Koko Ni Iru Yo!

Chapter 2

Tak terasa pagi sudah menjelang. Sinar mentari menyelinap masuk ke dalam sebuah kamar dimana seorang gadis masih terlelap namun tidak lama kemudian ia mengerjapkan matanya untuk membiasakan dengan cahaya yang menerpanya. Perlahan ia bangun dan melihat sekelilingnya. Ini bukan kamarnya. Ingatan Gou kembali pada kejadian kemarin yang menyebabkan ia berada di rumah senpainya, Haruka Nanase.

Setelah merapikan tempat tidur, Gou mengikat rambutnya kemudian keluar dari kamar. Sebelum melangkah ke kamar mandi, ia memperhatikan pintu di depannya, pintu kamar Haru. Apa pemuda itu sudah bangun? Tak mau berlama-lama, ia segera menuju kamar mandi untuk cuci muka lalu ia menuju dapur. Saat tiba di dapur, matanya menangkap sosok seorang pemuda yang hanya memakai celana renang hitam dengan aksen garis ungu dan handuk putih menggantung di lehernya.

Haru menghadap kulkas dan membelakangi Gou. Ia baru selesai mandi sebelum berada di dapur. Seperti kebiasaannya sejak dulu, ia segera mengeluarkan bahan makanan dari kulkas untuk kemudian memasaknya. Tinggal sendiri selama beberapa tahun telah membentuknya menjadi pribadi yang mandiri.

"Kau sudah bangun?" Gou tersentak mendapat pertanyaan Haru secara tiba-tiba. Pemuda itu bahkan berbalik untuk menyampirkan handuknya pada kursi di belakangnya dan menampakkan tubuh bagian atasnya yang masih sedikit basah. Sangat sexy menurut Gou.

"I-iya... Ohayou Haru-kun." Gou tersenyum manis dengan wajah memerah.

"Hn." Gumam Haru tidak jelas sambil memakai apron biru kesayangannya lalu kembali berkutat dengan bahan makanan dan dengan ahli ia meraciknya menjadi makanan untuk sarapan.

"Kau memasak apa?" Gou mendekati Haru dan menerka-nerka apa yang akan dibuat oleh maniak makarel itu. Benar saja, di depan Haru ada 3 ikan makarel yang masih segar.

"Hanya makarel saus pasta." Jawab Haru.

"Ada yang bisa aku lakukan?" Gou melipat lengan bajunya sampai siku dan sudah bersiap dengan pisau di tangannya.

"Kau potong sayuran ini saja." Haru beralih pada ikan makarel yang sudah siap digoreng. Haru menggoreng ikan dan Gou memotong sayuran yang akan dicampur dengan saus pasta. Kelihatannya mereka akan makan enak pagi ini.

Selesai menggoreng ikan, Haru menumis bawang bombai dan kawan kawannya kemudian memasukkan saus pasta. Setelah cukup merata, ia memasukkan ikan makarelnya dan tinggal menunggu sebentar untuk matang. Gou hanya memperhatikan cara Haru memasak yang ternyata cukup hebat. Dengan gesit tangannya memasukkan bumbu, dan mengaduknya. Apalagi dengan penampilan Haru saat ini yang hanya memakai celana prenang dengan apron biru yang menutupi dadanya yang bidang. Gou menelan ludahnya. Betapa sangat menggodanya kakak kelas ini.

"Sudah selesai. Rapikan ini, aku mau memakai seragam." Haru mengambil handuknya lalu berjalan menuju kamarnya. Sepeninggal Haru, Gou masih berdiri mencerna kalimat yang dilontarkan oleh Haru. Ia mengedipkan mata 2 kali dan menoleh pada teflon yang berada di atas kompor.

"Ah! Sudah matang." Ia segera mengambil mangkuk besar untuk menyajikan masakan Haru kemudian meletakkannya di atas meja. Ia juga menata peralatan makan di sana.

"Gou-chan.. Ohayou." Sapaan yang berasal dari belakangnya cukup mengagetkan gadis itu. Ia menoleh dan cukup terkejut dengan kemunculan kakak kelasnya yang lain, teman dekat Haru dan juga merupakan ketua klub renang di sekolahnya, Makoto Tachibana.

