Balasan Review
Sebelum masuk ke chapter dua ini, aku mau membalas beberapa Review dulu. Boleh ya? Tapi sebelum itu, untuk semua reader terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk sekedar membaca ataupun meninggalkan reviewnya di fic sederhanaku ini. Dan juga, terima kasih khususnya untuk teman-teman dekatku yang sudah membaca dan memberi komentar, saran dan kritikannya lewat chat di bm ku. Terima kasih, karna kalian semua aku jadi bersemangat untuk menulis fic ini. Hihi ^^
NazuDragneel
Hahahaha, Amin. semoga saja kedepannya akan seperti itu. Terima kasih.
Tapi jangan terlalu merasa seperti itu. Aku malah takut ficku mengecewakan kedepannya nanti. Hihi..
Terima kasih sudah membaca dan memberikan reviewnya ya.. Salam kenal juga, Nazu-san. :)
Chiel Chielo
Hai, Chiel-san.. Salam kenal.
Sebenarnya sulit bagiku membuat cerita yang sedih. Tapi aku nangis loh waktu nulis fic ini. Wkwkwkwk.. mungkin karna aku pernah mengalaminya jadi sedikit terbawa suasana. Hiks. #Eh, kok malah curhat.
Oh ya, soal Gray nya lagi ngapain, itu rahasia. Hahahaha.. lihat saja dichapter ini. Mungkin kau akan menemukan jawabannya. Mungkin. :v
Terimakasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca dan memberikan review ya.. :)
Fic Of Delusion
Sepertinya aku kena serangan balik nih. Wkwkkw :v
Jujur, aku senang sekali mendapat review darimu Delusion-san. Terima kasih sudah bilang cerita ini bagus. Iya, kau benar. Sulit sekali mengungkapkan perasaan disini. Haha. Terima kasih sudah membaca dan memberikan review di fic sederhanaku ini ya. :)
NlorenZo
Emang pairnya Gruvia jarang ada ya? Aku gak tahu. Selama ini aku lebih sering membaca fic nya Jellal-Erza dan NaLu aja. Hahahha.. Oh ya maaf ya gak bisa update cepat. Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca dan memberikan Review ya. Salam kenal. :)
~ Based on Fairy Tail by Hiro Mashima ~
Genre : Romance, Hurt/Comfort
Pairing : Gray, Juvia
Rate : T
.
A Fairy Tail Fanfiction Story
-Lewat Telepon -
Chapter 2 : Si Rambut Putih
Aku turun dari kereta, melihat kanan-kiri, sedikit merasa asing. Aku sudah pernah kesini. Itu pun waktu masih SMA, ketika observasi pelajaran bersama teman-teman sekelasku, Natsu, Erza, Lucy dan juga.. Gray-sama.
Aku menengadahkan kepala dan menghela napas singkat.
Sekarang, aku harus kemana?
Sementara di kediaman Scarlet..
"Tenanglah bu." Bujuk Ayah pada Ibu Erza yang saat ini tak bisa berhenti mendecak cemas. Tentu saja, ibu mana yang tidak khawatir kalau putrinya pergi tanpa pamit. "Erza pasti menemukannya." Lanjut Ayah sembari duduk menatapi sang Ratu disana yang tak henti bermondar-mandir.
Sudah berkali-kali omongan Ayah tak ia hiraukan. Mendengarnya saja pun sepertinya tidak.
Ayah menghela napas untuk kesekian kalinya. Bukan hanya khawatir tentang Juvia. Ia juga mengkhawatiri rapat yang harus dihadirinya jam 9 nanti. Pasalnya, mobil yang akan dipakai Ayah untuk berangkat, malah sudah terbang bersama Erza setengah jam lalu. Bukan masalah kendaraan sejujurnya. Tapi, tas kantor dan map-map berharga untuk rapat nanti sudah diletakkannya di mobil itu. Sekarang mau apa lagi, selain menunggu sang anak pulang.
Tak lama setelah menunggu dengan khawatir, akhirnya terdengar juga suara mobil yang masuk kedalam pagar rumah. Tanpa menunggu, ibu dan Ayah langsung melesat menghampiri Erza.
"Bagaimana? Juvia mana?" Tanya Ibu seraya melihat wajah sang anak yang terlihat kesal.
"Aku tak menemukannya. Mungkin dia sudah di kereta menuju Crocus." Jelas Erza seraya melempar kunci ketangan ayah. "Crocus?" kaget kedua orang tuanya itu seraya menatap Erza yang menghilang dari balik pintu rumah.
Aku sudah seperti orang bodoh sekarang. Menyeret koper mengikuti kemana kaki ku ingin melangkah. Aku sudah pergi dari stasiun itu. Sekarang sepertinya aku berada dipinggiran kota. Apa aku harus mencari penginapan sementara disekitar sini ya? Ah, tapi itu buang-buang uang. Aku harus bisa menghemat.
Tapi kemana aku harus mencari apartemen yang cukup murah?
Aku menghidupkan ponselku yang sempat ku nonactive kan beberapa waktu lalu dan membuka maps untuk melihat dimana aku saat ini. Tapi entah kenapa, aku malah tertarik dengan kampusnya Gray-sama. Begitu mengingatnya saja, perasaanku langsung menggebu riang, tak sabar aku ingin bertemu dengannya.
Tapi, apa aku benar-benar ingin bertemu dengannya?
Sudah lama kami tidak berhubungan, mungkin saja dia sudah punya pacar ?
