"Kau harus belajar tentang sesuatu yang disebut kebetulan"

.

.

"WOW!" Baekhyun berseru saat Luhan mengeluarkan ponsel miliknya "Cool"

Luhan terkekeh "Apanya yang cool? Ini hanya ponsel biasa, bahkan orang-orang sudah tidak menggunakan merek ini lagi"

"Tapi kau memilikinya"

"Memangnya kau tidak?"

Baekhyun menggeleng "Ayah tidak memperbolehkanku"

"Kenapa?" Dahi Luhan mengerut tajam, karena, yang benar saja

"Dia tidak akan senang, ia selalu berkata kalau benda-benda seperti itu terlalu... manusia" Baekhyun menambahkan tanda kutip dengan menggerakan jari-jarinya saat kata manusia keluar dari bibirnya

"Apa maksudnya terlalu... manusia?" dan Luhan mengikuti caranya berkata manusia

Mata Baekhyun membulat saat sadar betapa bodohnya ia "Maksudku- tidak- maksudku maksud Ayahku, karena ia yang berbicara, ia melarangku karena itu bisa menganggu waktu belajar"

"Maaf, tapi tidak kah itu terdengar terlalu tua? Memangnya berapa umur Ayahmu?"

Hampir tiga ribu tahun! Baekhyun berbicara dalam hati

"Ayahku memang selalu kuno seperti itu" ia memaksakan dirinya untuk tertawa

Berdoa saja supaya Drac yang jauh disana tidak mendengar apa yang baru saja anaknya katakan

"Baiklah" Luhan kembali memasukan ponselnya ke dalam saku karena niat awalnya mengeluarkan benda pipih itu untuk meminta nomor ponsel Baekhyun "Tapi, apa kau punya telepon rumah?"

Baekhyun menggidikan bahunya "Sepertinya, tapi itu sudah lama sekali tidak dipakai"

"Jika itu masih berfungsi, sempatkan dirimu untuk menghubungiku" ia membuka dompetnya, mengeluarkan kartu nama dan memberikannya pada Baekhyun "Sebenarnya itu milik Papa, tapi nomor ponselku juga tercantum disana, nomor dua dari atas"

Baekhyun memandang kartu nama itu, hebat, ia tidak pernah punya yang seperti ini, bahkan Ayahnya, mungkin nanti ia akan meminta Drac untuk membuatnya juga. Dan hebat lagi, ternyata Luhan berasal dari keluarga terpandang, keluarganya pemilik perusahaan furniture ternama

"Akan aku hubungi" ia tersenyum sampai membuat kedua matanya menyipit

Hari ini mereka sedang tidak memiliki jadwal apapun di Universitas

Luhan tiba-tiba datang ke rumahnya, disaat Baekhyun tengah bersantai bersama Drac

"Bagaimana bisa hyung tahu rumahku?!" kalimat tidak sopan itu yang pertama kali keluar dari bibirnya saat ia membuka pintu

"Aku tahu dari Yixing"

Oh, Yixing yang baik hati

Tadi Baekhyun hampir pingsan karena panik, bagaimana tidak, bel rumahnya yang tidak pernah digunakan sejak pertama kali mereka tinggal disana tiba-tiba berbunyi, suaranya sangat nyaring, menakutkan (yahh, itu hanya karena bel rumahnya)

Luhan mengajaknya untuk makan siang bersama, Baekhyun menolak dengan halus tapi Drac ada disana sambil berkata : "Tidak sopan menolak ajakan teman manusiamu seperti itu"

Sebelum Luhan menyadari apapun yang Drac katakan, Baekhyun sudah menariknya menjauh dan akhirnya mereka terdampar ditempat ini, yang biasa orang-orang sebut caffe

"Kenapa kau tidak minum kopinya?"

Kenapa bertanya? Tentu saja karena aku akan mual jika meminum cairan itu!

"Aku tidak terlalu suka kopi" Baekhyun meringis

"Kenapa tidak beritahu aku?" Luhan cemberut "Bagaimana kalau susu? Milkshake?"