"Senpai!" Pekik Gou menampakkan keterkejutannya. Makoto hanya tersenyum tenang seperti biasanya.

"Hmm.. Seperti biasa, masakan Haru terlihat lezat." Komentar Makoto sambil mengambil sendok untuk mencicipi makarel masakan Haru. Ia menoleh kepada Gou dan kembali tersenyum. "Jangan menatapku seperti itu. Oh ya, semalam Haru menceritakan semuanya. Aku turut prihatin Gou."

"Eh? Ah.. I-iya senpai. Terima kasih." Gou mencoba tersenyum.

"Untuk sementara kau tinggal saja disini. Lagipula sebentar lagi libur musim panas dan aku harap masalahmu sudah selesai sebelum libur musim panas berakhir. Kau tau kan maksudku? Agar semua berjalan seperti biasanya."

"Iya senpai, aku mengerti."

"Ah satu lagi, selama kau tinggal disini, jangan bosan dengan ikan makarel karena aku yakin Haru hanya akan memberimu makan ikan itu hahaha..." Makoto memberikan perhatian seperti seorang kakak yang baik.

"Makoto.." sapaan Haru membuat kedua orang yang tengah bercakap-cakap itu menoleh ke arahnya.

"Yo Haru-chan." Makoto kembali tersenyum pada Haru yang saat ini sudah memakai seragam dan membawa tas sekolahnya.

"Jangan panggil aku -chan." Haru berjalan mendekati meja makan dan duduk di salah satu kursi. "Ayo makan Kou."

"Ah.. iya. Ano, senpai juga-"

"Tidak. Kalian makan saja. Aku sudah sarapan." Sela Makoto. Kemudian ia menuju kulkas dan mengambil jus kaleng yang selalu ada di kulkas Haru. Makoto ikut duduk bersama Haru dan Gou dan memperhatikan mereka yang tengah menyantap sarapan. Ditatapnya Haru dan Gou secara bergantian. Kedua orang yang duduk berhadapan itu hanya diam.

"Oh ya.. Aku hampir lupa. Gou, aku membawakan pakaian untukmu. Tidak mungkin kan kau terus-terusan memakai pakaian Haru." Ujar Makoto sambil menunjuk tas berukuram sedang yang ia letakkan di dekat pintu masuk dapur.

"Ah, arigatou senpai. Itu sangat membantu."

"Ya tidak masalah... Apa Haru memperlakukanmu dengan baik?" Tanya Makoto.

"Aa... Itu, i-iya begitulah." Jawab Gou gugup. Mungkin ia mengingat 'insiden' kemarin malam. Lihat saja wajahnya yang memerah.

"Kenapa kau terlihat meragukan? Haru! Kau apakan dia?" Makoto ganti menanyai Haru. Pemuda bermata shappire yang menjadi incaran pertanyaan Makoto itu hanya melirik sekilas lalu kembali melanjutkan makannya. Tidak peduli.

"Moou.. Gou, sebaiknya kau tinggal saja di rumahku. Bagaimana?" Makoto menatap Gou yang hampir tersedak makanan.

Praaak! Haru meletakkan sumpitnya kasar. "Gochosamadeshita" ucap Haru datar.

"Ahaha... Kau kenapa Haru? Seharusnya kau bilang saja kalau tidak ingin Gou-chan tinggal di rumahku. Hahaha aku hanya bercanda." Makoto tertawa melihat tingkah sahabatnya yang langka begitu. Haru memang memiliki caranya sendiri untuk menunjukkan perasaannya.

"Ayo berangkat Makoto." Haru beranjak dari duduknya mengalihkan pembicaraan. Makoto tersenyum. "Kou bereskan ini."

"Ha'i."

"Kau lihat kan Gou. Kalau tidak dipancing, Haru tidak akan bertindak. Jadi berjuanglah." Kata Makoto pada Gou saat Haru sudah keluar dari ruang makan.

"A-apa sih maksud senpai?" Gou memalingkan wajahnya yang memerah.

"Makoto!" Seru Haru dari depan pintu.

"Kau tau maksudku. Ya sudah, kami berangkat dulu." Makoto meninggalkan Gou untuk segera menyusul Haru. Seperti kebiasaan Gou di rumah, ia selalu mengantar kepergian anggota keluarganya sampai depan rumah untuk mengatakan 'iterasai' sambil melambaikan tangan jadi gadis itu juga mengikuti Makoto.

