Unperfect Kyungsoo

.

.

Cast : All member EXO

Genre : Tragedy, Romance

Rate : T

Disclamer : EXO itu cuma milik Tuhan YME, Orang tua,dan SM Ent. Saya hanya minjem nama doang untuk mendukung cerita saya.

Warning : YAOI (boyxboy), Typo(s), gaje, abal, Don't Like Don't Read, No Plagiat, Real dari pemikiran Author

.

.

Summary :

Kyungsoo adalah namja cacat dengan segala kekurangannya. Hidupnya berubah saat Ayahnya menikahi janda dengan dua Putra yang ternyata adalah penyebab kematian Ayahnya. Bagaimana nasib Kyungsoo saat Ia hanya tinggal bertiga dengan saudara tirinya?

.

.

Note : Kalimat dengan cetakan miring berarti bahasa isyarat dari Kyungsoo atau tulisan pada buku nya.

.

.

Kim Jong Soo 1214

.

.

.

Present

.

.

.

Preview

"Ternyata Dia sangat lemah, dasar cengeng" kata Jongin meremehkan.

"Sudahlah, tidak ada untungnya kita mencampuri urusan manusia cacat itu" Jongdae menimpali.

"Hyung, bagaimana dengan nanti malam?" tanya Jongin mengalihkan pembicaraan

"Kita akan mendapat banyak uang, jadi bagaimana mungkin kita menolaknya" Jongdae menyeringai

"Bagus! Aku tidak sabar dengan pesta nanti malam" Jongin menatap kedua tangannya yang terkepal, menandakan bagaimana gatalnya tangan itu karena telah lama tidak 'bermain-main' dengan sebuah pisau.

.

.

.

Chapter 2

Sehun membawa tubuh mungil Kyungsoo kekamar mandi sekolah. Keadaan Tuan Mudanya itu sangat berantakan. Kemeja seragam yang harusnya berwarna putih, kini berubah merah akibat saus sambal yang ditumpahkan ketiga namja gila itu pada Kyungsoo.

"Hyung, apa mereka selalu seperti itu padamu?" tanya Sehun lirih. Tangannya membantu membasuh wajah Kyungsoo dengan lembut. Kyungsoo hanya diam tidak berniat menjawab pertanyaan sahabat kecilnya itu.

"Seharusnya kau bilang pada Tuan besar, hyung. Jadi kau tidak harus menerima perlakuan seperti ini disekolah" kata Sehun sambil mengalihkan tangannya untuk membasuh kedua mata Kyungsoo yang masih terpejam. Kyungsoo masih diam.

"Apakah masih perih?" tanya Sehun lagi saat kedua mata Kyungsoo terbuka. Kyungsoo menggeleng.

"Gomawo, Sehun-ah" tangan mungil Kyungsoo merangkai kalimat untuk Sehun.

"Aku akan menelepon Appa untuk menjemputmu" Sehun sudah meraih ponselnya disaku celana, namun Kyungsoo segera memegang tangan Sehun agar namja yang lebih tinggi darinya itu tidak menelpon Paman Oh. Bagaimanapun juga Kyungsoo harus mengikuti pelajaran.

"Tidak perlu Sehun-ah. Aku baik-baik saja" mata besar Kyungsoo menyipit saat bibirnya melengkungkan sebuah senyuman. Tangan mungilnya bergerak-gerak untuk merangkai kalimat lagi.

"Aku sudah biasa seperti ini. Kau tidak perlu khawatir"

"Tidak. Aku akan marah padamu jika kau tidak menurutiku" Sehun bersikeras.

"Tapi aku sungguh baik-baik saja Sehun-ah" Kyungsoo mengerucutkan bibirnya saat tangannya selesai merangkai kalimat.

"Bagaimana bisa kau baik-baik saja, hyung? Itu adalah saus sambal. Kau pasti merasakan perih diseluruh tubuhmu. Lihat, kulitmu memerah" Sehun menunjuk lengan tangan Kyungsoo yang memang sudah memerah akibat saus sambal itu.

"Aku akan mengantarmu pulang jika kau tidak mau dijemput Appa" Sehun mulai menggenggam tangan mungil Kyungsoo dan berjalan keluar kamar mandi. Namun langkahnya terhenti saat Kyungsoo menarik ujung kemeja seragamnya.

"Ini kan hari pertama sekolahmu, Sehun-ah. Kau tidak boleh membolos" Kyungsoo mengingatnya.

"Aku tidak membolos,hyung. Aku akan kembali kesekolah setelah mengantarmu pulang. Arraseo?" Sehun mengusap lembut surai hitam Kyungsoo, dan Kyungsoo tersenyum. Yah, paling tidak sekarang Ia punya Sehun yang bisa mengerti keadaannya.

Kyungsoo dan Sehun pulang menggunakan bus. Ini adalah kali pertama Kyungsoo menaiki bus setelah sekian lama. Appa-nya selalu melarangnya menaiki bus sendiri. Ia paham mengapa Appa-nya melarang segala sesuatu sendiri, itu karena Appa-nya merasa khawatir padanya. Dengan keadaannya yang tidak normal membuat Kyungsoo harus selalu didampingin Paman Oh maupun Sehun kemanapun.

Kyungsoo mengedarkan pandangannya keluar jendela. Ia tersenyum menikmati perjalanan sederhana yang sangat jarang Ia rasakan. Duduk bersama banyak orang, melihat jalanan yang sibuk, menikmati pemandangan gugup dari orang-orang karena terlambat kekantor, ahh...ini sangat menyenangkan.

"Apa kau menikmatinya?" tanya Sehun saat ekor matanya menangkap senyum diwajah Kyungsoo. Kyungsoo mengangguk.