Baekhyun menggeleng pelan "Terimakasih, tapi aku sedang tidak ingin apapun"

"Okay" Luhan mengangguk maklum, raut wajahnya membuat Baekhyun menyesal "Apa ada tempat yang ingin kau kunjungi?"

Baekhyun tidak tahu, ia heran, bagaimana bisa Luhan terlahir dengan segala sifat baik bersamanya?

Ia tersenyum tipis "Jangan bertanya, ajak saja aku kemanapun hyung ingin membawaku"

Luhan ikut tersenyum "Kalau begitu, setelah ini kita akan pergi ke bioskop, toko buku lalu mengantarmu pulang"

Baekhyun mengangguk, meski merasa sedikit ragu. Harusnya ini menjadi sangat menyenangkan, menghabiskan waktu bersama seseorang yang berhasil mencuri perhatianmu, wow, bukankah itu hebat?

Tapi mengapa Baekhyun tidak merasakan itu?

Kenapa ada titik dimana ia merasa ini bukanlah apa yang ia inginkan?

Apa yang membuatnya merasa sedikit tidak tenang?

Baekhyun menghela napas pelan, apa ya? Ah, mungkin karena aku lupa memberi salam pada Daddy

.

Luhan benar-benar membawanya ke bioskop, bahkan ia memesan kursi pasangan untuk mereka

Seharusnya toko buku menjadi tujuan mereka selanjutnya, tapi Baekhyun menarik lengan Luhan saat ia lihat sepasang sepatu warna putih terpajang di etalase salah satu toko, jadilah mereka singgah di toko sepatu itu

Baekhyun membeli dua pasang sepatu yang sama dengan ukuran berbeda, yang satu lebih besar, untuk Drac pikirnya, meski Baekhyun tahu Drac tidak akan menyukainya

Kenapa?

Baekhyun hanya ingin membelinya, percaya saja meski itu terdengar menyebalkan

Luhan hanya membeli sepasang sepatu sport berwarna biru, saat Baekhyun bertanya mengapa ia memilih itu Luhan menjawab dengan bangga : "Aku 'kan captain sepak bola" dan itu cukup untuk membuat Baekhyun merasa lebih kagum lagi

Entah kenapa perut Baekhyun terasa berputar saat ia mulai melangkah masuk ke toko buku yang Luhan tunjuk, sangat mual, ingin muntah, tapi ia menahannya

Luhan membawanya ke rak buku berisi novel karya James patterson, buku-buku itu akan ada disana hanya sampai akhir bulan, setelahnya rak luar biasa (menurut Luhan) itu akan kembali di isi komik. Edisi spesial di musim gugur

"Aku suka tulisannya" Luhan berbicara dengan mata berbinar "Selalu berhasil membuatku merasa kagum"

Itu yang aku rasakan sekarang, selalu kagum, padamu. Baekhyun tersenyum pada pemikirannya

Baekhyun berhenti tersenyum saat Luhan tiba-tiba menoleh padanya"Ada buku yang ingin kau beli?"

Ia menggeleng "Sebenarnya aku tidak terlalu suka membaca"

"Begitukah?" Luhan mengambil satu buku pilihannya, terbitan terbatu dari karya novelis terkenal itu "Tapi aku sering melihatmu diperpustakaan"

Baekhyun terkekeh "Hanya jika keadaannya mengharuskan aku untuk pergi"

Yang lebih tua mengangguk paham sembari kakinya melangkah maju menuju meja kasir dengan Baekhyun yang mengekor beberapa langkah dibelakang

"Sudah hampir malam, kau ingin pulang atau makan sesuatu lebih dulu?" Luhan membungkuk dengan senyum manis saat petugas kasir memberikan buku yang ia beli

"Sepertinya aku ingin langsung pulang saja" Baekhyun menjawab pelan

"Baiklah" Luhan tersenyum "Terimakasih, Baekhyun"

"Eih? Harusnya aku yang berterimakasih padamu, hyung"

"Tidak, itu aku" ia tersenyum "Karena kau tidak menolak ajakanku"

Baekhyun ikut tersenyum

"Jadi kau tidak terlalu suka kopi, warna sepatu favoritmu adalah putih, kau tidak suka membaca, pergi ke perpustakaan jika keadaan mengharuskanmu untuk datang tapi aku melihatmu ada disana setidaknya tiga hari dalam seminggu" Luhan mengejanya, apa yang Baekhyun ucapkan tentang sesuatu yang ia suka dan tidak "Dan Ayahmu melarangmu untuk memiliki ponsel karena bisa menganggu jam belajarmu, ya 'kan?"

