senyuman Fuyu pun mempunyai firasat yang entah baik atau buruk. Pasalnya, di masa depan siapa yang tidak kenal dengan si kembar Fuyuki yang penuh dengan kejahilan juga kejutan yang sangat menarik.
'Semoga ini hal baik yang mereka berdua rencanakan.' Batin keduanya pasrah.
'Ini akan sangat menarik. Aku menunggu penjelasanmu, my beloved Imotou-chan.' Batinnya hingga memperlihatkan seringaian khas yang menurun dari Naruto jika sudah mempunyai ide jahil. Yare-yare~, like father like son/daughter.
Mereka yang melihat seringaian Fuyu minus Lefvi dan Revina hanya mengerutkan dahinya bingung. Pasalnya, baru saja kau melihatnya mena- maksudku menitikkan air mata, tiba-tiba saja ia sudah tersenyum tepatnya menyeringai dengan lebarnya. Membuat keenamnya kembali menatap kembang api di langit malam penuh bintang. Menganggap itu hanyalah ilusi semata (?)
.
Tsuzuku
.
Yatta… dah kelar chap duanya… \(^o^)/
Lefvi : Kok begitu sih, aku jadi kayak orang jahat saja. Bisa-bisanya mmbuat orang nangis.
Itachi : Kenapa aku OOC kaya gitu? (o_O)
Hheheh… gomen ne… hahaha… itulah yang ada di otak Nayu saat ini… lagi pula, itu tuntutan naskah *nunjuk-nunjuk naskah*
Yuki : Ne, Nayu nee-san, memangnya kejutan apa yang akan aku buat dengan paman Itachi?
Itachi : Iya kasi tau dong!
Hehehe… liat chapter depannya aja ya…
Naruto : Hebat! Aku menjadi pribadi yang pengertian… hahahaha…
Kan dirimu memang pengertian Naru-kun.. *kedipkedip*
Hinata : jangan berani merayu Naruto-kun ku, Nayu-san! *evilsmile*
Gyaa…. Ampuunnn….
Sakura : kenapa gaje gini nih! Arrghh… kenapa ga ada keromantisanku dengan Sasuke-kun
Hanabi : bener tuh!
Konohamaru : yup, setuju! Padahal aku ingin berdua dengan Hanabi-chan *ngambek*
Hanabi : *Blushing*
Hey, kalian bareng tiga anak loh, masa mau bemesraan?
Sasuke : biarin aja, Yuki aja tau soal Yaoi itu tandanya mereka sudah besar.
Eh? Benar juga ya *garuk-garuk mata*
Revina : Huweee….. kenapa tidak di tampilak kedekatanku dengan Tou-san juga Kaa-chan.. :'(
Tenanglah, ada waktunya…
Yosha… sudah waktunya istirahat minna, arigato buat syuting di chapter ini… yokey, maaf bila tidak memuaskan para readers semuanya…
Fuyu : kok aku gak di ajak ngobrol?
Abaikan aja yang baru datang dari kedai ramen itu…
Fuyu : AUTHOR SIALANNNN! *melempar granat juga bom atom*
DHUAARRR
KABOOMMM
Jaa ne minna! *hangus*