"Aku tidak pernah naik bus lagi sejak 12 tahun lalu. Ternyata rasanya sangat menyenangkan" Kyungsoo kembali menyunggingkan senyum manisnya saat tangan mungilnya selesai merangkai kalimat, membuat Sehun ikut tersenyum. Yah, Sehun selalu tersenyum melihat Tuan Mudanya merasa senang, meskipun hanya dengan hal-hal sederhana seperti ini.

"Aku akan lebih sering mengajakmu naik bus jika kau mau, hyung"

"Jinjja?" tanya Kyungsoo penuh semangat. Dan Sehun mengangguk dengan senyum dibibirnya. Seandainya pita suara Kyungsoo masih memiliki setitik getaran, mungkin Kyungsoo akan memekik karena terlampau senang.

Setelah beberapa halte terlewati, kini Sehun dan Kyungsoo turun dihalte dekat rumah 'mereka'. Sedikit berjalan dan sampailah mereka didepan halaman luas rumah megah keluarga Do.

Sehun segera berlari keluar rumah saat Ia memastikan Kyungsoo masuk kedalam rumahnya dengan selamat. Setelah memberikan penjelasan pada Appa-nya tentang kejadian disekolah tentunya. Beruntung Nyonya Yixing sedang tidak berada dirumah, jadi Ia terhindar dari pertanyaan-pertanyaan yang bersifat menginterogasi dari Nyonya baru itu.

Kyungsoo segera melepas seragam sekolahnya saat Ia telah berada dikamarnya. Ia menggaruk lengannya yang terasa perih dan memerah. Sepertinya kulitnya terlalu sensitif sehingga mudah iritasi. Ini bukan pertama kalinya. Bahkan dulu Kyungsoo sering mengalami bentol-bentol pada kulitnya karena Ia disiram air selokan yang sangat kotor. Dan tentu saja pelakunya adalah Trio abal-abal.

Kyungsoo mengarahkan kakinya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya. Ia tidak pernah bercerita pada Appa-nya tentang kejadian yang terjadi disekolah. Alasannya sangat simple, karena Kyungsoo tidak mau menjadi beban Appa-nya dengan hal-hal kecil seperti itu. Yang tahu hanya Sehun dan Paman Oh. Itu karena mereka tidak akan bercerita pada Appa-nya dan dengan senang hati membantunya.

Setelah mengganti pakaiannya Ia langsung melompat keatas kasur empuknya. Menerawang kejadian menyakitkan yang selalu Ia terima disekolah membuatnya tertekan. Yah, sebenarnya Ia sangat tertekan. Namun Ia hanya bisa diam. Ia tidak mau memperburuk keadaan jika Ia melawan ataupun mengadu pada orang-orang.

"Eomma, apa Eomma melihatku sekarang? Aku sakit Eomma. Aku sakit disini" Kyungsoo mengarahkan tangan mungilnya pada dada kirinya. Dalam diam Ia selalu bercerita pada Eomma-nya lewat batinnya. Itu adalah kebiasaannya saat Ia merasa suasana hatinya sangat buruk. Dan Ia melakukannya hampir setiap hari.

Tidak ada yang tau bagaimana sebenarnya isi hati namja manis itu. Kyungsoo yang terlihat selalu ceria dengan senyum menawan dan tatapan polosnya ternyata adalah seorang namja yang sangat rapuh. Ia rapuh dalam hal apapun. Sejak Ia mengalami kecelakaan 12 tahun silam yang membuat Eomma-nya meninggal, hingga sekarang Kyungsoo jarang menceritakan apa yang ada dalam hatinya. Karena trauma. Yah, itu adalah alasan yang selalu Ia patri dalam hatinya. Ia hanya merasa takut. Ia takut untuk menyayangi seseorang jika akhirnya Ia harus kehilangan seperti Ia kehilangan Eomma-nya.

Sejenak pikiran Kyungsoo teralihkan pada keluarga barunya. Memang benar Ia mendapatkan Eomma, hanya saja rasanya berbeda. Tidak ada yang bisa menggantikan Eomma kandungnya. Kasih sayangnya, belaian lembutnya, sapaan hangatnya, tidak ada yang bisa mengalahkan Eomma kandungnya.

"Eomma, kau yang terbaik sampai kapanpun" Kyungsoo membatin dalam hatinya. Satu senyum menggantung dibibir tebalnya. Rasa hangat saat Ia mengingat Eomma-nya membuatnya nyaman hingga perlahan matanya terpejam untuk mengarungi alam bawah sadarnya.

.

.

.

Drrtt drrtt

Getaran pada ponsel milik Jongdae tidak pernah berhenti sejak beberapa saat lalu. Jongdae memang sengaja membiarkannya. Mencoba sedikit bermain-main dengan seseorang yang tengah menghubunginya. Ia menyeringai saat melihat layar ponselnye meredup. Seseorang itu memutuskan sambungannya.

"Aku tidak bisa membaca bagaimana pikiranmu, hyung. Kau aneh" Jongin yang sedang duduk disebelah Jongdae-pun tersenyum kecut sambil melipat tangannya didepan dada.

"Kita memang harus sedikit bermain dengan manusia brengsek itu, Jongin-ah" Jongdae berkilat memandang mata tajam Jongin.

"Aku harap kau tau apa yang sedang kau lakukan, hyung" Jongin berkata datar

"Tentu saja aku tau. Manusia brengsek seperti mereka memang seharusnya merasakan ini" Jongdae memegang ponselnya dan kemudian menekan ikon galeri dan menampilkan sebuah foto. Jongdae berseringai.

"Aku benar-benar akan menikmati malam ini" kata Jongdae dengan smirk diwajahnya.