Di depan sudah ada Haru yang menunggu sambil memakai dasi sekolahnya.

"Sini aku bantu." Tanpa persetujuan Haru, Gou sudah mengambil alih dasi pemuda itu dan memakaikannya.

"Kenapa lama sekali?" Tanya Haru pada Makoto.

"Gomen gomen.. Aku hanya memberi sedikit nasihat untuk Gou-chan kok."

"Makoto-senpai!" Seru Gou.

"Hai hai."

"Sudah selesai." Kata Gou sambil tersenyum manis pada Haru.

"Hn." balas Haru. "Nanti aku akan langsung pulang setelah jam terakhir selesai. Jaa.." Haru berbalik dan meninggalkan rumah dengan Makoto di belakangnya.

"Hei Haru.." panggil Makoto sambil mensejajarkan dirinya dengan Haru. "Bukankah Gou istri yang baik?"

"Ya. Rin akan sangat beruntung menikahinya." Jawab Haru datar.

"Bukan Rin, tapi kau."

Deg! Haru menghentikan langkahnya.

"Kau kenapa?" Tanya Makoto.

"Hn." Haru mengabaikan pertanyaan Makoto dan kembali berjalan. "Itu tidak mungkin."

"Apanya? Sudahlah Haru, jangan bohongi dirimu sendiri. Raihlah kebahagiaanmu bersama Gou. Aku yakin dia mencintaimu. Sama seperti kau mencintainya. Aku benar kan?"

Haru tidak lagi membalas perkataaan Makoto. Ia lebih memilih diam dan berpikir. Makoto tidak sepenuhnya salah, bahkan sebagian besar yang dikatakannya itu benar. Haru juga merasakan hal itu. Hanya saja masalah ini terlalu rumit baginya. Saat ia membayangkan Gou bersama Rin, dadanya merasa sesak. Apa itu sudah menunjukkan kalau ia mencintai Gou? Lalu kenapa ia masih merasa gelisah?

"Orang pertama yang Gou cari adalah dirimu, Haru. Ingat itu. Itu menunjukkan bahwa ia mempercayaimu untuk menjaganya. Selama ini juga aku selalu memperhatikannya. Hal-hal yang dia lakukan untukmu, segala perhatiannya itu untukmu. Sadarlah Haru. Jangan menyiksa dirimu."

"Lalu aku harus bagaimana? Menemui Rin dan keluarganya untuk membatalkan perjodohan itu?"

"Memang itu yang harus kau lakukan."

"Kau gila." Haru menggeram.

"Ya ya terserah kau saja. Tapi paling tidak bicaralah pada Rin. Tanyakan pendapatnya tentang perjodohan ini. Aku yakin ia memiliki pendapat yang sama dengan Gou. Tidak mungkin ia menikahi adiknya sendiri kan?"

Lagi-lagi perkataan Makoto membuat Haru menghentikan langkahnya seakan ia baru saja menyadari sesuatu yang sangat penting. Selama ini Rin dan Gou tumbuh sebagai kakak beradik. Jadi mana mungkin Rin menikahi adiknya? Makoto benar. Ia harus mencari tahu pendapat Rin. Jika Rin juga tidak menginginkan perjodohan ini, maka ia bersama Gou bisa membatalkannya dan masalah selesai.

"Kau benar, Makoto. Tapi untuk sekarang biarkan Kou aman di rumahku. Jangan beritahu siapapun tentang hal ini."

"Baiklah."

Mereka berjalan dalam diam sampai tiba di sekolah.

"Tunggu, Haru." Makoto menarik lengan kiri Haru memintanya berhenti berjalan. Saat ini mereka sudah dekat dengan sekolah.

"Hn?"

"Bukankah itu Rin?" Makoto menunjuk sosok pemuda berambut magenta yang berdiri di depan gerbang.

Rin mengenakan seragam Samezuka dan selang benerapa waktu, ia akan melihat jam tangannya. Jelas sekali ia sedang menunggu seseorang. Apa ia menunggu Gou? Haru melangkahkan kakinya mendekati pemuda bergigi tajam itu tanpa mempedulikan Makoto yang menepuk jidatnya.