Baekhyun terkekeh "Kau tidak perlu mengulangnya, hyung"

"Aku sedang berusaha untuk lebih mengenalmu, kau masih belum mengerti juga, ya?" Luhan menaruh lengannya di pundak Baekhyun, ia berbisik "Aku sedang mendekatimu"

Eh?

"Iya kah?" Baekhyun ikut berbisik

Ia dengar Luhan berbicara tapi tertahan karena sesuatu yang besar dan berat menubruk tubuh bagian belakangnya sampai ia, termasuk Luhan jatuh tersungkur

Baekhyun ingin mengomel tapi ia menahan segala makian yang ingin ia teriakan saat melihat Chanyeol disana, meremas dadanya sendiri sambil mengerang kuat, Baekhyun panik

"Yah? Kau ini kenapa?" Baekhyun mengangkat pundak Chanyeol

Luhan membatunya dengan mengangkat tubuh yang dua kali lipat lebih berat darinya "Ia sangat pucat, bantu aku!" ia menaruh lengan Chanyeol disekitar pundaknya, Baekhyun melakukan hal yang sama dengan lengan satunya

Ia tidak bisa mengelak saat Luhan membawa Chanyeol ke rumah sakit, terlanjur sampai, terlanjur Luhan menidurkan tubuh Chanyeol diranjang pasien

Baekhyun ingin sekali tertawa, tepat didepan wajahnya, saat seorang perawat yang tadi memeriksa Chanyeol memberitahu mereka kalau idiot itu kekurangan darah

Tapi Baekhyun malah menangis, terlebih saat melihat di lengan Chanyeol tertanam dua jarum "Cari mati, ya?!" ia berseru

Luhan mengusap pundaknya, menoleh ke berbagai sisi sambil bergumam minta maaf

Yang diteriaki sedang berperan menjadi si bisu, tidak mengindahkan atau pura-pura tidak peduli, Baekhyun tidak tahu

Ponsel Luhan tiba-tiba berdering, ia pamit keluar sebentar untuk menjawab panggilannya dan kembali dengan permintaan maaf

"Aku harus menemani orangtuaku, perusahaan meluncurkan produk baru malam ini"

Baekhyun mengangguk maklum "Tidak apa-apa, hyung"

"Aku sudah pesan taxi untuk kalian berdua, sampai bertemu besok, Baekhyun!" Luhan melambaikan lengannya sebelum melangkah pergi dan menghilang dibalik pintu

Atensi Baekhyun kembali pada Chanyeol yang masih setia dengan perannya, karena ia tidak bisa ditanyai, jadilah Baekhyun mencari jawaban sendiri

Lengannya ia ulurkan ke atas kepala Chanyeol, menyelusup di antara ribuan helai rambutnya, Chanyeol sempat memberi gerakan menolak tapi ia kembali diam setelah Baekhyun menjambaknya, itu sakit asal kalian tahu saja

"Makan siang bersamaku?"

"Tidak, hyung, terimakasih"

"Tidak sopan menolak ajakan teman manusiamu seperti itu"

"Huh? Apa yang kau lakukan di halaman rumahku?"

"Aku tidak terlalu suka kopi"

"Film ini bagus, kita akan menontonnya"

"Ini sedikit berlebihan, kenapa hyung memesan tempat untuk pasangan?"

"Tunggu, kau?"

"Hyung lihat! Sepatunya bagus, aku ingin melihatnya dari dekat!"

"Aku suka tulisannya, selalu bisa membuatku merasa kagum"

"Kau mengikutiku dan Luhan hyung?"

Chanyeol menarik lengan Baekhyun menjauh dari atas kepalanya "Tidak, kenapa juga aku mengikuti kalian?"