Ah, apa yang aku pikirkan..? Aku sedikit menepuk kepalaku ringan berulang kali. Aku kesini hanya untuk memastikan dia dimana... iya, mungkin.. sepertinya.. aku menghela dan sedikit merunduk pilu. Sakit sekali rasanya kalau mengingat sepuluh bulan ini. Bukan, tepatnya selama ia berada di Crocus. Aku punya banyak sekali pertanyaan untuknya..
Soal tanggal 15 desember kemarin...
Kemana saja dia selama ini... dan banyak lagi!
Tapi untuk saat ini, aku hanya ingin tahu ia dimana..
Aku menelan ludah, menguatkan diri dan mencari jalan menuju universitas si Gray itu. Dan yap, sekitar 20 km dari sini. Jauhnya... Apa aku harus berjalan kaki? Rintihku.
Pukul 13.00, ini sudah siang dan matahari benar-benar terik diatas langit Crocus. Seorang gadis berambut biru turun dari sebuah bus abu-abu yang baru saja berhenti didepan sebuah halte. Ini masih sekitar 2 km lagi dari tempat yang akan ia tuju, tapi sepertinya ia lebih menyukai jalan dibandingkan dengan menaiki bus yang pasti akan berhenti tepat didepan kampus itu.
Gadis itu tampak terus menyeret kopernya, membuat beberapa orang disekitarnya sedikit menoleh sebelum kembali berjalan.
Kruuuk~ "Ah, aku lapar." Rintihnya seraya memegang perut. Ia baru sadar belum memakan apapun sejak pagi tadi. "Oh iya!" Pekiknya sadar akan satu hal. Mendengar kata lapar, ia jadi teringat rumah dan juga janji yang diucapkannya di kereta tadi pagi. Juvia segera menatap layar ponselnya, setelah mendapakan apa yang ia cari, ia langsung meletakkan ponsel silver itu ke depan telinganya.
"Halo." Sapanya lembut.
"Juvia? Ini Juvia?" Tanya suara parau diujung sana.
"Haha, iya tante." Balas Juvia sedikit takut. Sepertinya ia menyadari kalau suara didepan sana sudah sangat khawatir.
"Hah, syukurlah..." Lega wanita itu. "Kau dimana sekarang? Kenapa pergi tidak bilang-bilang? Kami sudah berkali-kali menghubungimu, tapi hp mu tidak aktif. Kau mau membuatku terkena serangan jantung ha?" Kesal wanita itu persis seperti saat Erza sedang marah. Hanya saja, jauh terasa lebih lembut dan keibuan.
"Hmm.." Juvia bergumam lucu. Ibu dan anak sama saja. "Juvia di Crocus. Maaf sudah membuatmu khawatir. Tapi, tante untuk beberapa bulan kedepan, Juvia akan ting..."
"Tidak! Pulang Sekarang!" Pekiknya yang kontan membuat Juvia menjauhkan ponsel dari telinga.
"Ada yang harus Juvia lakukan disini. Juvia mohon."
"Tapi, Juvia, kau bahkan tak punya siapa-siapa disana. Tak ada pekerjaan ataupun temp.."
"Juvia sudah menyewa apartemen." Bohongnya. "Juvia juga sedang meminta teman juvia untuk membantu mencari pekerjaan. Jadi tante tidak perlu khawatir." Lanjutnya yakin dengan diselingi kebohongan. Ia sengaja melakukan ini. Sudah menjadi niatnya selama dua bulan lalu untuk pindah ke Crocus. Sekarang dia sudah disini, ia tak mau menyia-nyiakannya begitu saja.
"Haah, Tapi Juvia, tetap saja aku akan khawatir.."
"Juvia janji akan selalu memberi kabar kerumah." Kata Juvia cepat. Sejujurnya ia tak ingin membuat siapapun khawatir padanya. Tapi apa salahnya menjadi mandiri? Aku memang sudah tak punya siapa-siapa. Aku tak perlu merepotkan orang lain.
Terdengar suara hela napas panjang diujung telepon sana. Sepertinya ia mengerti dengan permintaan egois barusan.
"Baiklah." Kata wanita itu akhirnya. "Aku mengizinkan mu dengan syarat, kau harus mengirimkan kabarmu setiap minggu padaku. Jika ada masalah telepon aku. Jika kau sakit juga kabari aku. Tapi jika dalam seminggu kau tak memberi kabar, aku akan menjemputmu pulang dengan paksa. Mengerti?" Tegas wanita itu.
Juvia tersenyum. Walau sudah tak memiliki orang tua, Juvia selalu merasa masih memiliki ibu berkat wanita itu. "Iya, Juvia janji." Balasnya lembut.
"Emm, Tante, Erza.."
"Ah, iya. Dia sepertinya benar-benar marah padamu. Aku tak tahu, kalian punya janji ke Crocus jam 10 tadi. Jadi, dia sudah berangkat ke stasiun. Dia akan menyusulmu."
"APA?"
Magnolia, pukul 13.50
Dua pasang kaki terlihat sedang berlari dari tempat pemberhentian bus di perempatan jalan sana. Mereka telihat tergesa-gesa menuju pintu masuk Stasiun Magnolia itu.
"Erza, tunggu. Jangan terburu-buru begitu!" Teriak seorang berambut biru tua yang berlari mengikuti langkah kaki wanita berambut scarlet didepannya.
"Cepat lah! Kau yang terlalu lamban, Jellal!" Balas Erza berteriak, tanpa sedikit pun menoleh pada lelaki itu. Jellal menghela. Sudah sejak di bus tadi Erza begitu. Tak mempedulikannya dan hanya fokus pada jadwal kereta pukul 14.00 nanti. "Jellal Cepat! 10 menit lagi." Pekik Erza.
Yang dibelakangnya hanya bisa berulang kali menghela. Mau membantah apapun, pikiran wanita didepannya itu pasti hanya penuh dengan Crocus, Crocus dan Crocus.