"Kita arus bermain mulus kali ini, hyung. Aku tidak mau berakir seperti tempo hari" Jongin mengingatkan Jongdae tentang kejadian beberapa saat lalu. Saat mereka melakukan aksinya, mereka hampir saja mati karena kecerobohan mereka sendiri.

"Ya! Bukankah akan lebih seru jika kejadian tempo hari terulang lagi?" Jongdae tersenyum miring.

"Dalam mimpimu" Jongin berdiri dari duduknya dan berjalan kembali menuju kelasnya untuk mengambil tasnya. Mereka berniat pulang lebih awal hari ini karena ada suatu pekerjaan yang tengah menanti mereka.

.

.

.

"Bagaimana perkembangan laporan dari Perusahaan Kim Corp? Ada kemajuan?" tanya seorang pria yang masih tampak muda meski usianya yang menginjak kepala 4. Pandangan matanya Ia arahkan pada sekertaris pribadinya yang tengah duduk didepan meja kerjanya.

"Mereka sedang mengalami kemajuan diperusahaan yang baru saja diresmikan Direktur Junmyeon. Saham dari perusahaan mereka naik hingga 2,2%" jawab sekertaris pribadi Junmyeon itu sambil membaca laporannya pada tabletnya.

"Kau sudah mengirim berkas kerja sama kita pada mereka?" tanya Junmyeon lagi. Tangannya Ia arahkan untuk mengambil sebuah map coklat yang baru saja diserahkan oleh sekertarisnya.

"Sudah Direktur. Mereka menerimanya. Dan ini balasan dari berkas yang telah kita kirim" kata sekertaris itu.

"Baiklah, kau bisa pergi" Junmyeon memerintah dengan mata yang masih terarah pada berkas-berkas itu.

"Saya perisi Direktur Junmyeon" kata sekertaris itu.

"Sekertaris Park..." panggilan dari Junmyeon menghentikan langkahnya. Ia kembali menoleh pada Direktur utama tempatnya mengabdi selama lebih dari 10 tahun itu.

"Iya, Direktur. Ada lagi yang anda perlukan?" tanya Sekertaris Park sesopan mungkin.

"Ahh..tidak. Aku hanya ingin menanyakan Putramu. Bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Junmyeon dengan senyum dibibirnya. Dan Sekertaris Park ikut tersenyum melihat bagaimana Direkturnya masih mengingat Putranya.

"Chanyeol baik-baik saja, Direktur. Dia berada diperguruan tinggi tahun ini" jawab Sekertaris Park bangga.

"Syukurlah. Kau harus mengajaknya makan malam dirumahku sesekali. Mungkin Ia akan cocok berteman dengan Kyungsoo" Junmyeon mengulas senyumnya sekali lagi.

"Baiklah Direktur. Saya akan mengajaknya sesekali" jawab Sekertaris Park kemudian membungkuk sebelum melangkahkan kakinya meninggalkan ruang kerja Junmyeon.

.

.

.

Kyungsoo membuka mata bulatnya saat tak sengaja Ia mendengar suara benda jatuh. Sedikit memicingkan mata saat sorot lampu mengenai manik hitamnya. Perlahan Ia dudukkan tubuhnya diatas kasur. Menajamkan pendengarannya saat sekali lagi telinganya mendengar debuman ringan seperti sebuah benda berat jatuh. Karena penasaran Ia akhirnya keluar kamarnya berniat mencari Paman Oh atau Sehun untuk menanyakan suara apa itu. Kyungsoo itu sedikit penakut karena masa lalunya. Setiap ada debaman atau suara benda jatuh, jantungnya pasti berdetak dua kali lebih cepat. Ingatannya selalu berputar tentang kejadian dimana saat kecelakaan itu terjadi.

Kaki mungilnya Ia pacu untuk menuruni anak tangga. Pandangannya beredar keseluruh penjuru ruangan untuk mencari dimana Paman Oh dan Sehun berada. Saat Ia masih asik celingukan mencari, tiba-tiba bahunya ditepuk dari belakang. Membuat namja manis itu terlonjak kaget.

"Tuan muda sedang mencari sesuatu?" tanya seorang maid yang dari tadi mengamati pergerakan Kyungsoo. Namja manis itu mengeluarkan sebuah buku kecil yang selalu Ia bawa kemudian menuliskan satu kalimat untuk menjawab pertanyaan maidnya.

"Dimana Paman Oh dan Sehun?"

"Mereka sedang menjemput Tuan Besar Junmyeon dikantornya, Tuan Muda" jawab maid itu setelah membaca tulisan Kyungsoo.

"Kenapa Sehun juga ikut? Tidak biasanya" Kyungsoo kembali menuliskan sebaris kalimat dan Ia tunjukkan pada maidnya.

"Saya kurang tau, Tuan Muda. Mereka hanya berpesan jika Tuan Muda sudah bangun, Tuan Muda harus segera makan malam" jawab maid itu sopan.

"Dimana Nyonya Yixing?" tanya Kyungsoo lagi

"Nyonya Yixing belum pulang, Tuan Muda" setelah maid itu menjawab Kyungsoo hanya mengangguk mengerti. Entahlah, Ia tidak berniat menanyakan keberadaan Jongin dan Jongdae. Ia merasa takut jika harus menyebut nama kedua bersaudara itu.

"Tuan Muda, saya akan menyiapkan makan malam jika Tuan Muda mau" tanya maid itu membuat lamunan Kyungsoo buyar.

"Tidak, nanti saja. Aku menunggu Appa" dan maid itu segera membungkuk setelah membaca kalimat dari Kyungsoo.

