.
.
.
Disclaimer : Detective Conan milik Aoyama Gosho
Warning : OOC, alur gak jelas, bahasa campur aduk dan segala kekurangan lainnya
Catatan : Chapter ini adalah flashback masa lalu Amuro. Di sini saya membulatkan jarak umur antara Akemi dan Shiho menjadi 10 tahun.
Menurut sebagian orang masa anak-anak merupakan masa yang paling menyenangkan dan dipenuhi oleh suka cita serta kebersamaan di dalam keluarga. Namun, sepertinya anggapan itu tidak berlaku untuk Amuro. Masa anak-anak yang dialami Amuro mungkin bisa dibilang cukup memprihatinkan. Bagaimana tidak, bila pada umumnya anak-anak mendapat perhatian dan kasih sayang dari kedua orang tuanya, hal-hal sederhana seperti itu tidak bisa didapat oleh Amuro.
Ia terlahir dari kalangan orang tua yang pekerja keras dan sibuk. Kedua orang tua Amuro sering bekerja hingga larut malam bahkan kadang-kadang tidak pulang ke rumah hingga beberapa hari karena ada tugas dinas ke luar kota. Akibatnya, Amuro kecil terpaksa hidup dalam asuhan orang tua pasif. Hidup dalam lingkungan keluarga seperti itu membuat Amuro tumbuh menjadi anak yang penyendiri, sulit untuk bersosialisasi, dan bandel. Bahkan tak jarang ia membuat masalah dengan teman-temannya di sekolah yang berakhir dengan luka di sekujur tubuhnya. Kejadian seperti itu terus berulang sampai Amuro menduduki bangku SMP.
~OOO~
Hingga akhirnya hari yang tak terduga itu pun datang. Ketika Amuro sedang pulang sekolah, ia tak sengaja melihat seorang gadis yang sedang diganggu oleh sekumpulan anak laki-laki di gang sempit dekat rumahnya.
"Ayo cepat, serahkan uangmu!" bentak anak laki-laki yang menahan tangan dari gadis itu.
"Lepaskan aku, aku tidak punya uang," jawab si gadis yang masih berusaha melarikan diri dari gerombolan itu.
"Keras kepala juga anak ini. Bagusnya kita apain bos?" Tanya salah satu anak laki-laki kepada anak berbadan besar yang sepertinya ketua dari geng itu.
"HOI, CEPAT LEPASKAN DIA!" Seruan tersebut berhasil membuat semua orang yang ada di situ menoleh ke arah sumber suara dan mendapati Amuro yang tengah berdiri dan memandang mereka dengan tatapan penuh amarah.
"Siapa kau, berani-beraninya mengganggu acara senang-senang kami ?" Bos dari kelompok itu mulai bicara.
"Siapa aku itu tidak penting. Yang penting cepat lepaskan dia," jawab Amuro.
"O rupanya ada yang ingin jadi jagoan disini. Baiklah, cepat habisi dia!" perintah ketua geng tersebut kepada para anak buahnya yang berjumlah 4 orang.
Dalam waktu singkat, Amuro sudah dikepung oleh 4 orang dari arah yang berlainan. Melihat hal itu, ia segera menyiapkan kuda-kuda untuk bertarung. Perkelahian pun tak terelakkan. Walaupun kalah jumlah, namun karena pengalamannya dalam berkelahi, Amuro dapat mengalahkan keempat orang tersebut dengan mudah. Melihat kejadian itu, bos dari geng itu ketakutan dan segera kabur dari tempat itu dan diikuti oleh para anak buahnya.
Amuro berjalan mendekat ke arah sang gadis, yang masih berdiri mematung di tempat.
"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Amuro kepada gadis itu.
"Aku baik-baik saja, terima kasih banyak ya. Umm,…" Gadis tersebut sengaja menggantung ucapannya agar bisa mengetahui nama dari Amuro atau lebih tepatnya Rei Furuya.
"Rei, namaku Rei Furuya," jawab Amuro seolah-olah mengerti apa yang dipikirkan oleh gadis itu.