Jellal mempercepat langkahnya begitu sang pacar sudah melesat jauh masuk ke dalam stasiun itu. Halu lalang orang yang ramai, membuatnya sedikit mencari celah untuk melihat pucuk scarlet yang sudah berlari jauh darinya.
Dan akhirnya si pucuk scarlet itu terlihat tengah berdiri didepan jadwal keberangkatan kereta. Mematung seraya menengadahkan kepala melihat apa yang tengah bertuliskan di tempat itu.
"Erza, ada apa? Apa kita terlambat?" Tanya Jellal begitu berdiri tak jauh dari Erza seraya membungkuk memegang lutut, letih.
"Keberangkatannya ditunda..."
"Hah?" Tanya Jellal balik begitu tak menangkap jelas apa yang baru saja digumamkan pacarnya itu. Jellal mengangkat kepalanya tegak. Ya hanya kepala, sedangkan tangan masih memegang kedua lutut seraya mengatur napasnya.
"Keberangkatannya ditunda!" Pekik Erza yang kali ini berhasil membuat Jellal tegak sepenuhnya. Ia membelalak kaget dan segera menolehkan pandang ke papan Jadwal didepan sana.
Pantas saja, banyak sekali orang yang halu lalang di stasiun siang-siang begini. Batin Jellal.
"Kenapa harus sekarang?!" Kesal Erza seraya memutar pandang. Dan mulai mengangkat kaki lagi begitu melihat sesuatu. "Erza, kau mau kemana?"
Jellal mengikutinya. Dalam kondisi seperti ini, dia sudah sangat hapal, Si Scarlet ini pasti akan melakukan sesuatu yang aneh.
"Oi, Pak!" Seru Erza pada salah satu petugas stasiun disudut sana.
"Y-ya?" tanya petugas itu kaget melihat gadis garang yang tiba-tiba saja datang menemuinya.
"Kenapa keberangkatan keretanya ditunda?!" Tanya Erza dengan suara lantang.
"Maaf Nona, jalur kereta menuju Crocus sedang terputus dan salah satu kereta barang terguling di jalur it.."
"Kau kira aku peduli soal itu! Aku hanya ingin kau jalankan kereta itu dan aku mau pergi ke Crocus sekarang juga!" Potong Erza yang berhasil membuat mata Jellal membelalak.
"Tapi, maaf. Memang tidak bisa. Kami tidak bisa membahayakan nyawa penumpang untuk hal semacam itu!"
"Aku tidak peduli!" Pekik Erza yang kali ini berhasil mendapat respon cepat dari tubuh Jellal yang langsung saja berdiri dihadapan gadis itu.
"Erza! Hentikan!" Bentak Jellal. Jellal sedikit menghela dan segera meminta maaf pada petugas itu dan dengan sigap membawa Erza pergi dengan paksa.
"Apa yang kau lakukan Jellal?! Lepaskan tanganmu!" Pekik Erza. "Hey, aku bilang lepaskan! Aku harus ke Crocus mencari Ju.."
"Erza! Tenangkan dirimu!" Pekik Jellal begitu mereka sudah jauh dari lorong petugas itu, seraya berbalik menatap tepat ke manik mata dihadapannya.
"Bahkan jika petugas itu mengizinkan, aku akan tetap menghalangimu pergi." Kata Jellal tegas. "Tenang lah dulu! Kau hanya akan membuat dirimu stres jika seperti ini! Bukan hanya kau, semua juga sedang mengkhawatirkan Juvia!" Lanjut Jellal sembari menatap tajam wanita scarlet itu.
"Maaf." Balas Erza. Jellal lagi-lagi menghela. "Coba hubungi Natsu dan Lucy lagi, atau siapapun." Saran Jellal. "Kita akan ke Crocus jika jalur kereta itu sudah bisa digunakan lagi."
"Hmm.. sudah kucoba, nomor nya tidak aktif."
"Bagaimana dengan Lisanna?"
"Lisa, masih di Magnolia saat ini."
"Gray?" Pekik Jellal tajam. Siapapun tahu, yang berhak disalahkan atas kepergian Juvia ke Crocus adalah lelaki raven itu.
Erza menggeleng. "Nomornya su..." Erza seketika membelalak. Ia segera mengeluarkan ponsel dari celana merahnya. Reaksi Erza itu, mengundang tanda tanya besar dibenak Jellal.
"Ah, kenapa aku baru ingat!?" Decak Erza Kesal.
"Apa?" Bingung Jellal seraya menatap sang scarlet yang saat ini sudah meletakkan ponsel ditelinganya. Dering ditelinga Erza sedikit melantun lama, sebelum suara decak terangkat dan suara diujung telepon sana terdengar.
"Erza?"
"Ah, syukurlah~" Kata Erza seraya tersenyum lega.
"Besar sekali..." Gumam Juvia begitu menatap bangunan yang berdiri megah depannya. Ia sedikit ternganga melihat pagar hitam disebrang jalan sana dengan papan nama bertuliskan Universitas Crocus diatasnya. Dari luar saja terlihat halaman nan luas menyambut jika berhasil melewati pagar itu, belum lagi bangunan-bangunan yang berjajar tinggi didalamnya. Sungguh berbeda dengan Universitasnya di Magnolia. Bahkan mungkin itu dua kali lipat dari besar Universitas di Magnolia.
Juvia terus mengamati dari balik kacamata hitam yang dikenakannya. Rambut biru panjangnya sedikit ia masukkan kedalam topi sehingga hanya menampakkan poni yang jatuh lembut didepan dahinya. Entah kenapa, tapi pikiran Juvia mengharuskannya mengenakan itu. Lebih baik menutup diri dulu daripada bertemu dengan cara memalukan seperti ini.