"Mou, Haru.. Tunggu!" Makoto segera menyusul Haru.

"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Haru mengagetkan Rin.

"Ah, Haru, Makoto.. Selamat pagi." Sapa Rin. "Aku menunggu Gou."

"Kou?"

"Ya. Nagisa sedang mencarinya ke kelas. Mungkin dia sudah datang." Kata Rin. Namun tampak sekali bahwa ia tidak yakin. Haru memperhatikan Rin lekat-lekat. Siapa tau ia bisa membaca apa yang dipikirkan teman sekaligus rivalnya itu. Rin tampak lelah. Lihat saja matanya yang berkantung itu dan rambutnya yang acak-acakan.

"Rin-chan!" Nagisa berlari dari gedung sekolah. "Gou-chan tidak ada di kelas dan aku juga sudah mencarinya ke ruang klub tapi tidak ada. Sepertinya Gou-chan belum datang. Tidak seperti biasanya dia datang siang." Kata Nagisa. "Ah Haru-chan, Mako-chan.. Ohayou~"

"Ohayou, Nagisa." Balas Makoto sambil tersenyum seperti biasa sedangkan Haru hanya menatapnya dan mengangguk.

"Nee nee Haru-chan, kau tau dimana Gou-chan?" Nagisa mendekatkan wajahnya pada Haru.

"Kenapa bertanya padaku? Dan jangan panggil aku -chan." balas Haru dengan wajah datar.

"Kau kan pacarnya."

"Apa?!" seru Rin terkejut.

"Jangan berteriak tepat di telingaku Rin." Kata Makoto yang memang berdiri di dekat Rin sambil mengusap telinga kanannya.

"Maaf Makoto. Aku hanya terkejut. Haru! Benar kau mengencani adikku?" Rin mencengkram kerah seragam Haru.

"Lepas!" Haru menatap Rin.

Apa yang harus Haru katakan? Bisa saja dia jujur dan mengatakan bahwa ia dan Gou tidak berkencan tapi bagaimana jika jawaban itu justru membuat Gou semakin jauh darinya? Maksudnya, bagaimana jika dengan jawaban itu justru membuat masalah ini tidak selesai? Bagaimana jika Gou terus dipaksa untuk dijodohkan dengan alasan dia tidak punya pacar? Oke, sepertinya ia harus berbohong kali ini.

"Jawab aku!"

"Ya. Kami berpacaran." Jawab Haru setenang mungkin agar kebohongannya tidak terbongkar.

"APAAA?!" Jika tadi yang berteriak Rin, maka sekarang yang berteriak adalah Nagisa dan Makoto.

"Yang benar Haru-chan? Padahal tadi kan aku hanya bercanda." Ujar Nagisa.

"Aha.. haa.. haa.. Jadi begitu ya? Pantas saja. Cih! Kakak macam apa aku ini." Rin menundukkan kepalanya dan tangannya masih mencengkram kerah seragam Haru.

"Apa maksudmu?"

"Kita harus bicara! Sekarang!" Tegas Rin.

"Sebentar lagi bel-"

"Kita bicara di waterpark!"

"Ayo pergi, Rin." Haru langsung menyeret Rin menjauhi sekolah meninggalkan Nagisa dan Makoto yang sweatdrop disana. Yang ada di pikiran Haru saat ini hanya air dan ia bisa meluruskan masalah ini. Sekali dayung, dua pulau terlampaui.

"Dasar Haru." Makoto memijit pelipisnya tidak habis pikir tentang sahabatnya itu. Bisa-bisanya melupakan semuanya hanya karena mendengar hal yang berkaitan dengan air.

"Aku tidak percaya ini. Mako-chan! Apa yang harus kita lakukan?" Nagisa mengguncang tubuh Makoto.

"Hentikan Nagisa. Apa maksudmu?"

"Maksudku Haru-chan dan Gou-chan. Mereka berpacaran!" Seru Nagisa histeris.

"Ah ituu... Sudahlah. Ayo masuk." Makoto menarik Nagisa memasuki area sekolah.

(^ω^)(^ω^)(^ω^)(^ω^)

T.B.C

Makasih udah baca sampai tbc… Sampai jumpa~

Salam,

Voza Valliere