"Terima kasih ya Rei, aku berhutang budi padamu." Ucap si gadis disertai senyuman yang menurut Amuro sangat indah.
"Ya sama-sama," Hanya itu yang dapat diucapkan Amuro karena ia tidak tahu harus mengucapkan apa. Ini pertama kalinya Amuro berbicara akrab dengan orang asing yang belum dikenalnya. Suasana di tempat itu mendadak menjadi hening sejenak.
"Hei Rei, apa kamu mau makan siang di rumahku? Hitung-hitung sebagai ucapan terima kasihku karena kamu telah menolongku tadi." Ajakan dari gadis itu memecah keheningan yang sempat tercipta di antara mereka berdua.
Amuro tampak berpikir sejenak, 'Hmm, apa aku terima saja ya. Tapi bagaimana kalau dia berniat jahat kepadaku. Ah itu tidak mungkin, dia sepertinya anak baik. Lagipula kalau aku pulang sekarang paling orang tuaku belum pulang dan aku hanya tidur-tiduran di rumah," batin Amuro.
"Baiklah aku mau," ucap Amuro mengiyakan tawaran dari gadis itu.
"Yei, baguslah. Ayo sekarang kita ke rumahku," gadis tersebut langsung berjalan ke rumahnya dan diikuti Amuro yang berjalan di sampingnya. Sepanjang perjalanan mereka hanya diam. Gadis itu tiba-tiba berhenti, sehingga otomatis Amuro yang berjalan di sampingnya juga ikut-ikutan berhenti.
"Ada apa?" tanya Amuro heran kepada gadis itu karena ia berhenti tiba-tiba.
"Oh maaf, aku baru ingat. Aku belum memperkenalkan diri, namaku Akemi Miyano. Salam kenal," Akemi mengulurkan tangan untuk bersalaman yang langsung disambut oleh Amuro. Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah Akemi.
~OOO~
"Aku pulang," Akemi langsung masuk ke dalam rumahnya sedangkan Amuro masih berdiri di depan pintu.
"Selamat datang," Dari dalam rumah datanglah seorang wanita berumur tiga puluh tahunan menyambut kedatangan Akemi.
"Akemi bawa teman baru nih Bu. Rei masuklah, tidak usah malu-malu." Setelah dipersilahkan masuk barulah Amuro mau masuk ke dalam rumah.
"Kenalin Bu, ini Rei Furuya. Dia tadi yang sudah menolongku dari gerombolan berandalan yang mau mengambil uangku." Kata Akemi.
"Oh benarkah ? Terima kasih ya Rei sudah menolong Akemi. Perkenalkan saya ibunya Akemi, panggil saja Elena." Ucap Elena memperkenalkan diri.
"Tidak masalah Tante Elena. Saya ikhlas kok menolong Akemi." Amuro menyahut ucapan Elena dengan sedikit tidak enak hati karena sejak tadi dia selalu mendapat ucapan terima kasih dari Akemi maupun Elena. Wajar saja Amuro bersikap seperti itu, karena ia jarang mendapatkan ucapan terima kasih dari orang lain.
'Apa memang seperti ini ya sifat dari keluarga Miyano' pikir Amuro.
"Karena ini sudah waktunya makan siang, mari kita makan bersama. Apa kamu mau makan siang bersama kami, Rei?" Tawar Elena.
"Tentu saja mau, tante" jawab Amuro dengan semangat. Setelah itu mereka makan siang dengan suasana kekeluargaan yang begitu terasa.
Merasakan hal itu Amuro membatin, 'Ternyata seperti ini ya rasanya memiliki keluarga'.