Yah, siapa juga yang tidak risih bertemu dengan orang aneh yang membawa koper ke kampus seperti ini?!
Oke, Aku akan mendekati pagar itu, dan mengintip bagian dalamnya. Ya, hanya mengintip..
Juvia segera menyebrang ke depan pagar sana. Beberapa orang memperhatikannya aneh. Bukan hanya karna koper yang masih terseret anggun dibelakang sana. Tapi malah makin aneh dengan kacamata dan rambut seperti itu. Ada yang tertawa bahkan ada yang merasa sedikit ilfil. Yah, Juvia sudah 100% seperti seorang penguntit sekarang.
Ia tak memikirkan hal itu dan terus berfokus pada tujuannya, mengintip. Apa? Mengintip? Ya, entah apa maksudnya melakukan itu.
Juvia menajamkan mata, menyebar pandang menatap kawasan universitas dari balik intipannya didepan pagar itu. Terkadang ia sedikit menurunkan kacamata hingga hidung. Warna hitam itu benar-benar membuatnya kesusahan untuk melihat.
"Juvia?" Panggil seseorang yang kontan membuatnya lompat.
Itu.. Gray-sama? Juvia segera menoleh ke belakang.
Eh, "Lyon?" Ia sedikit kaget begitu melihat siapa yang berdiri dibelakangnya. Ternyata orang itu bukan si raven yang selama ini dicari-carinya.
"Sedang apa kau disini?"
"K-kau sendiri?" Tanya Juvia balik. Ia sedikit gugup kalau bertemu dengan lelaki berambut putih sepupunya Gray ini.
"Aku kuliah disini."
oh iya.. aaargh, pertanyaanku bodoh sekali.
"Kau?" Tanya Lyon lagi. Juvia mengerjap. Sejujurnya dia juga ragu dengan apa yang dilakukannya itu.
"A..emm.. itu.."
Kruuuuuuk~
"eh?" Wajah Juvia memerah seketika begitu mendengar suara keras dari perutnya. Bahkan orang didepannya ikut tersentak akan hal itu.
"A.. aku.."
"Kau.." Kruuuuuk~
Lagi-lagi... Juvia menggigit bibir bawah, menundukkan kepala dengan maksud menyembunyikan wajahnya yang sudah merah padam sekarang. Orang didepannya sekarang tidak terlihat kaget. Ia malah tertawa lucu yang membuat Juvia makin merasa malu.
Juvia duduk tepat berhadapan dengan lelaki yang ditemuinya didepan kampus tadi. Memainkan jari seraya menatap kosong makanan yang baru saja diletakkan oleh salah satu pelayan didepannya. Dia juga memperhatikan lelaki berambut putih itu. Dari sekian banyak orang di Crocus kenapa harus lelaki itu yang ditemuinya.
"Makan lah. Kau pasti belum makan sejak sampai disini kan?" Kata Lyon seraya tersenyum manis.
Ugh! Bukan sejak sampai disini. Malah sudah dari tadi pagi aku belum makan sedikit pun. Juvia mengangguk pelan sembari mengambil sumpit disebelah kanannya.
"Ah, tapi sebelum itu..." Katanya lagi yang membuat Juvia tak jadi menyumpitkan telur gulung. "Lepaskan dulu itu, bisakan?" Lanjutnya seraya nyengir risih. Juvia sedikit tersentak, ia baru sadar kalau sejak tadi ia masih memakai topi dan kacamata hitamnya.
"Oh iya maaf." Kata Juvia sambil tersipu. Pasalnya ia juga baru menyadari, lelaki didepannya ini tengah malu karna sejak tadi mereka menjadi bahan perhatian dari pengunjung lain. Juvia segera melepaskan kacamata dan topi yang membuat rambut biru panjangnya ia jatuh dengan lembut kebelakang punggungnya.
"Kau tidak berubah ya, tetap saja cantik seperti dulu." Senyum Lyon yang membuat Juvia menatapnya sedikit masam.
"Kau juga, masih tampak menyebalkan seperti dulu." Balas Juvia datar seraya melayangkan pikiran ke masa SMA dulu. Lyon malah tertawa, sepertinya ia paham dengan apa yang baru saja Juvia maksudkan. Yah, apalagi kalau bukan aksi heboh Lyon yang bertengkar gak jelas bersama Gray hanya untuk memperebutkan Juvia. Walau sebenarnya hanya Juvia dan Lyon lah yang menganggapnya berlebihan seperti itu, sementara Gray malah merasa risih dengan tingkah laku dua orang bodoh ini.
"Hahaha, aku jadi rindu." Kata Lyon seraya mengenang. Jelas saja, setahun setelah itu ia harus mengalah karna Gray lah yang berhasil mendapatkan Gadis biru ini.
"Aku juga." Senyum Juvia. "Ah, ya, Lyon, Bagaimana kau bisa mengenaliku?" Tanya Juvia akhirnya. Sejak bertemu tadi hal itu benar-benar telah menjadi buah pikirnya. "Padahal aku sengaja menutupi diri agar tak ada yang mengenaliku." Lanjutnya seraya mencibir kesal.
"Hah? Hahahaha, justru kau membuat dirimu menjadi sangat terlihat!" Timpal Lyon seraya tertawa menggelegar. "Kau tidak sadar menjadi bahan sorotan di depan kampus tadi?" Lanjutnya diselingi tawa, membuat Juvia kontan makin kesal.
"Kau memang menyebalkan!" Timpal Juvia balik. Sementara orang yang didepannya itu terus tertawa.