"Lalu apa yang baru saja aku lihat?"

"Memangnya aku tahu apa yang kau lihat?"

"Kau ada dihalaman rumahku, di caffe, bioskop, toko sepatu dan bahkan toko buku" Baekhyun merengut "Dan kau masih berani mengelaknya?"

Chanyeol berdecih "Kau harus belajar tentang sesuatu yang disebut kebetulan"

"Kebetulan pantatmu!" Baekhyun kembali berseru

"Bisakah tidak berteriak? Kau mengganggu yang lain"

"Kau menggangguku"

"Yasudah, pergi!"

"Apa?"

"Aku mengganggumu 'kan?" Chanyeol menatapnya "Yasudah pergi, menjauhlah"

Bibir Baekhyun membentuk satu garis tipis sebelum akhirnya ia berucap dengan suara yang lebih tenang "Luhan memesan kendaraan untuk kita, itu artinya kau dan aku harus pulang bersama"

"Aku tidak butuh itu"

"Kenapa kau terlihat sangat marah?" Baekhyun bertanya heran "Bukankah seharusnya aku yang melakukannya?"

"Kau membaca masa laluku, itu tidak sopan" alasan yang sangat tidak terduga

Baekhyun berdecih "Itu hanya masa lalu yang kurang dari dua puluh empat jam, serius?"

Chanyeol memandang ke arah lain, ke arah kantung darah yang menggantung di tiang besi "Apa aku tidak bisa meminumnya saja?"

Baekhyun tahu kalau Chanyeol tengah mengalihkan perhatiannya tapi ia tetap saja menanggapi "Silahkan, jika kau mau di teriaki gila"

Chanyeol berdecih, menarik ke dua jarum yang menancap di kulitnya sekaligus

Baekhyun menahan napas saat Chanyeol meringis kesakitan "Kenapa wajahmu seperti itu?"

"Kenapa? Kau mau mencobanya?" Chanyeol menyodorkan benda tajam itu ke arah Baekhyun yang menatapnya penuh

Chanyeol melangkah keluar ruangan yang berbau menusuk itu, Baekhyun ikut dibelakangnya

Mereka berdiri sangat lama dimeja resepsionis hanya untuk mendengar kalau ternyata seluruh tagihan sudah dilunasi oleh Luhan, demi seluruh keturunan vampire, mengapa wanita tua itu sangat lambat?

Wajah jengkel Chanyeol belum menghilang bahkan setelah mereka sudah benar-benar keluar dari daerah rumah sakit itu

Berbicara tentang kendaraan yang Luhan pesan, Chanyeol membayar supirnya dengan beberapa lembar uang lalu menyuruhnya untuk pulang

Mungkin ini sangat terlambat, tapi Baekhyun bertanya-tanya mengapa ia mau saja di ajak menyusuri jalan bersama Chanyeol, ketimbang duduk dikendaraan nyaman yang sudah Luhan pesan untuknya dan meninggalkan tuan menyebalkan ini

Kenapa ya?

"Terimakasih"

Baekhyun mendongak dengan cepat saat kalimat sakral itu keluar dari mulut Chanyeol, yah meski pengucapannya terdengar sangat berat "Tidak masalah"

Lalu keadaan kembali menjadi hening, sangat hening, bahkan suara desiran angin sampai menyapa indranya

Baekhyun kembali menunduk, memainkan tali tas belanjaannya dengan jari telunjuk

Sampai tidak terasa kalau mereka harus berpisah disalah satu persimpangan jalan, ia ingin mengucapkan salam perpisahan meski itu akan terdengar canggung, tapi Chanyeol tidak menoleh sedikitpun dan langsung menjauh, itu membuatnya merasa lebih dari sekedar canggung

Baekhyun sampai dirumahnya dengan beban berat tidak terlihat dipundaknya

"Hello, Ains" Drac menyambut putranya dengan pelukan hangat "Kalian bersenang-senang?"