Telinga Kyungsoo kembali mendengar suara-suara aneh dari sudut ruangan rumahnya. Suara debaman dan gemericik seperti gesekan benda logam terdengar samar. Ia berjalan pelan mendekati sudut ruangan itu. Suara-suara itu makin jelas. Banyak pertanyaan dikepala Kyungsoo. Tunggu, bukankah sudut ruangan itu adalah kamar Jongin dan Jongdae? Sedang apa mereka?

Salahkan sifat penasaran Kyungsoo yang begitu besar. Walaupun ada rasa takut, namun rasa penasaran telah menutupinya. Ini adalah rumahnya sendiri, jadi tidak akan terjadi apa-apa bukan, begitulah kira-kira yang dipikirnya Kyungsoo.

Ia semakin melangkahkan kaki mungilnya mendekati kamar kedua saudara tirinya itu. Sedikit mengendap agar tidak menimbulkan suara gesekan sandal rumah dengan lantai. Beruntung saat itu pintu kamar mereka sedikit terbuka. Kyungsoo melebarkan matanya dan menajamkan pendengarannya saat Ia berhasil melihat keadaan didalam kamar itu melalui celah pintu.

Dan betapa kagetnya Kyungsoo saat Ia menemukan Jongin serta Jongdae yang tengah mengemas berbagai macam benda kedalam sebuah tas besar. Beberapa pisau lipat, sebuah tali, dan sekotak besar benda besi yang Kyungsoo sendiri tidak tau apa isinya. Matanya yang bulat semakin membulat saat melihat Jongin tengah memegang sebuah hangun laras pendek. Nafas Kyungsoo seolah tercekat,tubuhnya kaku. Apa yang akan mereka lakukan dengan senjata api itu?

Kyungsoo berusaha mengontrol dirinya. Perlahan Ia berjalan mundur menjauhi kamar saudara tirinya itu. Sebuah tanda tanya besar menggantung dikepalanya. Rasa takut yang telah menyerangnya saat pertama kali melihat Jongin dan Jongdae kini semakin menjadi. Tubuhnya bergetar, keringat dingin mulai menumpuk didahi dan lehernya. Ia terlalu takut. Bagaimana jika mereka melakukan sesuatu yang berbahaya?

PUK!

Sebuah tepukan dibahunya membuat tubuhnya terlonjak. Ia menolehkan kepalanya dengan cepat untuk mengetahui siapa yang baru saja menepuk bahunya.

"Kyungie, apa yang sedang kau lakukan disini?" suara lembut Nyonya Yixing membuat Kyungsoo lega. Yah, setidaknya bukan orang lain yang sedang berdiri didepannya saat ini.

Kyungsoo menggeleng pelan. Ia masih terlalu kaget dan bergetar untuk sekedar menulis kata 'tidak apa-apa' dibuku kecilnya. Yixing mengerutkan dahinya saat mendapati tubuh Kyungsoo yang berkeringat dan bergetar.

"Kyungie, gwencana?" Yixing mendekati Kyungsoo dan menyentuh dahinya yang berkeringat dingin.

"OMO! Kenapa badanmu dingin sekali, Kyungie. Kau sakit?" Wanita cantik itu terlihat khawatir. Sedangkan Kyungsoo masih terpaku diposisinya tanpa berniat menjawab pertanyaan dari Eomma tirinya itu.

Merasa tidak mendapat respon dari Kyungsoo, membuat Yixing semakin khawatir. Ia berteriak memanggil maid untuk membantunya membawa Kyungsoo kekamarnya. Dan suara gaduh yang diciptakan Yixing membuat Jongin dan Jongdae keluar dari kamar. Mereka memastikan apa yang sedang terjadi mengingat kegaduhan itu berada tidak jauh dari kamarnya.

Kyungsoo yang melihat dua sosok namja berbadan tegap tengah berjalan mendekatinya membuatnya menundukkan kepala. Ia terlalu takut untuk sekedar memandang wajah mereka.

"Ada apa Eomma?" tanya sebuah suara berat yang Kyungsoo yakin adalah suara Jongin.

"Badan Kyungsoo sangat dingin dan berkeringat. Ia juga bergetar dari tadi. Eomma takut Ia sakit" terang Yixing pada putra keduanya itu. Jongin maupun Jongdae tidak memberikan reaksi apapun.

"Tolong bawa Kyungsoo kekamarnya, aku akan membuatkan bubur untuknya" perintah Yixing pada maid itu. Kyungsoo mulai melangkahkan kakinya dengan dituntun maid-nya. Ia sempatkan menoleh pada Jongin dan Jongdae yang masih memandangnya lekat. Entahlah, wajah mereka terlalu datar untuk dapat ditebak apa yang ada dikepala mereka. Dan mata itu, mata tajam yang seolah menyimpan sesuatu rahasia besar disana.

Sedangkan Jongin dan Jongdae saling tatap saat tubuh Kyungsoo menghilang dari pandangannya. Mereka berpikir apakah Kyungsoo melihat kegiatan mereka hingga namja manis itu begitu ketakutan?

"Anak-anak, kalian segeralah keruang makan. Sebentar lagi Appa kalian datang" kata Yixing membuat kedua Putra tampannya mengalihkan pandangan padanya.

"Dia bukan Appa kami, Eomma" Jongin berkata dingin

"Kau harus belajar menerimanya mulai sekarang" kata Yixing tegas. Wanita cantik itu segera melenggang pergi setelah selesai mengucapkan kalimatnya. Membuat kedua namja itu berdecih.

"Hyung, apa mungkin manusia cacat itu melihat kita?" tanya Jongin dengan nada sedikit was-was

"Aku rasa iya. Aku sedikit melihat sebuah bayangan sebelum Eomma berteriak tadi" jawab Jongdae dengan wajah datarnya.