"Sudah diam. Aku mau makan. Kau membuat kita menjadi sorot perhatian lagi tahu!" Kata Juvia begitu hanya mendapatkan respon tawa dari pria berambut putih itu seraya melirik kanan dan kirinya.
"Ah, maaf." Balas Lyon sembari meredakan tawanya.
"Oh ya, Juvia." Kata Lyon setelah melihat Juvia memasukkan telur gulung ke dalam mulutnya.
"Hmm?"
"A- Aku... turut berduka.. soal ibumu." Kata Lyon sedikit terbata. Ia takut gadis didepannya ini malah mengingat kesedihan dua bulan lalu.
Juvia membelalak. "Kau tahu?"
Lyon mengangguk. "Lisanna yang memberi tahuku. Maaf aku tidak bisa datang. Aku berada di Ishgar saat itu. Tugasku banyak sekali. Sampai aku harus melakukan observasi lapangan disana selama 3 bulan. Dan aku baru saja kembali kesini kemarin siang. Maaf."
Juvia segera menggeleng cepat. Orang didepannya ini benar-benar terlihat merasa bersalah sekarang. "Tidak apa-apa. Kau tak perlu merasa bersalah seperti itu."
"Tapi tetap saja, sejak mendengarnya aku bahkan tak bisa berhenti memikirkanmu." Keluh orang itu. Juvia malah tersenyum. Dia sudah tahu orang didepannya ini akan berkata begitu.
"Kalau kau tahu, berarti Gray-sa.."
"Aku tidak tahu." Sangkal Lyon begitu hendak memasukkan telur gulung kedalam mulutnya seraya menatap Juvia. "Aku berada di Ishgar sejak tiga bulan lalu. Jadi aku sudah lama tidak berhubungan dengan si bodoh itu."
Ah, benar juga. Juvia hanya diam seraya menunduk. Ia membuka kembali sumpitnya dan menatap kosong piring-piring makanan dihadapannya. Hal itu kontan membuat Lyon sedikit merasa aneh. Ia segera menghela napas singkat sembari memasukkan telur gulung itu utuh kedalam mulutnya.
"Kenapa? dia tidak datang?" Tebak Lyon datar.
Juvia tersentak dalam diam. Ia tak menyangka kalau tebakan Lyon akan mendarat telak ke pikirannya.
"Tidak. Bukan begitu." Sangkal Juvia seraya tersenyum lebar. Aku tidak mau membicarakannya. "Ah, sepertinya ayam goreng ini enak." Lanjut Juvia sambil menyumpit dan memasukkan ayam itu kedalam mulut. Ia sengaja melakukan ini untuk mengganti topik pembicaraan. Pasalnya sejak tadi, pembicaraan dan pemikiran mereka selalu berujung dengan lelaki raven itu.
"Kau masih sama saja seperti dulu. Wajah bohongmu itu kelihatan sekali." Timpal Lyon datar.
"Siapa yang bohong?!" Sangkal Juvia lagi.
"Haaah, iya.. iya. Aku mengerti." Lyon menatap gadis itu. Jelas sekali gadis itu menyembunyikan banyak hal darinya, dari melihat raut wajahnya saja bahkan Lyon bisa menduganya.
Padahal dia kelaparan, sampai makan lahap sekali begitu. Tapi, Apa yang membuatnya bisa sampai sekusut ini? Apa yang ada dipikirannya? Batin Lyon sembari memperhatikan wajah gadis dihadapannya.
"Oh ya, kau belum menjawab pertanyaanku di kampus tadi." Kata Lyon disela lahapnya Juvia makan. "Yang mana?" Tanya gadis itu acuh tak acuh dengan makanan yang hampir memenuhi rongga mulut.
"Sedang apa kau disini?" Kata Lyon mengulangi pertanyaannya. "Emm, Liburan?" Tebaknya sembari melirik koper yang berada tak jauh dari kaki gadis itu. "Seorang diri?" Tanyanya tak percaya.
"Ah, tunggu. Apa kau kesini karna... Gray?" Tebak Lyon yang membuat Juvia kontan tersedak. Ia sedikit menepuk atas dadanya dan segera meneguk air.
"Benar ya?" Lyon malah menatap Juvia innocent. Sementara yang didepannya masih merasakan sakit karna tersedak barusan.
"Tentu saja tidak!" Sanggah Juvia lantang. "Aku hanya ingin pindah ke Crocus. Mencari suasana baru. Itu saja!" Jelas Juvia. Kali ini ia menatap mata Lyon sangat lekat.
"Padahal kan wajar kalau kau ingin bertemu dengan si bodoh itu. Dia kan pacarmu." Timpal Lyon seraya kembali menyumpitkan tempura. Mendengarnya, dada Juvia terasa tersengat akan sesuatu.
"Eh tunggu. Kau pindah? Kesini?" Kaget Lyon, malah sekarang Lyon yang tersedak hebat begitu menyadari apa yang baru saja di katakan gadis didepannya. Juvia mengangguk dengan innocent.
"Bagaimana dengan kuliahmu?"
"Aku sudah berhenti sejak dua bulan yang lalu."
"APA?" Pekik Lyon. "Apa yang terjadi?"
"Sudah ku bilang, aku kesini mencari suasana baru." Jawab Juvia datar.
"Bodoh. Bagaimana dengan butik ibumu? Desain mu?"
"Tutup."
"Hah? Kenapa bisa?" Tanya Lyon lagi tak percaya. Ia bahkan sampai berhenti makan dan menatap gadis itu tajam.
"Kenapa kau tanya 'kenapa'? Ibu sudah tidak ada. Ada alasan lain untuk butik itu buka?" Tanya Juvia balik.