~OOO~
Semenjak hari itu, hari-hari Amuro terasa lebih berwarna. Ia menjadi sering bermain bersama dengan Akemi dan mampir ke rumahnya. Tidak ada lagi rasa kesepian dalam hatinya. Elena menambah kebahagiaan yang dimiliki Amuro. Sikap ramah dan peduli yang ditunjukkan Elena kepada Amuro menjadi seperti pengganti rasa kasih sayang dari ibunya sendiri yang jarang didapatkannya. Amuro menjadi akrab dengan keluarga Miyano. Hal itu juga yang membuat Amuro menyadari ada sesuatu yang salah dari keluarga Miyano. Rasa penasaran yang tinggi membuat Amuro memberanikan diri bertanya kepada Akemi ketika mereka sedang bermain di Taman Haido.
"Hei Akemi, aku ingin bertanya sesuatu," Ucap Amuro.
Akemi menoleh kepada Amuro dan menjawab, "Tanya apa?"
"Err.. itu. Sebenarnya apa sih pekerjaan Ayahmu, kok aku tidak pernah melihatnya ketika main ke rumahmu ? Selain itu aku sering melihat orang-orang berjas hitam datang ke rumahmu. Mereka itu siapa?" Amuro merasa ragu dan tidak enak sendiri ketika melihat ekspresi Akemi yang sedikit murung setelah ia menanyakan tentang hal yang mengganjal pikirannya selama ini.
Akemi menghela nafas sebentar sebelum menjawab pertanyaan dari Amuro. "Sebenarnya ayah dan ibuku itu ilmuwan. Mereka bekerja untuk organisasi rahasia dan orang-orang berbaju hitam itu adalah anggotanya. Tapi aku merasa orang tuaku terlalu dikekang oleh organisasi terutama ayahku. Ia tidak diizinkan keluar dari lab rahasia mereka kecuali kalau ada keperluan mendesak. Aku ingin sekali membebaskan orang tuaku dari belenggu organisasi tapi aku tidak bisa." Akemi menjelaskan dengan suara bergetar karena menahan tangis.
Melihat hal itu Amuro mencoba menghibur Akemi. "Semua itu bukan salahmu. Aku yakin kamu dan orang tuamu akan baik-baik saja. Suatu hari nanti aku pasti akan menjadi polisi yang menghancurkan organisasi itu dan membebaskan keluargamu dari belenggu mereka," ucap Amuro dengan rasa percaya diri yang tinggi.
Mendengar perkataan Amuro membuat Akemi menjadi terhibur dan sedikit tertawa karena cita-citanya yang menurut Akemi terlalu tinggi.
~OOO~
Waktu terasa begitu cepat sehingga tak terasa Amuro dan Akemi telah mencapai tingkat SMA. Mereka berada disatu sekolah dan kedekatan diantara mereka semakin terlihat. Kedekatan yang lebih dari sahabat. Amuro pun berencana menyatakan cintanya kepada Akemi, namun harapan itu kandas karena kejadian yang tidak terduga.
Kedua orang tua Akemi meninggal karena kecelakaan. Amuro yang mendengar kabar itu langsung pergi ke rumah Akemi. Namun rumah itu nampak kosong.
'Mungkin mereka ada di pemakaman' pikir Amuro. Ia lalu menuju ke pemakaman dan menemukan sosok yang ia cari-cari sedang berada di sebuah makam bersama seorang anak kecil.
"Akemi .." panggil Amuro kepada sosok itu.
"Rei…, Apa yang kamu lakukan di sini?" kata Akemi sambil berusaha menghapus air mata yang masih tersisa sedikit di wajahnya.
"Tentu saja untuk mencarimu. Aku khawatir padamu terutama setelah mendengar kabar duka itu. Aku tidak menyangka Tante Elena akan pergi secepat itu." Jelas Amuro dengan susah payah menahan tangis. Ia tidak boleh menangis di sini apalagi di depan Akemi.
"Iya aku juga tidak menyangkanya. Tapi sudahlah ini mungkin sudah takdirnya." Ucap Akemi pasrah.
"Kak, kita harus segera pergi dari sini." Kata anak kecil yang berada di samping Akemi. Amuro tidak pernah melihat dia sebelumnya. Siapa anak ini?