"Aku rasa dia akan menjadi sebuah ancaman, hyung" Jongin menimpali

"Bagaimana mungkin. Bahkan untuk bicara saja dia tidak bisa" seringaian muncul diwajah tampannya.

"Ahh...benar. Aku lupa" Jongin tersenyum miring.

.

.

.

Kyungsoo tengah duduk diatas kasur empuknya. Pikirannya masih melayang-layang. Bagaimana tidak, Ia melihat kedua saudara tirinya memegang sebuah hangun! Demi Tuhan, itu sangat berbahaya. Kyungsoo mulai berdiri. Wajahnya menampakkan raut khawatir yang sangat ketara. Ia menggigit bibir bawahnya, berharap rasa takutnya hilang. Bayangan dan dugaan aneh berputar-putar dikepalanya. Kyungsoo mulai berjalan kekanan dan kekiri. Mondar mandir berusaha menghilangkan perasaan aneh didadanya. Haruskah Ia bercerita pada Sehun? Ah, tidak. Bagaimana jika Sehun mengadukan mereka pada Appa? Dan tentu saja hal itu akan membuat Nyonya Yixing kecewa. Kyungsoo tidak mungkin membuat anggota keluarganya kecewa. Tapi bagaimana jika Jongin dan Jongdae berada dalam bahaya jika mereka bermain-main dengan senjata api macam itu?

Kyungsoo mengacak rambutnya frustasi. Mata bulatnya terlihat sayu. Apa yang harus Ia lakukan?

"Hyung~" Sehun yang tiba-tiba saja memasuki kamarnya membuat Kyungsoo berjengkit kaget.

"Kau kenapa, hyung? Kata Nyonya Yixing kau sakit?" tanya Sehun sambil mendekati namja mungil didepannya itu. Ia menempelkan tangannya pada dahi Kyungsoo dan langsung ditepis oleh Kyungsoo.

"Aku tidak apa-apa, Sehun-ah" Kyungsoo menggerakkan tangannya merangkai sebuah kalimat.

"Ada apa dengan ekspresimu, hyung? Kau terlihat aneh" Sehun melihat gelagat Kyungsoo sangat aneh. Mata bulatnya tidak berhenti bergerak, seolah Ia sedang mencemaskan sesuatu.

"Sehun-ah, aku ingin bertanya sesuatu padamu" Kyungsoo menatap tajam mata Sehun saat tangan mungilnya selesai merangkai sebuah kalimat. Sehun mengerutkan keningnya, Ia bingung dengan gelagat aneh Tuan muda-nya ini.

"Ada apa hyung? Ada yang mengganggu pikiranmu?" Kyungsoo segera menarik tangan Sehun untuk duduk dipinggir ranjangnya setelah Sehun selesai bertanya. Ia cepat-cepat berjalan menuju pintu kamarnya untuk menguncinya. Setelah memastikan pintu kamarnya telah terkunci, namja mungil itu segera kembali mendekat kearah Sehun dan duduk disebelahnya. Mata Kyungsoo masih bergerak-gerak gelisah. Sedangkan Sehun hanya melongo melihat tingkah aneh Tuan Mudanya itu.

"Hyung, ada apa denganmu? Kau membuatku takut,kau tau?" Sehun bergidik ngeri melihat gelagat aneh dari namja manis itu.

"Sehun-ah, kau harus berjanji padaku. Kau tidak akan menceritakan hal ini pada siapapun" Kyungsoo mengarahkan kelingkingnya setelah tangan mungilnya selesai mengeja kalimat panjang. Sehun semakin berkerut dibuatnya. Ada apa dengan Kyungsoo-nya ini? aneh sekali.

Masih dengan tatapan bingungnya, akhirnya Sehun menerima uluran kelingking itu. Dan langsung saja Kyungsoo menggerakkan tangannya dengan semangat untuk mulai bercerita.

"Sehun-ah, apa menurutmu orang yang memiliki sebuah hangun adalah orang jahat? Apakah mereka harus dilaporkan kepolisi?" Sehun menangkap raut serius dari wajah Kyungsoo.

"Apa maksudmu, hyung? Siapa yang memiliki hangun?" tanya Sehun penasaran. Awalnya Kyungsoo enggan memberitahu Sehun siapa yang Ia maksud, tapi jika Sehun tidak mengerti siapa yang Ia maksud, masalah akan bertambah. Bagaimana jika Sehunlah yang ternyata sedang dalam bahaya? Arrggh...Ini sangat membuatnya frustasi.

"Kau harus berjanti tidak akan melaporkannya pada Appa apalagi pada polisi!" Kyungsoo mengerucutkan bibirnya diantara tangannya yang bergerak-gerak.

"Aku kan sudah berjanji padamu, hyung" Sehun meyakinkan Kyungsoo. Dan Kyungsoo menatap tajam mata Sehun,membuat Sehun semakin penasaran.

"Jongin dan Jongdae. Aku melihatnya mereka memegang hangun" Kyungsoo terlihat gugup setelah tangan mungilnya selesai merangkai kedua nama itu. Sehun melebarkan matanya kaget.

"MWO? Mereka memili- hhmmpp.." ucapan Sehun terpotong karena Kyungsoo membekap mulutnya dengan tangan mungilnya.

"Jangan berteriak, Sehun-ah" Kyungsoo memukul kepala Sehun saat tangannya terlepas dari mulut Sehun.

"Aww" Sehun meringis menerima pukulan pada kepalanya. Ia mengelus kepalanya pelan.

"Apa kau serius, hyung?" tanya Sehun, dan Kyungsoo mengangguk. Sehun tau, jika Kyungsoo seperti ini, itu berarti Tuan Mudanya ini tidak sedang dalam mode bercanda.