"Tentu" Baekhyun tersenyum, terpaksa "Kami pergi ke bioskop dan toko buku"

Drac ikut tersenyum, ia terlihat lebih tulus "Kau terlihat lelah, tidur sampai tengah malam akan bagus untukmu"

Baekhyun mengangguk "Good night, Daddy"

Ia naik ke lantai dua, ke kamarnya yang terlihat sangat membosankan, seperti biasa

Diruangan luas itu hanya ada satu tempat tidur, satu lemari, satu meja belajar dan satu meja kecil disamping tempat tidurnya. Tirai berwarna merah kelam yang menjuntai dari langit-langit sampai menyentuh lantai disekeliling ranjangnya menjadi pelengkap, menambah kesan menakutkan tempat favoritnya di seluruh daratan

Baekhyun melempar tas belanjaanya ke lantai lalu membanting kuat tubuhnya ke atas ranjang

Kembali memikirkan dua hal bodoh yang ia lakukan hari ini, mengantar Chanyeol ke rumah sakit dan berjalan pulang bersama Chanyeol

"Wow" ia terperangah, merasa takjub dengan tingkat kebodohannya yang luar biasa

Meski Baekhyun merasa sangat lelah, ia berakhir dengan tetap terjaga sampai pergantian hari dan ia tidak tahu kalau hal itu akan memberikan reaksi buruk pada tubuhnya, ia menghabiskan dua kantung darah bahkan sebelum berangkat ke Universitas

Akhirnya ia memaksa Drac untuk mengantarnya karena terlalu malas untuk berjalan dan kejadian yang sama terulang kembali setiap Ayah tercintanya masuk ke dalam kawasan Universitas, mobil mereka akan menjadi pusat perhatian dan bisikan terdengar disana-sini, bukannya membicarakan Baekhyun atau mobil sport keren mereka, sekumpulan mahasiswi malah berusaha untuk menarik perhatian Drac yang selalu tebar pesona

"Dad, kau tidak perlu memakai pakaian formal, kau hanya mengantarku ke Universitas" Baekhyun mengusap wajahnya dengan wajah jengkel

"Why babe?" Drac melepas kaca mata hitam mengkilapnya "Ayah suka jadi pusat perhatian"

Baekhyun merotasi matanya "Dad!"

Drac tertawa renyah "Masuklah ke kelas, aku tidak mau anak kesayanganku terlambat"

Baekhyun mengangguk dengan wajah datar, baru saja selangkah ia menjauh, Drac sudah menarik lengannya lalu memberikan sebuah pelukan sebelum akhirnya membiarkan anak semata wayangnya pergi

Drac kembali masuk ke dalam mobil dan melajukan benda super mahal itu perlahan

Baekhyun berdecih kala mendengar suara teriakan beberapa mahasiswi yang masih membicarakan tentang seberapa "cool" nya Drac

"Big hug for a big baby" Chanyeol terkekeh tepat dibelakang telinga Baekhyun

Baekhyun yang merasa terganggu memukul wajahnya dengan punggung tangan, bukannya menjauh pria tinggi itu malah merangkul pundak yang lebih pendek

"Mau aku beritahu sesuatu?" Ia berbisik, Baekhyun tidak peduli sungguh tapi ia dengan tidak tau malunya menjawab pertanyaan yang ia buat sendiri "Aku tahu kalau kau tidak tidur semalam"

Baekhyun masih diam

"Dan aku sedikit banyak menjadi penyebab kau tidak terlelap" ia tertawa sangat lepas, tidak peduli dengan tatapan menghakimi orang-orang yang mereka lewati

Baekhyun terkekeh mengejek "Ku kira seseorang tengah dalam masa sensitifnya"

Lengannya perlahan jatuh, menjauh dari Baekhyun, belum Baekhyun sempat menahannya, ia sudah menghilang

Lagi-lagi Chanyeol menggunakan kekuatannya disembarang tempat, idiot itu benar-benar!

"Baek?" suara lembut Luhan dan lambaian tangannya mengalihkan atensi Baekhyun "Maaf meninggalkanmu semalam"

"Kau sudah meminta maaf padaku, hyung" ia tersenyum cerah

"Oh ya?" Luhan pura-pura terkejut, lengkap dengan ekspresi kaget dibuat-buat membuat pria dengan rambut silver itu terkekeh "Aku antar ke kelas, ya?"