"Kau kan cinta mendesain. Itu sudah jadi hidupmu kan?"
Juvia menghela. "Sekarang tidak lagi." Balas Juvia seraya membalas tatapan Lyon. "Dengar! Aku tak mau lagi membahas soal butik, baju, fashion atau apapun soal desain. Aku tak mau lagi balik ke dunia itu. Mengerti?" Lanjut Juvia yang sekarang menatap Lyon tajam.
"Y-Ya, tapi kenapa? Kenapa tiba-tiba?"
"Apa belum jelas?" Tanya Juvia balik. Bahkan manik matanya melekat tajam ke mata pria putih itu.
"K-kau serius?
"Tentu saja. Lalu buat apa aku kesini?!" Timpal Juvia. Lyon masih tak menyangka dengan keputusan gila yang dilakukan Juvia barusan. Bagaimana bisa gadis yang dulu tergila-gila dengan desain menjadi seperti ini sekarang? Lebih tepatnya, Kemana diri Juvia yang dulu?
"A-Apa Gray tahu?" Tanya Lyon. Entah apa yang dirasanya, tapi melihat Juvia yang sekarang, ia jadi sedikit takut untuk melontarkan pertanyaan.
Juvia berhenti menyumpitkan segala macam makanan dihadapannya dan terenyak mendengar pertanyaan barusan.
"Tidak." Jawabnya.
"Jadi kau kesini untuk memberitahunya?" Tanya Lyon seraya mengernyitkan dahi. Setiap kali Lyon mengungkitkan nama Gray, wajah orang didepannya ini berubah drastis. Juvia meletakkan sumpitnya dan menatap Lyon.
"Kau tahu dimana Gray-sama sekarang?" Tanya Juvia balik. Hal itu kontan makin membuat dahi Lyon berkerut heran.
"Kenapa bertanya padaku? Kau kan pacarnya. Seharusnya kau lebih tahu daripada aku." Timpal Lyon.
"Tapi, kau sepupunya!" Timpal Juvia balik.
"Sudah ku bilang, aku sudah lama tidak berhubungan dengannya selama di Ishgar." Balas Lyon kesal. "Kau kan pacarnya, kenapa kau tak tahu dia dimana?!" Lanjut Lyon.
Juvia mengatupkan bibirnya rapat. Sesekali ia terlihat menggigit bibir bawahnya, membukanya dan kemudian mengatupkan kembali dengan rapat. Hal itu semakin membuat Lyon memperhatikan gerak-gerik gadis biru itu dengan sangat. Juvia terlihat sangat sulit untuk berbicara.
"Se.. sebenarnya, a..aku dan Gray-sama sudah lama ti..dak.. ber..hubungan." Kata Juvia terbata.
Ah, benar dugaanku! Batin Lyon. Ia menghela napas kesal. Rasanya ia ingin sekali melayangkan satu pukulan tepat ke wajah sepupunya itu.
"Ka-Kau tahu dia dimana kan?" Pekik Juvia. "Kau sepupunya! Tak mungkin kau tak tahu apa-apa soal dia! Walau sudah tak berhubungan, pasti kau bisa tahu dia dimana sekarang, kan?! Ya kan?! Tolong beritahu aku dia dimana!" Lanjut Juvia.
"O-Oke.. oke.. tenang dulu." Balas Lyon begitu mendapatkan banyak pernyataan dari gadis didepannya. Lyon kembali menghela.
"Aku hanya tahu kalau Gray sudah tidak ada.."
"Gray-sama sudah meninggal?" Pekik Juvia memotong perkataan Lyon. Ia tampak benar-benar tak menyangka. Bahkan matanya sudah mebelalak sangat lebar.
"Bukan! Bukan!" Sangkal Lyon cepat. "Haaah, bagaimana kau bisa berpikiran seperti itu?" Kesal Lyon.
"Kau bilang Gray-sama sudah tidak ada." Jawab Juvia murung. Matanya sudah terlihat berkaca-kaca sekarang.
"Makanya dengarkan aku dulu!" Timpal Lyon. Dia sungguh tak tahan jika sampai melihat gadis itu menangis. Juvia mengangguk dengan cepat, menyeka kelopak matanya dan menatap Lyon.
"Gray tidak ada di Crocus. Hanya itu yang aku tahu." Kata Lyon yang kontan membuat Juvia membelalak. "Aku juga tak tahu dia dimana. Dan aku rasa kau juga sudah tahu soal itu, kan?" Jelas Lyon.
Juvia menggeleng.
"Kau tidak tahu?" Pekik Lyon dahsyat. "Tunggu, sebenarnya sudah berapa lama kau tidak berhubungan dengan si Bodoh itu, hah?" Tanya Lyon seraya meninggikan suaranya, yang lagi-lagi membuat mereka menjadi sorotan pengunjung dan pelayan di restauran ini.
"Kau tahu, itu informasi yang kudapat sekitar lima bulan yang lalu sebelum aku pergi ke Ishgar!" Jelas Lyon. Juvia makin membelalak. Perkataan Lyon serasa menghujam dadanya. Terasa sesak untuk mempercayai apa yang baru saja dilontarkan pria berambut putih ini. Kenapa aku merasa sudah tak ada harapan lagi dengan hubungan kita, Gray-sama?
Juvia menggeleng, bahkan dia tak mau menghitung sudah berapa lama Gray menghilang.
"Jadi kalian sudah putus?" Tanya Lyon tak percaya. Juvia mengedik bahu membuat orang didepannya menghela napas kesal.
"Si Bodoh itu..." Geramnya.