"Iya Shiho. Kita akan segera pergi dari sini. Ah iya, Shiho kenalkan ini teman kakak, namanya Rei Furuya. Rei kenalkan ini adikku, Shiho Miyano." Akemi saling memperkenalkan antara Amuro dan Shiho.
"Jadi kamu adiknya Akemi ya. Aku Rei," Ucap Amuro sambil mengulurkan tangan, berusaha mengajak Shiho untuk berkenalan.
"Shiho," Shiho membalas uluran tangan Amuro dengan singkat.
'Dingin sekali anak ini, beda dengan Akemi.' Amuro meringis dalam hati.
"Maafkan adikku ya. Sifatnya memang begitu, dia sulit sekali bersosialisasi dengan orang lain sehingga selalu mengurung dirinya di rumah." Jelas Akemi.
"Tidak masalah," kata Amuro.
Akemi menghela nafas sebentar mencoba mengumpulkan kata-kata yang tepat untuk diucapkan.
"Rei,"
"Ya, ada apa Akemi ?"
"Hari ini, aku akan pergi ke Amerika bersama adikku dan melanjutkan pendidikan disana." Ucap Akemi.
Kata-kata Akemi tadi bagai petir di siang bolong bagi Amuro. 'Apa katanya tadi? Amerika? Jadi aku akan berpisah dengan Akemi?' Pikiran-pikiran tadi terus berputaran di kepala Amuro.
"Organisasi menginginkan adikku untuk melanjutkan penelitian yang dilakukan orang tuaku. Jadi mereka ingin adikku bersekolah di Amerika dan menjadi ilmuwan seperti orang tuaku. Maafkan aku, mungkin ini saatnya kita berpisah." Lanjut Akemi.
Amuro sekarang sudah tidak bisa menahannya lagi. Ia membiarkan bulir-bulir air mata itu turun dengan sendirinya, meluapkan segala kesedihan di dalam hatinya.
"Kenapa… kenapa kau harus pergi ?!" Amuro masih tidak terima dengan keputusan Akemi.
"Aku tahu ini mungkin berat bagimu tapi aku memang harus pergi. Mungkin suatu saat nanti kita akan bertemu kembali. Dan ketika waktu itu tiba, aku ingin sekali melihatmu sukses. Sukses menjadi polisi seperti yang kamu cita-citakan dulu." Akemi memeluk Amuro dan berusaha menghiburnya. Sebuah pelukan yang hangat.
TIIIIN
Suara klakson mobil yang berasal dari luar area pemakaman mengganggu momen yang tercipta di antara mereka berdua. Akemi melepaskan pelukannya pada Amuro.
"Kak, mereka sudah datang. Kita harus pergi." Kata Shiho mengingatkan kakaknya.
"Ini saatnya aku pergi, Rei. Terima kasih untuk semuanya. Kamu adalah sahabat terbaik yang pernah aku miliki. Good bye, Rei." Ucap Akemi.
Amuro masih bergeming. Ia baru tersadar ketika Akemi menciumnya di pipi sebelum ia dan Shiho pergi dan masuk ke mobil hitam yang ada di luar pemakaman tersebut. Pipinya bersemu merah mengingat kejadian itu.
'Selamat tinggal Akemi. Aku harap kamu baik-baik saja di sana dan aku juga akan berjuang disini. Berjuang untuk meraih impianku.' Amuro bertekad dalam hati. Setelah itu ia pergi dari pemakaman dengan membawa semangat yang membara.
~OOO~
To Be Continue
Balasan Review (untuk guest)
Guest : Terima kasih sudah review. Aku setuju sama kamu. Kebanyakan fic Amuro emang yaoi :v
Akhirnya bisa juga update chapter 2. Mungkin masih banyak kekurangannya karena aku masih baru disini. Aku ingin mengucapkan terima kasih banyak kepada para pembaca yang bersedia review, fav maupun follow. Serta kepada silent reader yang mau meluangkan waktunya membaca fic ini.
Sekian, sampai jumpa di chapter berikutnya.