Sehun berpikir sejenak. Ini sangat aneh, untuk apa mereka memiliki hangun? Sedangkan setahunya hangun adalah milik seseorang yang telah cukup umur. Untuk memilikinya pun juga harus memiliki surat-surat kepemilikan yang resmi dari kepolisian.

Namja dengan kulit seputih susu itu menatap Kyungsoo yang masih gelisah. Ia berpikir, apakah kedua saudara tiri Kyungsoo itu memiliki maksud lain dengan keluarga Kyungsoo? Jika mereka memiliki maksud buruk, ini pasti ada kaitannya dengan Nyonya Yixing. Yah, Nyonya Yixing tidak mungin tidak mengetahui masalah ini. Tapi apa yang mereka inginkan? Harta? Ahh, itu tidak mungkin. Bukankah Nyonya Yixing sendiri adalah Direktur utama disebuah butik besar dengan banyak cabang diberbagai Negara. Sehun menganalisis sendiri kemungkinan-kemungkinan itu. Ia tidak mungkin mengungkapkan pada Kyungsoo apa yang sedang Ia pikirkan. Ia tidak mungkin membuat Kyungsoo ketakutan berada dirumahnya sendiri.

"Hyung,mungkin kau salah lihat. Mana mungkin seorang pelajar memiliki hangun?" Sehun berusaha menenangkan Kyungsoo agar Ia tidak gelisah.

"Tapi.." tangan Kyungsoo digenggam oleh Sehun sebelum Ia berhasil menyelesaikan mengeja kalimatnya.

"Mungkin itu hanya mainan, hyung. Mereka masih seumuran dengan kita. Jadi jangan berpikir yang aneh-aneh. Arraseo?" Sehun mengelus lembut tangan Kyungsoo, membuat namja manis itu sedikit merasa lega dengan jawaban sahabat kecilnya itu. hahh...mungkin Sehun benar. Mana mungkin seorang bocah memiliki hangun? Sangat tidak masuk akal.

.

.

.

Malam semakin larut. Rumah megah milik keluarga Do terlihat gelap karena semua penghuninya telah berada dialam bawah sadar mereka masing-masing. Kecuali dua namja bersaudara yang justru bersiap untuk meninggalkan rumah itu.

Ddrtt...drrtt...

Ponsel Jongdae kembali berdering. Namja dengan rahang tegas itu segera menggeser tombol hijau, dan meletakkan ponselnya didepan telinya.

"Yeobseyo?"

"..."

"Aku akan menemuimu setengah jam lagi"

"..."

"Baiklah"

Jongdae mengakhiri panggilan itu. Ia meletakkan ponselnya disaku jaketnya. Ia menolehkan kepalanya pada Jongin yang telah bersiap dengan pakaian serba hitam seperti miliknya. Ia mengangguk, dan Jongin menangkap maksud hyungnya itu.

Dengan perlahan, Jongin membuka jendela kamarnya. Beruntung karena kamar mereka berada dilantai satu. Dengan sangat gesit Jongin melompat dari jendela itu dengan membawa sebuah tas ransel dipunggung tegapnya. Sedikit suara debaman akibat kaki panjangnya yang menyentuh tanah. Jongdae mengikuti cara Jongin. Tak lama Ia sudah berada disamping Jongin. Mereka berdua saling menatap sebelum akhirnya mengendap untuk memasuki mobil sport mewah yang telah terparkir tak jauh dari rumah megah itu. Tanpa menunggu lama, mobil itu segera melaju menuju tempat tujuan mereka.

Tanpa mereka sadari ada sepasang mata bulat yang tengah memperhatikan mereka dari balkon lantai dua. Yah, dia adalah Kyungsoo. Kyungsoo merasa jika firasatnya benar. Firasat yang mengatakan bahwa kedua saudara tirinya itu menyembunyikan sebuah rahasia. Dengan mata memanas dan tubuh bergetar, Kyungsoo memerosotkan tubuhnya kelantai. Apa yang harus Ia lakukan? Bagaimana jika terjadi sesuatu pada keluarganya. Pikirannya kembali melayang-layang mengingat kedua saudara tirinya sangat misterius. Ahh...mungkin Kyungsoo harus lebih berhati-hati mulai sekarang. Ia harus mencari tau siapa sebenarnya saudara tirinya itu secara diam-diam.

.

.

.

"Target sedang dalam perjalanan menuju Hotel didekat Villa Pribadinya. Menurut informasi Ia akan menemui relasinya dulu dihotel itu sebelum pergi ke Villa-nya sendiri. Sebaiknya kita bergerak sebelum jam 12 malam, karena akan diperkirakan Sekertaris Giant Corp itu akan tiba disana sebelum jam 12 malam" terang seorang namja tiang listrik yang tengah membawa sebuah tablet untuk melaporkan analisisnya.

"Jadi kita akan melakukannya saat target menuju Villa-nya?" Jongin bertanya dengan nada dingin, dan diangguki oleh Chanyeol-namja tiang listrik itu.

"Bagaimana dengan bodyguard-nya?" tanya Kris-sesosok namja tinggi lainnya dengan rambut berwarna pirang.

"Mereka tidak membawa banyak pengawal. Jadi akan sangat mudah untuk menaklukkannya kali ini" Chanyeol berseringai.

"Baiklah. Kita hanya perlu mengambil berkas dan flashdisknya saja. Bermainlah dengan bersih. Buat mereka seolah kecelakaan" Jongdae memerintah, dan diangguki ketiga partnernya. Yah, mereka adalah partner dalam misi ini. Mereka telah lama bergabung dengan sebuah komunitas terselubung untuk melaksanakan misi-misi berbahaya dan menantang. Mereka mengatakan bahwa itu adalah sebuah 'bantuan' untuk menyingkirkan rival yang menurut mereka mengganggu.