"Ta..tapi Lyon, Apa kau benar-benar tak tahu dia dimana? Kau tidak bohong kan?" Tanya Juvia berusaha menyangkal rasa tak percayanya.
"Tidak. Aku memang tidak tahu dia dimana." Balas Lyon.
"Ta..tapi, Kau pasti bohong! Tidak mungkin kau tidak tahu! Kau sepupunya dan kau juga satu universitas dengannya!" Bantah Juvia. Kali ini dia benar-benar menepis rasa percayanya terhadap Lyon. Mungkin saja, dia mau menghancurkan hubungan ku dengan Gray-sama. Pikir Juvia.
"Haaah, harus berapa kali aku memberitahumu! Aku di Ishgar tiga bulan ini. Dan aku tak tahu apapun soal si Bodoh itu. Dan juga, kau tahu kan, UC (Universitas Crocus) itu luas? Orang yang berbeda fakultas mana mungkin bisa sering bertemu. Dia punya kesibukan sendiri. Aku juga begitu!" Jelas Lyon sembari menaikkan nada suaranya.
"Jadi darimana kau tahu dia tidak ada di Crocus?!"
"Aku bertemu dengan Natsu lima bulan lalu! Dia bilang Gray cuti kuliah dan pergi entah kemana! Kau Puas?!"
Kali ini Juvia menghela napas. Begitu juga dengan Lyon. Mereka tak sadar sudah berteriak-teriak tak menentu ditempat umum seperti ini.
"Juvia." Panggil Lyon. Kali ini nada suaranya sudah kembali normal. "Jangan bilang kau kesini hanya untuk mencari si bodoh itu?!" Tebak Lyon. Juvia tak menjawab dan hanya merunduk dalam diam.
Lyon menghempas hela napasnya. "Kau berhenti kuliah, Berhenti mendesain, Menutup butik hanya untuk mencari si bodoh itu?!" Kesal Lyon. Ia benar-benar tak habis pikir melihat gadis biru ini.
"Bukan begitu!"
"Jadi apa?!" Bentak Lyon keras yang lagi-lagi membuat orang sekitar menatap tajam mereka. "Jadi untuk apa kau buang-buang waktumu kesini kalau bukan karna Gray? Kau itu bodoh sekali!" Kesal Lyon. Pantas saja ada yang aneh dengannya sejak bertemu di kampus tadi.
"Ini bukan urusanmu!" Bantah Juvia. Ia menatap Lyon dengan sangat tajam.
"Tentu saja ini urusanku! Kau itu temanku dan dia itu sepupuku!" Timpal Lyon. "Dengar Juvia, apa yang akan kau lakukan sekarang? Kau sudah tahu dia tidak ada di Crocus. Lalu buat apa lagi kau disini?" Seru Lyon yang berhasil menusuk langsung hati Juvia. "Menunggunya?" lanjut Lyon. "Bahkan kita tak tahu kapan Gray akan kembali. Dan jika Gray sudah kembali nanti, apa yang akan kau lakukan kalau dia sudah melupakanmu dan sudah punya..."
"pacar baru, maksudmu?" Potong Juvia. Ia benar-benar kesal mendengar semua celotehan dari mulut Lyon yang berhasil merobek relung hantinya.
Lyon mengangguk dan hanya memandangi wajah Juvia. Kusut sekali wajahnya.
"Aku punya banyak pertanyaan untuknya. Dan aku hanya ingin mendengar jawabannya. Itu saja." Jelas Juvia setelah menghela napas.
"Tapi tetap saja kau akan terluka. Buat apa, ha? Kau menyia-nyiakan waktumu!" bantah Lyon.
"Terus aku harus apa? Merelakannya begitu saja, tanpa tahu dia kemana?" Kesal Juvia.
"Aku yang akan mencarikannya untukmu. Jadi..."
"Jadi?" Tanya Juvia seraya menaikkan sebelah alisnya. "Kau mau menyuruhku pulang? Melanjutkan kuliah dan Butik Ibu?" Tebak Juvia yang langsung mendarat telak ke pikiran Lyon.
"Tidak! Aku akan tetap menunggunya disini!"
"Sudah ku bilang, kau menyia-nyia kan waktumu disini! Biar aku yang mencarinya!"
"Lalu apa?!" Kesal Juvia. "Kau bahkan tak tahu apa yang ingin aku tanyakan padanya!"
"Aku tak perlu berkata apapun padanya. Aku hanya perlu mencarinya dan membawanya pulang! Jika perlu akan kuseret dia dan memaksanya menemuimu!" Pekik Lyon.
"Cukup! Terserah kau mau bilang apa! Aku akan tetap disini walau harus menunggunya bertahun-tahun! Dan Aku tak akan pergi sampai mendapatkan jawaban darinya!" Seru Juvia.
"Aaaargh, kau ini keras kepala sekali!" Lyon menatap tajam mata Juvia yang bahkan lebih tajam dari miliknya.
"..."
"Baiklah. Baiklah.. sekarang kau mau apa?" hela Lyon.
"Aku akan mencari apartemen yang cukup murah, dan juga mencari pekerjaan."
"Kau kira mudah mencari apartemen murah dan layak huni di kota besar seperti ini? Apalagi pekerjaan. Bahkan orang yang memang tinggal disini saja kesulitan mencari pekerjaan! Haaah, Juviaa..."
"Apa? Kau mau menyuruhku pulang lagi?"
"Bukan. Hanya saja aku tak habis pikir melihatmu seperti ini."
"Siapa yang menyuruhmu memikirkanku? Ini sudah menjadi keputusanku. Kau tak perlu memikirkanku! Sudah ku bilang ini urusanku!"