Baekhyun mengangguk setuju, melanjutkan langkahnya yang tertunda bersama Luhan

Ah, ia tiba-tiba ingat akan sesuatu "Hyung, kau ikut club apa?"

"Aku?" Luhan tersenyum "Club sepak bola dan dance"

Baekhyun mendesah, sangat sulit

"Memangnya kenapa?" yang lebih tua terdengar penasaran

Ia menggidikan bahunya "Ada peraturan baru 'kan? Hyung tidak tahu?"

Luhan menggeleng

"Setiap mahasiswa, minimal sudah disemester dua wajib mengikuti club, dan aku belum punya tujuan apapun untuk itu"

"Apa yang kau suka?"

Aku suka meminum darah "Aku sedikit suka membaca dan sedikit suka berolahraga"

Luhan terkekeh dengan jawaban Baekhyun yang sedikit-sedikit "Di sini ada Club sastra, coba saja ikut ke sana dan juga banyak Club olahraga"

"Ah, sastra ya?" sepertinya anak semata wayang Drac sudah sedikit menemukan jawaban

.

"Yixing, kau sudah menentukan Clubnya?"

Yixing mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Baekhyun "Aku akan ikut Club memasak dan dance, aku sudah mendaftar, hanya menunggu wawancara"

"Wawancara?!" Baekhyun berseru, Jongdae dengan senang hati menampar bibirnya

Manusia itu mengangguk dengan wajah takut

"Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus-"

"Baek, sweety, seriously, itu hanya wawancara biasa" Jongdae merotasi matanya

Baekhyun menggeleng tegas "Bagaimana jika seseorang yang mewawancaraiku ternyata tidak suka padaku, dia pasti akan menjatuhkanku dihadapan semua orang" wajah takutnya benar-benar membuat Jongdae kasihan

Yixing mengusap lengan sahabatnya "Tidak, kau hanya akan bertatapan langsung dengan ketua Club"

Wajahnya seketika menjadi cerah kembali "Serius?"

Yixing mengangguk, Jongdae hanya memperhatikan

Baekhyun mengangguk mantap, berlari dengan cepat lalu kembali dengan selembar kertas pendaftaran

"Jadi apa Clubnya?"

"Sastra"

"Minimal dua"

"Sastra dan sastra"

Jongde menghela napas, merasa bodoh karena bertanya dengan orang bodoh disebelahnya

Setelah semua kotak kosong terisi, Baekhyun kembali berlari untuk memasukan formulirnya ke kotak pendaftaran Club

"Kapan wawancaranya?"

"Dimulai nanti sore sampai tiga hari ke depan"

.

Baekhyun berjalan dengan dagu terangkat, mengumpulkan rasa percaya dirinya, dengan tekat yang kuat ia memilih hari ini menjadi hari dimana ia diwawancarai

Luhan berkata kalau ia tidak perlu canggung dan jawab saja semua pertanyaannya, jika benar-benar tidak menemukan jawaban yang pas, sedikit berbohong juga tidak apa-apa

Ia sedikit merengut saat melihat ruangan Club sastra yang sepi, tidak seperti Club dance dan musik yang sudah ramai sejak dibuka pendaftaran

Ia mengetuk pintu ruangan itu beberapa kali

"Ya, masuk"

Saat izin itu didapatkannya, ia membuka pintu kayu itu perlahan

Sampai akhirnya waktu terasa berhenti begitu ia lihat seseorang yang duduk di ujung ruangan dengan kertas berserakan disekelilingnya

"WHAT THE FUCK"

.

.

.

[Tbc]

Wahh seneng banget deh liat kalian suka sama ZING. Terimakasih buat review dan vote kalian 🙏

Terimakasih juga buat kartun Hotel transylvinia yang aku jadiin inspirasi dari ZING, nungguin banget season 3 nyaaaaa

Malam ini update jamaah bareng authors kece, Azova10, Valbifeur, Dobbyuudobby nd Purflowerian, Ohlan94 nd Peachybloom Dibaca juga cerita mereka dan jangan lupa review