Jangan berpikir bahwa mereka dibayar dengan murah. Karena sekali melaksanakan pekerjaan mereka nilainya sama dengan harga sebuah apartement mewah. Jika ditanya mengapa mereka mau mengerjakan pekerjaan kotor seperti itu, jawabannya adalah karena mereka memiliki misi yang sama. Mereka memiliki dendam masa lalu yang membuat mereka membenci para politikus dan pengusaha licik. Untuk itu, dengan senang hati mereka melakukan pekerjaan berbahaya ini.

Jika kalian berpikir bagaimana mereka tidak tertangkap polisi dengan pekerjaan kotor mereka, maka mulai berpikirlah mengenai pengamanan sistem dari alat komunikasi mereka. Bukan hanya alat komunikasi mereka yang canggih, namun wajah serta sidik jari mereka juga tidak mudah dikenali. Bagaimana bisa? Maka mereka wajib berterimakasih pada Profesor Xiumin karena telah menciptakan formula berbentuk pil yang mampu membuat sel-sel dalam tubuh mereka berubah. Itu yang membuat sidik jari serta wajah mereka sulit untuk dideteksi.

Keempat namja tampan itu mulai bergerak untuk melaksanakan aksinya. Jongin dan Jongdae menggunakan mobil yang berdeda dengan Kris dan Chanyeol. Mereka sepakat berbagi tugas. Kris dan Chanyeol berencana akan mengalihkan perhatian bodyguard yang mengantar Sekertaris Giant Corp itu, sedangkan Jongin dan Jongdae yang mengambil berkas serta flashdisk yang dimaksud oleh atasan mereka.

Mereka telah berada ditempat berbeda dimana Chanyeol dan Kris berada tak jauh dari sebuah Hotel yang menjadi tempat pertemuan Sekertaris Giant Corp itu. Mereka menunggu mobil rombongan kecil itu meninggalkan Hotel. Setelah menunggu sekitar 10 menit akhirnya mobil rombongan itu mulai bergerak meninggalkan Hotel.

"Pesta akan dimulai Kris, bersiaplah" Chanyeol berseringai setelah mengetahui bahwa mobil incaran yang membawa sesosok Sekertaris itu melaju menuju jalanan besar.

"Aku akan selalu siap, Yeoll" jawab Kris tersenyum miring. Mereka segera menelan sebuah pil berwarna bening yang telah mereka persiapkan. Berbagai macam benda yang sekiranya akan dibutuhkan saat penyeranganpun juga telah disiapkan. Chanyeol mengangkat ponselnya untuk menghubungi partner-nya yang telah berada diposisinya.

"Target sudah bergerak. Bersiaplah" Chanyeol menutup sambungannya setelah mendapatkan jawaban dari seberang.

Yah, Jongin dan Jongdae melakukan hal yang sama. Mereka telah bersiap dengan segala perlengkapan aksi mereka. Menelan pil yang sama dengan milik kedua partnernya. Jongin memegang sebuah hangun ditangannya. Matanya memandang tajam pada jalanan sepi didepannya. Tentu saja sepi, mereka tengah berada dijalan pegunungan dengan banyak tikungan curam. Apalagi ini mendekati tengah malam. Manusia normal mana yang akan berkeliaran ditengah malam dingin seperti ini. Ahh...jangan menebak, karena mereka berempat adalah namja yang sudah tidak normal mengingat pekerjaan berbahaya yang mereka kerjakan.

Chanyeol memberi kode pada Jongin dan Jongdae melalui layar monitor yang mereka pasang pada mobil sportnya. Menampakkan satu titik merah yang berkelap kelip disana. Jongin segera mengarahkan pandangannya saat sebuah sinar lampu mobil terlihat didepannya. Dua mobil mewah berwarna hitam melaju dengan kecepatan sedang. Jongdae menekan pedal gas untuk melajukan mobilnya, memposisikan mobil itu untuk menghadang rombongan yang semakin mendekatinya.

Dengan cekatan mobil hitam yang berada didepan menghentikan lajunya saat melihat dua orang namja keluar dari mobil yang tengah menghadangnya. Otomatis mobil kedua juga berhenti. Jongin mengarahkan hangun pada mobil itu, membuat penghuni mobil tersentak kaget.

"Apa yang terjadi?" tanya seorang pria paruh baya yang menjabat sebagai Sekertaris Giant Corp kepada supirnya.

"Sepertinya kita diserang, Sekertaris Lee" jawab supir itu gugup.

"Yak! Apa yang sedang kalian lakukan. Lawan mereka" perintah Sekertaris tua itu pada pengawalnya. Dengan segera pengawal-pengawal itu turun dari mobil mereka. Tentu saja hal itu membuat Jongin dan Jongdae menyeringai.

"Apa mau kalian!" tanya seorang pengawal itu dengan nada meninggi.

"Wo..wow, santai man. Kita akan bermain lembut pada kalian jika kalian menyerahkan apa yang kami inginkan" Jongdae tersenyum miring.

"Apa yang kalian mau?" tanya pengawal itu lagi.

"Jangan berlagak bodoh, kau sialan!" Jongin berkilat.

"Hanya dalam mimpi kalian mendapatkan apa yang kalian cari!" seorang pengawal itu mengeluarkan sebuah hangun dari tangannya. Dan tentu saja hal itu diikuti oleh kelima pengawal lainnya.

"SIAL!" Jongin mendecih melihat masing-masing dari mereka memegang hangun yang Jongin ketahui memiliki kecepatan tembak yang sangat cepat. Pengawal itu berseringai melihat perubahan ekspresi wajah dari Jongin dan Jongdae.