"Argh, kau itu temanku! Mana mungkin kau kubiarkan begitu saja!" Juvia terdiam. Ia tak tahu lagi harus membalas perkataan Lyon seperti apa.
"Begini saja, aku akan membantumu mencari apartemen dan pekerjaan. Bagaimana?"
"Tidak perlu. Aku tak mau merepotkan siapapun lagi! Aku bisa mencarinya sendiri!"
"Bukan masalah bisa atau tidak. Kau itu orang baru disini. Bahkan kau tak tahu apapun soal Crocus. Bagaimana jika terjadi sesuatu padamu?!"
"Aku punya maps. Jadi kau tenang saja!" Lyon kontan menepuk sedikit kepala Juvia. Jujur saja, dia sudah tak tahan lagi mendengar lontaran egois dari mulut gadis biru didepannya.
"Dengar! Kau itu perempuan. Apa yang akan kau lakukan jika sampai malam nanti kau tidak menemukan apartemen? Mencari penginapan? Oh ayolah, kalau sejak awal kau memang berniat mencari penginapan sementara, kau tak perlu menyeret-nyeret koper itu!" Kesal Lyon.
"Aku pasti menemukannya. Kau tak perlu mengkhawatirkanku!"
"Tentu saja aku mengkhawatirkanmu! Pokoknya aku akan membantumu. Kau tidak punya pilihan lain selain menjawab Ya, jika tidak, aku akan menyeretmu pulang sekarang juga!" Jelas Lyon sembari menatap Juvia lekat. Juvia mendecak kesal. Pasalnya orang dihadapannya itu benar-benar telihat serius sekarang.
"Baik.. Baik.., aku mengerti. Kau boleh membantuku. Tapi tidak dalam dana, belas kasihan atau apapun. Hanya membantuku mencari pekerjaan dan apartemen." Tegas Juvia.
Lyon menghela napas, sejujurnya ia mau menolak hal yang baru saja disampaikan Juvia. Tapi begitu menatap dalam mata Juvia, ia menyadari hanya ini kesempatan untuknya membantu si gadis biru itu.
"Setuju?" Seru Juvia seraya menyodorkan tangannya.
Lyon menatap tangan Juvia sedikit kesal, kemudian ia balik menatap mata Juvia dan membalas jabatan tangan dari gadis biru itu.
"Hmm, Ya, aku setuju."
Juvia tersenyum tipis begitu melepaskan tangannya barusan. Dan kembali menatap makanan didepannya.
"Tapi, untuk malam ini, kau tidur di tempatku dulu. Besok saja kita mulai menca.."
"Sudah kubilang, aku tak butuh belas kasihan seperti itu!" Kesal Juvia.
"Hanya malam ini, mengerti!? Kau pasti lelah setelah perjalanan kemari. Apa kau masih sanggup berjalan mencari apartemen lagi, ha? Kau saja sekarang kelaparan kan?!"
"Tapi aku..."
"Oh, kau mau kuseret pulang sekarang?" Timpal Lyon seraya mengernyitkan dahi.
"Haaah, iya..iya aku mengerti!" Kesal Juvia.
"Baguslah." Kata Lyon sedikit tersenyum lucu, sepertinya ancaman barusan benar-benar berjalan lancar. "Sekarang habiskan dulu makananmu. Setelah itu kita ketempatku." Lanjut Lyon yang hanya mendapatkan anggukan singkat dari Juvia.
Sementara itu di kediaman Scarlet.
"Aku pulang." Seru Erza begitu membuka pintu dan menyampakkan sepatu tepat ke rak diujung sana.
"Loh, Erza? Gak jadi ke Crocus?" Tanya Ibu seraya mengintip dari balik tembok ruang tamu, ia sudah tak tampak khawatir seperti pagi tadi dan sudah kembali bersemangat memegang penyedot debu ditangannya.
"Hmm.. Jalur keretanya rusak." Jawab Erza ketus. Ia tak menghampiri ibunya dan berjalan cepat menuju tangga didepannya.
"Oh ya, tadi Juvia sudah menelepon kerumah." Kata Ibu sembari tersenyum menatap karpet didepannya. Erza kontan tersentak. "APA?" Ia kembali menuruni anak tangga itu dan menatap sang ibu dengan lekat dari ujung tangga.
"Hmm.." Angguk ibunya. "Katanya dia sudah mendapatkan apartemen dan sekarang sedang mencari pekerjaan." Jelas ibunya.
Ah, si Bodoh itu pasti membohongi Ibu. Batin Erza.
"Ibu sih masih khawatir. Tapi sudah sedikit tenang mendengarnya berkata seperti itu. Apalagi akan makin tenang jika kau juga sudah mencarinya kesana dan sedikit memberinya salam sayang dari Ibu." Sindir ibu seraya tersenyum.
"Aku akan kesana besok dengan Jellal. Ibu tenang saja. Dan aku juga sudah berencana memberikan pukulan cinta padanya." Balas Erza seraya mengepalkan tangannya.
"Kau sepertinya sudah tidak khawatir lagi."
"Hmm." Angguk Erza seraya menatap lantai dua. "Aku sudah menyuruh seseorang mencarinya." Lanjutnya begitu mulai meniti anak tangga lagi.
"Eh, Siapa?" Tanya Ibu sembari menolehkan kepala ke putrinya yang sekarang sudah menghilang dari balik tangga itu.
-to be continued-
Terima kasih telah membaca fic ku sampai chapter ini.
Maaf kalau ceritanya terlalu Gaje, OOC, dan Typo berlebihan.. hehe
Jangan lupa tinggalkan Review ya.
Happy Reading Minna-san
Dont be a silent reader
Sampai jumpa di Chapter berikutnya~