DOR

DOR

Tembakan melesat dari arah berlawanan. Jongin tahu itu suara tembakan dari mobil Kris untuk mengalihkan perhatian mereka. Dengan segera Jongin maupun Jongdae bersembunyi dibalik pohon untuk mencari celah mendekati mobil yang membawa Sekertaris Giant Corp itu.

DOR

Jongin segera menarik tubuhnya untuk menghindari tembakan itu. Ia melirik Jongdae yang tengah bersiap dengan hangunnya.

Kris menembak dari dalam mobilnya dan mengenai satu dari 6 pengawal itu. Dan itu membuat mobilnya menerima serangan. Mereka menembakkan hangunnya kearah mobil Kris. Secepat kilat Kris membanting stir kekanan menimbulkan decitan pada ban mobilnya.

DOR

DOR

Jongdae menembak kearah pengawal yang hendak memasuki mobil yang terdapat Sekertaris Giant Corp itu berniat kabur.

Srak

Bugh!

Jongdae terpental saat sebuah tendangan mengenai tubuhnya. Jongin mendelik melihat bagaimana tubuh hyung-nya tergeletak dengan darah keluar dari sudut bibirnya.

Sret

Dor

Jongin menembak tepat didada kiri pengawal itu. Membuatnya terkapar ditempat. Jongin berjalan mendekati Jongdae untuk membantunya berdiri.

"Hyung, kau harus berhati-hati" Jongdae hanya mengangguk sambil menusap ujung bibirnya yang memerah karena cairan berbau anyir keluar dari sana.

Bremm

Mobil hitam itu melaju meninggalkan mereka. Membuat Jongin berkilat.

"Sial, mereka kabur!" Chanyeol menggemeratakkan giginya.

"Jongin, Jongdae kejar mereka, aku akan menyelesaikan sisanya" kata Kris. Dan dengan segera kedua namja tampan itu masuk kemobilnya untuk megejar mobil itu.

Jongin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Serangan dari pengawal itu tidak berhenti mengenai mobil sport mahalnya. Jongin tidak memikirkannya sama sekali. Yang terpenting adalah mendapatkan apa yang Ia inginkan. Mobil hitam itu terseok saat tembakan Jongdae mengenai kaca belakang mobil itu.

"Jongin, lebih dekat lagi. Aku akan menembak ban mobilnya" Jongin mengangguk dengan perintah Jongdae. Tatapan tajam nampak dimatanya. Senyum dingin terpatri diwajah tampannya saat Jongdae berhasil menembak ban mobil itu membuat mobil mewah dengan warna hitam itu tak terkendali dan kemudian berhenti. Decitan yang ditimbulkan dari gesekan ban mobil dan aspal begitu memekakkan telinga.

Brak

Sret

Dengan amarah yang sudah diubun-ubun membuat Jongin tak sabar untuk menghajar penghuni mobil itu agar tidak mempersulitnya mendapatkan incarannya.

Ia menarik seorang supir yang berada didepan. Dan Jongdae menarik seorang pengawal dibelakang, menyisakan Sekertaris tua itu yang tengah menahan napasnya karena takut.

Bugh!

Bugh!

Mereka menghajar tanpa ampun supir dan pengawal itu. Mereka terus melesakkan bogeman pada mereka. Hingga tubuh mereka merosot tanpa perlawanan. Jongin berseringai.

"Hah, ternyata begitu mudah melenyapkan mereka" Jongin menghempaskan tubuh supir itu ketanah. Entahlah, mungkin supir itu sudah tewas hanya karena bogeman brutal dari Jongin yang mendarat tidak hanya diperut dan dada supir itu.

"Jongin, ambil berkas dan flashdisnya. Biar aku yang membereskan pria tua itu" Jongin mengangguk dengan senyum miring dibibirnya. Dengan segera Ia membuka pintu belakang mobil menampakkan seorang pria tua tengah berkeringat dingin disana.

Terlihat Jongdae tengah memegang sebuah pisau lipat dan mengarahkan pada leher pria tua itu. Mencengkeramnya membuat Sekertaris Giant Corp menahan napasnya.

"Ja-jangan melukaiku. Kalian akan mendapatkan yang kalian inginkan. Aku mohon" kata pria tua itu bergetar

"Benarkah? Serahkan sekarang!" Jongin berseringai membuat pria tua itu meneguk salivanya berat.

Tangan keriputnya merogoh kedalam tasnya untuk mencari benda yang diinginkan Jongin dan Jongdae. Dengan cepat Jongin merebut benda itu darinya. Memeriksa isinya dan tersenyum puas.

"Ini yang kita inginkan. Kau bisa pulang dengan selamat dan laporkan pada atasan bodohmu itu!" kata Jongin dengan kilatan mata tajamnya. Jongin memberi kode pada Jongdae agar melepaskan cengkeramannya pada leher pria tua itu dan segera pergi meninggalkannya.

Namun belum sempat Jongin memasuki mobilnya sebuah suara menginterupsi telinganya.

"Jangan menganggapku lemah, dasar bodoh!"

DOR

"JONGIIIINNN!"

.

.

.

TBC

.

.

.

Ini udah panjang buanget. Sampek ngos-ngosan nulisnya XD

Gak tau gimana jadinya chap 2 ini, tapi JongSoo harap kalian suka, ne?

Gak tau kenapa JongSoo lagi seneng ama Fic yang menantang begitu. Ada sensasi gimana gitu pas nulisnya, berasa Imajinasinya JongSoo meluap-luap *Eaa :D

Seperti biasa, ripiuw dari kalian, kritik dan saran adalah penyemangat buat JongSoo.

Terakhir, Happy Reading :*